Title : Something Wrong

Genre : school life, romance, gender switch, AU

Pairing : HunHan, ChanBaek, KaiSoo, SuLay.

Rate : Teens

Length & type : Chaptered

.

.

Disclaimer : Cast murni bukan milik author tapi cerita ini milik author.

so...

DON'T BE SIDERS

DON'T PLAGIAT

DON'T BASH

.

.

WARNING! GENDER SWITCH & TYPO!

.

.

.

.

.

Summary :

Keinginannya untuk pindah ke Korea membuat ia bertemu dengan si namja 'beasiswa' yang selalu di bully oleh teman-temannya karena bersekolah di sekolah tempat orang-orang kaya. Namun apa yang akan mereka katakan jika ternyata si namja tampan 'beasiswa' itu ternyata anak kandung dari keluarga Oh -keluarga terkaya sedaratan Asia Timur-?

.

.

.

"Ada apa itu, Yixing-ah?" Tanya Luhan sambil menatap selembar kertas berisi tulisan yang tak terlihat karena ia berdiri di kejauhan yang baru saja ditempel oleh seorang yeoja berpakaian guru di sebuah mading.

"Eh? Entahlah. Mungkin semacam pengumuman atau nilai hasil ulangan. Disini memang begitu, Lu. Setiap data nilai hasil ulangan selalu di tempel di mading oleh guru yang bersangkutan" jawab Yixing acuh.

"Aku ingin lihat" Luhan melepas genggaman tangan Yixing kemudian berjalan mendekat ke arah papan pengumuman.

"Siapa yang nilainya paling besar?" Tanya Yixing sambil menghampiri Luhan.

"Eh? Oh Se Hoon?"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

CHAPTER 3

Luhan menatap daftar nilai yang di tempel di papan pengumuman itu dengan mulut yang terbuka sebesar jari kelingking.

"Kenapa kau begitu shock, Lu?" Tanya Yixing heran.

Ia sudah melihat daftar nilai itu dan menurutnya tak ada yang salah dengan itu. Memang kenapa jika Oh Sehun mendapat nilai tertinggi ulangan di kelasnya toh itu sudah biasa terjadi dan Sehun memang pintar.

"Apakah dia benar-benar pintar Yixing-ah?" Tanya Luhan pelan.

Ia tetap menatapi nilai Sehun yang mendapat nilai A+ sedangkan yang lain hanya mendapat nilai A atau B dan B+ bahkan Suho yang berada di urutan kedua pun hanya mendapatkan nilai A saja.

"tentu saja Lu. Makanya dia ada dikelas unggulan. Kau juga tahu kan dia mendapat beasiswa penuh selama 3 tahun? Itu karena otaknya yang seencer minyak sayur, Lu" jawab Yixing yang membuat Luhan tertawa.

"Kau ada-ada saja. Kaja.. kau katanya mau ke kelasnya Kyungsoo" Luhan menarik lengan Yixing untuk pergi menuju kelas Kyungsoo -kelas seni- di lantai 4.

Saat di koridor tempat loker-loker berjejer ia berpapasan dengan Sehun yang langsung memalingkan wajahnya ke arah lain saat Luhan menatapnya.

Yixing yang melihat gelagat aneh Luhan pun hanya dapat mengangkat sebelah alisnya bingung.

"Heyy! Kalian mau kemana?" Tanya Baekhyun yang baru keluar dari kelasnya di lantai 3 dan mendapati Luhan dan Yixing lewat didepan kelasnya.

"Eh Baek? Kelasmu disini ya? Kami mau ke kelasnya Kyungsoo" jawab Luhan yang langsung menghentikan langkah kakinya.

"Aku ikut!" Ucap Baekhyun cepat kemudian bergabung bersama Luhan dan Yixing.

"Aku baru tahu jika disekolah ini ada arsitektur yang mirip seperti di Orestad College" ucap Luhan kagum saat mereka tengah berjalan menuju lantai empat dan melihat tangga besar yang menghubungkan lantai dasar dengan lantai dua.

"Hmm.. pertama aku menginjakan kaki ku disini pun aku sangat kagum, Lu. Apalagi dengan perpustakaannya" balas Yixing.

"Ahhh.. kenapa Chanyeol tak menghubungiku ya?" Rengek Baekhyun sambil menatapi layar ponselnya dengan gemas.

"Mungkin dia sedang sibuk, baby Baek" ujar Yixing yang bertindak dewasa.

"Memangnya kekasihmu itu mau apa sih pergi ke Jepang? Berlibur ya?" Tanya Luhan dengan wajah innocent nya.

"Enak saja kau! Yeolie itu membantu ayahnya mengurusi bisnisnya bersama client di Jepang. Yeol itu memang sudah banyak turun tangan soal perusahaan ayahnya yang akan diwariskan padanya itu sejak usianya 16 tahun" jawab Baekhyun panjang lebar membuat Luhan mengangguk-anggukan kepalanya paham.

At 12 Art 2

"Luhanie.. Baekie.. Yixingie.." rajuk Kyungsoo dengan mata berkaca-kaca saat ketiga sahabatnya itu datang ke kelasnya.

"Aigo.. ada apa Kyungie? Ada yang mengganggumu? Siapa? Siapa yang mengganggu mu? Biar ku hajar dia!" Ucap Baekhyun garang dan langsung dibalas gelengan cepat dari Kyungsoo.

"Aniyo.. aku hanya... hanya... hanya jengkel" jawab Kyungsoo dengan wajah merah.

"Waeyo? apa yang terjadi?" Tanya Luhan lembut.

"A-aku.. seonsaengnim menyuruhku untuk melakukan couple dance" jawab Kyungsoo sedih.

"Ahhh.. kau tak bisa dance ya" lirih Baekhyun yang tahu jika Kyungsoo hanya pandai bernyanyi tapi tidak terlalu mahir soal dance "tapi.. tunggu, bukannya kau bilang 'couple dance'? Berarti berpasangan kan? Nugu? Siapa yang menjadi pasanganmu?" Tanya Baekhyun antusias.

"Itu dia masalahnya Baekie.. aku.. aku berpasangan dengan..." ucap Kyungsoo menggantung.

"Siapa? Siapa?" Tanya Baekhyun penasaran.

"Dengan Kai" jawab Kyungsoo pelan. Matanya semakin berkaca-kaca saja kala mengingat itu.

Ia sedih bukan main. Siapa yang tak tahu Kai? Kai adalah namja tampan berkulit seksi yang banyak diincar para yeoja disekolahnya namun sayang sikap Kai dingin. Bukan hanya itu, Kai juga sangat ahli dalam urusan dance dan itu yang membuat Kyungsoo rasanya ingin menangis.

"APA?!" teriak Baekhyun dan Yixing bersamaan sementara Luhan yang tidak tahu apa-apa hanya memiringkan kepalanya lucu.

"Siapa itu Kai?" Tanya Luhan polos.

"Nama aslinya Kim Jong In. Kelas 12 Art 3. Tetangga kelas Kyungsoo. Dia akrab di panggil Kai entah apa alasannya. Dia sangat jago dalam urusan dance" jelas Yixing.

"Itu bagus kan Kyung? Kau bisa minta ia ajarkan, bukan?" Tanya Luhan innocent.

"Aniyo Luhanie.. justru aku takut. Takut jika aku hanya akan mengacaukan penampilan Kai nantinya. Lagipula aku tak akrab dengannya Lu. Kai terlihat seperti seorang namja dingin yang tertutup" jawab Kyungsoo sambil memeluk Luhan dengan mata yang hampir mengeluarkan air mata.

"Sudahlah Kyungie.. jangan terlalu difikirkan. Siapa tahu dibalik wajah dinginnya itu ia menyimpan sejuta kehangatan" balas Luhan sambil mengelus punggung Kyungsoo untuk menenangkan yeoja bermata bulat itu.

Luhan seakan kembali ditarik pada kenyataan jika ia seolah menceritakan tentang Sehun.

Sehun juga judes, berwajah dingin dan seperlunya tapi saat di apartemen Baekhyun Luhan merasa jika Sehun adalah seorang yang asik dan baik.

"Chanyeol.." Chanyeol terhenyah saat mendengar suara itu memanggilnya.

Suara yang dulu selalu ia rindukan dan suara itu tak akan pernah salah ia kenali. Suara itu dan juga caranya memanggil nama Chanyeol. Chanyeol sangat merindukannya.

"Chanyeol.. kau kah itu?" Tanya suara itu lagi sebelum Chanyeol berbalik dan semuanya menjadi jelas kini.

"Park Bomi" gumam Chanyeol tak percaya.

"Yeolie.. aku tak menyangka akan bertemu denganmu lagi... di Tokyo" gumam yeoja bernama Bomi itu sambil memeluk Chanyeol posesif.

Chanyeol bingung harus bagaimana saat ini. Disisi lain dia sangat merindukan Bomi dan ingin sekali dia membalas pelukan Bomi saat ini tapi disisi lain juga ia merasa semua ini salah.

Chanyeol mengepalkan tangannya dan merasakan suatu benda tumpul menusuk telapak tangannya, Chanyeol mengangkat sebelah tangannya dan ia melihat disana -di jaris manisnya-, tersemat cincin couplenya bersama Baekhyun saat mereka pertama berpacaran dulu. Dan kini posisi mereka jika dilihat dari sebelah kiri terlihat seperti tengah saling berpelukan.

'Baekhyun…' batin Chanyeol lirih.

Ia menggeleng kuat kala mengingat jika ia sudah memiliki Baekhyun di Korea sana.

"Tidak.. ini tidak benar Bomi-sshi" ucap Chanyeol setegas mungkin sambil melepaskan pelukan Bomi padanya.

"K-kenapa Yeol-ah?" Tanya Bomi sedih.

"Maaf Bomi-sshi. Tapi jalan kita sudah berbeda dan aku tidak lagi mengharapkan mu. Aku sudah punya yeojachingu jadi kumohon jangan usik kehidupanku lagi. Lagipula kita sudah berakhir bukan? Dan itu keinginanmu kan?!" Tanya Chanyeol sinis tanpa menatap Bomi yang kini sudah berkaca-kaca apalagi saat mendengar jika Chanyeol-NYA sudah punya yeojachingu dan ia tak terima dengan kenyataan itu.

Chanyeol melangkah pergi dari lobby hotel meninggalkan Bomi yang masih berdiri mematung disana.

'Chanyeol...' batinnya sedih. Ia sebenarnya masih sangat mencintai Chanyeol dan berharap jika Chanyeol juga masih mencintainya tapi sekarang ia mendengar dari mulut namja pujaannya itu jika ia sudah punya yeojachingu.

Mungkin dia egois ingin memiliki Chanyeol sendiri, tapi biarlah kali ini ia menjadi egois dan dia bersumpah dalam hatinya akan mendapatkan lagi Chanyeol bagaimanapun caranya dan merebut Chanyeol dari yeoja itu karena ia yakin saat menatap mata Chanyeol untuk pertama kalinya tadi ia melihat sebesit kerinduan dimata Chanyeol yang itu artinya Chanyeol kemungkinan masih menyimpan rasa untuknya.

'Kau hanya milikku Park Chan Yeol'

.

.

.

Baekhyun, Luhan, Kyungsoo dan Yixing tengah berjalan menuju ke taman sekolah sambil berbincang-bincang dan sesekali mereka akan saling bercanda lalu tertawa bersama namun sekarang yang menjadi bahan bulan-bulanan adalah Luhan.

"Kau jadi aneh semenjak kutinggal kemarin di apartemenku" ucap Baekhyun sambil mencolek dagu Luhan membuat yeoja itu kikuk.

"Jangan mengada-ada Byun Baekhyun" sangkal Luhan meski sekarang jantungnya tengah berpacu cepat.

"Kau menyukainya ya?" Todong Kyungsoo dengan mata membulat sempurna seakan ingin meloncat dari kelopak matanya.

"Eii.. kalian jangan sembarangan! Aku tak menyukai Oh Sehun!" Sangkal Luhan dengan wajah yang sudah semerah tomat matang.

"Ehh? Memangnya kami menyebut Sehun? Kenapa kau jadi berfikiran begitu?" Tanya Yixing sambil menahan tawanya.

"E-eoh? A-aku..."

"Aaaaa... Luhan jatuh cinta... jatuh cinta.. jatuh cinta pada Oh Sehun!" Pekik Baekhyun ceria membuat Luhan sebal.

Baekhyun terus tertawa-tawa bahagia sampai tak memperhatikan jalan didepannya yang tidak rata dan beberapa saat kemudian Luhan, Kyungsoo dan Yixing dikejutkan dengan Baekhyun yang sudah terjatuh di jalan tembok itu.

"Awwwhhh" desah Baekhyun lirih sambil melihat lututnya yang berdarah.

"Baek.. gwaenchanha?" Tanya Luhan khawatir sambil berjongkok dihadapan Baekhyun.

"A-aku.. kenapa perasaanku tidak enak?" Ucap Baekhyun lirih.

"Baek.. kau terluka. Kaja ke UKS" ujar Yixing panik sambil berusaha memapah Baekhyun dibantu oleh Luhan dan Kyungsoo.

...

Luhan melepaskan rangkulannya dibahu Baekhyun untuk membuka pintu ruang UKS dan digantikan dengan Kyungsoo yang kini memapah Baekhyun untuk masuk kedalam ruangan.

Luhan berjalan terlebih dahulu lalu ia menyingkap satu tirai bangsal pertama yang membatasinya dengan bangsal-bangsal yang lain.

Dan betapa terkejutnya ia melihat seorang Oh Sehun sudah berbaring disana sambil memijati keningnya yang kelihatan sedikit terluka.

Ouhhh.. betapa menyayangkannya Luhan melihat dahi mulus milik Oh Sehun sudah ternodai oleh luka yang memerah itu.

"Sedang apa kau disini?" Todong Luhan dengan wajah ketus.

"Hey.. kau buta? Kau tak lihat aku sedang apa?" Tanya Sehun balik tak kalah ketusnya membuat ketiga orang yang berdiri dibelakang Luhan sedikit terkikik geli termasuk Baekhyun.

Luhan sontak menolehkan kepalanya ke belakang dan menatap tajam ketiga temannya itu membuat mereka langsung bungkam dan menatap Luhan dengan tatapan polos tanpa dosa.

"Dasar pria aneh" desis Luhan sebal sambil mendelikkan tatapannya dari Oh Sehun.

"Dasar wanita pemaksa" balas Sehun datar membuat Yixing dan Kyungsoo meledakkan tawa menggelegar mereka sementara Baekhyun hanya dapat tertawa ringan karena luka yang masih terasa perih di lututnya itu.

Sungguh sebenarnya yeoja ber-eye liner itu ingin tertawa sepuasnya melihat kelakuan mereka berdua tapi sungguh luka dikakinya yang masih basah itu sungguh terasa memeras suaranya untuk sekedar tertawa saja.

"Baby Lu.. sudahlah.. lebih baik kita mengobati luka Baekie dulu" bujuk Yixing yang melihat wajah Luhan yang berapi-api.

"Ia Lu.. kaja" Kyungsoo melepas Baekhyun pada Yixing kemudian merangkul bahu sempit yeoja bermata rusa itu kemudian membawanya ke bangsal yang lain karena disini masih banyak bangsal pengobatan selain yang dipakai oleh Sehun.

.

.

.

Luhan memutuskan untuk ikut club dance dan Baekhyun yang seharusnya mengikuti les vokal pun hari ini absen karena luka di kakinya yang tidak memungkinkan.

Ia juga tak mengerti kenapa tapi rasanya badannya pegal-pegal layaknya terjatuh dari tangga padahal ia cuma terjatuh di halaman sekolah saja.

"Kau.." tunjuk Luhan tepat di depan hidung mancung Sehun saat ia akan masuk ke aula tempat latihan.

"Wae?" Tanya Sehun dingin.

"Jangan bilang kau juga ikut club dance juga?" Tanya Luhan sambil memicingkan matanya.

"Kalau iya kenapa, rusa bodoh?" Tanya Sehun sambil menampilkan senyum tipis mengejeknya.

"Yakk!" Teriak Luhan tak terima.

Hampir saja ia menguliti Sehun jika seseorang tak melerai percekcokan diantara mereka.

"Hey.. kalian mau ikut club dance?" Tanya namja berkulit tan itu dengan wajah dan nada yang datar, tak jauh-jauh beda dengan ekspresi Sehun saat bicara.

"Eo. Kau siapa?" tanya Luhan sedikit tidak suka karena ia mengganggu perdebatannya dengan Oh Sehun si mulut beracun.

"Aku Kai. Ketua club dance. Dan jika kalian memang berminat masuk ke club dance-ku maka cepat masuk dan persiapkan diri kalian, jangan malah beradu mulut disini" jawab Kai sambil menatap Sehun dengan ekor matanya kemudian masuk kedalam aula latihan meninggalkan Luhan dan Sehun yang saling mengejek dengan tatapan mereka.

"Dasar yeoja cerewet"

"Daripada kau mulut beracun"

"Aku bersyukur seandainya mulut beracunku ini dapat meracunimu"

"Mwo? Dasar psikopat!"

"Hey! Dasar mulut tanpa saringan"

"Dasar lidah kurang ajar"

"Dasar rusa jelek"

"YAKKKK!"

.

.

.

Seorang namja berkulit erotis berdiri di balkon depan rumahnya sambil melihati lalu lintas yang terjadi cukup jarang di jalanan depan rumahnya karena jalanan itu bukan jalan raya melainkan hanya jalanan biasa yang menghubungkan daerah perumahan itu dengan blok lainnya.

Rambut hitam legamnya yang dibuat acak-acakan itu terlihat seperti bergoyang ketika tiupan angin menerpanya.

Bibir tebal itu datar dan terlihat sama sekali tidak mau menyunggingkan sebuah senyum walau itu hanya satu detik.

Fikirannya tertuju pada saudara laki-lakinya yang sangat ia sayangi. Meski ia bukan saudara kandungnya tapi ia sungguh menyayangi namja berkulit sepucat mayat itu.

"Apa yang kau pedulikan? Kita bahkan tak punya hubungan darah setetespun!"

Kata-kata itu terus berputar hingga saat ini di memory nya. Sangat menyakitkan memang, tapi memang itu kenyataannya.

Tiba-tiba saja ia mendengar mesin mobil yang di gas kencang dengan sengaja membuat fikirannya melayang pada satu orang, Oh Sehun.

Namja itu -Kai- langsung menoleh ke bawah dan benar saja ia melihat mobil keluaran Lamborghini yang merupakan mobil tercepat di dunia itu tengah bersiap melaju di halaman depan mansion mewah ini.

"SEHUN! KAU MAU KEMANA?" teriak Kai karena suara mesin mobil yang kencang ditambah lagi Sehun menggas mobil itu dengan cukup keras hingga menimbulkan suara bising.

Sehun tak tahu jika Jongin memanggil-manggil namanya dan malah melajukan mobil sportnya keluar mansion dan membelah jalanan Seoul pada malam minggu ini.

"Sial. Sehun sepertinya akan balapan liar lagi" gumam Jongin yang langsung menyambar jaket kulit dan helmnya kemudian menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa dan berlari menuju garasi dan saat dipintu depan dia melihat tuan Seo -pengawas Sehun- yang berwajah panik.

"Tuan Kim! Anda mau kemana?!" Teriaknya namun tak Jongin indahkan dan malah mengendarai motor sportnya untuk menyusul Sehun yang sudah melaju jauh.

"Aigo. Bagaimana jika tuan Oh pulang?!" Ucapnya gusar.

Sehun berhenti di sebuah jalan sepi yang disana sudah terdapat banyak namja yang berkumpul dan beberapa diantara mereka memakai mobil sport dengan gaya yang so'so-an.

Dan begitu Sehun sampai disana mereka langsung menyingkir dan memberi jalan untuk 'sang master' balapan jalanan itu.

"Tuan" seseorang berdiri di sebelah kaca pintu mobil Sehun yang gelap menyebabkan orang diluar tak dapat melihat Sehun namun Sehun dengan jelas melihat mereka.

Sehun segera mengambil alat penyamaran nya -topi serta kacamata hitam- kemudian memakainya agar tak ada yang dapat mengenalinya.

Selama ini para namja pecinta balap liar tidak ada yang tahu identitas asli Sehun kecuali Kai -tentu saja-. Sehun selalu menjaga agar identitasnya tetap aman dan terjaga maka dari itu mereka hanya mengenal Sehun dengan inisial OSH.

Sehun merahasiakannya karena yang utamanya untuk menjaga nama baik keluarga juga untuk menutupi penyamarannya sebagai 'namja beasiswa' di sekolahnya karena terkadang ada beberapa orang dari sekolahnya yang menantang ia balapan meski berakhir dengan Sehun yang memenangkan pertandingannya.

Sehun akhirnya membuka kaca mobilnya setelah ia memakai alat penyamaran, itu pun hanya membukanya sedikit.

"GD menantang anda balapan lagi tuan" bisiknya di kaca mobil Sehun membuat namja itu tersenyum meremehkan.

"Dia tak ada kapoknya. Apa yang dia inginkan?" Tanya Sehun sinis.

"Entahlah tuan. Dia belum menyebutkan apa konsekuensi bagi yang menang dan yang kalah. Dia juga belum menentukan kapan balapannya" jawab sang asisten ragu.

"Dasar namja tak jelas" gumam Sehun sambil memegang erat stir-nya.

Tiba-tiba Sehun melihat siluet seseorang bermotor sport merah yang baru saja datang kesana dengan tergesa-gesa dan Sehun sangat mengenal siapa namja itu. Tentu saja itu Kim Jongin saudara tirinya.

"Biarkan aku masuk" Jongin langsung mengetok kaca mobil didekat jok sebelah sambil merundukan kepalanya berharap Sehun meliriknya.

Dengan ogah-ogahan akhirnya Sehun membuka pintu mobil dan namja berkulit eksotis itu langsung saja masuk kedalam mobil.

"Kenapa kau kesini lagi Sehun?! Kau kan sudah janji tak akan balapan lagi!" Bentak Jongin dengan wajah yang sudah memerah padam.

"Kapan aku janji tak akan balapan lagi?" Tanya Sehun enteng tanpa menatap Jongin dan malah menatap lurus kedepan melihat pengikut-pengikutnya yang menurutnya tak ada gunanya itu sedang mengobrol dan sesekali tertawa sambil menepuk-nepuk mobil sport yang mereka duduki.

Kai menatap Sehun dengan jengah kemudian berdecak "appa akan marah kalau sampai dia tahu kau balapan lagi, Hun-ah" ucap Kai sekedar mengingatkan Sehun namun namja itu hanya menganggapnya angin lalu.

"Siapa peduli? Dia tak akan sempat untuk mengecek apakah aku balapan lagi atau tidak. Dia itu orang sibuk Kai" jawab Sehun acuh sambil memukul-mukul stir mobilnya.

"Sehun.. bukan hanya appa yang akan marah. Tapi juga Sehyoon. Dia pasti akan sangat kecewa jika tahu kau kembali balapan liar" balas Kai yang sangat-sangat tidak setuju jika Sehun kembali lagi ke dunia gelapnya seperti ini.

Sehun memang tidak pernah terlibat dengan yang namanya rokok, minuman keras apalagi seks bebas. Tapi tetap saja Kai khawatir jika suatu saat Sehun akan ikut terjerumus karena terlalu sering bergaul dengan mereka.

Kai sendiri adalah komunitas gank motor tapi tentu bukan komunitas yang suka balapan liar seperti ini. Kai balapan di sirkuit bukan di jalanan seperti begini dan Kai sudah mempunyai ijin dari appa tirinya dan juga mendiang eomma nya dulu.

Sehun juga pernah ia ajak untuk ikut di komunitas mobil sport karena ia punya teman di komunitas itu hanya saja Sehun menolak dan bilang jika balapan di sirkuit demi piala adalah hal yang tidak menyenangkan.

Bagi Sehun balapan liar seperti ini lebih seru karena lebih menantang adrenaline dan juga mempertaruhkan harga diri, bukan sebuah piala kosong.

Beberapa minggu terakhir Sehun memang sudah berhenti dan tak terlibat lagi dengan balapan liar tapi entah ada apa yang membuat Sehun kini memutuskan untuk kembali ke dunia gelap ini.

"Kali ini siapa lagi, Sehun?" Tanya Kai dingin.

"GD" jawab Sehun singkat, padat dan jelas.

"Mwo? G-Dragon? Apa yang dia inginkan?" Tanya Kai yang sudah tahu jika setiap orang yang menantang Sehun balapan pasti ada maunya.

Tak sembarang orang bisa balapan dengan Sehun karena Sehun dikenal sebagai 'master'nya jalanan disini.

Dan Kai juga tahu jika banyak yang sudah mengikuti Sehun karena kagum pada keahlian mengemudi namja pucat itu.

Kai lebih dari tahu tentang Sehun dan balapan jalanan ini. Ia juga sudah dikenal oleh orang-orang disini tapi bukan sebagai saudara Sehun tetapi teman dekat OSH maka dari itu mereka sangat menghormati Kai sebagaimana mereka menghormati master OSH.

"Dia belum menyebutkan apa keinginannya" jawab Sehun datar dan dingin. Oh Sehun sekali.

"Kau sebaiknya mundur Sehun-ah" bujuk Jongin yang membuat tawa mengejek Sehun keluar dari bibir tipisnya.

"Kau fikir aku laki-laki apa Kai? Ini soal harga diri! Jika aku mundur maka si GD itu akan mudah memperolokku" jawab Sehun penuh penekanan.

"Tapiㅡ"

"Sudahlah Kai. Kau jangan fikirkan aku. Aku bukan pengecut" potong Sehun dengan sinis dan tajam.

.

.

.

"are you sure you want to move, Kris? You've lived in this school 2 years over" ujar seorang pria tua sambil menatap Kris ragu.

"Yes, I'm sure. General Byun wanted me comeback to Korea." Jawab Kris datar.

"What are you going move to military school?" Tanya pria tua itu sambil mengangkat sebelah alisnya.

"I don't know. Maybe just a regular

school" Kris mengangkat bahu nya tak peduli toh jika memang ia dimasukan ke sekolah militer juga tidak masalah.

"Alright then. It is unfortunate because you move" desah pria tua itu sambil menurunkan bahunya.

"so when I can go to Korea?"

"I will take care of all the file and you can go tomorrow"

"Thank you, . Then, I said goodbye" Kris berdiri dari duduknya kemudian membungkuk dan keluar dari ruangan kepala sekolah dengan wajah seperti biasa, angkuh.

.

.

.

"Baek.. mana Luhan?" Tanya harabeoji yang hanya melihat Baekhyun saja yang baru turun dari lantai atas tanpa bersama dengan Luhan.

Baekhyun terlihat manis sekali dengan dress selutut yang ia kenakan saat ini. Ditambah lagi rambutnya di sanggul longgar membuat kecantikan wajahnya terpancar. Dan jangan lupakan wajah nya yang hanya terdapat eyeliner saja tanpa make up lainnya lagi menjadi nilai plus untuk wajah cantiknya.

"Neomu yeppeo, Hyunie" puji halmeoni membuat pipi Baekhyun merona.

Tak lama terdengar suara dentuman lantai marmer yang beradu dengan high heels dari arah anak tangga teratas membuat ketiga pasang mata yang berbeda itu langsung menatap ke arah yang sama.

Luhan dengan wajah malasnya terus menuruni anak tangga tanpa sadar dengan tatapan terpana dari keluarganya.

Ia terlihat bak putri dari negeri dongeng dengan dress sepanjang mata kaki berwarna biru muda dengan tangan pendek yang dibuat dengan model menumpang seperti ombak kemudian rambutnya disanggul seperti Baekhyun membuat leher jenjangnya terekspos juga kaki mungilnya yang dibalut high heels putih yang terlihat sangat pas di kakinya.

"Aigo.. neomu yeppeo" puji halmeoni dengan tatapan berbinar sementara Luhan hanya mendengus sebal karena penampilannya ini bukan keinginannya meski ia sudah sering berpakaian seperti ini.

"Memangnya kita mau apa sih? Kita kan cuma mau makan malam" gerutu Luhan sambil menyilangkan kedua tangannya di dada sementara Baekhyun hanya menatap Luhan tak mengerti karena sepertinya Luhan sangat tidak mood dengan acara ini.

"Benar kok cuma mau makan malam" jawab halmeoni lembut.

"Lalu kenapa aku harus seheboh ini? Baekhyun saja biasa" dengus Luhan sebal.

"Mwo? Kau bilang biasa? Aku sudah berusaha memperbaiki diriku, Lu!" Sangkal Baekhyun karena memang kesehariannya bukan seperti ini, ia agak-agak tomboy dan jarang memakai dress atau rok selain seragam sekolah.

"Tidak Baek. Itu biasa" cibir Luhan.

"Ishh.. jangan begitu Lu.. Baekhyun kan memang tomboy. sudahlah jangan di permasalahkan. Ayo berangkat"

"Ini rumahnya?" Tanya Luhan melongok saat mereka tiba di mansion Oh yang terlihat sangat megah meski dari luar. Luas mansion nya bahkan sekitar 5 hektar membuat Luhan semakin ternganga-nganga.

"Tuan Byun, tuan Oh sudah menunggu kedatangan kalian" ucap seorang namja paruh baya dengan penuh rasa hormat.

Mereka pun berjalan memasuki mansion Oh dan berjalan menuju ke belakang mansion.

Luhan maupun Baekhyun sangat terkagum-kagum dengan apa yang mereka lihat didalam mansion mewah ini.

Sangat fantastic..

Apalagi saat mereka sudah sampai dibelakang dan disana mereka melihat tuan Oh tengah duduk di sebuah meja bersama seorang namja yang membelakangi mereka.

"Tuan Byun, nyonya Byun.. kalian sudah datang" sapa tuan Oh sumringah sambil berdiri untuk menyambut kedatangan rekan bisnisnya diikuti oleh namja muda tadi yang juga ikut berdiri kemudian berbalik menghadap mereka.

"Annyeonghassaeyo" sapa namja berparas tampan itu ramah.

"Kim Jong In?" Kaget Luhan refleks menunjuk Jongin.

Yang dipanggil hanya tersenyum canggung kepada Luhan karena tak terlalu mengenal Luhan. Ia hanya tahu Luhan itu sepupu Baekhyun, murid baru di sekolah nya dan termasuk kedalam jajaran orang-orang yang berpengaruh di sekolah karena merupakan orang kaya, ia juga ingat jika Luhan anggota baru club dance nya dan ia tadi sempat menginterupsi kegiatan Luhan yang tengah beradu mulut dengan Sehun.

"Kenapa Lu? Baru tahu Jongin putra tuan Oh?" Tanya halmeoni sambil merangkul pundak Luhan lembut dan Luhan hanya mengangguk pelan sambil menatap Jongin dengan tatapan aneh.

"Oh jadi ini Xi Lu Han ya? Cantik sekali" puji tuan Oh sambil tersenyum tulus "cantik seperti mama mu" lanjut nya dengan senyum lebar.

"Kamsahamnida tuan Oh" jawab Luhan sambil membungkuk pelan.

"Ayo kita mulai saja makan malamnya. Anak-anak pasti sudah lapar" ujar tuan Oh sambil mempersilahkan keluarga Byun untuk duduk.

Selesai makan malam mereka pun berbincang-bincang sedikit sampai tuan Byun membisikkan sesuatu pada telinga tuan Oh dan langsung di angguki oleh tuan Oh.

"Jadi.. Luhan, apa hobby mu? Apakah senjata api seperti Baekhyun?" Tanya tuan Oh agar mereka tidak terlalu curiga dengan apa yang di bisikkan oleh tuan Byun pada tuan Oh barusan.

"Aniya. Aku suka mobil sport." jawab Luhan sambil tersenyum lebar.

'Apa sih yang dibisikkan harabeoji' batin Baekhyun yang tidak sepolos Luhan untuk tidak menyadari pengalihan pembicaraan oleh tuan Oh.

"Kalian memang unik ya. Apa kau suka membaca?" Tanya tuan Oh dan Luhan langsung mengangguk antusias "kalau begitu kau pasti akan suka perpustakaan disini. Kau mau berkunjung?" Tanya tuan Oh lagi.

"Tentu tuan Oh" jawab Luhan semangat.

"Kalau begitu ayo ikut" ajak tuan Oh sambil berdiri dan merangkul pundak Luhan menuju ke dalam rumahnya.

"Aku sendiri? Baekhyun tidak ikut?" tanya Luhan polos tanpa tahu sebenarnya apa yang terjadi antara kedua keluarga ini.

"Tidak Lulu.. biarkan Baekhyun mengobrol bersama Jongin" jawab Tuan Oh pelan agar Baekhyun tak mendengar ucapan nya.

'Apa maksudnya, ehh?' Batin Luhan bingung.

Luhan menganga tak percaya begitu mereka sampai di perpustakaan keluarga Oh yang sangat besar nan mewah ini.

"Bagaimana? Kau suka, Lu?" Tanya tuan Oh.

"Emm.. aku suka" jawab Luhan sambil mengangguk seperti anak kecil "sangat suka" lanjutnya.

"Nahh.. kau lihat-lihat saja dulu. Banyak buku menarik disini. Aku harus kembali lagi ke belakang" ujar tuan Oh yang disetujui anggukan oleh Luhan.

'Tapi.. kenapa tuan Oh terkesan ingin menyingkirkan aku dari mereka? Apa ada pembicaraan penting yang tak boleh aku tahu?' Fikir Luhan yang terus berjalan lebih dalam memasuki perpustakaan besar ini.

"Permisi nona" Luhan langsung terlonjak dan berbalik dengan mata yang mengerjap kaget.

"Astaga. Anda mengagetkan saya tuan" ucap Luhan sambil mengelus pelan dada nya. Paman tua yang barusan menyapa Luhan pun hanya tersenyum.

"Ada yang bisa saya bantu nona?" Tanya paman itu ramah.

"Anda siapa, tuan?" Tanya Luhan mengernyit heran.

"Ahh.. saya penjaga perpustakaan ini. Ada yang bisa saya bantu?" Tanyanya lagi dengan ramah.

"Eo, aku sebenarnya hanya ingin lihat-lihat saja, tapi melihat banyak buku seperti ini rasanya rugi jika tidak membaca salah satu nya" jawab Luhan dengan senyum mengembang di bibirnya "apakah disini ada buku fiksi?" Tanya Luhan.

"Fiksi? Seperti novel?" Tanya paman itu.

"Tidak.. mungkin cerita fiksi tentang legenda atau mungkin buku tentang kumpulan makhluk mitologi di dunia ini?"

"Kurasa ada. Ayo ikut saya nona" ajaknya sambil berjalan lebih dulu sementara Luhan msngikutinya dari belakang.

Tepat ketika Luhan menoleh ke sebelah kanan ia dapat melihat seseorang lewat di ujung lorong yang di batasi lemari itu.

Meski begitu, ia tadi dapat melihat jika orang itu adalah seseorang yang ia kenal.

"OH SEHUN!" teriak Luhan refleks dan mengejar orang itu membuat paman tua penjaga perpustakaan kaget.

'Astaga! Aku lupa tuan Sehun ada disini. Kenapa dia bisa ceroboh begitu' batin paman tua itu yang memutuskan mengikuti Luhan takut Luhan tersesat juga karena perpustakaan ini sangat luas.

"Sehun.." Luhan berteriak-teriak tidak jelas saat kehilangan jejak namja yang ia kira adalah Sehun tapi jika difikir-fikir lagi sedang apa Sehun ada disini?

"Anda mencari siapa nona?" tanya paman tua itu pura pura tidak tahu.

"Tadi.. aku melihat seseorang yang mirip dengan seseorang yang kukenal" jawab Luhan pelan "tapi rasanya tidak mungkin" lanjutnya lagi.

Sehun side..

Sehun memasuki kamarnya setelah sebelumnya melihat keadaan sekitar dan memastikan keluarga Byun masih makan malam di meja makan outdoor di belakang.

Ia sama sekali tak sadar jika tadi Luhan hampir saja menemukannya.

Sehun menghampiri baju seragam yang ia gantung di samping cermin. Seragam baru yang hanya pernah ia kenakan 1x dalam jangka waktu beberapa jam saja.

Entah apa yang membuat seragam itu terasa spesial bagi Sehun yang menyebabkan Sehun tak pernah lagi memakai seragam itu karena ia takut seragam itu akan rusak karena ia selalu di bully di sekolahnya makanya ia punya lebih dari selusin baju seragam di lemarinya.

Sehun tak pernah lagi memakai seragam itu mungkin karena seragam itu pemberian Luhan.

'Ehh?' Fikir Sehun saat tak disadarinya ia tersenyum saat membayangkan wajah yeoja bermata rusa yang cerewet itu.

Dan mungkin saat ini yeoja yang sedang ia lamunkan itu sedang berada di bawah dan menikmati hidangan makan malam mewah bersama keluarganya.

Sehun tidak merasa sedih karena ia tidak ikut makan malam bersama keluarganya karena ini memang permintaannya. Ia tahu disana akan ada Baekhyun dan Luhan makanya ia tak mau ikut.

.

.

.

Luhan merasa kepalanya sangat pusing saat ini dan badannya terasa panas membuat semalaman dia tidak bisa tidur dengan nyenyak ditambah lagi hidungnya terasa mampet.

"Lu, gwaenchanha? Kau terlihat pucat" tanya halmeoni dengan raut wajah khawatir begitu Luhan duduk di kursi meja makan.

"Iya. kau terlihat tidak baik Lu. Kau sakit ya?" Tanya Baekhyun sambil menyuapkan salad-nya.

"Hmm.. aku baik-baik saja" jawab Luhan sambil menuangkan susu ke gelasnya kemudian meminumnya perlahan.

"Kau hanya mau sarapan itu?" Tanya harabeoji.

"Aku sedang tidak enak makan" jawab Luhan seadanya.

"Sebenarnya apa yang kalian bicarakan semalam?" Tanya Luhan saat mereka sudah berada didalam mobil menuju ke sekolah.

Baekhyun terdiam sejenak. Ia tahu cepat atau lambat Luhan pasti akan bertanya karena Baekhyun tahu jika Luhan tak begitu bodoh untuk menyadari itu semua. Ia tak mungkin menyembunyikan ini dari Luhan karena Luhan akan marah.

"Sebenarnya aku sudah di jodohkan dengan Jongin" kata Baekhyun tenang.

Luhan menatap Baekhyun dengan tatapan shock lalu berkata "jinjja? Kenapa bisa?" Tanyanya.

"Entahlah" jawab Baekhyun lemas.

"Lalu bagaimana dengan Chanyeol?" Tanya Luhan bingung.

Baekhyun terdiam tak merespon. Ada satu hal yang ia lupakan, Chanyeol. Dan segala luka yang telah ia berikan beberapa hari lalu lewat sebuah foto. Ia juga lupa untuk menanyakan siapa yang ada di foto itu pada Jongin. Dan sampai saat ini Luhan belum tahu tentang permasalahannya.

Jonghyun membukakan pintu untuk Luhan dan Baekhyun setelah mereka sampai di sekolah dan mereka berdua pun langsung turun dari mobil dan berjalan bersamaan menuju ke gedung sekolah.

"Lu.. jangan beritahu tentang perjodohanku pada siapapun termasuk Kyungsoo dan Yixing, eo?" Pinta Baekhyun.

"Eo" jawab Luhan sambil mengangguk kemudian berpisah di ujung lorong karena kelas Luhan belok ke lorong kiri sementara kelas Baekhyun ada di lantai atas.

.

.

.

"Do Kyungsoo.. saat istirahat kita mulai sesi latihan di mirror dance room" ucap Jongin datar saat Kyungsoo lewat di depan nya. Kyungsoo menoleh dan mengangguk canggung.

"Ye" hanya itu yang keluar dari heart lips miliknya kemudian ia berlalu begitu saja menjauh dari Jongin menuju kelasnya.

Sementara itu...

Yixing membuka lokernya untuk membawa buku pembahasan bahasa Korea namun saat ia membukanya ia di hadiahi sebuah boneka beruang kecil di lokernya yang dimana beruang itu tengah memeluk sebuah bantal hati bertuliskan 'Yixing nae sarang'.

"Ige mwoya?!" Tanya Yixing jengah dan ia menemukan sebuah notes kecil di bawah boneka itu.

'Saranghae Yixing-ah..

Kim Joon Myeon'

"YAKKK! KIM JOON MYEON! ENYAH KAU DARI DUNIA INI!"

.

.

.

Pembelajaran berlalu dan ini saatnya istirahat. Luhan berjalan lemas menuju kamar mandi. Wajahnya sudah pucat dan ia merasa sangat lemas saat ini.

Saat melewati perpustakaan, ia bertemu dengan Sehun yang baru saja keluar dari perpustakaan sambil membawa sebuah buku di tangannya.

"Eo? Gadis bawel" gumam Sehun namun masih terdengar oleh Luhan.

Luhan hanya mendongak dan menatap Sehun datar tanpa membalas perkataan Sehun. Ingin rasanya ia menceburkan Sehun ke kolam hiu membiarkan hiu-hiu ganas itu mencabik-cabik wajah tampannya dengan begitu Luhan akan puas.

Tapi pertanyaannya.. apakah dia akan tega?

Sehun mengerutkan dahinya saat tak mendapati jawaban pedas dari bibir tipis Luhan. Yang ada Luhan malah melewatinya begitu saja tanpa berkata apapun.

Namun keheranan Sehun berubah jadi kepanikan saat Luhan terjatuh di pangkuannya dengan lemah membuat Sehun refleks menjatuhkan buku yang ia bawa.

"Omo! Hey.. ireona" Sehun menepuk-nepuk pipi Luhan namun Luhan tak kunjung membuka mata rusanya.

Sehun sangat panik saat ini. Entah apa yang membuat dirinya panik padahal Luhan bukan siapa-siapanya tapi tetap saja hatinya merasa khawatir. Ia pun membawa Luhan ke UKS dan membiarkan perawat disana memeriksa keadaan yeoja berparas imut itu.

Sehun terduduk diam di kursi yang ada disamping ranjang Luhan. Ia menatapi wajah polos Luhan yang damai dalam alam bawah sadarnya.

"Hufffhh" beberapa kali Sehun menghembuskan nafasnya lewat gembungan pipinya. Sesekali juga ia meniup poni rambutnya dengan mulutnya.

Menunggu sungguh bukan tipe nya. Menunggu butuh kesabaran ekstra. Apalagi menunggu orang siuman yang tak tahu kapan akan bangunnya.

Meski sudah terbiasa bersabar dengan pembullyan yang ia alami selama ini, tapi ia akui bahwa sabar dalam hal ini berbeda lagi.

Sebenarnya apa yang membuat Sehun begitu bersabar menunggu sosok yeoja di hadapannya ini untuk membuka matanya?

Cukup...

Ini sudah keterlaluan. Ia tak bisa lagi bersabar. Lagi pula kenapa ia harus menunggui Luhan siuman? Memangnya siapa Luhan baginya?

Sehun bangkit dari kursi dan berbalik namun saat ia akan melangkah, sebuah tangan langsung menahannya dengan memegang lengan kiri Sehun.

Sehun menoleh dan mendapati sebuah tangan dengan jari lentik yang mulus nan indah tengah melingkari tangan kirinya dengan posesif.

"Sehun.." bisik Luhan lirih sambil menatap mata tajam Sehun dengan mata sayu nya.

"..." Sehun tak menjawab dan lebih memilih diam sambil menunggu kata-kata Luhan yang selanjutnya.

"Haus" gumam Luhan sambil sedikit menggoyangkan tangan Sehun dengan lemah.

Sehun memutar bola matanya malas dengan tingkah Luhan. Memangnya dia siapa beraninya menyuruh seorang Oh Sehun mengambilkan minum untuknya hanya karena ia sedang sakit?

Tapi meski begitu ia tetap mengambilkan minum untuk Luhan di nakas dan memberikannya.

"Terimakasih, Sehun" ucap Luhan lirih.

"Hmm.." dehem Sehun terpaksa.

"Sehun-ah.. apa kau sudah punya yeojachingu?"

"Mwoya?"

.

.

.

Setelah bel istirahat berbunyi, Baekhyun langsung saja membawa ponselnya menuju ke kelas Jongin. Ia sama sekali tak tahu jika sepupu cantiknya masuk UKS.

Ia akan menanyakan sesuatu pada Jongin mengenai foto yang ia terima beberapa hari yang lalu.

Ia menerima sebuah foto yang mengejutkan dirinya di sebuah akun SNS tepat saat 4 hari setelah kepergian Chanyeol ke Tokyo. Ia sangat shock mengingat isi dari foto tersebut adalah Chanyeol yang tengah berpelukan bersama seorang yeoja yang tak ia kenal.

"Kim Jong In!" Panggil Baekhyun keras saat ia sudah berada di ambang pintu kelas 12 Art 3 yang membuat semua penghuni kelas yang ada menoleh ke arahnya namun tak ada yang berani protes karena terlalu takut atau sekedar malas berurusan dengan sang 'princess' sekolah.

"Dimana Kim Jong In?" Tanya Baekhyun tak sabaran pada semua yang ada dikelas itu setelah ia menyadari jika Jongin tak ada di kelasnya.

Semuanya terdiam tanpa mau menjawab pertanyaan Baekhyun membuat Baekhyun geram sendiri

"dia pergi ke dance mirror room" Ucap seorang namja yang mirip dengan Jongin yang bername tag 'Lee Tae Min' sambil dengan tenang memainkan game di PSP nya tanpa menatap Baekhyun.

Dengan tanpa embel-embel terimakasih Baekhyun langsung saja menuju ke ruangan yang disebutkan namja berambut berbentuk jamur itu dengan cepat karena tidak mau buang-buang waktu.

In Mirror Dance Room..

Brakkk

Baekhyun membuka pintu kaca buram itu dengan keras membuat 2 orang yang ada didalam ruangan langsung menatap kaget ke arahnya.

Disana ia bisa melihat Kyungsoo yang sedang mencoba mengikuti gerakan yang Kai ajarkan.

"Kai bisa kita bicara sebentar?" Ucap Baekhyun dengan nada memaksa "Kyung, aku pinjam Kai sebentar" lanjutnya sambil menatap Kyungsoo lalu memberi isyarat pada Kai untuk keluar dari ruangan tersebut.

Baekhyun membawa Kai tak jauh dari ruang latihan dan ditempat yang cukup sepi lalu ia mulai bicara tentang permasalahannya pada Kai.

"Kau tahu sesuatu tentang ini?" Tanya Baekhyun tajam sambil menunjukan layar ponselnya pada Kai.

"Mwoya? Apa-apaan ini?" Tanya Kai kaget.

"Jangan balik bertanya padaku Kai. Apa kau mengenal yeoja yang dipeluk oleh Chanyeol di foto itu?" Tanya Baekhyun sinis.

"Kenapa bertanya padaku? Kau kira aku asistennya?" Tanya Kai balik sambil mengangkat sebelah alisnya.

"Kau kan sepupunya KIM KAI!" teriak Baekhyun menekankan kata terakhirnya.

"Kim Jong In" ralat Kai santai "aku tidak tahu apa-apa, Baekhyun. Chan tak pernah bilang dia punya wanita lain selain kau" lanjut Kai serius namun Baekhyun tetap tak percaya.

"Jangan pernah menutupi kesalahan orang lain Jongin! Apa susahnya kau bilang saja siapa yeoja yang ada di foto ini!" Desak Baekhyun yang semakin memojokan Jongin melalui tatapan mengintimidasi nya.

"Sumpah Baek aku tidak tahu! Yang kutahu Chanyeol pergi ke Jepang untukㅡ tunggu.." Kai menggantungkan ucapannya dan kelihatan tengah berfikir lalu menggumamkan negeri matahari terbit itu beberapa kali dan matanya langsung berbinar ketika berhasil menganalisa sesuatu yang mungkin bisa menjadi informasi untuk Baekhyun "biar kulihat foto itu" ucapnya dengan nada memaksa kemudian Baekhyun menyerahkan ponselnya pada Kai.

Kening Kai mengerut untuk menajamkan indra penglihatannya karena foto ini di ambil dari jarak yang cukup jauh membuat Kai agak kesulitan melihat siapa kira-kira yeoja itu.

"Aku tak yakin Baek. Tapi mungkin saja dia mantan kekasih Chanyeol yang saat itu pindah ke Jepang saat mereka lulus SMP. Dan setahu ku mereka putus karena itu juga" ujar Kai dengan mata menyipit membuat Baekhyun ingin mencekik Kai jika saja Kai tidak mengatakan siapa yeoja itu.

"Cepat katakan Kai-ya!" Desak Baekhyun dengan mata melotot.

"Arasseo.. arasseo.. mungkin saja dia Park Bomi" jawab Kai sambil mengangkat bahu nya.

"Mwoya? Mungkin kau bilang?!" Todong Baekhyun sambil maju mendekati Kai membuat Kai mundur beberapa langkah untuk menghindari amukan Baekhyun.

"Y-ya.. aku tidak yakin Baek.. mungkin saja bukan" jawab Jongin tergagap.

"Tck.." decak Baekhyun sambil berlalu pergi dari hadapan Jongin dengan menghentak-hentakan kakinya kesal.

.

.

.

setelah pembicaraan nya tadi dengan Sehun, kini keadaan menjadi canggung. Sehun yang sibuk dengan buku nya dan Luhan yang gugup sambil memainkan jarinya seperti anak kecil.

Sebenarnya dari tadi Sehun sudah ingin keluar dari UKS namun perawat yang tadi menangani Luhan memintanya untuk menemani Luhan karena kondisi Luhan masih lemah dan bisa saja Luhan memerlukan bantuan Sehun untuk mengambilkan sesuatu

"Sehun-ah.." panggil Luhan pelan sambil melirik Sehun lewat ekor matanya.

Sehun tak menjawab namun ia hanya melirik Luhan sekilas dan setelahnya ia kembali sibuk dengan buku bacaannya.

"Sehun-ah.." panggil Luhan sekali lagi "kau yang membawaku kesini ya?" Tanya Luhan polos.

"Eo" jawab Sehun ringkas.

Luhan merengut mendengar jawaban Sehun yang ringkas lalu ia melihat sebuah benda persegi panjang berwarna putih yang sedikit menonjol atasnya di saku kemeja Sehun.

Dengan cepat Luhan pun mengambil benda persegi panjang itu dari saku kemeja Sehun membuat empunya kaget dan langsung menatap Luhan tidak suka namun yang ditatap hanya balik menatap Sehun dengan wajah innocent nya.

"Kenapa kau menyebalkan sekali" ujar Sehun datar.

Luhan mengangkat bahu nya tidak peduli dan malah mengutak-atuk ponsel Sehun dan menuliskan nomornya pada ponsel Sehun kemudian ia menelpon nomornya sendiri dengan nomor Sehun agar ia mengetahui nomor Sehun.

Luhan sebenarnya sedikit heran kenapa ponsel Sehun bisa sangat mewah. Padahal kan setahunya Sehun itu murid beasiswa. Bukannya Luhan merendahkan tapi ia sangat penasaran.

.

.

.

Setelah kejadian siang tadi dimana Baekhyun mengamuk kepadanya minta penjelasan tentang siapa yeoja yang Chanyeol peluk di photo yang ia tunjukan kepadanya, Jongin langsung panik dan menghubungi sang tersangka yakni Park Chanyeol yang sampai saat ini belum kembali dari Jepang sana.

"yeobosseo" sapa suara berat Chanyeol diseberang sana. Jongin menghela nafasnya lega saat mendengar suara Chanyeol setelah beberapa kali mencoba sebelumnya dan Chanyeol tidak mengangkat teleponnya.

"yeobosseo Chanyeol-ah, maaf aku mengganggu. Ada berita buruk" ujar Kai sambil mengginggiti kuku jarinya karena ragu.

"wae?"

"ini tentang Baekhyun"

"ada apa dengannya? Apa terjadi sesuatu padanya?" suara Chanyeol berubah khawatir begitu tahu jika Jongin menelpon untuk menyampaikan berita buruk tentang kekasihnya, Byun Baekhyun

"dia datang padaku dan mengamuk menanyakan soal seseorang yang terlihat difoto bersamamu, dan yang lebih mengejutkanku adalah kalian tengah... berpelukan" jawab Jongin semakin ragu dan memelankan suaranya di akhir kalimat.

"m-mwoya?" kaget Chanyeol dengan wajah panik dan pucat pasi. Ada apa ini? Kenapa bisa ada foto seperti itu di Baekhyun? Ia merasa tak pernah sedikitpun berpaling dari Baekhyun. Dan sekarang? Baekhyun mengamuk pada sepupunya dan menanyakan perihal yeoja yang tengah berpelukan dengannya di photo. Sedikitpun ia tak pernah merasa berkhianat pada Baekhyun apalagi sampai berhubungan fisik dengan yeoja lain. Baginya hanya Baekhyun seorang lah yang pantas menyentuhnya, tidak dengan yeoja lain.

"sekarang kutanya padamu, Chanyeol-ah.. sebenarnya apa yang terjadi disana? Benarkah kau berpelukan dengan seorang yeoja?" tanya Jongin serius.

"aniyo.. aku tak merasa begitu" sangkal Chanyeol cepat.

"lalu kenapa di photo itu aku melihat kau tengah berpelukan dengan seorang yeoja di lobi hotel? Dan kalau aku tidak salah lihat yeoja itu adalah… Park Bomi"

Chanyeol memelototkan matanya tak percaya. Park Bomi? Ia memang sempat bertemu dengan mantan kekasihnya itu saat baru beberapa hari berada di Jepang dan ia memang mengingat kala itu Bomi memeluknya dan bodohnya ia tak bereaksi apapun saat itu bahkan sekedar menolak pun tidak.

Tapi jika Jongin bilang ia tengah berpelukan maka Chanyeol akan membantah karena rasa-rasanya ia tidak balik memeluk Bomi sedikitpun lalu kenapa Baekhyun juga bilang jika Chanyeol tengah berpelukan?

Sekarang ia mengerti kenapa Baekhyun beberapa hari terakhir ini jarang menghubunginya bahkan pesan singkat darinya pun tidak pernah Baekhyun balas dan telepon darinya pun juga tak pernah Baekhyun angkat.

"darimana Baekhyun mendapatkan photo itu, Kai?" tanya Chanyeol tanpa menghiraukan pertanyaan Kai tadi.

"nan mollayo. Mungkin dia akan semakin mengamuk jika saja aku menanyakan hal itu. Jadi benar yeoja itu Park Bomi? "

"aku harus meluruskan ini" ucap Chanyeol datar dan setelah itu sambungannya terputus membuat Kai berdecak kesal.

Setelah mendapat kabar dari Jongin, Chanyeol pun segera menghubungi Baekhyun namun seperti biasa, Baekhyun kembali tidak mengangkatnya.

"kumohon Baek.. angkat" gumam Chanyeol sambil menempelkan ponselnya di telinga lebarnya, ia berjalan mondar-mandir di taman hotel sambil terus mencoba menghubungi sang pujaan hati yang mungkin sedang marah besar padanya.

Chanyeol akhirnya menyerah dan mendengus kasar kemudian duduk di salah satu bangku taman sambil memijat pelipisnya. Ia yakin jika seseorang pasti sudah menjebaknya. Tidak mungkin jika Baekhyun melihatnya sendiri dan memfoto dirinya yang tengah dipeluk oleh Bomi.

"Park Bomi. Lihat apa yang akan aku lakukan setelah ini" desis Chanyeol dengan mata yang menyiratkan kemarahan besar "SIALAN!" Teriak Chanyeol sambil menggeram marah membuat beberapa orang yang ada disekitarnya menatapnya aneh dan juga takut.

.

.

.

Luhan tersenyum-senyum sendiri di kamarnya sambil menatapi beberapa photo Oh Sehun yang ia ambil secara diam-diam selama disekolah. Ia sudah seperti stalker saja saat ini. Ia juga tak tahu kenapa ia begitu tertarik pada sosok yang bernama Oh Sehun itu.

Memang pada dasarnya Luhan kasihan melihat Sehun selalu dibully oleh teman-temannya di sekolah padahal Sehun anak yang pendiam, pintar, tampan dan tidak pernah membuat masalah dengan orang lain. Ia sungguh tidak terima kala mengetahui alasan anak-anak disekolah suka membully nya.

Meski memang selama ini mereka sering beradu mulut setiap kali bertemu atau berpapasan dijalan namun semakin kesini Luhan merasa dia punya ketertarikan kepada namja bermarga Oh itu.

Dan ia sangat senang karena berhasil mendapatkan nomor Oh Sehun.

Luhan membuka aplikasi LINE kemudian mencari kontak Oh Sehun dan mengetikkan sesuatu disana yang terkesan konyol namun Luhan tetap saja mengirimkannya meski ia tahu jika itu konyol.

Sehun side

Seperti acara rutinnya, jika Kai sibuk mengoceh atau berlatih gerakan dance di mirror room maka Sehun lebih memilih untuk menghabiskan waktu senggangnya di perpustakaan besar milik keluarganya.

Ia duduk di pinggiran tembok sambil menyandarkan punggungnya dan menyelonjorkan kakinya senyaman mungkin di atas karpet bulu berwarna abstrak yang sekarang tengah ia duduki.

Ia tetap fokus membaca sebuah buku tentang sejarah Romawi Kuno dengan kacamata berbatang hitam yang bertengger manis di hidung mancungnya. Konsentrasinya tak tergoyahkan sampai suara dari ponselnya meruntuhkan dinding konsentrasinya.

Ia mengambil benda persegi panjang itu dari atas sebuah nakas yang berada tak jauh darinya kemudian melihat sebuah pesan LINE dari akun bernama Xi Lu Han.

Sehun membuka pesan itu dan ternyata isinya hanya sebuah kata sapaan yang berbunyi 'hai Oh Sehun' ditambah dengan emoticon puppy eyes setelahnya.

Tanpa sadar Sehun menyunggingkan sebuah senyuman tipis dibibir tipisnya itu kemudian dengan sadar dia membalas pesan Luhan.

'wae?'

Pesan itu sama singkat dan dinginnya dengan ekspresi Sehun seperti biasanya.

'heol.. dasar es balok berjalan'

Sehun tersenyum geli dengan balasan Luhan yang ditambah dengan emoticon jengah itu.

'bilang saja jika aku bagaikan pangeran di negeri es'

'YAK! Kau lebih mirip pangeran yang terbuang tahu'

'terserah'

'neo jinja!'

'wae?'

'ani'

'jika tidak ada hal penting sebaiknya kau jangan menggangguku, aku sedang berdua dengan belahan jiwaku' dan setelah itu Luhan tidak membalas apapun lagi, Sehun hanya melihat jika pesan yang dia kirimkan beberapa menit yang lalu itu sudah dibaca oleh Luhan. Ia menggedikan bahunya tak peduli saat Luhan benar-benar tidak membalas pesan LINE nya.

Sehun pun melanjutkan kegiatan 'berduaannya' itu dengan 'sang belahan jiwa' yang tak lain dan tak bukan merupakan kegiatan rutin membaca bukunya.

Luhan tidak tahu saja dengan yang dimaksud Sehun 'belahan jiwa' makanya sekarang Luhan tengah uring-uringan sambil mempoutkan bibirnya sebal. Tak pernah terlintas sedikitpun dalam benaknya jika Sehun sudah punya pacar.

Huh.. andai saja Sehun tahu dampak dari perkataannya yang penuh misteri itu pada Luhan saat ini.

.

.

.

"Lu.. kenapa tidak bilang jika tadi kau pulang duluan? Setidaknya kau mengabariku juga jika kau masuk UKS" oceh Baekhyun yang tengah menyantap susu strawberry nya. Dia tidak tahu jika Luhan tengah sebal karena Oh Sehun jadi ia tetap mengoceh sementara Luhan tetap berguling-guling gelisah di atas kasur King Size nya.

"Lu, kau dengar aku tidak?" tanya Baekhyun yang merasa Luhan tak menanggapinya sedikitpun dan malah uring-uringan sambil menatap layar ponselnya dengan tatapan memelas.

Baekhyun pun merebut ponsel Luhan dengan cepat membuat empunya kaget dan berusaha merebut ponselnya namun dia kalah cepat karena Baekhyun sudah memberi jarak di antara mereka sehingga sulit untuk merebut ponselnya kembali.

"YAK! Bacon! Kembalikan ponselku!" teriak Luhan tak terima sambil berusaha mendekati Baekhyun yang terus menghindar namun akhirnya ia berhasil mendapatkan ponselnya kembali namun ia langsung mendapat tatapan horror dari Baekhyun membuat Luhan tahu jika Baekhyun pasti telah membaca pesan LINE nya dengan Oh Sehun.

"kau menyukainya?" semprot Baekhyun sambil memicingkan matanya pada Luhan.

"nugu?" tanya Luhan sok polos.

"Yak! Jangan pura-pura tidak tahu Xi Luhan!"

"ya ampun Baek. Memangnya kau harus tahu" desah Luhan yang merasa percuma jika melawan Baekhyun yang keras kepala karena ia tetap akan kalah pada akhirnya.

"tentu saja, aku sepupumu Luhan! Bukankah diantara kita tak ada yang disembunyikan?!"

Luhan memang tak bisa membohongi dirinya sendiri jika dia memang menyukai Sehun, tentu dia bukan orang munafik untuk menutupi kenyataan itu.

"sepertinya begitu Baek"

"MWOYA?!"

- To Be Continue-

.

.

.

NOTE :

Annyeonghaseyo. ^_^

Mianhae kalau chapter ini kurang memuaskan. *bow..

Author ucapkan banyak terimakasih pada reader-nim yang sudah kasih review.

Untuk kamu-kamu yang penasaran akan kenapa HunKai bisa jadi saudara padahal beda marga, tunggu aja chapter-chapter selanjutnya, ya? Karena author akan mulai membongkar tentang masa lalu Sehun yang menyebabkannya seperti sekarang dan tentang masa lalu keluarga HunKai di chapter selanjutnya dan selanjutnya.

Satu lagi, makasih yang udah koreksi tentang garis pemisah antara scene 1 dengan scene yang lain.

Nih author kasih tahu, untuk titik-titik kesamping (...) itu artinya scene yang selanjutnya itu kelanjutan beberapa menit kemudian atau beberapa saat kemudian kayak misalnya ya Luhan lagi mandi terus author kasih tanda yang kaya barusan di pemisah scene nya itu artinya scene selanjutnya antara Luhan yang udah beres mandi atau dilain tempat di waktu yang sama alias other side gitu loh.

Kalau untuk titik 3 yang ke bawah itu artinya scene sebelumnya sama scene yang selanjutnya gak ada sangkut pautnya atau jangka nya udah lama kaya setengah hari, sehari, seminggu atau lainnya. Ngerti gak? Ngerti aja yaaa? Hehe..

Segitu aja dari author yaaaa.

Annyeong..

Zyyeoliee