Summary : Awal pertemuan merubah semuanya, membuka pandora yang seharusnya tetap tertutup. Membawa kehidupanku kedalam sebuah labirin tanpa akhir. Me and A Little Vampire sequel.

Title : Me And My Story (Story 2 : Tetsuna and Shouta)

Pair : KuroAkaKuro, slight!NijiKuro

Genre : Familly, Supernatural, Romance, Angst

Rate : T

Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi

Warn : OOC, Typos, abal-abal, EYD tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar, Ore!Akashi.

.

.

.

Tahun sudah berganti tahun, kini Shouta telah beranjak dewasa. Siapa sangka anak bersurai merah darah itu berhasil meraih beasiswa di SD Teiko yang terkenal paling elit se-Jepang? Tetsuya -yang kini menyamar setelah kembali ke Tokyo- sebagai perempuan bernama Tetsuna. Berprofesi sebagai salah satu staff di Niji Corp. Sebenarnya Nijimura, sebagai Direktur Utama perusahaan itu sudah memberi Tetsuya kebebasan dengan biaya hidup Shouta dan dirinya ditanggung oleh Nijimura, Sayangnya Tetsuya menolak itu dan lebih memilih bekerja sendiri.

Tetsuya mulai berubah menjadi sangat keras kepala setelah kejadian itu, ya, insiden Tetsuya kabur dari rumah Akashi Seijuro hingga menikahnya Kagami Taiga dan Aomine Daiki. Diakhir-akhir, Nijimura tahu Tetsuya diam-diam suka pada pemuda beralis cabang itu. Disakiti 2 orang yang dicintainya membuat Tetsuya enggan menerima kebaikan siapapun, bahkan untuk Shouta sekalipun Tetsuya selalu bekerja keras agar buah hatinya tumbuh dengan baik, tanpa bantuan siapapun. Bagi Tetsuya, yang terpenting adalah kebahagiaan Shouta dan berhasil lolos dari kejaran ayah kandung Shouta yang selama 6 tahun ini terus mengejarnya.

Awalnya Tetsuya hanya kabur ke rumah yang dipinjami Nijimura, namun apa daya ia berhasil dilacak Akashi Seijuro, Ayah kandung Shouta. Tetsuya memohon pada Nijimura untuk membawanya ke luar negeri tempat dimana ia tidak akan bisa ditemukan oleh Seijuro. Tetsuya akhirnya berlabuh ke Rumania dan tinggal disana hingga Shouta berumur 4 tahun lalu kembali ke Jepang setelah aman.

Darah murni itu itu tidak bisa di bantah. Semua vampir tahu itu, Nijimura tidak bisa berkutik. Lagipula ia sangat mengerti perasaan Tetsuya yang ingin melindungi satu-satunya keluarga dan kebahagiaannya. Saat itu Shouta masih berumur 2 tahun dimana saat itu Tetsuya benar-benar direpotkan semasa jadi ibu dan Nijimura pun tidak punya pilihan selain membantu Tetsuya dengan mengaku-aku kalau ia adalah Ayah Kandung Shouta. semakin lama, semakin terbiasa seperti itu, hingga sekarang ini lah yang terjadi.

Satu meja makan, 2 piring makan berisi nasi dan 3 piring saji juga sebuah mangkuk. Merah, Biru muda dan hitam mengelilingi meja makan sederhana di kediaman Tetsuya.

"Papa, sekarang Shouta sudah masuk SD jadi Shouta tidak ingin di antar." Pinta si surai merah-Shouta- pada satu-satunya laki-laki bersurai Raven disana.

Si Papa terkekeh pelan sembari mengacak-acak surai merah Shouta penuh kasih sayang. "Nanti kau nyasar, kau masih bocah." Ujarnya

"Papa! Ya sudah Shouta mau diantar Mama."

"Tidak, Mamamu kan se-"

"Tidak apa-apa, Nijimura-san" Potong Tetsuya. "Baiklah, Shouta-kun akan Mama antar ke sekolah. Tapi, Shouta-kun harus rajin belajarnya, ya?"

"Oi, Tetsuya! Kau serius!? Bukannya kau sek-"

"Aku baik-baik saja. Lebih baik kalian berangkat sekarang atau kalian akan terlambat, Mama akan siap-siap dulu."

Acara sarapan dengan perempatan imajiner di kening Nijimura dan sorakan gembira dari Shouta.

(WARN : mulai sekarang Tetsuya (Vampir) akan dipanggil Tetsuna untuk mode perempuan dan Tetsu dalam mode laki-laki. Untuk Akashi Tetsuya, Istrinya Akashi Seijuro akan dipanggil Tetsuya)

.

.

.

SD Teiko, Terletak di tengah kota Tokyo Prefektur Kurobas, sekolah elit terakreditasi A menggunakan sistem canggih penggunaannya. Terdiri dari murid jenius dengan biaya masuk yang terhitung ekstrim-Shouta dapat beasiswa- hingga tidak perlu mengurus keuangan karena biaya ditanggung sekolah selama 6 tahun.

Tetsuna senang karena ia tidak perlu mengeluarkan lebih untuk biaya sekolah Shouta.

Motor Tetsuna di parkir di area parkir sekolah, Shouta turun dan melepas helm yang kemudian di serahkan pada sang 'Mama'. Seharusnya acara dadah-dadah dan peringatan seperti 'Tidak boleh gigit orang sembarangan' atau 'Ketika mulai haus segera hubungi mama atau papa atau alasan minta pulang' yang kemudian disahuti anggukan oleh Shouta. Namun ada juga yang datang.

Bocah bersurai Babyblue beriris Scarlet sedang melambaikan tangan ke atah mereka, Akashi Seiya, Teman kecil Shouta semasa TK. Satu-satunya teman Shouta yang dibawa pulang oleh Shouta.

'Dia sama seperti kita, Ma!' itulah alasan yang di terima Tetsuna hingga bocah Akashi itu bisa di terima dekat dengan keluarganya. Langkah lain, Aroma lain, Tetsuna membulatkan bola mata.

Selama Seita dan Shouta dekat, baru kali inilah kedua orang tua mereka bertemu, Akashi Seijuro, Kakak angkat Tetsuna.

Lepas dari keterkejutan, Tetsuna kembali memasang pokerface andalannya.

"Papa, Papa! Ini Tetsuna-bachan, Mamanya Shouta." Kata Seita mengenalkan Tetsuna pada Seijuro.

Tangan Seijuro diulur. "Saya Akashi Seijuro, Ayah Seiya. Senang bertemu dengan anda, Tetsuna-san" Senyum bisnis di umbar, Tetsuna membalas uluran tangan dan berguman "Tetsuna desu, Ibunya Shouta. Senang bertemu dengan anda" Sambil tersenyum lembut.

Senyuman dan aroma yang tercium di hidung Seijuro terasa tidak asing, wangi manis yang memabukkan yang mampu membuat Seijuro terlempar ke alam nostaligia.

Jabatan tangan tak kunjung usai, Tetsuna menggerakkan tangannya risih.

"Maaf Akashi-san... bisa tolong lepaskan tangan saya?" Seijuro terhenyak dan langsung melepas pegangan tangan Tetsuna sambil berujar "maaf"

"Papa jangan ganjen nanti otousan marah" Peringat Seiya. Kurasa kalian tahu siapa 'Otousan' itu.

"hush! kamu ini."

Memperhatikan pasangan Ayah-Anak membuat Tetsuna tersenyum tanpa sadar, Seijuro, orang yang dulu sangat ia cintai kini sudah memiliki kehidan yang baik dan bahagia. Tetsuna merasa pilihannya tepat saat meninggalkan Seijuro saat hamil dulu.

"Mama, Shouta mau berangkat dulu. Jangan melamun." Kata Shouta sambil menarik tangan ibunya.

"ah- ya, Itterashai."

Tangan Shouta dan tangan Seiya bertautan saling tersenyum berjalan menuju sekolah baru mereka dengan riang. Tetsuna melihat mereka layaknya adik-kakak, terbesit di pikirannya untuk membuat mereka bersaudara sungguhan-yang langsung saja di tepis oleh Tetsuna- ia tidak mau merusak kebahagiaan kakak angkatnya itu.

"Maaf, Akashi-san," Rasanya pahit bagi Tetsuna "Saya harus pergi sekarang. Selamat pagi" Lanjut Tetsuna sambil membungkuk sedikit.

"Ah, Tentu, Selamat Pagi, Tetsuna-san dan tolong hati-hati di jalan."

"baik, Terima Kasih Akashi-san."

Sepeninggal Tetsuna, Seijuro masuk kedalam mobilnya. Sejenak ia berpikir,

'Kenapa aku merasa sangat mengenal mereka dan kenapa aku perhatian begini? Aku semakin penasaran pada mereka.'

.

.

.

.

Seolah takdir sedang berpihak pada Akashi Seijuro, Ketika pria itu pulang dari kantornya dan berniat untuk membeli kopi kalengan teman begadangnya nanti malam juga beberapa cemilan dan susu vanilla untuk istri dan anaknya tercinta, surai babyblue panjang yang dilihatnya di sekolah Seiya menyembul dari balik rak-rak roti. Menimbang-nimbang apakah Roti merk Murasaki's Bread atau Himu Brother yang lebih baik di konsumsi?

Murasaki's Bread menjadi pilihan, Seijuro terkekeh geli melihatnya. Kaki berbalutkan celana hitam kerja dan sepatu pantofel versi pria kantoran mendekat pada wanita di depan jajaran sayur mayur, kali ini wortel dan brokoli yang ada di genggaman tangan pucatnya.

"Selamat Malam, Tetsuna-san." Sapa Seijuro ramah.

"... Akashi-san... Konbanwa." Sahut Tetsuna sambil tersenyum tipis.

"Kebetulan sekali bisa bertemu disini, Shouta tidak ikut?"

"Tidak, dia ingin serius mengerjakan PRnya jadi dia tinggal di rumah. Akashi-san sendiri?"

"Saya kebetulan sedang mampir kesini selepas pulang kantor." Jelas Seijuro

"Sou desu ka... Kalau begitu saya permisi dulu, salam untuk anak dan istri anda, selamat malam" Baru saja troli akan di dorong menjauh, tangan seijuro sudah menahan laju keranjang belanjaan beroda itu. "Bagaimana kalau kita mengobrol sebentar? Aku janji aku tidak akan melakukan apapun. " Dan Tetsuna hanya bisa menghela nafas pasrah.

.

.

.

"Maaf, kalau boleh tahu, kenapa anda dan Shouta-kun tidak memakai nama marga?" Tanya Seijuro sembari membuntuti Tetsuna.

"Keluarga kami tidak mengharuskan pemakaian marga, Akashi-san"

"eh? Memangnya Tetsuna-san kelahiran mana?"

Tetsuna memasang posisi berpikir, Vampir... Vampir... Vam-, "Saya kelahiran Rumania, Tapi ayah dan ibu saya orang Jepang, Imigran." Jelas Tetsuna sedikit canggung.

"Rumania... Rumania- Vampir? haha" Seijuro terkekeh pelan sementara Tetsuna sendiri terus merapal 'semoga dia tidak menyadarinya' seperti mantra yang diucap terus menerus dalam hati.

Apakah dengan berucap Pahit, Pahit, Pahit berulang akan membuat Seijuro pergi?

Sayangnya Tetsuna ingat kalau Seijuro tidaklah sekerabat dengan serangga penyengat itu.

"vampir itu hanya mitos, Akashi-san. Tidak ada di dunia nyata." Tetsuna berujar sembari melangkahkan kaki menuju area minyak dan mentega.

Orbs biru lautnya melirik ke salah satu label bertuliskan 'DISKON 35%!' yang di caplok dan di beri tulisan merah spidol diatas kertas kuning yang mainstream. Memang dasarnya Tetsuna berjiwa ibu-ibu, diambilnya minyak goreng tersebut dan memasukkannya kedalam trolinya.

"... Oh ya? Ah- anda mungkin tidak percaya, tapi dulu saya pernah bertemu dengan bangsa mereka- salah satunya bahkan saya angkat sebagai adik." Cerita Seijuro sambil terus mengekori Tetsuna, Tetsuna mendesah lelah.

'Bahkan kau salah satu dari mereka.' Batin Tetsuna.

Senyum manis di umbar, Tetsuna berbalik menatap Seijuro. "saya rasa, Akashi-san terlalu banyak membaca cerita fiksi atau fantasy."

"Nah, benar tidak percaya rupanya. Tapi saya benar-benar menceritakan yang sebenarnya..." Tetsuna sedikit menegang kembali berbalik mendorong troli ke tempat daging-dagingan. Wajah pucat Tetsuna bertambah pucat. "Adik saya itu tergolong manis, mirip wanita meskipun ia laki-laki. Ia punya rambut berwarna biru langit, suaranya lembut, bagitupun perangainya, ya... sekilas ia mirip... anda." Tatapan tajam dilayangkan pada punggung sempit Tetsuna.

Bagai disengat listrik tak kasat mata, Tetsuna merinding. Untuk pertama kalinya Tetsuna berharap menjadi semakin Transparan dan kabur dari hadapan Seijuro.

"Sou ka... Adik anda pastilah sangat menyayangi anda. Karena yang saya lihat, Anda adalah orang yang baik." Pokerface kembali terpasang di wajah Tetsuna. "Saran saya, lebih baik anda mengurangi membaca buku berbau fiktif." Lanjutnya sembari mengambil satu wadah hati sapi dari tempatnya.

Seijuro menghela nafas, ia mulai berpikir kalau kesamaan Tetsuna dan adiknya Tetsuya hanyalah sebuah kebetulan semata. Tapi, ia tidak mungkin salah, ia sangat yakin kalau Tetsuna adalah Tetsuya, firasatnya kuat mengatakan begitu.

Jam tangan dilirik, 30 menit lagi waktu makan malam, telat maka terima nasib kalau AkashinTetsuya-nya Tercinta akan menghukumnya. Hanya tuhan dan ia sendiri yang tahu bagaimana mengerikannya Tetsuya, istri tercintanya kalau sedang marah.

Mungkin ia juga akan membicarakan ini dengan Tetsuya.

"ah... sudah hampir waktu makan malam. Aku harus bergegas- apa anda masih ingin disini?" Tetsuna mengangguk. "Masih ada yang harus saya beli. Silakan jika anda ingin pulang duluan" Tetsuna memapar senyum lembut yang tulus untuk Kakak angkat, sekaligus orang yang dicintainya itu.

Seijuro sedikit tersipu melihat senyuman tulus itu, perasaan hangat mendesir di dadanya, membuatnya merasa de javu. "Kalau begitu saya permisi. Mohon berhati-hati saat perjalanan pulang."

Surai baby blue bergoyang akibat anggukan sang empu sambir berguman. "Baik, Terima kasih"

Berakhirlah pertemuan mereka malam itu yang membuat Tetsuna berharap ia tidak akan pernah bertemu dengan pria itu lagi, itu membuatnya berhasil membuka luka lama dihati Tetsuya.

.

.

.

"Tadaima..." Tetsuna pulang berucap lesu.

Sepasang sepatu besar, Nijimura mungkin datang berkunjung. Namun aneh, terlalu sepi. Kemana anaknya? Tungkai Tetsuna di langkahkan menuju ruangan tempat biasanya Nijimura dan Shouta bermain, namun nihil. Tidak ada siapapun disana.

Samar ia mendengar langkah kaki menuruni tangga, Tetsuna menyembulkan kepala dari pintu dan melihat pria bersurai raven itu turun dengan wajah lelah dan penampilan yang berantakan.

"Doumo, Nijimura-san. Kau berantakan sekali."

1

2

3

"UWAAA!" dan pantat kembali pertemukan dengan ubin. Nijimura terjatuh dengan tidak elit.

Untungnya ia tidak terkena ambeiyen seketika, paling parah ia tidak terkena serangan jantung mendadak.

"Tetsuya! Jangan mengagetkanku begitu."

"Doumo." Ulang Tetsuna membuat perempatan imajiner muncul di keningnya. "Bukan saatnya bilang doumo! Kapan kau pulang?"

"Baru saja, Shouta-kun kemana?"

"Tidur. Setelah mengigitku. Benar-benar kau sekali."

"Sou ka... Terima kasih. Nijimura-san mau makan sesuatu?"

"aku minta kopi saja." permintaan Nijimura di sahut anggukan oleh Tetsuna.

"ngomong-ngomong, kenapa kau lesu sekali?"

"Aku... bertemu dengan Sei-nii lagi di supermarket. Sepertinya dia mulai mencurigaiku." Wig panjang di lepas, digantung pada tempatnya, Tetsuya menghela nafas lelah.

"Sudah, mungkin karena wajah dan suaramu yang tidak bisa di ubah. Tetaplah berpura-pura selagi pembangunan rumah di hutan perbatasan-sesuai permintaanmu- sedang di proses." Ujar Nijimura sembari memperhatikan Tetsuna yang sedang meracik kopi untuknya. "Aku bawa makanan untukmu, kusimpan di kulkas." lanjutnya, Tetsuna berujar 'Terima kasih lalu menghidangkan kopi untuk tamu sekaligus atasannya.

-Atau calon ayah Shouta? Nijimura terlalu berharap sebenarnya.

.

.

.

Pukul 10 malam kediaman Akashi sudah tampak sepi, karena si kecil Seiya sudah pulas di kamar pribadinya, Sementara Seijuro dan Tetsuya masih tampak duduk-duduk santai di ruang keluarga mereka sambil sesekali menyesap teh racikan istri tercinta.

Seijuro melirik ke arah Tetsuya, ragu untuk mengungkapkan apa yang ada di kepalanya. Haruskah ia bicara? Itu membuatnya pusing sendiri.

"Ada apa, Sei-kun?" Tanya Tetsuya tiba-tiba membuat Seijuro merutuk iris observatif Tetsuya.

"Tetsuya ingat dulu pernah meminta-memerintah ku untuk mencari Cuya, 'Kan?" Tetsuya mengangguk. "Kurasa dia memang masih berkeliaran disini."

"Apa maksud Sei-kun?"

"Jadi, Tadi pagi aku bertemu dengan ibunya Shouta, teman dekat Seiya. Kau tahu dia kan?" Tetsuya kembali mengangguk, sebenarnya Tetsuya sendiri belum pernah melihat wujud Shouta, ia hanya tahu dari cerita putra sematawayangnya. "Ibunya bernama Tetsuna dengan suara dan wajah yang mirip dengan cuya. Tapi, dia perempuan."

"Apa Sei-kun yakin kalau itu Cuya-kun yang menyamar?"

"Aku tidak begitu yakin karena dia tidak mengenalku dan bereaksi biasa saja saat bertemu denganku, tapi ada yang membuatku penasaran."

"heh? Apa itu?"

"Shouta mirip denganku."

"Heh? Maksud Sei-kun dia punya fisik yang sama dengan Sei-kun? Sifat menyebalkannya juga?"

Seijuro tertusuk panah imajiner di ulu hati. "Fisiknya memang mirip meski hanya warna rambut dan iris vertikalnya, tapi matanya berwarna biru. Sifatnya lembut meski kadang tidak bisa di tolak."

"Kalau begitu Sei-kun harus cari tahu. Bagaimanapun Sei-kun harus bertanggung jawab pada Cuya-kun. Aku akan terus mendukung Sei-kun."

Seijuro tersenyum tulus, dipeluknya pemuda yang sudah resmi menjadi istrinya 7 tahun lalu sambik terus berucap kata cinta dan terima kasih kepada Tetsuya. Seijuro tahu Tetsuya adalah laki-laki berhati besar yang pernah ia temui sepanjang hidupnya.

To Be Continued.

A/N : Konbanwa minna-san, Seita-kun kembali dengan lanjutan Sequel Me And A Little Vampire. Sesuai Request pembaca, words dipanjangkan sudah seita penuhi. Terima kasih bagi yang sudah mengikuti cerita Seita dari awal *bows*

Semoga Readers menyukai chapter terbaru ini, kritik dan saran sangat Seita harapkan dari Reader semuanya. Sampai jumpa di Tahun depan di chapter terbarunya.

last, HAPPY NEW YEAR 2016!

salam hangat,

Seita-kun.

-kolom balas Review-

mariagracia379

ceritanya nyakitin kokoroku TT

Next Chap words ceritanya banyakin dikit ya XD

balasan : sini seita obatin pake obat merah buatan raden kyai Akashi Seijuro yang isinya terbuat dari tjinta xD wordsnya udah di tambahin nih, makasih udah review ;)

miyuki94

hasseeek, ada sekuelnyaa!numpang review dulu, bcanya ntar malemhahaay

balasan : Makashi udah baca dan mereview ;)

Akashi Sorata

nice fic.. continue please

balasan :as your request :) terima kasih susah membaca.

M. Heichou

Mungkin karena sedang masa ujian ya..Tapi kesannya penulisan di chapter ini terlalu terburu-buru, lagi kurang ada penekanan story-nya..Ada baiknya kalau di beberapa scene diberi penguatan "shock therapy". Contohnya saat Tetsuya tahu anaknya berteman dengan anak Akashi. Mungkin bisa dibuat kalau awalnya Tetsuya terkejut, tapi setelah berpikir ulang dia memutuskan tak ada masalah...Angst yang bagus rasanya tak lengkap tanpa efek "kejutan".

Sukses selalu.

balasan : Ampuni aku Niichann Dx ntar seita cobain lagi. minta penilaiannya lagi *sungkem*

Ricchan Yami no Hime

Dilihat dari preview-nya... HADUH! SIAP-SIAP BAWA TAMENG GEDE NIH! BAKAL ADA PEPERANGAAAAAAN! #PLAK!

Oke, maaf. Ceritanya lebih ringan lho dan membuat orang tertarik untuk membaca. Terutama bagian preview yang pastinya membuat penasaran para & izin fave~

balasan : ga ada peperangan kok, kecuali perang di atas ranjang-uhuk/seketikaditabok

Terima kasih reviewnya dan terima kasih sudah membaca. :)

hanyo

kyaaaaaaaaaa udah ada sequelnyaaaaaaaaaaa xD spechlessssss aku masih kesel sm akashinyaaa wkwkwkkk nijikuro aja juga gpp kok *eh? ganbatte author aku selalu menunggu apdetan dari muuuuuu

balasan : wah makasih udah nunggu dan baca dari awal. Tenang, Akashi bakal lebih rese kok nanti/hush. Seita akan berusaha update terus sampai akhir cerita. :)

LEAJ2530

Sequel! Nggak tahu harus bilang apa (?) Next! Semangat

balasan : yosh! Seita akan berusaha. Terima kasih reviewnya dan terima kasih sudah membaca. ^^

Sekian balas balas review dari Seita-kun, See you! ;)