Title : Something Wrong
Genre : school life, romance, gender switch, AU
Pairing : HunHan, ChanBaek, KaiSoo, SuLay.
Rate : Teens
Length & type : Chaptered
.
.
Disclaimer : Cast murni bukan milik author tapi cerita ini milik author.
so...
DON'T BE SIDERS
DON'T PLAGIAT
DON'T BASH
.
.
WARNING! GENDER SWITCH & TYPO!
.
.
.
.
.
Summary :
Keinginannya untuk pindah ke Korea membuat ia bertemu dengan si namja 'beasiswa' yang selalu di bully oleh teman-temannya karena bersekolah di sekolah tempat orang-orang kaya. Namun apa yang akan mereka katakan jika ternyata si namja tampan 'beasiswa' itu ternyata anak kandung dari keluarga Oh -keluarga terkaya sedaratan Asia Timur-?
.
.
.
CHAPTER 6
.
.
.
Hari ini seperti biasa, sepulang sekolah Kyungsoo dan Jongin kembali melatih kemampuan menari mereka di ruangan mirror dance dan saat ini mereka berdua tengah beristirahat.
"Pertunjukan amalnya tinggal 2 minggu lagi, tapi kau semakin tidak konsentrasi latihan" ucap Kai mengeluarkan unek-uneknya pada Kyungsoo.
"Mianhaeyo Kai-sshi" ujar Kyungsoo pelan dan merasa bersalah karena semakin kesini dirinya merasa semakin mengacaukan Kai "seharusnya seonsaengnim tidak memilihku. Kau bisa protes padanya agar menggantiku, Jongin. Aku hanya mengacau" lanjutnya diliputi rasa sesal.
"Apa yang kau pikirkan sehingga tidak fokus?" Tanya Jongin tanpa menghiraukan keluhan Kyungsoo yang menyuruh Jongin mengganti pasangan wanita nya.
"Aku hanya memikirkan Luhan dan Sehun" jawab Kyungsoo seadanya membuat kedua alis Kai terpaut.
"Ada apa dengan mereka?" Tanya Kai dengan nada ingin tahu yang begitu kentara.
"Luhan menyukai Sehun. Ani... bahkan mungkin mencintai Oh Sehun" jawab Kyungsoo membuat Kai terperanjat namun Kyungsoo tak melihatnya karena tatapannya lurus kedepan. Kai berdehem pelan untuk menghilangkan rasa terkejutnya sebelum kembali berbicara.
"Lalu apa masalah mu? Apa kau juga menyukai Sehun?"
"Aniyo. Bukan itu maksudku. Hari ini Luhan sakit, kata Baekhyun Luhan demam tinggi dan terus mengigau dalam tidurnya. Dan ia menyebut-nyebut nama Sehun saat mengigau. Aku jadi heran. Apa mungkin Luhan sakit gara-gara Sehun atau mungkin mereka bertengkar" jawab Kyungsoo tak sadar telah membocorkan tentang perasaan Luhan pada Sehun kepada Jongin.
"kenapa Luhan menyukai Oh Sehun? Sedangkan dia tahu jika namja itu hanya namja miskin yang kebetulan dapat beasiswa" Kai sengaja bicara begitu agar mendapat informasi lebih dari Kyungsoo karena mungkin saja informasi ini bisa membuat hati Sehun kembali terbuka untuk orang lain dan membongkar identitas aslinya.
"Aku kurang tahu. Tapi Luhan itu memang aneh. Bukannya aku menjelekkan Sehun, hanya saja aku aneh kenapa Luhan bisa menyukai Sehun karena kebanyakan orang disini sangat benci saat melihat Sehun tapi itu tidak berlaku untuk Luhan. Sebenarnya aku juga kasihan, hanya saja aku tak dapat membantu apa-apa saat Sehun dibully, hal terbaik yang bisa kulakukan hanyalah dengan tidak ikut membully nya seperti yang lain. Namun.. aku senang jika Luhan jatuh cinta padanya tanpa memandang latar belakangnya. Ku akui Luhan adalah yeoja terhebat yang pernah ku kenal. Dia baik hati luar biasa tanpa memandang perbedaan status sosial" cerocos Kyungsoo panjang lebar dan sukses membuat Kai tertegun. Benarkah Luhan mencintai saudara nya? Sebaik itukah sosok Luhan?
"Lalu bagaimana denganmu?"
'Eii.. Jongin bodoh. Kenapa malah bertanya seperti itu' rutuk Jongin dalam hatinya sambil memegang bibirnya yang keceplosan itu.
"Aku? Entahlah, yang bisa menilai aspek itu sepertinya orang lain. Menurutmu aku bagaimana?"
.
.
.
Jongin baru sampai di kediamannya dan langsung menuju basement untuk memarkirkan motor sport nya. Setelah itu ia bergegas masuk kedalam dan menuju ke kamar Sehun namun kamar Sehun kosong tanpa ada tanda-tanda kehidupan. Itu artinya Sehun tidak sedang berada di kamarnya.
Jongin kembali berlari keluar dan menemukan Sehyoon di tempat gym, adik perempuannya itu ternyata tengah berlari santai di atas treadmill dengan keringat yang bercucuran dari tubuhnya.
"Yak! Sehyoon-ah!" panggil Jongin membuat Sehyoon memperlambat laju treadmill nya sebelum akhirnya mematikan treadmill lalu turun dari alat itu dan mengelap keringatnya yang bercucuran.
"Dimana Sehun?" Tanya Kai to the point sambil menghampiri Sehyoon.
"Nan mollayo, oppa. Tadi aku lihat Sehun oppa keluar menggunakan mobilnya" jawab Sehyoon sementara Kai mengerutkan keningnya heran.
'Jika Sehun balapan liar lagi, Sehyoon pasti akan tahu tapi sepertinya Sehyoon tidak tahu jadi pasti Sehun bukan mau balapan' batin Kai.
"Dia berpenampilan seperti apa? Maksudku, dia memakai baju apa?" Tanya Kai tak sabaran.
"Oppa hanya pakai kemeja dan celana jeans. Waeyo?" Tanya Sehyoon bingung.
"Aniyo. Maaf sudah mengganggumu. Teruskan saja olahraganya, ya sayang. Supaya tambah sehat" Kai mengelus surai hitam kemerahan milik Sehyoon sambil tersenyum begitupun dengan Sehyoon kemudian Kai pun pergi dari ruang gym menuju ke kamarnya karena ia sama sekali belum melepas tas juga seragamnya sejak tiba di rumah.
Setidaknya sekarang dia lega karena tahu Sehun pergi bukan untuk balapan karena jika Sehun pergi balapan liar tak mungkin memakai pakaian seperti itu.
…
Sehun memarkirkan mobilnya didekat sungai Han yang sepi, ia sengaja mencari tempat sepi dan menghindari tempat ramai agar otaknya jernih.
Jujur saja, semenjak Sehun membentak dan memaki Luhan waktu di atap, ia jadi merasa pikirannya kusut dan dipenuhi oleh bayang-bayang sosok Luhan yang tersenyum, tertawa, merengek, merajuk, juga menangis.
Jika boleh jujur, Sehun rasanya ingin tersenyum mengingat semua ekspresi Luhan meski mereka tidak kenal dekat.
Jika saja ego Sehun tidak besar. Jika saja Sehun bisa membuka hatinya untuk Luhan, mungkin kejadian di atap tak akan pernah terjadi. Ia hanya enggan membuka hatinya untuk orang lain karena ia akui sampai saat ini dia masih mengharapkan Sandara meski yeoja itu telah mencampakkannya.
Sehun bersandar pada sebuah pembatas dan menghadap ke arah sungai Han dengan tatapan penuh arti.
Rasanya semua sudut di kota Seoul selalu mengingatkan dirinya akan sosok Sandara yang selalu memenuhi setiap sel di otaknya. Tak ada tempat untuk orang lain maka dari itu ia memaki Luhan waktu itu padahal Luhan tak bersalah padanya.
Ia hanya tak ingin semuanya terulang kembali. Ia masih menganggap semua yeoja itu penipu dan melihat seseorang dari material padahal Luhan sudah begitu tulus padanya meski Luhan tahu jika Sehun dijuluki 'namja beasiswa miskin'
Sehun berbalik kemudian menatap sebuah banner besar yang ada di depan sebuah etalase minimarket.
Itu Sandara Park.
Ya, itu foto Sandara Park. Gambar yang ada di banner itu adalah mantan kekasihnya.
Sehun tahu dan semua tahu jika Sandara Park kini bekerja pada sebuah agensi terkenal di Jepang dan menjadi model. Jadi, Sehun dapat melihat foto Sandara dimanapun dan itulah yang membuatnya sulit melupakan sosok Sandara yang sudah menyakiti hatinya.
"Sehun-ah, hari ini kita kemana?"
"Kita ke sungai Han, bagaimana?"
"Itu bagus, kaja. Tapi sesudahnya kita shopping ya. Aku ingin beli tas baru"
"Baiklah. Apapun untukmu sayang"
Betapa bodohnya Sehun kala itu. Kenapa ia tak menyadari jika sejak awal Sandara hanya mengincar hartanya? Gadis itu silau akan harta Sehun sebagai pewaris sah Tyrone Group.
Saat itu keluarganya hanya orang kaya biasa yang bahkan tidak masuk 10 jajaran orang terkaya se-Korea tapi setelah mengalami keadaan hampir bangkrut dan kembali bangkit, keadaan ekonomi keluarganya semakin membuncah dan berakhir menjadi keluarga terkaya sedaratan Asia Timur.
Saat dulu saja Sandara sangat silau akan hartanya. Apalagi sekarang setelah keluarga nya menjadi keluarga terkaya se-Asia Timur? Mungkin saja Sandara akan meminta mobil atau rumah bahkan mungkin jet pribadi jika saat ini mereka masih berhubungan.
Dan Sehun sadar, selama 2 tahun hubungan mereka dulu Sandara sudah banyak meminta ini itu kepada Sehun membuat Sehun harus menghamburkan uangnya dan di cap boros oleh sang ayah.
Sehun menggeram tertahan. Ia tak bisa terus seperti ini, ia tak bisa terus terjebak dalam masa lalu. Ia harus bangkit bagaimana pun caranya.
Sehun kembali memasuki mobilnya dan mengendarainya dengan cepat meninggalkan kawasan itu tanpa sadar jika tadi seseorang tengah memperhatikannya dan memastikan jika dirinya tak salah lihat.
"Apa tadi itu Oh Sehun? Tapi... yang benar saja. Dia kan namja beasiswa miskin. Lalu.. kenapa dia pakai mobil yang selalu di pakai master OSH? Aku tak mungkin salah, mobil itu mobil kebanggaan nya si setan jalanan. Apa jangan-jangan... OSH.. Oh Se Hun..." namja yang tengah menenteng keranjang belanjaannya itu melotot kaget begitu menyimpulkan sesuatu yang kemungkinan 99% benar.
Ia tadi habis belanja dari mini market yang ada di dekat sungai Han dan saat keluar ia melihat seseorang yang sepertinya ia kenal. Dan ia yakin ia tak salah lihat. Ia yakin jika namja barusan adalah Oh Sehun, sunbae beasiswa yang selalu dibully di sekolahnya. Ia tak mungkin salah kali ini.
.
.
.
Kai memacu motor sport nya membelah jalanan kota Seoul dengan kecepatan diatas rata-rata yang membuat orang mengira Kai pembalap meski memang kenyataannya seperti itu.
Tujuannya adalah markas tempat perkumpulan komunitas motor nya di daerah dekat Myeongdong. Ini komunitas motor bukan gank motor jadi otomatis tempat perkumpulan nya pun di tempat ramai dan tentunya elite.
Kai sudah lama tidak pergi ke markas komunitas motor yang ia ikuti karena terlalu sibuk dengan urusan sekolah, masalah pertunjukan dance couple bersama Kyungsoo yang merepotkan dan juga masalah Sehun yang belakangan ini terlihat semakin temperamental meski wajahnya tetap datar.
"Yo! KAI!" Seru seorang namja tampan bermata belo yang melambai pada Kai begitu Kai memarkirkan mobilnya didalam bengkel yang ada di markas nya. Sebenarnya bengkel ini lebih mirip sebuah pit daripada sebuah bengkel kotor karena tempat ini begitu bersih dan dipenuhi lampu terang.
"Hey.. Kai! Tumben kau kemari. Ada angin apa, eh?!" Canda namja bermata sipit sambil tertawa renyah.
Kai membuka helm nya lalu turun dari motornya kemudian menyalami satu persatu anak-anak motor yang ada disana yang sudah menjadi temannya sejak masuk komunitas.
"Kau kenapa lagi, Minho? Motormu bermasalah lagi?" Tanya Kai yang melihat baju Minho kotor seperti habis memperbaiki motor.
"Ani, Kai. Ini masalah. Minho dan Jaehyun tadi diserang oleh teman-teman GD" ucap namja bermata sipit yang sering di panggil Key itu.
"Mwoya? Bagaimana bisa?" Tanya Kai dengan rahang mengeras.
"Tadi Minho dan Jaehyun pergi ke arena balap di Busan karena Taeyong turnamen balap disana. Berita bagusnya Taeyong meraih juara satu" Key menunjuk sebuah piala tinggi yang berbahan dasar marmer yang terpajang indah di sebuah lemari kaca dan Kai merasa bangga pada anak didiknya itu.
"Minho dan Jaehyun dihadang oleh gank mobil itu dan entah apa alasannya, mereka langsung memukuli Minho dan Jaehyun. Jaehyun babak belur parah dan masuk ke rumah sakit tapi untungnya Minho selamat, hanya saja yaaa seperti yang kau lihat, dia kucel dan udik. Itu berita buruknya" jawab Key asal membuat Minho memelototkan matanya.
"Sialan kau hyung! Aku tidak udik! Aku hanya kotor!" Bela Minho kesal sementara Key hanya mengangkat bahu nya tak peduli.
"Kau bilang tadi teman-teman GD yang menyerang. Lalu, apakah GD juga ikut dalam masalah ini?" Tanya Kai dingin. Ia emosi, sungguh. Apa-apaan mereka memukuli teman-temannya tanpa ada alasan yang jelas. memuakkan.
"GD tidak ada disana. Hanya teman-temannya saja, Seunghyun CS" jawab Minho sambil mengangkat bahunya.
.
.
.
Luhan sudah bangun sejak siang tadi tapi tak berkata apapun meski harabeoji atau halmeoni nya bertanya padanya, ia hanya mengangguk atau pun menggeleng seadanya. Mereka pun tidak memaksa dan mengerti jika Luhan tidak mau dulu bicara, mungkin ia masih lelah.
Luhan sempat makan 1 kali sore tadi tapi saat ini ia tak mau makan lagi. Setiap mengingat Oh Sehun, Luhan rasanya ingin menangis meraung-raung.
Tapi rasanya aneh ia sampai masuk rumah sakit gara-gara memikirkan Oh Sehun? Rasanya ia kekanak-kanakan.
"Aku benci melihat wajah sok polos mu itu Xi Luhan. Aku ingin kau pergi dari hidupku"
Sehun ingin dia pergi dari hidupnya. Dan Luhan akan lakukan itu jika Sehun yang menginginkannya. Ia tak berhak memaksa Oh Sehun.
Kenapa disaat dia mencintai seseorang, seseorang itu malah menyuruhnya pergi dari kehidupannya? Ini tidak adil. Luhan ingin Sehun tahu bahwasanya ia mencintai namja beasiswa itu apa adanya. Tak pernah terbesit sedikitpun di kepalanya tentang latar belakang Sehun yang 'katanya' adalah orang miskin. Luhan tak peduli. Baginya Sehun tetaplah Sehun dan Luhan akan terima siapapun itu Oh Sehun.
Ia bertekad besok ia harus sembuh dan keluar dari rumah sakit ini. Ia akan melupakan Oh Sehun. Harus!
"Halmeoni.. Aku ingin makan" ujar Luhan dengan suara serak nya. Ini pertama kalinya Luhan bersuara sejak ia bangun dan halmeoni sangat senang mendengarnya apalagi Luhan bilang jika ia ingin makan.
"Baiklah sayang, halmeoni akan menyuapimu" jawab halmeoni semangat kemudian mulai menyuapkan bubur pada mulut kecil Luhan.
"Dimana Baekhyun?" Tanya Luhan setelah menelan buburnya.
"katanya dia tadi mau mencari makan" jawab halmeoni kembali menyuapkan buburnya.
.
.
.
Chanyeol benar-benar geram saat ini. Pasalnya Park Bomi pindah ke Korea dan siang tadi baru sampai di Seoul.
Katanya dia akan pindah ke sekolahnya Chanyeol besok. Bisa terjadi perang antara Baekhyun dan Bomi bila mereka saling bertemu. Yang jadi pertanyaannya adalah, apakah Baekhyun akan peduli? Baekhyun kan sudah memutuskan Chanyeol.
"Yeolie.. ayo kita makan di sana" Bomi yang tengah menggandeng tangan Chanyeol dengan mesra langsung menunjuk sebuah restaurant western yang berada di depan mereka.
Chanyeol mendengus sebal kala melihat wajah Bomi yang sok memelas padanya.
Ia juga tak mengerti kenapa ia harus mau menemani yeoja ini. Sumpah, perasaan Chanyeol untuk Bomi sudah sirna tak tersisa. Yang ada di hati dan pikirannya saat ini hanyalah Byun Baekhyun seorang.
"Kenapa sih kau begitu nekad sampai pindah kemari" ucap Chanyeol blak-blakan mengenai unek-uneknya.
"Kenapa oppa bicara seperti itu?" Tanya Bomi dengan mata yang berkaca-kaca membuat hati Chanyeol kembali luluh. Hey, ia tak sekejam itu, okay?
"Aku tak suka melihat yeoja menangis" Chanyeol mengusap lelehan air mata yang ada di pipi Bomi membuat Bomi merona.
Chanyeol tak tahu saja sejak tadi Baekhyun yang berada 5 meter dibelakangnya tengah memperhatikan gerak-gerik Chanyeol.
Baekhyun bukannya sengaja membuntuti Chanyeol, hanya saja tadi ia tengah jalan-jalan di daerah ini sekalian mencari makan karena perutnya protes minta diisi setelah ia menemani Luhan sejak pulang sekolah tadi dan tak menyangka ia akan melihat pemandangan yang 'menyejukkan' seperti ini.
Baekhyun mengusap matanya kasar sebelum akhirnya pergi dari tempat itu dan kembali menuju rumah sakit tempat Luhan dirawat tanpa menghiraukan suara-suara aneh di perutnya.
.
.
.
"Luhan menyukaimu Oh Sehun, bahkan dia mencintaimu" ucap Kai tiba-tiba dihadapan Sehun yang tengah membaca buku di pojok ruang perpustakaan besar mansion nya. Sehun seketika menghentikan kegiatan membaca buku nya namun tak mendongak menatap Kai, ia hanya 'sedikit' terkejut saja mendengar ucapan tiba-tiba Kai.
"Lalu?" Tanya Sehun acuh. Untuk apa dia peduli, 'kan? Sehun sudah memantapkan hatinya jika ia tak akan jatuh pada perangkap wanita. Setidaknya begitu anggapan Sehun terhadap Luhan padahal Luhan tidak ada niatan buruk padanya.
"Sampai kapan kau akan terus terkurung dalam jurang yang dibuat SANDARA PARK, Oh Se Hun?" Tanya Kai penuh penekanan di setiap kalimatnya membuat Sehun menutup buku tebalnya keras dan kembali menyimpannya di rak buku kemudian berjalan pergi melewati Kai namun tak semudah itu karena Kai langsung menahan tangan Oh Sehun yang melewatinya.
"Aku tak suka melihat caramu, Sehun" desis Kai dengan menatap lurus kedepan sementara Sehun yang berada di sebelahnya dengan tubuh yang menghadap berlawanan arah dari Kai tak mengatakan sepatah kata pun akan ucapan Kai.
"Sudah kubilang jangan campuri urusanku" ujar Sehun pada akhirnya.
"Kau hanya egois, sialan! KAU HANYA MEMIKIRKAN YEOJA ITU! DIA SUDAH MENINGGALKANMU SEHUN! SADARLAH!" Teriak Kai berapi-api yang kini memegang kedua bahu Sehun erat dengan tatapan nyalang nya.
"Kau tak pantas mengharapkannya, Sehun! Dia hanya wanita dengan mata yang selalu dibutakan harta. KAU SADAR KAN?!" Teriak Kai lagi dengan emosi yang meledak didalam dirinya. Sesungguhnya ia tak mengerti kenapa hati Sehun begitu dingin dan tak dapat dijangkau.
Kenapa Sehun selalu memikirkan Sandara yang secara gamblang meninggalkan nya saat keluarganya hampir bangkrut saat itu sementara kini di hadapan nya ada Luhan yang jelas-jelas menerima dia apa adanya.
"Lantas apa bedanya dengan Xi Luhan?" tanya Sehun yang lebih ke pernyataan daripada pertanyaan.
"Dasar bodoh! Fikirkan semuanya, idiot! Kapan Luhan merendahkanmu? Pernahkah Luhan ikut tertawa saat anak-anak disekolah membully mu? Ingat berapa kali dia berusaha melindungi mu? Apa kau buta OH SEHUN? Apa kau tak dapat melihat pancaran ketulusan yang ditunjukan Luhan? Jangan jadi orang tolol Oh Sehun!"
BUGH
Kai melayangkan kepalan tangannya telak ke arah rahang Sehun membuat empunya terhuyung ke belakang dan menabrak rak buku di belakangnya. Ia meringis pelan kemudian menatap Jongin tajam seakan meminta penjelasan atas apa yang telah ia perbuat barusan.
"Itu untuk kebodohanmu Oh Sehun!" Kecam Jongin sambil menunjuk wajah Sehun dengan telunjuknya kemudian pergi meninggalkan Sehun yang masih terdiam di posisinya meresapi kata-kata Jongin.
Pluk
Jongin menoleh dengan cepat secara reflex ketika seseorang penepuk bahunya pelan dari belakang dan Jongin menghela nafas lega begitu mengetahui sang paman lah yang menepuk bahunya barusan.
"Ikut aku!"
…
Dan kini Jongin berakhir di salah satu ruangan di mansionnya yang baru kali ini Jongin ketahui meski ia sudah tinggal disini sejak usianya 10 tahun.
Ia dibawa oleh pamannya ke sebuah ruang santai yang terlihat tertutup, rahasia dan kuno yang terletak di bawah tanah mansionnya, lebih bawah daripada basement.
"Ada apa, paman? kenapa membawaku ke sini?" Tanya Kai dengan beribu rasa penasaran yang menghantuinya ketika ayah dari Park Chanyeol ini membawanya kemari. Ia juga tak tahu sejak kapan pamannya itu tiba di mansion nya, mungkin ia ingin mengunjungi sang Appa.
"Saat seseorang jatuh dalam perasaan bernama cinta, semua yang dilihatnya terasa benar meski itu sebuah kesalahan" ujar sang paman sambil menyeruput teh panas yang ia buat beberapa saat yang lalu dengan pandangan yang tertuju pada perapian.
"Apa maksud paman?" Tanya Kai dengan kerutan dalam di dahinya.
"Oh Sehun, dia adalah remaja labil yang mengharapkan cinta pertamanya. Begitukan?"
Kai sekarang jadi berfikir, kenapa pamannya seperti seorang ahli cinta dengan ribuan kata bijak nya.
"Apa paman melihat pertengkaran ku dengannya tadi?" Tanya Kai hati-hati.
"Hmm.. dan dengan cara mu itu kau justru akan membuat Sehun semakin terperangkap cinta semu nya pada Sandara Park." jawab sang paman dengan tenang.
"Aku hanya ingin dia sadar, jika diluar sana ada seseorang yang mencintainya tanpa tahu jika Sehun itu pewaris Tyrone Group"
"Jadi dia hanya tahu jika Sehun hanya murid beasiswa?"
"Setidaknya begitu."
"Xi Luhan? Sepupu dari calon tunanganmu?" Hati Kai mencelos begitu mendengar kenyataan pahit itu. Meski sebuah rencana telah tersusun di kepalanya, tetap saja ia tidak tenang apalagi dengan perkataan Baekhyun yang misterius.
"Dan jika ini berlangsung, akan ada hati yang tersakiti. Bunga di hatinya yang baru tumbuh akan sirna. Aku tak mau itu terjadi"
Dan Jongin yakin jika yang dimaksud Baekhyun saat itu bukanlah Chanyeol karena dengan kata 'Bunga di hatinya yang baru tumbuh' pun Jongin mengerti jika orang yang dimaksud Baekhyun adalah pasti orang yang baru jatuh cinta jadi itu pasti bukan Chanyeol kan? Baekhyun itu terkadang menyebalkan dengan kata-kata puitisnya yang penuh misteri.
"Ya, dia pewaris tunggal Dominica Company" jawab Kai pada akhirnya.
"Aku mengerti jika kau marah akan sikap Sehun"
Paman Park memang sudah tahu perihal perjodohan antara Kai dengan Baekhyun. Awalnya ia terkejut karena ia jelas tahu Baekhyun adalah pacar dari Chanyeol namun hanya paman Park yang tahu sementara ini sedangkan bibi Park dan Chanyeol sendiri belum tahu tentang perjodohan mereka.
"Sehun hanya belum yakin. Ia takut jika Luhan berkhianat lagi seperti apa yang dilakukan Sandara"
"Dan itulah bodohnya Oh Sehun. Dia tak bisa melihat bagaimana kebaikan Luhan padanya. Berulang kali Luhan menolong nya saat ia dibully tapi Sehun tak mau membuka matanya. Aku benci itu"
"Pengaruh Sandara sangat besar baginya, begitukan?"
"Aku benci wanita itu. Sejak awal aku tahu jika wanita itu bukan wanita baik-baik" dengus Kai sambil mengembuskan nafasnya kasar.
"Love is blind, Kai. Right?" Kata-kata pamannya ini memang benar adanya.
"Lalu apa yang harus kulakukan? Aku tidak bisa cuma diam dan menonton"
"Untuk saat ini. Biarkan dulu Sehun berfikir sendiri. Aku yakin dia sudah agak dewasa. Aku juga yakin sekali-kali Sehun pernah berfikir untuk lepas dari belenggu masa lalu nya. Coba saja kau dekatkan Luhan dan Sehun menjadi lebih dekat agar membuat atensi Sehun teralihkan. Setidaknya begitu menurut ku"
"Aku memang harus lakukan itu"
.
.
.
Sehun merasa dia sudah gila, setelah menerima bogem mentah dari Kai, ia langsung mengendarai mobilnya menuju ke arah rumah Luhan entah untuk apa. Ia juga tak mengerti kenapa tubuhnya berkhianat dengan fikirannya.
Sehun hanya duduk di dalam mobilnya sambil memandangi mansion milik keluarga Luhan yang mewah itu tanpa ada niatan keluar dan mengetuk pintu mansion sampai akhirnya ia melihat sebuah mobil SUV berharga milyaran rupiah masuk kedalam lingkungan mansion itu. Yang Sehun tahu jika mobil itu adalah mobil yang sering mengantar Luhan dan Baekhyun ke sekolah.
Dan dari dalam mobil Sehun bisa melihat jika Baekhyun dan kakek nenek nya baru keluar dari mobil itu tapi ia tak melihat Luhan sama sekali lalu kemudian teringat ucapan Baekhun yang tak sengaja ia dengar jika Luhan masuk rumah sakit namun Sehun tidak tahu rumah sakit mana itu.
Tak lama kemudian mobil SUV itu kembali melaju meninggalkan mansion dan entah apa maksud Sehun sehingga ia langsung mengikuti mobil itu dengan jarak 100 meter supaya orang yang mengendarai mobil itu tak curiga.
Sehun merasa perbuatannya tidak sia-sia karena ternyata mobil itu menuju ke sebuah rumah sakit terbesar di Seoul.
Sehun bisa melihat jika seorang namja turun dari mobil itu setelah dia memutuskan memarkirkan mobilnya tepat di belakang mobil itu. Kalau Sehun tidak salah, namja itu adalah Jonghyun, ya setidaknya begitu Luhan memanggilnya saat itu.
Ia sedikit bingung juga saat ini karena yang keluar dari mobil hanyalah Jonghyun, itu artinya ia tidak pergi bersama keluarga Luhan.
Dengan kenekadan yang ekstrim, Sehun pun mengikuti Jonghyun sampai kedalam dan ia berdiri tak jauh dari Jonghyun yang tengah membayar administrasi.
'Administrasi? Apa Luhan sudah keluar dari sini?' Batin Sehun.
"Ia akan keluar besok tapi aku disuruh menyelesaikan administrasi nya sekarang. Atas nama Xi Luhan" begitu yang Sehun dengar dan entah kenapa dia menghela nafas lega.
"Baiklah tuan. Untuk nona Xi Luhan kamar A-17?" Tanya sang suster memastikan dan Sehun bersorak dalam hatinya mendengar itu.
Ia sekarang jadi tahu bahwa Luhan dirawat di kamar A-17 yang artinya ruang VIP nomor 17.
Tanpa membuang waktu, Sehun langsung saja melesat pergi menuju ke lantai 15 rumah sakit ini setelah menanyakan letak kamar A-17 pada seorang perawat tadi.
Sehun juga tidak mengerti, kenapa ia ingin bertemu dengan Luhan? Apa dia rindu? Apa dia menyesal telah menyuruh Luhan pergi dari hidupnya? Mungkin saja.
Begitu membuka pintu, yang ia lihat adalah ruangan putih dan sebuah sofa berwarna coklat dan saat Sehun membuka pintu lebih lebar ia dapat melihat ranjang yang ditiduri oleh Luhan yang berada di sebelah kiri.
Sehun mendesah lega kala melihat di ruangan itu tidak ada siapa-siapa selain Luhan yang tengah tertidur pulas.
Sehun masuk kedalam kamar rawat Luhan dan kembali menutup pintu nya dengan rapat dan pelan takut jika Luhan terbangun.
Ia berjalan mendekat ke arah ranjang Luhan dan menatap wajah pucat itu dengan tatapan sendu.
"Sehun.. euhh.." Luhan mengerang sambil memanggil nama Sehun dalam tidurnya membuat Sehun agak kaget. Ternyata yang dikatakan Baekhyun benar, Luhan mengigaukan namanya. Tapi, kenapa?
"Jangan pergi.." ucapnya seperti berbisik dengan raut wajah sedih dan setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya yang tertutup membuat Sehun sangat terkejut. Sepenting itukah Sehun bagi Luhan sehingga ia terus mengingatnya bahkan dalam tidurnya.
"Aku tidak pergi, aku disini" bisik Sehun pelan sambil mengulurkan tangannya untuk mengusap tetes air mata di pipi Luhan dengan lembut.
Benarkah yang dikatakan Jongin? Benarkah yeoja di hadapannya ini mencintainya dengan tulus?
Sehun menggelengkan kepalanya pelan saat mengingat kembali Sandara. Kenapa sosoknya sangat berpengaruh dalam hidup Sehun?
Setiap ia mencoba menerima kehadiran Luhan, kenapa sosok Sandara yang justru seolah menghalangi jalan masuk ke hatinya?
Sehun menarik kembali tangannya dengan cepat kemudian melangkah keluar dari ruang rawat Luhan dan berjalan cepat untuk kembali ke basement dan segera meninggalkan tempat ini.
Di ujung lorong yang berbanding terbalik dengan arah Sehun pergi, Jonghyun berdiri disana dan melihat Sehun baru saja keluar dari kamar rawat Luhan membuat Jonghyun bertanya-tanya tentang siapa namja itu karena tak dapat melihat wajahnya dengan jelas.
Jonghyun pun masuk ke kamar rawat Luhan dan menemukan Luhan tengah tertidur dengan tenang. Ia pun menggedikan bahu nya, mungkin saja namja tadi itu salah masuk ruangan. Begitu fikirnya.
.
.
.
Yixing merebahkan tubuh nya terlentang di atas ranjang king size miliknya sambil menatap langit-langit kamarnya yang dipenuhi ornamen bintang.
"Huhh.." sekali lagi ia menghela nafas, sudah terhitung belasan kali Yixing menghela nafasnya seperti itu sejak ia masuk kamar. Apa alasannya? Karena dia teringat sosok Joonmyeon.
Namja yang selalu merecoki hidupnya dan selalu menempel padanya itu terhitung sudah 3 hari tak lagi melakukan 'rutinitas' nya seperti biasa.
Mungkin ia kehilangan Joonmyeon, terbiasa dengan kehadiran Joonmyeon yang selalu mengganggu dan menggoda nya itu membuat Yixing kini merasa ada yang kurang saat Joonmyeon tak ada.
Mungkin ia terlalu kasar pada Joonmyeon waktu itu. Mungkin juga ucapannya begitu menohok hati Joonmyeon sehingga ia tak lagi mengganggunya.
"Kenapa aku memikirkan si bodoh itu" gumam Yixing sambil memijat batang hidungnya yang mancung.
"Bodoh.. dasar Suho pengecut" gumamnya lagi sambil menggembungkan pipinya sebal.
Ia tak habis fikir saja kenapa namja yang akrab di panggil Suho itu begitu pasrah hanya karena Yixing yang memintanya untuk tak mengganggu nya lagi. Jika ia memang benar-benar mencintainya, seharusnya ia tak mudah menyerah. Setidaknya begitu opini Yixing.
"Arrgghh. Kenapa kau membuat hidupku jungkir balik, Kim Joonmyeon!"
.
.
.
"Kau jangan ikut kelas olahraga, ne? Kau diam saja di pinggir lapangan atau dikelas atau mungkin kau bisa pergi ke UKS" Luhan menghela nafasnya lelah, kenapa Kris begitu cerewet? Ia terus saja memberikan Luhan wejangan-wejangan yang membuat telinga Luhan terasa berdengung.
"Oppa.. sudahlah, aku mengerti dan oppa tak perlu khawatir lagi, hm?" Bujuk Luhan dengan senyum menawannya membuat Kris luluh.
Yang membuat Kris terus mengoceh adalah karena ia tahu jika setelah jam istirahat ini kelasnya ada pelajaran olahraga dan itu membuat Kris khawatir karena Luhan baru saja keluar dari rumah sakit kemarin.
"Tenang saja, Kris-sshi, aku akan menjaga Luhan" ujar Yixing dengan lesung pipinya yang manis itu, Kris pun balas tersenyum dan menggumamkan kata terimakasih pada Yixing.
"Lu.. aaaaaaaaa.." Baekhyun menyuapkan sebuah sandwich pada sepupunya itu dan diterima dengan baik oleh Luhan.
Mereka sama sekali tak peduli dengan keadaan cafetaria yang saat ini tengah ramai apalagi dengan ada Kris di antara mereka. Kris memang mendadak jadi popular sejak kepindahannya kesini apalagi setelah insiden ia yang memukul Seokjin dan kini seisi sekolah sudah tahu jika Kris adalah sepupu dari Luhan dan Baehyun yang merupakan 2 diantara 4 yeoja paling popular di Tyrone karena silsilah keluarga mereka dan karena wajah rupawan mereka jadi tak heran jika Kris selalu bersama Baekhyun CS meski terkadang juga Kris sering berkumpul bersama teman-teman sekelasnya.
"Kyung, kita harus bicara" entah datang darimana namun tiba-tiba saja Jongin berdiri di dekat meja tempat mereka berkumpul membuat beberapa yeoja melirik ke arah mereka sambil berbisik-bisik iri.
"Ada apa, Jongin-sshi?" Tanya Kyungsoo kalem.
"Ikut aku" ucap Jongin dengan nada memerintah sambil melangkah duluan meninggalkan Kyungsoo yang menghela nafasnya lelah.
Baekhyun pun berdehem dengan cukup keras dan itu jelas di sengaja membuat Kyungsoo menoyor kepala Baekhyun sebelum pamit dan pergi mengikuti langkah Jongin yang membawanya ke lorong loker entah untuk apa.
"Baiklah, aku tidak akan mengulang kata-kata ku jadi dengarkan dengan baik" instruksi Jongin yang membuat Kyungsoo menaikkan sebelah alisnya.
'Apa-apaan dia? Seenaknya saja' batin Kyungsoo menatap Jongin tak suka.
"Aku butuh bantuanmu. Dan kau tak punya pilihan lain selain menolongku. Aku tak bisa menjelaskan secara detail permasalahannya tapi intinya aku butuh bantuanmu sebagai pacar pura-pura didepan ayahku" jelas Jongin cepat membuat Kyungsoo terkejut namun sedetik kemudian ia kembali membiasakan ekspresi wajahnya.
"Apa alasanku harus membantu mu?" Tanya Kyungsoo datar dan membuat Jongin kalah telak. Kyungsoo benar. Kenapa dia harus menolong Jongin?
"Karena kau harus" jawab Jongin seadanya.
"Itu bukan alasan logis, tuan Kim" sangkal Kyungsoo yang kini melipat tangannya di dada.
"Aku tak menerima penolakan. Malam ini, aku akan menjemputmu di rumahmu. Bersiaplah dan berdandanlah secantik mungkin karena nanti aku akan memperkenalkanmu sebagai pacarku pada ayah" ucap Jongin penuh dengan nada perintah kemudian berlalu begitu saja meninggalkan Kyungsoo yang masih mematung.
"YAK! KIM JONGIN! JANGAN SEENAKNYA KAU!" Teriak Kyungsoo sambil menghentakan kakinya kesal namun Jongin tak peduli dan terus berjalan tanpa menoleh sedikitpun ke arah Kyungsoo. Oh, Kyungsoo yang malang harus berususan dengan si pemaksa Kim Jong In.
.
.
.
"Hallo Luhan noona" Luhan menoleh ke arah belakang begitu mendengar seseorang memanggilnya dan tersenyum tipis saat melihat siapa yang memanggilnya.
"Halo juga Mino" balas Luhan pada namja bernama lengkap Song Minho yang akrab di panggil Mino itu.
Mino sedikit berlari kecil dan ikut berjalan bersama Luhan di koridor lantai 2 sekolah ini.
Satu yang tidak diketahui Baekhyun, Kyungsoo, Yixing, Kris ataupun Sehun jika Luhan mengenal Mino, kelas 11 Art 3.
Ia mengenal Mino karena Mino adalah hoobae nya saat JHS di Amerika.
Pertama kali ia bertemu lagi dengan Mino setelah bersekolah di Tyrone adalah saat 3 harinya dia bersekolah disini, saat itu Luhan tak sengaja bertemu Mino di perpustakaan dan sejak saat itu terkadang Mino mencarinya dan berusaha dekat dengannya namun ia tak akan berani menghampiri Luhan jika Luhan sedang bersama orang lain atau bersama Baekhyun CS entah apa alasannya.
"Kau mau kemana, noona?" Tanya Mino mencoba memecah keheningan diantara mereka karena Luhan terus diam sambil berjalan.
"Aku ingin ke ruang ganti perempuan" jawab Luhan seadanya sambil menatap keluar dinding kaca yang ada di sebelahnya dan melihat sebagian teman-temannya sudah ada di lapangan.
"Oh begitu" balas Mino yang tak tahu harus menjawab apa.
"Kau sendiri mau kemana Mino? Tidak belajar?" Tanya Luhan tanpa menoleh pada objek yang ia ajak bicara.
"Aku mau ke ruang musik, katanya pelajaran kali ini disana" jawab Mino ceria dan setelah sampai di pertigaan lorong, Mino pun pamit karena ruang musik yang ia tuju ada di lorong sebelah kanan sementara ruang ganti yang dituju Luhan berada di arah jam 12.
...
Luhan terduduk sendirian di pinggir lapangan sepak bola dan melihat teman-temannya yang tengah berolahraga.
"Hai Luhan" Jongdae duduk di sebelah Luhan dengan bercucuran keringat namun tetap saja senyum lebar itu tak pernah luntur dari bibirnya.
"Kau sudah selesai?" Tanya Luhan tanpa menjawab sapaan Jongdae terlebih dahulu.
"Hmm.. aku tak suka pelajaran olahraga. Aku terlahir bukan untuk menjadi olahragawan" jawab Chen asal membuat Luhan tertawa.
"Aku justru suka olahraga. Itu membuatku sehat tapi sayang aku belum bisa mengikuti olahraga" balas Luhan sambil mengangkat bahunya.
"Omong-omong, aku kagum padamu, Luhan-chan" ujar Jongdae dengan embel-embel panggilan Jepang nya. Luhan mengangkat sebelah alisnya tak mengerti. Apa yang Jongdae kagumi darinya?
"Kenapa?"
"Aku tak menyangka jika di sekolah ini ada wanita pemberani dan tulus seperti dirimu" jawab Jongdae sambil tersenyum namun tatapannya lurus ke arah lapangan bola dimana teman-temannya masih bermain sepak bola disana.
"Apa maksud ucapanmu, Jongdae?" Tanya Luhan yang merasa pusing karena ucapan Jongdae menurutnya terlalu berbelit-belit.
"Aku bersyukur karena kau dengan beraninya menolong Oh Sehun saat dia dibully. Yang perlu kau tahu adalah tidak semua orang disini membenci Sehun hanya saja tak bisa menghentikan aksi pembullyan terhadapnya, termasuk aku" jelas Jongdae dengan senyum mirisnya membuat kerutan di kening Luhan semakin terlihat jelas.
"Apa?"
"Aku selalu merasa kasihan melihat Oh Sehun. Kurasa tidak ada yang salah dengan Sehun, dia tak pernah mencari masalah pada siapapun bahkan cenderung pendiam dan seperti anti sosial. Hanya karena dia namja beasiswa dan di anggap miskin oleh anak-anak lain makanya ia di bully, padahal tak pernah ada yang tahu bagaimana latar belakang Oh Sehun"
"Kenapa mereka yang tak menyukai pembullyan itu tak berusaha menghentikan itu?" Tanya Luhan tak habis fikir. Jantungnya kembali berdetak tak normal begitu ia mendengar nama Sehun. Kenapa sulit sekali melupakan namja berkulit pucat itu?
"Kau tahu? Orang-orang yang tak menyukai Sehun itu rata-rata adalah putra putri dari orang-orang paling berpengaruh di Korea, ya meski tak seberpengaruh keluarga Kim Jong In, Park Chanyeol, keluarga kau dan Baekhyun ataupun Yixing juga Kyungsoo. Jadi mereka takut akan ikut dibully seperti Sehun. Seperti aku, kurasa aku memang seorang pengecut" Jongdae tersenyum miring seakan menertawakan dirinya sendiri yang seperti pengecut.
"Itu dia" Jongdae menunjuk ke arah pinggir kiri lapangan dan ketika Luhan mengikuti arah telunjuk Jongdae, ia dapat melihat sosok Sehun dengan tumpukan buku di tangannya yang membuat wajahnya terhalangi dan feeling Luhan jadi tidak enak ketika melihat 3 meter di depan Sehun terdapat Seokjin CS yang sepertinya akan kembali mengerjai Sehun.
Luhan bisa melihat dengan jelas jika Namjoon sengaja menabrakkan tubuhnya pada Sehun membuat Sehun oleng dan semua buku yang dipegangnya jatuh.
Luhan menggeram sambil megepalkan tangannya membuat Jongdae merasakan aura kelam dari sosok cantik disebelahnya itu.
Sehun sepertinya di maki oleh mereka namun Sehun terlihat tak mempedulikan nya, ketika Sehun tengah mengambil bukunya yang berjatuhan, Jimin dengan tidak berperasaan langsung menendang buku yang akan dipungut oleh Sehun dan Luhan dengan jelas melihat Taehyung menendang bahu Sehun keras sehingga Sehun terduduk di tanah pinggir lapangan.
Setelah itu, mereka ber-5 mengerumuni Sehun dan mulai menghajar Sehun dimulai dari memukul, menjambak dan juga menendang namun Sehun hanya dapat meringis pelan menahan sakit sambil melindungi kepalanya tanpa melawan.
"HENTIKAN!" Entah sejak kapan Luhan ada disana namun yang pasti Luhan tengah berusaha menghentikan aksi mereka tapi karena dia perempuan, Hoseok jadi mudah mendorongnya hingga jatuh tersungkur.
"BAJINGAN!"
BUGH
Luhan menoleh pada asal suara itu dan begitu kaget ketika melihat Kai kini sudah ada disana sambil berusaha melindungi Sehun dan balik memukul ke-6 namja yang sering membully Sehun itu.
PRIIIIT
suara peluit yang begitu memekakan telinga itu berbunyi nyaring tepat di belakang Luhan dan ternyata itu adalah Han Seonsaengnim -guru olahraganya- namun nyata nya Kai tetap tak menghentikan pukulannya yang membabi buta pada mereka.
"Luhan, ayo bangun" Han Seonsaengnim membantu Luhan untuk berdiri "kau tidak apa?" Tanya pria berusia kepala 4 itu.
"Tidak, seonsaengnim, tapi Sehun..."
"Aku akan hentikan mereka" balas Han seonsaengnim cepat kemudian meniup peluitnya sekali lagi dan berusaha memisahkan Jongin dan Seokjin yang tengah adu jotos.
"Kalian semua ikut aku! Termasuk kau Oh Sehun" nada suara Han seonsaengnim melembut di kalimat terakhirnya dan itu sangat kentara membuat Taehyung dan teman-temannya mendengus, mereka berfikir mungkin itu karena Sehun siswa berprestasi dan anak dari kelas unggulan.
"Seonsaengnim.. maaf, kumohon.. Sehun tidak usah ikut, aku akan mengobati lukanya dulu" mohon Luhan dengan tatapan memelasnya dan Han Seonsaengnim pun terlihat mempertimbangkannya kemudian melirik ke arah Sehun dengan tatapan -maafkan-aku-tuan-Oh-
"Baiklah, kau boleh mengobatinya dulu. Tapi setelah selesai, kalian harus menghadap ke ruang konseling sebagai korban dan saksi" ujar Han seonsaengnim membuat Luhan tersenyum dan mengangguk antusias.
Mino yang melihat semua kejadian itu dari gedung utama yang semua dindingnya adalah kaca hanya berdecak dan mengepalkan tangannya kuat.
"Sial namja beasiswa itu" gumamnya sambil menggertakan bibirnya kemudian berlalu pergi dari pinggiran gedung kaca lantai 2 itu dan kembali ke ruang musik.
...
Luhan menghapus sisa darah di sudut bibir tipis Sehun dengan sangat lembut dan penuh perasaan. Hatinya sungguh sakit melihat keadaan Sehun yang kembali mendapat luka lebam.
Tak sadar, ia ternyata meneteskan air mata membuat Sehun yang melihatnya langsung kaget juga bingung.
"Kenapa menangis?" Tanyanya dengan suara rendah namun lembut sambil menghapus air mata di pipi Luhan dengan ibu jarinya.
Bukannya berhenti menangis, Luhan malah semakin menjadi-jadi dan memalingkan wajahnya dari Sehun. Terlalu sakit untuk sekedar menatap wajah Sehun.
"Dasar cengeng" cibir Sehun sambil menusuk pipi Luhan dengan jari telunjuknya membuat Luhan sedikit tersentak.
"Dasar Oh Sehun babo. Huweeeee.. aku benci!" Tangis Luhan semakin menjadi sementara Sehun hanya menghela nafasnya lelah karena tidak tahu harus bagaimana agar Luhan mau diam dan berhenti menangis.
"Aishh, kenapa kau begitu cengeng Xi Luhan" geram Sehun sengaja agar setidaknya Luhan berhenti menangis.
Ia lebih baik melihat Luhan dengan mode cerewetnya daripada Luhan yang menangis meraung-raung macam ini. Yang benar saja.
"Kenapa kau tak pernah melawan saat mereka memukulmu, eo?" Tanya Luhan yang terdengar seperti sebuah protes ditelinga Sehun.
Sehun tidak sebegitu tak peka nya sampai tak mengerti kenapa Luhan bisa seperti ini. Ia tahu dan ia mengerti sekarang, Luhan khawatir padanya.
Apakah ucapan Jongin benar adanya? Mungkin saja iya karena terbukti jika sekarang saja Luhan sampai menangis meraung-raung hanya karena khawatir pada kondisinya sementara dirinya sendiri tidak terlalu peduli pada kondisi tubuhnya. Bodoh memang.
"Sudahlah, jangan menangis lagi rusa jelek. Wajahmu semakin jelek jika begitu" ejek Sehun yang bermaksud agar Luhan mengomel dan berhenti menangis dan ternyata usaha nya tak sia-sia karena sekarang Luhan tengah mendelik tajam ke arahnya.
Luhan tak mengerti kenapa Sehun itu seperti ini. Beberapa hari yang lalu ia memaki, menghujat, dan menyuruh Luhan pergi dari hidupnya tapi saat ini Sehun kembali seperti biasanya. Apa Sehun punya alter ego atau semacam kepribadian ganda?
Ataukah Sehun itu tipe orang yang akan menghancurkan seseorang dengan cara melambungkannya dulu setinggi langit kemudian baru menghempaskannya dengan kejam? Intinya, Sehun itu sulit ditebak.
"Jika lain kali mereka membully mu seperti tadi, setidaknya kau harus melawan Oh Sehun! Kau itu bodoh atau apa? Jangan hanya diam dan pasrah saat mereka memukuli atau menjahilimu! Disini yang punya hak untuk hidup tenang itu bukan cuma mereka, tapi kau juga" omel Luhan persis seperti ibu-ibu arisan yang rempong.
"Kenapa? Kenapa aku harus lakukan seperti apa yang kau suruh?" Tanya Sehun tajam dengan tatapan mata yang menusuk bola mata Luhan secara tak kasat mata.
"KARENA AKU PEDULI!" Teriak Luhan tak sabaran tepat di depan wajah Sehun sementara Sehun terdiam atas apa yang diucapkan Luhan barusan.
'Peduli?'
"Kau itu, arrrgghh.. kau menyebalkan Oh Sehun!" Setelah berkata demikian, Luhan pun pergi meninggalkan Sehun sendirian di ruang UKS dengan seribu pertanyaan di benaknya tentang Luhan. Salah satunya adalah 'kenapa dia membuat dunia ku jungkir balik?'
Sehun tak sadar jika selama ia bersama Luhan, ia bisa melupakan sosok Sandara Park secara perlahan dan mungkin ia akan melupakan yeoja itu secara total jika Luhan terus berada di sampingnya.
.
.
.
Kai menghentikan mobilnya tepat didepan pintu gerbang rumah Kyungsoo yang besar meski tak bisa masuk kategori mansion.
Seorang security langsung menghampiri mobil Kai dan Kai pun menurunkan kaca mobilnya yang hitam lalu tersenyum pada security berusia kepala 5 itu.
"Selamat malam, tuan. Ada perlu apa?" Tanya security itu ramah namun tetap memberikan kesan tegas layaknya keamanan profesional.
"Aku ingin bertemu Do Kyungsoo" jawab Kai sambil memberikan senyum mautnya.
"Apakah anda sudah membuat janji?" Tanyanya lagi membuat Kai mengerutkan keningnya dalam.
'Janji? Sepenting itukah dia?' Batin Kai heran.
"Tentu saja, aku namjachingu nya Do Kyungsoo" dusta Kai dengan wajah tanpa dosa membuat sang security melotot kaget.
"Geurae? Kalau begitu, silahkan masuk tuan" ujarnya sambil membuka pintu gerbang lebar-lebar dengan perasaan yang aneh karena rasanya pernah melihat wajah Kai di suatu tempat.
...
Tokk Tokk Tokk
Tokk Tokk Tokk
Cklek
"Annyeonghaseyo" sapa Kai sambil membungkuk sopan saat seorang wanita paruh baya membukakan pintu untuknya.
"Anda siapa?" Tanya wanita paruh baya itu dengan raut heran.
"Aku Kim Jong In, namjachingu Do Kyungsoo" jawab Kai dengan ke-PDan tingkat dewa.
"Oh, tuan Kim Jong In? Anda putra Oh Se Yong?" Tanya wanita itu berbinar-binar dan Jongin hanya mampu tersenyum sambil mengangguk.
"Ahh aku tidak percaya dapat bertemu secara langsung dengan salah satu anggota keluarga Oh. Silahkan masuk, tuan Kim, saya akan panggilkan nona muda Kyungsoo" ahjumma itu membuka pintu rumah majikannya lebih lebar dan mempersilahkan Jongin untuk duduk terlebih dahulu.
"Anda ingin minum apa, tuan?" Tanya ahjumma itu sebelum memanggilkan Kyungsoo di kamarnya.
"Tidak usah ahjumma. Aku juga tidak lama" jawab Kai canggung. Ahjumma itu pun mengangguk kemudian naik ke lantai 2 untuk memanggil Kyungsoo.
Kai menghembuskan nafasnya lega, setidaknya ia tidak bertemu dengan orang tua Kyungsoo dan harus menjelaskan semuanya. Ya setidaknya ia sedikit lega.
Kai mengedarkan pandangnnya menyapu seluruh isi ruang tamu yang bergaya minimalis ini. Memang tidak sebesar ruang tamu di mansion nya namun ini terlihat elegan dan nyaman. Kai dapat merasakan kehangatan di rumah ini tidak seperti di mansion nya.
Tap Tap Tap
"Sedang apa kau, Kai-sshi?" Tanya Kyungsoo sambil menyingkirkan rambut-rambut yang menghalangi wajahnya ke belakang dan menurut Jongin itu sedikit errr.. seksi?
"Kenapa kau belum ganti baju?" Tanya Jongin balik saat melihat penampilan Kyungsoo yang baru saja turun dari tangga.
"Mwoga?" Balas Kyungsoo malas sambil duduk di sofa di hadapan Jongin.
"Kau kan sudah janji akan menghadap appa ku dan berpura-pura jadi yeojachinguku?!" Tuntut Kai dengan tatapan tidak suka dan mengintimidasi tapi Kyungsoo hanya mengangkat bahunya tak peduli.
"Aku kan tak bilang janji, Kim Jongin-sshi!"
"Tapi aku tak menerima penolakan, Do Kyungsoo!"
"Kenapa tidak minta tolong pada orang lain saja, sih?" Tanya Kyungsoo sebal.
"Tidak mau! Aku ingin kau yang menjadi pacar pura-pura ku!"
'Hanya pura-pura ya?' Batin Kyungsoo yang entah kenapa merasa sedih.
"Huhh.. arasseo, aku akan ganti baju dulu" jawab Kyungsoo dengan wajah masam namun disambut senyum kemenangan dari Kai.
20 minutes later
"Maaf lama" ujar Kyungsoo lembut.
Kai yang tengah memainkan ponselnya pun langsung mendongak menatap Kyungsoo yang masih menuruni anak tangga dan saat itu pula Kai merasa dirinya terpesona oleh pesona Kyungsoo yang baru ia lihat kali ini.
"Hey Kim Jong In! Jangan menatapku seperti itu! Kau terlihat seperti ahjeossi-ahjeossi mesum" dan Kai pun langsung tersadar ketika mendengar ocehan Kyungsoo yang entah sejak kapan jadi cerewet.
"Kau terlihat sangat menghayati peranmu" seringai Kai sambil berdiri ketika Kyungsoo dengan balutan dress berwarna peach menghampirinya.
"Tentu saja, Kai bodoh! Setidaknya aku membantumu dengan serius. Ya meski aku tak tahu kenapa kau ingin aku pura sebagai pacarmu didepan ayahmu" jawab Kyungsoo sambil melangkah dengan high heels nya menuju keluar rumah "ayo! Kenapa kau masih berdiri disitu? Seperti orang bodoh saja"
Kai pun tersadar dan ikut mengikuti Kyungsoo kemudian mereka memasuki mobil sport Kai dan mulai melaju menuju mansion Oh.
"Tumben kau pakai mobil" ujar Kyungsoo ditengah keheningan yang terjadi diantara mereka.
"Biar terlihat seperti pacaran betulan saja. Lagipula tidak lucu memboncengmu yang memakai dress begitu dengan motor" jawab Kai seadanya dan tanpa melirik Kyungsoo karena fokus menyetir.
Mereka pun kembali diam ditelan keheningan, yang terdengar hanyalah suara mesin mobil dan sebuah musik klasik yang diputar Kai untuk sekedar memecah keheningan dan kecanggungan namun nyatanya tetap saja sama. Ia juga tak mengerti kenapa ia harus canggung saat berhadapan dengan Kyungsoo yang 'sekarang' sementara dari kemarin saat latihan dance ia merasa biasa saja. Apa mungkin karena penampilan Kyungsoo yang berbeda saat ini?
Kyungsoo memang tampil beda malam ini dengan sengaja karena sepertinya ia benar-benar 'niat' untuk menolong Kai dan kesan yang didapat Kai saat pertama kali melihat Kyungsoo dalam balutan dress tanpa lengan berwarna peach ini adalah 'anggun' bak puteri-puteri kerajaan.
"Omong-omong, kemana orang tua mu?" Tanya Kai basa-basi. Huh modus.
"Sedang pergi ke Incheon untuk memantau sesuatu katanya" jawab Kyungsoo sambil menatap keluar kaca mobil.
"Oh" hanya itu jawaban Kai yang membuat Kyungsoo ingin meneggelemkan Kai kedalam magma. Uhh, menyebalkan. Seharusnya Kyungsoo sudah tahu dan hafal jika Kai itu pada dasarnya memang dingin dan tak banyak bicara, begitu kata orang-orang.
"Kau.. kenapa tadi kau menolong Sehun? Tidak biasanya" ujar Kyungsoo tiba-tiba tanpa menyadari perubahaan pada raut wajah Kai.
"Kau akan tahu sebentar lagi" jawab Kai datar dan dingin.
10 menit kemudian mereka sampai di mansion Oh dan Kyungsoo sukses menjatuhkan rahangnya ketika melihat betapa mewahnya rumah besar dalam kategori mansion ini.
"Kau itu seperti orang yang datang dari pelosok saja" cibir Jongin yang melangkah duluan kedalam mansionnya diikuti oleh Kyungsoo yang masih terkagum-kagum dan mereka langsung disambut oleh puluhan maid yang berjajar rapi di lorong masuk menuju ruang tamu, dahsyat memang mansion ini. Kyungsoo jadi merasakan sensasi jalan-jalan di istana kerajaan Eropa jaman dulu.
Saat melangkah masuk memasuki ruang tengah, Kyungsoo menyipitkan matanya pada seonggok namja yang tengah memakan cemilannya sambil menonton home teater dan bercanda tawa bersama seorang yeoja mungil nan manis yang Kyungsoo tahu -dari berita- jika yeoja itu adalah adik tiri Kim Jong In, kalau tidak salah namanya itu Oh Se Hyoon.
Namun bukan itu yang membuat Kyungsoo menyipitkan mata bulatnya namun karena seorang namja yang terasa begitu familiar di matanya.
Dan ketika namja itu berbalik dan menatap ke arah mereka, mata bulat Kyungsoo menjadi semakin melebar dengan ekspresi melongok.
"O-Oh Sehun.."
.
.
.
-To Be Continue-
.
.
.
a/n :
Hallo readernim!
Author zyyeoliee kembali lagi.
Gimana chapter ini?
Pelan-pelan satu persatu other cast udah tahu latar belakang Oh Sehun. Kayak nya sebentar lagi bakal selesai nih.
Btw, di chapter depan author bakal jelasin tentang kenapa HunKai bisa jadi saudara.
Dukung terus author ya supaya makin semangat lanjutin ff ini.
Mohon tinggalkan review ya..
Annyeong..
Zyyeoliee
