Sepasang iris ruby menatap laptop dengan tatapan terkejut, informasi yang di kirimkan pada emailnya sungguh mengejutkan. Pencariannya selesai, ia harus segera menyelesaikan masalah itu secepatnya.

.

.

.

Pipi gembul di gembung kesal, Akashi Seiya tidak henti-hentinya merajuk pada pasangan merah-biru dihadapannya. Seijuro hanya bisa menghela nafas berat, ia memang janji akan mengajak keluarga kecilnya untuk liburan, tapi siapa sangka si Papa Tetsuya harus pergi ke Hokkaido sana demi merawat ibunda yang sedang sakit. Tetsuya sebenarnya ingin mengajak Seijuro dan Seiya ke Hokkaido, namun sepertinya tidak mungkin karena parahnya penyakit Kuroko Mizuhi-ibu Tetsuya- yang memaksa agar rumah keluarga Kuroko itu tetap sunyi dan tenang.

"Papa janji kalau papa pulang dari rumah nenekmu, kita akan jalan-jalan." Bujuk Tetsuya lagi, Akashi paling muda masih merengut tidak menghiraukan bujukan papa tercinta.

"Baiklah, Seiya ingin apa, Otousan turuti tapi biarkan papamu ke tempat nenek, oke?" Kali ini Seijuro yang membujuk, Si babyblue kecil berekspresi bingung, mempertimbangkan.

"Choppyland hari ini?"

"Deal" Mufakat di dapat, Tetsuya pergi dengan tenang menuju kediaman Kuroko untuk 3 hari kedepan. Sementara pasangan Ayah-Anak tengah bersiap menghabiskan liburan berdua, kesempatan mengasuh anak bagi Seijuro yang terbiasa mengasuh berkas. .

.

.

.

Title : Me And My Story (Story 3 : Relation Between Us)

Pair : KuroAkaKuro, slight!NijiKuro

Genre : Familly, Supernatural, Romance, Angst

Rate : T

Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi

Warn : OOC, Typos, abal-abal, EYD tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar, Ore!Akashi.

Enjoy

.

Pemuda bersurai raven mendesah berat melihat Tetsuna sering melamun sejak beberapa hari lalu, setelah pertemuannya dengan Akashi. Nijimura tahu benar Tetsuna masih terpukul walaupun berkali-kali ia meyakinkan diri bahwa ia tidak lagi mencintai Akashi, tidak bisakah Tetsuna berhenti menatap pemuda yang kini jelas-jelas sudah berkeluarga dan menatapnya? Nijimura selalu menunggu Tetsuna menyerah untuk mencintai Akashi, tapi lama kelamaan ia geram juga melihat Tetsuna yang lebih terlihat sebagai masokis perasaan itu.

Kepala biru ditepuk pelan, Tetsuna menanggah "Tetsuya jangan terlalu kau fikirkan masalah Seijuuro , aku akan mengurusnya nanti"

Tetsuna menghela nafas. "Aku hanya takut, Nijimura-san. Jika Sei-nii menemukanku mungkin ia akan mengambil Shouta..."

Aku tahu kau memiliki alasan lain.

"Kau tidak perlu takut , aku berjanji padamu akan ku lindungi kau dan Shouta dari Seijuurou ." - walau aku tahu tidak akan semudah itu.

"Hai' Arigato gozaimasu. Nijimura-san mau tinggal disini? Aku akan menjemput Shouta." Senyum lembut penutup lara dipasang di bibir pucat Tetsuna.

"Aku saja yang menjemputnya, kau tetaplah dirumah." Titah Nijimura membuat Tetsuna tidak enak, jujur saja Shouta selalu meminta sesuatu pada Nijimura dan selalu di kabulkan, padahal Nijimura sendiri sibuk mengingat pekerjaannya sebagai CEO Niji Corp yang pasti sangat sibuk.

- pada nyatanya Nijimura sering meluangkan waktu untuk sekedar main dengan Shouta atau berkunjung ke rumah Tetsuna untuk mengobrol dan numpang makan. Walaupun Tetsuna sendiri tidak bisa makan makanan manusia, ia bisa membuat masakan yang lulus sensor keamanan bagi manusia.

"Itu akan merepotkan..." Tolak Tetsuna halus.

"Tidak, atau kita pergi bersama saja? Aku kebetulan ingin mengajak kalian jalan-jalan" Ujar Nijimura santai. Tetsuna menghela nafas lagi, "Tapi-"

"Tetsuya, jangan membantah terus, cepat bersiap. Kutunggu diluar." Keputusan sepihak. Tetsuna menghela nafas lelah, sifat Nijimura terkadang membuat Tetsuna merasa de javu.

Setelah bergumam persetujuan, Tetsuna beranjak menuju kamarnya, memakai wig panjang dan pakaian pajang untuk menutupi kulitnya yang sensitif. Orbs sebiru lautan dalam itu melirik kotak biru muda, ingatan masalalu berkelibatan seperti kembang api di kepalanya. Tetsuna mengambil kotak itu dan mengeluarkan isinya, memeluk erat kimono merah maroon yang masih tetap utuh. Tak terasa, matanya kini mulai panas dan meneteskan air mata, berharap kimono yang di peluknya adalah pemuda merah yang menjadi kekasihnya ratusan tahun lalu.

"Seijuurou-kun... Kau kejam! Melupakan janji kita dulu. Kau bilang kau akan kembali padaku setelah berreinkarnasi! Pembohong!" Maki Tetsuna entah pada siapa.

Air mata yang terus meleleh di pipinya menetes pada pakaian yang dipeluknya, tidak henti-hentinya memaki dalam tangis, ia kecewa, tuhan memberi skenario cinta yang rumit untuknya. Merasa sia-sia telah menunggu demi Akashi Seijuurou di masa kini yang telah berjanji di masa lalu, meninggalkan seorang anak dan kehidupan yang rumit bagi Tetsuna.

Nijimura tahu kalau Tetsuna tengah menangis didalam rumahnya, ia hanya pura-pura tegar, entah sampai kapan Tetsuna akan seperti itu. Dasar masokis.

.

.

.

"Maaf lama menunggu" Ucap Tetsuna kelewat datar, Nijimura mendengus kesal, bisa-bisanya memasang wajah teflon seperti itu dengan mata bengkak.

"Masuklah, kita berangkat sekarang." Kata Nijimura yang kemudian menyalakan mesin mobilnya.

Sepanjang perjalanan Tetsuna hanya diam memperhatikan jalanan yang entah sejak kapan lebih menarik untuk dilihat daripada makhluk lain yang berada satu mobil dengannya.

"Kudengar Midorima sedang membuat pil yang bisa menahan nafsu makan vampir, kau tahu?" Tanya Nijimura membuka topik.

Tetsuna mengangguk, "hai', semenjak berhubungan dengan Takao-kun yang seorang vampir, Midorima-kun berusaha membuat obat itu."

"Huh, seharusnya dia berbagi dengan kita." Bibir Nijimura dipajukan membuat Tetsuna tersenyum geli. "Karena belum sempurna makanya Midorima-kun belum mau memberikannya."

"Aku khawatir soal Shouta, dia masih kecil pengendalian dirinya masih lemah"

"tidak apa-apa Nijimura-san. Aku memberinya darahku sebelum berangkat." Kata Tetsuna "Tapi akan bermasalah kalau di sekolahnya ada yang terluka atau donor darah." Lanjutnya

"Nah itu yang ku khawatirkan."

"Jangan khawatir, Shouta-kun akan baik-baik saja."

Mobil di parkir di depan gedung sekolah, Nijimura menghela nafas. "Oke baiklah, jemput Shouta sana, aku tunggu di sini."

Tetsuna mengangguk dan beranjak keluar untuk menemui Shouta yang tampaknya masih asyik mengobrol dengan Seiya, sama-sama menunggu dijemput. Binar senang terpancar jelas di wajah Shouta ketika iris birunya menangkap siluet sang bunda yang datang mendekat.

"Bibi Tetsuna, Konnichiwa"

"Mama!" dan Shouta menghambur kedalam pelukan sang bunda. "Mama, Mama! Seiya mau ke Choppy land, kapan-kapan kita kesana ya?"

"Konnichiwa, Seiya-kun. Ah- ya tentu saja, Shouta-kun. Nanti kita kesana."

"Wah kalau begitu kita kesana bersama saja, boleh ya, Otousama?" Tetsuna menengok melihat arah bicara Seiya, Tetsuna harus menjaga sikap seperti wanita pada umumnya.

"Boleh kok, Selamat siang, Tetsuna-san" Sapa Akashi sembari mendekat ke arah Seiya dan menepuk puncak kepalanya penuh sayang. "Bagaimana, Shouta juga mau ikut?"

Shouta menggeleng. "Shouta mau sama mama, nanti mama tidak ada teman." Ujarnya polos dan langsung memeluk kaki Tetsuna manja, sementara Akashi dan Tetsuna hanya bisa terkekeh pelan. "Shouta sudah di tunggu paman, ayo pamit dulu Seiya dan Akashi-san."

"Un! Shouta pulang dulu. Papa Akashi, Seiya-kun" Ucap Anak bersurai merah itu sembari melambaikan tangan. Tetsuna membulatkan irisnya.

"Papa... Akashi?" Tetsuna melirik Akashi dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.

"Shouta butuh seorang ayah, jadi aku menawarkan diri menjadi ayah Shouta, tidak apa-apa kan?" Akashi tersenyum lembut. Shouta mengangguk "Un! Shouta senang punya papa seperti papa Akashi." Tetsuna tercekat. Ia yakin ini karena Akashi terlalu baik, ia sangat yakin meski terpaksa yakin.

"A-ah sou desu ka, l-lebih baik kami pergi sekarang... Permisi..." Tetsuna menggiring Shouta yang bertanya-tanya tentang kelakuan aneh ibunya.

"Hati-hati di jalan...

-Cuya."

.

.

.

Barang di kemas dengan asal kedalam koper, Tetsuna panik ia ketahuan dan ia harus lari selagi sempat.

"Tetsuya, tenanglah!" Peringat Nijimura.

"Aku tidak bisa, Aku harus lari Nijimura-san. Aku sudah ketahuan. Aku-"

"TETSUYA!" Suara Nijimura naik satu oktaf, Tetsuna diam seketika. "Tenanglah, aku sudah berjanji akan melindungimu dan Shouta, bukan? Jangan khawatir." lanjutnya.

Tangan kokoh Nijimura merengkuh Tetsuna dalam pelukannya, menenangkannya. Tetsuna pastilah terpukul saat ini, bagaimana tidak, orang yang paling ingin ia hindari malah memberkan identitasnya.

Bahu kecil Tetsuna bergetar, bajunya basah terkena tetesan air mata. Tetsuna sudah menderita terlalu lama, sudah seharusnya ia menyerah mencintai Seijuuro dan mencari kebahagiaan lainnya. Biarlah untuk saat ini Tetsuna menangis di keheningan malam, menumpahkan emosi yang selalu di pendam dalam diam.

"Tetsuya-sama..."

"Eh...?"

"Saya memohon dengan sangat, tolong- Lupakan Seijuuro... dan berpalinglah padaku."

"Nijimura-san...?"

.

.

.

Tetsuna POV

Aku tidak mungkin bisa melupakan Sei-nii, karena Sei-nii adalah cinta pertamaku. Saat itu... 100 tahun lalu, aku bertemu dengan Akashi Seijuurou Kekasihku yang kemudian berreinkarnasi menjadi Akashi Seijuurou yang kini menikah dengan Kuroko Tetsuya.

Srak srakk..

Sepasang kaki dilangkah cepat menjauh dari riuh langkah berpasg-pasang kaki yamg mengejar, geta entah sudah hilang kemana namun kaki telanjang terus berlari walau menapak ranting tajam. yang dipikirkan pemuda biru muda itu hanya satu. 'lari'. Ia masih ingin hidup, ia tidak mau dihujam oleh perak tajam.

Tetsuya, Vampir muda yang tertangkap basah sedang menghisap darah seorang warga karena lapar yang mendera. Mungkin karena sial, Tetsuya ketahuan dan pergi melarikan diri. Ia harap ada yang berbaik hati untuk menolongnya, ia sudah sangat lelah berlari.

"T-Tolong aku!" Teriak Tetsuya di sela nafasnya yang tersengal-sengal.

Bak kebetulan yang klise di sinetron dan FTV, Kimono biru Tetsuya tersangkut di salah satu cabang semak dan jatuh tersungkur sementara pengejar sudah dekat, Nyawa Tetsuya sudah seperti di ujung tanduk.

"Ketemu kau, monster!"

"Kau akan mati, sekarang juga."

"Monster!"

"Monster"

-Aku... juga tidak mau jadi monster!. Jerit batin Tetsuya.

"T-Tolong aku... Tolong..." Tubuh berbalut kimono itu bergetar ketakutan, kakinya di dorong mundur sementara tangan kekar menarik kasar lengan seputih porselen, sangat kasar seperti pada hewan yang hina. Tetsuya menangis ketakutan. "Tolong aku..." Gumamnya ketakutan

Seolah doa yang terkabul, tangan kekar putus di depan matanya. Tetsuya melirik ke samping dan menemukan seorang pemuda dengan katana yang mengacung ke arah mereka. "Lepaskan gadis itu."

Iris semerah darah, tatapan tajam yang menusuk dan aura yang sangat kuat, Tetsuya tahu dia bukan orang sembarangan. Melihat Aksi si pemuda merah gerombolan itu pergi terbirit-birit seolah tahu jika mentangnya sama dengan menyerahkan nyawa.

"Kau tidak apa-apa, nona?" Tanyanya lembut.

"Hai' terima kasih banyak..." Tetsuya dibantu berdiri namun kembali terjatuh, lututnya bergetar karena memaksakan diri.

"wah... kakimu lebam, naiklah ke punggungku dan aku akan mengobatimu, nona." Pemuda merah itu berjongkok di depan Tetsuya, bersiap menggendongnya.

"Tidak usah, saya bisa sendiri." Tolak Tetsuya, namun terlambat karena pemuda itu sudah membawanya kedalam gendongannya. "Kau ringan sekali" guman pemuda itu. "ngomong-ngomong namamu siapa?"

"Aku... Tetsuya, tuan sendiri?"

"Tetsuya? Seperti nama laki-laki.o Aku Akashi Seijuurou, Seorang samurai dari kota Edo"

Dan saat itulah kisah kami di mulai-

.

.

.

.

To Be Contiuned

A/N : Konbanwa Minna-san, Seita-kun desu. Maaf Seita ga bisa post dengan cepat karena dikenai buntu ide dan beberapa hal lainnya. Oh iya, Seita telat buat ngucapin ultahnya Mama Tetsuya ya? OTANJOOBI OMEDETOU KUROKO TETSUYA-OKAASAN.

semoga reader tachi puas dengan chapter terbaru Ff abal Seita yang ini. oh iya, ada yang bingung sama cara manggil Seita ya? nah, Seita boleh dipanggil pake suffix apa aja asal bukan 'Sei-tan' hehe

Last, review please?

Salam hangat,

Seita-kun