"Kau tidak apa-apa, nona?" Tanyanya lembut.

"Hai' terima kasih banyak..." Tetsuya dibantu berdiri namun kembali terjatuh, lututnya bergetar karena memaksakan diri.

"wah... kakimu lebam, naiklah ke punggungku dan aku akan mengobatimu, nona." Pemuda merah itu berjongkok di depan Tetsuya, bersiap menggendongnya.

"Tidak usah, saya bisa sendiri." Tolak Tetsuya, namun terlambat karena pemuda itu sudah membawanya kedalam gendongannya. "Kau ringan sekali" guman pemuda itu. "ngomong-ngomong namamu siapa?"

"Aku... Tetsuya, tuan sendiri?"

"Tetsuya? Seperti nama laki-laki. Aku Akashi Seijuurou, Seorang samurai dari kota Edo"

Title : Me And My Story (Story 4 : Tetsuya's Past)

Pair : KuroAkaKuro, slight!NijiKuro

Genre : Familly, Supernatural, Romance, Angst

Rate : T

Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi

Warn : OOC, Typos, abal-abal, EYD tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar, Ore!Akashi.

Enjoy

.

Flashback in Tetsuya's POV

(Tetsuya disini bukan Kuroko Tetsuya, Tapi Tetsuya yang menyamar menjadi Tetsuna)

Aku terbangun di atas futon hangat, padahal aku ingat betul semalam dikejar para pemburu di hutan. Lalu, teringatlah wajah maskulin bersurai merah yang menjadi penolongku semalam. Aku langsung bangun dan melihat sekelilingku, ini kamar yang mewah, kimono biru yang kugunakanpun sudah berganti dengan kimono lain yang tampak sangat indah.

Srekkk

Pintu geser dibuka membuatku terkejut. Aku melihat sosok penolongku di depan pintu sambil tersenyum hangat, wajahku terasa panas melihat senyumannya yang menawan... uh.. Apa yang kukatakan tadi!? Pikiran bodoh.

"Sudah sadar, Tetsuya?"

"Terima kasih sudah menolongku, Seijuro-kun." ucapku pelan

"Sebenarnya aku ingin bertanya, kenapa kau dikejar oleh warga begitu? Kau melakukan sesuatu?" Aku memucat, mana mungkin aku bilang 'Aku memangsa salah satu dari mereka sampai pingsan karena lapar' sama saja menyerahkan diri ke singa lapar.

"A... Aku... Mencuri Roti" Bohongku.

"Mencuri?"

"A-aku sangat lapar..."

"Ternyata begitu." Aku mendengarnya berguman sesuatu. "Bagaimana kalau kita sarapan?"

"Eh?"

"Lebih baik kau cuci muka dulu, lalu kita makan bersama di ruang makan." Putusnya seenak jidat lalu keluar ruangan yang kutempati, meninggalkanku sendiri.

"Aku... Tidak makan makanan manusia..." desahku pelan.

.

.

.

"Tetsuya, Makanmu menyedihkan sekali." Komentar Seijuro melihat porsi nasi di mangkukku. "Kau harus makan banyak supaya sehat, Tetsuya"

"Maaf Seijuro-kun, porsi makanku memang seperti ini." Kalau ditambah lagi aku bisa muntah. Lanjutku dalam hati.

"Kalau tidak tambah kusuapi," Aku menatapnya tajam, protes tersirat. "Pakai mulut" Aku bernafsu ingin menenggelamkan Seijuro-kun di kolam ikan koi.

.

.

.

Hari-hari selanjutnya kami semakin dekat, tidurpun sekamar, Seijuro-kun sangat lembut. Aku mulai mencintainya namun, kenyataan kembali menarikku kedalam fakta bahwa kami tidak mungkin bersatu. Suatu hari, Seijuro-kun melamarku, Saat itu aku merasa sangat senang, namun mengingat fakta itu, aku menggeleng keras. Aku harus menolaknya karena kami berbeda ras meskipun Seijuro-kun tidak tahu kalau aku bukanlah manusia.

Aku pernah menobatkan Seijuro-kun sebagai pria paling keras kepala yang pernah kutemui.

Pernah dengar pepatah 'sepandai-pandainya tupai melompat ia pasti akan jatuh juga'?. Itulah yang kualami setelah 6 bulan sejak Seijuro-kun melamarku. Dalam dunia Vampir ada 3 hari yang merepotkan bagiku, Redmoon dimana para vampir akan merasa kehausan bahkan mungkin akan menyerang orang terdekatnya, lalu In Heat atau masa peleburan dimana nafsu mereka tidak terkendali dan Ice Crystal dimana kekuatan seorang vampir akan bertambah ketika musim dingin, bahkan mematahkan kutukan dan pengembalian half-blood juga keturunannya ke manusia oleh Tuannya dengan beberapa pengorbanan si tuan.

Dan malam itu, Redmood muncul di langit gelap. Tenggorokanku terasa terbakar, sakit dan perih, sudah lama aku tidak minum darah membuat rasa haus ini semakin menjadi. Kulirik Seijuro-kun yang tidur di sampingku dengan tenangnya membuatku semakin gelisah.

Lehernya, putih dan mulus. Aku kembali meneguk liur, mempertahankan kesadaranku sekuat mungkin agar tidak menyerang Seijuro-kun yang sedang tertidur.

Semakin dipandang semakin ingin, entah apa yang terjadi pandanganku menggelap.

.

.

.

"A-akh... T-Tetsuya... Aku... khhh..." Aku mendengar rintihan Seijuro-kun, sedetik kemudian aku terperanjat, melepaskan gigitanku pada leher Seijuro-kun.

"T-Tetsuya... Kau... Vampir?" Aku mejamkan mataku erat, sedikit isakanku berhasil lolos dari mulutku. Aku takut Seijuro-kun membenciku.

"Tetsuya! Jawab aku!" Kali ini suaranya meninggi, aku tersentak menatap iris senada batu ruby itu takut-takut lalu mengangguk pelan. "Kenapa kau tidak bilang dari awal!?"

Aku menunduk semakin dalam.

"Aku... pasti sudah sangat menyiksamu, tidak memberimu makan dengan benar dan arrgh... Maafkan aku Tetsuya." Katanya dengan tatapan... menyesal?

"Eh?"

"Aku seharusnya merawat calon istriku dengan baik. Calon suami macam apa aku!?" Aku menatapnya bingung.

"Seijuro-kun tidak akan membunuhku?" Ia menatapku lembut. "Mana mungkin aku membunuh orang yang sangat kucintai melebihi apapun." Sahutnya sambil mengelus suraiku lembut.

"Tapi... Kita berbeda, Seijuro-kun. Tidak akan ada yang akan memihak pernikahan Vampir dan manusia."

"Cukup rahasiakan dari masyarakat. Atau bawa aku ke duniamu." Aku terharu, aku yakin aku sangat mencintai pemuda yang tengah merengkuh hangat tubuhku.

"Iya, Seijuro-kun..." Setelah itu, kami resmi bertunangan.

"Jangan khawatir, aku mencintaimu. Aku akan selalu bersamamu dan kita akan membangun keluarga bahagia nanti, memiliki anak yang manis dan keluarga harmonis. hanya kau, aku dan anak kita." Bisiknya mesra di telingaku, membuat pipiku terasa panas.

"Hai', Seijuro-kun"

.

.

.

2 Tahun kami bersama dan 3 minggu lagi kami akan menikah. Aku sangat bahagia sampai-sampai aku tersenyum terus sepanjang hari di kediaman Seijuro-kun yang sepi. Seijuro-kun sedang pergi ke kota untuk berdagang, ia akan pulang besok untuk mengurus pernikahan kami, aku bahkan merapihkan kimono merah maroon favoritnya sampai benar-benar bersih dan wangi.

Tok Tok Tok

Pintu di ketuk, aku melihat seorang pemuda tan yang kukenal sebagai tetangga kami dan rekan sesama pedangang seperti Seijuro-kun. Ia menatapku dengan tatapan sedih.

"Tetsu, Seijuro sekarat di hajar para perampok saat perjalanan pulang. Maaf aku tidak bisa menolongnya." Aku menatap sahabatku dengan tatapan tidak percaya.

"Aomine-kun... kau tidak bohong kan?"

Aomine-kun semakin menunduk, aku yakin dia tidak berbohong, kuguncang kedua bahunya dengan tidak sabaran sambil berulang kali bertanya dimana tunanganku, calon suamiku berada sekarang. Menit selanjutnya, Aomine sudah menarikku ke balai desa, ke rumah tabib disana untuk melihat Seijuro-kun.

Kondisi Seijuro-kun sama sekali tidak terlihat baik. Ia terluka parah dengan darah yang mengotori kimononya. Aku langsung memeluk sosok itu dengan erat.

"Seijuro-kun, Kenapa bisa begini?"

"Tet.. suya?" Kudengar ia memanggil namaku.

"Seijuro-kun, aku akan menyelamatkan Seijuro-kun. Tunggu seb-" Mulutku ditahan oleh jari berlumuran darah Seijuro.

"Tetsuya.. aku-.. Sudah tidak pu...nya harapan..."

"Seijuro-kun! Jangan bilang begitu!"

"Tetsuya... Ayo... ki...ta bertemu... lagi saat... aku terlahir... kembali... saat... itu... aku... akan... menikahimu... a-ku jan-ji..." ucapnya terputus-putus. "Tu-nggu... a-ku. Ak-u men-cintaimu..." Nafas terakhir Seijuro-kun dihembuskan, aku menatap Seijuro-kun yang tidak bernyawa dengan tatapan tidak percaya.

"SEIJURO-KUN!"

-Lalu aku bersumpah untuk menunggunya hingga ratusan tahun kemudian, demi orang yang kucintai.

Flashback and Tetsuya's POV end

(Tetsuya vampir kembali di sebut sebagai Tetsuna)

.

.

.

Tetsuna kembali menatap netra kelabu milik Nijimura, ia menemukan tekad yang kuat di mata itu. Tetsuna kembali berpikir, Apakah lebih baik kalau Tetsuna mempercayai Nijimura demi Shouta? yang ia pikirkan selama ini adalah penantian panjang menunggu sang kekasih yang sudah menikah adalah hal konyol, ia harus merubah perspektifnya dan belajar mencintai Nijimura. Jika ia terus menunggu Seijuro yang jelas-jelas sudah ingkar janji, ia tidak akan pernah bisa membahagiakan Shouta, egois sekali Tetsuna selama ini.

"Nijimura-san..."

"Ya?"

"Bolehkah... Aku belajar mencintaimu?"

"Tetsuya... Aku bersumpah aku tidak akan menyakitimu." Tubuh Tetsuna direngkuh erat oleh Nijimura dalam euforia, sementara Tetsuna memeluk Nijimura.

.

.

.

Shouta merengut kesal di kediaman Akashi, Seiya dan Shouta sedang bermain ular tangga di ruang tengah ditemani duacangkir susu dan kue sebagai kudapan, Seiya menatap Shouta heran. Seijuro? Sedang asyik membaca majalah bisnis di sofa sambil mengawasi kedua anaknya.

"Shouta kenapa?" Tanya Seiya sambil menusuk-nusuk pipi gembul Shouta menggunakan jarinya.

"Shouta sedang kesal." Jawabnya cemberut.

"Kesal kenapa Shouta-kun?"

"Tadi pagi Mama dan Papa Niji main guling-guling di kasur ga pake baju di kamar dan Shouta ga boleh masuk." Seijuro tersendak teh yang diminumnya. "Padahal Shouta mau ikutan"

Rasa sakit apa yang terasa di dadanya ini?, Seijuro menatap putranya dari Tetsuya lembut sambil mengelus surai merah Shouta.

"Nanti Shouta guling-gulingnya sama Seiya saja, mungkin Mama sama Papa Nijinya Shouta belum mengizinkan Shouta main guling-guling itu." Seijuro merutuk lidahnya sendiri.

"Un! Shouta guling-guling sama Seiya aja! Ayo ke kamar!" Lalu kedua anak itu sudah menghilang dibalik pintu.

Seijuro memanggil Araki Misaki, Maid kepercayaannya untuk mengawasi dua anaknya. Sebaris digit angka di tekan lalu suara nada sambung terdengar.

"Moshi-moshi?"

"Moshi-moshi... Bisa kita bertemu hari ini?"

.

.

.

Disinilah Seijuro sekarang, di sebuah cafe di dekat perusahaan Nijimura sambil meminum cappuccino sebelum memulai pembicaraan. Seijuro berdeham memecah kesunyian.

"Jadi benar 'Tetsuna adalah Tetsuya maksudku adikku Cuya?" tanyanya sambil menatap Nijimura tajam.

"Ya, seperti yang kau lihat, Akashi. Tetsuya bersama ku sekarang, apa ini ulah Haizaki yang memberi tahumu soal Tetsuya?"

"Itu bukanlah hal yang penting untuk diketahui, sudah berapa lama Cuya bersamamu?"

"Semenjak dia kabur dari rumahmu dan entah bagaimana dia melahirkan sendiri"

Netra rubi membulat, tidak bias menyembunyikan rasa keterkejutannya, mana mungkin Tetsuya adiknya melahirkan sendiri tanpa ada yang membantu, Nijimura pasti bercanda.

"... Kau serius?" Tanya Seijuro menatap intens pada mantan kakak kelasnya semasa SMP dulu.

"Aku serius, ketika dia ke rumahku dia sudah membawa Shouta"

Teringat di kepala Seijuro bagaimana Kuroko Tetsuya menjerit kesakitan ketika melahirkan Seiya. Sementara Tetsuya harus melahirkan anak pertamanya, darah dagingnya sendirian. Oh Seijuro merasa breangsek sekali.

"Astaga... Nijimura-san, aku minta maaf. Kau jadi harus menanggung beban yang seharusnya menjadi bebanku." Ujar Seijuro dengan nada menyesal yang sangat ketara.

"Tidak apa, sudah sewajarnya bagi vampir rendah sepertiku mengurus satu satunya darah murni yang tersisa." Balas Nijimura tenang. "Lagipula keinginanku saat ini adalah membuat Tetsuya bahagia. Aku tahu dia sudah menderita selama 100 tahun ini."

"Apa maksudmu?"

"Tetsuya... dia hidup sampai saat ini demi menunggu reinkarnasi kekasihnya." Nijimura mengambil nafas. "Tapi, dia tidak pernah bertemu dengan kekasihnya itu."

"bisa kau ceritakan... soal itu?" Seijuro kembali ingat pada mimpi yang terus menghantuinya sejak bertemu adikknya di taman dulu, soal perang dan... kematian.

Nijimura menceritakan kisah yang ia dengar soal Tetsuya pada Seijuro. Sama persis seperti apa yang terjadi di mimpinya, Seijuro merasa semakin lama dinding penyesalan semakin tebal menaungi hatinya. Kenapa?

"N-Nijimura-san... kalau boleh aku tahu... siapa nama orang itu?" Tanya Seijuro tergagap.

"Akashi Seijuro" Seijuro terdiam. Tidak mungkin kan? Itu pasti hanya kebetulan.

"Secara fisik maupun nama kau mirip dengannya, kemungkinan besar kaulah si Seijuro itu"

"Kalau memang akulah orang itu... Aku sudah sangat menyakiti Tetsuya... Aku juga sudah ingkar janji..."

Nijimura bangkit dari duduknya, meletakkan uang dan berpamit untuk kembali ke kantornya, sementara Seijuro tetap terdiam disana. Dengan penyesalan yang menyesakkan dada.

"Apa... Yang telah kulakukan!?"

.

.

.

To Be...

Dilanjut deh.

.

.

.

"Tetsuya, aku harus bagaimana?"

'Sei-kun harus menyelesaikan masalah Sei-kun, Cuya-kun pasti sudah menunggu lama demi Sei-kun.'

"Tapi, Tetsuya..."

'Sei-kun sendiri yang bilang tidak akan lari dari masalah kan? Aku tahu menunggu 4 tahun demi Sei-kun melamarku itu sangat menyiksa, tapi Cuya-kun sudah menunggu selama 100 tahun. Sei-kun harus minta maaf.'

"Aku mengerti, Maaf Tetsuya... Jadi rumit begini"

' Tidak apa-apa Sei-kun, aku mengerti.'

"Hati-hati di sana, salam untuk nenek, ayah dan ibu"

"Hai'"

"Aku mencintaimu, Tetsuya."

"Aku juga, Sei-kun"

Sambungan telepon di putus, Seijuro berpikir untuk berkunjung ke rumah adik angkatnya. Demi masalah yang harus di selesaikan olehnya.

"Papa! Ayo kita berangkat sekolah!" Tarikan dan jeritan cempreng menyadarkan Seijuro dari lamunannya.

"Ah- ya, Ayo berangkat" jemari kecil di taut dan saling menggenggam tangan sepanjang perjalanan menuju mobil.

.

.

.

"Shoutaaaaa!"

"Seiya!"

Bukan surai baby blue yang bersama dengan Shouta melainkan surai arang milik direktur utama Nijimura Corp. Seijuro menatap bingung, Nijimura memajukan bibirnya berapa senti, menunjukkan kalau ia kesal di pandangi seperti itu.

"Kalau kau cari si kecil itu, dia tidak datang." Ujar Nijimura kesal.

"Cuya kemana?"

"Sakit."

"Bukankah vampir tidak bisa sakit?"

"Bisa, kalau dia sendiri tidak minum darah."

"Jangan-jangan..."

.

.

.

Tetsuna menatap langit-langit kamarnya datar, pikirannya melayang entah kemana. Mungkin itu tentang Ice Crystal yang akan muncul di hari ke 2 musim dingin. Memikirkan kalau ia ingin membereskan kekacauan yang ia buat, membuat kebahagiaan bagi Shouta, Seijuro dan Seiya.

Iris biru mudanya melirik ponsel yang sejak tadi berdering, dari nomor tak dikenal yang Tetsuna tahu siapa peneleponnya itu.

Setelah mengambil ponsel dan me-reject telepon dari Seijuro, Tetsuna menekan berapa digit angka dan menelepon. Berharap ia akan mengabulkan keinginan Tetsuna.

"Hai'... Aku sangat minta tolong."

'...'

"Wakarimashita, tolong rahasiakan ini. terima kasih banyak, jaa."

Panggilan di tutup tinggal menunggu hari hingga Ice Crystal muncul dan semuanya akan berakhir.

"Maafkan aku... semuanya" Tetesan air mata menuruni pipi tirus Tetsuna untuk yang ke sekian kalinya.

Hawa di luar semakin dingin, pohonpun sudah meranggas hingga yang tampak hanya batang-batang kayu. Musim dingin mungkin hanya tinggal 2-3 minggu lagi.

To Be Contiuned...

A/N : Astaga, Seita ngaret banget bikin ff ini, maklum kena Mager ngetik atau WB. ya sudahlah semoga kalian menikmati chapter terbaru ini.

Kritik dan saran Seita tunggu.

Sampai ketemu di chapter selanjutnya.

Salam hangat,

Seita-kun