Title : Something Wrong

Genre : school life, romance, gender switch, AU

Pairing : HunHan, ChanBaek, KaiSoo, SuLay.

Rate : Teens

Length & type : Chaptered

.

.

Disclaimer : Cast murni bukan milik author tapi cerita ini milik author.

so...

DON'T BE SIDERS

DON'T PLAGIAT

DON'T BASH

.

.

WARNING! GENDER SWITCH & TYPO!

.

.

.

.

.

Summary :

Keinginannya untuk pindah ke Korea membuat ia bertemu dengan si namja 'beasiswa' yang selalu di bully oleh teman-temannya karena bersekolah di sekolah tempat orang-orang kaya. Namun apa yang akan mereka katakan jika ternyata si namja tampan 'beasiswa' itu ternyata anak kandung dari keluarga Oh -keluarga terkaya sedaratan Asia Timur-?

.

.

.

CHAPTER 8

.

.

.

Preview chapter 7

"Jadi selama ini kau ada di tanah kelahiranmu, Oh Sehun?" Gumam yeoja berambut merah itu sambil meneguk wine nya dan duduk dengan menyilangkan kakinya di sofa sambil menonton tayangan berita di televisi.

"Kau semakin tampan saja. Hmm.. pasti akan sangat enak jika aku menjadi kekasihmu lagi saat ini. Mungkin aku bisa meminta mobil seperti yang kau miliki itu" ucapnya lagi setelah melihat tayangan di televisi saat Sehun pergi dari arena balap liar menggunakan mobil Lamborghini Veneno Roadster miliknya.

"Aku akan datang dan memiliki mu lagi, sayang"

.

.

.

CHAPTER 8

Sehun mengerang frustasi sambil rebahan di sofa yang ada di kamarnya, pasalnya saat ini Luhan tak menghiraukan dirinya, ia sudah coba mengirim pesan dan telepon namun Luhan sama sekali tak merespon.

Sehun mengerti jika Luhan marah padanya tapi rasanya Sehun tak rela Luhan menjauh. Ia rindu dan ia akui itu.

Sehun memijat batang hidung mancungnya sambil menampakan wajah lelah. Lalu ia terfikir untuk membuat video dan mengirimnya pada Luhan.

Sehun mengambil ponselnya dan meletakkan ponselnya jauh di depan wajahnya. Ia menekan tombol rekam kemudian setelah menyala, Sehun tersenyum ke arah camera depan ponselnya sambil melambai kecil.

"Annyeonghaseyo Xi Luhan" sapa Sehun dengan senyum manisnya membuat siapa saja akan jatuh hati padanya.

"Kenapa tidak membalas pesanku? Kenapa tak mengangkat teleponku? Kau menghindariku? Kau bilang kita teman" Sehun menarik nafasnya dalam.

"Xi Luhan. Aku tahu kau pasti kecewa. Tapi, tolong. Jangan acuhkan aku. Aku merindukanmu rusa cerewet" ujar Sehun sambil tersenyum mengejek.

"Aku harap kau mau menghubungiku lagi. Karena kita teman" ujar Sehun kemudian melambai singkat pada arah camera dan mematikan tombol rekam sehingga video nya berhenti.

"Huhh.. apa aku konyol?" Gumam Sehun sambil menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.

Sehun kemudian menggedikan bahunya tak peduli lalu mengirimkan video yang baru saja ia buat lewan aplikasi Line.

"Kuharap kau mau melihatnya"

...

Sudah 2 hari sejak kejadian Sehun yang tertangkap basah di arena balap saat itu, Luhan tak lagi bertukar pesan dengan namja itu.

Ia merasa masih kecewa. Mereka memang baru 1 hari menyatakan jika mereka teman jadi terasa wajar saja jika dilihat dari aspek umum namun Luhan merasa ia ditipu selama ini.

Dengan alasan apa dia menyembunyikan ini semua? Tak tahukah dia jika Luhan begitu menerima Sehun bagaimanapun keadaannya?

Luhan duduk di sofa single yang terletak di sebelah pintu kaca menuju balkon yang sengaja ia buka untuk menikmati angin malam yang berhembus tanpa harus menyalakan AC dan malah menyalakan perapian otomatis di kamarnya.

Tiba-tiba handphone Luhan berbunyi nyaring pertanda ada pemberitahuan Line. Dengan enggan, Luhan pun mengambil ponsel itu dan melihat isi pesannya.

Sejak tadi dia memang membaca semua pesan dari Oh Sehun dan tahu jika Sehun beberapa kali mencoba menghubungi nya namun ia seakan tak peduli.

Luhan mengerutkan keningnya ketika yang ia terima adalah sebuah video pendek dari akun Oh Sehun.

"Annyeonghaseyo Xi Luhan. Kenapa tidak membalas pesanku? Kenapa tak mengangkat teleponku? Kau menghindariku? Kau bilang kita teman. Xi Luhan, aku tahu kau pasti kecewa. Tapi, tolong. Jangan acuhkan aku. Aku merindukanmu rusa cerewet" ujar Sehun sambil tersenyum mengejek membuat Luhan mau tak mau ikut tersenyum. Ia baru tahu jika ternyata Oh Sehun itu konyol.

"Aku harap kau mau menghubungiku lagi. Karena kita teman"

Video nya pun berakhir dan Luhan begitu termenung saat mendengar ucapan Sehun di akhir. Sehun sudah mengakuinya sebagai teman. Tapi, apakah hanya sebatas itu?

Luhan juga merasa terpesona dengan hair style Oh Sehun yang berwarna putih dengan kedua sisi rambutnya hitam dan di cukur tipis plus tanpa poni.

"Oh Sehun babo" ujar Luhan sambil tersenyum dan tanpa sadar setetes cairan bening jatuh dari matanya.

"Aku juga merindukanmu, babo"

Cklek

"Lu.." Kris masuk kedalam kamar luas Luhan dan Luhan pun langsung menghapus air matanya karena tak mau Kris melihatnya.

"Wae? Oppa selalu saja seenaknya masuk ke kamar ku. Menyebalkan" gerutu Luhan dengan pose imutnya membuat Kris gemas dan menjawil hidung mancung Luhan.

"Karena oppa tahu sepupu oppa yang manis ini pasti selalu mengijinkan oppa masuk" balas Kris sambil berjongkok dengan sebelah kakinya di hadapan Luhan seperti seorang kekasih yang akan melamar yeoja nya.

"Bagaimana kalau aku sedang ganti baju" rengek Luhan sambil menyentil dahi Kris pelan.

"Rasanya itu tidak mungkin. Karena kau selalu ganti baju di kamar mandi" jawab Kris sambil tersenyum manis membuat Luhan juga ikut tersenyum.

"Ada apa oppa kemari?" Tanya Luhan yang sudah tahu jika pasti saja ada sesuatu yang akan disampaikan atau dibicarakan dengannya kali ini.

"Oppa hanya ingin memberitahu jika untuk hari besok oppa sudah menyiapkan schedule"

"Schedule? Schedule apa?"

"Schedule tentang apa yang akan kita lakukan dari pagi sampai menjelang malam"

"Apa saja?"

"Itu kejutan, yang pasti besok akan menjadi hari yang menyenangkan diantara kau, Baekhyun dan oppa"

"Hmm.. itu tidak buruk"

"Tentu saja" Kris kembali mengacak pelan surai coklat caramel milik Luhan.

Tujuannya membuat schedule untuk hari libur besok adalah agar Luhan bisa sedikit ceria dan melupakan sejenak masalahnya dengan Oh Sehun itu.

.

.

.

"Ada apa Yixing-ah?" Tanya Suho yang berdiri membelakangi Yixing di tengah taman yang tak jauh dari rumah Yixing.

Entah apa yang sedang dilakukan Suho disini sehingga ia bisa berakhir bertemu dengan Yixing. Yang pasti ini benar-benar suatu keberuntungan bagi Yixing karena sejak kemarin ia terus uring-uringan karena merasa kehilangan sosok Kim Joon Myeon dalam kegiatan sehari-harinya di sekolah.

Hmm.. Zhang Yixing dengan gengsi tinggi sekarang mengakui jika dirinya merindukan sosok Kim Joonmyeon.

"Tidak kah kau merasa bersalah, Suho?" Tanya Yixing memanggil nama akrab namja itu padahal biasanya Yixing selalu memanggilnya dengan nama aslinya plus dengan nada ketus.

"Atas apa?" Tanya Suho yang masing enggan berbalik untuk menatap Yixing yang masih berdiri 3 meter di belakangnya.

"Kenapa kau tiba-tiba berhenti begitu saja seakan kau sebelumnya tak melakukan apapun!" Cecar Yixing namun otak cerdas Suho tiba-tiba saja tak berfungsi dan mendadak loading.

"Aku tak mengerti. Tolong bicara secara lugas" balas Suho datar membuat Yixing berang. Sejak kapan namja itu menjadi kalem dan lurus seperti itu? Yang ia tahu Suho itu adalah namja yang menyebalkan.

"Kau datang membawa segala sifat menyebalkanmu dan kau pergi begitu saja sambil membawa perasaanku. Dimana otakmu Kim Joon Myeon?!" Geram Yixing yang membuang jauh-jauh rasa gengsi nya. Astaga, yang benar saja ia harus bicara seperti ini.

Suho terdiam seribu bahasa, mungkin sekarang otak encernya itu sudah connect dan membuat ia cukup mengerti kemana arah pembicaraan Yixing.

Ia berbalik dan pandangan sayu nya bertabrakan dengan pandangan tajam penuh peringatan milik Yixing.

"Kenapa kau ini, Yixing?" Tanya Suho pura-pura tak mengerti.

Yixing sebal melihat Suho yang mendadak bolot seperti ini. Ia rasanya ingin mem-blender otak Suho dengan dicampur air raksa saat ini juga.

"Aku kehilanganmu, Kim bodoh!" Umpat Yixing yang langsung membuat Suho menyunggingkan senyum tampannya.

Ia menatap Yixing lekat seakan mencari kebohongan dari gerak-gerik Yixing.

"Kau.. kehilangan ku? Kau salah bicara? Atau telingaku yang bermasalah?"

"Yang bermasalah itu otakmu bukan telingamu!" oceh Yixing yang berjalan mendekat ke arah Suho dan secara refleks memeluk namja berperangai lembut itu hingga Suho terkejut untuk beberapa saat dengan tampang konyolnya.

"Kau bodoh" umpat Yixing mengeratkan pelukannya pada Suho dan dibalas oleh Suho sambil mengelus kepala yeoja China itu lembut. Betapa bahagianya dia saat ini ketika cinta nya terbalaskan. Ternyata tak sia-sia semua usahanya untuk mendapatkan Yixing selama ini.

"Maafkan aku, Xing" bisik Suho lembut di telinga Yixing.

"Ouhh.. manis, akan jadi gossip baru di sekolah" ujar seorang namja yang ternyata sejak tadi mengintip mereka berdua dan berhasil mengabadikan moment dimana kedua manusia itu tengah berpelukan.

Ia pun melengos pergi dari taman itu sambil memutar-mutar ponselnya bahagia ketika berhasil mendapat bahan gosip baru.

"Presiden sekolah menyebalkan"

.

.

.

"Jadi kau hanya berbohong padaku saat itu?" Tanya Sehun tak terima sambil memelototi Kai yang tetap berusaha merebut ponselnya dari tangan Sehun.

"Apanya? Aku hanya berusaha membuatmu sadar Oh fucking Sehun!" Ucap Kai sadis dengan tatapan mengejeknya.

"Itu namanya berbohong, hitam!" Sangkal Sehun yang masih tak terima dibohongi oleh Kai, saat itu Kai berkata ia hanya sekedar memanfaatkan Kyungsoo dan Kyungsoo telah meninggalkannya tapi baru saja ia melihat pesan-pesan Kai bersama Kyungsoo seharian ini yang terlihat begitu akrab mungkin?

"Salahmu sendiri begitu bodoh! Mana mungkin aku juga mencari masalah dengannya. Yang pertama, aku ini bukan namja brengsek yang hanya memanfaatkan orang lain. Kedua, aku tak mungkin manfaatkan orang sepolos dia. Dan terakhir, aku membutuhkan dia untuk dance couple ku di festival amal nanti, dan lagi aku ada satu kejutan untukmu dan Luhan" oceh Kai panjang lebar dengan menekankan kata 'kejutan' nya yang entah berarti apa itu.

"Kalian kenapa ribut-ribut tuan muda" tegur tuan Seo yang menengahi acara saling memelototi lawan bicara diantara Kai dan Sehun.

"Jangan ikut campur" balas keduanya ketus kemudian berlalu pergi setelah sebelumnya Oh Sehun melempar ponsel Kai ke pemiliknya.

"Hhh.. ada-ada saja" tuan Seo menggeleng-gelengkan kepalanya sementara beberapa maid yang kebetulan ada disana hanya terkikik geli. Beberapa hari ini tuan muda mereka kembali lagi seperti dulu, kembali menjadi dua tuan muda yang akrab namun sering ribut karena hal-hal kecil dan itulah yang membuat mereka terlihat menggemaskan.

"Tuan muda, anda dan tuan Sehun disuruh ke arena menembak milik jenderal Byun besok pagi. Ini perintah tuan besar" ujar tuan Seo yang membuntuti Kai hingga sampai ke taman belakang mansion sementara Sehun tadi pergi ke arah berlawanan dengan Kai.

"Apa? Kenapa? Untuk apa?" Tanya Kai berbalik menghadap tuan Seo dengan tatapan mengintimidasi nya.

"Beliau menyuruh anda dan tuan muda Sehun belajar menggunakan senapan" ujar tuan Seo ramah dan Kai hanya ber'O' ria.

Loading . . .

"APA?!" Teriak Kai dengan mata yang hampir keluar dari tempatnya membuat burung-burung yang hinggap di sekitar taman belakang mansion langsung beterbangan karena terkejut dengan suara berisik dari Kai.

"Tuan, anda berlebihan" ucap tuan Seo blak-blakan sementara Kai mendengus sebal.

"Terserahlah"

.

.

.

Minggu pagi ini terasa begitu menyenangkan bagi Luhan karena kedua sepupunya membawa ia ke tempat latihan menembak milik kakek mereka dan Luhan begitu senang, sudah cukup lama ia tak memegang senjata api kembali.

"Kau mau pakai ini?" Tanya Kris sambil menunjukan penutup telinga pada Luhan yang tengah mempersiapkan hand gun nya.

"Tentu saja" jawab Luhan semangat yang langsung mengambil penutup telinga berwarna hitam pekat itu kemudian memakainya.

"Kau tidak pakai, Baek?" Tanya Kris menatap Baekhyun yang tengah memasukkan peluru pada senapan laras panjang miliknya.

"Aku pakai peluru, oppa" jawab Baekhyun sambil mengangkat kedua peluru besarnya dan langsung memasang nya di lubang telinga.

"Kebiasaan" ujar Kris sambil berdecak. Menurutnya cukup mengganjal dan menyakitkan jika memakai peluru sebagai penutup telinga agar suara tembakannya tidak terlalu berbunyi nyaring di telinga tapi Baekhyun kelihatan biasa saja karena ia sudah mahir dan terbiasa.

Diantara mereka bertiga yang paling handal dalam menembak adalah Baekhyun karena ini adalah hobinya.

"Ayo kita ke lapangan" ajak Kris dengan menarik kedua tangan yeoja cantik yang sudah siap dengan segala perlengkapan itu menuju ke arena latihan tembak.

"Wah, tuan muda" sapa seorang namja dengan sebelah matanya yang tertutup seperti bajak laut seraya tersenyum ketika melihat Kris bersama kedua sepupunya berjalan ke arahnya.

"Hi, paman Jung" sapa Baekhyun yang melepas dulu kedua peluru itu dari telinganya dan tersenyum lebar ke arah pria berumur 50-an itu.

"Hi, Baek. Kau tetap seperti itu. Hallo Luhan. Kau semakin kalem saja" namja yang di sapa paman Jung itu mengalihkan fokusnya pada Luhan dan mengusap surai coklat caramel milik yeoja berdarah China itu dengan gemas, ia sudah menganggap Luhan, Baekhyun dan Kris itu seperti anaknya sendiri jadi ia sudah sangat mengenal watak ketiga cucu Jenderal Byun itu karena mereka sudah mulai belajar menembak di tempat ini sejak mereka masih duduk di sekolah dasar.

"Kamsahamnida, paman" jawab Luhan anggun.

"Khaa.. kalian bisa mulai. Paman harus mengurusi sesuatu dulu" ujar paman Jung sambil menepuk pundak Kris yang di anggap paling dewasa dan bertanggung jawab kemudian pergi meninggalkan ketiga saudara itu di tengah lapangan dimana banyak para tentara, anggota kepolisian, dan para detektif kepolisian yang tengah belajar menembak untuk memenuhi kewajiban mereka sebagai aparatur negara.

"Mereka sibuk sekali sampai tak menghiraukan kita" sungut Baekhyun sambil mencebikan bibirnya.

"Mereka punya tugas sendiri, Baek" ujar Kris sambil menyentil kening Baekhyun pelan.

"Huhh.. kalian itu banyak mulut" gerutu Luhan yang langsung mengambil ancang-ancang menembak sasaran yang berada 35 meter di depannya dan langsung menembaknya dengan hand gun miliknya yang langsung telak mengenai jantung dari sasaran berbentuk poster manusia itu.

Baekhyun dan Kris pun melakukan hal yang sama dengan Luhan dan lama-lama mereka bosan juga.

"Kita seharusnya usul pada harabeoji untuk membuat arena latihan simulasi saja, jadi kita mau menembak beberapa ratus meter pun bisa" keluh Baekhyun yang menurutnya jarak 35-50 meter itu sudah biasa dan terlalu mudah.

"Hmm.. sombong" kekeh Kris di telinga Baekhyun membuat empunya telinga terlonjak kaget karena kehadiran Kris tiba-tiba dibelakangnya.

"Luhan, Baekhyun, Kris.. bisakah bantu aku?" Tanya paman Jung yang berlari kecil ke arah tiga orang berkelas itu.

"Bantu apa, paman?" Tanya Kris mewakili.

"Ada 2 anak baru yang ingin belajar menembak disini, aku minta bantuan kalian untuk melatih mereka" jawab paman Jung.

"Kalau hanya dua orang Baekhyun dan Luhan bisa melatihnya. Aku lebih memilih untuk istirahat" cengir Kris menyebalkan, Baekhyun dan Luhan langsung melotot ke arah Kris namun Kris hanya menggedikan bahunya.

"Dimana mereka?" Tanya Baekhyun yang kembali membidik kepala sasaran dan langsung menarik pelatuknya ketika merasa sudah pas dan kepala sasaran pun langsung berlubang.

"Itu mereka"

Luhan menoleh lebih dulu ke arah yang di tunjuk paman Jung dan seperti gerakan slow motion, ia langsung terbelalak begitu melihat namja berambut putih dan namja berambut hitam pekat berjalan ke arah mereka.

"Hey, itu bukan anak-anak" protes Baekhyun tapi langsung menyeringai penuh arti.

"Sedang apa kalian disini?" tanya Kai yang lebih mirip pengintimidasian daripada pertanyaan.

"Kami tengah melakukan rutinitas mingguan" jawab Baekhyun lantang sambil mengarahkan moncong senapannya ke kepala Jongin dan mengambil ancang-ancang seakan akan menembak Jongin dan sukses membuat Jongin gelagapan. Hey, ia tak terbiasa dengan senjata api. Bisa mati dia jika Baekhyun menarik pelatuk senapannya ini.

"Baek, hentikan. Mereka tuan muda Oh" lerai paman Jung yang menarik moncong senapan Baekhyun ke bawah.

"Mereka teman sekolahku, paman. Lagipula aku sudah mengenal si hitam ini" balas Baekhyun sambil menepuk lengan Jongin keras dengan sengaja membuat Jongin meringis dan menatap Baekhyun tajam.

"Kalau begitu, biar Baekhyun yang mengajariku, tuan Jung. Dan Luhan bisa mengajari Sehun" ucap Kai final dengan senyum misteriusnya membuat Baekhyun muak.

"Tidak masalah" ujar Luhan santai tanpa menatap Oh Sehun yang berdiri di sampingnya "ikut aku" Luhan berujar datar dan membawa langkah Sehun menuju ke latihan sasaran bejarak 10 meter bersama dengan KaiBaek di belakang mereka yang sesekali melemparkan gurauan.

"Kenapa tidak membalas pesanku?" Tanya Sehun tiba-tiba.

"Aku tidak harus menjawabnya kan, tuan muda Oh?" Balas Luhan menekankan kata 'tuan muda Oh' nya.

Luhan selalu menghindari kontak mata dengan Sehun dan Sehun sangat menyadari jika Luhan tengah menghindari dirinya.

Luhan mengambil hand gun lain di saku nya dan memberikannya pada Sehun tanpa menatap mata tajam Sehun.

Luhan menarik pelatuk hand gun yang ia pegang dan tepat mengenai jantung sasaran.

"Coba kau lakukan seperti barusan" kata Luhan datar, bukan seperti Luhan yang biasanya.

Sehun pun mengarahkan hand gun nya ke arah sasaran tapi dengan kaku dan tangannya sedikit bergetar.

Orang biasa seperti Sehun yang tak biasa memegang senjata api pasti akan gemetar saat memegang senjata berbahaya itu.

"Yak! Kau itu kan namja masa memegang yang begitu saja tidak bisa! Payah!" Maki Luhan yang kini memegangi tangan Sehun agar tak gemetaran dan mengarahkannya pada sasaran "tarik pelatuknya sekarang" titah Luhan namun Sehun tetap diam dan semakin gemetaran.

"Aku tidak bisa" gumam Sehun yang wajahnya agak pucat.

"Yang benar saja! Ini hanya latihan Sehun, Demi Tuhan!" Erang Luhan yang memegang tangan Sehun dengan erat menyiratkan ia kesal "tarik sekarang" desis Luhan dan dengan gemetaran Sehun menarik pelatuknya hingga peluru dari pistol yang ia pegang melesat dan malah mengenai tangan sasaran.

"Lumayan untuk pemula" ucap Luhan melepas pegangan tangannya pada Sehun membuat Sehun kecewa dalam hati "see? Tak sesulit kelihatannya, bodoh" lanjut Luhan yang kini menatap mata Sehun "atau mungkin juga yang barusan itu faktor K" lanjutnya, Sehun mengerti jika yang di maksud Luhan faktor K adalah FAKTOR KEBETULAN.

Sehun terdiam sejenak dan menatap pupil coklat Luhan dengan lekat seakan tak rela jika tatapan itu ditujukan pada orang lain. Mungkin Sehun mulai jatuh cinta.

"Kenapa tak membalas semua pesanku? Kenapa tak mengangkat telepon ku? Kenapa kau tak merespon video yang kukirim di akun Line mu, Xi Luhan? Kenapa? Bukankah kau bilang kita teman?" Tanya Sehun panjang lebar dan Luhan merasa ini bukan Sehun yang ia kenal karena Sehun temannya adalah Sehun yang irit bicara dan begitu kaku.

"Aku hanya..." ucap Luhan menggantung dan menambahkan kata 'kecewa' dalam hatinya.

"Hanya apa?" Tanya Sehun tak sabaran.

"Tidak ada. Kembali berlatih. Aku ingin ambil minum dulu, saat aku kembali aku ingin kau sudah mengenai jantung atau kepala sasaran" Luhan berkata datar dan dingin kemudian melangkah pergi setelah sebelumnya sekilas melihat interaksi Kai dan Baekhyun yang terbilang konyol.

"Heh! Disini aku mentormu! Cepat arahkan pistol mu ke sasaran!" Amuk Baekhyun kesal sementara Kai hanya menatap Baekhyun malas.

"Kau tidak boleh kasar pada anak didikmu!" Protes Kai yang balik melotot pada 'sang mentor'.

"Cepat tembak sasarannya Kim Kai!" Bentak Baekhyun yang dengan paksa membalikkan tubuh Kai menghadap sasaran 10 meter di depan dan mengangkat tangan Kai untuk memegang hand gun nya.

"Tarik pelatuknya atau aku yang akan menarik pelatuk senapan ku" ancam Baekhyun sadis sambil mengacungkan ujung senapan nya di belakang kepala Kai.

"Hei.. Hei.. itu tidak lucu, Baek" Kai berucap gugup. Siapa yang akan tenang jika sebuah moncong senjata api tepat di belakang kepalamu?

"Baiklah. Kalau begitu tarik pelatuknya dan kenai jantung sasaran" titah Baekhyun menjauhkan senapan laras ganda nya dan menyimpannya di pundaknya sendiri.

DOR

Kai menembakkan satu peluru ke arah sasaran tapi sayangnya tidak mengenai anggota tubuh sasaran membuat Baekhyun mendengus.

Ia teringat sesuatu dan segera melepas peluru di kedua lubang telinganya dan memasangnya pada lubang telinga Kai dengan tanpa persetujuan Kai membuat namja itu kaget karena ia pikir Baekhyun berusaha membunuhnya.

"Pakai itu untuk melindungi pendengaranmu. Aku tidak membawa penutup telinga normal. Lagipula itu juga berfungsi" ucap Baekhyun sedikit keras supaya Kai dapat mendengarnya.

Kegiatan itu terus berlanjut hingga Kai sudah bisa menembak PINGGIRAN sasaran atau ketika beruntung akan mengenai kaki, tangan atau perut sasaran. Itupun dengan paksaan dari Baekhyun untuk terus berlatih. Baekhyun akan memukul kepala Kai dengan moncong senapan nya dan begitu seterusnya hingga Kai sudah lelah untuk protes pada Baekhyun.

Luhan pun sudah kembali lagi ke hadapan Sehun dengan membawa dua botol air mineral yang tidak dingin.

"Kau belum bisa mengenai jantung atau kepalanya?" Tanya Luhan tak percaya. Ia kira saat ia kembali Sehun sudah meninggalkan bekas tembakan di jantung atau kepala sasaran selain lubang peluru miliknya yang ia buat tepat di jantung sasaran tadi.

"Pelurunya habis"

5 detik berlalu dengan wajah melongok Luhan dan setelah itu Luhan menepuk jidatnya sendiri.

"Astaga! Demi Tuhan, Oh Sehun! Apa kau tidak tahu cara mengisi peluru?" Tanya Luhan frustasi dan menatap Sehun seperti akan memakan makhluk bernama Oh Sehun itu bulat-bulat.

"Aku bukan seorang pengguna senjata api Xi Luhan!" Protes Sehun karena tak terima Luhan merendahkannya secara tidak langsung seperti itu

"Tck" decak Luhan kesal lalu mengambil pistol Sehun dan mengisinya kembali dengan peluru lalu menyerahkannya lagi pada namja berambut putih itu

"Lu.. ini sudah pukul 8, bagaimana kalau kita ke tempat lain. Tempat berkuda mungkin" usul Kris yang datang bersama Baekhyun juga Kai di belakangnya.

"Itu bagus. Kaja" ajak Luhan semangat karena dengan pergi dari tempat ini maka ia tak akan bertemu dengan Oh Sehun untuk hari ini namun semua imajinasi Luhan sirna sudah ketika mendengar ucapan Baekhyun selanjutnya.

"Hmm.. aku setuju. Kai, kau suka berkuda kan? Bagaimana kalau kita pergi bersama kesana? Boleh kan, Kris oppa?"

"Tentu saja, Baek. Lebih ramai akan lebih seru" jawab Kris 11 12 dengan Baekhyun membuat Luhan melongok. Hancur sudah imajinasinya.

"Kaja Luhanie" Kris berucap lembut dan apa itu? Luhanie? Ewww.. menjijikan. Begitu fikir Luhan "ayo Sehun" lanjut Kris yang entah kenapa terasa janggal dan segera menarik Luhan untuk pergi dari sana.

.

.

.

Setelah melewati seharian penuh kegiatan dibawah terik matahari, ke-5 orang berkelas itu melangsungkan makan malam di restaurant yang berada di Namsan Tower.

"Kenapa kau menyisihkan bawangnya seperti itu? Bawang itu sayuran dan kau harus memakannya" oceh Sehun yang risih melihat Luhan menyisihkan semua bawang yang terdapat di dalam makanannya yaitu bawang merah dan bawang putih.

"Tubuh Luhan bereaksi aneh jika ia makan bawang" jawab Baekhyun sambil memakan makanannya dengan santai sementara Luhan melotot pada Baekhyun memberi kode untuk diam namun Baekhyun tetaplah Baekhyun yang bermulut ember.

"Alergi?" Kai buka suara setelah dari tadi ia hanya diam dan tenang.

"Hmm.. semacam itu" jawab Baekhyun lagi dan Luhan sukses menoyor kepala Baekhyun kesal membuat empunya mendelik protes.

"Alergi bawang? Aneh sekali" komentar Sehun asal.

"Luhan itu memang aneh, Oh Sehun" lagi-lagi Baekhyun berbicara asal membuat Luhan kesal. Jika saja Baekhyun bukan sepupunya mungkin Luhan akan menenggelamkan Baekhyun ke segitiga bermuda.

"Oh ya, aku ada kejutan untuk Sehun dan Luhan. Kurasa aku ucapkan sekarang saja" ujar Kai setelah menyelesaikan dinner nya.

"Kejutan?" Tanya Kris dengan sebelah alis terangkat.

Memangnya Luhan dan Sehun baru saja menikah? Kenapa harus diberi kejutan? Jongin aneh sekali.

"Kalian berdua akan tampil di acara amal itu bersamaku dan Kyungsoo. Kalian sudah hafal gerakan nya kan? Kalian terlihat sangat serasi saat latihan"

"MWOYA?!"

.

.

.

Semuanya bagi Sehun benar-benar memuakkan. Pasalnya semua siswa-siswi Tyrone SHS berubah haluan dan menjadi baik padanya. Seokjin CS yang gemar membully nya setiap hari pun jadi ramah dan menjadi segan pada Sehun padahal Sehun bersikap biasa saja hanya penampilannya yang mencolok.

Dia tak berharap dia disanjung seperti sekarang. Ia lebih suka saat ia di acuhkan dan di anggap tidak ada. Setidaknya saat itu ia bisa tenang dan sendirian.

Tapi sekarang semuanya berubah. Ia malah terus di ganggu oleh para yeoja genit semenjak identitasnya terbongkar. Di perpustakaan pun dia jadi tak tenang karena suara ribut-ribut dari para yeoja.

Cihh.. mereka pikir Sehun akan tertarik setelah mereka memperlakukan Sehun dengan perlakuan yang tidak seharusnya? Dasar penjilat.

Luhan pun juga ikut kena imbasnya. Ia terus di tanyai oleh para wartawan sekolah yang kepo tentang hubungannya dan Sehun karena saat dulu ia selalu melindungi Sehun dan membela namja berotak jenius itu.

Ada juga para siswi yang menggunjing dirinya dan mangatakan jika Luhan sejak awal sudah tahu jika Oh Sehun itu pewaris Tyrone dan sengaja mendekatinya dengan cara membelanya karena yang mereka ketahui Dominica Company dan Tyrone Group menjalin kerjasama yang cukup erat.

"Dasar penggosip murahan! Kalau aku tahu darimana asal berita ini aku pasti akan merobek mulutnya!" Umpat Baekhyun dengan mata yang berkilat marah setelah mendengar berita buruk tentang Luhan dari Kyungsoo dan Yixing.

"Ehh.. sudahlah, biarkan mereka berkata sesuka mereka. Kenyataannya tidak begitu kan? Biarkan saja. Aku tak peduli" ucap Luhan tak menghiraukan gossip miring tentang dirinya.

"Tapi kami peduli, Lu" ujar Yixing lembut.

"Hmm.. aku juga tidak terima mereka berkata sesuka mereka. Itu kan tidak benar Lu. Lagipula kau kan mengenal Sehun sebelum kau tahu dia itu siapa sebenarnya. Mereka tak berhak bicara seperti itu, Luhanie" tambah Kyungsoo dengan tatapan polosnya.

"Sudahlah. Aku tidak peduli" Luhan menggedikkan bahunya acuh dan kembali memakan makanan ringannya di kantin.

"Ada seorang yeoja cantik turun dari mobil mewah tadi di depan sekolah"

"Benarkah? Siapa dia?"

"Entahlah. Aku tak jelas melihatnya. Tapi dia sangat cantik meski dari kejauhan. Kurasa akan jadi sangat popular seperti Baekhyun, Yixing, Luhan dan Kyungsoo"

"Cantikan mana dengan Luhan?"

"Entahlah. Luhan itu sangat manis dan yeoja yang kulihat tadi terlihat cantik. Mungkin mereka sama. Setara"

"Tapi kurasa status nya tak akan bisa menyamai Luhan"

"Hey kalian membicarakan apa?"

"Tentang yeoja baru berambut merah itu"

"Maksud kalian Sandara Park? Kudengar dia masuk kelas seni. Beruntung sekali yang kelas seni bisa satu kelas dengan model terkenal"

DEG

Jantung Kyungsoo serasa mau copot dari tempatnya ketika mendengar nama Sandara disebut. Ia tak mungkin salah dengar. Lagipula tadi mereka menyebut model terkenal kan?

'Astaga! Ini gawat! Untuk apa mantan kekasih Oh Sehun itu muncul lagi? Apa dia mau mengambil Oh Sehun lagi? Ini tak boleh terjadi' batin Kyungsoo yang wajahnya langsut memucat.

"Aku harus pergi sebentar" ucap Kyungsoo canggung kemudian berlari meninggalkan cafetaria dan menghubungi Jongin untuk segera menemuinya.

"Ada apa sih? Kau membuatku terganggu" gerutu Jongin asal sementara Kyungsoo tak mempedulikan ucapan Jongin.

"Ini lebih penting dari rutinitas pagimu" cecar Kyungsoo kesal.

"Apa sih yang lebih penting itu?" Kai bertanya dengan nada sarkastis yang menyebalkan membuat Kyungsoo ingin mencelupkan kepala Jongin kedalam larutan asam lambung.

"Sandara Park ada disini" singkat, padat, jelas. Namun mampu membuat Kai tercengang dan tubuhnya menegang, jantungnya bekerja dua kali lebih cepat dari yang seharusnya. Ia panik.

"Kau bercanda? Bagaimana kau tahu?" Tanya Kai dengan nada bicara yang meninggi dan Kyungsoo tak suka itu.

"Aku memang tak melihatnya secara langsung, aku dengar dari beberapa siswi yang bergosip di cafetaria. Semuanya juga pasti tahu model terkenal macam Sandara jadi gosipnya menyebar cepat dan aku kaget kenapa kau bisa tak tahu"

Kai terdiam tengah berfikir keras. Apa yang harus ia lakukan agar Sehun tak bertemu dengan Sandara? Kenapa ini terjadi sekarang disaat perasaan Sehun masih goyah.

"Kai, kau akan lakukan apa?" Desak Kyungsoo panik.

"Memangnya apa yang bisa ku lakukan selain menunggu waktu? Ini tak bisa kita cegah, Kyung. Kecuali..."

"Kecuali?" Tanya Kyungsoo penasaran tapi Kai tak juga melanjutkan ucapannya dan dia malah menatap Kyungsoo seakan menyuruh Kyungsoo untuk berfikir sendiri.

"Baekhyun" jawab Kyungsoo pada akhirnya.

"Benar. Baekhyun yang bisa menjauhkan Sandara dari Korea" balas Kai sambil mengangguk pasti.

Alasan kenapa Baekhyun adalah kuncinya yaitu karena agensi tempat Sandara bernaung saat ini adalah milik keluarga Baekhyun, Byureong Entertainment atau lebih sering di sebut BRY Entertainment adalah milik keluarga Byun, salah satu aset yang akan diwariskan pada Byun Baekhyun.

"Kita harus buat Sandara sibuk di negara lain karena kontrak"

"Kuharap kita bisa sebelum Oh Sehun jatuh lagi ke tangan Sandara karena jika itu terjadi maka akan sangat sulit menjauhkan Sandara dari Sehun."

.

.

.

Luhan benar-benar kesal pada Jongin. Kesalnya bukan main. Jongin bilang keputusannya untuk melibatkan ia dan Sehun dalam acara amal beberapa hari lagi adalah 'kejutan'?

Yang benar saja!

"Kurasa Kim Jong In perlu dibawa ke psikiater" sungut Luhan sambil menuruni tangga menuju ke kelasnya.

BRUK

Luhan mengaduh sakit ketika tubuhnya terpental ke pinggiran tangga yang terbuat dari besi akibat dari seseorang yang menabraknya dari arah depan.

"hei! Kalau jalan hati-hati!" Gerutu Luhan. Dan bukannya minta maaf, yeoja itu malah menatap Luhan tidak suka kemudian pergi begitu saja membuat Luhan menganga tak percaya.

"Apa-apaan yeoja itu" cecar Luhan kesal. "Dasar yeoja tak punya sopan santun" lanjutnya sambil kembali melanjutkan langkah menuju kelasnya karena bel pelajaran pertama sudah berdentang 15 menit yang lalu.

"Tapi, aku tak pernah melihatnya" gumam Luhan lagi karena baru menyadari jika yeoja yang menabraknya tadi terasa asing di sekolah ini meski ia juga termasuk siswi baru namun yang ia tahu tidak ada siswi di Tyrone yang berpenampilan mencolok dengan rambut berwarna merah terang seperti yeoja barusan.

Luhan menggedikan bahunya tak peduli kemudian segera berlari kecil menuju kelasnya takut jika seonsaengnim sudah masuk.

SREK

Luhan menggeser pintu kelasnya pelan dan ketika pintu terbuka, semua mata langsung tertuju pada sosok Luhan termasuk Jang Wooyoung seonsaengnim.

"Jweosonghamnida, seonsaengnim" Luhan beberapa kali membungkuk ke arah guru tampan yang mengajar bahasa Inggris itu dengan sopan dan hanya dibalas senyum maklum dari Jang seonsaengnim.

"Gwaenchanha. Lain kali jangan sampai terlambat, nona Xi. Silahkan duduk di bangkumu" titah Jang seonsaengnim ramah membuat Luhan tersenyum lebar kemudian segera duduk di sebelah Yixing.

Semua guru memang selalu memperlakukan para putra-putri para konglomerat yang ada disini dengan spesial berbeda dengan siswa-siswi yang hanya berasal dari keluarga biasa.

"Kenapa telat?" Bisik Yixing dengan tatapan tetap lurus kedepan.

"Aku habis dari perpustakaan dulu ditambah tadi ada seseorang yang menabrak ku di tangga" jawab Luhan balas berbisik sambil menyalin apa yang Jang seonsaengnim tulis di papan tulis kedalam buku catatannya.

"Jinjja? Siapa yang menabrak mu?" Tanya Yixing antusias dan kali ini mengalihkan tatapannya pada Luhan.

"Entahlah. Yeoja berambut merah yang tak tahu sopan santun. Aku tak pernah melihatnya di sekolah ini, mungkin dia anak baru" jawab Luhan tak peduli.

"Hmm.. kalau aku jadi kau aku akan mendorongnya balik" ucap Yixing yang lupa tak mengecilkan volume suaranya membuat beberapa siswa siswi yang duduk tak jauh dari bangkunya dan Luhan langsung menatap ke arah Yixing begitupun Jang seonsaengnim.

Jang seonsaengnim berdehem cukup keras kemudian menatap Yixing dengan tatapan ramahnya seperti biasanya "Nona Zhang, bagaimana kalau kau menyimpulkan rumus kalimat yang kutulis di depan?" Pinta Jang seonsaengnim tenang namun penuh aura intimidatif.

Yixing mengumpat dalam hati. Seharusnya ia tahu watak Jang seonsaengnim.

Guru tampan yang masih terbilang muda itu memang baik, ramah dan tak pernah marah pada siswa siswi yang melakukan pelanggaran saat pelajarannya namun sebagai gantinya ia akan menyuruh siswa atau siswi yang melakukan pelanggaran untuk mengerjakan soal di papan tulis atau menerangkan kembali materi yang telah ia berikan. Dan Yixing sudah kena hukuman tidak langsung dari Jang seonsaengnim ini sebanyak 3 kali selama ia berada di kelas 12.

"Ye, seonsaengnim" jawab Yixing enggan kemudian maju ke depan dan menuliskan rumus kalimat yang di tulis Jang seonsaengnim di papan tulis.

...

Sehun merasa dunia berhenti berputar saat ini juga ketika ia bertemu pandang dan bertatapan langsung dengan seorang yeoja yang selalu ia puja dan selalu ia rindukan selama ini.

"Kau kah itu, Sandara Park?" Tanya Sehun dengan suara tercekat. Sandara tersenyum manis bahkan sangat manis pada Oh Sehun dan berjalan mendekat kearah namja berambut putih itu hingga jarak mereka tinggal satu langkah saja.

"Ya, ini aku Sehunie" Sandara langsung memeluk Sehun dengan erat tanpa mempedulikan reaksi namja itu sendiri ataupun pendapat orang lain yang mungkin melihat skinship diantara mereka berdua termasuk Luhan yang tak sengaja lewat dan langsung mematung di balik tembok ketika melihat adegan menyakitkan itu.

"Waeyo, Hun-ah?" Tanya Sandara dengan nada manja nya sementara Sehun masih mematung karena terlalu shock "mianhae aku meninggalkanmu waktu itu, aku hanya emosi saat itu, Hunie" lanjutnya lagi sambil bergelayut manja di tangan Sehun.

Luhan tidak mau melihat adegan ini lagi. Ini begitu menyakitkan. Ia pun akhirnya memutuskan berbalik pergi dari lorong lantai 3 itu.

"Sehun mungkin sudah menemukan yang ia cari"

.

.

.

Semenjak kejadian yang membuat identitas Sehun terbongkar, Kai, Joonmyeon dan Chanyeol jadi suka menempel pada Baekhyun CS meskipun Baekhyun tak pernah menganggap Chanyeol ada.

"Yak! Jangan bermesraan di hadapan kami, eo!" Teriak Baekhyun jengah saat melihat adegan romantis antara Yixing dan Suho yang saling menyuapi.

Sejak kejadian di taman waktu itu, mereka semakin dekat dan akhirnya menjalin sebuah hubungan.

"Kau tidak perlu sirik, sayang. Aku bisa melakukan yang lebih dari itu" ujar Chanyeol menimpali namun Baekhyun bersikap seolah tidak mendengar apapun.

"Luhan, kau kenapa? Kenapa diam saja?" Tanya Kai yang merasa Luhan sedikit aneh, mereka semua pun langsung mengalihkan pandangannya pada Luhan yang diam di sebelah Baekhyun sedari tadi.

Luhan tetap terdiam meski kini semua tatapan teman-temannya itu terfokus padanya. Ia tak merasa risih sedikitpun.

"Dimana Sehun? Kenapa tidak disini?" Tanya Joonmyeon yang tak sadar jika Luhan rasanya ingin menangis saat itu juga ketika mendengar nama itu dikumandangkan.

"Dia sudah menemukan apa yang ia cari" jawab Luhan lemah. Kentara sekali jika ia menahan suaranya yang bergetar.

"Apa yang ia cari?" Tanya Kyungsoo yang mulai berwajah pucat karena takut jika saja Luhan sudah tahu tentang Sehun dan Sandara karena sialnya Sandara malah satu kelas dengannya dan ia langsung tidak suka pada Sandara melihat bagaimana sikap angkuhnya.

Kyungsoo tak pernah merasa suka sedikitpun pada yeoja itu hanya karena ia seorang model terkenal. Ia bukan seorang penjilat seperti siswi lain yang mendekati Sandara karena ingin berteman dengan seorang artis terkenal.

"Ia telah menemukan cintanya"

DEG

Semua yang ada di meja cafetaria bersama Luhan langsung terdiam menatap Luhan sedih.

Rahang Kai mengeras menyadari jika Luhan sudah melihat atau mungkin tahu tentang Sehun dan Sandara.

"Kita harus bicara" ucap Kai dengan nada memerintah, Kai berdiri dan bersiap untuk pergi namun Baekhyun menahan lengan Kai dengan keras dan cepat.

"Bicaralah disini! Di depan kami! Kami juga berhak tahu!" Ucap Baekhyun tegas.

Kai pun menghela nafas kasar kemudian kembali duduk dengan wajah datar membuat Kyungsoo meringis. Baru saja beberapa saat lalu Kai tertawa bersama mereka namun sekarang Kai berubah dingin kembali seperti biasanya.

'Kenapa Kai begitu sensitif jika tentang Sehun?' Batin Kyungsoo heran.

"Katakan!" Desak Baekhyun dengan wajah sangarnya namun Kai tetap terdiam.

"Biar aku saja" ucap Chanyeol ambil alih membuat mereka menatap Chanyeol namun tidak untuk Baekhyun.

"Aku meminta Kai bukan orang lain" sinis Baekhyun sementara Chanyeol hanya menatap Baekhyun lirih. Baekhyun masih membencinya.

"Maafkan aku Lu. Semuanya begitu complications. Semuanya bersangkutan satu sama lain" ucap Kai mengawali ceritanya dan Luhan hanya terdiam menunggu Kai melanjutkan ceritanya.

Kai pun mulai membeberkan semuanya tentang Sehun di mulai dari bagaimana keluarganya dulu sebelum seperti sekarang, bagaimana sikap Sehun dulu dan bagaimana kisah asmara Sehun dengan Sandara dan berakhir dengan cerita Kai tentang Sandara yang meninggalkan Sehun membuat Sehun berubah secara keseluruhan.

"Jadi, dia berubah karena yeoja itu?" Tanya Yixing buka suara setelah dari tadi hanya diam mendengarkan.

"Hmm, dan sekarang aku benar-benar bingung harus bagaimana agar Sehun tak kembali terjebak dalam kebohongan yeoja busuk itu" geram Kai mengepalkan tangannya erat.

"Dia cinta pertamanya?" Itu suara Luhan dan itu sangat terdengar menyedihkan bagi mereka yang mendenarnya.

"Aku tak tahu harus bilang apa. Yang kuharapkan darimu adalah kau bisa memalingkan hati Sehun dari yeoja gila harta itu karena aku yakin Sehun mulai menaruh hati padamu"

"Itu hanya omong kosong, Jongin" Luhan berdiri dan berjalan keluar dari cafetaria sendirian membuat teman-temannya kaget dan hampir mengejar Luhan namun suara Chanyeol menginterupsi.

"Biarkan dia sendiri. Ia mungkin masih sedih"

.

.

.

Luhan berjalan dengan langkah gontai menuju aula latihan dance. Rencananya hari ini dia, Sehun, Kai dan Kyungsoo akan latihan bersama untuk memastikan tak ada gerakan yang salah.

2 hari lagi mereka gladi resik di panggung pertunjukan amal yang sebenarnya dan mereka harus mempersiapkan segalanya agar pertunjukan amal yang hasilnya akan di sumbangkan nantinya ke panti asuhan itu berjalan lancar.

Luhan merasa hatinya tertohok ketika melihat Sandara juga ada di aula latihan dengan Sehun yang mengobrol bersamanya.

Jelas-jelas Luhan lihat jika tatapan Sehun sangat penuh arti pada model terkenal itu.

'Dia cantik, tubuhnya juga bagus. Dia pantas untuk Sehun' batin Luhan sedih dan memalingkan wajahnya dari pemandangan menyakitkan itu dan beralih menghampiri Kyungsoo dan Jongin yang tengah berbicang dan seperti tengah menjauh dari Sehun dan Sandara. Sepertinya dua manusia itu tidak menyukai skinship antara Sehun dan Sandara.

"Hai" sapa Luhan pelan membuat atensi kedua manusia yang tengah PDKT itu teralihkan pada sosok mungil Luhan yang tampil begitu cantik siang ini dengan mini dress selutut nya, rambutnya di gelung ke atas membuat leher jenjang nya tereskpos.

"Jangan sedih, Lu" bujuk Kyungsoo lembut ketika melihat senyum terpaksa dari bibir kecil Luhan.

"Oh Sehun! Ayo kita mulai latihannya" Kai menginterupsi obrolan Sandara dan Sehun yang menyebabkan Sandara mendengus kesal pada Kai.

'Cihh, dia selalu saja menganggu' batin Sandara sambil menatap Kai tajam.

Kai memang tidak pernah menyukai Sandara sejak dulu dan Sandara selalu berpura-pura baik pada Kai padahal dalam hatinya ia juga membenci Kai karena ia menganggap Kai itu pengganggu karena selalu berusaha meruntuhkan cinta Sehun padanya.

"Hei, kau lebih baik pergi dari tempat ini" usir Kai tajam dan langsung mendapat tatapan dingin dari Sehun.

"Aku yang menyuruhnya menemaniku disini" bela Sehun membuat hati Luhan berdenyut nyeri. Lihatlah cara Sehun membela Sandara Park.

"Aku tidak suka ada pengganggu di ruang latihan ku" kata Kai dingin, datar nan sinis.

"Kai sudahlah" bisik Luhan sambil menahan tangan Kai.

"Aku tak suka melihatnya, Lu" jawab Kai sinis.

"Buat apa sih kau bawa dia kemari?" Tanya Kai tidak suka sementara Sehun terlihat mengepalkan tangannya.

Padahal beberapa hari kemarin mereka sudah mulai akrab namun sekarang mereka kembali ribut karena seorang yeoja yang tak penting.

"Memangnya kenapa? Ini tempat umum Kai!"

"Tapi tempat ini tanggung jawabku! Aku tidak suka kau membawa parasit kedalam aula latihan ku!" Ucap Kai sambil menunjuk-nunjuk Sandara yang berdiri di belakang Sehun seolah mencari perlindungan namja itu.

"Dia bukan parasit, Kai!" Teriak Sehun geram. Ia merasa marah ketika Kai menghina yeoja nya. Ya, Sehun kembali berhubungan dengan Sandara.

"Tapi bagiku dia segalanya!"

DEG

Luhan kembali menunduk dalam diam. Hatinya terasa di hujami puluhan tombak dan itu rasanya sangat menyakitkan.

"Kau pilih keluarkan dia dari aula ku atau kau yang keluar dari club ku!"

"KAI! Apa yang kau katakan?" Bentak Kyungsoo reflex. Mereka tak mungkin kehilangan Sehun sementara sebentar lagi pertunjukannya akan di selenggarakan.

"Arasseo. Aku keluar dari club mu, Kai!" Ucap Sehun final sambil menatap Kai tajam kemudian menarik tangan Sandara untuk pergi dari aula latihan tanpa menengok ke arah Luhan sedikitpun.

"Uljima, Luhan-ah. Jangan tangisi namja bodoh itu" ujar Kai setelah melihat linangan air mata di wajah Luhan dan Sandara barusan mendengar itu sebelum ia ditarik keluar oleh namjachingu nya.

'Jadi yeoja itu yang digossipkan dekat dengan Sehun-ku?' Batin Sandara dengan senyum meremehkan.

"Kita bisa ganti posisinya" ucap Kai membuat Kyungsoo menatapnya tajam.

"Apa? Dengan siapa, Kai?" Tanya Kyungsoo dengan nada membentak.

"Lee Taemin"

.

.

.

"Luhan noona" Luhan tak menoleh sedikitpun saat ia mendengar suara Mino yang masuk kedalam ruang musik dimana Luhan tengah merenung sendirian di balkon ruang musik.

"Luhan noona, gwaenchanha?" Tanya Mino sambil berdiri di sebelah Luhan dan menatap Luhan khawatir.

Luhan tetap terdiam seperti tak berniat menjawab ucapan Minho sedikitpun. Hatinya terlalu sakit untuk sekedar menyuarakan isi hatinya saja.

"Aku mendengar berita itu. Cinta segitiga. Itu tak benar kan, noona?" Tanya Mino tak sabaran.

"Aku tidak ingin membahasnya" jawab Luhan pelan, nyaris berbisik.

"Mianhae, noona" sesal Mino kemudian terdiam beberapa lama karena bingung harus membicarakan apa dengan Luhan.

"Noona, bagaimana jika ada seseorang yang menyukaimu?" Tanya Mino tiba-tiba membuat Luhan kaget dan menoleh pada hoobae manisnya itu.

"Siapa?" Tanya Luhan dengan tawa kecilnya.

"Aku"

...

Sehun membuka pintu ruangan yang bertuliskan 'Music Room' dengan perlahan kemudian memasuki ruangan itu setelah celingukan mencari orang yang berada di dalamnya tapi sepertinya ia mengira di ruangan ini tidak ada orang padahal di balkon yang terhalangi oleh gorden putih yang sedikit transparan itu terdapat Mino dan Luhan yang masih tetap bertahan dalam keterdiaman di antara mereka.

Ia berniat meminjam sebuah gitar dari ruang seni, niatnya ia akan memainkan gitar untuk kekasihnya, Sandara Park.

Tangan Sehun hampir menggapai sebuah gitar berwarna hitam yang terletak di pojok ruangan tapi gerakannya terhenti ketika mendengar sebuah suara namja dari arah balkon, Sehun menolehkan kepalanya ke arah balkon dan menyipitkan matanya, ia pun bisa melihat 2 orang yang tengah berdiri membelakangi nya di balkon dan ia yakin jika salah satu di antara dua manusia beda jenis itu adalah Xi Luhan.

"Noona, bagaimana jika ada seseorang yang menyukaimu?"

Sehun mencoba mengenali siapa namja yang tingginya setara dengan Luhan itu namun ia tak tahu siapa namja itu, yang ia tahu sepertinya namja itu seorang hoobae karena barusan ia memanggil Luhan dengan sebutan 'noona'.

"Siapa?" Itu benar-benar suara Luhan dan Sehun merasa Luhan tengah terkikik namun terdengar ganjal, seperti tengah menyembunyikan kesedihan.

"Aku"

Hati Sehun mencelos ketika mendengar namja itu menunjuk dirinya sendiri dan sepertinya namja itu tersenyum pada Luhan sementara Luhan masih blank seolah tengah memproses ucapan namja barusan.

Luhan akhirnya hanya menanggapi ucapan sang hoobae dengan tawa garingnya sambil memukul pelan lengan namja manis itu.

'Seberapa dekat Luhan dengannya?' Batin Sehun sedikit tak suka.

Namun, apakah yang menyebabkan dirinya tak menyukai interaksi diantara Luhan dan Mino yang begitu terlihat akrab itu?

Sehun menggelengkan kepalanya keras-keras. Untuk apa ia peduli? Ia sudah punya sosok Sandara yang selama ini di tunggunya.

Namun, kenapa rasanya ada yang hampa dalam diri Sehun? Ia merasa jantungnya tak seheboh dulu ketika bertatap muka dengan Sandara. Justru ia akan merasa jantungnya memompa lebih cepat dari biasanya ketika bertemu Luhan, begitu pun saat ini namun kali ini justru rasanya seperti menelan pil pahit.

'Tidak, ini tidak benar'

Sehun menggelengkan kepalanya beberapa kali demi mengusir pikiran-pikiran aneh tentang Luhan kemudian memutuskan untuk meninggalkan ruang musik tanpa membawa gitar yang tadi ia cari dan malah memilih pergi sebelum Luhan ataupun namja yang tidak ia kenal itu menyadari keberadaannya dan menyangka ia tengah menguping atau mengintip. Itu tidak berkelas, heol~

...

"Sehun, mana gitarnya?" Tanya Sandara sambil mengerutkan keningnya bingung saat Sehun kembali ke hadapannya dengan tangan kosong.

"Pintu ruang musiknya dikunci" dusta Sehun dengan wajah datarnya.

"Oh Sehun, kita harus pulang. Appa menyuruh kita pulang" Kai tiba-tiba saja datang dengan menggendong tas miliknya dan berbicara tanpa menatap Sehun apalagi menatap Sandara, ia cukup muak dengan gadis naif itu.

"Untuk apa?" Pertanyaan yang singkat terlontar begitu saja dari bibir Sehun, ia tak suka pulang lebih awal dan meninggalkan beberapa jam pelajaran nantinya, apalagi ini baru jam 12 dan dia otomatis akan meninggalkan 4 jam pelajaran jika ia pulang.

"Acara keluarga dadakan" jawab Kai cuek.

"Baiklah. Tunggu aku di parkiran" ucapnya final dan Kai pun meninggalkan mereka berdua lagi di taman depan sekolah.

"Dara-ya, mianhae.. aku harus pulang duluan, ne?" Ujar Sehun lembut.

"Hmm. Gwaenchanha, Hun-ah" jawabnya dengan wajah sok polos.

"Baiklah, aku pergi dulu. Bye~" Sehun mengacak pelan surai merah kekasihnya sebelum akhirnya pergi meninggalkan Sandara sendirian di taman.

Di koridor lantai 2 sana, Luhan dapat melihat adegan manis Sehun dan Sandara itu yang membuat ia kesal setengah mati.

"Apa aku pindah sekolah saja ya"

.

.

.

Setelah Sehun pulang, Sandara pun bergegas mencari orang yang ia cari yaitu Luhan.

Ia merasa jika dirinya harus memberi peringatan pada Luhan setelah melihat dan mendengar dari gossip yang beredar jika sebelum ia pindah sekolah kesini, Sehun sempat dekat dengan Luhan.

"Xi Luhan"

Sandara tersenyum miring ketika melihat Luhan yang tengah mengobrol dengan Mino di balkon lantai 2.

Ya, sedari tadi Mino memang selalu menempel padanya entah mau apa anak itu.

Luhan yang tengah tertawa akibat lelucon Mino pun langsung menoleh pada Sandara dan ketika tatapan mereka bertemu, tawa Luhan langsung hilang digantikan dengan wajah dingin dan datarnya.

"Dia kan Sandara Park" gumam Mino kemudian melirik Luhan dan ekspresi Luhan saat ini membuat Mino mengerti jika noona yang ia sukai itu tidak menyukai kehadiran Sandara.

"Bisa kita bicara?" Tanya Sandara dengan wajah angkuhnya.

"Mino, sebaiknya kau pergi duluan" titah Luhan namun Mino malah merengut tidak suka.

"Tapi noona-"

"Sebentar saja, Mino. Dia ingin bicara denganku" potong Luhan dengan tatapan yang sarat akan perintah.

"Baiklah, noona" jawab Mino pada akhirnya, ia pun pergi meninggalkan Sandara dan Luhan meski sebenarnya ia tak benar-benar pergi dari tempat itu, ia bersembunyi di balik tembok yang cukup jauh dari tempat Luhan dan Sandara berada, ia hanya khawatir pada Luhan karena yang ia tahu Sandara itu kekasih Oh Sehun sekarang dan feelingnya mengatakan jika Sandara akan membicarakan tentang Sehun dengan Luhan noona-nya.

"Kita langsung saja ke intinya. Aku tak suka basa basi" ucap Sandara angkuh seakan ia adalah penguasa.

"Silahkan" jawab Luhan seadanya dengan nada tak bersahabat.

"Aku ingin kau jauhi Sehun-KU"

"Untuk apa? Kami berteman dan kau tak ada hak menyuruhku menjauhi Oh Sehun. Dia temanku" sangkal Luhan menatap tajam pada Sandara tanpa rasa takut sedikitpun.

"Aku yeojachingu Oh Sehun dan aku berhak menyuruh mu menjauhinya!" Bentak Sandara membuat Luhan emosi bukan main.

"Aku tak peduli meski kau yeojachingu nya! Sehun itu temanku dan aku tak akan menjauh darinya. Kau tak berhak mengatur apa yang harus kulakukan!"

Luhan melangkah pergi hendak meninggalkan Sandara namun yeoja itu segera menahan lengan Luhan hingga langkah Luhan terhenti namun tetap tak menatap yeoja itu.

Mulai sekarang Sandara Park akan masuk kedalam list orang yang ia benci. Camkan itu.

"Kita belum selesai, Xi Luhan" desis Sandara sambil menatap Luhan tajam.

"Aku tidak pernah punya urusan denganmu" Luhan menghempaskan tangan Sandara kasar dan keras kemudian kembali melanjutkan langkahnya dengan cepat membuat Sandara geram.

"Awas saja kau, Xi Luhan"

.

.

.

Luhan memelankan kecepatan berjalannya setelah ia merasa jauh dari para pengawal penyebalkannya termasuk Jonghyun.

Ia berdiri di depan sebuah toko aksesoris yang cukup besar.

Luhan pun memutuskan untuk masuk kedalam toko aksesoris itu dan melihat-lihat isi toko itu meski sebenarnya ia tak suka memakai aksesoris yang feminim.

"Luhan, apa yang kau lakukan disini?" Tanya Sehun yang tiba-tiba muncul dari belakang Luhan membuat empunya kaget dan segera berbalik.

"Oh Sehun" gumam Luhan dengan mata yang sedikit melebar. Buat apa Sehun berada di tempat seperti ini? Ia kan namja, "kau sendiri sedang apa?" Tanya Luhan balik berusaha bersikap seolah tidak ada apa-apa padahal hatinya sakit ketika melihat Sehun.

"Aku tengah membelikan sesuatu untuk Sandara" jawab Sehun dengan senyum menawannya, kentara sekali jika namja itu sangat antusias dan bahagia ketika menceritakan tentang kekasihnya tanpa tahu jika Luhan merasa sakit mendengarnya.

"Oh ya? Apa yang mau kau beli?" Tanya Luhan berusaha tersenyum meski itu terlihat menyedihkan.

"Entahlah, aku juga tidak tahu. Ayo bantu aku mencari sesuatu yang bagus" Sehun dengan refleks menarik tangan Luhan dan berjalan semakin dalam menelusuri isi toko itu.

"Aku tidak tahu selera wanita sepertinya" ucap Luhan pelan menahan tangisnya.

Tak tahukah Sehun jika tadi Sandara bersikap kasar pada Luhan? Dan apa yang akan dilakukan Sehun pada Sandara jika tahu Sandara berbicara kasar pada Luhan yang notabene nya adalah temannya? Apakah ia juga akan diam saja?

"Aku yakin seleramu bagus, Lu" ucap Sehun gembira dan tetap memaksa Luhan untuk menemaninya.

...

Jam sudah menunjukan pukul 7 malam namun Luhan dan Sehun belum juga membubarkan diri. Mereka sekarang malah duduk di kursi taman sambil menikmati ice cream mereka meski dalam keadaan canggung.

"Maafkan aku soal di ruang latihan itu" ujar Sehun menyesal. Entah kenapa ia merasa emosi saja saat Kai menyebut Sandara adalah parasit meski sebenarnya sebagian diri Sehun yang masih sadar membenarkan hal itu namun karena hati Sehun telah ditutupi oleh kebohongan Sandara, ia pun menolak keras asumsi itu.

"Tidak apa, Lee Taemin yang menggantikanmu" jawab Luhan sambil tersenyum tipis tanpa memandang Sehun yang duduk di sebelahnya.

Tak dipungkiri oleh namja berambut putih itu jika sebenarnya ia merasa teramat nyaman bisa duduk tenang dan berdekatan dengan Luhan, tapi ia hanya menganggap itu sebagai rasa nyaman saat berada di dekat teman.

"Oh begitu"

Dan mereka kembali terdiam dengan keadaan canggung.

Hati kecil Sehun rasanya tak terima ketika mendengar posisinya digantikan oleh namja lain yang akan menjadi pasangan Luhan dalam dance couple nanti, seharusnya itu dirinya. Namun karena Sandara, ia jadi harus merelakan posisi itu.

Entahlah, ia merasa hanya tak rela saja melihatnya nanti apalagi didalam gerakannya ada beberapa kontak fisik seperti berpegangan tangan atau saling merangkul.

'Apa yang kufikirkan. Aku sudah ada Sandara. Luhan hanya teman, ya hanya teman' batin Sehun melawan sisi lain dalam dirinya yang memberontak dengan keputusannya itu.

"Nona muda" panggil Jonghyun sambil menghela nafas lega ketika berhasil menemukan nona muda nya yang belakangan ini sering kabur dari pengawasannya itu tengah duduk di taman bersama seorang namja yang ia tahu adalah putra kandung sekaligus putra sulung dari tuan Oh Se Yong.

"Ahh, Jonghyun-sshi" gumam Luhan ketika melihat Jonghyun berlari kecil ke arahnya dengan wajah setengah panik dan setengah lega.

"Mari pulang, nona muda. Anda melewatkan makan malam anda" ucap Jonghyun cemas namun tetap tak menghilangkan rasa hormatnya yang teramat besar itu pada Luhan.

"Baiklah, aku akan pulang. Maaf sudah membuat kalian kelabakan mencariku" sesal Luhan sambil meringis kecil melihat deretan pengawalnya yang berdiri di belakang Jonghyun.

"Tidak masalah, nona. Itu tugas kami" jawab Jonghyun lembut.

"Sehun, aku pulang dulu. Semoga Sandara-sshi menyukai apa yang tadi kau beli" ujar Luhan yang menolehkan kepalanya sedikit ke arah Sehun tanpa membalikkan tubuhnya yang berdiri membelakangi namja itu.

Ia hanya tak ingin Sehun melihat raut sedihnya.

Luhan pun melangkah pergi meninggalkan Sehun di taman itu sendirian tanpa tahu jika Sehun merasa ada yang janggal dengan sikap Luhan akhir-akhir ini setelah Sandara kembali lagi ke sisinya.

.

.

.

Musim telah berganti, memasuki bulan Desember butiran salju mulai turun dan hari natal tinggal beberapa hari lagi namun keluarga Byun yang merupakan Atheis tidak menyiapkan apapun karena mereka tentunya tak akan merayakan hari natal.

Sore ini Baekhyun terlihat sangat bersemangat mengayuh sepedanya menuju areal sungai Han yang cukup jauh dari tempat tinggalnya.

Ia pergi tanpa dikawal oleh siapapun karena ini permintaannya, sesekali ia ingin coba hidup bebas seperti orang lain dan menjalankan aktivitas sehari-harinya dengan tanpa diikuti oleh para namja bertubuh tegap itu.

Baekhyun sedari tadi tak sadar jika sebuah mobil sedan membuntuti nya dari kejauhan dan mengawasi setiap gerak-gerik Baekhyun.

Ketika Baekhyun berbelok ke sebuah jalan, mobil itu pun segera memasuki jalan yang sama dengan Baekhyun yang jalanannya hampir tertutup salju.

Seketika mobil itu berhenti dan keluarlah tiga namja bertubuh tegap dengan kacamata hitam mereka sambil berlari menyusul Baekhyun yang ada beberapa meter dari tempat mobil mereka berhenti.

GREP

seseorang diantara mereka menghadang jalan Baekhyun dan memegang bagian depan sepedanya dengan erat membuat Baekhyun reflex mengerem.

"Astaga, anda ini apa-apaan" ucap Baekhyun kesal, untung saja ia tak tergelincir jatuh dari sepeda karena jalanan cukup licin.

"Maaf nona, mari anda ikut kami" ucap namja lainnya yang kini memegangi tangan kanan Baekhyun sementara yang satunya memegangi tangan kirinya membuat Baekhyun kaget dan reflex berontak.

"Siapa kalian? Lepaskan aku, eo!" Baekhyun kembali berontak sekuat tenaga namun tenaga ketiga namja bertubuh tinggi itu bukanlah tandingannya.

Salah satu diantara mereka menutup mata Baekhyun dengan sapu tangan dan membekap mulut Baekhyun dengan sapu tangan lain yang membuat Baekhyun tidak bisa berbicara dan hanya pasrah ketika orang-orang yang tak ia kenal itu menyeretnya untuk memasuki mobil.

Baekhyun merasa kesadarannya masih terjaga dan artinya disapu tangan yang dipakai untuk menyumpal mulutnya itu tidak terdapat obat bius.

Baekhyun awalnya heran dengan itu. Jika mereka berniat menculik Baekhyun pasti akan menaruh obat bius di sapu tangannya tapi ini tidak.

10 menit berlalu dan Baekhyun merasakan jika mobil yang ia naiki berhenti bergerak dan mesinnya pun sudah tak terdengar berdengung lagi di telinganya.

Baekhyun kembali merasa seseorang menariknya keluar mobil namun kali ini lebih lembut dan hati-hati tapi tetap terkesan memaksa karena cengkraman pada lengannya tak bisa dikatakan pelan membuat Baekhyun tetap tak bisa memberontak. Ia sudah pasrah sekarang.

'Apakah orang-orang ini akan membunuhku? Tapi kenapa? Apa salahku?' Batin Baekhyun yang kini merasa ketakutan.

Langkah Baekhyun terhenti ketika dua orang yang menyeretnya itu juga berhenti melangkah.

Satu orang lagi yang tadi menyumpal mulut Baekhyun kini kembali melepaskan sumpalan pada mulut Baekhyun membuat Baekhyun mulai mengeluarkan sumpah serapahnya.

Indra pendengarannya mendengar seperti ada sebuah jentikan jari yang keras dan entah kenapa jentikan jari itu terasa sangat familiar meski mungkin bagi orang lain jentikan jari itu terdengar biasa saja.

Setelah jentikan jari yang terasa familiar itu, ia merasa penutup matanya di lepas dan dua orang yang memegangi kedua lengannya pun kini melepaskan cengkraman mereka.

Baekhyun mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya redup yang memasuki retina matanya itu karena sepertinya hari sekarang sudah gelap.

Baekhyun membelalakkan matanya tak percaya ketika melihat rentetan lilin yang membentuk hati dimana di bagian dalam bentuk hati itu terdapat taburan bunga yang sangat indah. Ia lebih terkejut lagi ketika melihat sosok familiar yang berdiri menjulang di tengah-tengah putaran lilin.

"Selamat datang, Baekie" sapanya dengan suara bass nya yang sexy namun masih terdengar lembut dan ramah.

"C-Chanyeol" gumam Baekhyun tak percaya.

Ia lebih tidak percaya lagi dengan lilin-lilin itu yang bisa menyala di musim dingin dengan angin yang cukup kencang ini tapi api nya tidak mati sama sekali. Aneh.

"Apa yang kau lakukan?" Tanya Baekhyun dengan suara yang cukup bergetar.

"Baek.." Chanyeol melangkahkan kakinya mendekat ke arah Baekhyun dan menggapai kedua tangan yeoja sipit itu lalu menariknya lembut menuju ke tengah bagian hati yang di kelilingi lilin itu dengan sangat lembut dan hati-hati dan Baekhyun sama sekali tak menolak.

Melihat perlakuan Chanyeol dan pengorbanan nya membuat hati Baekhyun tersentuh begitu dalam.

"Baek, maafkan aku. Maafkan semua kesalahanku. Maafkan semua kesalahpahaman ini. Sungguh, aku begitu mencintaimu, Byun Baekhyun" ujar Chanyeol sambil menatap mata Baekhyun lekat begitu pun dengan Baekhyun.

"Aku mencintamu lebih dari apapun, Baek. Sungguh. Kumohon, jadilah milikku kembali" lanjutnya dengan suara rendah yang seakan membuat Baekhyun terhipnotis.

"Baek, kumohon" ucap Chanyeol memelas dengan mata yang membulat lucu bak anak anjing membuat Baekhyun gemas dan seketika hatinya luluh.

Baekhyun memukul dada bidang Chanyeol cukup keras membuat empunya meringis menahan sakit kemudian memeluk Chanyeol erat dan Chanyeol begitu terkejut dengan reaksi Baekhyun kali ini.

"Dasar manusia bodoh! Kau membuatku takut, bodoh! Kukira mereka akan membunuhku" isak Baekhyun di dada Chanyeol namun dengan senyum haru yang menghias wajah cantiknya.

"Begitukah? Apa mereka berlaku kasar padamu?" Tanya Chanyeol dengan senyum mengembang di bibir tebalnya.

"Chanyeol bodoh" gumam Baekhyun sambil memukul kecil dada bidang namja yang paling ia cintai itu.

"Jadi, kau mau jadi kekasihku kan, Baek?" Tanya Chanyeol lembut.

Baekhyun hanya menanggapinya dengan mengangguk malu-malu membuat senyum Chanyeol kian melebar dan memeluk Baekhyun semakin erat seakan takut Baekhyun kembali meninggalkannya.

"Terimakasih, Baek. Terimakasih telah memberiku kesempatan untuk bersamamu lagi. Aku berjanji akan selalu menjagamu dan mencintaimu. Aku berjanji tak akan membiarkan kesalahpahaman itu terjadi lagi. Saranghae Byun Baekhyun"

.

.

.

Keesokan harinya, semuanya terasa manis bagi Baekhyun. Pagi ini dia terus saja mengembangkan senyum lebarnya membuat orang-orang rumah yang tengah menikmati sarapan pagi menatapnya aneh.

"Baek, kau sakit?" Tanya Luhan innocent dan Baekhyun malah memukul kecil kepala Luhan dengan sumpit yang ia pegang membuat Luhan mengaduh.

"Oppa, Baekhyun jahat" adu Luhan yang memegangi lengan kekar Kris mencari perlindungan.

"Hmm.. kalian ini" ucap Kris sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia yang merasa paling dewasa di antara dua sepupu kesayangannya itu hanya mengelus surai Luhan lembut dan meniup kepalanya yang habis dipukul sumpit oleh Baekhyun tadi membuat Baekhyun mencibir.

"Makanya, segera cari kekasih jadi mengadunya sama kekasihmu jangan sama Kris oppa terus" ledek Baekhyun sambil menjulurkan lidahnya membuat Luhan mencebikkan bibirnya kesal.

"Dasar kau" sebal Luhan sambil mendelik tajam pada Baekhyun yang hanya di tanggapi oleh cengiran khas Byun Baekhyun.

...

Luhan menjinjitkan kakinya berusaha menggapai buku sastra Korea yang sudah usang pada rak buku perpustakaan paling atas namun apa daya jika tingginya tak memungkinkan untuk itu.

"Huh.. yang benar saja" gerutu Luhan kesal.

Ia asalnya hanya duduk-duduk saja di kelasnya sambil memainkan ponsel karena kegiatan belajar mengajar sudah tidak berlaku disebabkan mereka sedang berada dalam masa bebas menjelang libur semester dan beberapa hari lagi mereka yang duduk di kelas tiga resmi lulus dari Tyrone SHS dan meneruskan ke jenjang yang lebih tinggi.

Ia teramat sangat bosan kala tadi karena Yixing tidak sekolah, katanya orang tuanya datang ke Seoul dan ia menghabiskan waktunya seharian ini bersama orang tuanya di apartemennya.

Kyungsoo juga sibuk berlatih bersama Kai dan Taemin sementara dirinya akan menyusul nanti karena siang ini akan diadakan gladi resik sebelum acara besok sekaligus acara perpisahan lusa nanti.

Baekhyun juga seenak jidatnya meninggalkan ia di sekolah dan anak itu malah berkencan diluar bersama Chanyeol. Huhhh.. menyebalkan memang.

"Kalau kau merasa tak bisa menggapainya, seharusnya kau minta tolong" ujar suara yang agak serak itu dari belakang Luhan dan langsung mengambil buku yang Luhan perlukan dengan tinggi badannya yang memudahkannya melakukan itu.

Luhan kembali merasakan jantungnya berdetak tak karuan ketika mendengar suara serak itu.

Ia menolehkan kepalanya ke belakang dan wajahnya langsung bertabrakan dengan dada bidang Sehun yang tertutup jas almamater.

"Igeo" Sehun memundurkan langkahnya untuk memberi jarak di antara mereka dan menyerahkan bukunya pada Luhan dengan senyum tipis yang terukir di bibirnya.

"Gomawo" jawab Luhan lirih kemudian melewati Sehun dan duduk di sebuah bangku di sudut perpustakaan dan mulai membaca bukunya meski sebenarnya fikirannya tidak fokus karena Sehun kini malah duduk di seberangnya dan memperhatikannya.

"Apa kekasihmu menyukainya?" Tanya Luhan pelan dan memilih untuk menghentikan kegiatan membacanya karena ia tak akan fokus selama Sehun masih berada di dekatnya.

"Tidak, dia malah menyuruhku membuangnya" jawab Sehun yang terdengar tak sedih sedikitpun seakan hal itu sudah biasa terjadi.

"Mungkin dia ingin sesuatu yang lebih berkelas, Sehun. Sudah kubilang jika selera yeoja ku buruk" tukas Luhan yang sebenarnya bermasud mengatakan 'kekasihmu itu menyukai barang mahal bukan barang murahan'

"Aniya. Aku tak bilang seleramu buruk. Dia memang seperti itu, ya mungkin kau benar. Dia menyukai barang yang berkelas atau mahal mungkin" balas Sehun yang sebenarnya sudah menduga jika Luhan sudah tahu tentang masa lalunya dari Kai.

"Mungkin saja. Wanita suka di manja" Luhan tersenyum pahit ketika mengucapkan itu.

"Kau akan meneruskan sekolahmu dimana, Lu?" Tanya Sehun mengganti topik.

"Entahlah. Aku belum memutuskan" jawab Luhan bohong. Padahal dia sudah punya rencana akan sekolah dimana tapi ia menolak memberi tahu Sehun entah dengan alasan apa.

"Oh begitu" hanya itu jawaban Sehun dan Luhan merasa benci itu karena jawaban yang demikian membuat keadaan kembali hening.

"Luhan-sshi. Kai menyuruh kita latihan" tiba-tiba seorang namja berwajah hampir mirip Kai menghampiri dirinya dan Sehun dengan wajah datarnya namun terlihat imut untuk ukuran namja. Yang ia tahu namja itu sekelas dan cukup dekat dengan Kai dan namanya adalah Lee Taemin, partner barunya menggantikan Sehun.

"Baiklah. Kaja" Luhan berdiri dan menutup bukunya begitu saja "Aku duluan" pamit Luhan datar-datar saja pada Sehun kemudian mengikuti namja bersurai dark brown itu menuju ruang latihan.

CRASH

Taemin berbalik ketika mendengar suara air yang di guyurkan dan betapa terkejutnya dia melihat Sandara sudah berdiri di depan Luhan dengan tangan yang memegang cup minuman dan isinya sudah tumpah semua ke baju Luhan sampai bercecer pula di lantai.

"Apa yang kau lakukan?" Tanya Taemin sambil menarik Luhan menjauh. Entahlah, ia hanya mengingat pesan Kai saja untuk menjaga Luhan dari Sandara. Entah kenapa pula Kai menyuruhnya begitu tadi, Taemin tidak tahu.

"Pahlawan kesiangan" decih Sandara sambil menjatuhkan cup minumannya ke lantai dengan sengaja dan dengan tampang angkuhnya.

"Jaga ucapanmu, Sandara-sshi" ujar Luhan emosi setengah mati.

Sandara mendelik tajam pada Luhan dan berusaha mendorong Luhan namun Luhan tak selemah yang ia bayangkan.

Luhan justru memegang kedua tangan Sandara yang berusaha menjatuhkannya dan terjadilah ribut-ribut di antara mereka berdua dan Taemin juga bingung bagaimana cara memisahkan mereka hingga Sandara jatuh tersungkur ke lantai dengan tidak elitnya karena tak sengaja terdorong oleh Luhan yang berusaha membela dirinya dari tangan jahat Sandara.

Untung saja koridor ini sepi sehingga mereka tidak menjadi tontonan para siswa siswi penggosip

"Dara-ya!" Semua mata langsung tertuju pada Sehun yang kini berlari panik ke arah Sandara yang terjatuh di lantai.

Dan dengan akting menyebalkannya, Sandara langsung pura-pura mengaduh kesakitan dengan wajah memelas pada Sehun yang kini berjongkok di sebelahnya sambil membantu Sandara berdiri.

"Ada apa ini?" Tanya Sehun bingung ketika melihat baju Luhan kotor akibat tumpahan minuman dan kekasihnya yang terjatuh di lantai barusan.

"Sehunie, Luhan jahat padaku. Aku tadi tak sengaja menumpahkan minumanku dan dia malah marah padaku dan mendorongku padahal aku sudah minta maaf" ujar Sandara dengan wajah sok polosnya sementara Taemin dan Luhan membelalakkan matanya tak percaya.

'Bagus sekali mulut yeoja itu' fikir Taemin kesal. Kini ia mengerti kenapa Kai menyuruhnya menjaga Luhan dari Sandara.

"Luhan, kenapa kau begitu? Ia kan sudah meminta maaf" ucap Sehun ikut menghakimi Luhan padahal kenyataannya tidak begitu.

"Aku tidak melakukannya!" Bantah Luhan kesal dan ia melihat seringai tipis di wajah Sandara yang kini berlindung di dada tegap Sehun.

"Dia mungkin marah karena aku pacarmu, Hunie. Dia mungkin takut aku akan memisahkan kalian kareba kalian teman, padahal aku tidak begitu" rajuk Sandara yang membuat Luhan muak.

"Luhan-sshi, kita pergi saja" ajak Taemin yang langsung menarik tangan Luhan pergi membuat Sandara bersorak penuh kemenangan dalam hatinya.

Sedangkan Sehun masih terdiam tak bergeming, ia hanya ragu saja jika Luhan memang seperti itu karena Luhan yang ia kenal adalah Luhan yang baik dan lembut pada orang lain jadi rasanya aneh ketika Sandara bilang Luhan mendorongnya tadi.

'Rasakan kau Xi Luhan, setelah ini Sehun akan membencimu'

.

.

.

-To Be Continue-

.

.

.

a/n :

Atheis : orang yang tidak percaya akan adanya Tuhan atau dalam kata lain orang yang tidak punya agama.

Maaf ya kemaren 1 minggu lebih author telat update. Sumvehh maafin author ya, ada masalah yang gak bisa di selesein cepet jadi author gak bisa update. Sekali lagi maaf ya sudah mengecewakan readernim sekalian.

Yosh.. Btw, reader-nim mungkin juga merasa kalau chapter ini paling panjang, chapter ini sungguh melelahkan karena author harus berusaha memperbanyak HunHan scene nya setelah di chapter-chapter sebelumnya author cuma nyelipin sedikit HunHan scene.

Maaf jika chapter ini mengecewakan pemirsa sekalian neeeee..

Author rencananya akan bikin ending nya di chapter berikutnya atau mungkin dua chapter berikutnya gitu, biar gak kepanjangan. Sedih juga author ff ini sebentar lagi ending.

Seperti biasa, makasih buat yang udah kasih review nya ya meski itu cuma sekedar kata 'next' tapi itu bener-bener bikin author semangat buat terus nulis ff ini.

Tabah sampai akhir aja yaaaa..

Pay pay..

zyyeoliee