Review's reply:
Hikaru Sora 14
Benarkah? Waah bahagianya XD saya juga suka pair ShikaIno lho~ sama yeayy *high five* /thor
Um memang begitu rencana saya XD
Terima kasih telah mereview yaaa~^^
Febri Feven
Iyaaa, ini sudah lanjut kok! XD
Terima kasih telah mereview yaaa~:3
Benarkah? Berarti kamu suka hal-hal yang berhubungan dengan medis dong? Kau bercita-cita menjadi dokter kah? Atau memang suka pada dokter atau hal-hal medis? XD
Pastinya rumah sakitnya besar sekaliiiii XD
Hmm. Boleh juga tuh idenya... Akan saya pertimbangkan^^
Terima kasih telah mereview dan memberi saran~ tetap ikuti ya! XD
Qian Zhang
Wah yakin cinta segitiga? XD Coba lanjut baca lagiii hihi.. Akan saya usahakan deh, tapi gak janji bisa cepat yaa XD mungkin seminggu sekali, biar reader juga penasaran .. /thor
Terima kasih ya telah mereview ^^
Hanna Hoshiko
Ini udah lanjut kok ne XD tetep ikuti cerita ini yaa~
Terima kasih telah mereview story ini XD
Fira Uchiha
Ini memang pair akhirnya SasuSaku. Kan sudah ditulis di bagian pairing XD coba lihat lagii. Tapi memang di ceritanya akan agak ribet. Bercabang-cabang (?)
Terima kasih sudah mereview yaa XD tetap ikuti cerita ini~ kan pairnya SasuSaku XP /thor
Kawaguchi Ryuumei
Yepp. I know who you are^^
Um ini hanya mengikuti alur ceritanya._. Jadi Sasuke lil' bit OOC
Arigatou gozaimasu for your review!^^
ravenpink
Akhirnya sasusaku. Kan udah ditulis XD walah jangan skip yang sasuhina dong XD biar ngerti alur ceritanya. Nanti akhirnya sasusaku kok XD
Terima kasih telah mereview!~:D
uchiha saara
Hihi .. Kan kadang seorang cowo bisa nangis kalo di depan sahabat cewenya. Soalnya cowo itu udah merasa percaya sama cewe itu.
Terima kasih telah mereview!~~^^
Azu-SasuSaku
Walah.. Gak janji deh XD tapi kalo sasu ke saku udah pasti kok :3
Terima kasih telah mereview yaa~ ikuti terus ceritanya XD
lily flower
Awalnya emang lumayan banyak sasuhina nya XD tapi akhirnya pasti saya tetap bikin SasuSaku XD awalnya aja yang banyak sasuhina .. Tapi saya akan bikin warningnya sesuai saran lily-chan XD terima kasih sarannya yaa~
Terima kasih juga sudah mereview~ tetap ikuti ceritanya yaaa~^^
Eysha CherryBlossom
Iyaaa XD ikutin ceritanya deh~ hihihi awalnya emang Sakura nih yang kasihan XD
Terima kasih telah mereview yaa~ tetap ikuti ceritanyaXD
Hai! Salam kenal juga yaa! XD
Fic ini akhirnya SasuSaku kok~ walaupun awalnya bukan SasuSaku X3
Terima kasih telah bertanya dalam review. Tetap ikuti ceritanya yaa~^^
Guest
Maaf sebelumnya, tapi saya bukan Hinata lovers. Saya lebih ke Sakura lovers malah XD Pen name saya sejak dulu memang "Lucy Hinata". Nama itu asli bikinan saya sendiri kok. Bahkan sebelum kenal sama anime Naruto. Jadi Hinata yang ada di pen name saya itu tidak ada hubungannya dengan Hinata yang ada di Naruto.
Dan lagipula, kalau misalnya saya termasuk Hinata lovers, saya sudah bertekad akan menjadi seorang author yang profesional. Jika saya sudah menentukan pair di cerita saya adalah SasuSaku, maka saya akan berfokus pada SasuSaku itu sendiri sebagai author yang profesional. Tidak mungkin kan saya menulis banyak tentang Hinata sementara pairnya adalah SasuSaku? Kalau seperti itu sih, saya akan merasa bahwa diri saya tidak pantas berada di sini^^
Ah ya, terima kasih telah mereview~ dan coba ikuti ceritanya. Pasti cerita ini tidak sesuai dengan bayangan kamu pada awalnya^^
Kumada Chiyu
Uwaah, gomenasaiii :(
Ini alur cerita yang saya bikin sendiri. Jadi maaf kalau tidak memuaskan X'D
Baguslah masih ada hal yang bikin kamu suka dengan fic ini! :3 huehehe
Terima kasih telah mereview yaaa X3 tetap ikuti ceritanya~~
Previous Chapter:
Setelahnya, mereka melanjutkan makan mereka yang tertunda akibat obrolan tadi. Naruto memakan ramennya dengan lahap. Sakura menatap Sasuke yang sedang merenung dengan intens. Pria itu tidak berubah sedikitpun, dia masih merupakan Sasuke yang hangat seperti dulu. Namun, fisiknya sudah jauh berbeda. Tubuh Sasuke sekarang jauh lebih atletis dari yang dulu. Dan tidak lupa bahwa Sasuke sekarang telah menjadi pria yang menawan.
Sakura tersenyum kecil. Ia selalu mengingat misi pertama yang akan ia lakukan begitu ia sampai di Konoha. Menyatakan cintanya pada Sasuke. Sasuke merupakan cinta pertama Sakura. Dan hal itu tidak pernah berubah hingga sekarang. Namun, satu hal yang tidak disadari Sakura, Sasuke tidak hanya menatap kosong ke arah pemandangan rumah sakit ataupun orang-orang yang berada di dekatnya secara acak. Tidak. Karena Sasuke sedang memandang penuh kasih sayang kepada seorang Hinata Hyuuga.
Surgeon Love
by Lucy Hinata
Copyright© Masashi Kishimoto
Romance, Drama, Hurt/Comfort, and Friendship
Pairing: Sasuke x Sakura
Warning: A little bit OOC, mild language, slight SasuHina & SakuIta
Summary: Haruno Sakura. Gadis cantik dan manis yang mencintai pekerjaannya sebagai dokter bedah. Uchiha Sasuke. Lelaki tampan dan angkuh yang melakukan pekerjaannya sebagai dokter bedah hanya sebagai kewajiban. Benang kusut kini melilit di antara mereka. Pekerjaan, persahabatan, dan bahkan... Cinta.
DISCLAIMER : I DO NOT OWN NARUTO
Chapter 2
Normal POV
"Uwaah, aku rindu sekali dengan tempat perbelanjaan ini," Sakura menarik tangan Ino dan Hinata agar cepat-cepat masuk ke Konoha Mall, tempat perbelanjaan terbesar di Konoha.
"Pst, Sasuke, Neji, Shika, kenapa kalian mau diajak ke tempat ini? Kalau Naruto sih, aku tidak heran. Tapi kalian?" bisik seseorang yang baru bergabung dengan mereka. Uchiha Itachi.
"Tch, Itachi, kau harus lihat bagaimana mereka tadi memohon sambil mengeluarkan ekspresi andalan mereka yang satu itu. Bagaimana kita bisa menolaknya?" Shikamaru mendelik ke arah Itachi dengan frustasi.
Itachi tertawa dengan pelan mendengar tanggapan kesal dari Shikamaru. Dia menunjuk Ino dengan ibu jarinya, membuat Shikamaru mengikuti arah yang ia tunjuk. Ino terlihat sangat bahagia sambil bergandengan tangan dengan Sakura. Sakura sendiri sedang diapit oleh Ino dan Hinata. Ino di sisi kirinya dan Hinata di sisi kanannya.
"Bisakah kau menolak setelah kau melihat wajah seperti itu pada gadismu?" Itachi menyeringai jahil pada Shikamaru. Betapa enaknya bisa mengerjai Shikamaru, apalagi Sasuke. Dia terkikik pelan dalam hatinya. Shikamaru berdecak pelan, tidak sanggup berkata apa-apa lagi. Tidak bisa ia pungkiri, hatinya menghangat begitu melihat Ino yang sangat bahagia seperti itu.
Namun, ada satu hal yang membuat mereka sedikit tidak setuju mengenai perginya para gadis itu ke tempat perbelanjaan seperti ini. Nah, lihat itu. Para pria mulai mendekati gadis-gadis itu untuk menggodanya. Inilah yang membuat mereka kesal, bahkan termasuk Naruto. Tidak menghiraukan teriakan para gadis yang ditujukan kepada mereka, mereka segera melesat ke arah tiga gadis yang sedang digoda oleh banyak lelaki.
"Jangan mendekati mereka, atau kalian kubunuh," ancam Itachi yang terkadang bisa berwajah menyeramkan kalau dia mau. Shikamaru sendiri dengan posesif, memeluk pinggang ramping Ino untuk mendekatkan gadis itu kepadanya sambil menatap tajam para laki-laki yang tidak jelas asal-usulnya yang tadi menggoda Ino. Neji pun tidak kalah posesif memeluk adik semata wayangnya agar tidak ada cowok yang berani menggoda adiknya lagi. Sasuke dan Naruto berdiri untuk mengapit Itachi dengan pandangan tajam mereka. Terutama Sasuke dan Itachi yang lebih tepat dibilang tatapan membunuh.
Tidak membuang banyak waktu, para pria yang tadi menggoda gadis-gadis cantik itu segera pergi dengan terbirit-birit karena mereka tidak ingin kehilangan nyawa mereka saat ini. Itachi tersenyum puas dan segera menoleh ke Sakura.
"Wah, kedatanganmu di Konoha hari ini membawa berkah bagi para pria di Konoha," Itachi tertawa pelan sembari mengacak-acak rambut merah muda Sakura. Sementara Sakura membalas tawa Itachi dengan cara mengerucutkan bibirnya.
"Itachii, rambutku berantakan tahu!" katanya sambil mencubit pipi Itachi pelan. Sasuke sendiri menatap pemandangan itu dengan pandangan yang tidak dapat diartikan. Bahkan Sasuke sendiri tidak tahu apa yang sedang ia rasakan.
"Ayo, forehead! Kita harus mencari baju-baju kebutuhan kita sebelum malam tiba!" Ino dengan gerakan cepat menarik Hinata dan Sakura menuju butik yang menjadi butik langganan mereka sedari dulu. Pria-pria tampan yang ditinggalkan mereka hanya bisa menghela napas dalam.
.
.
.
.
Itachi merasakan ada sesuatu yang bergetar di saku bajunya. Segera diambilnya benda yang tadi bergetar itu. Handphone miliknya.
Mom Calling
"Mikoto baa-chan?" sahut Sakura saat mengintip handphone Itachi tadi. Itachi mengangguk datar dan segera mengangkat telepon dari ibunya itu.
"Halo kaa-san?" Itachi mengernyit heran begitu mendengar kata-kata balasan dari ibunya.
"Ada apa, kaa-san?" hampir semua yang ada di sana bersama dengan Itachi merasa penasaran sebab mereka tidak dapat mendengar apa yang dikatakan Mikoto. Tidak lama setelahnya, mata Itachi terbelalak lebar dan ekspresinya menunjukkan kekhawatiran yang luar biasa.
"Baiklah! Kami akan segera ke sana dalam 5 menit, kaa-san. Coba perbuat yang kalian bisa dulu!" perintah Itachi dengan tegas. Kemudian ia dengan cepat mematikan sambungan teleponnya dan membereskan barang-barangnya. Sekarang mereka sedang berada di restoran terkenal di pusat perbelanjaan itu. Baru saja mereka selesai makan saat Mikoto menelepon Itachi.
"Ayo cepat kalian berbenah! Kita akan segera kembali ke rumah sakit!" Itachi membantu untuk mengangkat belanjaan gadis-gadis itu dan segera berdiri sembari memberi isyarat kepada yang lain untuk cepat.
"Ada apa, Itachi?" tanya Sasuke yang disertai anggukan oleh teman-teman lainnya. Itachi menghela napas dalam, "Terjadi kecelakaan beruntun. Banyak korban jiwa. Dokter bedah sangat dibutuhkan, kalian tahu? Kita semua adalah dokter bedah utama. Termasuk kau, Sakura. Kau juga diperintah oleh Tsunade untuk membantu kami."
Sakura mengangguk tanda paham. Bagaimanapun juga, dia adalah seorang dokter. Meskipun Tsunade memintanya untuk tidak ikut turun tangan, bagaimana mungkin dia diam saja sementara teman-temannya berjuang keras untuk menyelamatkan banyak nyawa?
Tidak menghiraukan tatapan heran dari banyak orang di Konoha Mall, mereka terus berlari tanpa henti. Jarak antara rumah sakit dan pusat perbelanjaan ini tidak begitu jauh. Dengan berlari, maka akan menghabiskan waktu sekitar 5 menit. Sebenarnya, Itachi membawa mobil. Tapi, mobil itu ada di basement. Itachi tidak bisa menjamin berapa nyawa yang telah hilang hanya untuk mengambil mobil itu.
.
.
Seperti perkiraan Itachi, 5 menit adalah waktu yang dibutuhkan mereka untuk sampai ke Konoha Hospital. Banyak ambulans berjejer di depan rumah sakit. Tidak membuang waktu lagi, mereka segera melesat ke dalam dan menemukan banyak pasien yang sedang diatasi oleh Tsunade dan para dokter lainnya. Dengan bantuan Tsunade saja, mereka sudah sangat kewalahan.
"Mereka telah kembali!" teriak salah seorang perawat yang melihat kedatangan mereka berdelapan. Tsunade yang melihat kedelapan orang yang baru kembali dari Konoha Mall itu segera menatap mereka dengan garang, "TUNGGU APA LAGI?! CEPAT GANTI PAKAIANMU DAN BERSIHKAN TANGANMU!"
Tanpa banyak omong, mereka segera melaksanakan apa yang telah diperintahkan oleh Tsunade. Ino dan Hinata mengantar Sakura untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian dokter. Tidak lupa, mereka mencuci tangan mereka agar steril saat mengatasi pasien.
Mereka keluar bersamaan. Tak ayal, para perawat merasa sedikit lega karena dokter-dokter bedah itu telah kembali. Apalagi dengan ditambah, dokter bedah baru yang menurut gosip yang beredar, sangat berbakat. Para perawat menyapu pandangannya ke arah delapan orang yang baru selesai berganti pakaian. Pandangan mereka tertumbuk pada seorang gadis berambut merah muda yang sangat cantik. Pikir mereka, dialah dokter bedah baru menurut gosip itu. Seorang Haruno muda.
"Sasu-" Sakura hendak memanggil Sasuke untuk menemaninya karena ia termasuk orang aru di Konoha Hospital. Namun, Sasuke telah lebih dulu menunjuk dirinya sendiri untuk membantu Hinata. Tak dipungkiri bahwa Sakura merasa kecewa. Ino dan Shikamaru telah masuk ke ruang operasi dengan membawa salah satu pasien yang terkena pendarahan otak.
Itachi menyadari perubahan wajah Sakura saat melihat Sasuke yang sedang menawarkan bantuan untuk Hinata sambil tersenyum tipis. Itachi menghela napas. Dia terpaksa berbohong untuk kali ini saja.
"Dokter Sakura, ayo kita bergegas. Dokter Tsunade memerintahku untuk menemanimu karena kau adalah dokter baru disini," kata Itachi lembut. Sakura mau tak mau luluh juga melihat senyum Itachi.
"Baiklah Dokter Itachi!" Sakura tersenyum lebar. Ia tahu peraturan di Konoha Hospital. Jika sedang jam kerja, maka sesama dokter harus memanggil dengan sebutan dokter juga.
"Siapkan gauze*!" seru salah satu dokter yang sedang menangani pasien yang terluka parah. (*Gauze: Sejenis kain kasa)
"Segera bawakan alat pernapasan buatan! Pasien di sini mulai kehilangan kesadarannya!" seruan terdengar dimana-mana. Bukan seruan marah. Bukan seruan bahagia. Bukan seruan cempreng yang biasa Naruto keluarkan. Saat ini, seruan yang terdengar adalah seruan keselamatan. Seruan yang dapat menyelamatkan nyawa manusia.
Sakura dan Itachi sedang menangani pasien yang berbeda. Itachi sedang berusaha untuk menghentikan luka yang berada di tubuh pasiennya. Sementara Sakura sedang berusaha untuk membalut luka pasiennya yang telah ia hentikan.
"Pria berumur 52 tahun," terdengar salah seorang perawat berteriak panik, "Tingkat kesadaran II-30! Dia ditemukan pingsan di jalanan! Bibirnya mengendur! Ada kelumpuhan pada bagian kanan bawah tubuh!"
"Ada kemungkinan dia terkena serebrovaskuler*! Lakukan CT-scan pada kepala!" seru salah seorang dokter. Tidak disangka, Sakura menyela dan membuat seluruh orang di ruangan tersebut memperhatikannya. Ingin melihat apa yang akan dia lakukan. (*Serebrovaskuler: Nama lain dari stroke)
"Tunggu sebentar! Bagaimana kadar gula darahnya?" seru Sakura pada perawat yang tadi memberitahu kondisi pasien. Perawat tersebut dengan segera memeriksa kadar gula dalam darahnya.
"Rendah, dokter!" pernyataan perawat tersebut membuat terkejut satu ruangan. Stroke merupakan penyakit yang kebanyakan disebabkan oleh tekanan darah tinggi atau hipertensi.
"Seperti yang sudah kuduga! Pasien itu tidak stroke. Pasien itu terkena koma yang disebabkan oleh hipoglikemia*! Berikan infus intravena 2 ampul 50% glukosa! Cepat!" seru Sakura kepada perawat tersebut yang segera berlari untuk mengambil ampul yang diminta oleh Sakura. (*Hipoglikemia: Keadaan di mana kadar gula darah di bawah 60mg/DL. Kondisi terburuk dapat menyebabkan kehilangan kesadaran.)
Seluruh orang di ruangan tersebut yang tadinya meragukan kemampuan Sakura sebagai dokter bedah, kini tersenyum tipis begitu mengetahui bahwa di Konoha Hospital telah kedatangan seorang dokter bedah perempuan yang sangat berbakat.
"Dokter Itachi! Ini adalah pasien terakhir yang membutuhkan operasi!" kata salah satu perawat yang sedang membawa pasien tersebut ke arah ruang operasi. Itachi memberi isyarat kepada Sakura agar mengikutinya. Begitu pula dengan asisten-asisten dokter yang lain.
Sementara Sasuke, Hinata, Neji, dan Naruto baru saja selesai mengurus pasien-pasien yang terluka parah. Mereka penasaran juga dengan operasi Itachi dan Sakura. Operasi antara dokter terhebat di Konoha Hospital ini dan dokter berbakat yang baru saja pulang dari Jerman.
Ino dan Shikamaru yang sudah selesai mengatasi pasien segera beranjak dari tempat duduk mereka menuju tempat khusus untuk melihat operasi yang hanya boleh dimasuki oleh orang-orang tertentu saja.
.
.
.
.
"Cepat Dokter Itachi! Aku juga akan ke ruang operasi! Dokter Konan, tolong siapkan mesin jantung dan paru-paru buatan!" seru Sakura ke arah Dokter Konan yang akan menjadi asisten dalam operasi Itachi dan Sakura.
"Baik, Dokter Sakura!" jawab Dokter Konan dengan tegas. Itachi melihat Sakura yang sedang memerintah asisten-asisten dokter untuk mengambil barang-barang yang dibutuhkan dalam operasi ini. Gadis ini telah berubah banyak dari yang terakhir Itachi lihat. Dulu Sakura adalah gadis manja dan cengeng. Itachi dan Sasuke sampai pusing dibuatnya jika ia berkunjung ke kediaman Uchiha. Namun sekarang, dapat Itachi lihat Sakura telah berkembang menjadi gadis yang dewasa dan kuat. Sakura adalah gadis yang dapat diandalkan saat ini. Baik dalam operasi maupun hal-hal lain.
Flashback
"Sasukeee," Sakura menangis tersedu-sedu saat Itachi mengambil boneka kesayangannya, "Itachi-nii jahaat. Dia mengambil boneka kesayanganku."
"Hn," Sasuke menggumam singkat. Seperti itulah Sasuke jika sedang sibuk membaca buku. Jika ada bom meledak di rumahnya sekalipun, dia hanya akan menggumam datar sambil tetap membaca bukunya.
Tangisan Sakura makin kencang begitu menyadari bahwa Sasuke mengacuhkannya. Itachi yang tadinya hendak iseng mengerjai Sakura merasa bersalah karena telah mengambil boneka kesayangan Sakura.
"Cup cup, Sakura-chan, jangan menangis lagi ya? Kalau Sakura-chan sedih, Itachi-nii kan juga sedih," kata Itachi sambil mengelus pelan puncak kepala Sakura yang masih berumur 7 tahun. Itachi tersenyum lembut. Senyum yang selalu dapat meluluhkan Sakura.
Perlahan, Sakura mengangguk dan membiarkan dirinya berada di pelukan Itachi. Merasa nyaman dengan kehangatan yang diberikan oleh Itachi, Sakura pun akhirnya tertidur dengan tangan Itachi mengelus pipi lembutnya.
Flashback end
Itachi terkekeh pelan mengingat masa-masa itu. Saat itu, dia juga masih tergolong kecil. Dia saja masih kecil, apalagi Sakura dan Sasuke. Umur mereka kan hanya terpaut 3 tahun. Sekarang setelah Sakura kembali dari Jerman, gadis itu benar-benar mengejutkan Itachi. Sakura memang penuh dengan kejutan. Begitulah pikirnya.
"Itachi, Itachi-nii?" Sakura menggerakkan tangannya di depan wajah Itachi. Itachi menoleh ke arah Sakura yang telah mencuci tangannya agar steril. Dia tetap mengangkat tangannya agar tetap steril. Peraturan sebagai dokter bedah.
"Eh? Iya? Ada apa?" Itachi menjadi seperti orang linglung. Sedetik kemudian baru dia menyadari bahwa dia belum mensterilkan tangannya.
"Cepatlah, Dokter Itachi! Ada sebuah nyawa menunggu di dalam!" Sakura mengerucutkan bibir mungilnya tanda ia mulai kesal.
"Baiklah Dokter Sakura! Aku mengerti!" Itachi tersenyum lembut dan segera mencuci tangannya agar steril.
Mereka berdua masuk ke dalam ruang operasi setelah Itachi selesai mensterilkan tangannya. Dapat dilihat oleh mereka, sahabat-sahabatnya telah berkumpul di ruangan khusus untuk melihat operasi. Mereka menjadi bersemangat.
"Dokter Itachi, Dokter Sakura. Cepat! Pernapasan pasien mulai melambat!" Itachi dan Sakura seketika tersentak mendengar seruan dari Dokter Konan.
"Baiklah! Kita mulai operasi ini! Kita pertaruhkan segalanya pada operasi ini," ucapan Itachi menjadi permulaan bagi operasi mereka.
"Scalpel*!" seru Sakura kepada asistennya. Dengan gerakan cepat, dokter di sebelah Sakura memberikan scalpel yang diminta oleh Sakura kepada gadis musim semi itu. (*Scalpel: Pisau bedah)
Setelah meraba-raba bagian yang akan dibedah, Sakura dengan cepat memotong bagian yang menurutnya benar dengan scalpel. Begitu ia memotongnya, darah menyembur kemana-mana. Itachi terbelalak kaget. Secepat itukah Sakura dalam melakukan sebuah operasi?
"Seperti yang sudah kuduga, jantungnya mengalami kerusakan. Ia tadi menyetir sebuah truk dan saat kecelakaan terjadi, dadanya menghantam setir truk dan menyebabkan tulang rusuknya patah dan melukai jantungnya," sontak iris onyx kelam Itachi membulat. Sakura benar-benar dokter yang hebat. Dia bisa tahu hanya dari melihat kondisi pasien.
Sekarang, nyawa pasien tersebut ada di tangan Itachi, Sakura, Konan, dan dokter-dokter lain yang ikut terlibat. Semuanya menyatukan harapan mereka pada kedua dokter hebat di ruangan operasi ini. Itachi dan Sakura.
TBC
Hayo, operasinya bagaimana tuh? XD terima kasih banyak ya untuk para reader yang sudah sempat membaca ataupun mereview. Saya sangat berterima kasih. Bagaimana dengan chapter ini? Kurang greget? Atau kurang banyak? Tunggu chapter berikutnya ya XD chapter depan, konflik SasuSaku mulai keluar lhooo~~ saya menerima segala jenis kritikan dan saran. Arigatou gozaimasu~~
