Ano ne... Gomenasai~ aku lagi sibuk mengurusi UN X

Gomenasai kalau updatenya agak lama..

Maafkan author ini yaa:')

Review's reply:

yuu

Mungkin~ Tetap ikutin ceritanya yaaa~ XD
Terimakasih telah mereview~

nasyachoco

Uwaah makasih XD tetap tunggu kelanjutannya yaa~
Terima kasih telah mereview~:3
Hmm mungkin? :p coba ikutin ceritanya~ nanti pasti ketahuan hihi XD
Terimakasih telah mereview yaa! XD

Eysha CherryBlossom

Aku punya cita-cita menjadi dokter lebih tepatnya XD
Aku kan sudah bilang dari awal, inspirasiku dalam membuat fic ini adalah Godhand Teru~ XD jadi masalah kedokteran itu aku dapatkan dari manga itu~
Iya di chapter 3 ini udah mulai ada konflik~
Gomenasai kalo kurang SasuSakunya...
Tapi terimakasih telah mereview yaaa!~ XD

Hanna Hoshiko

Lihat nanti yaaa~ XD
Terima kasih lho telah mereview!~ :3

Uchiwa

Wahaha XD makasih lhoo~
Terimakasih yaaa telah mereview :3

Qian Zhang

Kan aku baca manga Godhand Teru XD di manga itu ada istilah-istilah kedokteran. Lumayan lho buat belajar~ coba baca XD
Emang sih ada beberapa istilah yang tidak disebutkan artinya di situ. Tapi kalau aku sendiri sih langsung cari di internet ehehe:D
Mau jitak Sasuke ya... *lirik Sasuke*
[Sasuke: *deathglare* apa kau lihat-lihat?
Ampun Sasuke... Tuh, berarti tidak boleh XD /thor
Terima kasih telah mereview yaaa~ :3

Vithachan1

Waaah bagus deh kalau kamu suka ceritanya~ jadi terbang deh XD /thor
Terima kasih yaa telah mereview!~ :D

cebong

Makasih~ menurutku itu bagian operasinya masih kurang banget nih XD
Hmm~ Coba ikutin terus saja. Nanti dapat deh jawabannya XD
Kamu juga bacaa? XD iya seru ya? Aku emang ngambil bagian operasinya dari situ. Ehehe aku baca manganya dulu pertamanya. Abis itu aku tulis di fic ini pakai bahasaku sendiri~
Terima kasih telah mereview yaa XD

Fava Ritsuka

Aah gomenasai kalau kurang memuaskan chapter 2 nya :
Tapi aku harap kamu masih ngikutin ceritanya~
Akan aku usahakan dalam bagian operasinya jadi lebih detail lagi fufu~
Terima kasih sarannya!~
Terima kasih juga telah mereview!~ XD

birupink

Ini sudah lanjut kok~
Terima kasih telah mereview yaaa XD :3

ravenpink

Coba baca deeh XD
Kalo banyakin sasusaku tidak janji deh XD
Tapi pair akhirnya sasusaku kok
Dan dijamin happy ending XD
ARIGATOUUUU XD
Terima kasih telah mereview yaaa! XD :D

uchiha saara

Iya nih, di sini Sasukenya masih labil:p
Gomenasaiiii :( kalau panjang, aku tidak bisa janji :(
Aku bukan dokter saara-chan, mungkin lebih tepatnya, aku orang yang bercita-cita menjadi dokter XD
Terima kasih telah mereview nee! :D

Hikaru Sora 14

Abisnya aku tidak bisa janji panjang-panjang untuk satu chapter : gomenasai nee~
Hmm coba lihat nantiii :p huehehe
Arigatou yaaa~
Terima kasih telah mereview!~ :3

Kumada Chiyu

Mudah-mudahan~ doain aja yaa XD /thor
Tetap ikuti ceritanya yaa~
Terima kasih telah mereview!~~ :3

hanazono yuri

Uwaah arigatou nee XD
Terima kasih telah mereview yaaaa! :D

Fira Uchiha

Iyaa fic ini SasuSaku XD
Bisa dibilang begitu, tapi aku suka semua character di Naruto kok XD
Tetap ikuti cerita ini yaaa!
Terima kasih telah mereview!~ :3

Frozen Ice

Ini sudah update kok~ X3
Terima kasih telah mereview yaaa~

Previous chapter:

Setelah meraba-raba bagian yang akan dibedah, Sakura dengan cepat memotong bagian yang menurutnya benar dengan scalpel. Begitu ia memotongnya, darah menyembur kemana-mana. Itachi terbelalak kaget. Secepat itukah Sakura dalam melakukan sebuah operasi?

"Seperti yang sudah kuduga, jantungnya mengalami kerusakan. Ia tadi menyetir sebuah truk dan saat kecelakaan terjadi, dadanya menghantam setir truk dan menyebabkan tulang rusuknya patah dan melukai jantungnya," sontak iris onyx kelam Itachi membulat. Sakura benar-benar dokter yang hebat. Dia bisa tahu hanya dari melihat kondisi pasien.

Sekarang, nyawa pasien tersebut ada di tangan Itachi, Sakura, Konan, dan dokter-dokter lain yang ikut terlibat. Semuanya menyatukan harapan mereka pada kedua dokter hebat di ruangan operasi ini. Itachi dan Sakura.


Surgeon Love

by Lucy Hinata

Copyright© Masashi Kishimoto

Romance, Drama, Hurt/Comfort, and Friendship

Pairing: Sasuke x Sakura

Warning: A little bit OOC, mild language, slight SasuHina & SakuIta

Summary: Haruno Sakura. Gadis cantik dan manis yang mencintai pekerjaannya sebagai dokter bedah. Uchiha Sasuke. Lelaki tampan dan angkuh yang melakukan pekerjaannya sebagai dokter bedah hanya sebagai kewajiban. Benang kusut kini melilit di antara mereka. Pekerjaan, persahabatan, dan bahkan... Cinta.

DISCLAIMER : I DO NOT OWN NARUTO


Chapter 3

NORMAL POV

"Ayo Dokter Sakura, kau pasti bisa," Itachi tersenyum lembut dari dalam masker yang sedang ia pakai, "Aku akan menjahit luka di jantungnya. Tolong kau siapkan mesin jantung dan paru-paru buatannya dulu, Dokter Sakura."

Sakura mengangguk paham dan segera melaksanakan tugasnya, sementara Itachi sibuk dengan jahitannya.

BREEET

"Eh? Ada apa ini?! Kenapa dari bagian yang telah kujahit sebelumnya, terdapat lubang robekan?" Suara Itachi terdengar panik oleh Sakura. Sakura terlihat berpikir keras. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk seorang Haruno Sakura memikirkan persoalannya. Matanya terbelalak lebar saat dia menyadarinya.

"Dokter Itachi, apa kerja otot jantungnya melamban?" Suara Sakura terdengar tenang, bahkan terkesan santai. Namun, Itachi dapat melihat sorot keseriusan di dalam mata Sakura.

"E-eh? Y-ya, kau benar," suara Itachi bahkan dapat dibilang gugup sekarang. Namun tak beberapa lama, ia tersadar akan sesuatu hal.

"Tunggu! Otot jantungnya melamban..."

"Ya, Dokter Itachi. Dia terkena serangan jantung. Mungkin dia terkena serangan jantung saat mengemudi dan mungkin itulah penyebab kecelakaan tersebut," Sakura menghela napasnya sebelum ia melanjutkan, "Jangan panik, Dokter Itachi. Kau adalah dokter. Jika kau yang merupakan dokter utama di ruangan ini panik, apa kau tidak memikirkan tentang dokter-dokter lainnya?"

Itachi segera menyapu pandangan ke arah sekelilingnya. Benar saja, ia dapat merasakan aura yang berat dari ruangan operasi ini. Seakan menyadari kesalahannya, Itachi menunduk.

"Dokter Itachi," suara lembut Sakura menyadarkannya, "Ayo kita selesaikan operasi ini bersama-sama. Bukan begitu, kalian semua?" Sakura meminta persetujuan kepada dokter-dokter lainnya. Mereka semua mengangguk dengan tenang. Sifat Sakura berhasil meluluhkan seluruh orang di ruangan itu. Bahkan termasuk sahabat-sahabatnya yang sedang menonton dari ruangan khusus.

Sakura bergerak dengan cepat. Dia berjalan menuju sisi pasien masih dengan mengangkat tangannya agar tetap steril. Kemudian, ia mengambil jarum yang baru dan berbeda dari milik Itachi. Tangannya mulai bekerja untuk menjahit luka di jantung pasien. Mata Itachi pun tak dapat mengikuti gerakan tangan Sakura.

Mata Itachi membulat, ia harus melakukan sesuatu, "Telah terjadi komplikasi serangan jantung. Dokter Konan! Siapkan tambalan selaput jantung!" Konan segera mengangguk paham dan melesat untuk mengambil barang-barang yang dibutuhkan.

Mata Itachi masih tak berkedip melihat gerakan tangan gadis musim semi di depannya yang sedang menjahit luka di jantung pasien.

"Cepat tambalannya!" Sakura meminta tambalan selaput jantung yang tadi telah diminta oleh Itachi kepada Konan. Tidak menghabiskan waktu lagi, Konan dengan cepat memberikan apa yang telah diminta oleh Sakura.

SET SET SET SET

"Benar-benar hebat," suara Tsunade memecahkan kesunyian di ruangan khusus untuk melihat operasi Itachi dan Sakura, "Inilah operasi tingkat tinggi. Lihatlah betapa dia telah bertumbuh menjadi gadis yang hebat."

Sasuke menatap Sakura dengan intens. Dia mengakui bahwa Sakura sangat hebat. Begitupula dengan yang lain. Sang jenius Shikamaru saja sampai tak berkedip melihat operasi Sakura.

"Salah satu tambalannya dijahit dalam sekejap. Mataku tak dapat mengikuti gerakan tangannya. Sangat cepat," Neji memuji Sakura dengan datar walaupun ia tersenyum tipis dalam diam menyadari sahabatnya satu itu telah berubah ke arah yang lebih baik.

"Intinya adalah memastikan bagian yang normal dari otot jantung. Kau tidak boleh menarik benangnya terlalu kuat, tapi juga tidak boleh terlalu longgar, terutama saat jahitan beruntun," Sakura menjelaskan hal penting pada Itachi. Itachi hanya mengangguk tanda mengerti.

"Aku dalam setiap operasi," semua mata tertuju pada Sakura, "Selalu mengerahkan seluruh kemampuanku. Baik dalam tehnik, pengetahuan, kedisiplinan. Dan yang paling utama adalah perasaanku pada pasien yang sedang aku tangani."

Sakura menatap Itachi dengan lembut barang sedetik. Kemudian ia melanjutkan jahitannya yang sudah hampir selesai.

"Ya! Pendarahan sudah berhasil dihentikan! Tidak ada kebocoran darah pada jantung!" suara Sakura menyadarkan Itachi.

"Bagaimana dengan persiapan mesin jantung dan paru-paru buatan? Apa sudah selesai?" Itachi berseru ke Dokter Konan.

"Sudah, Dokter Itachi!"

"Bagus! Cepat sambungkan!"

.

.

.

.

"Akhirnya operasinya selesai juga. Sekarang tinggal menunggu pasien sadar," Sakura menghela napas lelah. Ia dan Itachi telah selesai berbenah diri. Sakura menyandarkan kepalanya ke bahu tegap milik Itachi.

"Lelahnya, aku rindu saat-saat seperti ini. Saat-saat di mana aku bermanja-manja pada Itachi," Sakura terkekeh pelan mengingat masa kecilnya yang selalu bergantung pada Itachi. Itachi dengan lembut menyusupkan jarinya ke helai rambut merah muda Sakura.

Sebuah deheman menganggu acara mereka berdua, "Ehem. Enaknya baru selesai operasi, langsung bermesraan dengan pacar."

"Ino-pig!" wajah Sakura dipastikan tengah dijalari oleh rona merah tak kasat mata. Ino terkikik jahil melihat sahabatnya satu itu.

Sakura dapat melihat Sasuke sedang berjalan berdampingan dengan Hinata. Sangat serasi. Begitulah pikirnya. Hatinya berdenyut sakit melihat Sasuke yang menatap Hinata dengan tatapan posesif. Itachi menghela napas melihat perubahan wajah Sakura yang tidak disadari siapapun kecuali dirinya.

"Sakura, ayo pergi. Kau akan kuantar. Tidak ada penolakan. Aku merindukanmu," Itachi memerintah Sakura dengan tegas. Sakura memiringkan kepalanya heran.

"Itachi, kau kenapa? Wajahmu terlihat kesal," Sakura terkekeh melihat perubahan wajah Itachi. Namun, diraihnya juga tangan pemuda itu untuk mengantarnya pulang.

"Sakura, jangan lupa pajak!" Ino melambaikan tangannya ke arah Sakura yang sedang ditarik oleh Itachi untuk keluar dari rumah sakit.

"Apa-apaan sih kau, Ino-pig?!" Sakura masih sempat-sempatnya berteriak sebelum menghilang dari pandangan mereka.

"Dasar pasangan baru!" Ino menghela napas bahagia. Akhirnya sahabat musim seminya itu mendapat gantinya juga. Ia melirik sejenak ke arah Sasuke yang sedang menggandeng tangan Hinata dengan posesif. Kemudian ia menyapu pandangannya. Hanya ada ia, Sasuke, Hinata, dan Shikamaru. Entah pergi ke mana Neji dan pemuda kuning itu. Setelah operasi mereka selesai, mereka langsung menghilang. Tapi Ino merasakan ada yang aneh. Ia cukup yakin di tas Hinata terdapat gantungan kunci yang bertuliskan 'NH'. Sampai sekarang, ia masih belum cukup berani untuk menanyakan hal tersebut pada Hinata. Mungkin itu merupakan singkatan nama kakak semata wayangnya. Neji Hyuuga.

SASUKE'S POV

Mereka pacaran, heh? Wah, jahatnya mereka tidak memberitahuku terlebih dahulu. Tapi mengapa aku merasa tidak tenang ya? Ah mungkin aku hanya merasa kelelahan setelah menangani kecelakaan beruntun tadi. Ini salah satu sebab mengapa aku tidak ingin menjadi dokter bedah. Sangat melelahkan. Ingin berhenti, tapi otou-san pasti tidak akan mengizinkanku.

Kulihat tangan mungil Hinata yang berada dalam genggaman tanganku. Aku tersenyum tipis. Gadis ini begitu menarik perhatianku. Aku selalu merasa hangat. Aku merasa selalu ingin melindunginya. Jika ini disebut cinta, maka aku pasti sudah jatuh cinta pada Hinata. Aku tersenyum puas.

SASUKE'S POV END

NORMAL POV

"Apa kalian tidak menyadari sesuatu?" gumaman Shikamaru membuat ketiga orang lainnya menatap pemuda nanas itu.

"A-ada apa, Shika?" Hinata bertanya dengan gugup. Dia masih belum bisa menghilangkan kegugupannya itu di depan orang-orang.

"Bukankah mobil Itachi berada di Konoha Mall?" tanya Shikamaru yang sukses membuat Ino dan Sasuke tertawa keras.

"Baka aniki! Bagaimana dia bisa bodoh seperti itu, sih?" Sasuke tertawa dengan keras sambil memegangi perutnya. Membayangkan Sakura yang kelelahan sedang berjalan menuju mall sambil mengomeli Itachi saja sudah dapat membuat perutnya sakit.

"Aku pasti akan menelepon Sakura pulang-pulang untuk menyuruhnya menceritakan kepadaku apa yang terjadi," Ino tertawa keras sama seperti halnya Sasuke. Dia membayangkan Sakura yang mengomel tanpa henti pada Itachi.

"Ah sudahlah, kalau begitu, aku pergi dulu. Siapa tahu Sakura butuh bantuan," Sasuke melepaskan genggamannya dari tangan Hinata dengan pelan masih sambil terkekeh pelan.

Perlahan, siluetnya menghilang dalam kegelapan malam untuk mencari seorang gadis merah muda yang sangat disayanginya. Ada perasaan khawatir memang. Ada perasaan tidak rela juga. Sasuke masih belum menyadarinya. Ego Uchiha terlalu besar tertanam di dalam dirinya.

.

.

Sasuke menemukan sesosok gadis yang sedang menunggu di depan pintu masuk rumah sakit. Bibir gadis itu sedang menggumamkan hal-hal yang tidak jelas. Dapat dipastikan gadis itu sedang mengomel berkat Itachi.

"Sakura?" Sasuke memanggil gadis itu dengan tidak menyembunyikan rasa gelinya. Dapat dipastikan Sakura makin mengerucutkan bibirnya.

"Tertawalah hingga kau puas, Sasuke!" Sakura memalingkan mukanya ke arah sebaliknya dari Sasuke. Sasuke menjadi tidak bisa menahan tawanya lagi. Perlahan dia mendekati Sakura dan mengelus puncak kepala gadis itu pelan.

Wajah Sakura merona hebat. Dia merasakan tangan besar Sasuke mengelus puncak kepalanya dengan sayang. Jantung Sakura berdegup kencang. Ia merasa sudah saatnya ia menyatakan perasaannya kepada Sasuke. Sakura tidak dapat menahan perasaannya lagi.

"Saku-" perkataan Sasuke dipotong oleh serangan tiba-tiba dari Sakura. Bibir Sakura yang lembut telah menempel sempurna dengan bibir Sasuke. Iris onyx kelam Sasuke membulat begitu menyadari apa yang baru saja dilakukan Sakura.

"Saku-" perkataan Sasuke dipotong lagi oleh Sakura, "Aku mencintaimu."

Rahang Sasuke mengeras. Ciuman yang diberikan oleh Sakura tadi telah menampar Sasuke. Sasuke telah berniat untuk memberikan ciuman pertamanya untuk Hinata. Dan Sakura dengan seenaknya mencuri ciuman pertamanya. Belum lagi pernyataan cinta Sakura. Dia kira dia siapa. Begitulah pikir Sasuke.

"Sasu-" jari-jari lentik Sakura baru saja hendak menyentuh lengan Sasuke saat Sasuke menepisnya kasar.

"Jangan sekali-kali kau menyentuhku, gadis jalang."

Perkataan Sasuke yang dingin mengagetkan Sakura. Namun, kata terakhir yang menyebutkan bahwa Sakura adalah seorang gadis jalang, benar-benar menampar hati seorang Sakura. Bagaimana tidak? Sasuke adalah sahabatnya sejak kecil dan merupakan orang yang paling ia cintai selama ini.

Sakura masih terus menahan air matanya. Hingga akhirnya Sasuke beranjak untuk pergi tanpa sekalipun mengucapkan kata selamat tinggal. Berbalik untuk menatap Sakura pun tidak. Air mata Sakura tumpah sudah. Cinta pertamanya telah berakhir mengenaskan. Sakura terduduk lemas di lantai depan pintu rumah sakit. Dia tidak menyadari kedatangan Itachi yang sedari tadi memanggil namanya dengan khawatir.

"SAKURA!" teriakan Itachi yang terakhir baru bisa menyadarkan Sakura. Itachi menatap iris emerald Sakura yang sudah terlihat redup dan bengkak. Jarinya menghapus bekas air mata yang ada di pipi Sakura.

Itachi melihat dan mendengar dengan jelas kejadian saat Sakura menyatakan cintanya pada Sasuke. Jujur saja, hal itu membuatnya sangat kaget. Apalagi saat Sakura mencium Sasuke. Itachi merasakan sesak di dadanya. Ia juga mendengar adik semata wayangnya yang menghina Sakura. Jujur saja, jika ia bisa, ia akan meninju adiknya itu karena telah berkata kasar pada seorang gadis.

"Kau tidak apa-apa? Ayo kita pulang! Kau pasti sudah lelah setelah melakukan operasi seperti tadi," Itachi membiarkan Sakura menangis dalam diam di dalam pelukannya. Sakura bersyukur, masih ada Itachi yang peduli kepadanya.

Mereka bertahan lama dalam posisi tersebut hingga tidak menyadari seorang pemuda dengan model rambut bak pantat ayam sedang menatap mereka tajam.

"Sudah kuduga, kau memang gadis jalang."

Sakura dan Itachi menoleh ke arah suara seseorang yang baru saja datang itu.

"Sasuke..." geram Itachi. Ia baru saja akan maju untuk memberi adiknya pelajaran saat Sakura menarik lengannya sambil menggelengkan kepalanya.

Itachi terdiam sejenak. Akhirnya ia memutuskan sesuatu. Ia menghela napas dalam dan menatap tajam Sasuke yang sedang memandang sinis ke arah Sakura. Ia menarik lengan Sakura dengan lembut untuk membantunya berdiri.

Layaknya seorang pria sejati, Uchiha Itachi membuka pintu mobilnya untuk Sakura dan membiarkannya duduk di jok belakang mobilnya. Kemudian ia menutup pintu mobilnya dengan pelan dan berbalik menatap Sasuke dengan tajam.

"Kau akan menyesalinya, Sasuke."

Sementara Itachi masuk ke dalam mobilnya sendiri, Sasuke memikirkan apa yang akan disesalinya. Sasuke mengangkat bahunya tanda ia tak mengerti. Dia yakin tak akan menyesali apapun dengan kejadian ini. Yang dapat disesalinya mungkin hanya satu. Ciuman pertamanya telah direnggut oleh Sakura. Ciuman pertama yang tadinya hendak ia berikan kepada gadis Hyuuga itu. Begitulah pikir Sasuke saat itu. Hmph, kau tidak tahu mengenai masa depan, Sasuke.

.

.

"Sakura, kau tak apa?" Itachi melongokkan kepalanya ke arah Sakura. Tak terdengar jawaban apapun dari Sakura. Itachi hanya dapat mendengar suara dengkuran dari bibir Sakura.

"Kau pasti lelah sekali," Itachi tersenyum tipis sambil membelai rambut Sakura penuh sayang. Sekarang mereka telah sampai di kediaman Haruno. Itachi mengangkat Sakura dengan cara bridal style. Itachi telah dekat dengan anggota kediaman Haruno sejak dulu sekali.

Begitu melihat Itachi sedang membawa Sakura yang notabene adalah anak kandung dari majikan mereka, para pelayan di kediaman Haruno segera membungkuk 90 derajat ke arah Itachi.

"Di mana kamar Sakura?" tanya Itachi pada salah satu maid di rumah itu. Maid tersebut dengan gugup menunjukkan letak kamar Sakura. Maklum saja, siapa yang bisa menahan karisma seorang Uchiha?

"Hn. Terima kasih," katanya pada maid yang kemudian menutup pintu kamar Sakura.

Dengan perlahan, Itachi membaringkan Sakura yang sedang tidur agar ia tidak membangunkan Sakura. Baru saja ia akan beranjak pergi dari kamar Sakura, namun ia mendengar gumaman dari bibir Sakura.

"Sasu-ke.."

Tubuhnya bergetar. Bibirnya yang terus menggumamkan nama itu juga turut bergetar. Turut merasakan kesedihan pemiliknya. Air mata yang tadi telah berhenti perlahan keluar lagi dari pelupuk mata Sakura.

Itachi menghela napas frustasi. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tangannya sudah tidak tahan untuk mengelus pipi Sakura. Tubuhnya pun sudah tidak sabar untuk memeluk tubuh ringkih Sakura.

Ia masih sadar diri. Sakura bukanlah kekasihnya. Namun, sedetik kemudian, Itachi tersenyum tipis. Ia sadar bahwa ia merupakan kakak Sakura. Ia mempunyai hak untuk menenangkan Sakura seperti layaknya seorang kakak laki-laki.

Itachi menepuk puncak kepala Sakura dengan sangat pelan dengan tujuan agar ia tidak membangunkan Sakura. Ia membelai surai merah muda Sakura dengan lembut untuk memberikan sedikit kehangatan pada gadis itu. Setelah dirasanya Sakura mulai sedikit tenang, Itachi menghapus bekas air mata dari pipi Sakura hingga tak ada jejak air mata yang tersisa.

Sakura tersenyum kecil dalam tidurnya. Itachi menghela napas lega sebelum akhirnya keluar dari kamar Sakura. Sakura tersenyum kecil sebab ia bermimpi. Bermimpi tentang Sasuke yang membelai rambutnya dan mengelus pipinya.

TBC


Uwaah chapter ini selesai XD bagaimana feelnya pas sakura sama sasuke berantem? Terus kalau adegan Sakura sama Itachi? :3 sampaikan pendapat kalian di kolom review yaa~ onegaiiii! w)/
Dan kalau bisa jangan jadi silent reader! Arigatou!~