Huwaah.. GOMENASAI sudah tidak muncul dalam waktu yang sangat lama. Well, saya sebenarnya sedang sibuk dengan sekolah dan tugas-tugas lain.
Omong-omong, saya tidak sempat untuk membalas review-review dikarenakan ketidaksempatan juga. Tapi satu hal yang ingin saya tekankan, saya sangat berterima kasih kepada para pembaca yang telah membaca fic ini dan juga yang telah memakai waktunya yang berharga untuk mereview fic kecil dari saya ini.
Sekali lagi terima kasih dan saya persembahkan Surgeon Love Chapter 4!
Previous chapter:
Itachi menepuk puncak kepala Sakura dengan sangat pelan dengan tujuan agar ia tidak membangunkan Sakura. Ia membelai surai merah muda Sakura dengan lembut untuk memberikan sedikit kehangatan pada gadis itu. Setelah dirasanya Sakura mulai sedikit tenang, Itachi menghapus bekas air mata dari pipi Sakura hingga tak ada jejak air mata yang tersisa.
Sakura tersenyum kecil dalam tidurnya. Itachi menghela napas lega sebelum akhirnya keluar dari kamar Sakura. Sakura tersenyum kecil sebab ia bermimpi. Bermimpi tentang Sasuke yang membelai rambutnya dan mengelus pipinya.
Surgeon Love
by Lucy Hinata
Copyright© Masashi Kishimoto
Romance, Drama, Hurt/Comfort, and Friendship
Pairing: Sasuke x Sakura
Warning: A little bit OOC, mild language, slight SasuHina & SakuIta
Summary: Haruno Sakura. Gadis cantik dan manis yang mencintai pekerjaannya sebagai dokter bedah. Uchiha Sasuke. Lelaki tampan dan angkuh yang melakukan pekerjaannya sebagai dokter bedah hanya sebagai kewajiban. Benang kusut kini melilit di antara mereka. Pekerjaan, persahabatan, dan bahkan... Cinta.
DISCLAIMER : I DO NOT OWN NARUTO
Chapter 4
NORMAL POV
Sakura melihat pantulan dirinya di cermin besar yang berada di sebelah tempat tidurnya. Dapat dilihatnya matanya masih sangat bengkak. Ia menghela napas dalam.
"Apa sih yang aku pikirkan semalam? Mengapa aku bisa nekat menciumnya seperti itu?" Sakura menggeram frustasi. Masih terbayang di benaknya dengan jelas kejadiannya dengan Sasuke semalam. Ia mendesah pelan. Sudah pasti ia tak akan berani untuk berhadapan dengan Sasuke.
Sakura mendengar ketukan dari pintu kamarnya. Sakura menduga bahwa itu adalah maidnya. Setelah memberi isyarat pada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya untuk langsung masuk, Sakura mengambil handuk untuk bersiap-siap mandi. Ini adalah hari untuk pesta penyambutannya. Dia tak boleh terlihat sedih di pesta yang mana dia menjadi tokoh utamanya.
"Maaf, Sakura-sama . Itachi-sama telah menjemput Sakura-sama di bawah," maid tersebut membungkukkan badannya 90 derajat.
"Apa? Secepat itu? Dan lagi, dia tidak memberitahuku bahwa dia akan menjemputku. Ya sudah, katakan padanya untuk menungguku. Aku mau mandi dulu," maid tersebut mengangguk paham. Ia baru saja akan keluar dari kamar Sakura saat Sakura memanggilnya lagi, "Oh ya, aku sudah pernah memberitahumu, bukan? Jangan membungkuk seperti itu kepadaku. Kau adalah temanku juga."
Sakura tersenyum lebar kepada maid tersebut. Maid tersebut merona merah. Bayangkan saja, seorang Haruno mengatakan itu kepadamu. Impian setiap orang mungkin? Sakura bergegas untuk ke kamar mandi. Dia tidak ingin membuat Itachi menunggu lama karena kemalasannya.
.
.
.
.
"Kau ini, Itachi. Kenapa kau tidak bilang padaku bahwa kau akan menjemputku?" Sakura mengerucutkan bibirnya kesal. Itachi tertawa lega. Sakura telah kembali lagi walaupun matanya masih terlihat bengkak.
"Kalau aku bilang-bilang kepadamu, nanti kau pasti akan menolak dan tetap pergi dengan supir pribadimu. Bukan begitu, Nona Sakura?" Itachi menyeringai jahil. Dapat dilihatnya wajah Sakura dijalari rona merah. Pertanda bahwa yang dikatakan Itachi tadi benar adanya.
Itachi melirik Sakura dari sudut matanya sembari menyetir mobilnya. Baginya, Sakura hari ini sangat cantik. Itachi sendiri hanya pergi dengan balutan tuxedo kesayangannya. Dress ketat berwarna merah muda yang soft menyelimuti tubuh Sakura, membuat lengkung tubuh Sakura terlihat dengan jelas. Dress itu sepadan dengan kulit Sakura yang tergolong putih dan mulus. Belum lagi dress itu hanya menutupi setengah dari paha sakura, yang artinya hanya menutupi seperempat dari kaki jenjangnya. Siapapun pria yang menganggap Sakura jelek, maka pria itu pastilah seorang yang bodoh.
"Kau cantik, Sakura."
Mata Sakura membulat mendengar apa yang dikatakan Itachi. Itachi sedang menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa malu akan apa yang telah dikatakannya. Sejenak kemudian, Sakura memilih untuk tertawa geli dengan perubahan sikap Itachi. Jarang-jarang bukan seorang Uchiha Itachi merasa gugup seperti ini?
"Kau lucu, Itachi," Itachi hendak mengeluarkan protesnya, namun Sakura telah lebih dahulu menyelanya lagi dengan senyuman yang sangat disukai Itachi, "Tapi terima kasih banyak, Itachi. Aku menghargai pujianmu."
Inilah alasan mengapa banyak orang menyukai Sakura. Gadis ini selalu murah senyum dan tulus hatinya. Itachi akan menganggap adiknya benar-benar bodoh jika ia benar-benar menolak gadis ini.
Tak terasa, seiring dengan obrolan santai mereka, mobil Itachi telah sampai di Konoha Hospital tempat pesta tersebut dilaksanakan. Itachi, layaknya seorang gentleman, membuka pintu mobil dan menurunkan Sakura dengan hati-hati.
Dengan Itachi, Sakura memasuki Konoha Hospital. Dari pintu depan rumah sakit saja, sudah ada tulisan besar-besar, 'Welcome back, Sakura!'. Sakura terharu dengan apa yang telah dilakukan sahabat-sahabatnya.
Tiba-tiba ia teringat dengan Sasuke. Sakura memasang ekspresi wajah sedih dan segera mengalihkan pandangannya dari Itachi agar Itachi tidak melihat kesedihannya. Mereka masuk ke dalam rumah sakit dengan bergandengan tangan layaknya sepasang kekasih.
Saat mereka sampai di dalam, satu ruangan melirik ke arah mereka. Sang tokoh utama dalam pesta, Haruno Sakura. Serta sahabatnya, Uchiha Itachi.
Seluruh undangan tertegun melihat pasangan itu. Sang gadis terlihat sangat cantik dalam balutan dressnya. Sedangkan sang pria tampak tampan dalam balutan tuxedonya. Emerald Sakura menyapu isi ruangan untuk mencari seseorang. Uchiha Sasuke.
Tak diketahui oleh siapapun, Sasuke sendiri sedang melihat ke arah Sakura. Ia sendiri sedang bersama Hinata, Neji, dan Naruto. Tak bisa ia pungkiri, ia pun terpesona oleh kecantikan Sakura. Tapi pikiran tersebut ditepis jauh-jauh olehnya. Ego Uchiha masih mengalahkan perasaannya yang sebenarnya.
Sasuke berdecih pelan. Sekilas tadi, ia melihat Sakura dan Itachi bergandengan tangan. Ia sendiri tidak tahu apa yang membuatnya kesal seperti ini. Ia berpikir bahwa Sakura memang merupakan seorang gadis jalang. Itulah yang ia pikirkan. Ia tidak memikirkan kemungkinan lain mengapa ia kesal seperti tadi. Cemburu misalnya.
.
.
.
.
"Baiklah para undangan yang terhormat," suara seorang wanita berambut pirang yang merupakan direktur utama di Konoha Hospital menghentikan segala obrolan yang terjadi di ruangan tersebut, "Pertama-tama, saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada kalian yang telah datang di pesta ini."
Tsunade mempersilahkan Haruno Kizashi dan Haruno Mebuki, kedua orangtua Sakura, untuk naik ke atas panggung yang sangat besar itu, "Saya persilahkan, kedua orangtua Haruno Sakura untuk maju ke atas panggung."
Mebuki berjalan dengan anggun bak seorang ratu sambil menggandeng tangan Kizashi yang merupakan suaminya. Mereka merupakan pasangan yang sangat serasi. Mebuki sendiri tampil cantik pada hari ini dengan dress berwarna merah maroon.
Setelah Tsunade memberikan mikrofon kepada Kizashi, Kizashi mulai berbicara, "Saya berterima kasih untuk kalian, para dokter maupun suster yang telah hadir di sini untuk menghadiri pesta penyambutan anak tunggal saya yang telah kembali dari Jerman. Anak saya pergi ke sana untuk memperdalam kemampuannya dalam bidang kedokteran. Jadi, saat kembali ke Konoha, ia bisa mempergunakan kemampuannya untuk menyembuhkan orang banyak seperti cita-citanya sejak dulu. Untuk anak saya, Sakura, silahkan naik ke atas panggung."
Seluruh hadirin bertepuk tangan mengiringi naiknya Sakura ke atas panggung. Sekali lagi, seorang Haruno Sakura tampil sangat menawan pada hari ini. Setelah Sakura berdiri tepat di sebelah ayahnya, Tsunade mengambil alih mikrofon.
"Dan juga, pada hari ini, saya menunjuk Uchiha Sasuke untuk menjadi partner seorang Haruno Sakura," ucapan Tsunade menghasilkan tepuk tangan dan siulan dari para hadirin.
Jika Sakura dan Sasuke merupakan Sakura dan Sasuke yang biasa, mereka pasti akan berhigh five dan saling berpelukan mengingat mereka merupakan sahabat terbaik dari antara semuanya. Tentu saja, jika Sakura dan Sasuke merupakan mereka yang biasa, mereka tidak akan berpikir untuk kedua kalinya. Mereka akan sepakat dengan jawaban 'ya'.
Sayangnya ini bukan mereka yang biasanya. Emerald Sakura terbelalak kaget dan takut, sedangkan rahang Sasuke mengeras. Sakura baru saja akan menolak saat Sasuke berteriak dengan tegas, "Tidak, Tsunade-san. Aku sudah menjadi partner Hinata!"
Sakura dapat merasakan tubuhnya gemetar. Ia bahkan tidak mengerti maksud partner yang dibicarakan oleh Tsunade. Sebelum ia mengerti pun, ia sudah takut akan Sasuke. Tsunade menoleh ke arah Sakura yang tengah tertegun tidak jauh darinya.
"Ah iya, kau belum tahu mengenai partner yang saya bicarakan, Sakura? Baiklah, saya akan menjelaskannya. Pertama, di Konoha Hospital, dan hanya di Konoha Hospital, kami memberlakukan sistem partner. Kami mengelompokkan dokter-dokter utama di Konoha Hospital menjadi beberapa kelompok dengan masing-masing kelompok mempunyai 2 dokter utama," Sakura terdiam, menunggu kelanjutan Tsunade.
"Sejak rumah sakit ini didirikan, sudah ada 7 dokter bedah utama. Uchiha Itachi, Uchiha Sasuke, Yamanaka Ino, Nara Shikamaru, Hyuuga Hinata, Hyuuga Neji, dan Uzumaki Naruto. Dokter bedah harus berpasangan dengan dokter bedah yang sama. Maka itu, saya memasangkan Yamanaka Ino dan Nara Shikamaru sebagai kelompok dokter bedah otak. Hyuuga Neji yang seorang dokter bedah spesialis Jantung dengan Uzumaki Naruto yang seorang dokter bedah spesialis umum," Sakura mengerutkan keningnya. Mengapa Hinata tidak dipasangkan dengan Neji sebagai sesama dokter bedah spesial jantung?
"Hyuuga Neji dipasangkan dengan Uzumaki Naruto karena suatu insiden," lanjut Tsunade seperti mengetahui pikiran Sakura. Kening Sakura mengerut. Ia melirik ke arah Naruto yang sedang terduduk lemas di salah satu kursi untuk para undangan. Hinata dan Ino terlihat sedang menenangkannya. Apa insiden yang menyebabkan Naruto menjadi seperti itu? Mengapa Sakura tidak pernah diberitahu?
"Oleh karena itu, saya memutuskan untuk memasangkan Hyuuga Hinata yang tadinya telah berpasangan dengan Hyuuga Neji, dengan Uchiha Sasuke," Tsunade mengakhiri penjelasannya dengan menatap datar Sasuke yang tengah menggeram.
Tetapi, masih ada satu lubang besar di penjelasan Tsunade. Sakura sadar akan hal itu. Mengapa Tsunade tidak melanjutkannya? Apa yang terjadi dengan yang satunya? Apa yang terjadi dengan Itachi?
"Mengapa tidak kau pasangkan dia dengan Itachi?" Sasuke mendesis ke arah Tsunade. Sakura meliriknya dengan pandangan terluka. Ia memang penasaran akan Itachi. Mengapa Itachi tidak ikut dipasangkan? Mengapa Itachi tidak disebutkan dalam penjelasan Tsunade? Namun, hal yang paling membuatnya penasaran adalah, apakah Sasuke sangat membencinya hingga ia menjadi seperti itu?
Tsunade menghela napas dengan tidak sabar. Mengapa seorang Uchiha Sasuke harus keras kepala seperti ini?
"S-sasuke. A-aku bisa berpasangan dengan yang lain kok. K-kau berpasangan dengan Sakura-chan saja," Tsunade menatap datar ke arah Sasuke setelah Hinata selesai mengungkapkan pendapatnya, "Nah, kau dengar itu, Sasuke?"
Sasuke tidak sanggup untuk menatap tajam gadis yang menurutnya ia cintai itu. Akhirnya, ia menatap tajam ke arah Tsunade, "Mengapa tidak kau jelaskan dulu mengapa Itachi tidak ada partner hingga sekarang?" desisnya.
Tsunade menghembuskan napasnya dengan kasar, "Jawabannya cukup simple, Uchiha Sasuke. Itachi, dari antara kalian bertujuh saat itu, dapat kalian semua ingat, bahwa ia adalah dokter yang paling hebat. Benar, bukan?" Tsunade menatap Itachi dan para undangan secara bergantian untuk meminta persetujuan. Itachi menatap datar ke arah Tsunade. Dapat dirasakan anggukan dari banyak orang yang berada di ruangan itu.
"Apa dengan kehebatan itu, dia masih membutuhkan seorang partner yang akan menemaninya di setiap operasi?" Sasuke berdecih pelan. Dalam hati, dia membenarkan omongan Tsunade.
"Lalu, mengapa kau tidak memasangkannya dengan Sakura?" Sasuke bertanya dengan pelan, mengembalikan ketenangannya yang semula runtuh. Ia tidak mau orangtua Sakura maupun orangtuanya merasa tersinggung ataupun malu akibat ucapannya. Untungnya, orangtua Sakura maupun orangtuanya masih dalam kondisi tenang. Bahkan sepertinya, Haruno Kizashi menikmati perbincangan ini. Ia penasaran siapa yang akan menjadi partner dari putrinya.
"Sejauh ini yang saya lihat, Uchiha Sasuke, anda merupakan yang terdekat dengan Haruno Sakura. Apa saya salah, Sasuke?" Tsunade menaikkan sebelah alisnya. Sasuke meneguk air liurnya. Tidak mungkin ia memberitahu masalahnya dengan Sakura di sini. Ia tidak mencari mati. Sakura sendiri hanya dapat menundukkan wajahnya. Merasa miris, persahabatan yang terjalin bertahun-tahun antara ia dan Sasuke telah hancur hanya barang waktu sedetik akibat perbuatan nekatnya.
Sasuke dapat merasakan lidahnya menjadi kelu. Ia bahkan tidak dapat mengucapkan apa-apa lagi. Sasuke melirik ke arah Sakura yang sedang terdiam. Sasuke dapat melihat bahu Sakura yang bergerak naik dan turun. Sasuke menghela napasnya. Ia membenci Sakura, begitulah pikirannya. Namun, entah kenapa, perasaannya tidak enak bila ia melihat Sakura menangis. Biar bagaimanapun juga, Sakura merupakan mantan sahabatnya.
Sasuke berpikir bahwa ia akan menyetujui untuk menjadi partner Sakura. Hanya untuk saat ini. Setelah pesta, ia berpikir akan menyeret Sakura ke ruang Tsunade untuk membatalkan kontrak tentang partner itu. Sasuke berdecih pelan. Kini, ia merasa seperti orang yang sangat kejam.
'Semua ini terjadi karena gadis itu,' batin Sasuke sembari memandang tajam ke arah Sakura. Sakura menyadari arah pandang Sasuke kepadanya itu. Maka dari itu, ia semakin menundukkan wajahnya agar tidak ada yang tahu bahwa ia sedang menangis.
Ino yang sedang bersama Shikamaru, Naruto, Hinata, dan Neji, menatap ke arah Sasuke dan Sakura secara bergantian. Ino merupakan sahabat terdekat dari Sakura selain Sasuke. Bahkan Ino jauh lebih dekat. Ino dapat merasakan perasaan sahabat merah mudanya itu walaupun mereka tidak bersebelahan. Ino tahu ada yang tidak beres dengan kedua sahabatnya itu. Terlebih saat ia melihat Sasuke yang sedang menatap tajam ke arah Sakura yang terlihat seperti sedang menangis di mata Ino. Ino bertekad akan menanyakan tentang hal itu pada Sakura seusai pesta.
"Tch," umpat Sasuke pelan. Sepelan apapun umpatan Sasuke, Itachi masih tetap bisa mendengarnya. Itachi menggeram marah kepada Sasuke. Keduanya tangannya telah terkepal sempurna, siap untuk memukul wajah rupawan Sasuke kapanpun tangannya siap. Namun, perkataan Tsunade mengalihkan perhatiannya dari Uchiha bungsu itu.
"Jadi, apa jawabanmu, Uchiha Sasuke? Apakah kau akan menerimanya? Ataukah kau akan menolaknya?" Tsunade menatap dua bersaudara Uchiha itu secara bergantian. Begitupula dengan seluruh undangan. Uchiha Mikoto menatap kedua putranya secara bergantian. Ia adalah seorang ibu. Ia dapat menebak apa yang akan terjadi. Ia tadi melihat tatapan tajam Sasuke ke arah Sakura yang notabene sudah ia anggap sebagai anak perempuannya sendiri. Tak dipungkiri, hatinya turut sakit begitu ia menyadari Sakura sedang menangis dalam diam akibat ulah anak bungsunya.
Mikoto menebak bahwa Sasuke akan menerima tawaran Tsunade. Mikoto tahu sebagai seorang Uchiha, apalagi yang paling bungsu, Sasuke akan tetap menjaga harga dirinya agar tetap tinggi. Di saat seluruh orang menahan napas menunggu jawaban Sasuke, Mikoto tetap bersikap tenang karena ia sudah tahu jawaban Sasuke.
"Aku akan menjadi partner Sakura," jawab Sasuke tajam. Tidak ada yang menyadari ketidakrelaan Sasuke kecuali Sakura, Itachi, Mikoto, dan sahabat-sahabatnya. Mikoto menghela napas. Ia tahu ia pasti benar.
Emerald Sakura terbelalak lebar. Onyx kelam Sasuke menatap tajam emeraldnya. Tidak pernah Sakura merasa seterluka ini sebelumnya. Sakura terus menatap Sasuke dengan tatapan terluka. Sasuke sendiri sudah tampak tidak peduli terhadap tatapan Sakura yang membuat Itachi semakin ingin meninju perut Sasuke.
Tepuk tangan dan siulan terdengar dimana-mana. Mereka ingin turut bersuka cita dengan lahirnya partner dokter bedah yang baru. Mikoto melirik suaminya, Fugaku dari sudut matanya. Fugaku sedang bertepuk tangan sambil berdiri sambil memberi kedua jempolnya untuk anak bungsunya. Mikoto menghela napas dalam. Ini belum selesai. Mikoto tahu apa yang akan terjadi. Feelingnya sebagai ibu sangatlah kuat. Raut kekhawatiran yang sedari tadi ada di wajahnya terganti menjadi raut ketenangan. Sekali lagi, ia tahu apa yang akan terjadi. Dan firasatnya memberitahunya bahwa tebakannya benar.
Dengan senyuman tipis yang tidak akan disadari oleh siapapun, Mikoto bergumam dengan sangat pelan, "Itachi, okaa-san sangat bangga padamu."
Keadaan masih tetap riuh setelah Mikoto bergumam sampai seseorang berteriak dengan kencang untuk menghentikan keributan itu, "TUNGGU!" seluruh hadirin menoleh ke arah seseorang yang baru saja berteriak dengan kencang. Keadaan menjadi hening seketika. Mikoto masih tersenyum tipis menyadari bahwa dugaannya memang benar. Mikoto tidak hanya mengetahui sifat anak bungsunya. Mikoto juga mengetahui sifat anak sulungnya dengan sangat baik. Bahkan hingga siapa gadis yang anak sulungnya cintai.
"Apa ada masalah, Uchiha Itachi?" Tsunade tetap bersikap tenang seolah sudah tahu akan menjadi seperti ini. Sasuke mengernyitkan dahinya sembari menatap kakak semata wayangnya. Apa lagi yang akan dilakukan oleh kakaknya itu?
"Saya, Uchiha Itachi, bersedia untuk menjadi partner dari Haruno Sakura," semua mata di ruangan tersebut membulat sempurna. Tak terkecuali. Seorang Uchiha Itachi yang merupakan seorang dokter bedah terhebat di Konoha Hospital sejak dulu ingin mejadi partner dari seorang dokter perempuan berbakat yang bahkan kemampuannya bisa dibilang sama seperti Itachi.
Jika mereka berdua menjadi partner, mereka akan menjadi partner tak terkalahkan di Jepang atau bahkan Internasional. Sebab itu, tepuk tangan dan sorakan bahkan terdengar lebih meriah daripada tadi saat Sasuke menerima tawaran Tsunade. Mereka seakan mendukung Itachi untuk menjadi partner Sakura.
Sasuke menggeram kesal kepada Itachi. Kini, giliran Itachi yang mengernyit bingung. Bukankah seharusnya Sasuke senang? Mengapa ia menjadi kesal seperti itu? Rasa penasaran Itachi disela oleh Tsunade.
"Itachi, saya hargai keputusanmu. Namun, partner dari Sakura bukanlah saya yang menentukan, melainkan Sakura sendiri. Karena, sepasang partner haruslah saling mengerti satu sama lain," Tsunade memberikan mikrofon kepada Sakura.
"Nah, Sakura. Tentukan pilihanmu!" Tsunade memberi isyarat untuk Sakura agar berbicara menggunakan mikrofon tersebut.
Sakura meneguk air liurnya, ini adalah saat-saat menegangkan bagi dirinya. Seakan keputusan ini adalah keputusan hidup atau matinya, Sakura mulai berbicara dengan gemetar, "Saya, Haruno Sakura akan memilih..."
TBC
Wahahaha. Bersambungnya sedikit gantung ya? XD /thor /tegakamu
Gimana nih... Siapa ya yang dipilih Sakura XD sudah ada di script yang dipegang Sakura tuh..
Sakura: "Diem dulu Luce, biarkan mereka berandai-andai."
Ah baiklah-baiklah. Saya tidak mau merasakan pukulan seorang Haruno Sakura. Saya pamit dulu~ Sampai jumpa di chapter depan!^^
Review pleasee!~
