AUTHOR'S NOTE:
MAAFKAN SAYA KARENA SUDAH TIDAK UPDATE BEBERAPA LAMA. INI SEMUA DISEBABKAN KARENA SEKOLAH YANG BEGITU SIBUK SEHINGGA SAYA TIDAK DIIZINKAN UNTUK MENULIS KARYA-KARYA SEPERTI INI LAGI. UWAA POKOKNYA SELAMAT MENIKMATI CHAPTER INI!
Previous chapter:
"Itachi, saya hargai keputusanmu. Namun, partner dari Sakura bukanlah saya yang menentukan, melainkan Sakura sendiri. Karena, sepasang partner haruslah saling mengerti dan menyayangi satu sama lain," Tsunade memberikan mikrofon kepada Sakura.
"Nah, Sakura. Tentukan pilihanmu!" Tsunade memberi isyarat untuk Sakura agar berbicara menggunakan mikrofon tersebut.
Sakura meneguk air liurnya, ini adalah saat-saat menegangkan bagi dirinya. Seakan keputusan ini adalah keputusan hidup atau matinya, Sakura mulai berbicara dengan gemetar, "Saya, Haruno Sakura akan memilih..."
Surgeon Love
by Lucy Hinata
Copyright© Masashi Kishimoto
Romance, Drama, Hurt/Comfort, and Friendship
Pairing: Sasuke x Sakura
Warning: A little bit OOC, mild language, slight SasuHina & SakuIta
Summary: Haruno Sakura. Gadis cantik dan manis yang mencintai pekerjaannya sebagai dokter bedah. Uchiha Sasuke. Lelaki tampan dan angkuh yang melakukan pekerjaannya sebagai dokter bedah hanya sebagai kewajiban. Benang kusut kini melilit di antara mereka. Pekerjaan, persahabatan, dan bahkan... Cinta.
DISCLAIMER : I DO NOT OWN NARUTO
Chapter 5
NORMAL POV
"Saya, Haruno Sakura akan memilih..." Sakura menahan kalimatnya, terlalu gugup. Dia sudah menentukan pilihannya. Namun, hatinya entah kenapa tetap tidak tenang.
Sementara itu, baik Sasuke maupun Itachi masih dengan setia menunggu jawaban dari putri tunggal keluarga Haruno. Hei Sasuke, apa yang kau harapkan?
Mikoto tetap duduk tenang di kursinya, ia sendiri sudah tahu siapa yang akan dipilih Sakura. Mebuki saja tidak tahu, jelas ia tidak tahu, sebab ia tidak melihat tatapan tajam Sasuke tadi. Bagi yang tidak tahu mengenai interaksi dingin antara Sasuke dan Sakura, masih menjadi misteri pastinya.
"Saya akan memilih... Uchiha Itachi sebagai partner saya!" Sakura telah memutuskan pilihannya. Mikoto tersenyum puas, sebab untuk kali ketiganya, dugaannya benar. Hati Sasuke serasa mencelos mendengar jawaban Sakura. Apa yang kau harapkan, Sasuke? Kau sendiri yang tadi dengan tegas menolaknya.
Itachi melesat meninggalkan sisi Sasuke untuk berdiri di sisi Sakura sebagai partner barunya. Sasuke sendiri masih terdiam. Dia tidak menyangka bahwa Sakura akan memilih Itachi. Tadinya, ia yakin bahwa Sakura akan memilih dirinya mengingat Sakura mencintainya. Sekarang, begitu melihat Itachi sedang bersanding dengan Sakura, entah mengapa ada perasaan tidak rela menghinggapinya.
Sasuke takut. Takut yang berlebihan. Itulah yang sedang Sasuke rasakan kali ini. Ia tahu sebab ini adalah kali kedua ia merasakannya.
Flashback
"Kau mau pergi ke Jerman?! Kau tidak sedang bercanda kan, Sakura? Tunggu, tanggal berapa hari ini? Tanggal 1 April ya?" Sasuke kalang kabut mencari handphonenya. Memastikan bahwa tanggal hari ini adalah 1 April dan Sakura sedang berusaha untuk mengerjainya dan teman-temannya.
"Sudahlah Sasuke," Ino mencoba untuk menenangkan Sasuke yang bahkan sudah lupa bahwa ia menaruh handphonenya di atas meja kantin sekolah mereka. Padahal Ino sendiri sudah mengeluarkan air matanya dengan deras.
"Mendokusai," Shikamaru mengeluarkan gumaman andalannya. Namun, tak bisa ia pungkiri, raut kecemasan terlihat dengan jelas di wajahnya. Ia cemas dengan Ino, gadis yang ia cintai secara diam-diam, yang akan menangis terus-terusan, mengingat sahabatnya akan pergi ke Jerman. Ia lebih cemas lagi dengan Sakura, gadis yang merupakan sahabat masa kecilnya juga, yang akan pergi jauh dari mereka. Shikamaru tidak mencintai Sakura. Shikamaru menyayanginya. Sakura lebih muda darinya. Shikamaru telah menganggap Sakura seperti adiknya sendiri. Selama Sakura di Konoha, Shikamaru, Sasuke, Naruto, Neji, dan Itachi akan selalu melindunginya. Namun tidak mungkin mereka dapat melindunginya jika Sakura berada di Jerman.
Shikamaru akui bahwa Sakura sangat cantik. Apalagi dengan rambut merah mudanya yang membuatnya terkesan unik. Juga tidak lupa dengan sifatnya yang ceria yang membuatnya juga terkesan imut. Pria manapun akan tertarik dengan Sakura. Shikamaru tidak akan mengizinkan pria lain mendekati Sakura. Shikamaru lebih suka apabila salah satu dari Sasuke, Itachi, Neji, ataupun Naruto yang mendekati Sakura. Begitupula dengan Hinata. Shikamaru tidak akan segan-segan untuk membunuh siapapun yang berani menyentuh mereka berdua yang sudah Shikamaru anggap seperti adik sendiri.
Lain lagi dengan Ino. Shikamaru bahkan tak akan segan-segan untuk menguliti sahabat-sahabatnya yang berusaha untuk mendekati Ino. Bagi Shikamaru, Ino hanyalah miliknya seorang.
"Sakura-chan, kau benar-benar akan pergi ke Jerman? Uwah, aku pasti kangen denganmu -ttebayo!" Naruto memasang ekspresi sedih sambil memakan ramennya. Sakura sendiri tidak tahan untuk tidak tertawa saat melihat Naruto yang seperti itu. Sangat tidak elite.
"Tentu saja. Kita sekarang kan sudah kelas 3 SMA. Aku akan melanjutkan universitas di Jerman untuk memperdalam ilmu kedokteranku. Kalian masih ingat janji kita kan?" Sakura tersenyum lebar memperlihatkan gigi-gigi putihnya.
"T-tentu saja, Sakura-chan. U-um, aku akan merindukanmu, Sakura-chan," Hinata sampai mengeluarkan air matanya. Sakura pasti sangat berarti bagi dirinya. Tentu saja, Sakura adalah orang yang paling disayanginya sejak kecil. Jika tidak ada Sakura, Hinata tidak akan seperti ini.
"Aku juga akan merindukanmu, Hinata-chan," Sakura memeluk Hinata dengan erat.
"Forehead," Ino memanggil Sakura dengan suaranya yang gemetar, "Jangan lupakan aku."
Sakura tertawa kecil, "Hei, siapa yang bilang aku akan melupakanmu, Pig? Aku hanya bilang aku akan ke Jerman untuk sementara, kan? Lagipula, jika sudah menyelesaikan studiku di universitas, aku akan kembali ke Konoha dan bekerja bersama kalian."
Sementara yang lain bernapas lega, Sasuke hanya terdiam. Ia tidak tahu apa yang ia rasakan saat ini.
"Hei, Sasuke. Kau kenapa?" suara merdu Sakura yang memanggilnya menyadarkan Sasuke. Sasuke menggeleng dengan kuat.
"Apa kau sudah memberitahu Itachi-nii dan Neji-nii?" Sasuke mengalihkan pembicaraannya.
"Um belum. Aku belum sempat memberitahu mereka. Aku baru saja melihat pengumuman kelulusanku pagi ini," Sakura tersenyum lebar, "Aku akan memberitahu mereka sepulang sekolah."
"Kau serius dengan keputusanmu ini, Sakura?" Sasuke mengernyitkan keningnya. Dapat dilihatnya Sakura sedang menimang-nimang.
"Tentu saja. Ini demi cita-cita kita," Sakura tersenyum dengan manis. Sasuke merasa ia akan sangat lama tidak melihat senyuman Sakura yang sangat ia suka itu.
.
.
.
.
"Itachi, kau sudah dengar perihal Sakura?" Sasuke melirik kakaknya yang sedang membaca majalah. Mereka sedang berada di kediaman Uchiha. Merasakan lirikan dari adiknya, Itachi menutup majalah yang sedang ia baca tadi.
"Sudah. Mengapa kau bertanya?" Itachi mengerutkan keningnya. Meskipun Itachi berusaha menyembunyikannya serapat apapun, Sasuke tahu Itachi sedang gusar. Sasuke menghela napasnya. Mereka bertujuh tentu tidak dapat begitu saja merelakan Sakura untuk pergi ke Jerman. Mereka perlu membiasakan diri.
"Mengapa kau gusar, Itachi?" Sasuke menatap kakaknya itu. Onyx kelam Itachi membulat. Ia tidak menyangka Sasuke tahu bahwa ia sedang gusar. Omong-omong, tentu saja ia gusar. Bayangkan saja, gadis yang ia sayangi melebihi adiknya sendiri akan pergi ke Jerman. Pikiran Itachi tentu saja melayang kemana-mana. Bagaimana kalau Sakura kenapa-napa saat ia tidak ada di sana? Bagaimana kalau Sakura tidak ada yang melindungi? Itachi tidak akan mungkin bisa langsung ke sana kalau Sakura meminta tolong kepadanya.
Itachi menghela napasnya kasar, "Sasuke, apa kau pernah merasakan rasa takut yang berlebihan? Bahkan rasa takut itu menyebabkan kau ingin hilang saja dari dunia ini."
Sasuke mengerutkan dahinya sebentar. Ia berpikir dahulu. Rasanya ia pernah merasakannya. Bahkan belum lama ini. Kapan...
"AH!" Sasuke menepukkan kedua tangannya hingga mengagetkan Itachi.
"Kau ini kenapa, Sasuke?" Itachi mengerucutkan bibirnya sebal.
"Aku tadi merasakannya, Itachi," Itachi mengangkat alisnya, menunggu kelanjutan kata-kata Sasuke, "Saat pertama kalinya Sakura bilang kalau dia mau pergi ke Jerman."
"Saat ia bilang kalau dia mau ke Jerman, entah mengapa ada perasaan tidak rela, Itachi. Aku hanya merasa aku tidak bisa hidup tanpa dia berada di sisiku. Seperti yang kau bilang, Itachi. Aku merasa aku ingin hilang saja dari dunia ini begitu mendengar kabar itu dari Sakura. Aku tidak sanggup membayangkan dia akan pergi jauh dariku," Sasuke menjelaskan dengan panjang lebar. Itachi sendiri hanya terdiam, tak mampu mengucapkan sepatah katapun.
"Hei, baka," Itachi memanggil Sasuke dengan pelan, "Pengalamanmu benar-benar masih nol ya?"
Sasuke mengernyit bingung. Apa salahnya hingga Itachi mengatainya bodoh?
"Apa kau tahu itu namanya apa?" Itachi bertanya lagi mengejutkan Sasuke.
"Aniki, kau itu bodoh ya? Tadi kau sendiri yang bilang kalau itu namanya rasa takut yang berlebihan," Sasuke mengerucutkan bibirnya sebal. Kakaknya mengatainya bodoh, padahal menurutnya, Itachi lebih bodoh lagi.
Itachi menepuk dahinya sendiri dengan pelan sembari tertawa keras, "Aku lupa kalau kau sangat lambat, Sasuke."
"Kau ini gila ya, Itachi?" Sasuke mengernyitkan dahinya bingung mengamati Itachi yang masih tertawa keras.
"Ya ya, kau benar. Itu namanya rasa takut yang berlebihan," Itachi melenggang pergi meninggalkan Sasuke yang terbengong di ruang tamu, masih dengan tertawa keras.
Setelah sampai di kamarnya, Itachi berhenti tertawa. Ia terduduk lemas sembari menutupi wajah kusutnya dengan kedua tangannya. Setelah mengetahui Sakura akan pergi ke Jerman, ia mendapati sesuatu yang turut mengejutkan.
Itachi bergumam pelan dengan suara yang gemetar, "Sasuke, aku tidak menyangka aku akan bersaingan cinta denganmu."
Flashback end
Sasuke merasakan sesak di dadanya. Hatinya sakit melihat Itachi dan Sakura berdiri berdampingan sebagai sepasang partner baru. Ia sendiri tidak tahu mengapa ia merasakan hal seperti ini. Padahal ia yakin kalau ia mencintai Hinata.
"Saya ucapkan selamat kepada Uchiha Itachi dan Haruno Sakura yang telah menjadi pasangan partner baru," ucapan selamat Tsunade mengundang sorakan dari para hadirin. Sasuke berdecih pelan. Egonya sebagai anak bungsu Uchiha telah kembali.
"Untuk apa aku menyesali penolakanku atas Sakura. Aku pasti sudah gila!" Sasuke meninggalkan ruangan pesta tanpa menoleh sekalipun.
SAKURA'S POV
Itu kan Sasuke. Aku melihat Sasuke keluar dari pintu rumah sakit. Hatiku nyeri mengingat bagaimana kerasnya tadi dia menolak untuk menjadi partnerku
Aku melirik ke arah Itachi yang sedang tersenyum bahagia di sebelahku. Aku tersenyum tipis. Setidaknya aku masih punya satu orang yang menyayangiku. Itachi-nii.
SAKURA'S POV END
NORMAL POV
"Congrats Sakura-chan!" Naruto tersenyum lebar tatkala mereka sudah berkumpul bersama. Sakura menyadari bahwa Sasuke tak ada bersama mereka. Namun, ditutupi kegelisahannya itu dengan senyuman cerianya.
"Terima kasih Naruto! Oh iya, aku ingin bertanya sesuatu padamu," Sakura teringat akan insiden yang sempat dibicarakan oleh Tsunade. Oleh karena itu, ia ingin bertanya kepada Naruto sendiri secara langsung. Naruto memiringkan kepalanya bingung.
"Apa yang ingin kau tanyakan, Sakura-chan?" Naruto menatap emerald Sakura bingung. Baru saja Sakura ingin bertanya mengenai insiden tersebut, namun Ino telah lebih dahulu menarik Sakura untuk ikut bersamanya.
"Aku pinjam tokoh utamanya sebentar!" Ino menarik tangan Sakura dengan terburu-buru. Gurat kecemasan tampak sangat jelas di wajahnya. Sakura bertanya-tanya apa yang terjadi dengan Ino hingga wajahnya tampak cemas seperti itu.
.
.
Setelah Ino dan Sakura sampai di kafe kesukaan mereka dulu, Lava Cafe, Ino memanggil pelayan yang dulu biasa melayani mereka.
"Hina-chan!" Ino memanggil pelayan tersebut setelah mereka menentukan pilihan mereka. Dengan tergopoh-gopoh, pelayan yang dipanggil Hina tadi berjalan ke arah mereka.
"Ino-chan dan... Sakura-chan! Sudah lama sekali aku tidak berjumpa denganmu, Sakura-chan. Kalau dengan Ino-chan sih sudah sering sekali. Aku saja rasanya sampai bosan melihat wajahnya," kata Hina terkekeh pelan dan mendapat balasan death glare dari Ino. Sakura tertawa keras ke arah Ino. Jarang ada yang mengejek Ino seperti itu kecuali dirinya... Dan tentu saja Shikamaru.
"Kau jahat sekali. Aku tidak jadi makan di sini nih," Ino mengerucutkan bibirnya sebal. Hina terkekeh pelan sambil menggelengkan kepalanya, "Tidak tidak, aku hanya bercanda. Kalian mau pesan apa?"
"Untukku seperti biasa. Cherry Tart with Custard Cream. Untuk Sakura, Cherry Tart with Strawberry Syrup," jawab Ino. Hina menganggukkan kepalanya sejenak sebelum pergi untuk mengantar pesanan mereka ke arah dapur.
"Jadi apa yang mengganggu pikiranmu, pig?" Sakura menatap iris aquamarine Ino dengan serius dan intens. Sesering apapun mereka bertengkar, mereka merupakan sahabat. Sudah sewajarnya Sakura merasa khawatir terhadap Ino.
"Hei baka. Aku ini mengkhawatirkanmu tahu!" Ino menggelengkan kepalanya sambil berdecak tidak sabar. Sahabatnya ini selain keras kepala ternyata juga tidak peka.
"Ada apa denganku?" Sakura memprotes Ino yang telah mengatainya bodoh. Ia kan tidak salah apa-apa.
"Kau kira aku tidak tahu bahwa kau sedang ada masalah dengan Sasuke?" Ino menaikkan sebelah alisnya gemas. Dapat dilihat oleh Ino bahwa iris emerald Sakura perlahan memudar. Dugaannya benar. Gadis di depannya ini sedang ada masalah dengan Sasuke.
"Semudah itukah tertebak olehmu?" Sakura tersenyum miris ke arah Ino. Ino memandang Sakura dengan iba. Ia bukan sahabat yang baik apabila ia tidak dapat menebak apa yang sedang terjadi dengan Sakura. Perlahan tapi pasti, Ino dapat melihat iris emerald Sakura mulai mengeluarkan air mata.
'Haaa... Apa sih yang sebenarnya terjadi antara Sakura dan Sasuke?' batin Ino frustasi. Sudah cukup ia mengurusi Shikamaru yang selalu mengatainya 'troublesome' atau 'mendokusai'. Ino mendecak ke arah sahabatnya. Namun, di satu sisi, ia merasa sayang kepada sahabatnya. Ia akan melakukan segala cara agar tidak melihat air mata sahabatnya itu lagi.
"Aku..." Sakura menghapus bulir air mata yang telah menuruni pipi mulusnya. Irisnya yang dipenuhi air mata menatap iris aquamarine milik Ino dengan intens. Ino masih dengan setia menunggu Sakura melanjutkan kata-katanya.
"Aku masih mencintai Sasuke!" Ucap Sakura seraya menutup wajahnya yang dihiasi air mata dengan kedua tangannya. Ino membelalakkan matanya dan kemudian menggeram pelan. Empat kata dari Sakura sudah cukup membuatnya geram sekaligus terkejut. Ino melihat sahabatnya yang makin meneteskan air mata dengan deras. Sesedih itukah sahabatnya hanya karena seorang Uchiha Sasuke? Dan lagipula, bagaimana ia tidak terkejut? Sudah bertahun-tahun lewat dan Sakura masih menyimpan rasa untuk Sasuke? Gadis macam apa sahabatnya ini? Ia tahu Sakura kuat, tapi untuk menyimpan perasaan cinta kepada seseorang yang sama, sementara ia pasti digandrungi oleh laki-laki di universitasnya beberapa waktu lalu? Sakura sangat tegar.
"Dan semalam, ia menghinaku sebagai gadis jalang," Sakura makin tersedu-sedu. Iris Ino membulat. Apa? Ia tidak salah dengar? Seorang Sasuke berani menghina Sakura 'gadis jalang'? Dengan geram, Ino mengepalkan tangannya dengan kuat. Ia menyodorkan tangannya kepada Sakura seakan meminta sesuatu.
"A-apa?" Sakura menaikkan alisnya bingung. Ino terlihat sangat menyeramkan saat ini. Seorang lucifer yang dikatakan sebagai iblis saja kalah menyeramkan jika dibandingkan dengan Ino saat ini. Ino seakan dapat menelan habis Sakura jika ia tidak dapat mengendalikan emosinya saat ini.
"Handphonemu!" Ino berdecak tidak sabar sekaligus menahan emosi. Sakura menatap Ino dengan ragu. Mau apa sahabatnya itu dengan handphonenya? Tidak mungkin Ino akan memakan handphonenya kan? Tapi Sakura menyerahkannya juga kepada Ino. Dengan takut-takut pastinya.
Ino terlihat sedang menekan-nekan tuts dari keyboard handphone milik Sakura. Tak lama, ia menempelkan handphone Sakura dengan telinganya. Ino terlihat menggeram tidak sabar.
"Halo!" Ino memberi salam sekaligus menggertakkan giginya. Lama Ino tak berbicara seakan sedang mendengar lawan bicaranya di telepon yang sedang berbicara. Sakura menatap Ino heran. Siapa yang sahabatnya itu telepon? Dapat dilihatnya, setelah sang lawan bicara selesai berbicara, mata Ino semakin berkilat marah. Apa yang telah dikatakan oleh lawan bicara Ino ya? Sakura mengerling penasaran.
"Aku. Yamanaka. Ino." Ino memberikan penekanan pada setiap kata-katanya. Ino merasakan emosinya akan meledak kapan saja saat emosinya siap untuk meledak.
INO'S POV
Aku menekan nomor-nomor yang sudah kuhafal. Aku menggertakkan gigiku kesal. Tak lama, aku sudah menempelkan handphone milik Sakura dengan telingaku. Aku tak sabar menunggu orang yang kutelepon untuk mengangkat panggilanku.
Setelah tak ada nada apapun lagi yang terdengar, dapat kupastikan ia telah menjawab teleponku. Sebagai manusia yang sopan dan bertata krama, tentu saja aku harus menyapanya terlebih dahulu.
"Halo!"
'Hn. Mau apa kau, gadis jalang?' jawab lawan bicaraku. Dapat kurasakan darahku naik hingga mencapai ubun-ubun. Aku mengepalkan tanganku dengan kuat. Dia tidak bisa membedakan suaraku dengan Sakura, heh? Sahabat macam apa dia itu?
"Aku. Yamanaka. Ino." Aku memberikan penekanan di setiap kata-kataku. Aku sudah tidak sabar untuk meretakkan tulang rahang orang ini kalau kami bertemu.
'Oh kau, Ino. Ada apa?' Kali ini dia menjawabku dengan santai. Seenaknya saja dia itu. Aku menggeram marah. Aku baru saja akan mencacinya saat dia melanjutkan kata-katanya.
'Kau sedang bersama gadis merah muda jalang itu, heh? Sampaikan salamku padanya. Katakan bahwa dia tidak pantas bersanding denganku. Hanya Hinata yang pantas bersanding denganku. Dan katakan padanya untuk tidak mempermainkan perasaan kakakku, karena dia adalah gadis jalang yang senang merebut ciuman pertama seorang laki-laki,' dapat kudengar dari nada bicaranya bahwa ia sedang tersenyum mengejek.
"KAU BRENGSEK, UCHIHA SASUKE! KAU TIDAK TAHU APA-APA MENGENAI SAKURA! JANGAN HARAP KAU SELAMAT SAAT BERTEMU DENGANKU!" tanpa sadar aku menggebrak meja yang sedang aku tempati dengan Sakura. Aku tak peduli dengan aku yang menjadi pusat perhatian dari kafe ini karena teriakan -atau yang lebih tepat dikatakan umpatan dan gebrakanku tadi. Biarkan saja, toh, emosiku memang sedang meluap-luap.
Mendengar aku yang berteriak seperti itu, Sasuke langsung menutup teleponnya. Heh? Dia mau kabur dariku? Aku menyeringai sinis. Sesaat Sakura sempat melototiku tajam. Dia seperti hendak menyemburku dengan pertanyaan-pertanyaannya. Namun, pesanan kami sudah sampai terlebih dahulu dan menutup mulut cerewetnya.
INO'S POV END
NORMAL POV
"Pig, kau belum menjelaskan apa yang kau bicarakan dengan Sasuke tadi!" Sakura melotot ke arah Ino. Ino sendiri hanya terkekeh pelan. Setidaknya ia sudah mencaci maki Sasuke. Dan juga Sakura sudah tidak menangis lagi. Mungkin ia merasa senang. Ia berkata bahwa kue yang dimakannya enak sekali.
"Kau tidak dengar, forehead? Aku kan bilang kalau dia brengsek. Apa lagi yang mau kau tanyakan?" Ino tertawa geli melihat kegusaran Sakura. Ia tahu yang Sakura gusarkan. Sakura menginginkan jawaban Ino berupa perkataan Sasuke kepada Ino tadi.
'Like hell I will tell you about that!' batin Ino geli. Dia tidak mau membuat sahabatnya itu semakin sedih akibat perkataan Sasuke tadi. Dia harus mengubah arah pembicaraan ini. Dan ia menemukan topik yang sangat tepat.
TBC
Selesai akhirnya~ hohoho tunggu chapter 6 nya yaaa~
Mind to review? Jangan jadi silent reader XD
Setidaknya biarkan aku tahu komentar kalian tentang cerita ini XD
Silahkan review~~
