New FanFic!!! Yoohoo!!
DISCLAIMER : Persona 3 (FES), Akihiko, Mitsuru, all is ATLUS'!
Enjoy! ^^
--
Mitsuru's POV
Aku melirik jam dinding di sebelah kiri jendela tempatku duduk sekarang. Sudah hampir jam sebelas malam, dan aku tidak bisa tidur. Seharusnya aku sudah tidak boleh keluar dari istana kalau sudah lewat dari jam sembilan. Tapi hari ini aku memberanikan diri mengendap-endap keluar. Ternyata di luar istana sudah lumayan sepi, jadi mudah saja bagiku untuk kabur malam ini.
"Uhm… Mau pergi ke mana ya? Jalan-jalan di taman saja deh." Aku memutuskan untuk pergi ke "taman bermain"-ku waktu kecil. Sebuah taman yang cukup besar seperti labirin, dan hampir seluruh bunga yang ada di situ hanyalah mawar merah.
Sudah cukup lama aku tidak ke sini, karena tugas-tugas yang menumpuk. Mulai dari masalah keuangan, istana tempatku tinggal, sampai ke masyarakat, hampir semuanya dipertanggung jawabkan olehku. Alasannya sih karena aku sudah besar dan sudah harus mulai belajar mengelola segala sesuatu. Tapi itu semua omong kosong karena mau sampai kapan pun, Raja dan Ratu di sini akan tetap orang tuaku.
Karena bosan memikirkan hal-hal seperti itu, aku berjalan tanpa arah di taman ini, dan tanpa terasa aku sudah sampai tepat di tengah-tengah taman yang bagaikan labirin ini. Saat aku akan berganti arah, aku melihat seseorang yang sedang memandangi mawar-mawar merah. Entah kenapa aku memutuskan untuk mendekatinya.
"Selamat malam." Sapaku. Orang itu tampak agak terkejut, tapi ia menyapaku juga.
"Selamat malam, Princess Mitsuru." Sapanya sambil menundukkan kepalanya.
Tampaknya ia ingin membuatku terkejut juga. "Kau tahu aku?" Tanyaku.
"Ya, tentu saja." Jawabnya.
"Uhm… tapi maaf, rasanya aku tidak pernah melihatmu di sini." Aku mengatakan ini karena ia tampak seperti pangeran dengan beberapa armor besinya.
"Oh, namaku Akihiko Sanada. Aku bukan berasal dari sini, dan baru saja sampai tadi siang." Balasnya.
Aku menganggukkan kepala beberapa kali, lalu ikut memandangi bunga-bunga yang sudah lama kutinggalkan ini. Biasanya aku selalu ke sini untuk merawat mereka, atau sekedar 'menyapa' mereka. "Indah ya." Kataku.
"Hmn, taman bunga ini langsung menarik perhatianku." Balasnya.
"Taman ini sudah ada sejak sebelum aku lahir, katanya sih yang merawatnya orang-orang dari istanaku juga." Jelasku singkat. "Aku juga ikut." Tambahku sambil tersenyum, dibalas oleh senyumannya. "Ngomong-ngomong, apa ada sesuatu yang ingin diselesaikan di sini, Prince Akihiko?" Tanyaku.
"Ah, jangan panggil aku begitu, tidak enak didengar." Protesnya.
Aku tertawa kecil. "Baiklah, Akihiko." Kataku.
"Aku ke sini… sebenarnya tidak ada tujuan khusus." Jelasnya singkat yang malah membuatku bingung.
"Lalu kenapa kau memilih daerah sini?" Tanyaku lagi.
"Itu juga aku tidak tahu." Jawabnya.
"Kau sulit dimengerti." Komentarku.
"Memang." Balasnya cuek.
Kesan pertamaku padanya sih sebenarnya positif… Tapi baru juga mengobrol—tidak sampai—lima menit, rasanya kesan positif itu lama-lama ditambah kesan negatif…
Aku berjalan menjauhinya dan menikmati angin di taman yang lebih mirip dibilang labirin yang terbuat dari keramik dan marmer ini.
"Hmm… Apa maksudmu tadi… kau kabur?" Tanyaku iseng sekaligus curiga.
"Kabur??" Sudah kuduga, sepertinya bukan itu… "Bisa dibilang iya."
"Hah??" Aku langsung menoleh padanya yang memasang tampang tak berdosa. "Serius?" Tanyaku.
"Apa aku terlihat sedang bercanda?" Balasnya.
"Well… Tidak." Kataku.
"Ya, kalau begitu jelas."
"T-Tapi kau tidak mungkin benar-benar kabur, kan?" Tanyaku penasaran dan berjalan cepat sedikit mendekatinya.
"Memangnya kau sendiri diperbolehkan keluar dari tempat tinggalmu jam segini?"
Aku terdiam sejenak, menyadari aku berbuat hal yang nyaris sama dengan yang dilakukan Pangeran aneh satu ini. "Memang tidak… Tapi aku baru sekali melakukannya." Kataku memberi alasan.
Ia mendekat dan berdiri tepat di hadapanku. "Alasan seperti itu tidak bisa diterima, Tuan Putri." Balasnya dengan nada menggoda.
"Lama-lama aku bisa menghajar orang satu ini…" Rupanya inilah keahliannya ya? Membuatku melupakan semua perilaku seorang putri kerajaan yang terhormat.
"Terserah. Aku tidak bisa tidur." Kataku. "Ngomong-ngomong, kau menginap di mana?" Tanyaku tanpa membiarkan dia membalas perkataanku sebelumnya.
"Di penginapan, tentu saja." Balasnya asal.
"Sepertinya memang tidak akan ada yang mengenalimu ya." Komentarku.
Ia mengangkat bahunya. "Begitulah." Katanya.
Beberapa detik kemudian terdengar suara seseorang dari antara taman ini, dan aku tahu itu pasti seseorang dari istanaku yang diminta mencariku, atau hanya sekedar mengawasi taman ini, kalau-kalau ada orang yang mencurigakan. Dan dalam kasus ini, orang itu adalah aku dan pangeran cuek satu ini.
Aku menariknya untuk bersembunyi di balik pagar. "Aku harus segera kembali, kau juga pergilah kalau tidak mau dapat masalah panjang dalam… pelarianmu ini." Kataku.
"Justru sebenarnya aku sedang cari masalah." Balasnya.
Sudah kuduga, orang satu ini tidak waras! "Pergilah, kalau aku ketahuan bisa gawat, tahu!" Ujarku berbisik. Suasana di sini sangat sepi, aku takut suara sekecil apa pun akan terdengar.
"Kau saja yang pergi, aku masih mau di sini." Katanya.
"Hei, kau pikir ini taman milik siapa? Orang aneh sepertimu seenaknya masuk tidak akan ditolerir!" Balasku jengkel. Sampai kapan sih dia mau menggodaku?
"Sayang sekali, aku bukan orang aneh, Mitsuru." Oh, sudah berani memanggil namaku rupanya…!
"Apa katamu lah, aku harus pergi." Kataku menyerah pada sikapnya, dan berjalan ke arah pintu masuk. Tapi baru berjalan dua langkah, aku mendengar suara langkah kaki lainnya dari arah yang kutuju. Itu otomatis membuatku mundur lagi dan—lagi-lagi—bertemu dengan sang pangeran.
Aku tidak mengatakan apa-apa, dan itu membuatnya angkat bicara. "Mau kubantu?" Tawarnya.
"Tidak." Balasku cepat dan tegas.
Dan kali ini aku beruntung, pintu masuk dapat kulihat, dan tak ada seorang pun di sana. Aku tidak mau mengulur-ulur waktu lagi, dan dengan cepat menuju ke sana.
"Kuharap kita bertemu lagi di saat yang lebih tepat. Jangan keluar malam-malam, atau kubawa kau pulang." Sampai akhir pun dia tak mau menyerah…
"Ter-se-rah!!" Balasku kesal, jengkel, dan marah.
Kuharap kita tidak bertemu lagi, Akihiko!
…
Tapi kurasa… Entah kebetulan, sengaja, atau aku diikuti terus… Setiap kali aku ke taman itu, aku selalu bertemu dengannya, tanpa pandang pagi, siang, sore, malam—walaupun malam hari jarang.
"Kau… sebenarnya apa sih tujuanmu ke sini?" Tanyaku suatu hari.
"Sudah kubilang kan, aku tidak punya tujuan khusus." Balasnya.
"Tapi… Sampai kapan kau mau di sini? Apa tempat ini sebegitu menariknya bagimu?"
"Ya… semacam itu."
Kami terdiam sejenak, sibuk dengan pikiran masing-masing. Aku sendiri memikirkan, bagaimana bisa kami bertemu terus. Selama ini aku selalu berpikir tak ada jalan lain selain mengikutiku terus, tapi itu jelas tak mungkin dilakukan. Karena penjagaan istanaku sangat sulit diterobos, walaupun dari jarak dua puluh meter sekalipun.
"Maaf, kalau kau merasa tidak senang bertemu denganku terus…" Katanya tiba-tiba, membuatku sangat terkejut.
"A-Ah, tidak apa. Aku tidak bermaksud begitu…" Balasku canggung. Aku benar-benar tidak menyangka ia akan mengatakan hal ini. Entah memang pandai bersandiwara, atau ia benar-benar jujur. Tapi aku melihat senyum sedih di wajahnya.
"Kalau kau mau, aku bisa menghilang dari hadapanmu." Katanya langsung tanpa basa-basi.
Entah kenapa aku merasa agak… tidak rela kalau tidak bisa bertemu dengannya lagi. "Jangan, aku tidak akan pernah memintamu untuk melakukannya." Balasku tidak kalah tegasnya.
Ia menoleh padaku dan tersenyum—senyum damai yang baru pertama kali ia perlihatkan di depanku. "Terima kasih." Katanya.
Rasanya aku tidak mampu memandang wajahnya saat ini, jadi aku menjawab sambil menunduk. "Tidak perlu berterima kasih…" Balasku setengah berbisik.
Mungkin… pertemuan kita adalah takdir?
--
Yosha, Chapter 1 : The Fates Meet, finished! Sebenernya saya tidak bermaksud bikin mereka berantem begini, tapi… Entah kenapa ceritanya jalan sendiri tidak sesuai dengan kemauan saya, dan tampaknya begini lebih bagus daripada kemauan saya. XDDD
Hope you enjoy it, and please review if you're willing. ^^
