Chapter 2 siap untuk dibaca. =)
DISCLAIMER: Persona 3 FES is ATLUS'.
Enjoy! ^^
--
Mitsuru's POV
Entah bagaimana caranya, sejak saat itu setiap malam—tidak peduli bisa tidur atau tidak—aku selalu kabur keluar dan pergi ke taman. Aku beruntung, karena tujuanku ke taman cuma satu, dan tujuan itu selalu tercapai.
Jadi… seperti malam-malam sebelumnya, hari ini pun aku kabur lagi…
"Kalau dipikir-pikir, yang dulu mengubah peraturan tentang penjagaan taman itu kan aku… Dulu sih tiap malam pintu gerbang pasti dijaga minimal dua orang, tapi aku memprotes dengan alasan taman itu milik masyarakat juga, dan toh di dalamnya tidak ada yang begitu berharga selain bunga-bunga yang tidak mungkin dicuri semuanya." Pikirku selama perjalanan ke taman. Jalannya tidak terlalu jauh, tapi aku tetap harus berhati-hati kalau tidak mau dapat masalah.
Tapi kok malam ini ada yang beda ya? Seperti ada yang… mengikuti…
Akihiko's POV
Aku sedang menunggu—walaupun tidak yakin akan ada yang datang—di tengah-tengah taman ini lagi, seperti yang sudah hampir seminggu ini kulakukan tiap hari. Jadi aku— Oh, itu dia. Tumben datang dari arah yang berbeda dari biasanya. Sekarang dia jadi membelakangiku, dan… jiwa usilku keluar lagi… Aku memetik setangkai bunga dan mengendap-endap di belakangnya.
"Mitsuru!!" Panggilku cukup keras sambil menepuk pundaknya sampai membuatnya berteriak dan cepat-cepat menoleh ke arahku. Dan yang dilihatnya bukan aku, tapi bunga yang kupetik tadi.
Ia menghela nafas. "Apa lagi yang ada di pikiranmu?" Tanyanya dingin.
Aku tertawa kecil. "Ini untukmu." Balasku sambil memberikan setangkai bunga itu.
Mitsuru terdiam sesaat, memandang bunga itu dan senyumnya mengembang. "Terima kasih." Katanya, mengambil bunga itu dari tanganku.
"Ngomong-ngomong, setiap malam kau ke sini memangnya tidak ada yang tahu?" Tanyaku. Sekarang kami duduk di sebuah kursi di dekat situ.
"Kuharap sih tidak." Jawabnya asal. Sepertinya aku sudah meracuninya dengan sifat cuekku, ya?
"Kalau ketahuan bagaimana?"
"Mungkin aku dikurung?"
"Memangnya pernah?"
"Belum sih."
Yah, seperti inilah percakapan kami tiap malam. Singkat, hampir tak ada makna, tapi entah kenapa banyak sekali hal yang bisa kami ceritakan satu sama lain.
"Hei, aku masih penasaran." Katanya memulai percakapan lagi.
"Hm?" Balasku dengan tatapan tidak tahu apa-apa.
"Kerajaanmu di mana?" Tanyanya.
"Sekitar beberapa kilometer ke Utara dari sini." Jawabku.
"Jauh?" Tanyanya lagi.
"Lumayan, tidak sejauh itu sih." Balasku.
Mitsuru tidak bertanya lebih lanjut, dan hal itu membuatku tenang. Setidaknya aku tidak perlu menjawab alasanku datang ke sini padanya sekarang.
"Sudah malam, aku kembali ya." Katanya sambil berdiri dan menghadapku.
Aku mengangguk, dan membalas lambaian tangannya yang berjalan ke gerbang taman lalu kembali ke istananya.
"Tidak biasanya dia tidak bilang 'sampai ketemu besok', mungkin lupa, toh besok kita pasti ketemu juga…" Pikirku sambil berjalan kembali ke penginapan tempatku tinggal selama ini.
--
Mitsuru's POV
Pagi hari itu tampaknya lebih sibuk dari biasanya. Jadi aku bertanya ke salah satu pelayan yang cukup dekat denganku yang kebetulan lewat di tempatku sekarang.
"Apa ada sesuatu yang terjadi?" Tanyaku.
"Oh, selamat pagi, nona Mitsuru." Sapanya sambil membungkukan badan sedikit. "Tadi pagi ada surat yang disampaikan pada Raja dan Ratu, mengatakan—" Kalimatnya terpotong oleh keraguan.
"Mengatakan apa?" Tanyaku mulai tak sabar.
Setelah terdiam sejenak, akhirnya ia mau menjawab. "Mengatakan… sebentar lagi akan ada sebuah perang besar…" Katanya.
Aku sempat terkejut, tapi mencoba menenangkan diri. "Terima kasih." Kataku sambil kembali ke kamar.
Sore itu aku bermaksud untuk bicara pada Ayah dan Ibuku, kalau berita itu benar, aku akan meminta mereka untuk mengizinkanku ikut dalam perang ini. Tapi sepertinya waktu dan tempat tidak mendukung…
"Apa katamu tadi?" Tanya Ayahku, dingin seperti biasanya.
"A-Aku..." Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, Ibuku malah sempat-sempatnya menegurku.
"Tatap lawan bicaramu, Mitsuru." Katanya datar. Mungkin sifat dingin dan pendiamku benar-benar warisan mereka berdua…
"Maaf." Balasku dan menatap mereka berdua dengan tatapan tegas sebisa mungkin. "Sebelumnya aku ingin tanya… Apa kabar perang itu benar-benar nyata?" Tanyaku.
Mereka tampak agak terkejut, menatap satu sama lain, kemudian manatapku lagi. "Ya, itu nyata." Jawab Ayahku.
Entah kenapa aku malah lega mendengarnya. "Kalau begitu, izinkan aku ikut dalam peperangan ini." Pintaku.
Dan seperti yang kuduga, mereka tidak mengizinkanku, dan mereka bahkan marah. "Tidak! Untuk apa kau ikut??" Balas Ibuku.
"Kau tidak perlu ikut campur urusan ini, Mitsuru." Timpal Ayahku. Walaupun nadanya sama dinginnya dengan tadi, tapi aku tahu ia juga marah.
"Tapi—"
"Kembali ke kamarmu." Perintah Ayahku.
Aku kesal, tidak. Sangat kesal, tapi kalau sudah begini aku tidak mungkin bisa membantah apa-apa lagi. Jadi aku kembali ke kamarku dengan perasaan campur aduk.
Dan berkat kejadian beberapa tahun yang lalu… Aku yang dulu sangat pendiam dan jarang mengungkapkan perasaan, sekarang sudah bisa mengamuk di kamar.
"Arrrghh!! Menyebalkan!! Kenapa sih mereka selalu melarangku untuk berbuat sesuatu tanpa alasan?!" Aku berteriak sambil membanting bantal ke dinding kamarku.
Aku menghela nafas, merasa capek sekali, dan duduk di kasurku. "Mereka selalu seenaknya… Memangnya mereka pikir aku ini apa??" Protesku sambil berbisik. Aku merebahkan tubuhku dan memejamkan mata. "Aku sudah muak dengan sifat mereka yang satu ini…!" Dan sesaat kemudian aku terlelap sampai malam tiba.
Dan malam… adalah waktu yang paling kutunggu, waktu kebebasanku…
…
Tapi mungkin tidak untuk malam ini…
--
Aku berjalan mengendap-endap ke lantai satu jam sebelas malam, seperti biasanya. Saat aku hampir sampai di pintu gerbang, aku mendengar suara seseorang memanggilku. Suara yang sangat familiar dan sangat ingin kuhindari di malam hari.
"Mitsuru?" Yeah, itu suara Ibuku.
Aku mengambil nafas panjang dan membalikkan badanku, mencoba memasang wajah sebiasa mungkin. "Selamat malam…" Kataku.
"Sedang apa kau di sini?" Tanyanya. Sudah kuduga dia pasti curiga…!
"Ng… Aku tidak bisa tidur, jadi kupikir aku mau jalan-jalan sebentar…" Jawabku mencari alasan yang paling masuk akal.
"Ke mana?" Tanyanya lagi.
"Di dalam istana saja." Jawabku.
"Mitsuru… Jangan pernah berbohong lagi padaku, mengerti?" Katanya tiba-tiba.
"Berbohong? Apa maksud Ibu? Aku tidak pernah—"
"Kau pikir Ibu tidak tahu tiap malam kau keluar tanpa izin?" Katanya langsung mengenai titik vital.
Aku merasa tidak bisa berkata lebih jauh. Satu kata dariku akan mengubah segalanya. "Itu…"
"Dan jangan pernah mengelak lagi. Kembali ke kamarmu, dan kau tidak akan kuizinkan keluar dari kamar selama seminggu." Ia berjalan mendekatiku, dan menarikku ke kamar, tidak lupa mengunci pintunya dari luar.
"Ah, tunggu! Kenapa dikunci dari luar??" Protesku sambil menggedor-gedor pintu kamarku dari dalam, tidak peduli sudah jam berapa ini.
"Diamlah di sana dan introspeksi dirimu sendiri." Katanya dari luar dan aku mendengar langkah kakinya pergi menjauhi kamar ini.
Aku sempat bengong untuk sesaat, kemudian beranjak ke kasur, mengambil satu bantal yang tadi sore kulempar, merenggut seprainya, dan melemparnya sampai menimbulkan debuman yang cukup keras.
Sekarang… apa yang harus kulakukan??
--
Akihiko's POV
Taman ini sepi. Itu memang wajar. Mitsuru tidak datang. Itu baru tidak wajar. "Ke mana dia ya?" Akhirnya aku menghabiskan malam itu memikirkan segala kemungkinan kenapa ia tidak datang. Dimulai dari ketiduran, sampai yang paling parah… ketahuan… Dan aku buru-buru menghilangkan pikiran itu. Aku tidak mau tahu dia benar-benar ketahuan atau memang hanya ketiduran, berhubung sekarang sudah jam 11.
"Besok saja aku kembali lagi ke sini, kuharap aku bisa melihat wajahnya yang merasa bersalah dan meminta maaf. Tenang saja, tidak mungkin aku tidak memaafkanmu…" Aku dibuat tersenyum oleh pikiran dan bayanganku sendiri. Dan malam itu aku memutuskan untuk pulang.
Malam berikutnya, aku ke sana lagi dengan harapan benar-benar akan melihatnya. Tapi apa yang kulihat? Lagi-lagi taman itu kosong, sunyi, tak ada siapa pun, hanya ada suara angin yang berhembus. Aku sempat menunggu beberapa puluh menit, tapi Mitsuru tidak juga datang, dan hari itu aku pulang setelah angin membuatku cukup kedinginan. Hal ini berlanjut pada hari ketiga, dan juga hari keempat…
Di mana kau sekarang, Mitsuru?
--
Terima kasih sudah membaca chapter dua yang pendek ini… m(_ _)m Walaupun pendek, saya berusaha untuk menyimpan cerita lainnya, supaya bisa ditumpahkan pada chapter berikutnya yang mungkin sedikit demi sedikit bertambah panjang. XD
Please review if you're willing. ^^
