Chapter 3, khusus tentang Mitsuru. =)
DICLAIMER: Persona 3 (FES) punyanya ATLUS~ Kecuali satu peran OC bernama *Spoiler*, itu baru punya saya. =D
Enjoy! ^^
--
Mitsuru's POV
Ini hari keempat aku dikurung di kamarku sendiri. Jendela pun dikunci, tapi aku masih bisa melihat ke luar. Beruntunglah kamarku dibangun menghadap ke taman bunga, aku membongkar barang-barangku di lemari, dan menemukan satu benda bagus. Teropong.
Aku membuka tirai jendelaku dan mengamati taman itu setelah melirik jamku yang menunjukkan angka sebelas. Setelah beberapa saat beradaptasi dengan alat ini, aku mencari bagian tengah dari taman itu.
"Kuharap hari ini dia tidak datang dan menyia-nyiakan waktunya untuk menungguku yang tidak mungkin datang…!" Pikirku, berharap tidak menemukan Akihiko.
Tapi saat ini aku merasa sangat kesal bisa menemukannya, tidak seperti hari-hari sebelumnya. Biasanya aku senang menemukannya, tapi hari ini… Menemukannya sedang duduk diam menungguku sungguh menyakitkan.
"Kumohon pulanglah, Akihiko…!" Kataku pelan dengan wajah khawatir. "Jangan menungguku lagi… Tidak ada gunanya menungguku…" Tambahku.
Tapi sudah setengah jam, dia masih duduk di situ dan membuatku kesal. "Sudah kubilang tidak ada gunanya kan?? Hah? Aku tidak datang kan?? Makanya pulang…!" Kataku setengah marah setengah putus asa.
Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya ia memutuskan pulang, dan semoga besok tidak kembali lagi… Aku tidak akan bisa tidur sebelum melihatnya pulang, lebih baik dia tidak usah datang.
Oke, kali ini aku percaya hokum karma itu ada. Karena keesokannya dia masih juga datang. Saat aku sedang memperhatikannya sambil berdoa supaya dia cepat pulang, aku—dan mungkin Akihiko juga—mendengar suara bel seperti bel gereja berdentang berkali-kali dari kejauhan. Menurut pelajaran yang kuterima, suara bel di malam hari seperti sekarang ini biasanya menunjukkan mulainya sebuah perang.
"Jadi benar-benar nyata ya??" Pikirku. "Argh, kalau sudah mulai begini aku tidak bisa buang-buang waktu…! Aku tidak mau... Hal seperti dua tahun yang lalu terulang lagi…!"
-Flashback-
Empat tahun yang lalu, aku masih berumur tiga belas tahun. Saat itu semua terasa baik-baik saja, Kerajaan semakin berkembang dan rakyatnya pun bahagia. Aku seringkali melihat mereka berjalan melintasi istana, ada juga yang masuk ke taman bunga, semua orang terlihat senang, dan hal itu membuatku senang juga.
Tapi kebahagiaanku terkikis sedikit demi sedikit. Semuanya memang masih sama, rakyat masih merasa bahagia dengan keadaan ini, tapi tidak denganku dan masalahku di dalam istana. Ayah dan Ibuku mengadopsi seorang gadis berumur dua belas tahun, yang mulai saat itu menjadi adikku.
Aku tidak masalah dengan hal ini, justru aku merasa senang mendapat teman, karena aku anak tunggal. Selama beberapa minggu kami selalu bermain bersama. Mai—nama adik baruku itu—adalah anak yang baik, semua orang menyukainya. Dia pintar, ceria, punya banyak teman, dan murah senyum. Bisa dikatakan… kebalikan dari diriku.
Mai bisa membuatku tersenyum lebih banyak, bisa menjadikanku lebih ceria, tapi itu hanya untuk beberapa saat saja.
Dua tahun kemudian, saat aku berumur lima belas tahun dan Mai berumur empat belas tahun, aku mulai merasakan adanya perbedaan kasih sayang dari Ayah dan Ibuku. Mereka lebih menyukai Mai, itu kesimpulanku. Mai memang lebih pintar daripadaku, lebih ramah dan terbuka daripada aku yang pendiam dan tertutup. Kami sudah jarang bermain bersama lagi, karena aku juga mulai menjauhinya. Setiap aku berada di dekatnya, aku pasti akan dibanding-bandingkan dengannya.
Bahkan suatu hari, jelaslah bahwa aku dinilai lebih rendah daripada Mai.
"Mitsuru, kenapa kau tidak pernah mau mencoba jadi gadis yang terbuka seperti Mai?" Tanya salah seorang teman Ibuku yang sudah pasti orang dari Kerajaan lain.
"Tapi aku dan Mai orang yang berbeda." Balasku singkat.
"Memang, tapi lihatlah, Mai mempunyai banyak teman-teman yang baik." Katanya.
"Dan aku tidak punya banyak teman ya?" Tanyaku dingin.
"Bukan itu maksudku, tapi—"
"Aku memang tidak sebaik Mai." Aku memotong kalimatnya dan kembali ke kamarku.
Tidak sampai lima belas menit kemudian, aku dipanggil untuk menghadap kedua orang tuaku. Terkadang aku benci sekali sistem yang seperti sekolah ini, tapi aku tidak ingin melawan kedua orang tuaku.
"Mitsuru, berlakulah lebih sopan di depan orang-orang dari Kerajaan lain." Kata Ibuku.
"Maaf." Balasku singkat.
Ibuku menghela nafas dan menatapku seakan prihatin akan keadaanku. "Tapi sebenarnya Ibu setuju kalau kau mencoba untuk lebih periang sedikit." Katanya.
"Ibu juga ingin aku meniru Mai?" Tanyaku heran bercampur marah.
"Bukan itu maksud Ibumu, Mitsuru. Menjadi orang yang ramah dan murah senyum tidak ada salahnya kan?" Ujar Ayahku.
"Tapi aku tidak ingin." Balasku.
"Jangan egois, Mitsuru…!" Pada akhirnya pasti aku ditegur juga oleh Ibuku. Selalu seperti ini, selama dua tahun lamanya.
"Bukannya Ayah dan Ibu yang egois? Menyuruhku melakukan hal yang tidak ingin kulakukan?" Balasku.
"Mitsuru, kami selalu mentoleransi sifat tertutupmu, tapi jangan pernah kau berani melawan orang tuamu sendiri, mengerti?" Kali ini Ayahku yang menegur.
"Aku tidak pernah berniat untuk melawan apa kata Ayah dan Ibu, tapi…" Aku berhenti sejenak dan berbisik sepelan mungkin, tapi sayangnya terdengar oleh mereka. "Semua gara-gara ada Mai di sini kan…?" Bisikku.
Mendengar hal itu membuat Ibuku marah. "Kenapa kau berkata seperti itu, Mitsuru? Lihatlah Mai, dia selalu menurut, tidak sepertimu!" Perkataannya saat itu begitu menusuk hatiku…
"Kami tidak salah mengambi langkah mengadopsinya." Ujar Ayahku.
Aku terdiam sejenak, menahan air mata yang hampir jatuh dari kedua mataku. Lalu aku menatap mereka dengan mata yang masih berkaca-kaca, namun tetap tegas bercampur marah. "Ayah dan Ibu… membenciku?" Kataku. "Ya, kalian benci aku kan? Aku tidak akan pernah bisa sebaik Mai, aku tidak akan pernah bisa menyamai kepintaran Mai, aku lebih rendah daripada Mai, itu kan yang ingin Ayah dan Ibu katakan??" Lanjutku panjang, menahan emosi yang siap meledak kapan saja. Mereka tidak menjawab. "Tidak apa." Kataku sambil menunduk, lalu menatap mereka lagi. "Kalau Ayah dan Ibu membenciku, tidak apa. Ayah dan Ibu pasti lebih bahagia jika kalian bisa hanya memikirkan Mai kan? Tidak apa, anggaplah aku tidak ada." Lanjutku sambil beranjak pergi dari ruangan itu dengan air mata yang tidak mampu kuhentikan. Orang tuaku pernah melerai aku dan Mai yang sedang berperang dingin, Ibuku bilang Mai adalah matahari, dan aku adalah bulan. Ya, memang. Walaupun mungkin Ibu tidak menunjukkan langsung maksudnya, tapi aku tahu apa yang ingin Ibu katakan: Bulan tidak bisa bersinar tanpa matahari. Begitu juga aku yang tidak akan bisa dikenal oleh orang-orang tanpa kehadiran Mai. Aku sangat membenci Mai saat itu.
Sejak saat itu seakan ada jarak antara aku dan orang tuaku, juga Mai. Aku malah menjadi anak yang semakin pendiam. Tapi dibalik itu, aku selalu berusaha untuk melampau Mai, walaupun hasilnya sia-sia. Tugas dari guru kami yang kukerjakan sampai menghabiskan waktu bebasku, tidak bisa menang dari Mai yang hanya perlu waktu beberapa jam menyelesaikannya.
Aku tumbuh menjadi gadis berkemauan keras dan tidak dapat diganggu gugat tentang apa yang kuinginkan. Aku terbiasa bekerja keras, mengurung diri di kamar, dan membaca buku. Tapi selain itu, aku menyadari sesuatu. Mai tidak suka bunga, terutama mawar yang sudah menjadi ikon Kerajaan ini. Sedangkan aku, aku hanya bisa tersenyum saat berada di antara bunga ini.
"Mitsuru-neechan, mau ke mana?" Tanya Mai—yang seperti biasanya, dengan nada yang terdengar sangat ceria. Sejak ia tinggal di sini, ia selalu mengekorku kemana pun aku pergi, seperti saat ini.
"Ke taman bunga." Jawabku singkat.
Seketika itu juga Mai berhenti mengikutiku. "Aku tidak suka bunga…!" Katanya sambil pergi ke arah yang berlawanan denganku.
Sesampainya di sana, aku tersenyum melihat bunga-bunga yang tadinya belum mekar sekarang mulai menunjukkan warna merahnya. Walaupun taman ini juga memiliki kenangan yang tidak akan bisa kurasakan sekarang, tapi aku tetap mencintai taman ini yang telah kurawat bertahun-tahun.
Dulu, waktu aku masih berumur sekitar lima tahun, Ayah dan Ibuku sering mengajakku ke sini. Aku akan berlari masuk duluan, memandangi bunga mawar dengan tatapan kagum dan terpesona akan kecantikannya. Saat itulah aku akan mendengar suara Ibuku memanggil namaku dari belakang dan menungguku untuk berlari ke pelukannya. Senyumku akan mengembang, dan tanpa pikir panjang aku memeluknya erat, dan ia akan menggendongku.
"Mitsuru!"
Suara itu lagi… Selama beberapa tahun ini setiap kali aku pergi ke taman, aku akan mendengar suara dari masa lalu itu bergema di kepalaku. Suara Ibuku yang penuh kasih sayang, memanggil namaku sambil tersenyum. Dan sekarang aku telah kehilangan suara penuh kasih sayang itu.
-End of Flashback-
Mengingat kembali masa-masa itu membuatku yang sekarang menangis tanpa suara. Selama ini aku tidak menyadarinya, tapi saat ini pun aku masih belum mendengar suara orang tuaku yang berbicara dengan lembut padaku. Aku merindukan suara itu… Aku merindukan suasana itu… Yang telah sirna dan tak akan bisa kudapatkan lagi setelah adanya kejadian itu dua tahun yang lalu itu.
-Flashback-
Di tahun yang sama, kami mendapat sebuah kabar—bukan yang pertama dalam hidupku—bahwa akan ada perang dekat dengan wilayah ini. Aku dan Mai diperintahkan orang tua kami untuk tidak pergi ke mana pun dan terus berdiam di istana. Saat itu aku dan Mai menurut, dan kami hanya sekedar mengawasi keadaan sekitar lewat jendela kamar kami yang tertutup rapat dan dijaga sangat ketat dengan para prajurit.
"Sepertinya berita itu memang benar ya." Kata Mai yang duduk di samping jendela kamar kami.
Aku menjawab dengan anggukan dan ikut melihat dari jendela yang berbeda. "Mudah-mudahan tidak terjadi hal yang tidak diinginkan." Balasku.
"Apa tidak ada yang bisa kulakukan?" Bisik Mai.
Walaupun aku mendengar, tapi aku tidak membalas perkataannya. Aku mengawasi satu menara penjaga di dekat sini. Beberapa prajurit berteropong juga ikut mengawasi keadaan, bahkan di antara mereka juga ada yang mengawasi istana ini.
Tiba-tiba Mai beranjak dan meninggalkan ruangan. Ia pergi membawa sebilah pedang. "Mai, kau mau ke mana??" Tanyaku terkejut.
"Pasti ada yang bisa kulakukan!" Jawabnya sambil berlari ke luar.
Aku bangun dan mengerjarnya. "Tunggu, jangan bertindak bodoh!" Kataku setengah berteriak. Sudah kukatakan, ini bukan yang pertama dalam hidupku. Pergi keluar dari tempat ini sama saja bunuh diri. Kalau Mai mati, aku… itu menjadi tanggung jawabku yang tidak bisa menghalanginya. Dan aku tidak mau Mai mati, aku masih belum bisa membuat orang tuaku menyayangiku sama seperti mereka menyayangi Mai. Kalau Mai mati, semua itu hanya akan jadi sia-sia.
"Tidak masalah kalau Onee-chan tidak mau ikut, aku akan pergi sendiri!" Katanya sambil berlari lebih cepat menuju pintu gerbang. Di sana ada dua orang penjaga, tapi mereka tidak sempat menangkap Mai dan mengembalikannya ke sini.
"Mai!!" Aku bermaksud menyusulnya, tapi dua penjaga itu tidak akan melalaikan tugasnya lagi. Mereka menghalangiku dan memintaku masuk ke dalam.
"Nona Mitsuru, di sini berbahaya! Kembalilah, kami akan dapatkan Nona Mai segera!" Kata salah satu dari dua penjaga itu.
Aku terdiam sesaat, memandangi Mai yang berjalan semakin jauh.
"Tunggulah di dalam, pergi ke luar akan membahayakan keselamatan Anda." Ujar penjaga yang satu lagi.
Akhirnya aku menyerah dan memutuskan kembali ke kamar. Mungkin dari situ aku bisa melihat di mana Mai berada. Saat itu memang kami sudah dinyatakan cukup umur untuk mempelajari ilmu perang, termasuk bertarung. Dalam hal ini, kuakui. Kami seimbang, atau mungkin dapat dikatakan aku lebih menguasainya. Karena itulah aku semakin merasa tidak enak kalau Mai tidak kembali juga.
Kecemasanku terbukti, Mai tidak kembali sampai larut malam saat perang masih berlangsung walaupun di kejauhan. Hal ini tentu saja membuat orang tuaku memarahiku lagi. Mereka berdua sangat cemas, dan mencoba berbagai cara untuk menemukan Mai. Aku berani bertaruh, kalau yang pergi ke medan peperangan itu aku, mereka tidak akan mencariku sampai begini. Tapi saat ini aku juga merasa bersalah telah membiarkan Mai pergi, jadi aku ikut mencari.
Seperti yang kuduga, walaupun aku tidak kembali dari pukul satu pagi sampai sore keesokan harinya, orang tuaku sama sekali tidak mencariku. Mereka pasti lebih mengkhawatirkan Mai. Saat itu lah aku menemukan Mai di sebuah hutan yang memang agak jauh dari istana. Aku merasa agak lega menemukannya dan buru-buru menghampirinya.
Tetapi semuanya sudah terlambat.
"Mai?"
Tidak ada jawaban. Mai tergeletak di hadapanku dengan tubuh penuh luka dan ia tidak bernafas. Aku berlutut di sampingnya dan mengguncang-guncang bahunya.
"Mai? Mai?! Hei, jangan bercanda! Aku tidak suka kalau kau mempermainkanku!" Kataku setengah berteriak. Tapi mata Mai tetap tertutup. "Mai!" Panggilku sekali lagi, yang dijawab oleh hembusan angin setelah peperangan usai ini.
"Mai… Kau bodoh…" Gumamku sambil menunduk dan perlahan-lahan air mataku turun dan jatuh di tangan Mai.
Beruntunglah aku, saat itu ada beberapa prajurit yang lewat, sepertinya mereka sedang berpatroli. Mereka menemukanku dan Mai, dan membawa kami pulang, walaupun dalam keadaan yang berbeda.
-End of Flashback-
Rasanya seperti sehabis mengalami mimpi buruk. Saat sadar, aku telah membuat sekelilingku bertaburan bulu angsa yang tadinya ada di dalam bantalku—singkatnya, bantal itu kurobek. Air mata tidak berhenti mengalir dari kedua mataku. Sejak peristiwa itu terjadi, jarak antara aku dan orang tuaku menjadi semakin besar.
"Andai saja… Waktu itu aku juga ikut pergi bersama Mai… Semuanya tidak akan jadi serumit ini…" Pikirku sambil menangis. "Mai… Kuakui, aku begitu membenci dirimu yang dicintai oleh semua orang. Tidak seperti aku yang membuat mereka merasa tidak nyaman. Bahkan Ayah dan Ibu juga merasa begitu. Mereka sangat menyayangimu, dan aku membuat mereka kehilangan dirimu."
Sejenak aku menenangkan pikiranku. Dan setelah aku mulai bisa berpikir jernih, aku beranjak, mengambil beberapa benda lama yang tersimpan di lemariku, mengganti bajuku dengan baju besi yang sudah bertahun-tahun tidak kugunakan, dan mengambil sebilah pedang kesayanganku, Ascalon.
Aku memastikan hari sudah terlalu larut untuk seseorang melewati kamarku, maka tanpa pikir panjang aku mendobraknya sampai terbuka. Hal ini memakan cukup banyak kesabaran dan tenaga, tapi hasilnya memuaskan. Aku berjalan sambil sebisa mungkin tidak menimbulkan suara dalam baju besi yang kupakai ini.
Sesampainya di lantai satu, aku berjalan mendekati pintu gerbang yang besar, dan membukanya perlahan sampai membentang, dan membiarkan cahaya full moon menyinari bagian dalam istana yang tidak tertutup tembok, menciptakan bayangan diriku dalam bentuk prajurit di lantai berkarpet merah. Aku memandang langit luas yang tenang, dan menuruni tangga istana dengan tekad yang kuat.
"Aku tidak akan mundur lagi."
--
Chapter 3 finished! Yohoo! Thanks for all, yang udah mau rela membaca dan me-review Chapter ini. Semoga chapter panjang yang satu ini cukup memuaskan. Tapi tentu saja, segala komentar, kritik, apapun akan saya terima dengan ikhlas. ^^v Dan saya akan berjuang di chapter berikutnya!! ^o^
Oh iya, karakter baru ciptaan saya yang bernama Kirijo Mai, bisa saya gambarkan sebagai gadis yang kedewasaannya jauh di bawah Mitsuru. Periang, murah senyum, supel, jenius, dan disukai banyak orang. Kalau diibaratkan, ya begitulah. Mitsuru orang yang tenang, "sinar"nya lembut, seperti bulan. Sedangkan Mai sangat periang dan memiliki "sinar" yang kuat seperti matahari.
Thank you! ^_^
