Nah, kali ini saya membuat chapter khusus pahlawan kita, Sanada Akihiko!! ^o^

DISCLAIMER: Persona 3 (FES), Akihiko, Mitsuru, semua karakter di sini kecuali *Spoiler*, adalah milik ATLUS.

Enjoy! ^^

--

Akihiko's POV

Bel yang terdengar dari kejauhan itu seakan membangkitkan kenangan yang menusuk hatiku. Kenangan yang membawaku sampai ke tempat ini, dan di waktu yang telah kutunggu-tunggu ini. Setahun yang lalu aku juga mendengar suara bel, yang mengawali dan mengakhiri segalanya…

-Flashback-

Kejadian ini belum lama terjadi, baru setahun berlalu sejak saat itu. Keluargaku terdiri dari Ayah dan Ibu yang merupakan Raja dan Ratu Kerajaanku, aku sendiri sebagai anak kedua, dan ada kakakku, Kazuhiro.

Secara fisik kami berdua memang berbeda. Kazuhiro memiliki tubuh yang lebih tinggi daripadaku, dan bisa dibilang tenaganya lebih besar. Aku tidak mempermasalahkan itu. Orang-orang bilang kami seperti anak kembar. Mulai dari sifat pekerja keras sampai sifat keras kepala, semuanya sama. Kalau ada satu hal yang kutolak, Kazuhiro sudah bisa dipastikan akan menolaknya juga. Bukan karena aku menolaknya, tapi karena kami memiliki sifat yang sama.

Salah satu sifat yang berbeda dari kami, Kazuhiro memiliki sifat dan pemikiran yang lebih dewasa daripadaku. Ia begitu memikirkan Kerajaan ini, berhubung suatu saat nanti ia pasti akan memimpin Kerajaan. Aku juga tidak keberatan dengan itu, aku yakin Kazuhiro pasti akan jadi pemimpin yang baik. Dia adalah kakakku dan orang yang sangat kuhormati.

"Hei, Akihiko!! Jangan kabur! Bertanggung jawablah atas perbuatanmu!!" Biasanya Kazuhiro juga yang memarahiku. Dalam kasus ini, aku—tidak sengaja!—memecahkan sebuah pot.

Aku menoleh ke belakang saat ketahuan kabur diam-diam oleh Kazuhiro. "Ehehe… Maaf, tapi cuma satu pot saja kan—" Balasku dengan cengiran tidak berdosa, yang langsung dibantai olehnya habis-habisan.

"Enak saja, kau pikir potnya saja yang penting?? Ayo tanam bunganya lagi!" Perintahnya.

"Siap!"

Sesaat kemudian orang-orang akan melihat kami sedang sibuk di taman, menanam bunga di pot pecah tadi bersama. Kazuhiro jarang sekali membiarkanku bekerja sendirian, ia pasti akan mencoba membantuku. Seperti saat aku menjalani hukuman dari orang tuaku karena aku bolos pelajaran. Hukumannya sangat tidak menyenangkan, yaitu mendapat ekstra tugas dari sang guru.

Walaupun kami berdua bisa digolongkan sebagai anak pintar, tapi seperti yang kukatakan tadi, aku tidak pernah bisa lebih dewasa daripada Kazuhiro.

"Argh!! Aku tidak mengerti lagi!!" Inilah yang kubenci dari "sekolah", sulit sekali rasanya membiasakan diri satu ruangan dengan seseorang yang harus kau panggil "Guru" yang bisa menyuruhmu melakukan apa saja.

Saat itulah Kazuhiro akan memarahiku lagi. "Hei, cobalah kau pikir baik-baik. Soal itu dibuat agar kau bisa mengerjakannya." Katanya—yang seperti biasa—sangat bijaksana.

Kata-kata Kazuhiro selalu membuatku berpikir dua kali. Dia selalu berhasil memaksaku untuk melakukan hal-hal yang tidak kusukai, tapi anehnya aku mau melakukannya walaupun sambil menggerutu.

Sifat lain yang kusuka dari Kazuhiro adalah bahwa dia seorang yang mempunyai daya juang yang tinggi. Itulah sebabnya dia lebih kuat daripadaku. Dia jugalah yang selalu mengajakku latihan dan menangkapku kalau aku kabur.

"Ayo latihan, Akihiko…!!" Katanya sambil berusaha menyeretku ke tempat kami biasa latihan: taman belakang.

"Nggak! Tadi kan kita baru saja selesai latihan!" Balasku, ikut menyeret diriku ke arah lain.

"Itu kan lima jam yang lalu, dasar lemah!" Ledeknya.

Aku memang tidak pernah marah padanya, tidak juga sekarang ini. "Enak saja, kalau mau latihan ya latihan lah sendiri!" Protesku, membetulkan kerah bajuku yang ditarik-tarik olehnya.

"Aku melakukan ini demi kebaikanmu, tahu!"

"Terserah!"

Saat itu bisa dikategorikan ada permusuhan di antara kami, tapi lima menit kemudian kami pasti saling minta maaf, dan aku akhirnya mau juga diajak latihan. Oh, tapi jangan salah sangka. Belum tentu kami tidak akan berantem lagi. Tidak ada latihan tanpa berantem buat kami.

"Kau mau menembak yang mana?? Yang kedua atau yang pertama??"

"Yang ketiga, bodoh!!"

"Kau yang payah, arahkan yang benar dong!"

"Aku tidak bisa pakai panah!"

Memang tidak bisa, makanya aku ganti senjata jadi two-handed sword. Kalau Kazuhiro… Tidak usah ditanya, dia bisa pakai apapun dengan baik. Dibilang iri? Tidak juga, itu memang sudah kelebihan Kazuhiro yang tidak mungkin dibagi padaku kecuali aku mau mempelajari satu-satu—dan sayang sekali aku tidak mau.

Suatu hari Kazuhiro pernah menanyakan hal yang aneh dan tidak wajar kalau dia yang mengatakan. Saat itu kami sedang bersantai di sebuah bukit kecil tempat kami bermain dari kecil sampai sekarang.

"Akihiko, kau belum pernah ikut perang ya?" Tanyanya.

"Kalau perang mulut sih tiap hari." Balasku iseng yang dihadiahi tatapan kesalnya yang membuatku tertawa kecil. "Belum, memang kau sendiri sudah pernah ya?" Lanjutku.

"Pernah, sekali." Katanya.

Aku spontan menoleh ke arahnya dengan tatapan curiga. "Bohong." Balasku.

"Tukang fitnah." Ledeknya cuek tanpa menatapku.

"Umur kita cuma berbeda dua tahun, Kazuhiro. Kalau sepanjang hidupku aku belum pernah ikutan perang, masa waktu aku belum lahir yang berarti kau masih umur dua tahun kau sudah ikut perang??" Tanyaku.

"Siapa yang bilang aku ikut perang sebelum kau ada??" Balasnya.

"Terus kapan dong?"

"Ingat waktu lagi-lagi kau kabur dari rumah? Waktu itu ada perang tahu, kau saja yang bandel, jadi tidak tahu apa-apa." Jelasnya.

Aku mencoba mengingat-ingat sedikit, dan memang benar. Waktu itu untuk kedua kalinya aku kabur dari rumah—aku sendiri lupa alasannya apa. "Tapi bagaimana bisa aku tidak tahu ada perang kalau—"

"Kau pergi jauh sekali, aku menemukanmu berkilo-kilo meter dari sini kan??" Katanya memotong kalimatku.

Aku hanya bisa membalas dengan cengiran sok innosensku yang sekarang mungkin sudah hilang. Tadinya kupikir pembicaraan hanya sampai situ, tapi ternyata tidak.

"Waktu itu aku ikut, tapi gagal melindungi rakyat, banyak sekali yang meninggal…" Katanya memulai pembicaraan lagi. Wajah dan nada suaranya menunjukkan kalau ia sangat kecewa dan kesal.

Aku tidak menjawab, dan ia meneruskan. "Kalau diberi kesempatan, aku ingin ke medan perang lagi." Lanjutnya.

"Medan perang? Sepertinya menarik." Balasku cuek tanpa benar-benar mengartikan apa yang baru saja kukatakan.

Ia memandangku sejenak, tersenyum, dan menepuk kepalaku. "Tidak semudah yang kau perkirakan, tapi itu pengalaman yang bagus." Katanya.

Waktu ditanya hal tersebut, aku masih berumur empat belas tahun, dan kemudian setahun pun berlalu. Malam itu adalah hari yang tidak akan pernah kulupakan, hari di mana aku mendapat pengalaman pertama tentang pahitnya peperangan, dan hari di mana kakakku tiba-tiba menghilang.

"Ayah, Ibu, izinkan aku pergi untuk mencari Kazuhiro." Kataku tegas.

"Tidak, kau tinggal di sini." Balas mereka tidak kalah tegasnya.

Tapi mereka tentu saja tahu kata-kata tidak akan mempan padaku. Malam itu aku pergi dari istana tanpa siapapun mengetahuinya. Aku menjelajahi seluruh medan perang dengan beberapa orang memintaku untuk pulang, tapi aku menolaknya.

"Aku tidak akan pulang sebelum menemukan Kazuhiro." Tekadku waktu itu.

Perang tidak berlangsung lama, esok paginya suasana perlahan-lahan kembali seperti semua. Aku bersyukur tidak ada rakyat yang terluka, tapi mereka malah jadi harus bertanggung jawab untuk membereskan sisa-sisa perang di sekitar tempat tinggal mereka.

Aku memutuskan untuk bertanya juga pada mereka, sekaligus menjanjikan beberapa hal. Pertama aku bertanya pada seorang pria setengah baya. "Maaf, apa jalan ini juga dilewati prajurit kemarin malam?" Tanyaku.

"Ah, ya, tapi hanya beberapa. Walaupun begitu tetap saja mereka membuat kegaduhan." Jawabnya.

"Terima kasih, nanti biar kupanggilkan beberapa orang dari istana untuk membantu merapihkan tempat ini." Kataku sambil tersenyum.

Sebelum pria itu mengatakan apa pun karena menyadari siapa aku, aku pergi duluan agar tidak membuat kegaduhan yang lebih parah lagi.

Berikutnya aku mengikuti jalan di daerah dekat hutan sampai akhirnya benar-benar masuk ke hutan yang cukup jauh dari istana tempatku memulai pencarian. Aku tidak pernah takut tersesat, sejak dulu Kazuhiro sering membawaku ke sini, untuk sekedar "jalan-jalan" atau kadang ia juga mengajakku latihan di sini. Katanya sih supaya lebih "menghayati"—kadang aku suka bingung dengan sifatnya yang satu ini…

"Sial, di mana sih dia? Pergi tidak bilang-bilang dan menghilan begitu saja sampai hari ini. Memang sih kalau soal pergi tidak bilang-bilang aku lebih sering. Tapi justru karena itu…" Yah, rasanya aneh… Kalau aku yang menghilang, orang-orang pasti akan berpikir; "Ah, Akihiko hilang itu sudah biasa." Tapi kalau Kazuhiro yang hilang?? Itu sudah pertanda buruk!

Dan pertanda buruk bisa jadi kenyataan. Buktinya? Ya sekarang ini.

"Kazuhiro!"

Aku memang menemukannya, tapi aku sama sekali tidak senang. Karena aku menemukannya pernuh luka.

"Oi, Kazuhiro! Bangun!!" Aku berteriak.

Untunglah ia membuka matanya, walaupun hanya setengah. "Akihiko…?" Katanya dengan suara yang sangat kecil.

"Iya, ini aku! Bertahanlah, apa yang terjadi??" Tanyaku tetap dengan wajah cemas.

"Aku gagal lagi…" Balasnya.

"Apa yang kau bicarakan?? Ayo kita kembali!" Kataku.

Saat aku mau membantunya berdiri, ia menarik bajuku. "Biarlah, jangan bawa aku ke mana-mana." Katanya.

"Tapi—"

"Jangan banyak protes, dengarlah permintaan terakhir kakakmu ini." Katanya lagi. Tadinya aku mau memprotes, tapi memandang matanya yang penuh kemauan dan tekad yang keras, aku memutuskan untuk diam.

"Berjanjilah, suatu hari nanti kau akan jadi kuat dan melampauiku." Ia memulai. "Jangan mengulangi kegagalanku." Tambahnya.

Aku mulai merasa tidak sabar. "Jadi aku harus bagaimana??" Tanyaku putus asa menyadari tak ada yang bisa kuperbuat sekarang.

Ia tersenyum lembut padaku dan menepuk kepalaku seperti yang sering ia lakukan waktu aku kecil dulu. "Ingatlah apa yang telah diajarkan orangtua kita, ingatlah apa yang telah kuajarkan." Saat itu aku benar-benar merasakan kasih sayangnya yang selama ini mungkin tidak pernah kusadari.

Kazuhiro mengulurkan tangannya dan aku menggenggamnya erat. "Aku janji." Kataku dengan suara yang sudah mulai bergetar.

Ia tersenyum sekali lagi. "Hiduplah untukku, Akihiko."

Dan ia pergi, untuk selamanya, meninggalkanku sendirian dengan berbagai perasaan. Kaget, sedih, marah, kehilangan, penyesalan, saat itu aku tidak merasakan apa-apa, tapi sekaligus merasakan segala perasaan yang ada.

Bahkan sekarang perasaan-perasaan itu mendesak untuk meledak keluar dari diriku.

"Aaaarrrrgghh!!!!"

Perasaan ini kukeluarkan dalam bentuk teriakan dan air mata. Aku marah, sangat marah. Marah pada orang yang telah melakukan hal ini pada Kazuhiro, dan marah pada Kazuhiro sendiri.

"Dasar bodoh…! Kenapa pergi sendirian??" Bisikku masih dengan air mata yang mengalir.

Sejak hari itu, aku telah mendapat sebuah kekuatan baru, sekaligus kehilangan seseorang yang kusayangi dan kuhormati untuk selamanya.

-End of Flashback-

Kenangan itu mengikis hatiku, tapi kikisan itulah yang membuatku bertambah kuat. Seiring dengan semakin keras bunyi bel dari kejauhan itu, semakin kuat pula keinginanku untuk meneruskan tekad Kazuhiro.

Aku telah berjanji padanya, selama dua tahun ini aku terus berlatih, sampai saat ini tiba. Dan aku tidak akan gagal.

Akhirnya aku memutuskan untuk tidak menunggu Mitsuru lagi, aku tidak mau ia terlibat dalam peristiwa berbahaya begini. Aku bangkit dari tempatku duduk, mengambil segala keperluanku di penginapan, dan pergi dengan persenjataan lengkap.

Aku bermaksud memulai dari taman itu, tapi sepertinya itu pilihan yang salah.

"Mau ke mana kau sendirian saja, Tuan??"

Aku tidak pernah menyangka suara dan kalimat inilah yang akan memulai segalanya, termasuk mengubah jalur hidupku.

--

Wah, panjang juga ternyata. XD

Sekali lagi, terima kasih pada para pembaca yang telah sabar menunggu keluarnya chapter 4 ini. ^_^

Untuk karakter OC bernama Sanada Kazuhiro, pada kesempatan ini akan saya jelaskan secara—sangat—singkat tentang dirinya. Kazuhiro adalah seorang yang murah senyum dan sangat terbuka pada sesamanya. Ia selalu berpikiran dewasa dan selalu memikirkan three steps ahead, ngga kayak Akihiko yang bandel banget di sini. =P Kalau soal fisik, coba deh Anda sekalian bayangkan seorang Zack Fair di Final Fantasy VII Crisis Core, itulah bayangan yang saya pakai selama proses pembuatan Chapter 4. Jadi termasuk beberapa personality-nya juga, Kazuhiro hampir mirip dengan Zack. Termasuk waktu kematian Kazuhiro, pasti ada yang sadar bagian itu agak mirip sama Ending Crisis Core. Bukan bermaksud menjiplak, tadinya saya juga ga mau pake yang kayak begitu, tapi ga ada ide lain… Gomen nasai m(_ _)m

Terima kasih atas perhatian pembaca terhormat. ^_^v