Chapter 5! ^^ Walaupun romantisnya jadi dikit, tapi ya… sudahlah! XD

DISCLAIMER: Persona 3 (FES) beserta para karakter milik ATLUS.

I Want to Spend My Lifetime Loving You (The Mask of Zorro Theme) by Tina Arena ft. Marc Anthony (Juga bukan milik saya.)

Yang saya miliki hanyalah FanFic ini, Mai, dan Kazuhiro. =D

Enjoy! ^^

--

Akihiko's POV

"Mau ke mana kau sendirian saja, Tuan??"

Aku menoleh ke belakang dan mendapati Mitsuru dengan penampilan yang sangat berbeda. "Mitsuru?" Itu satu-satunya reaksi yang bisa kuberikan.

Ia berjalan mendekat dan menatapku. "Sepertinya kita punya tujuan yang sama; ikut berperang." Katanya sambil tersenyum.

"Uh… Ya, kurasa begitu. Tapi kau serius mau ikut?" Tanyaku.

Mitsuru mengangguk tegas. "Aku sudah bertekad. Kau sendiri bagaimana?" Balasnya.

"Sama sepertimu." Jawabku singkat. "Ngomong-ngomong, kau ke mana saja empat hari ini?" Tanyaku mengingat setiap malam dalam empat hari ini aku selalu menunggunya tanpa hasil.

"Ngg… Itu…" Ia tampak agak ragu-ragu untuk menjawab. Tapi aku menatapnya dengan tatapan meminta jawaban. "Aku dihukum karena ketahuan kabur malam-malam, jadi—"

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, aku sudah tertawa duluan. Mitsuru menghela nafas dan menyilangkan tangannya di dada. "Jangan tertawa." Katanya pelan.

"Maaf, aku tidak bermaksud begitu." Balasku. "Kau tahu posisi tepat tempat perang dimulai?" Tanyaku.

"Aku tidak tahu pasti, tapi kurasa cukup jauh dari sini." Jawabnya.

"Jauh ya… Mudah-mudahan kita sampai sebelum perang selesai." Kataku.

Tapi saat aku menoleh padanya, Mitsuru sudah tidak berdiri di sebelahku lagi. "Mitsuru?" Panggilku.

Beberapa saat kemudian ia muncul dari balik gerbang taman, membawa seekor kuda putih yang sangat cantik dan kelihatan kuat.

"Aku tak akan pergi tanpa persiapan." Katanya sambil tersenyum.

Aku masih terpaku di tempat, tak menyangka ia sempat-sempatnya kabur membawa seekor kuda bagus begini.

"Apa yang kau tunggu, Akihiko? Undangan??" Katanya tak sabar.

Aku segera mendekat, menaiki kuda itu dan Mitsuru naik di belakangku dan memeluk pinggangku. "Kita berangkat sekarang?" Tanyaku.

"Ya." Jawabnya singkat.

Sesaat kemudian kuda yang kukendalikan melesat cepat. "Whoa, kuda ini hebat!" Kataku di tengah perjalanan. Angin malam itu cukup kencang, mudah-mudahan tidak banyak debu berterbangan.

"Hei, Akihiko…!" Panggilnya setengah berteriak.

"Ya??" Balasku.

"Kenapa kau kabur??" Tanyanya untuk yang kesekian kali sejak kami pertama bertemu.

"Aku mau balas dendam, dua tahun yang lalu kakakku mati dibunuh seseorang!" Jawabku.

Mitsuru terdiam sejenak. "Balas dendam? Tapi itu egois." Katanya.

"Terserah kau mau menyebutnya apa." Balasku cuek. "Kau sendiri bagaimana? Kenapa kau membahayakan dirimu sendiri dengan memutuskan ikut berperang?" Tanyaku.

"Sama sepertimu." Jawabnya.

"Hah?" Balasku—setengah tidak mengerti dan setengah tidak mendengar karena suaranya kecil sekali.

"Dua tahun yang lalu adikku mati di peperangan—kurasa perang yang sama dengan perang saat kakakkmu mati. Aku… aku ikut peperangan karena… Aku ingin balas dendam, dan sekaligus ingin melampaui adikku yang lebih unggul itu…" Jawabnya agak ragu-ragu.

"Melampaui? Tapi itu kekanak-kanakan." Katanya.

"Terserah kau mau menyebutnya apa." Balasnya meniru kata-kataku.

"Kau gadis yang cerdas, Mitsuru!" Pujiku setengah menggoda.

"Terima kasih pujiannya, cowok pemberani!" Balasnya yang membuatku tertawa.

"Sebentar lagi kita sampai, kurasa." Kataku di tengah-tengah sambil memperlambat kecepatan.

"Benarkah?" Tanyanya untuk memastikan.

"Ya, dengar, suara belnya semakin mendekat." Jawabku.

"Dan suara prajurit juga makin terdengar." Balasnya.

"Ayo kita jalan lebih jauh."

Kami kembali berjalan, merasakan medan perang yang semakin mendekat sedang menunggu kedatangan kami yang dipenuhi tekad kuat, kemauan, dan rasa benci pada orang-orang yang telah mengambil bagian penting dari hidup kami.

Dan sekarang di depan mata kami, api peperangan telah disulut. Para prajurit bertarung dengan tangguh, melindungi Kerajaan mereka.

"Sekarang kau mau ke mana, Akihiko?" Tanyanya sambil melihat ke medan peperangan dengan mata penuh tekad.

Aku menaikkan alisku dan lagi-lagi membalas perkataannya beberapa saat yang lalu. "Aku tak akan pergi tanpa persiapan." Balasku. "Aku tahu siapa yang membunuh Kazuhiro." Lanjutku.

"Benarkah? Itu bagus… Daripada aku yang tidak punya petunjuk sama sekali." Katanya.

Kami terdiam sejenak. Aku memandang wajahnya yang sebagian tertutup oleh rambut merahnya yang indah. "Kau mau ikut denganku?" Tawarku tiba-tiba.

Mitsuru tidak langsung menjawab. Tapi kemudian dia menoleh padaku dan tersenyum lembut. "Boleh." Balasnya singkat.

Aku sempat terpaku di tempat. Kabar baiknya ia mulai berbicara lagi. Kabar buruknya perkataannya malah membuatku semakin tidak mampu bergerak. "Mungkin ini hari terakhir kita melihat satu sama lain." Katanya. "Kalau ada yang ingin dikatakan, sebaiknya katakan sekarang." Lanjutnya.

Membalas responku yang hanya diam, ia menoleh lagi padaku dengan tatapan meminta jawaban. "Yang benar saja, ditanya tiba-tiba begini aku mau jawab apa??" Aku mencoba berpikir keras, saat akhirnya ia mulai duluan.

"Yang mau kukatakan…" Mitsuru memulai, memandang bulan yang bersinar terang di langit. "Saat kita pertama kali bertemu, kupikir kau adalah orang yang sangat menyebalkan, tidak tahu diri, sombong, sok jago, segalanya yang bisa dikategorikan sebagai orang yang tidak akan kubiarkan menghalangi jalanku…!" Lanjutnya panjang lebar, yang kuakui, cukup untuk menusuk hatiku dan membuatku cemberut. Ia tertawa dan menunjukkan senyum lembutnya—senyum yang sangat kusuka. "Tapi… Aku sendiri bertanya-tanya kenapa dan bagaimana caranya aku bisa menyukai orang sepertimu?" Tambahnya. Sesaat kemudian pipinya merona merah. Dan waktu itulah aku membuka semua segel dalam diriku.

"Waktu pertama kali bertemu, kesan pertamaku padamu adalah kau seorang gadis yang cantik." Aku memulai dengan senyum. "Waktu itu aku sempat diam-diam memperhatikanmu yang tersenyum dan sepertinya menganggap bunga-bunga mawar itu sebagai saudaramu sendiri. Walaupun… Yah, sesudahnya, kesan judesnya bertambah sangat banyak, kau gadis yang galak, tidak sabaran, tapi memiliki harga diri yang tinggi." Jelasku panjang. Penjelasanku sempat membuatnya bengong untuk sesaat.

"…" Keheningan menyergap kami.

"Aku juga tidak pernah menyangka aku akan menyukaimu." Akhirnya aku malah membuat pengakuan… Berhubung aku belum pernah melakukannya, jadi kuharap ini tidak terdengar aneh.

"Itu yang ingin kau katakan?" Tanyanya singkat.

"Sepertinya begitu." Balasku.

"Hanya itu?"

"Yup."

"Bagus, ayo kita pergi." Kurasa dia bukannya ingin mempersingkat waktu, tapi tidak tahu apa yang harus dikatakan. Kenapa aku bisa yakin? Karena sekarang wajahnya semerah mawar merah yang sangat disukainya.

"Aku serius, Mitsuru…!" Balasku sambil tertawa.

Mitsuru tidak menjawab dan dengan sengaja dan diam-diam membuat rambut panjangnya menutupi wajah. Aku tersenyum dan menghampirinya yang tadi sudah sempat berjalan beberapa meter di depanku. "Ikutlah denganku." Kataku sambil menjulurkan tanganku, menunggunya memutuskan akan ikut atau pergi sendiri.

Ia menatapku dengan kedua mata indahnya, membuatku sempat terpana sesaat. Lalu ia tersenyum dan menggandeng tanganku. "Aku titipkan nyawaku padamu." Katanya tegas dengan senyum.

Malam itu, kami membuka jalan bagi takdir kami sendiri. Bersama, kami telah bertekad untuk memusnahkan siapa saja yang telah mengambil nyawa dari orang yang kami sayangi.

"Aku janji aku akan melindungimu." Kataku di perjalanan.

"Aku juga, aku tidak mau kau mati melindungiku. Kalau mati, kita akan mati bersama." Balasnya.

Aku mengangguk setuju. "Tapi aku tetap tidak akan membiarkanmu mati, Mitsuru." Pikirku sambil bersiap memasuki medan perang.

"Apapun yang terjadi, aku akan tetap mencintaimu." Bisikku.

"Eh? Apa?" Balasnya karena tidak mendengar apa yang kukatakan.

"Tidak, tidak ada apa-apa." Kataku. "Hei, Mitsuru." Panggilku.

"Ya?"

"Berjanjilah satu hal lagi padaku."

"Apa itu?"

"Kalau aku mati, hiduplah untukku."

Moon so bright, night so fine

Keep your heart here with mine

Life's a dream, we are dreaming

Race the moon, catch the wind

Ride the night to the end

Seize the day, stand up for the light

I want to spend my lifetime loving you

If that is all in life I ever do

Heroes rise, heroes fall

Rise again, win it all

In your heart, can't you feel the glory?

Through our joy, through our pain

We can move worlds again

Take my hand, dance with me

I want to spend my lifetime loving you

If that is all in life I ever do

I will want nothing else to see me through

If I can spend my lifetime loving

Though we know, we will never come again

Where there is love, life begins

Over, and over again…

Save the night, save the day

Save your love, come what may

Love is worth everything we pay

I want to spend my lifetime loving you

If that is all in life I ever do

I want to spend my lifetime loving you

If that is all in life I ever do

I will want nothing else to see me through

If I can spend my lifetime,

Loving you…

--

Wah, maaf telat. =D Mana lebih pendek 500 kata lagi dari chapter 4. XD

Sekali lagi terima kasih bagi para pembaca yang telah menunggu kedatangan chapter 5, dan terima kasih juga karena sudah bersedia me-review. m(_ _)m

Next chapter, I predict it would be the last. Karena itu, sebelum chapter perpisahan tersebut, saya ingin mengucapkan…

Saya sayaaaaang sama pembaca FanFic saya!! Baik yang ngga review, yang review, yang nge-flame, segala macem pokoknya saya sayaaang~~ *Peluuk* Makasih ya, udah mau baca FanFic saya. ^_^v

Sampai jumpa di chapter 6! ^^