Chapter 6's here! ^^ The last chapter from the series of The Saviors. Thank you for everything. m(_ _)m
DISCLAIMER: Persona 3 (FES), Akihiko, and Mitsuru punyanya ATLUS. Yang saya miliki hanyalah Mai, Kazuhiro, dan *Spoiler*. =D
Enjoy! ^^
--
Mitsuru's POV
Sekarang aku dan Akihiko berada di tepi medan peperangan, masih melihat-lihat keadaan sekitar. Sepertinya tujuan Kerajaan yang menyerang adalah menjatuhkan satu menara penting milik Kerajaanku. Hal ini cukup membuatku kebingungan, antara ingin melindungi menara itu dan juga mencari orang yang membunuh Mai dua tahun yang lalu.
"Kita harus ke mana?" Tanyaku meminta pendapatnya.
"Kalau aku sih mau ke sana." Jawabnya sambil menunjuk satu arah. Hutan.
"Ke sana? Ada apa di sana?" Tanyaku lagi.
"Menurut perhitunganku—yang jarang-jarang kulakukan nih—orang itu akan ada di sana." Jelasnya.
"Orang… yang membunuh kakakmu?" Balasku.
Ia mengangguk yakin. Aku terdiam dan merasa jarakku dengannya sangat jauh. Akihiko memiliki tekad yang kuat, dan juga memiliki tujuan untuk dicapai. Sementara aku… Aku sangat buta dan tidak tahu apa-apa. Mungkin pilihan yang salah kalau aku memutuskan ikut perang sampai kabur dari istana dan membohongi kedua orang tuaku.
"Ikutlah denganku." Katanya tiba-tiba.
Aku terkejut dan menoleh padanya perlahan-lahan. Ia tersenyum dan mengingatkanku akan janji kami. "Kau bilang mau ikut aku kan? Kalau begitu ikutlah, jangan mencari jalan yang susah." Tambahnya.
Saat itu… Aku merasa kabur dari istana adalah hal yang sangat indah. Mungkin kapan-kapan harus kucoba lagi ya?
"Baiklah, aku ikut."
Akhirnya aku dan Akihiko menempuh perjalanan dari tepi medan perang sampai ke hutan. Kami harus melewati berbagai macam rintangan, mulai dari api yang berterbangan—yang untungnya bisa ditepis memakai pedang, sampai hujan es dari para penyihir yang entah muncul dari mana. Yang satu ini bisa kukendalikan, karena aku sempat dapat pelajaran sihir, dan guruku bilang elemen dasarku es.
"Wah, gawat. Kayaknya bentar lagi ada badai nih…" Kata Akihiko sambil melihat ke langit yang mulai mengeluarkan suara-suara guntur dan awan gelap yang menyelimuti bagian atas kota yang dijadikan tempat peperangan ini.
"Berarti sekarang sihir api tidak akan begitu mempan lagi, syukurlah…" Balasku lega karena aku yang berelemen es sudah pasti lemah terhadap api.
"Iya, tapi es masih tetap bisa bekerja kan??" Katanya lagi. Tadi dia sempat kena pecahan es dan efeknya luar biasa. Ternyata Akihiko juga golongan yang bisa mengendalikan elemen, elemen dasarnya adalah petir dan kelemahannya adalah es.
"Bersyukurlah karena bakal ada petir dari atas. Mungkin Zeus akhirnya memberikan kekuatan padamu, Akihiko." Komentarku sambil tertawa.
Akihiko juga ikut tertawa, dan kami melewati beberapa batu-batu besar. "Yah, mungkin tidak jelek juga." Balasnya singkat.
Hujan mulai turun membasahi daratan, aku berdoa dalam hati supaya batu ini tidak membawa malapetaka saat hujan mulai membasahinya juga.
"Hati-hati, kau tidak akan pernah mau mendengar cerita akhirnya kalau terpeleset di sini." Kata Akihiko. Dan tepat sesaat setelah dia bicara, kami berhadapan dengan batu licin yang besar dan bentuknya sulit untuk ditapaki, ditambah lagi jaraknya cukup jauh dari batu sebelumnya.
"Terkutuklah dewa-dewa…" Gumamnya jengkel. "Biar aku duluan, tunggulah di sini sebentar." Lanjutnya. Lalu dengan hati-hati ia mengambil ancang-ancang dan seketika melompat ke depan. "Wow, berhasil!" Katanya senang campur sedikit tidak percaya.
"Ya, ya, selamat. Sekarang tolong aku." Balasku jengkel.
"Siap, Nona." Katanya dengan nada mengejek. Ia menjulurkan tangannya, dan aku perlahan-lahan menggenggam tangannya dengan kuat. "Pegang yang kuat." Katanya. "Lompatlah, seberat apapun baju besi itu, kau harus bisa…!" Tambahnya.
Aku mengangguk, dan tanpa pikir panjang—karena biasanya aku akan ketakutan duluan—, aku melompat. Tapi ternyata lompatannya terlalu jauh…
"Awas!" Teriakku di saat terakhir.
Tetap saja terlambat, bukannya menahan tubuhnya sendiri, setelah menangkapku Akihiko kehilangan keseimbangan dan kami jatuh berdua.
"Aduh…" Gumamnya sambil mengelus tangannya.
"Maaf, aku tidak menyangka akan sejauh itu…" Balasku.
"Tidak apa, cuma segini sih belum seberapa. Ayo, berdiri." Katanya. Ia berdiri dan mengulurkan tangan untuk membantuku berdiri. "Sedikit lagi sampai, bersabarlah." Tambahnya.
Udara memang semakin dingin, hujan juga semakin deras, tapi kami tetap melangkah maju. Sampai kami tiba di suatu tempat, di mana dua tahun yang lalu aku menemukan Mai. Aku memperlambat langkah dan memandangi pohon besar yang tidak pernah hilang walaupun sudah dua tahun berlalu.
Menyadari aku yang berhenti berjalan, Akihiko menoleh dan mendekatiku. "Ada apa?" Tanyanya.
Aku menggeleng pelan. "Tidak apa. Ngg… Di sini tempat aku menemukan Mai." Jawabku.
"Aku menemukan Kazuhiro tidak jauh dari sini, di sekitar sana." Balasnya sambil menunjuk satu pohon besar lainnya.
Aku terdiam sejenak dan berpikir, berusaha menyambungkan segala sesuatu. "Kau menemukannya siang hari?" Tanyaku.
"Ya."
"Aku juga."
Sesaat ada keheningan yang aneh di antara kami. Wajah kami menunjukkan ekspresi tidak percaya, curiga, sekaligus merasa telah menemukan suatu takdir yang aneh.
"Harusnya kita bertemu saat itu ya. Tapi tunggu, ng… Jujur, waktu itu aku sempat berteriak lho…" Kata Akihiko.
Aku berusaha mengingat-ingat saat itu. Siang itu adalah siang yang sangat sepi, hanya ada suaraku yang memanggil nama Mai, yang dijawab oleh hembusan angin. "Aku tidak dengar apa-apa." Balasku.
"Oh, ya bagus lah. Ayo lanjut." Katanya singkat sambil menarik tanganku untuk pergi.
Hutan ini semakin ke dalam semakin gelap, pepohonan semakin rimbun, dan angin ditambah hujan yang turun dengan deras melengkapi suasana suram hutan ini. Satu burung hantu sempat melintas di depan kami, membuat kami sempat berhenti sesaat, memandang satu sama lain, tersenyum lebar, dan melanjutkan perjalanan lagi.
"Phew, hutan ini horror…" Komentar Akihiko.
"Tidak kuduga sedalam ini… Ngomong-ngomong, memang orang yang membunuh kakakmu siapa?" Tanyaku.
"Hmm… Mungkin sudah saatnya kuceritakan ya…" Ia memulai. Sesaat, ia memandang langit yang gelap dan membiarkan tetesan hujan jatuh di wajahnya. "Siang itu, Kazuhiro mengatakan sesuatu. Cuma satu kata, dia bilang 'Cronos'." Jelasnya.
"Cronos?"
"Iya. Aku sempat menyelidiki. Cronos itu semacam sihir… yang sangat kuat." Katanya. Ia melihat batu kecil dan menendangnya sampai masuk jauh ke rimbunan pohon di kiri kami.
"Lalu apa hubungannya?" Tanyaku bingung.
"Orang yang membunuh Kazuhiro, adalah orang yang memiliki Cronos." Balasnya. Seketika ia membuatku kaget dan tidak percaya.
"Kau mau melawan orang itu?? Siapa namanya?" Aku malah memutuskan untuk mengintrogasinya.
"Namanya Nemesis." Balasnya singkat.
"Nemesis… Aku belum pernah dengar…" Kataku.
"Aku juga baru tahu setelah mencari tahu." Balasnya. "Ngomong-ngomong hutan ini berapa dalam sih? Kok ngga sampai-sampai…" Katanya mengeluh, mencoba memandang jauh ke depan. Tapi percuma, yang kami lihat hanya kegelapan.
"Memangnya Nemesis ada di mana?" Tanyaku tidak mempedulikan perkataan tentang dalamnya hutan ini.
"Di bagian terdalam hutan ini. Dia ada hanya pada saat peperangan—aku sendiri tidak tahu apa alasannya. Tapi itu kenyataan kok. Buktinya aku tidak pernah bertemu dengannya walaupun aku sering sekali jalan-jalan di sini dengan Kazuhiro dulu." Jelasnya. Membayangkan Akihiko dan Kazuhiro bersama membuatku tersenyum. Mereka kakak-adik yang saling mengerti satu sama lain, rasanya aku bisa membayangkan mereka bertengkar, tertawa bersama, dan jalan-jalan di hutan ini.
Kalau dibandingkan denganku… Rasanya jauh berbeda. Mengakui hal itu membuatku tersenyum pilu.
"Kenapa?" Tanyanya memandang wajahku yang sedih.
Aku menggeleng dan tersenyum. "Tidak apa, aku hanya membandingkan kehidupanku dengan kehidupanmu. Sepertinya enak ya punya kakak yang sangat menyayangimu. Tidak seperti aku yang tidak menyayangi adikku sendiri…" Jawabku.
Akihiko berpikir sesaat, lalu bicara lagi. "Apa Mai pernah berada dalam masalah?" Tanyanya tiba-tiba.
Aku sempat bingung, tapi tetap menjawabnya. "Ya, kurasa. Waktu itu malam hari sebelum ada satu tugas yang harus diserahkan pada guru kami, dan dia baru ingat belum mengerjakannya. Itu salah satu dari beberapa masalah dalam hidupnya… Tapi kurasa sisanya tidak banyak…" Jawabku. Memang kok, rasanya setiap kali kulihat Mai selalu bahagia, tidak pernah berada dalam masalah. Dan itu membuatku semakin iri padanya.
"Waktu itu apa yang kau lakukan untuk menanggapi Mai?" Tanyanya lagi.
"Ngg… Aku… membantunya." Jawabku singkat.
"Membantu dalam hal?"
"Menyelesaikan tugas itu."
Akihiko tersenyum. "Coba kau pikir. Kenapa waktu itu Mitsuru mau membantu Mai?" Katanya.
"Karena… karena aku tidak tega melihatnya panik…" Balasku.
"Apa seorang kakak yang tidak menyayangi adiknya akan melakukan hal itu?" Ujarnya, membuatku sedikit terkejut. Aku terdiam, dan ia tertawa kecil. "Jangan terus-terusan memikirkan hal itu. Aku tahu kau sayang pada adikmu." Katanya sambil menepuk kepalaku lembut.
Perkataannya malah membuatku ingin cerita lebih banyak. Aku butuh seseorang untuk tempat pelampiasanku. "Kata orang-orang… Mai itu seperti matahari… Dan aku seperti bulan… Aku tahu mereka pasti ingin bilang bahwa kalau tidak ada Mai, aku tidak bisa apa-apa." Kataku.
"Hah, kata siapa? Memang ada yang pernah bilang langsung?" Tanyanya.
Aku tidak bisa menjawab, jadi ia melanjutkan. "Kau lihat bulan tadi? Bagaimana sinarnya? Kau suka?" Tanyanya lagi.
Aku mengingat sinar bulan malam ini. Indah, menenangkan, lembut, dan penuh kasih sayang. "Aku suka." Jawabku singkat.
"Aku juga suka. Bulan itu unik, dan pemalu. Ia tidak mau menunjukkan dirinya selama satu bulan, sampai pada hari yang tepat ia akan menunjukkan dirinya. Dan karena ia tidak sering menunjukkan dirinya, orang-orang akan terpana melihatnya yang begitu indah. Sama sepertimu. Aku yakin Mitsuru jarang pergi keluar istana." Jelasnya sekaligus berpendapat tentang diriku yang… yah, memang jarang keluar dari istana, keculai untuk pergi ke taman bunga.
"Uhm… Memang jarang…" Balasku.
"Tuh kan, sekarang aku tahu kenapa mereka menyebutmu bulan. Kau jarang keluar, dan saat kau keluar mereka pasti terpana melihatmu." Katanya.
"Benarkah…?" Tanyaku sambil menunduk.
"Benar. Makanya jangan pesimis, rakyat harusnya bersyukur punya Tuan Putri sebaik dirimu." Jawabnya yang membuatku sedikit merona.
Percakapan kami berhenti saat itu juga. Kami sampai di suatu tempat dengan gua yang dalam, lembap, dan gelap berada tepat di depan kami.
"Kurasa ini tempatnya." Kata Akihiko.
"Kau yakin?" Tanyaku memastikan.
Akihiko mengangguk, dan mengajakku masuk. "Ayo masuk pelan-pelan, siapa tahu kita menemukan sesuatu." Ajaknya sambil menggandeng tanganku.
"Uhm… Tapi aku punya firasat buruk sama tempat ini…" Balasku berusaha menolak ajakannya.
"Itu cuma pendapat kan? Belum tentu benar, kita harus coba." Katanya meyakinkanku. Tapi tetap saja perasaan itu tidak hilang.
"Kalaupun kita masuk tidak ada jaminan kita akan bertemu Nemesis, Akihiko…" Komentarku.
Akihiko mau menjawab, tapi dihentikan oleh suara berat yang berasal dari belakangku.
"Itu benar." Kata suara itu.
Walaupun hanya suara, itu cukup untuk membuat jantungku berdetak dua kali lebih cepat. "Tekanan yang luar biasa… Siapa…?!" Aku perlahan-lahan menengok dengan nafas yang tertahan.
Di sanalah berdiri seorang laki-laki bertubuh besar yang kelihatan kuat, menggenggam kapak yang kelihatan sangat tajam dan berat. Wajahnya terseyum licik, dan matanya penuh keinginan untuk membunuh kami saat itu juga.
Sesaat aku tidak bisa bergerak, tanganku bahkan mulai gemetar. Tapi Akihiko menggenggamnya lebih kuat, berusaha menenangkanku.
"Jadi kau yang namanya Nemesis?" Tanyanya santai, walaupun aku masih bisa melihat ketegangan di wajahnya.
"Seperti yang kau lihat." Jawabnya singkat sambil berjalan mendekat. Akihiko berdiri di depanku dan membuatku mundur sedikit ke belakang.
"Kau yang membunuh Kazuhiro kan??" Ujar Akihiko.
"Kazuhiro…? Ah, sudah kuduga. Kau adiknya kan?" Balasnya.
"Dari mana kau tahu?" Tanya Akihiko agak bingung. Ia pasti tidak menyangka Nemesis mengetahui tentang dirinya.
"Sebab aku teman lamanya."
--
Akihiko's POV
"Kau… Kau mengkhianati Kazuhiro…?" Amarahku sudah mulai meluap. Aku tidak akan pernah memaafkan orang ini kalau dia mengkhianati Kazuhiro dan membunuhnya.
"Bukan, waktu itu dia hanya membujukku untuk melepas sihir Cronos. Bahkan dia berani-beraninnya menantangku bertanding asalkan aku mau melepas sihir ini. Enak saja, aku mendapatkannya susah payah setelah memberikan seorang tumbal." Balasnya. Lalu ia tertawa. "Malangnya, gadis itu adalah gadis yang saat itu bersama dengannya. Yah, mungkin itu pacarnya." Lanjutnya.
"Pacarnya? Kau… Kau juga membunuh orang yang dicintai Kazuhiro?!" Sudah cukup, aku tidak mau tahu lagi. Orang ini menghancurkan segalanya, dan bahkan mengambil nyawa dari orang yang dicintai oleh kakakku!
"Gadis itu pantas mati. Dia sok berani, ikut begitu saja ke tempat ini, padahal dia lemah. Bertarung hanya menggunakan pedang seadanya." Jelasnya. "Namanya…" Dia berusaha mengingat sebuah nama. "Kirijo Mai."
Seketika aku dapat melihat wajah Mitsuru yang memucat total. "Mai…?" Gumamnya tidak percaya. Tetapi sesaat kemudian ia merapatkan giginya dan menggeram pelan. "Kau yang membunuh Mai…?" Katanya.
"Hah, dua orang itu tidak ada artinya. Yang kuinginkan hanya menguasai dunia ini—bukan, maksudku, menghancurkan dunia ini dengan Cronos." Katanya, tidak menanggapi perkataan Mitsuru.
"Tidak ada artinya katamu…?"
"Aku mengadakan peperangan, supaya banyak Kerajaan-kerajaan yang runtuh. Dan suatu hari nanti… Aku akan menguasai dunia ini..!"
"Kau…"
"Karena itu kalian juga—"
"Diam."
Aku benar-benar tidak menyadari, Mitsuru berjalan melewatiku secepat kilat dan tahu-tahu sudah menempelkan pedangnya di leher Nemesis. "Mitsuru…!" Panggilku. Itu terlalu berbahaya, orang ini punya Cronos!
"Kau… tidak berhak hidup…!" Katanya dengan penekanan pada setiap kata. Aku bisa merasakan, saat ini ia sudah dibakar oleh api kebencian.
"Hah, atas dasar apa kau berani berkata begitu, gadis kecil?!" Perkataan Mitsuru rupanya menarik amarah Nemesis juga. Ia menggenggam pedang Mitsuru dengan tangan kosong dan melemparkan tubuhnya ke belakang.
Untunglah aku berhasil menangkapnya sebelum ia terbentur ranting pohon yang cukup tajam. "Hei, kau tidak apa-apa?? Jangan gegabah, kita sedang berhadapan dengan pemilik sihir terkuat, tahu!" Aku sedikit memarahinya.
Mitsuru bangkit berdiri lagi dan mencoba mengatur nafasnya. "Maaf, hanya saja… Aku tidak menyangka Mai dibunuh oleh orang seperti ini…!" Balasnya masih dengan nada marah.
"Kau tidak perlu menanggungnya sendiri. Kita akan hadapi dia bersama." Bisikku.
Tapi itu hal yang tidak mudah untuk dilakukan. Orang ini benar-benar menyebalkan dan terus-terusan memancing amarahku.
"Diamlah…! Apa kau tidak bisa tenang sedikit?!" Protesku.
"Kemampuan bertarungmu lumayan, tapi tetap belum melampaui kakakmu…" Komentarnya.
"Memangnya kenapa?!" Balasku sambil mengayunkan pedang ke arahnya, tapi ditangkis dengan mudah.
"Kalau begini sih, sulit untuk mengalahkanku." Katanya santai.
Aku tersenyum licik. "Oh ya?" Sekarang gilirannya untuk menyerang, dan ia berhasil merobek bajuku di daerah pinggang, dan sedikit melukai tubuhku. "Sayang sekali, Tuan. Tapi aku tidak sendiri…!" Aku menarik keluar pedangnya dari bajuku, menahannya sesaat.
Saat itulah Mitsuru menusuknya dari belakang. "Terima itu sebagai balasan perbuatanmu pada adikku…!"
Nemesis sempat meringis, tapi kemudian tersenyum licik. "Kau juga bodoh, gadis kecil…" Gumamnya.
"Mitsuru, awas!"
Terlambat. Itu tadi hanya boneka air. Tubuh aslinya sekarang sudah berdiri di belakang Mitsuru, tersenyum puas, dan memukul bagian belakang leher Mitsuru sampai ia jatuh.
"Mitsuru!" Aku berlari mendekatinya. "Kau tidak apa? Hati-hati, orang ini sangat licik." Kataku memandang sinis ke arah Nemesis.
"Heei, dalam pertandingan dilarang mengobrol!" Katanya sambil mengayunkan pedang ke arah kami berdua. Untunglah aku sempat mengambil pedangku di lantai dan menangkisnya.
Mitsuru bertindak cepat. Ia juga mengambil pedangnya dan mendorong Nemesis ke belakang, dan berhasil membuat satu luka di wajah Nemesis. "Nice, Mitsuru!" Kataku senang.
Tapi luka itu tidak ada apa-apanya. Nemesis malah tertawa. "Sepertinya aku tidak bisa main-main juga dengan kalian. Baiklah, terimalah kehormatanku karena telah diizinkan untuk melawan adik teman baikku, dan kakak dari gadis yang kujadikan tumbal demi mendapatkan sihir Cronos ini!"
Seketika semua menjadi sangat bercahaya, sampai aku tidak bisa melihat apa-apa. Kupikir aku akan mati. Tidak mungkin kami bisa menang melawan Cronos.
"Kazuhiro, maafkan aku… Aku telah gagal…"
"Dasar payah, begitu saja menyerah. Apa boleh buat…!"
"Hah?"
--
Mitsuru's POV
Cahaya ini begitu membutakan mataku. Inikah Cronos? Baru pertama kali aku melihatnya. Sinar yang sungguh indah… dan mematikan. Mungkin… ini akhir dari hidupku?
"Mai… Aku akan menyusulmu…"
"Tidak akan kubiarkan dia melukaimu, Nee-chan!"
"Eh?"
--
Hutan tidak lagi gelap. Sebuah, tidak. Dua cahaya yang sama kuatnya telah menyaingi Cronos. Perlahan-lahan, Akihiko dan Mitsuru menyadari sesuatu berada di depan mereka. Melindungi, dan menangkis Cronos dengan mudah.
"Hah, kau tidak berubah juga Nemesis. Masih berusaha menyakiti orang yang kusayangi?"
"Tidak akan kubiarkan kau melukai Mitsuru-neechan!"
"Kazuhiro…!"
"Mai…?"
"Sedang apa kau di sini?" Tanya Akihiko dengan muka bodoh sekaligus tidak percaya.
"Sedang apa? Aku melindungimu, bodoh! Dasar tidak tahu terima kasih!" Balas Kazuhiro.
"Jadi kau setan?!" Ujar Akihiko.
"Enak saja!"
Melihat pertengkaran mereka berdua, gadis yang satu lagi—Mai, tertawa kecil. Lalu ia menoleh pada kakaknya yang memandangnya penuh keterkejutan.
"Nee-chan! Sudah lama tidak bertemu!" Katanya dengan nada ceria dan senyum yang lebar.
"M-Mai? Kau… Kenapa…?" Mitsuru tampak sama-sama tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Mai tersenyum lembut dan menghampiri Mitsuru dengan tubuh yang bercahaya. "Aku ingin melindungi Mitsuru-neechan. Tidak akan kubiarkan Nemesis melakukan hal yang sama denganku dan Kazuhiro-kun." Jelasnya. Sepertinya mereka berdua benar-benar sepasang kekasih… paling tidak sampai dua tahun yang lalu.
"Kalian… kenapa bisa ada di sini…?" Kata Nemesis yang sepertinya juga tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Ah, diam saja kau! Tidak usah banyak tanya!" Balas Mai kesal.
Kazuhiro tertawa kecil. "Sabar, Mai. Sekarang ini dia tidak akan bisa berbuat apa-apa pada kita." Ujar Kazuhiro.
Mai yang masih cemberut diam saja. "Ya sudah, ayo kita lakukan…!" Katanya setengah membujuk.
"Lakukan? Kalian mau ngapain?" Tanya Akihiko.
Kazuhiro terpancing untuk menggodanya. "Sebuah kekuatan yang hanya bisa kau peroleh setelah kau mati!" Jawab Kazuhiro.
Mai tiba-tiba teringat sesuatu. "Tunggu dulu!" Lalu ia berjalan ke arah Mitsuru. "Nee-chan, kubisikkan sesuatu!" Katanya dengan nada menggoda. Mitsuru dengan ragu-ragu mendekatkan telinganya ke mulut Mai. "Akihiko-kun sayang sekali lho sama nee-chan! Habis ini kalian harus hidup bersama ya!" Katanya polos, membuat wajah Mitsuru semerah tomat.
"M-Mai! Apa yang kau katakan??" Protes Mitsuru yang dijawab dengan tawa kecil Mai.
"Sudah belum? Ayo cepat!" Protes Kazuhiro yang memang tidak pernah mau menunggu lama.
"Ya! Ayo, Hiro-kun!!" Balas Mai semangat dan berjalan mendekati Kazuhiro.
Seketika sebuah cahaya berpendar lagi menutupi wilayah itu.
"I-Ini… Sihir yang lebih kuat dari Cronos…!!" Pekik Nemesis kaget dan berjalan mundur. Tapi sejauh apapun ia mencoba lari, cahaya selalu mengejarnya.
"Dengan ini, balaskan dendamku, Akihiko!!" Teriak Kazuhiro dari antara cahaya itu pada Akihiko yang masih menghalau cahaya memasuki matanya.
"Aku ingin kau hidup bahagia, Mitsuru-neechan!" Teriak Mai. Membuat Mitsuru membuka matanya sedikit.
Cahaya itu melesat menembak Nemesis dan membuatnya tidak bisa bergerak sama sekali. "A-Apa yang terjadi?!" Katanya, berusaha untuk bergerak, tapi tidak bisa.
Bayangan Kazuhiro dan Mai telah menghilang, yang tertinggal hanyalah suara mereka.
"Lakukan, Akihiko! Tunjukkan apa yang telah kau pelajari setelah aku pergi!" Kata Kazuhiro.
"Ayo, Mitsuru-neechan! Aku akan selalu mendukungmu!" Ujar Mai.
Akihiko dan Mitsuru berpandangan, dan mengangguk. Mereka menatap Nemesis dengan tatapan dendam.
"T-Tunggu dulu!!" Pinta Nemesis.
Tapi terlambat. Akihiko telah menebas Nemesis dari arah kanan, dan Mitsuru menebasnya dari arah kiri, meninggalkan luka parah berbentuk X di tubuh Nemesis.
"Ini belum seberapa! Ayo, Mitsuru!" Kata Akihiko, dijawab oleh anggukan Mitsuru.
Dan mereka menusuk Nemesis dalam-dalam dengan segenap kekuatan hati yang telah diberikan oleh satu sama lain, dan juga kekuatan yang telah diberikan oleh orang yang mereka sayangi, yang sampai akhir pun masih menyayangi mereka.
"Pergilah ke neraka." Kata mereka bersamaan.
Nemesis jatuh, dan perlahan berubah menjadi abu, lalu hilang ditiup angin.
"E-Eh? Kenapa…" Kata Mitsuru heran.
"Itu konsekuensi dari Cronos. Kalau mati, tak akan ada yang tersisa dari tubuh kita." Jawab—arwah—Kazuhiro.
"Fiuuh… Pokoknya kita berhasil…!" Balas Akihiko sambil jatuh terduduk.
"Ya, selamat!" Ujar Mai sambil tersenyum.
Akihiko mengamati Mai sesaat. "Ternyata memang beda ya, Mitsuru." Komentarnya.
Seketika wajah Mitsuru berubah jengkel. "Memang, baru tahu ya?" Balasnya jengkel. Lalu ia memandang Kazuhiro juga. "Toh kau juga beda sekali dengan kakakmu. Dia tidak iseng dan konyol sepertimu…!" Tambahnya.
"Wah, penghinaan…!" Balas Akihiko.
Kazuhiro dan Mai hanya bisa tertawa. "Kalian lucu." Komentar Mai.
"Hoi, Kazuhiro! Sialan kau, backstreet ngga bilang-bilang!" Protes Akihiko.
"Namanya juga backstreet, ngapain bilang-bilang??" Balas Kazuhiro kesal.
"Mai…" Panggil Mitsuru.
"Oh, Nee-chan…!" Mai membalas panggilan kakaknya.
"Sejak kapan kau pacaran dengan Kazuhiro?" Tanya Mitsuru dengan wajah agak datar.
"Eh? Ngg… Sejak kapan ya? Sejak… Kita bertemu di taman bunga." Jawab Mai dengan senyum lebar.
"Taman bunga? Bukannya kau tidak pernah ke sana?" Ujar Mitsuru.
"Yah, kupikir tidak ada salahnya sekali-sekali pergi. Ternyata aku malah bertemu dengan Hiro-kun!" Balasnya santai.
"Kau sendiri ngapain ke situ?" Tanya Akihiko.
"Waktu itu aku lagi mencarimu yang kabur, bodoh." Jawab Kazuhiro.
"Dasar sial…" Komentar Akihiko. Dua 'orang' itu hanya tertawa.
"Nah, Hiro-kun. Tugas kita sepertinya sudah selesai." Kata Mai.
Kazuhiro mengangguk. "Ya, sebaiknya kita cepat pergi." Balasnya. Ia mendekati Akihiko dan menepuk kepalanya. "Kau… buatlah gadis itu bahagia." Katanya pelan supaya tidak terdengar oleh Mai dan Mitsuru. Sebelum Akihiko memprotes—karena wajahnya sudah mulai merah—ia bicara lagi. "Terima kasih." Katanya sambil tersenyum.
Di saat yang sama, Mai pun mendekati Mitsuru. "Nee-chan, terima kasih!" Katanya. "Aku senang bisa jadi adik nee-chan!" Tambahnya. "Jangan lupa apa yang kukatakan tadi, hiduplah bahagia bersama orang yang nee-chan cintai."
Mitsuru tersenyum lembut. "Terima kasih, Mai. Maaf ya, aku sempat membencimu…" Katanya.
Mai juga tersenyum. "Tidak apa, aku memang menyebalkan sih!" Balasnya.
Kazuhiro dan Mai mendekati satu sama lain. Tubuh mereka telah diselimuti cahaya.
"Sampai jumpa!" Kata mereka berdua, melambai ke arah kami, bergandengan tangan, dan menghilang.
Perlahan-lahan, hujan reda. Awan-awan hitam menyingkir dari langit, memperlihatkan bulan dan bintang malam itu. Akihiko dan Mitsuru melihat ke atas.
"Indahnya… Ternyata penyebab semua ini Nemesis…" Komentar Akihiko.
"Ya, dan kita sudah mengalahkannya…" Balas Mitsuru. Lalu ia menoleh pada Akihiko. "Bersama."
Akihiko pun tersenyum dan mengangguk. "Bersama." Ia berdiri dan mendekati Mitsuru. "Ayo, kuantar kau pulang." Katanya.
--
Mitsuru's POV
Aku menguap dan bersandar di pagar balkon lagi. Pagi ini semua setenang biasanya. Perang tahu-tahu berakhir damai, dan menara Kerajaanku tidak ada yang rusak parah. Rakyat kembali melakukan aktivitasnya, banyak juga yang lalu lalang di depan istana, di taman bunga juga. Aku sudah tidak bisa meminta lebih banyak lagi. Kemarin malam aku memang dimarahi habis-habisan oleh orang tuaku karena aku pulang dengan keadaan yang tidak menyenangkan—ditambah lagi, aku kan kabur…
Tapi menanggapi omelan mereka, aku malah tersenyum. "Maaf Ayah, Ibu. Aku pergi tanpa izin. Tapi… aku pergi demi Mai." Aku memulai. Pertamanya, mereka terlihat tidak senang. Aku lalu tersenyum lebar. "Aku janji tidak akan pergi tanpa izin lagi, aku tidak mau membuat Ayah dan Ibu khawatir. Oh iya, Mai bilang… Mai sangat menyayangi Ayah dan Ibu." Lanjutku. Sesaat, mereka terlihat terkejut.
Tapi ibuku tersenyum. "Mitsuru… Kau sudah berubah." Katanya. Lalu ia berjalan mendekatiku dan memelukku lembut. Aku bisa merasakan air mata yang menggenang di mataku dan mata ibuku. "Ibu sangat menyayangimu… Maafkan Ibu kalau selama ini selalu tidak mempedulikanmu." Ujarnya.
"Tidak apa… Aku juga sadar aku telah salah…" Balasku.
Setelah ibuku melepaskan pelukannya, aku teringat sesuatu. "Ah, Ayah! Ada yang mau bertemu denganmu!" Aku berjalan ke pintu masuk dan berusaha menyeret seseorang.
"T-Tunggu…! Aku tidak bilang begitu!" Protes orang itu.
"Enak saja, kau pikir aku lupa? Ayo, tidak usah malu-malu!" Balasku. Akhirnya berhasil menarik orang itu keluar dari persembunyiannya di balik tembok.
"Ah… Ngg… S-Selamat malam, Yang Mulia." Katanya sambil menunduk sopan.
Ibuku mengangkat alisnya. "Kau… Sanada Akihiko?" Tanya Ibuku.
"Eh? Ibu kenal??" Balasku tidak percaya.
"Tentu saja, Ayah dan Ibumu adalah Raja dan Ratu yang sangat baik. Kau sendiri adalah anak kebanggaan mereka. Sungguh suatu kehormatan dapat bertemu langsung…!" Jelas Ibuku.
Aku menatap Akihiko penuh kecurigaan. "Kau tidak mengetahui ini sejak awal kan?" Tanyaku.
"Tidak." Jawabnya singkat.
"Bagus." Balasku.
Ayahku melihat ada sesuatu, dan ia berbicara dengan nada menggoda. "Sejak kapan kalian saling kenal?" Tanyanya.
"Nggg…. Beberapa minggu yang lalu…" Jawabku.
"Begitu? Bagaimana, Akihiko? Kau tertarik padanya?" Ujar Ayahku, masih dengan nada menggoda.
Seketika wajah kami merah padam. "A-Ayah, apa yang Ayah maksud??" Protesku.
"Tidak usah bohong, aku dan istriku tahu apa maksudmu datang ke sini, anak muda." Balas Ayahku, membuatku semakin merasakan firasat buruk.
"Eh? Ehehe… Raja dan Ratu memang hebat." Komentar Akihiko. "Yah, alasanku datang ke sini memang cuma satu." Tambahnya.
Ayah dan Ibuku mengangkat alis. Aku sendiri hanya bisa berdiri tegang di samping Akihiko, sebelum ia melangkah maju dan menunduk pada mereka. "Aku ke sini… karena aku ingin mendapatkan izin untuk… Ngg… Apa ya… Membahagiakan putrimu…?" Katanya tidak yakin.
Ayahku tertawa, Ibuku tersenyum, dan aku sendiri menghela nafas panjang. "Kau tampak tidak serius mengatakannya, anak muda…!" Protes Ayahku.
Akihiko berdiri tegak, menatap Ayahku dalam-dalam, dan mengucapkannya dengan tegas. "Izinkan aku untuk menikahi Mitsuru." Katanya.
Sejenak dalam keheningan membuatku tegang setengah mati. Ayahku berjalan mondar-mandir sebelum memberi jawaban. Lalu ia menatap Akihiko.
"Kubunuh kau kalau tidak bisa membuatnya bahagia." Jawabnya.
Seketika lututku terasa lemas. Akihiko tersenyum puas. "Siap!" Katanya tegas. Ibuku memberikan senyum nakal padaku.
"Sudah, kalian habiskanlah waktu berdua besok." Usul Ibuku.
Aku dan Akihiko mengangguk.
Dan sekarang, aku sedang menunggu Akihiko menjemputku di sini. Dia bilang dia mau mengajakku ke taman bunga untuk sekedar bermain.
"Sepi sekali… Rasanya pertarungan kemarin bagaikan mimpi…"
Saat sedang melamun, perlahan-lahan aku mendengar suara seseorang memanggilku dari bawah. Aku menunduk dan melihat Akihiko melambaikan tangannya.
"Mitsuru! Ayo kita pergi!" Katanya.
Aku memandang langit. "Mai, aku… boleh hidup bahagia kan?" Pikirku. Sesaat, hembusan angin bagai menjawab pertanyaanku. Aku tersenyum.
"Aku segera ke sana!" Kataku setengah berteriak. Aku segera keluar dari kamar, berlari menuruni tangga, dan keluar ke tempat Akihiko berada. Aku memeluknya begitu sampai di tempatnya.
"Whoa, hei, ada apa nih?" Tanyanya sambil tertawa.
"Kata Mai aku boleh hidup bahagia!" Jawabku.
Akihiko terlihat bingung. "Bicara apa kau? Tentu saja kau boleh hidup bahagia!" Balasnya.
"Aku akan bahagia kalau hidup bersama Akihiko!" Kataku.
Aku sempat melihat rona di wajahnya, tapi lalu langsung menariknya pergi ke taman bunga.
"Kau tahu, Akihiko? Kita telah menyelamatkan dunia!" Kataku saat kami sampai.
"Ya, kita mencegah Nemesis menghancurkan dunia." Balasnya sambil tersenyum.
"Seharusnya kita dapat imbalan ya…" Komentarku.
Akihiko tersenyum, membalikkan badanku sampai menghadapnya, dan menciumku sekilas. "Aku dapat imbalannya kok." Katanya sambil tersenyum.
Aku menutup bibirku dengan tangan, merasakan wajahku bertambah panas. Akihiko tertawa dan menggendongku di punggungnya, membuatku sedikit memekik. Ia berjalan untuk mencari tempat duduk, saat aku menyenderkan kepalaku di punggungnya.
"Tidak ada hadiah yang lebih indah daripadamu, Akihiko…"
"Aku mencintaimu…" Gumamku.
Akihiko terdiam sesaat. Ia menurunkanku dan berbicara menghadapku. "Aku bersyukur bisa mencintai gadis sepertimu, Mitsuru." Katanya sambil tersenyum dan memelukku. "Aku harus berterima kasih pada Kazuhiro yang sudah memberiku kesempatan untuk hidup…!" Ujarnya.
"Aku harus berterima kasih pada Tuhan, karena Ia telah memberikan anugerahNya untukku… Yaitu dirimu…"
"Aku sangaaaat mencintai Akihiko…!"
Akihiko tersenyum dan mencium keningku.
"Aku juga."
"Rasanya… Kalau hadiahnya sebesar ini, aku mau deh ikut perang lagi!"
…Fin…
--
Wuiihhh… Panjang bener… Maaf ya kalau kepanjangan… Habis ngga mungkin dibagi jadi dua chapter! XD
So, minna! Inilah chapter terakhir dari seri The Saviors!! Terima kasih sebanyak-banyaknya pada pembaca yang telah menunggu kemunculan setiap chapter, walaupun chapter 5 terlambat karena FFN saya error dan chapter 6 kecepetan muncul karena saya kilat nulisnya pas FFN lagi error. XD
Pokoknya terima kasih~ Saya terharu bisa menyelesaikan satu FanFic lagi!! Tunggu saya di seri berikutnya!! Love you all!! ^_^v m(_ _)m
Akihiko x Mitsuru forever!
