Disclaimer: Nah, Naruto bukan punya Aria.

Rating: M

Pairing: SasuNaru

Warning: Yaoi. AU. Angst.

Ada yang sadar kalau gaya chapter 1 dan 2 ini beda banget? Yayaya...chapter satu itu chapter yang saya post di fanfiction pertama kali. Wow... udah lama banget saya nggak apdet ya...


Spiral Labyrinth

Chapter 2 : Suspicion

by: Arialieur


Hatake Kakashi mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja. Matanya tidak pernah lepas dari seorang blonde di seberang kaca yang kini sedang berlutut di lantai. Menangis, sepertinya. Sedangkan rekannya, Uchiha Sasuke hanya duduk diam, memandangi tersangka itu sambil menyilangkan tangan di dada. Wajahnya tak menunjukkan emosi, tepat seperti yang diharapkan oleh Kakashi dari partnernya itu. Tidak mudah terbawa perasaan, apapun yang terjadi. Dengan demikian, penyelidikan mereka dapat menjadi lebih objektif dan efektif. Namun, kekhawatiran mulai melanda Kakashi, saat tersangka itu mendongak menatap Sasuke. Kakashi langsung berdiri dari tempatnya duduk, mencondongkan badannya ke depan agar dapat melihat lebih jelas. 'Aku tidak salah lihat,' pikirnya. Tadi ekspresi Sasuke berubah, topeng dinginnya itu digantikan oleh berbagai emosi yang tampak di matanya. Ada keterkejutan, jelas. Dan simpati di mata Sasuke, lalu -yang paling mengejutkan- kesedihan, seolah-olah Sasuke juga kehilangan sesuatu. "Ada apa ini?" gumam Kakashi.

"Ada apa, Hatake-san?" terdengar suara lembut seorang wanita.

Kakashi menoleh. Dilihatnya seorang wanita cantik berambut hitam masuk ke dalam ruangan sambil membawa sebuah clipboard. "Yuuhi-san."

"Kurenai saja, Hatake-san. Aku membawakan data-data tentang tersangka ini, Uzumaki Naruto." wanita bernama Kurenai itu menaruh clipboard-nya di atas meja, lalu duduk di samping Kakashi. "Bagaimana penyelidikan sejauh ini?" tanyanya.

Kakashi mendongakkan kepalanya ke arah ruangan sebelah, "Sasuke sedang menginterogasi salah satu tersangka. Dan panggil Kakashi saja, Kurenai-san."

"Cukup adil, baiklah. Hmm, sudahkah Anda membaca data-data kasus ini, Kakashi-san?" tanya Kurenai sambil menyilangkan kakinya dan bersandar di kursi. Sekarang badannya tepat menghadap Kakashi, berusaha memulai sebuah diskusi. Kakashi memutar kursinya sampai mereka berdua duduk berhadapan. "Tentu saja, dan aku berpendapat ini kasus yang cukup aneh."

"Begitu. Jadi Anda juga merasakannya. Memang aneh, korban dikenal sebagai gadis tipikal keluarga baik-baik. Tidak pernah terlibat masalah, tidak melanggar hukum, semasa hidupnya pun korban dikenal sebagai gadis yang lembut. Disayangi temannya, kebanggaan orang tuanya, bahkan hubungan dengan tunangannya pun terlihat baik. Tapi, beberapa bulan terakhir sepertinya musuh korban meningkat drastis. Sekarang saja terhitung ada lima orang tersangka, termasuk bocah Uzumaki ini." Kurenai membolak-balik halaman demi halaman di clipboard-nya.

Kakashi melirik Sasuke, yang sekarang sedang membantu Naruto duduk kembali di kursinya. Ia menghela nafas, tampaknya interogasi baru bisa diadakan nanti, setelah bocah Uzumaki ini tenang. "Si Uzumaki ini juga cukup aneh."

Kurenai mendongak, kini pandangannya terfokus pada Naruto, yang sedang mengusap sisa air mata di wajahnya. Borgol di tangannya sudah dari tadi dilepas oleh Sasuke. "Ya, sangat sulit mencari tahu tentang latar belakangnya. Yang bisa kita dapatkan hanyalah, dia pindah ke Boston dua tahun lalu, setelah kematian berturut-turut kedua orangtuanya."

"Ya, aku sudah baca bagian itu. Ibunya meninggal karena sakit, dan ayahnya bunuh diri 6 bulan kemudian. Tetangganya bilang, kedua suami istri itu sangat akrab, wajar kalau suaminya tidak tahan ditinggal sendirian." kata Kakashi, melonggarkan dasinya. "Tapi bocah ini tidak menggunakan nama keluarga ayahnya, melainkan Uzumaki, nama gadis ibunya. Ini cukup aneh, lagipula, dia tidak mirip dengan ayahnya." Kakashi memandang selembar foto yang menggambarkan seorang wanita berambut merah sedang dirangkul oleh pria berambut hitam. Naruto kecil berdiri di tengah-tengahnya. Mereka bertiga tersenyum. "Belum ada goresan di pipinya." gumam Kakashi. "Jadi itu bukan tanda lahir."

KRIET...Suara pintu dibuka mengalihkan perhatian Kakashi dari foto itu. Dilihatnya Sasuke masuk ke dalam ruangan, lalu duduk di kursi yang tersisa. "Selamat siang, Uchiha-san." sapa Kurenai. Sasuke mengangguk, "Yuuhi-san."

"Jadi, bagaimana, Sasuke?" tanya Kakashi.

Sasuke memandang Kakashi, lalu menghela nafas sambil melonggarkan dasinya. "Keadaan mentalnya tidak stabil, dia shock. Mungkin kita harus menunda interogasi." Jelasnya sambil duduk di kursi yang tersisa.

"Kudengar dia sangat akrab dengan korban, tidak aneh kalau dia shock. Walaupun begitu, kita belum bisa melonggarkan kewaspadaan kita. Dia masih tersangka." kata Kakashi, yang dibalas dengan anggukan dari Sasuke. "Hn, aku tahu."

"Bocah ini ... sedikit berbeda." kata Kurenai, lalu bangkit dari tempat duduknya. "Mungkin sebaiknya kita memasang penjagaan di sekitar Uzumaki-san. Setidaknya sampai kita berhasil mengorek keterangan darinya." Ia mencondongkan badannya ke arah kaca, sekarang memperhatikan Naruto menggoyang-goyangkan kursi. Kepala bocah itu masih menunduk, helaian rambut pirang menutupi sebagian wajahnya.

"Aku setuju dengan Yuuhi-san." kata Sasuke. Dilihatnya Kakashi memandang ke arahnya, sambil tersenyum aneh. 'Kok perasaanku tidak enak', pikir Sasuke. "Nah, kalau begitu, kau yang awasi dia ya, Sasuke." Kata Kakashi, senyum masih terpasang di wajahnya.

"Kok, aku?" Sasuke mengerutkan dahi.

"Kelihatannya kau sudah akrab dengan bocah ini, akan lebih mudah mendapatkan keterangan darinya. Lagipula, kita perlu menjaganya, korban adalah putri keluarga kaya, kita tidak bisa mengambil resiko terhadap keselamatan kelima tersangka." kata Kakashi, kali ini dia memasang wajah serius. Sasuke menghela nafas, menyerah. Dia tahu tidak akan bisa menang melawan Kakashi yang serius seperti ini.

"Baiklah," dengan satu kata itu, Sasuke keluar dari ruangan. Kakashi hanya memperhatikan Sasuke masuk ke ruangan sebelah dan membawa keluar Uzumaki Naruto. "Berhati-hatilah, Sasuke." gumamnya. Tentu saja tak seorang pun mendengar.


Naruto terdiam sepanjang perjalanan pulang ke apartemennya. Kontras dengan perjalanan menuju kantor polisi tadi pagi, pikir Sasuke. Tadi Naruto terus menerus menjerit minta dilepaskan sambil mencaci maki Sasuke dengan semua makian yang bisa ia temukan. Tapi sekarang, berbeda. Sasuke melirik Naruto yang duduk di sampingnya. Mata biru Naruto memandang lurus ke depan, wajahnya tidak berekspresi, tetapi sorot matanya lah yang mengejutkan Sasuke. Bukan kesedihan, seperti yang ia kira sebelumnya, tapi tekad. Tekad untuk apa, Sasuke tidak mengerti. Satu hal yang pasti, orang ini tidak seperti yang terlihat dari luar. Tidak seperti yang ada di data hasil penyelidikan yang menyebutkan : penuh semangat, mudah bergaul, ramah, ceria, penyayang, dan suka membuat lelucon. Walaupun masih ada kemungkinan hal ini karena teman baiknya baru saja meninggal, tetapi insting Sasuke mengatakan bahwa banyak yang disembunyikan Naruto. Hal yang harus ia selidiki lebih jauh, untuk kepentingan kasus ini. 'Kau yakin ini cuma demi kasus'? Kata suara kecil dalam kepalanya. 'Sejak awal kau sudah terpesona oleh mata itu kan?' Kata suara itu lagi.

'Hentikan itu', pikir Sasuke. 'Bagus, sekarang aku berdebat dengan diriku sendiri. Aku pasti sudah mulai gila.'

"Uchiha," kata Naruto, menyadarkan Sasuke dari lamunannya.

"Apa?"

"Apartemenku terlewat." Jawab Naruto singkat.

"Hn." Sambil memaki kebodohannya dalam hati, Sasuke membelokkan mobilnya. Tak lama mereka sudah tiba di depan apartemen Naruto di East Fenway. Bangunan apartemen tua lima lantai dengan dinding bata ekspos yang berwarna kehitaman akibat lumut itu berdiri tegak, diapit oleh bangunan-bangunan apartemen yang lebih baru di kanan dan kirinya. Sebuah bukti nyata akan kekejaman waktu.

Naruto sudah akan membuka pintu mobil saat Sasuke menangkap pergelangan tangannya. "Tunggu," kata Sasuke, menatap lurus mata biru itu. Naruto balas menatap, "Apa?"

"Mulai hari ini aku akan menjagamu." Kata Sasuke serius.

Di luar dugaan, Naruto tersenyum nakal, "Apa itu lamaran, Uchiha?" ia melepaskan pergelangan tangannya dari genggaman Sasuke, untuk menggenggam balik tangan Sasuke.

"Eh? Oh, maksudku aku ditugaskan untuk menjagamu," Sasuke menarik tangannya. Nada bicara Sasuke tetap datar, tetapi Naruto bisa melihat kalau wajah Sasuke sedikit memerah. Dalam hati Naruto tertawa, orang ini memang menarik. "Kalau begitu ikutlah denganku," katanya sambil membuka pintu mobil, diikuti oleh Sasuke.

"Hn."

"Kenapa sih kau suka sekali mengucapkan 'hn'? Itu bahkan bukan kata-kata," protes Naruto yang sekarang sibuk mencari kunci di sakunya. 'Mana sih?Ah!ini dia!' Dengan ekspresi wajah penuh kemenangan, Naruto membuka pintu apartemennya lalu sedikit melambaikan tangan, mengisyaratkan Sasuke untuk masuk.

"Hn." Sasuke berjalan melewati Naruto menuju ruang tamu, lalu duduk di salah satu sofa. Naruto cemberut, "Tuh, kan. Kau mengucapkannya lagi."

Sasuke hanya memandang Naruto sambil mengangkat sebelah alisnya, dan mengisyaratkan pandangan itu-bukan-urusanmu-dobe. Naruto hanya mengangkat bahu, lalu menuju ke pantry yang letaknya di sebelah ruang tamu.. "Mau kopi, Sasuke?"

Sasuke duduk di salah satu sofa. "Boleh,"

Naruto mengangkat bahu, setidaknya yang ini terdiri dari lima huruf.


'Aneh. Ini terlalu aneh.'

Sasuke mengawasi pria blonde yang sekarang duduk manis di hadapannya, sambil menyeruput kopi. Ya, Sasuke masih berada di ruang tamu Naruto Uzumaki, salah satu tersangka pembunuh Yamanaka Ino. Yang bersangkutan sendiri saat ini sedang menyibukkan diri dengan membuka-buka majalah, entah majalah apa. Sadar sedang diawasi, Naruto mendongak dan menatap langsung mata Sasuke, yang membalas tatapannya dengan sorot-mata-dingin-ala-Uchiha.

'Tadi di kantor polisi, orang ini menangis seolah-olah tidak ada hari esok, tapi sekarang...'

"Kenapa, Sasuke? Kopinya tidak enak?" tanya Naruto. Ia terdiam sejenak, lalu tersenyum menggoda. "Atau kau terpesona pada wajahku?"

Terlalu ceria. Perubahan moodnya terlalu cepat. Bagaimana mungkin seseorang bisa pulih begitu cepat? Atau, tangisannya yang tadi palsu? Tapi mengapa terdengar begitu jujur? Berbagai pertanyaan berputar di benak Sasuke, yang saat ini mulai tenggelam dalam pemikirannya sendiri. Aktivitas itu, sayangnya, terhenti saat ia merasa ada seseorang naik ke atas sofa yang sedang ia duduki.

Mata Sasuke melebar saat melihat mata biru itu kini ada dalam jarak yang mengkhawatirkan, terlalu dekat dengan wajahnya. sudah ada di sampingnya. Tangan Naruto ada di kedua sisi tubuh Sasuke, bertumpu pada pegangan sofa. "Kau melamun, Sasuke," bisiknya. Polisi berambut hitam itu bisa merasakan hembusan nafas Naruto di wajahnya. Saat ini, Uchiha Sasuke merasa sangat, sangat, sangat tidak nyaman. Meskipun demikian, sebagai seorang Uchiha ia tetap mempertahankan tatapan dinginnya. "Apa maksudnya ini, Uzumaki?" tanyanya.

Naruto tersenyum, "Kurasa sudah jelas, aku sedang menggodamu." katanya sambil mengelus pipi Sasuke dengan jarinya. Pria bermata biru itu mendekatkan wajahnya dengan wajah Sasuke, kini hidung Naruto menggesek pipi Sasuke. "Katakan padaku, Sasuke-kun. Kau mencurigaiku kan?"

Sasuke mengangkat sebelah alisnya, seolah tidak terpengaruh oleh perbuatan Naruto. "Itu jelas."

"Hmmm..." Saat ini, bibir Naruto menggesek pelan daun telinga Sasuke, "Nah, tuan detektif. Biar kuberi tahu satu rahasia." bisiknya, membuat bulu kuduk Sasuke berdiri. "Bukan aku pembunuhnya." perlahan, bibir Naruto mengecup pipi Sasuke.

'Aku tahu. Orang ini tertarik padaku. Apa motifmu sebenarnya, Naruto?' Sasuke memejamkan matanya, lalu tersenyum saat ia merasakan kecupan di pipinya. 'Baiklah, dobe. Akan aku ikuti permainanmu'. Sasuke menarik kerah baju Naruto ke belakang, membalikkan posisi mereka. Saat ini, Sasuke berada di atas Naruto, kedua tangannya terletak di samping kanan dan kiri pria blonde itu.

"Hmm, Naru-chan. Kau pikir aku akan semudah itu percaya padamu, hm?" kata Sasuke sambil tersenyum sinis, lalu menggesekkan bibirnya di pipi Naruto.

"Pembalasan huh, teme? Aku jujur kok."bisiknya, ia mengalungkan tangannya di tengkuk Sasuke, menarik wajah pria itu lebih dekat. "Aku juga benar-benar menangis tadi."

"Uh-huh. Kau mencurigakan, Naru-chan." jari Sasuke mengelus bibir Naruto. 'Aku tak tahu apa yang kau sembunyikan, tapi aku akan menemukan kebenarannya, dobe.' Sasuke semakin mendekatkan bibirnya dengan bibir Naruto, kedua matanya kini terpejam, sehingga ia tidak melihat seulas senyum kemenangan di sudut bibir Naruto.


Naruto membuka-buka majalahnya dengan bosan. Jelas saja, itu adalah majalah remaja yang dibeli Ino beberapa minggu yang lalu. Tetapi bagaimanapun, pemuda berambut pirang itu membutuhkan sesuatu untuk mengalihkan perhatiannya dari detektif di hadapannya.

'Orang ini berbahaya', pikir Naruto. 'Aku merasa seolah-olah dia bisa melihat ke dalam pikiranku'. Mata biru itu melirik sedikit. 'Bagus, sekarang dia memperhatikan aku. Apa yang harus kulakukan? Apa yang akan kau lakukan dalam posisi seperti ini, Ino? Mungkin kau akan tersenyum malu-malu, lalu kabur ke kamar mandi, haha...'

"Kenapa, Sasuke? Kopinya tidak enak?" tanya Naruto. Ia terdiam sejenak, lalu mengeluarkan senyuman paling menggoda. "Atau kau terpesona pada wajahku?" 'Biasanya orang tidak tahan kalau kuberi senyuman yang itu, iya kan, Ino?'

Sasuke hanya terdiam, masih mengawasi gerak-gerik Naruto. 'Bagus, sekarang dia sibuk melamun. Haloo...ada orang tampan disini', gerutu Naruto dalam hati. Tiba-tiba sebuah ide tersirat di benaknya, pelan-pelan Naruto menaiki sofa yang diduduki Sasuke, lalu meletakkan kedua tangannya di sisi Sasuke, memerangkap pria itu. "Kau melamun, Sasuke," bisiknya, yang dibalas dengan tatapan dingin dari Sasuke.

"Apa maksudnya ini, Uzumaki?" tanyanya.

'Cih, dia tidak bereaksi. Coba sedikit lagi'. Naruto mengangkat tangannya, kemudian membelai pipi Sasuke sambil tersenyum "Kurasa sudah jelas, aku sedang menggodamu."

'Aku tahu. Orang ini tertarik padaku'. Naruto memandangi mata hitam Sasuke, yang hanya terletak beberapa inci dari wajahnya. Ia merasa bibirnya dibelai oleh jari Sasuke.

'Ya tampan, aku memang mencurigakan'.

'Tapi kau tak akan bisa menebak apa yang akan terjadi nanti, bagaimana pun kau berusaha'. Naruto memejamkan matanya saat wajah Sasuke semakin mendekat, dan bibir mereka berdua pun bertemu. 'Kalau yang kau inginkan adalah perang, akan kuberikan perlawanan yang setimpal,'

'Lagipula, aku masih membutuhkanmu, jadi tidak mungkin aku mundur begitu saja, kan?'



"Sudah mau bicara?" Kakashi mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di atas meja. Aksi ini, terbukti membuat pemuda dihadapannya kesal, sehingga ia membentak, "Hentikan itu!"

Kakashi mengangkat sebelah alis, dengan telunjuk yang masih mengetuk meja, ia bertanya santai, "Hentikan apa, Nara-san?"

Shikamaru memicingkan matanya, detektif ini benar-benar memancing emosinya.

"Baiklah, biar aku yang mulai saja. Di mana anda semalam, Nara-san?" Kakashi bertanya, ia mencondongkan badannya ke atas meja. Meja yang memisahkan tempatnya dan Shikamaru duduk. Dengan nada bosan, pemuda itu menjawab,

"Untuk kesekian kalinya, Hatake-san. Aku di mall, menunggu kedatangan Ino,"

"Apa ada orang yang bisa bersaksi kalau anda ada di sana?" Kakashi bertanya lagi.

Shikamaru mengangkat sebelah alisnya, lalu tertawa sinis, "Di mall? Anda tahu kan, sebesar apa Atrium Mall itu. Menurut anda, kalau saya ke sana sendirian, ada yang akan menyadarinya?"

"Kalau anda TIDAK ke sana, tidak akan ada yang menyadarinya juga,"

"Anda jelas-jelas tidak mempercayai saya, apa gunanya saya bicara lagi?" Shikamaru mengangkat bahu, lalu duduk bersandar di kursinya. Ia memejamkan mata, mengingat gambaran terakhir wajah Ino yang berurai air mata. Ironis, ekspresi terakhir Ino yang ia lihat adalah ekspresi penuh kesedihan, seolah wanita itu sudah hampir hancur.

"Shika, pergilah dan jangan melihat ke belakang lagi... Hiduplah dengan bahagia sehingga aku bisa merasa cemburu. Lupakanlah janji kita untuk bersama selamanya, karena 'selamanya' itu terlalu jauh bagiku, karena masa depan itu tidak ada untuk kita, untukku..."

Kalimat yang Ino ucapkan malam sebelumnya kembali terngiang di kepala Shikamaru. 'Apakah saat itu kau sudah mengira hal ini akan terjadi, Ino? Itukah sebabnya kau membatalkan janji kencan kita untuk semalam'

'Tapi aku datang, Ino. Aku menunggumu di sana, berharap kau akan datang, berharap semua yang kau katakan sebelumnya hanya sekedar emosi belaka.'

"Ino bilang, 'selamanya' itu terlalu jauh untuknya..." kata Shikamaru pelan, begitu pelan sehingga Kakashi harus memasang telinga untuk mendengarnya. "...aku menunggu, Mr. Detective, aku menunggunya sampai mall tutup. Menunggunya sampai pagi, sampai satpam mengusirku dari depan pintu..."

"Ia bilang, 'masa depan' itu tidak ada untuknya... dan aku ingin tahu sebabnya..." Shikamaru memejamkan matanya lagi, sebutir air mata mengalir di pipi kanannya.

Kakashi menghela nafas, 'Aku juga ingin tahu kenapa, Nara-san, aku juga,'



Shikamaru menyalakan rokoknya, batang keempat hari ini, tapi ia tidak peduli. Sambil berbaring di atas rumput, matanya mengawasi bintang-bintang yang berkerlap-kerlip di langit, bertanya-tanya apakah Ino saat ini sudah menjadi salah satu bintang itu.

"Sudah yang ke berapa?" sebuah suara asing, suara wanita, bertanya.

Shikamaru bangun dari posisinya untuk duduk tegak, melempar pandangan curiga pada wanita berambut pirang yang baru muncul itu. "Kau siapa?"

Wanita itu tersenyum kecil, lalu duduk di samping Shikamaru. Dalam satu gerakan cepat, ia merebut rokok di tangan Shikamaru dan melemparnya ke kolam di dekat mereka.

"Sabaku Temari, The Boston Police Departement, at your service," kata wanita itu sambil mengulurkan tangannya, mengajak bersalaman.

Shikamaru hanya memutar matanya dan kembali berbaring, tidak menggubris tangan yang terulur ke arahnya itu.

"Kalian belum puas menginterogasiku tadi?" tanya pemuda itu sinis.

Ingin rasanya Temari menceburkan pemuda itu ke kolam karena sikap tidak sopannya tadi, tapi Temari menahan diri.

"Dengar, anak kecil, aku di sini juga bukan atas keinginanku, oke? Tidak perlu bersikap defensif begitu padaku," kata Temari kesal, lalu ikut berbaring di samping Shikamaru, membuat pemuda itu menatap ke arahnya dengan pandangan heran.

"Apa yang kau lakukan?"

"Berbaring menatap bintang,"

Shikamaru langsung beranjak dari tempatnya, dan berjalan menjauh. Melihat hal ini, Temari ikut bangun.

"Mau ke mana?" tanya wanita itu, masih sambil duduk di atas rumput.

"Bukan urusanmu,"

Temari mengumpat dalam hati, tetapi ia masih mencoba menahan diri. Wanita itu segera bangkit, dan dalam waktu singkat, berhasil berjalan di sisi Shikamaru.

Pemuda itu berhenti dengan wajah kesal. "Apa lagi maumu?"

Temari mengangkat bahu, "Aku ditugaskan menjagamu sementara, sampai ada petugas laki-laki yang bisa menggantikanku,"

"Aku tidak butuh anjing penjaga. Lagipula, wanita sepertimu bisa apa? Jangan-jangan cuma merepotkanku saja," dan Shikamaru tidak perlu ada wanita berambut pirang mondar-mandir di depannya setiap hari, saat ia baru kehilangan kekasihnya yang juga berambut pirang.

Cukup sudah. Kalau ada sesuatu yang Temari benci, itu adalah jika orang meragukan kemampuannya sebagai polisi hanya karena ia wanita. For God's sake, ia pemegang sabuk hitam di judo dan taekwondo. Dengan satu pukulan di rahang, Shikamaru terjatuh ke tanah. Ia menatap tak percaya pada wanita yang baru saja memukulnya itu.

'Ouch... tadi itu pukulan keras.'

"Dengar baik-baik, anak kecil. Aku di sini hanya menjalankan tugas, kalau tidak, kau mau hidup atau mati pun aku tidak peduli."

Shikamaru hanya terdiam sejenak, ia bukannya tidak tahu kalau keluarga Yamanaka, keluarga Ino bukanlah sekedar keluarga yang kaya karena bisnis. Mereka juga terlibat dalam beberapa kegiatan ilegal. Kalau ayah Ino tahu ada kemungkinan putrinya dibunuh, ia tidak akan segan-segan mengirim pembunuh bayaran pada setiap tersangka, bersalah atau tidak. Pemuda itu merinding.

Merasa kalah argumen, Shikamaru hanya mengangkat tangan, sebelum kembali berdiri.

"Terserahmulah..."

Dan Temari mengikuti pemuda itu dengan riang.


"Masih di sini?"

Kakashi mendongak dari tempatnya duduk. Saat ini, pria itu sedang duduk bersandar di kursi besar berwarna hitam, dengan kaki terangkat ke meja. Tangannya memegang satu buah folder berisi data kasus ini. "Ah, Sasuke,"

Orang yang bersangkutan hanya mengangguk kecil, lalu meletakkan mantelnya di atas meja. Ia menatap curiga pada kursi yang diduduki Kakashi, "Bukankah itu milik Chief Sarutobi?"

Kakashi tertawa kecil, "Ah, Hiruzen-san tidak akan keberatan. Toh malam-malam begini kursi ini tidak dipakai,"

Sasuke tidak berkomentar. Ia berjalan menuju mejanya, lalu membuka laci teratas.

"Cari apa?" Kakashi tidak dapat menahan rasa ingin tahunya.

"Kunci apartemenku tertinggal,"

Kakashi mengangkat sebelah alis, "Kukira kau akan menginap di tempat Uzumaki,"

Sasuke menggeleng, "Suigetsu menggantikanku berjaga di sana,"

'Dan terlalu berbahaya bagiku kalau menginap di sana. Entah apa yang akan terjadi nanti. Berciuman dengannya saja sudah melanggar prinsipku selama ini,' pikir Sasuke dalam hati.

Sang pria berambut abu-abu hanya mengangguk-angguk. "Pemuda itu... mencurigakan..." gumamnya, sambil mengetuk-ngetukkan jari di meja. Ia teringat bagaimana ekspresi Shikamaru tadi saat Kakashi menyebut nama Naruto. Ada sedikit kebencian di wajah itu.

'Yeah,' Sasuke mendengus. 'Itu sih aku juga tahu.'

"Apa kau tahu kalau kehidupan Yamanaka Ino berubah drastis sejak pemuda itu muncul?" tanya Kakashi.

"Kau yang ada di sini dan menginterogasi, Kakashi. Dan seingatku, briefing seharusnya masih besok pagi,"

"Kurasa kita perlu menggali masa lalu pemuda itu lebih dalam lagi. Ia tidak mirip ayah dan ibunya, ada kemungkinan ia diadopsi... Atau ada hubungannya dengan keluarga Yamanaka. Kau tahu, keluarga itu tidak memiliki sejarah yang bersih dari noda."

"Bagaimana dengan hasil forensik terhadap korban?" tanya Sasuke. Daripada mengira-ngira terhadap satu tersangka, lebih baik mencari bukti nyata terlebih dahulu, apakah Yamanaka Ino dibunuh atau bunuh diri.

"Baru keluar besok pagi," jawab Kakashi, sedikit kesal karena hasilnya keluar lebih lama dari yang ia harapkan.

"Kalau begitu, selamat malam, Kakashi," Sasuke mengambil mantelnya dan baru akan keluar pintu saat Kakashi memanggilnya.

"Hati-hatilah dengannya, Sasuke,"

"Jangan khawatir,"

Dan pintu kantor mereka tertutup dengan suara pelan.

TBC



Saya nggak percaya saya mengapdet fanfic ini... Yang jalan ceritanya saya buat waktu SMP (dengan tokoh OC), dan setelah dipost saya baru sadar ternyata fic ini punya banyak lubang di plot-nya. Mau nggak mau, plotnya harus mengalami perubahan besar-besaran, haha... jadi malu.

Mungkin ada yang bertanya-tanya kenapa SasuNaru deketnya terlalu cepat, saya beritahu sekarang, kalau itu ada alasannya. Begitu juga dengan ke-bipolar-an Naruto... jadi bersabarlah sampai misterinya tersingkap...

Anyway, thank's for reading.

Review?