Author's Note: Trimakasih untuk semua yang telah bersedia meripiu dan mengikuti perkembangan fic ini. ^^
Reply Review:
Vi-chan Uchiha: Sasuke? Baca dulu aja deh, XDD *di kemplang* Scankyuu…
Nazuki Kyouru: Sasuke? Cinta? Pengasuh? Hya… temukan jawabannya di sini XDD *di gamprat* Scankyuu…
Aicchan: Kalau di sini Naru gak jadi perempuan, alurnya bakal mubeng-mubeng, maap kalau mengecewakan Nee, gomen m(______)m. Neechan juga suka Nakushita Kotoba ya? ah, Zuki juga suka^^ Scankyuu…
Sana Uchimaki: Sana-chan~ Arigatou udah mau review…^^. Jangan lama-lama Hiatusnya.. oke?^^ Scankyuu…
Aoi no Tsuki: Iya Neechan, dialognya emang dikit, soalnya ini masih prolog^^ Scankyuu Neechaan~ *nemplok*
Yuuzu-Chan: Ah? Masa? Jadi malu… *di tendang*. Sasuke? Cinta? Baca aja deh, XDD *di lempar* Arigatou…
Chiaki Megumi: Iya, Zuki juga setuju!! Scankyuu….
NakamaLuna: Eh? Bukan yang terakhir, tapi… ah sudahlah *di lempar*. Zuki masih aktif buat fic rated M kok^^. Sasuke? Silahkan di baca^^ *di buang* Arigatou…
Lovely_winda: Arigatou^^, yang di bunuh Naru si Sasu? Baca dulu ya XDD *di gamprat*
Genseki Ryota: Sasuke? Ryota-kun… baca aja deh XDD *di lempar* Arigarou…
Mendy.d'LovelyLucifer: Namanya… baca aja deh XXDDDD *di kemplang* Arigatou…
***
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Genre: Romance/Angst
Main Chara: Sasuke x FemNaruto
Rating: T
Story by: Mikazuki Chizuka
Summary: Mengapa rajutan sebuah kehampaan bisa menjadi kisah?
Kenapa aku harus harus melakukannya?
Apakah ini memang takdirku?
Hanya satu jalan yang harus aku tempuh, yaitu…
Suatu Pilihan.
OoooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooO
"Namanya…" kata Neji menggantung perkataannya.
Naruto hanya terdiam, ia mulai merasakan rasa penasaran yang begitu kuat. Memang benar, dia tidak suka dengan orang yang selalu menggantung perkataannya, karena kepribadiannya sudah berkata sedemikian rupa. Lama menunggu, dan keheningan mulai menyerang mereka, pada akhirnya sang Hyuuga berkata…
"Namanya Itachi, Uchiha Itachi. Naruto, dalam kasus ini kau akan dipekerjakan menjadi asisten pribadi dari adik Itachi. Kesimpulannya dalam 8 tahun kedepan kau akan bersama adik Itachi, sekaligus kau harus mengorek informasi secara mendetail tentang apa pun yang berada di diri Itachi, dan melaporkannya kepadaku apa pun itu. Kau bisa memberi informasi itu selama setahun sekali. Setelah semuanya selesai, kau harus segera membunuhnya," jelas Neji panjang lebar.
"Apakah maksudnya saya sekaligus menjadi mata-mata?" tanya Naruto menarik kesimpulan sendiri.
"Begitulah. Naruto kudengar dari Sakura kau sudah lulus kuliah S1 dalam jangka waktu 5 tahun 'kan? Itu bisa menjadi kartu hijau untukmu untuk bisa menjadi asisten pribadi adik Itachi."
"Kalau begitu, kenapa saya tidak di tempatkan menjadi asisten pribadi dari Itachi saja? Bukannya hal itu lebih mempermudah saya untuk bisa mengorek informasi lebih mendetail? Sekaligus saya bisa membunuhnya secara langsung."
"Tidak semudah itu Naruto, masalahnya di sini Itachi sudah memiliki asisten pribadi yang mengurus segala keperluannya, kalau pun kita membunuh asistennya dan menempatkanmu menjadi asisten pribadi yang baru untuk Itachi, kemungkinan besar gerakan kita sedikit terlihat. Bukannya meragukan kemampuanmu, tetapi ini untuk berjaga-jaga mengantisipasi keadaan yang mungkin akan mengancam keberadaan kita."
"Baiklah, saya mengerti, " kata Naruto paham.
"Mulai besok kau akan mulai bekerja, persiapkan dirimu Uzumaki Naruto," kata Neji berdiri dari duduknya diikuti Naruto. Neji pun merogoh kantong di dalam jasnya dan mengeluarkan sebuah amplop berwarna coklat, lalu amplop tersebut diberikan kepada Naruto. Seakan mengerti apa maksud tuannya, Naruto menerima amplop itu dan membungkukkan badannya ke arah Neji sebagai tanda penghormatannya. Dan seketika itu juga Naruto berlalu dari hadapan Neji.
Naruto menyimpan amplop itu ke dalam jaket yang dikenakannya. Ia terus berjalan hingga akhirnya dia bisa keluar dari persinggahan tuannya. Hujan, itulah hal yang menyambutnya ketika ia keluar. Namun, tetap saja ia berjalan menembus hujan tersebut, tanpa menggunakan payung yang kini dibawanya. Ia tau hujan atau tidak hujan, pastinya hujan tidak akan bisa menghapus dosanya.
*.#.#.#.*
oOo THE STORY OF SNOW oOo
Chap. 2 (Mengartikan Sesuatu Yang Tak Mungkin)
-Kediaman Uchiha-
"Itachi-sama, saya sudah mempunyai calon untuk menjadi asisten pribadi adik anda," kata Neji dengan penuh rasa hormat.
"Hm? Siapa?" tanya Itachi tanpa memandang ke arah Neji, ia terlalu terfokus dengan pamandangan yang ada dihadapannya itu. Pemandangan sebuah air mancur, pemandangan yang mengingatkan akan masa lalunya, masa lalu yang indah.
"Namanya Uzumaki Naruto, bocah perempuan, umurnya kira-kira sebaya dengan adik anda, S1," kata Neji. Itachi mengalihkan pandangannya ke arah Neji, dia tertarik dengan perkataan yang di lontarkan oleh Neji.
"Na… Naruto? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu, tapi kapan?' batin Itachi.
"Kira-kira 12 tahun 'kan? Sudah S1?" tanya Itachi datar.
"Dalam 5 tahun, bukankah itu hal yang luar biasa? Itachi-sama," kata Neji.
"Baiklah, bawa dia ke hadapanku," perintah Itachi. Neji hanya mengangguk, ia pun berlalu dari hadapan tuannya dan menuju ke toilet yang mungkin akan menelfon Naruto.
***
Tuk… Tuk… Tuk…
"Masuk," perintah Itachi.
"Maaf menganggu anda Itachi-sama, ini bocah perempuan itu," kata Neji seraya menunjuk Naruto yang berada di sampingnya. Itachi mengalihkan pandangannya ke arah Neji, ia nampak terlonjak kaget saat dirinya memandang ke arah Naruto. Namun, segera ia kembali ke semula.
"Mari silahkan duduk," kata Itachi yang sudah duduk di kursinya dahulu. Sedangkan Neji dan Naruto hanya menurut.
"Baiklah Uzumaki-san, bolehkah saya mengajukan 1 pertanyaan untuk anda?," kata Itachi menatap tajam ke arah Naruto.
"Silahkan," kata Naruto pendek.
"Apa tujuan anda menjadi asisten pribadi dari adik saya? Mm.. maksud saya, dengan tingkat kemampuan anda yang lulus S1 selama 5 tahun, bukannya hal itu lebih mempermudah anda untuk mencari pekerjaan yang lebih menopang hidup anda dari pada pekerjaan ini?" tanya Itachi tersenyum licik berusaha mengetahui reaksi Naruto setelah mendengar pertanyaan yang di lontarkannya. Namun, dalam kenyataannya keinginan Itachi tidak terlaksana, wajah Naruto tetap saja datar walaupun mungkin pertanyaan tersebut bisa mengancam keberadaan dirinya.
"Tujuan saya hanyalah hidup sebagai orang yang berguna. Bagi saya uang bukanlah segala-galanya, walaupun uang sangat menjamin kehidupan saya, tapi apa artinya uang jika keberadaan saya hanyalah sebagai penikmatnya tanpa arti?" jawab Naruto datar. Itachi nampak puas dengan jawaban yang dilontarkan oleh Naruto, karena Itachi tidak dapat melihat sesuatu yang bernama keraguan dari diri Naruto, dari perkataannya maupun pandangannya. Neji nampak sudah waspada dengan pertanyaan yang diucapkan oleh atasannya, namun Neji segera menghela nafas lega setelah mendengar jawaban logis dari arah Naruto.
"Mulai sekarang, kau akan bekerja sebagai asisten pribadi adik saya, Uzumaki-san," kata Itachi mengulurkan tangannya ke arah Naruto, Naruto hanya tersenyum simpul dan menerima uluran tangan tersebut.
"Saya merasa terhormat bisa membantu keluarga anda, Itachi-sama," kata Naruto menarik kembali uluran tangannya.
"Baiklah, kalau begitu, permisi," kata Neji seraya mengundurkan dirinya dari hadapan Itachi dan Naruto.
Neji pun berjalan di sepanjang lorong kediaman Uchiha dengan langkah tenang, ia merasakan sebuah kemenangan besar dalam hidupnya, dan mungkin ini akan menjadi suatu fakta penting, seorang bawahan seperti Hyuuga satu ini, bisa mengelabuhi seorang Uchiha yang berstatus sebagai atasannya. Bukankah itu hal yang luar biasa? Yah, mungkin, tapi untuk dirinya.
Tanpa sengaja saat Neji hendak berbelok di tikungan lorong tersebut, ia berpapasan dengan seorang bocah laki-laki yang sangat dia kenal. Neji pun memberikan rasa hormat kepada bocah itu dengan mencondongkan badannya ke arah bocah tersebut. lalu ia pun berkata, "Uchiha-sama." Bocah laki-laki itu hanya menanggapinya dengan kata 'Hn' saja dan berlalu meninggalkan Neji.
***
Bocah laki-laki itu terus berjalan di dalam keheningan. Hanya suara langkah kedua kakinya yang senantiasa menemaninya. Dengan tiba-tiba, bocah laki-laki tersebut menghentikan kedua kakinya yang sendari tadi berjalan, berhenti dan berhadapan pas di depan sebuah pintu yang tertutup. Tangan kanannya meraih kenop pintu yang berada di hadapannya, lalu perlahan ia mulai memutar kenop pintu tersebut hingga menghasilkan sebuah bunyi yang mungkin tidak terlalu mengganggu orang yang melakukannya, sekaligus membuka pintu tersebut. Dengan sekali dorongan, pintu tersebut terbuka sepenuhnya, menampilakan sosok kakak laki-lakinya yang berhadapan dengan seorang bocah perempuan yang tertangkap oleh kedua matanya.
"Ototou… kau mempunyai etika 'kan?"
"Dalam mimpimu, Itachi-sama," balas bocah laki-laki itu sinis dan mendudukan dirinya begitu saja di salah satu kursi di samping bocah perempuan tersebut dengan santainya.
"Sasuke, jangan bermain-main di saat seperti ini!" bentak Itachi merasa sedikit kesal dengan perlakuan adiknya.
"Huh!" dengus Sasuke. Itachi hanya menghela nafas berat dan perlahan mengatur posisi duduknya senyaman yang dia bisa.
"Baiklah Sasuke-sama, alasanku mengganggu acara makan siangmu adalah ini," kata Itachi seraya menunjuk ke arah bocah perempuan yang sendari tadi menundukan kepalanya.
Sasuke hanya melirik sekilas bocah perempuan yang berada di samping kanannya tersebut. Sasuke segera membelalakan matanya ketika mata biru langit perempuan itu menatap langsung mata onyx miliknya, tanpa adanya penghalang. Namun, Sasuke segera mengalihkan pandangannya ke arah lain dan segera memasang tampang 'Cool'nya lagi, dan bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Sedangkan bocah perempuan tersebut hanya terdiam.
"Namanya Naruto, Uzumaki Naruto, mulai saat ini dia akan menjadi asisten pribadi untukmu, Sasuke-sama," kata Itachi.
"Sudah kubilang Aniki, aku tidak butuh asisten!" kata Sasuke tegas.
"Harus Sasuke! Kali ini Anikimu tidak akan mengalah begitu saja dengan egomu itu," balas Sasuke menatap tajam mata Sasuke yang senada dengan matanya.
"Terserah kau saja," kata Sasuke seraya berdiri dari duduknya, lalu ia pun berjalan meninggalkan Itachi dan Naruto yang terdiam dalam keheningan.
Berlalunya Sasuke dari hadapan mereka sedikit membuat Itachi merasakan perasaan yang tidak enak kepada Naruto. Namun, sepertinya Naruto tidak merasakan perasaan itu. Itachi tidak mengetahui bahwa perempuan yang di hadapannya ini sudah mati. Bukan kehidupannya yang mati, tetapi hatinya-lah yang mati.
"Maafkanlah perlakuan adik saya, Uzumaki-san," kata Itachi. Naruto hanya menanggapinya dengan anggukan.
Itachi menekan sebuah tombol berbentuk lingkaran berwarna biru yang berada di salah satu sisi mejanya. Seketika itu juga, terdengar suara pintu yang diketuk oleh seseorang.
"Masuk," kata Itachi.
Dan seseorang pria berambut merah dengan balutan jas berwarna ke abu-abuan dan celana jeans panjang senada pun muncul dari arah pintu itu. Lalu pria tersebut berjalan menuju ke arah Itachi dan setelah sampai, pria itu membungkuk ke arah Itachi sebagai tanda hormatnya dan kembali berdiri tegap.
"Naruto, dialah yang akan mengurus segala sesuatunya yang akan kau perlukan," jelas Itachi.
"Nama saya Akasuna no Sasori, salam kenal Uzumaki-san," kata Sasori tersenyum damai ke arah Naruto yang masih menundukan kepalanya. Naruto memandang Sasori sejenak, ia dapat merasakan bahwa orang yang dipandanginya membulatkan matanya saat melihat keberadaan dirinya. Sasori pun segera melempar pandangannya ke arah lain. Sekilas bayangan masa lalu pun mulai menguasai pikirannya.
_
_
_
_
_
Tu Bi Kontinyu…
OoooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooO
Sekarang semuanya sudah tau 'kan siapa yang akan dibunuh Naru? Dialah Ita XDD *di gampar*
Maap kalau pendek, Zuki lagi banyak pikiran. Ini aja sudah Zuki usahakan agar bisa lebih panjang, tapi ternyata penyakit lemot Zuki kambuh lagi, gomen m(______)m.
Fic Zuki memang tidak lepas dari Typo maupun kesalahan yang lainnya, maka dari itu, Zuki mohon dengan sangat, maapkanlah segala kesalahan Zuki.^^
Akhir kata…
Zuki tunggu Review/Flamenya^^
With D'Heart
Mikazuki Chizuka
