Author's Note: U… Uwah… maapkan Zuki, apdetnya kelamaan T~T… Zuki di amuk temen skul gara-gara cerita kelas gak di selesain T~T. Jadi Zuki nulis cerita kelas dulu deh… Gomen m(______)m.
Warning: AU, Super OOC dan sangat GAJE!! Angst yang bener-bener gak jelas alurnya hingga bikin pusing kepala.
***
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Genre: Romance/Angst
Main Chara: Sasuke x FemNaruto
Rating: T
Story by: Mikazuki Chizuka
Summary: Mengapa rajutan sebuah kehampaan bisa menjadi kisah? Kenapa aku harus melakukannya? Apakah ini memang takdirku? Hanya satu jalan yang harus aku tempuh, yaitu… Suatu Pilihan.
OoooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooO
Naruto terduduk di ranjangnya, mengamati segala sesuatu yang berada di ruangan itu. Yah, ruangan yang sekarang telah menjadi kamarnya. Tapi menurutnya ini terlalu mewah, bahkan untuk seukuran asisten yang baru saja diterima, ini sangat tidak layak untuk orang yang baru saja akan memulai pekerjaannya. Tapi mau bagaimana lagi? Dia tidak bisa melawan kehendak tuan barunya 'kan? Memang dia bersyukur dengan segala apapun yang diperolehnya saat ini. Namun, dalam rasa bersyukur seperti itu, ada kalanya ia benar-benar merasa salah. Salah karena ia mendapatkan semua ini dengan cara yang salah pula.
Ia pun berjalan menuju ke sebuah jendela kaca yang tertutup. Tapi, jendela tersebut segera terbuka seiring dengan kedua tangan mungil sseorang yang membuka jendela itu. Indah, kata yang memang tepat untuk melukiskan pemandangan yang tertangkap di kedua mata biru langitnya. Di sana, ia dapat melihat bintang-bintang nampak berhamburan di langit lepas, bulan pun mengiringinya dengan memancarkan sinarnya.
Hatinya terasa sakit saat tanpa sengaja kedua mata biru langitnya menangkap sesosok bayangan rasi bintang yang sangat jelas di langit malam itu. Rasi bintang yang entah mengapa mengingatkannya pada seseorang. Ia pun berusaha mengingat-ingat masa lalunya, namun pada akhirnya pasti dia tau. Tidak ada sedikit pun bayangan masa lalu yang bisa diingatnya. Dan hal itulah yang membuatnya merasa bimbang. Jika memang ia merasa hatinya sakit saat melihat rasi bintang itu, kenapa ia tidak tau sebab dari itu semua? Alasan tak logis.
Mengartikan itu semua, tak terasa air matanya pun menetes perlahan. Perlahan hingga membuat segaris lurus yang sangat ketara di pipinya. Walaupun ia ingin membuktikan bahwa dirinya bukan perempuan lemah, tapi apa salahnya jika sekali saja ia ingin merasakan kelemahan itu?
Di pandanginya rasi bintang itu. Jika diperhatikan baik-baik, sepertinya ia mengetahui lekuk-lekuk rasi bintang tersebut, dan seketika itu juga sebuah nama pun melintas begitu saja di otaknya, Leo. Yah, dia yakin bahwa nama rasi bintang itu adalah Leo.
"Hapuslah air matamu jika kau melihat rasi bintang itu."
Kedua matanya segera membulat ketika sebuah kalimat itu terdengar jelas di telinganya. Entah kenapa ia bahkan tidak mengetahui apa dan siapa yang mengatakannya, namun ia sangat yakin bahwa ia tadi jelas-jelas mendengar ada seseorang yang mengatakan kalimat itu. Tapi dalam kenyataannya tidak ada seseorang pun yang berada di kamarnya, yang tentu saja kecuali dirinya sendiri.
*.#.#.#.*
oOo THE STORY OF SNOW oOo
Chap. 3 (Sekilas Bayangan Hati Tak Bernyawa)
"Kau masih terlalu muda, kenapa kau menerima pekerjaan ini?"
Sangat kontras terlihat gadis kecil itu terlonjak kaget. Dengan segera, dialihkannya perhatiannya dari rasi bintang itu ke arah seseorang yang mengganggu keheningan malam ini. Dan sekarang, ia pun dapat melihat berdirilah sesosok laki-laki seumurannya berdiri di ambang pintu kamarnya, mengenakan piama tidur berwarna biru tua sama seperti dirinya, sedikit berbeda dengan warna piama yang di kenakan Naruto, berwarna putih. Naruto pun segera memberikan senyum seadanya kepada laki-laki itu.
"Maaf, tapi bisakah anda mengetuk pintu kamar seseorang sebelum anda ingin memasuki kamar tersebut? Minimal itu yang dilakukan untuk mendapatkan persetujuan dari orang yang menempati kamar itu," kata Naruto dan menundukkan kepalanya. Ia juga dapat merasakan laki-laki sebaya dengannya itu berjalan mendekat ke arahnya, dan berhenti tepat di depannya.
"Lancang sekali kau berbicara seperti itu terhadap atasanmu!" bentak laki-laki itu. Tapi tidak terlalu keras, hanya sekilas seperti nada yang mengancam.
Naruto hanya terdiam, sebelumnya ia tak menduga bahwa dia bisa dengan mudahnya mengatakan sesuatu yang membuat atasannya murka seperti ini. Yang bisa ia lakukan hanya diam. Diam seribu kata dan seribu makna, tidak hanya itu, tubuhnya pun tidak bergerak sama sekali.
Sekali lagi nuansa hening pun menyelimuti mereka berdua. Membuat perisai hati menegang saling merasakan sensasi yang sebelumnya tidak pernah mereka rasakan. Sensasi yang mereka yakin sangat tidak menetralkan keduanya. Angin malam pun ikut serta dalam keheningan ini, berhembus masuk ke kamar mewah itu, menerbangkan beberapa helaian rambut pirang Naruto dan rambut hitam milik laki-laki tersebut. Naruto sekali lagi membulatkan kedua matanya saat dirasakannya ada sesuatu sensasi aneh yang menyelimuti dirinya. Dia tau sensasi itu.
"Cih! Aku benci air mata," kata Laki-laki itu seraya menyentuh dagu Naruto dan menghapus air mata yang mengalir di pipi Naruto dengan kedua tangannya. Mata onyx-nya mentap tajam ke mata biru langit Naruto, berusaha mengintikan arti tatapan sendu mata biru langit yang sekarang ada di hadapannya itu.
"Untuk apa?" tanya laki-laki itu.
Naruto hanya bisa memandangi laki-laki itu dengan tatapan hampa.
"Untuk apa kau harus mengeluarkan air itu? Apa gunanya?" kata laki-aki itu lagi seraya meletakkan kedua tangannya di pundak rapuh Naruto.
Naruto terdiam. Berusaha untuk tidak mengerti dengan perkataan yang di katakan oleh laki-laki tersebut. Ia merasa nyaman dengan sentuhan yang diberikan laki-laki itu terhadapnya. Sebelumnya ia tidak pernah merasakan perasaan yang begitu memanja relung hatinya seperti ini. Mungkin memang sudah lama atau memang sebelumnya ia belum pernah sama sekali merasakannya.
"Saya tidak bisa berkata apa-apa, bahkan saya juga tak mengerti kenapa itu semua harus ada…"
Perkataan Naruto membuat laki-laki itu ikut terdiam. Terdiam, terdiam, terdiam dan terdiam. Ia tak menduga sebelumnya bahwa ia akan kehilangan kata-kata di saat seperti ini. Tidak bisa membalas perkataan asisten barunya. Asisten yang selama ini tidak diharapkannya. Namun ternyata sesuatu di dalam dirinya mulai membayangi perasaannya. Perasaan mengharapkan seseorang. Dan mungkin seseorang yang diharapkannya adalah orang yang berada di hadapannya ini.
"Maafkan saya telah berkata lancang," kata Naruto memecah keheningan.
"Bukan salahmu," kata laki-laki itu.
Naruto memandang aneh kepada laki-laki yang berada di hadapannya itu. Ia bahkan tak mengerti apa maksud dari perkataan tersebut.
"Itu hak anda Uchiha-sama," kata Naruto kemudian setelah sempat terhanyut ke dalam pemikirannya.
"Sasuke,"
Naruto sekali lagi memandang aneh ke arah atasannya itu.
"Panggil aku Sasuke. Dan apakah mungkin kau akan memanggilku dengan sebutan Uchiha terus seperti itu? Tentunya aku memiliki nama lain selain itu 'kan?" kata laki-laki itu memperjelas maksud perkataannya tadi.
Naruto tersenyum sekilas dan berkata, "Baiklah… Sasuke-sama."
"Yah, itu lebih baik," kata Sasuke seraya menarik kembali kedua tangannya dan berjalan menuju ke jendela yang terbuka, berhenti tepat di jendela tersebut dan memandangi kristal(1) malam yang bertebaran di langit.
Sempat tersenyum kepada sang kristal, Sasuke pun mengalihkan pandangannya ke arah Naruto yang ternyata juga memandangi sosoknya. Sasuke pun menunjuk Naruto dengan jari telunjuk tangan kirinya, dan setelah itu di tariknya kembali telunjuk jarinya ke arah dirinya kembali. Lalu, ia pun kembali memandangi langit penuh dengan kristal tersebut.
Seakan mengerti keadaan, atau mungkin lebih menjurus kepada isyarat yang diberikan oleh Sasuke, Naruto pun melangkahkan kedua kakinya menyusul Sasuke yang sudah mendahuluinya berada di jendela tersebut. Ia segera menghentikan langkahnya saat dirinya sudah sampai di tempat tujuan. Berdampingan dengan sang Uchiha di samping kirinya, sekaligus memandangi sesuatu yang diperlihatkan oleh jendela yang terbuka.
"Menurutmu, apa yang kau lihat dari rasi bintang itu?" kata Sasuke seraya menunjuk salah satu rasi bintang yang menarik perhatian Naruto.
Naruto hanya bisa menatap lemah rasi bintang yang ditunjuk atasannya tersebut. Bagaimana tidak? Dengan jelas Naruto melihat rasi bintang Leo yang baru saja sempat menjadi pemikirannya.
"Dan menurut anda bagaimana, Uchi –ah… maaf, Sasuke-sama?" kata Naruto yang sempat mendapat lirikan dari Sasuke.
"Hm? Menurutku? Apa ya?" kata Sasuke menimbang-nimbang perkataannya. Tentu hal ini sedikit membuat rasa penasaran Naruto menjadi lebih kuat dari sebelumnya.
"Bagaimana Uchiha-sama?" tanya Naruto lagi.
"Mungkin…" kata Sasuke memotong perkataannya.
"Ya?" tanya Naruto tanpa melihat ke arah Sasuke.
"Hapuslah air matamu jika kau melihat rasi bintang itu."
Jantung Naruto berdebar dua kali lebih cepat dari sebelumnya saat mendengar perkataan Sasuke. Entah mengapa hal ini mulai membuat kepala Naruto merasa pening dan pandangannya tidak terfokus. Bagaimana dia bisa mengatakan hal seperti itu? Mungkin hal itulah yang sekarang sedang dipikirkan oleh Naruto.
"Sudah kubilang 'kan? Apa perlu diulang lagi agar kau tidak meneteskan air matamu lagi seperti itu?" kata Sasuke kembali menghapus air mata yang berlinang dari kedua mata Naruto.
Naruto tidak bisa berkata-kata lagi. Ia sangat merasa bahwa sekarang dirinya adalah perempuan yang benar-benar lemah. Lemah karena dia terus saja menangis, bahkan di hadapan orang yang baru saja dikenalnya tadi.
Hangat, perasaan itulah yang sekarang sedang menjalari tubuh Naruto. Tak disangkanya bahwa Sasuke akan memeluk tubuh mungil nan rapuh miliknya itu. Ia juga dapat mendengar detak jantung atasannya berdetak apa adanya.
"Menangislah sepuasmu, aku tidak akan melarangmu," kata Sasuke memeluk lebih erat tubuh Naruto.
Seketika itu juga Naruto membalas pelukan Sasuke dan menangis saat itu juga. Sasuke tidak akan menyesal jika piama yang dikenakannya akan basah oleh air mata Naruto. Yang pasti, ia merasa lega dengan perbuatan yang dilakukannya saat ini. Apa salahnya jika seorang Uchiha seperti dia sekali saja berbuat baik?
***
-Ruang Kerja Itachi-
"1 tahun di SD, 1 tahun di SMP, 1 tahun di SMA, dan 2 tahun kuliah? Benar 5 tahun, tak kusangka ada orang sepintar itu di umurnya yang masih 12 tahun," gumam Itachi saat melihat data diri Naruto.
"Menurut anda, bagaimana dengan si Uzumaki-san tersebut?"
"Apa maksudmu dengan itu, Sasori?" kata Itachi menyimpan kembali data diri milik Naruto di laci meja kerjanya.
"Maafkan saya jika terkesan lancang. Tapi, apakah sosok Uzumaki-san tidak mengganggu pikiran anda, Itachi-sama?" kata Sasori.
"Maksudmu sosoknya yang mirip dengan Namikaze-sama terdahulu?" kata Itachi mengambil kesimpulan.
"Kurang lebih seperti itu, Itachi-sama. Entah kenapa saya merasakan bahwa Uzumaki-san sangat mirip dengan putra mendiang Namikaze-sama."
"Yah, mereka memang mirip, tapi kau sudah tau jawabannya 'kan?"
"Tidak mungkin karena putra mendiang Namikaze-sama adalah laki-laki."
"Dan Uzumaki-san itu perempuan," lanjut Itachi.
Mereka pun terdiam, sungguh tidak ada kata-kata apapun yang ingin katakan satu dengan lainnya. Itachi pun berdiri dari duduknya dan berjalan menuju ke sebuah rak buku berukuran lumayan besar berwarna coklat yang menghiasi ruangan itu. Tangan kanannya pun mengambil sebuah buku yang berada di deretan rak paling atas.
Setelah mengambil buku bersampul hitam itu, Itachi pun kembali berjalan menuju ke meja kerjanya dan setelah sampai, ia pun kembali duduk di singgasananya berhadapan dengan Sasori. Di letakkannya buku bersampul hitam itu di meja lalu dibukanya. Dan kedua matanya pun menangkap sebuah foto yang lumayan besar dan cukup memenuhi halaman pertama itu. Foto keluarga Namikaze yang berdampingan dengan keluarga Uchiha.
"Kau bisa melihatnya sendiri 'kan, Sasori? Mereka memang begitu mirip, tapi sayangnya mereka sangat berbeda jauh. Putra Namikaze ini walaupun dalam keadaan senang dan sedih, ia selalu menampakkan cengiran khas-nya, sedangkan si Uzumaki-san, bahkan tersenyum saja mungkin jarang sekali. Tapi ini hanya kesimpulan yang kuambil dari realita yang ada," kata Itachi panjang lebar.
Sasori terdiam, tak mampu berkata-kata jauh lebih dari itu. Dan kalau dipikir-pikir lebih cermat serta menggunakan sebuah logika, perkataan Itachi memang benar adanya. Dan mereka pun pasti sudah mengetahuinya kalau beribu-ribu manusia pasti ada yang mirip. Namun, mirip bukan berarti sama 'kan?
"Tapi memang ada yang aneh di sini. Nama kecilnya, yang sama-sama 'Naruto,'" kata Itachi kemudian.
"Naruto ya? Memang namanya terkesan 'laki-laki' untuk perempuan seperti Uzumaki-san," jelas Sasori.
Hening… hanya terdengar suara lembaran kertas yang dibolak-balik oleh Itachi. Suara malam pun ikut serata dalam keheningan itu.
"Maaf Itachi-sama saya berkata seperti ini, tapi memang ada yang agak mengganggu pikiran saya," kata Sasori memecah keheningan.
Itachi melirik ke arah Sasori. "Apa?" katanya kemudian.
"Bukannya Namikaze-sama mempunyai dua putra?" tanya Sasori.
Itachi menutup buku bersampul hitam itu dan memandang ke arah Sasori.
"Ya, kau benar, namanya Namikaze Deidara," jawab Itachi.
'Cinta pertamaku,' lanjutnya dalam hati. Ada sedikit rasa rindu saat ia membatin dua kata tersebut.
"Oh… saya pernah bertemu sekali, tapi saat itu saya belum tau namanya. Dimana Deidara-sama sekarang?" kata Sasori.
Itachi sekali lagi berdiri dari duduknya dan mengembalikan buku bersampul hitam itu ke tempatnya, lalu kembali duduk di kursinya.
"Jujur, dia sangat beruntung, waktu kejadian 6 tahun silang dia tidak ikut dalam tragedi mengenaskan itu. Sekarang dia ada di Singapura, dan sejauh ini dia belum mengetahui apa-apa tentang hal itu."
"Kenapa anda tidak memberitaukannya?"
"Dan apakah kau ingin membuatnya sedih? Mengetahui kenyataan pahit seperti itu?"
Sasori terdiam. Satu pelajaran penting yang sekarang ia dapatkan setelah melalui situasi itu. Berpikirlah sebelum kau mengatakan sesuatu.
"Maafkan saya," kata Sasori.
Itachi hanya mengangguk dan berkata, "Tidurlah… sudah terlalu larut, dan aku yakin bahwa besok kau akan bekerja keras."
"Permisi Itachi-sama," kata Sasori seraya berdiri dari duduknya dan membungkukkan badannya 90 derajat ke arah Itachi, lalu ia pun segera berlalu dari hadapan Itachi.
***
Terdengar suara langkah kaki seseorang menggema di sepanjang lorong tersebut. Sinar bulan pun senantiasa menemani langkahnya dari celah-celah jendela yang tertutup, tidak hanya bulan, lampu-lampu yang bergelantungan di atas pun juga menjadi alat untuk menerangi jalannya. Ia menghentikan langkahnya saat tanpa sengaja kedua matanya menangkap sebuah kalimat yang terpampang di atas pintu yang ada di hadapannya itu. Perpustakaan UchiNami(2).
Dengan ragu, ia pun mulai menyentuh kenop pintu itu, memutarnya perlahan ke kiri hingga pintu tersebut sedikit terbuka. Dengan sekali dorongan, pintu tersebut terbuka lebar. Ia pun memacu kedua kakinya untuk melangkah masuk ke dalam. Namun, sebelum ia melakukan hal itu, ia menutup pintu tersebut dan segera melanjutkan langkahnya masuk ke ruangan itu.
Tanpa sengaja saat dia hendak berjalan menuju ke salah satu lemari di ruangan itu, dia menyenggol sebuah buku yang berada di atas meja hingga buku tersebut jatuh ke lantai. Di pandanginya buku bersampul biru dan putih yang terjatuh sebelum dipungutnya. Sekilas ia membaca judul buku itu.
The Story of Snow.
Itulah judul dari buku bersampul biru dan putih tersebut. Di dorong rasa penasaran, ia mendudukan dirinya di kursi dan segera membuka buku itu. Dan dalam hitungan menit, ia sudah menikmati kegiatannya.
***
Jam berdetang kencang menujukkan jam 12 malam telah tiba-tiba. Sudah sendari tadi Sasuke terus memeluk Naruto, hingga pada akhirnya ia merasakan bahwa Naruto sudah berhenti menangis dan mungkin tertidur setelah kelelahan menangis. Dengan gerakan pelan ia pun melepaskan pelukannya dan berganti menjadi menggendong Naruto secara bridal stlye dan membawanya ke atas ranjang King-size Naruto.
Setelah merasa posisi Naruto tertidur sudah nyaman, Sasuke pun segera mengambil selimut di lemari dan segera menyelimuti tubuh Naruto sampai sebatas leher. Lalu Sasuke pun membelai pipi Naruto lembut. Setelah itu, ia pun mengambil kursi yang letaknya tidak jauh darinya dan membawanya ke jendela. Didudukinya kursi tersebut serta dipandanginya kristal langit yang masih bertebaran di langit luas. Mengharapkan sesuatu dan mulai mengulang kembali ingatan masa lalunya...
_
_
_
_
_
Tu Bi Kontinyu...
OoooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooO
o).(1). Itu artinya bintang. Pas Zuki lagi bengong liatin bintang, tiba-tiba dengan sendirinya Zuki nyebut bintang dengan kristal, ya jadilah kayak begitu. Dan itulah hasil bengongan Gaje Zuki XDD. *di lempar*. Emang pernyataan yang nggak mutu sih T~T. Tapi mau bagaimana lagi? Maklumilah otak eror Zuki XD *di gampar*
o).(2). Uchiha-Namikaze, Zuki gabungin tuh. Memang jadi rada maksa XDD. Tapi, tapi, Zuki gak ada ide lain, ya udah pake itu aja XP. Habis mau apalagi? Otak Zuki lagi eror-erornya T~T
OoooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooO
.
Reply Review:
BrunoNadhGravano: Main Y!M? O.o Ahah… boleh-boleh XD. Iya memang bukan Sasu, tapi si Ita, tapi… Zuki punya rencana lain… *menyeringai licik* *di lempar* Sanckyuu…
Chiaki Megumi: Iya, Zuki juga setuju kalau jalan SasuNaru tidak damai. Ini 'kan fic angst. Hehe… mau Zuki siksa mereka berdua XDD *di Rasen-di Chido+di kroyok masal* Sanckyuu…
Nazuki Kyouru: Eheh… XDD. Tapi beneran Zuki gak maksud bohongin. Tapi, tapi, tangan dan otak Zuki yang ngontrol. Zuki gak bisa apa-apa XDD *di tabok* Sanckyuu…
Aoi no Tsuki: Iya bukan Sasu yang di bunuh Nee, XDD. Masa lalu?? Saso n Naru? Mungkin di Chap ini udah ke jawab. Kalau belum bialng ma Zuki ya Neechan^^. Sanckyuu…
NakamaLuna: Yang di bunuh bukan Sasu kok^^. Ahah… Senpai bener memang Ita kalau mati gak pa-pa *di susano'o Ita*. Saso n Naru? Hubungannya? Mungkin udah di jawab di Chap ini. Walaupun Zuki kurang yakin sih… XDD *di tendang* Sanckyuu…
Yuuzu-Chan: Saso? Iya memang ada XDD. Masa lalu? Ahah… mungkin udah ke jawab di Chap ini. Atau belum? -.-''a. Sanckyuu…
Mendy.d'LovelyLucifer: Ahah… udah Zuki jawab lewat Chap ini 'kan? XDD Sanckyuu…
Lovely_Winda: Iya memang bukan Sasu. Maap kelamaan apdet T~T. Sanckyuu…^^
Azahi Kisashi: Wuah… makasih atas masukannya^^. Iya memang pendek, jujur Chap lalu itu buat nyambung Chap ini^^. Masa lalu Saso n Naru? Mungkin udah Zuki jawab di Chap ini^^ Sanckyuu…
Rin Kajuji: Ahah… udah Zuki jawab 'kan?^^. Err.. tenang Neji ma Ita. Mungkin Chap depan. Sanckyuu…
Sherry-me: Ahah… Zuki memang salah di bagian itu XD. Makasih atas pemberitahuannya^^. Iya, Zuki yang buat aja juga ngiri *nglirik Naru* *di rajam Sasu* Sanckyuu…
Vi-chan Uchiha: Kemana aja kamu Vi? Lama gak nongol di FFn Naruto ini. XDD. Eheh? Bukannya Naru yang ngira ya? -.-''a) Gomen kelamaan apdet. Sanckyuu…^^
Genseki Ryota: Ryota-kun~ Arigatou udah mau bantu Zuki ngerjain PR Fisika. Hehe… ada untungnya juga Zuki sahabatan sama Lu yang pinter Fisika XDD *di plototin Ryo*. Ahah… memang bukan Sasu, tapi Zuki memang punya rencana lain. Special Thanks for you…^^
.
Uah… Zuki bener-bener sampe mampus buat nih Fic! Ternyata Zuki gak berbakat buat Angst TT~TT. Butuh pendetailan yang banyak sekali. Jujur lebih mudah buat naskah drama dari pada buat cerita T~T.
Fic ini mungkin belum bisa dikatakan angst malah…T~T
Maap kalau terkesan lebay, apalagi memang Zuki gak bisa semudah itu buat fic angst yang penuh dengan air mata(Halah!) *dilempar*. Tapi, Zuki pengen buat XD *di tendang*. Ya jadilah fic Gaje ini T~T…
Arigatou untuk semuanya yang bersedia meRnR fic Zuki^^.
Fic Zuki memang tidak pernah bisa terlepas dari kesalahan berupa typo dan teman-temannya. Zuki mohon maap jika masih ada kesalahan di fic Zuki.
Akhir kata… Zuki tunggu Review/Flamenya^^
With D'Heart
Mikazuki Chizuka.
NB: HAPPY BRITHDAY FOR YOU RYOTA-KUN^^
