Author Note: *celingak-celinguk gaje* Wew? O.o Rupanya Zuki lama gax apdet Fic. XDD *depaked* Ada alasan tersendiri mengapa Zuki gax apdet2. XD Mumpung lagi ada waktu luang, mending melanjutkan Fic yang sempat tak terurus. XDD

Warning: AU, GAJE, OOC –Sangat! XD-, CHARA DEATH!! –May be XD- Alur bikin pusing, mohon agar Minna-sama dapat memahaminya. m(_____)m Angst tapi gax kerasa T~T! -Gax suka? Tinggalkan halaman ini! XP

***

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Genre: Romance/Angst

Main Chara: Sasuke x FemNaruto

Rating: T

Story by: Mikazuki Chizuka

Summary: Mengapa rajutan sebuah kehampaan bisa menjadi kisah? Kenapa aku harus melakukannya? Apakah ini memang takdirku? Hanya satu jalan yang harus aku tempuh, yaitu

Suatu Pilihan.

OooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooO

Kedua kelopak matanya mulai terbuka, mempertontonkan kembali dua buah mata biru langit yang sempat tertutup. Samar-samar cahaya mentari yang menerobos dari celah-celah tertentu mulai menguasai rentina matanya. Perlahan tapi pasti, pandangan Naruto mulai sempurna, begitu pula sempurnanya ia terbangun dari tidur singkat ini. Naruto pun menyingkirkan sehelai selimut yang menutupi tubuhnya hingga sebagian dari selimut itu menyentuh dinginnya lantai.

Naruto memandang ke jendela, tepatnya pada sesosok bocah laki-laki yang terduduk di dekatnya dengan kedua mata yang tertutup. Pandangannya sedikit kabur, mungkin penyebabnya adalah kejadian tadi malam, air yang belinang bersumber dari mata. Sempat termenung sejenak, akhirnya ia memutuskan untuk berjalan mendekati bocah laki-laki tersebut, hendak menyentuh pundak bocah laki-laki bernama Sasuke itu.

Namun, belum sempat hal itu terjadi, ia mengurungkan niatnya. Sedikit ada perasaan takut jika ia membangunkan dan mengusik tidur lelap Sasuke, maka ia berkehendak lain dengan berjalan menuju lemari megah di salah satu sisi kamar barunya, dan segera melakukan ritual kecil, membuka-mengambil pakaian-menutup. Setelah itu, ia kembali berjalan menuju sebuah pintu yang bertuliskan huruf Katakana, yang berartikan 'kamar mandi'. Tanpa memperdulikan hal itu, ia langsung melakukan ritual lainnya, yang sayangnya tak mau menjelaskan secara mendetail.

Beberapa menit berlalu, Naruto keluar dari ruang tersebut, dengan balutan baju kantor berwarna biru tua dan rok 3 cm di atas lutut, rambut pirangnya tergerai dan sedikit basah. Ia mengambil sisir di atas meja dan segera menyisir mahkotanya, dari atas kebawah, lalu menggabungkan helaian-helaian rambut pirangnya dan diekor satu, tinggi kebelakang, menyisakan rambut pirang bagian depan yang tergerai, sedikit menutupi keningnya.

Naruto kembali mendekati Sasuke yang ternyata belum terbangun dari tidurnya yang hanya sesaat, bukan berarti selamanya. Dan kemungkinan masih tertawan oleh buaian mimpi-mimpi indahnya yang hanya ia sendirilah yang mengetahuinya. Tangan kanannya kini benar-benar menyentuh pundak Sasuke, sedikit membuat goncangan-goncangan kecil agar orang yang bersangkutan segera terbangun dari tidurnya. Namun, ternyata goncangan-goncangan itu tidak bisa membangunkan Sasuke, kepala Sasuke pun masih tertunduk

Naruto memberanikan diri untuk menyentuh bagian wajah Sasuke, belum sampai tangan kiri Naruto menyentuh wajah Sasuke, ia dikejutkan dengan tubuh Sasuke yang secara tiba-tiba jatuh ke pelukkannya. Rasa panik pun mulai mengusai jiwa dan raga Naruto, terlebih lagi saat ia mengetahui bahwa wajah putih Sasuke, lebih pucat dari pada sebelumnya, keringat dingin mulai membasahi wajah dan bagian tubuh lainnya, suhu badannya meningkat sangat drastis, nafasnya terengah-engah.

"SASUKE!!" teriak Naruto seraya memeluk tubuh Sasuke.

*.#.#.#.*

oOo THE STORY OF SNOW oOo

Chap. 4 (Antara Kematian Dan Darah)

-Pukul 05.47, Rumah Sakit Konoha-

Terlihat sesosok gadis bermbut pirang sedang terduduk di kursi yang tersedia di ruang tunggu. Kepalanya tertunduk, kedua tangannya terkepal di atas perbatasan antara lutut dan pinggul. Bau obat-obatan dan ruangan bernuansa putih pun mendominasi lingkungan di sekitarnya, teriakan maupun tangis histeris nampak terdengar nyaring di saat ada berita buruk yang mendatangi mereka.

Sayang sekali, walaupun semua itu sangat mengganggu Naruto, sesuatu apa pun usaha untuk menghentikannya sama sekali tidak dilakukan. Toh, lagi pula kenapa ia harus repot-repot melakukannya? Yang terpenting sekarang adalah keadaan seseorang yang sedang ia tunggu, yang terpisah darinya, karena dihalangi dinding dan pintu yang memisahkan mereka.

"Bagaimana keadaan Sasuke?"

Pertanyaan seseorang sukses membuat Naruto tidak menundukkan kepalanya lagi, bahkan ia sekarang sedang memandang ke wajah pria yang lebih tua darinya, sekaligus kakak dari orang yang ditunggunya. Uchiha Itachi, -calon korban barunya.

"Maaf Itachi-sama, sama sekali belum ada kabar tentang Sasuke-sama, beliau sedang dalam penanganan Dokter," jawab Naruto kembali menundukkan kepala.

Itachi mendudukkan diri di samping kanan Naruto, mula-mula keheningan mulai mendatangi mereka, tapi hal itu segera pergi dikarenakan langkah kaki seseorang yang semakin lama, semakin mendekat hingga pada akhirnya langkah kaki tersebut berhenti tepat di hadapan Itachi. Lelaki bertubuh tegap dan berambut merah yang diduga menjadi penyebab suara langkah kaki itu membungkukkan badannya ke arah Itachi. Itachi mengangguk dan berdiri dari duduknya.

"Sasori, tolong jaga adikku, aku masih ada urusan di kantor," kata Itachi seraya melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Sasori dan Naruto yang tak bergeming sedikit pun.

"Baiklah, Itachi-sama," jawab Sasori.

Berlalunya Itachi membuat Sasori mendudukkan diri di samping kanan Naruto, menggantikan Itachi yang sudah pergi. Sasori melirik ke arah Naruto yang masih menundukkan kepala, sebenarnya Naruto tahu bahwa Sasori sedang mengamatinya. Tetapi Naruto hanya membiarkannya. Ruang tunggu di rumah sakit ini begitu ramai, dengan berbagai suara kepedihan mau pun suara kebahagiaan yang bercampur menjadi satu. Namun, Naruto merasakan bahwa semua keadaan ini hanya kehampaan semata yang menguasai segalanya.

"Naruto…"

Naruto menoleh ke arah Sasori yang baru saja memanggil namanya. "Ada apa Sasori-san?" tanya Naruto menanggapi panggilan Sasori.

Sasori merogoh saku jas bagian dalamnya lalu mengeluarkan sebuah kertas. Bukan kertas biasa, tapi kertas yang memang sudah didesain secara khusus untuk mencetak sesuatu tertentu. Sasori menyerahkan kertas berukuran 10 cm x 7 cm itu kepada Naruto, Naruto menerimanya lalu memperhatikan baik-baik gambar seseorang yang tertera di atas kertas tersebut yang ternyata adalah sebuah foto. Kedua mata Naruto melebar dengan sempurna di kala ia mengetahui siapa sosok bocah laki-laki kecil berambut pirang yang sedang menujukkan deretan gigi-gigi putihnya.

"I-ini…"

"Ya, Namikaze Naruto-sama," kata Sasori sedikit tersenyum kecil saat dugaannya mengenai sasaran, yang kontras digambarkan oleh raut wajah Naruto.

"Na-Namikaze Na-Naruto… Sama?" desis Naruto mencermati baik-baik wajah bocah laki-laki kecil yang mirip dengan wajahnya itu.

"Apakah kau mengenal beliau?" tanya Sasori.

Naruto terus memandangi foto itu dengan perasaan tak menentu. Jantungnya berdetak semakin cepat, darahnya seakan membeku mengetahui ada salah satu orang yang sangat mirip dengannya. Berusaha agar tidak terlalu memperdulikannya, Naruto menyerahkan foto itu kepada Sasori, sedangkan Sasori menerimannya, dan menunggu sebuah jawaban.

"Maaf Sasori-san, tapi saya tidak mengenal beliau," jawab Naruto yang membuat Sasori menunduk kecewa.

Klek!

Pintu ruang rawat Sasuke terbuka, Sasori dan Naruto segera berdiri dari duduknya dan berjalan menuju ke arah Dokter yang muncul di balik pintu tersebut.

"Bagaimana keadaan Sasuke-sama, Dok?" tanya Sasori mendahului Naruto yang ingin mengatakan hal yang sama.

"Beliau tidak apa-apa, hanya masuk angin biasa yang mungkin karena kebanyakan menghirup angin malam yang jelas-jelas bisa membawa pengaruh buruk untuk tubuh manusia," jelas Dokter.

Sekarang Naruto merasa bersalah saat mendengar pernyataan sang Dokter. Yah, ini semua memang salahnya, karena membiarkan tuannya berlama-lama terterpa angin malam waktu itu. Penyesalan memang selalu datang pada akhirnya, tapi rasa bersalah bisa mengambil tempat sesuka hatinya, mirip tapi berbeda.

"Bolehkah saya masuk?" tanya Naruto.

"Silahkan," kata Dokter seraya memberi jalan untuk Naruto dan Sasori masuk ke ruang perawatan Sasuke.

Sasori dan Naruto pun langsung masuk ke dalam ruang rawat Sasuke. Di sana, mereka dapat melihat Sasuke yang terduduk di atas ranjang dengan pandangan kosong yang tertuju pada sebuah jendela kaca yang terbuka, memperlihatkan lukisan alam yang menawan di setiap garis-garis khayalnya. Sasori dan Naruto dengan perlahan mulai mendekati Sasuke, rupanya tuan mereka tersebut sedikit terganggu dengan kehadiran mereka, hal itu dibuktikan dengan dirinya yang memandang ke arah mereka secara bergantian.

"Selamat pagi, Sasuke-sama," ucap Sasori dan Naruto secara bersamaan.

Sasuke hanya mengangguk dan kembali memandang ke arah jendela. Sedangkan Sasori duduk di sofa yang telah tersedia di ruang itu. Naruto masih berdiri, ia bimbang akan melakukan apa, mungkin duduk bersama Sasori, tapi ia tidak menginginkannya. Mendekati Sasuke? Dan mengganggu tuannya? Lupakan. Hal paling bodoh yang pernah ia pikirkan.

"Sasori, siapkan mobil untukku," kata Sasuke dengan tiba-tiba.

Sasori memandang ke arah Sasuke dengan raut keterkejutan. "Ta-tapi, keadaan anda ba-"

"Aku tidak menerima penolakaan," kata Sasuke datar.

"Ba-baiklah, saya permisi," kata Sasori membungkukkan badannya ke arah Sasuke dan sempat melemparkan senyum kecil kepada Naruto, lalu sosoknya menghilang di balik pintu.

Kini tinggalah Sasuke dan Naruto berdua saja, saling tenggelam dalam pemikiran masing-masing, terlebih lagi Naruto yang paling bersikeras berkutat pada dunianya sendiri. Ia benar-benar bingung akan melakukan apa, sebagai asisten pribadi yang terbilang masih muda, ia memang belum mampu mengusai bidangnya. Apalagi, ia belum berpengalaman pula dalam hal ini. Tapi, ia harus bisa, demi memperlancar tugas utamanya… Membunuh.

"Kenapa kau hanya diam saja?"

Perkataan Sasuke membuyarkan segala lamunan Naruto. Ia memberanikan diri untuk memandang Sasuke. Mata biru langitnya bertemu dengan mata onyx milik Sasuke. Sejenak mereka saling bertatapan, mencari sekilas arti dari lautan bahtera samudra bernuansa biru mau pun hitam. Namun segera berakhir ketika Sasuke mulai mengucapkan beberapa patah kata.

"Kemasi semua barang-barangku!" perintah Sasuke.

Naruto mengangguk dan mendekat ke arah Sasuke. Dia pun mengambil koper yang tersembunyi di kolong ranjang Sasuke dan membukanya. Lalu membuka lemari kecil yang ada di samping ranjang Sasuke dan memindahkan seluruh isinya ke dalam koper, dan memberikan sentuhan terakhir dengan menutup kedua-duanya. Kembalilah ia berhadapan dengan sang Uchiha. Tanpa peringatan, Sasuke langsung berdiri, namun karena mungkin kondisinya yang masih labil, ia kembali terduduk dan memegangi kepalanya.

"Sasuke-sama! Anda baik-baik saja?!" seru Naruto panik.

Sasuke memandangi wajah bola mata Naruto yang menyiratkan rasa kepanikkan yang berlebihan, serasa ada suatu sensasi hangat yang mengajak jantungnya untuk berlari, bersenang-senang dan menikmati betapa sempurnanya rasa sensasi itu. Terlebih saat menyentuh hati kecilnya, membuat ia mengetahui apa sensasi tersebut. Namun sayangnya ia tak mengetahui apa nama darinya.

"Tidak apa-apa, hanya pusing biasa," balas Sasuke datar

"…" Naruto tak berani mengucap apa pun, bahkan ia tak sadar saat tangannya menyentuh lengan Sasuke, dan segera menarik kembali setelah menyadarinya.

***

Perpustakaan yang hening, hanya terdengar suara berlembar-lembar halaman buku yang dibolak-balik. Di lain itu semua, sosok tersebut masih menikmati kegiatannya, membaca beberapa kalimat yang berkumpul menjadi sebuah paragraf.

The Story of Snow.

Tanpa perasaan lelah ia terus membaca isi dari buku itu… Tanpa perasaan lelah ia terus mencermati segala sesuatu yang tertulis di sana… Tanpa perasaan lelah… ia tetap melukiskan kejadian yang ada…

Walaupun malam tak akan pernah berubah menjadi siang… Sampai kalimat terakhir, ia tetap tidak akan pernah melangkahkan kaki meninggalkan perpustakaan UchiNami. Perpustakaan yang menjadi tempat terakhir kalinya ia dapat berkumpul dengan kehangatan keluarga.

Yang tanpa ia sadari amat dirindukannya…

***

Keramaian di siang hari bahkan terasa hampa, setidaknya itulah yang Naruto rasakan. Cahaya panas yang dipancarkan sang matahari mengiringi Naruto dan Sasuke yang meluncur menggunakan alat bantu bernama mobil, semakin menambah jumlah kendaraan yang berlalu lalang di jalanan panjang. Naruto tidak tahu, ke mana Sasuke akan membawa dirinya. Sekali sebelum berangkat, ia sempat berpikir Sasuke akan membawanya pulang menuju kediaman Uchiha, namun ternyata dugaannya salah, hal itu diperkuat dengan jalan yang tidak menuju tempat obyek pertama.

Naruto hanya terdiam, tak berani mengucap satu patah kata pun saat mobil yang mereka tumpangi berhenti tepat di sebuah halaman luas area sekolah tingkat elit. Sangat, sangat ingin bertanya apa alasan tuannya membawa ia kemari. Selain alasan pada kalimat pertama dalam paragraf, alasan tersendiri menjadi kunci mati bibirnya. Pasrah akan apa pun yang akan segera ia terima. Lagi pula statusnya sekarang adalah asisten pribadi, hal besar yang tidak ada yang tahu kecuali sekutu Naruto. Asisten pribadi perenggut nyawa.

Saat dirasakannya mobil yang mereka tumpangi terhenti, mengabaikan renungan dalam otak, Naruto segera turun dari mobil dan berlari melalui belakang mobil, terhenti tepat ketika ia sudah sampai di samping kanan pintu mobil milik sang tuan. Dengan segera ia raih kenop pintu mobil tersebut, tarikkan ringan membuat pintu mengkilat bertabrakan dengan cahaya matahari itu terbuka lebar, mempertontonkan sesosok bocah laki-laki tampan yang menuruni mobil dengan ekspresi datar. Bahkan enggan untuk mengucapkan dua kata 'terima kasih' atas bantuan yang ditawarkan si asisten pribadi.

Maklum saja, sifat Uchiha bungsu tak terbantahkan. Naruto hanya menuruti bayangan Sasuke yang berjalan memasuki gedung sekolah, seakan menuntunnya menuju keselarasan makna perjalanan yang entah panjang atau singkat. Asalkan sudah sampai tujuan, sudah cukup 'kan menjawab rasa penasaran kecil yang mengidap di diri Naruto? Opini atau Fakta? Jawabannya adalah dua-duanya. Benar 'kan?

Jeritan histeris dari seluruh anak yang berada di lorong sekolah langsung menyambut kedatangan mereka. Naruto sempat mengedarkan pandangannya ke seluruh pelosok-pelosok lorong tersebut, ternyata beratus murid yang kebanyakan perempuan tengah memandangi dirinya dengan tajam, sedangkan tatapan mereka akan melembut saat memandang pada Sasuke yang berjalan di depannya. Sungguh tidak adil memang, tapi mau bagaimana lagi? Ia harus menerima semua tatapan itu, tidak terkecuali pandangan yang mengisyaratkan ketidaksukaan serta pandangan menusuk agar Naruto tidak dekat-dekat dengan Sasuke. Fakta baru, Uchiha bungsu yang menjadi manusia dipuja-puja manusia lainnya.

Merasa risih, Naruto mempercepat laju jalannya hingga tanpa sengaja ia menabrak seseorang. Perlakuan bodoh dan memalukan, karena yang ia tabrak adalah orang yang berjalan berada di depannya, siapa lagi kalau bukan Uchiha Sasuke? Dirasakannya Sasuke menghentikan langkah dan membalikkan tubuh ke belakang, tepat dimana Naruto sekarang telah tertundukkan kepalanya.

"Ma-maafkan saya Sasuke-sama!" ucap Naruto semakin menundukkan kepalanya.

Sasuke menatap sinis pada Naruto. Namun lama kelamaan tatapan itu berubah menjadi senyum tipis. Tangannya meraih pergelangan tangan Naruto, menariknya untuk ikut berjalan berdampingan dengan dirinya. Awalnya Naruto sempat ingin menolak uluran kehangatan tersendiri dari Sasuke. Tapi tidak, lebih tepatnya tidak bisa menolak begitu saja. Seharusnya ia menolak, tapi ia tak bisa. Hati kecilnyalah yang kini telah mengendalikan raga mau pun jiwa. Aura tidak mengenakkan memang mengancam di sekitar. Naruto tidak peduli, yang penting perhatian dari orang yang menjadi pusat perhatian telah tertuju pada dirinya. Bukan orang lain.

Terus mereka melangkah, melewati beberapa kelas yang berderet. Tak peduli barang sedikit pun saat bocah-bocah seumuran mereka memanggil-manggil nama Sasuke seperti orang kerasukan setan. Tak peduli tatapan kematian yang tertuju pada Naruto. Tak peduli pada mereka yang menjadi pusat perhatian. Karena yang mereka pedulikan lebih penting dari segalanya. Segalanya yang mengganggu kebersamaan mereka. Hanya sekilas memang. Karena Sasuke langsung melepaskan gandengan tangannya setelah mereka berdua memasuki ruang yang menjadi tujuan Sasuke datang kemari. Tetapi sentuhan sekecil itu saja sudah berhasil membuat hati Naruto bergetar. Bagaimana jika 'lebih' dari itu? Pertanyaan yang tergantung jawabannya.

Memasuki ruang itu, Naruto menautkan kedua alis saat mendapati sesosok wanita cantik terduduk di singgasananya. Kepalanya tiba-tiba merasa pening. Terpaksa Naruto mencengkram dan menahan rasa sakit yang melanda kepalanya. Dari situ ia mempunyai satu lagi kesimpulan. Ia tidak mengenal wanita cantik tersebut, tapi entah kenapa hati kecilnya berkata lain. Apa yang harus ia percaya? Akal sehat atau kata hati? Atau mengabaikan keduanya? Hasil akhirnya yang ia dapat hanya rasa pusing saja. Namun yang ia pilih adalah pertanyaan terakhir, meninggalkan rasa penasaran jauh di lubang hitam tak berdasar dalam hatinya.

"Maaf Sasuke-sama, bolehkah saya izin ke toilet?" kata Naruto pelan.

Sepelan-pelannya perkataan Naruto, tapi jangan ragukan alat pendengaran Uchiha bungsu. Suara Naruto terdengar jelas di telinganya. Melirik sebentar, Sasuke langsung menganggukan kepalanya. Mendapat persetujuan, Naruto segera pamit undur diri, meninggalkan wanita cantik yang membelalakan kedua mata saat arah pandangnya tertuju pada Naruto.

('Na-Namikaze Naruto? Bukan. Apakah dia… Uzumaki Naruto?')

"Apakah ada masalah, Tsunade-sama?" tanya Sasuke ketika mendapati perilaku wanita cantik yang ia panggil Tsunade itu berbeda dari biasanya.

"Ah… tidak ada, Uchiha-kun…" kata Tsunade walau tak yakin dengan perkataanya tadi.

"Hn."

"Ah iya, ada keperluan apa sehingga Uchiha-kun sendiri mendatangi saya secara khusus?" tanya Tsunade.

"Memerlukan bantuan anda untuk mengirimkan salah satu guru terbaik dari sekolah ini, agar menjadi guru yang membimbing saya di rumah," kata Sasuke membuat Tsunade menautkan kedua alis.

"Maksudnya? Anda akan menggunakan sistem pembelajaran home schooling?" tanya Tsunade yang mendapat anggukan mantap dari Sasuke.

"Ya, dan ada alasan tersendiri dimana saya tidak bisa mengatakannya secara langsung kepada anda."

"Baiklah jika anda menginginkan hal tersebut," kata Tsunade.

"Hn."

***

Naruto terus melangkahkan kedua kaki. Seharusnya ia tak mengenal tempat ini, namun entah kenapa setiap sudut di sekitar sekolah ini seakan sangat ia kenal. Seperti seluruhnya terlukis secara permanen di dalam otaknya. Merasa heran memang, tapi ia tidak peduli. Yang terpenting sekarang adalah menuju ke tempat dimana menjadi tempat dirinya meminta izin pada Sasuke. Menuruti pemikiran, ternyata tidak ada salahnya. Dengan waktu relatif cepat, ia sudah sampai di tempat tujuan. Aneh bukan? Tempat yang ia rasa baru pertama kali ia kunjungi, begitu mudahnya tempat-tempat yang ia cari tertemukan. Seperti saat ini.

Naruto segera memasuki toilet tersebut. Tapi ada yang salah, karena yang ia masuki, bukan toilet perempuan, melainkan toilet laki-laki. Sebenarnya ada apa ini? Kenapa Naruto memilih memasuki toilet laki-laki yang jelas-jelas bukan tempat seharusnya ia berada? Perasaan nyaman? Ya, mungkin itu alasannya. Tetapi setidaknya ada alasan yang lebih masuk akal 'kan? Tetapi apa?

Setelah memasuki toilet, Naruto berjalan menuju ruang kecil yang tersedia dan memasukinya serta menutup pintu rapat. Tidak memperdulikan seorang anak laki-laki yang sedari tadi menatap Naruto dengan tatapan mesum.

'Mangsa empuk yang bodoh,' batin bocah laki-laki tersebut senang.

Bocah laki-laki itu menyandarkan diri di pintu sebelah pintu di balik Naruto berada. Menunggu beberapa lama, akhirnya Naruto keluar. Sempat terlonjak kaget saat mendapati tubuhnya telah terhimpit antara tubuh seseorang dan dinding. Naruto membelalakan mata ketika seseorang tersebut hendak menciumnya secara ganas. Lantas Naruto memukul keras wajah bocah laki-laki tersebut hingga berdarah.

"Brengsek! Nikmati saja bodoh!" seru bocah laki-laki tersebut kembali hendak menyerang Naruto.

Namun gerakkannya terhenti ketika sebuah pistol hitam metalik teracung mulus tepat di depan keningnya, membuat orang yang bersangkutan terdiam membatu serta memandang takut ke arah Naruto. Naruto yang awalnya menundukkan kepala, kini tengah menatap tajam ke arah bocah laki-laki yang ada di hadapannya.

"Siapa namamu?" tanya Naruto dingin.

Tidak ada jawaban dari orang yang kemungkinan sebentar lagi akan menjadi kelinci percobaannya dalam menekan pelatuk pistol.

"Aku bilang… Siapa namamu?!!" bentak Naruto sudah bersiap-siap menekan pelatuk pistolnya.

"Su-Su-Suigetsu!" seru bocah bernama Suigetsu itu ketakutan.

Naruto menyeringai licik. Dengan kecepatan perdetik, tiga peluru pistol milik Naruto telah beralih menembus kepala Suigetsu. Darah merah pekat berlomba untuk mengeluarkan diri dari tempatnya semula. Tubuh Suigetsu terjatuh kelantai dengan keras. Naruto tahu, jiwa di dalam raga Suigetsu telah terenggut dan dimakan habis oleh malaikat kematian. Tetapi ia belum puas. Maka dari itulah ia mengambil pisau lipat yang tersembunyi di balik saku roknya, dan menusukkan pisau itu tepat mengenai bagian sekitar hati milik Suigetsu. Teriakan miris masih terdengar, namun segera tergantikan dengan rintihan kesakitan.

Naruto memandang hampa ke arah hati Suigetsu yang sekarang telah beralih di tangannya. Darah membanjiri lantai toilet dan tangan Naruto. Ia tahu, setelah ini dia akan segera membereskan kegiatannya ini tanpa jejak. Namun bukan itu yang sekarang telah ada dipikirannya…

Memejamkan mata, Naruto menangis dalam hati. Menangis karena lagi-lagi ia merenggut nyawa manusia, yang seharusnya bukan merupakan tugasnya…

_

_

Tetapi ia harus melakukannya, karena ini demi kelancaran dalam menjalankan tugas...

_

_

Tu Bi Kontinyu...

OooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooO

Reply Review:

Aoi no Tsuki: Iya, mereka berdua memang pasangan paling romantis!! XD Arigatou Nee atas ripiunya. ^^

NakamaLuna: Silahkan. ^^ *rajamed by Naru* Hubungan Saso ma Naru udah jelas apa belum Nee? Sudah jelas belum di sini Naru cowok apa cewek? T.T Kalau belum, berarti takdir berkata bahwa jawabannya akan datang di Chap. depan. XD XP *tabok* Arigatou Nee atas ripiunya. ^^

Chiaki Megumi: Arigatou Nee~ ^^ *peluk-peluk* *ditendang* Iya, di sini memang ada 'Namikaze Naruto'. X} May be faktanya tersembunyi di antara kedua opini dari Nee. =) Arigatou Nee atas ripiunya. ^^

Nazuki Kyouru: Menurut Nee Fic ini bagus dijadiin Fic Yaoi apa straight? Soalnya Zuki masih bingung menentukannya. Awalnya di sini memang Naru-nya cewek, tapi entah di Chap depan masih cewek apa gax. Soalnya Zuki udah dapet ide untuk membuat Naru jadi cowok. XD *digeplak* Arigatou atas ripiunya. ^^

Yuuzu-Chan: T.T | Naru yang dibicarakan Ita ma Saso itu bukan Naruto-yang-menjadi-asisten-pribadi-Sasuke. Tetapi 'Naruto yang lain. ^^ Moga aja Nee udah ngerti maksudnya. ^^' Arigatou Nee atas ripiunya. ^^

Uchiha no Vi-chan: Yx sesuatu itu apa Vi? -.-'' O ya, jawaban dari tebakkan Vi mungkin akan terjawab di Chap. depan. =) Cinta antara SasuNaru? Entahlah udah ada apa belum. ==a *depaked karena gaje* Arigatou atas ripiunya Vi. ^^ =)

Harllot Scord: Iya, angstnya memang belum keliatan. T.T | Tetep SasuNaru kok, gax mungkin jadi ItaNaru ^^' Arigatou atas ripiunya Nadh. ^^

Azahi Kisashi: Doble kata 'ya' untuk Kisashi-san. ^^ Tentang Naru yang tadinya cewek nyamar jadi cowok atau sebaliknya may be akan terjawab di Chap. depan. ^^' Kejadian 6 tahun? Belum terpikir jawabannya di my otak. XD *sepaked* Di sini Zuki sengaja buat Naru pinter, kasian aja ma Naru yang diejek bodoh terus. ==' Iya, angst-nya memang belum keliatan. T.T Arigatou atas ripiunya. =) ^^ =)

Genseki no Ryota: Oh Teme~~ T.T kau memang orang yang paling pengertian. TTT^TTT *terharu + peluk2* *gaploked by Teme* Arigatou atas ripiunya Teme~~ ^^

Kurukanda-B-Nolawie: Dari awal memang sama 'kan Kuru?? T.T'' Arigatou atas ripiunya Kuru. ^^ =) =) =)

.'s: Arigatou. ^^ Perpustakan UchiNami ya? Kemungkinan jawabannya akan ada di Epilog. Soalnya Zuki punya rencana tersendiri tentang perpustakaan itu. XD Arigatou atas ripiunya ya… ^^ =)

Mendy'dLovelyLucifer: Iya, ^^ Memang Zuki juga ngerasa aneh banget. T.T Ta-tapi… biarlah. XP *ditakol Mendy* Arigatou atas ripunya Mendy. ^^

Light-Sapphire-Chan: Arigatou. ^^ Ini bukan SasoNaru kox, tetap SasuNaru nomer satu. =) Arigatou atas ripiunya. ^^

Fuyuno Hoshi: Arigatou. ^^ iya, gax pa-pa kox. =) Naru nangis pas nglihat rasi bintang itu bukan karena rasi bintangnya. Tapi Naru teringat 'sesuatu' =) Masa lalu Naruto akan datang di akhir-akhir epilog. XD Arigatou atas ripiunya ya… =) ^^

Vanadise: Arigatou. ^^ Di sini memang belum jelas Naru itu laki-laki atau perempuan. Kerena sebenarnya Zuki masih bingung mau menjadikan Naru sebagai perempuan atau laki-laki. =) Arigatou atas ripiunya ya… =) =)

Thanks a lot for My Baka Teme yang meneror Zuki setiap malam untuk segera mengapdet nih Fic atu. ==a

Udah tahu sekarang udah kelas 3!! Pakai maksa pula!! DX

Zuki gax berani menceritakan lebih mendetail tentang pembunuhan Suigetsu. DX Takut kalau Fic ini malah jadi rated M. XP Sudah Zuki putuskan untuk 'meletakkan' Fic ini cukup di rated T saja. XP XP *digeplak*

O ya, bagi yx belum mengerti maksud Fic Zuki, apa perlu Zuki kasih selingan masa lalu Sasu dan Naru(Namikaze atau pun Uzumaki)?? Menurut Minna-sama Fic ini bagusnya tetap menjadi Fic straight apa Yaoi? Maksudnya… Naru tetep cewek apa cowok? Jika Minna-sama menginginkan Naru berubah jadi cowok, Zuki bisa mengabulkannya. Karena Zuki udah menemukan alur cerita yx pas dengan Naru cowok. Begitu pula dengan Naru cewek =)

Arigatou untuk semuanya yang bersedia meRnR fic Zuki. ^^

..

Fic Zuki memang tidak pernah bisa terlepas dari kesalahan berupa typo dan teman-temannya. Zuki mohon maap jika masih ada kesalahan di fic Zuki.

Akhir kata… Zuki tunggu Review/Flamenya^^

..

With D'Heart

Mikazuki Chizuka.