Bleach Tite Kubo
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Rukia berjongkok di depan sebuah nisan. Membicarakan banyak hal sambil terus mencabuti rumput liar yang tumbuh disekitarnya. Aku hanya diam memandangi punggung wanita yang merupakan istriku itu tanpa berucap apapun. Saat aku mengalihkan pandangan, entah apa, tapi aku seperti melihat anak perempuanku yang meninggal 8 tahun lalu. Tentunya dalam wujud usia dimana dia seharusnya bila saat ini masih hidup. Dari kejauhan ia memandang ke arah Rukia dengan pandangan sedih dan menghilang dalam sepersekian detik.
"Yang tadi..."
"Ada apa Ichigo?"
"Tidak... bukan apa-apa"
- Seiru POV –
"Kalau pakai rumus ini hasilnya berbeda, lalu kalau..."
"Tolong"
"Gyaaa!" teriakku agak melengking. Lagi-lagi... aku tahu apa yang ada di belakangku kali ini. Pasti hantu lagi, akh! Memangnya aku itu penjinak hantu ya? Ku letakkan pensil mekanik yang sedari tadi ku gunakan untuk mencoret-coret buku dengan puluhan rumus, padahal hanya 1 soal yang ku kerjakan. Aku berbalik dan melihat hantu seorang anak kecil berambut pink yang memakai kimono berwarna hitam.
"Ada apa?" tanyaku.
"Paman bisa melihatku? Tolong berikan ini pada Ichigo Kurosaki" anak itu menyodorkanku sebuah toples berisi kupu-kupu berwarna hitam yang tidak pernah ku lihat sebelumnya. Jenisnya tidak ada di buku manapun yang pernah ku baca. Ku ambil benda yang di sodorkannya padaku dan dalam sepersekian detik anak itupun menghilang. Hantu yang aneh.
"Seiru... makan siang dulu yuk" panggil wanita berambut hitam yang disanggul dan dilapisi oleh kain putih. Ia berdiri di depan pintu sambil melepaskan kaitan tali celemeknya.
"Iya..." jawabku pada wanita yang notabene adalah ibuku sendiri. Sudah beberapa temanku yang mengira kalau ayah dan ibuku itu adik ku.
Yah, di lihat dari
ukuran tubuh memang begitu sih... tapi bukan cuma ukuran tubuh, wajah
mereka juga seperti anak berusiam 13 dan 15 tahun. Saat aku tanya
usia
sebenarnya ayah malah menjawab dengan jawaban yang tidak ku
mengerti.
"Yang jelas
puluhan tahun lebih tua daripada Ichigo. Ibumu malah lebih tua
puluhan tahun lagi dariku" jawab ayah yang langsung membuatku
diam seribu bahasa.
Nah, kalau di hitung secara matematika usia
Ichi-san 40 tahun lebih. Karena ayah bilang puluhan tahun lebih tua
berarti 20 tahunan ke atas.
Berarti 60 tahun, lalu ibu lebih tua 20 tahuan lg. Berarti 80 tahun. AKH! TIDAK MASUK AKAL! Kalau begitu aku ini lahirnya telat? Atau malah mereka yang menikahnya telat? Yang benar yang mana?
"Seiru tenggelam lagi" ucap ibuku bingung.
"Momo, kenapa bengong?" tanya pemuda berambut putih yang mengenakan kaos lengan panjang warna biru di padu dengan jeans biasa. OK! Ku tarik ucapanku, bukan cuma wajah dan postur tubuh saja. Tapi sikap dan cara mereka berpakaian mencerminkan kalau mereka itu suami-istri baru yang menikah di usia belia.
"AKH!" jeritku frustasi. Aku tak tahu apa yang ada di otak yang lebih baik di pikirkan. Mana yang harus ku pilih? Belajar atau Keluarga?
Ayah dan Ibu hanya bisa sweatdrop memandang putra mereka satu-satunya ini berguling di lantai dengan tampang frustasi.
"Shiro-chan,
Seiru itu kadang jenius dan tanggap tapi kadang idiot sekaligus polos
ya" mendengar ucapan ibuku itu aku langsng diam. Dia bermaksud
memuji atau meledek sih?
Ku pandangi secara seksama sepasang mata
hijau daun milik ayah. Dan dengan pandangan itu aku mengerti apa yang
ingin dikatakannya.
"Jenius dariku. Idiot darimu"
- Rukia POV -
"Ugh! Sudah jam segini. Ichi, pulang yuk" ucapku seraya menarik lengan kanan milik pria berambut orange itu.
Sebelum beranjak pergi ku lambaikan tangan ke arah nisan bertuliskan 'Ruina Kurosaki' dan berhambur pergi sambil merangkul Ichigo.
Sepanjang jalan Ichigo hanya melipat wajahnya seperti biasa, tentunya dengan jumlah lipatan yang ditambah.
Mau bagaimana lagi? Kalau pandangan orang-orang tertuju padamu bagaimana perasaan mu. Bungan pandangan kagum, tapi pandangan yang seolah ingin berkata "Dasar-hidung-belang-suka-yang-muda-muda".
Ingin rasanya tertawa. Gigai pemberian Urahara-san ini memang tidak menua sih. Lagipula gigai kan awalnya hanya dipakai sementara, tapi dalam kasus ku aku memakainya sampai Ichigo atau Rey meninggal.
Meninggal?
"Rukia?" panggil Ichigo saat disadarinya aku sudah tidak merangkul lengannya lagi. Berjalan di sampingnyapun tidak. Saat Ichigo meninggal mungkin tidak apa-apa, karena dia tahu aku ada dimana. Tapi kalau Rey? Apa dia akan tahu? Atau seperti Ruina? Bagaimana ini? Kalau sampai hal itu terjadi. Aku... aku...
"...iks..."
hanya isakan yang terdengar dari mulutku. Air mata ku tidak keluar,
sebab kata Urahara-san cadangan air mata gigai ini sudah habis saat
aku menangisi kepergian Ruina.
Ichigo mengelus pelan rambut hitam
milik ku, pandangan lembut memandangku lurus.
"Tidak apa-apa, menangislah. Walau tidak ada air matanya sih" ucapnya sambil tersenyum. Aku berhambur menuju pelukan nya dan menenggelamkan kepalaku di dada bidangnya. Aku tak perduli pandangan orang-orang pada kami, yang jelas saat ini aku ingin sekali meneteskan air mata dari gigai ini dan meraung sejadi-jadinya.
"Mangkanya, jangan pikirkan hal yang lama terjadi. Y---"
"Kalau mau pacaran di tempat lain saja" ucapan Ichigo terpotong oleh seseorang di belakangku.
Aku berbalik dan mendapati Rey dalam balutan seragam sekolah warna hitam bersama dua orang lagi yang tidak ku kenal.
"Kau
mengenalnya Rey?" tanya seorang gadis berambut merah
bergelombang.
Rey hanya mendengus, wajahnya benar-benar mirip
dengan Ichigo waktu muda. Apalagi setelah ia mencat rambut hitamnya
menjadi orange. Tapi biarlah, karena dia punya alasan khusus untuk
itu.
"Mereka orang tuaku" jawab Rey menerawang. Aku tersenyum simpul karena tahu apa yang akan di ucapkan orang-orang setelah ini.
"EH!? ORANG TUA? Ibu tiri ya?"
"Kandung"
Sesaat setelah itu
aku dapat mendengar berbagai macam hal mengenai penuturan Rey.
Aku
sih hanya tertawa kecil, lupa akan hal yang membuatku ingin menangis
tadi.
'PIIIP' Suara pager ku memecah keheningan.
Aku memandang sesaat ke arah Ichigo yang sudah bersiap memakan soul candy miliknya. Dan saat aku mengangguk dia menelannya. Kini jiwa Ichigo sudah menjadi shinigami dan yang ada dalam tubuh Ichigo adalah...
"Nee-san..." bisik jiwa yang kini berada dalam tubuh Ichigo. Ku kibaskan tanganku seolah berkata tidak-apa-apa kepada shinigami yang kini memandang penuh amarah ke tubuhnya sendiri. Ichigo langsung pergi begitu saja, meninggalkan aku yang berada dalam pelukan Kon!
Membuat kedua teman Rey bushing sendiri. Rey sih hanya bisa diam melihat tingkah ayahnya yang berubah 180 derajat.
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Ruise: Huah… capek ah!
Yuki: Langsung ke baca review ajalah… tangan pengan patah rasanya
Yuriina: Ya iyalah… berapa story lu ketik pake hp coba? Dasar bego
Princess: JANGAN NGATAIN DIRI SENDIRI BEGO!!! LU BUAT CERITA KEK!?
Yuriina: Cariin temen dulu!
Atol: Ee… jangan bertengkar dengan diri sendiri
Arrend: Ar boleh pilih? Yang baca review… um… Kak Flo sama Kak seiru lagi sebagai OC… trus chara aslinya… Kakek Byakuya… (wajah polos)
All – Ar: (gw tahu ni pribadi kekanakan… tapi kakek!?)
Flo: Eh!? Nani? Aku kan g ambil bagian di ni fic… Master…
Ruise: Temenin cowok lu aja
Flo: Sapa?
All: Seiru a.k.a seiront
Seiru: KAPAN DIPUTUSIN NOH!?
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Seiru: Pertama dari Melody-Cinta
Flo: Ini bias disebut humor ga? KarakterArrendgard gterlalu di tarik untuk nulis
Bya: …
Seiru: Kedua dari Melody-Cinta
Flo: Master bilang "thank you"
Seiru: Singkat amat…
Bya: …
Flo: Terus dari…
Bya: Kebetulan lagi ada tugas… entah kenapa malah nongol disitu…
Flo + Seiru: Alesan yang mengada-ada
Bya: Ape?
Seiru: G… next,,, Nanakizawa l'Noche
Seiru: Tu orang gila jugaragu ini satu nyambung atau kagak
Flo: Kalo g salah dia bikin versi lain untuk chap ini kan? Tapi kok g jadi?
Seiru: Pake yang itu mentok otaknya bikin terusan.
Flo: Kasihan master
Princess: +nembak Flo biar diem+
Flo: +pingsan+
Seiru: Terakhir dari… Nanakizawa l'Noche
Rukia: Arigatou +langsung ilang+
Bya: Datang tak diundang pulangtak diantar
Ruise: Berikutnya kayaknya Ruina nongol… tapi bingung
Flo: Bingung nape?
Ruise: Enaknya pasangin sama Byakuya, Kenpachi atau Zaraki ya? Supaya bias ngeluarin sifat protektif Ichigo
Bya: … (jangan aku)
