Bleach adalah milik Ruise yang selalu digunakan untuk nyuci baju (lah?)
Bercanda, ini punya Tite Kubo except Seiru, Reynard, Ruina anf Rin. Mereka punyaku!!!! Mereka tokoh asli Fic Elfania XD
- Rukia POV -
"Anggap saja rumah sendiri," ucapku sembari meletakkan tiga gelas jus dan satu toples kue kering yang tadi siang kubuat. Rey hanya diam saja dan memusatkan perhatiannya pada sebuah buku komik. Padahal kedua temannya mengangguk kecil sembari tersenyum, di depan keduanya terbuka buku pelajaran. Tapi kenapa Rey malah komik?
Kuputar kedua bola mata violet dan berbalik, menutup pintu dengan pelan.
Begitu pintu tertutup aku dapat mendengar pertanyaan yang ditunjukkan pada Rey mengenaiku.
Apa aku minta gigai baru yang lebih tua pada Urahara ya? Tapi… kelihatannya itu sudah sangan telat bila aku memintannya sekarang. Tidak lucu kalau aku yang dikenal tetangga sebagai wanita paruh baya yang awet muda ini mendadak menjadi tua.
Ku turuni tangga menuju lantai satu, di ruang utama duduk Kon yang berada dalam tubuh Ichigo sembari membolak-balik sebuah majalah milik Rey. Kira-kira Ichigo sedang apa ya?
- Ichigo POV -
"Heah!" pekikku lantang sembari menghunuskan pedangku. Tepat mengenai hollow di depanku, hilang jadi abu.
"Cih, hollow kelas teri," gumamku pelan. Aku berjalan menuju arah rumah. Malas rasanya untuk bershunpo maupun berlari. Toh kalau Kon berani berbuat macam-macam pada Rukia dia tahu konsekuensi dari perbuatanya itu. Aku terus berjalan di dalam hilir mudik orang-orang sekitar hingga langkahku berhanti. Sebuah gerbang terbuka tidak jauh dari tempatku berada.
Ada shinigami baru yang ditugaskan? pikirku. Tapi rasanya aneh juga, di Karakura ini kan sudah ada empat shinigami yang bertugas. Dan dua diantaranya juga seorang Taichou dan Fukutaichou. Kenapa harus ada lagi?
Aku terus menunggu, tapi tak ada shinigami yang muncul dari sana hingga akhirnya gerbang tertutup.
Aku hanya diam. Bingung dengan kejadian barusan.
"Mungkin salah tempat," gumamku dan akupun kembali berjalan. Malas memikirkan maksud dari dibukanya gerbang tadi.
- Rukia POV -
Jam dinding menunjukkan pukul tujuh malam. Teman-teman Rey sudah pulang sejak setengah jam yang lalu. Tapi Ichigo belum juga pulang, apa dia mampir dulu ya?
'Ting tong,' Bel pintu berbunyi. Kumatikan keran air yang sedari tadi terbuka saat mencuci piring. Kon sudah tidur, sedangkan Rey mengurung diri di kamar. Mungkin belajar... atau membaca komik.
"Lho? Tidak biasanya datang malam Sei," ucapku begitu melihat pemuda berambut hitam dengan tinggi yang menyamai Ichigo itu berdiri di depan pintu.
"Hhe, ada yang ingin kubicarakan dengan Rey," jawabnya ragu. Tanpa perlu kuminta dia sudah masuk dan merapikan sepatunya.
Yah, dia sudah menganggap rumah ini sebagai rumah kedua sih. Begitu juga Rey kalau dirumah Hitsugaya Taichou. Dia juga sudah hapal seluk beluk rumah ini. Tapi terkadang aku penasaran… Hitsugaya-Taichou maupun Momo-Fukutaichou kan tidak tinggi, kenapa putra mereka malah kebalikannya?
"REYNARD KUROSAKI!" terdengar teriakan lantang dari kamar Rey. Pasti Seiru mendapati anak itu membaca komik lagi. Hubungan Rey dan Seiru itu entah mengapa lebih mirip seperti kekasih ketimbang sahabat ataupun kakak beradik.
Aku hanya bisa tersenyum, walaupun seperti kekasih aku tak perlu khawatir. Lagipula Rey dan Seiru sudah memiliki kekasih. Walau aku tidak tahu wajahnya sih. Tapi setidaknya kan sudah tidak perlu mengkhawatirkan kalau mereka memiliki kelainan.
Aku berjalan kembali menuju dapur dan memutar keran air, membilas busa yang menempel pada piring.
Ku usahakan untuk tidak menimbulkan suara sama sekali. Saat ini aku tak tahu... kalau kedatangan Seiru malam ini memiliki hubungan dengan soul society...
- Seiru POV –
Aku terus memandang Rey dengan pandangan penuh amarah. Sambil senyum-senyum terpaksa dia membereskan komik yang tadi dibacanya. Ku tunggu hingga kamar ini bersih dari berbagai macam benda yang bersliweran di berbagai tempat.
"Ada apa kesini?" tanya Rey begitu semuanya beres.
"Pinjam buku bergambar tentang kupu-kupu. Masih ada tidak?"
"Hah? Kapan aku punya buku kaya' gitu?" tanya Rey. Ku pukul wajahku sendiri menggunakan tangan kananku. Dia pasti lupa soal buku yang dibelinya saat smp. Ku hela nafas panjang. Rey menatapku bingung.
"Kau tahu kupu-kupu ini?" mau bagaimana lagi. Ku keluarkan sangkar berisi kupu-kupu hitam yang tadi siang diberikan oleh hantu berambut pink itu. Hantu yang cukup aneh menurutku, selama ini hantu yang kulihat selalu memiliki rantai di dadanya. Tapi hantu anak itu tidak.
Rey terus memandangi kupu-kupu dalam sangkar itu dengan seksama. Sementara aku memikirkan hantu anak perempuan itu dengan seksama.
"Sei, boleh kubuka tidak? Mungkin kalau tidak dalam sangkar aku bisa lebih jelas," pinta Rey. Aku hanya mengangguk kecil.
Rey langsung melepaskan penutup sangkar kecil.
Kupu-kupu hitam itu terbang tepat dihadapanku dan Rey. Entah hanya perasaan kami saja atau kenyataan, saat itu kami melihat mata sungut kupu-kupu itu bercahaya dan bersinar seperti sebuah lampu sorot. Ditengah cahaya putih yang dikeluarkan kupu-kupu itu aku melihat seseorang berdiri disana. Seorang pria yang mengenakan pakaian yang sama dengan hantu berambut pink yang tadi kutemui. Rambut merah yang diikat mirip buah nanas dengan tato yang menyambung pada alisnya.
Aku dan Rey hanya bisa diam, mimpi. Pasti ini mimpi. Aku harus cepat bangun.
Dan saat itupun pintu terbuka...
- Rukia POV -
"Seiru, Rey... aku bawa--" aku berhenti bicara. Ku lihat di kamar itu berdiri sosok seorang shinigami teman masa kecilku. "Renji..."
"Okaasan?" seru Rey bingung. Pandanganku masih tertuju pada Renji dan kupu-kupu neraka type baru yang dibuat oleh Mayuri.
"Yo! Ichigo," terdengar suara Renji. Kurasa itu hanyalah rekaman, Ichigo tidak ada disini.
Aku masih mematung di tempat semula saat Renji, atau lebih tepatnya rekaman monyet kepala nanas.
"Huf, mungkin tidak sopan karena aku mengirim pesan dengan kupu-kupu neraka terbaru dan seenaknya meminta Kusajishi-fukutaichou yang mengantar, tapi apa boleh buat kan?"
Kusajishi fukutaichou? Beliau pasti seenaknya menitipkannya pada orang yang dapat melihatnya.
"Ya sudahlah, langsung saja. Kalau bisa kau ke toko Urahara ya? Salah satu calon ... See Moreanggota divisi enam akan melakukan praktek di bawah pengawasanmu. Ini permintaan taicho. Sudah ya, dan jangan merayu Rui-chan!" dan rekaman itupun habis.
Suasana kamar menjadi hening. Dapat kurasakan pandangan bingung yang ditunjukkan padaku. Aku menghela nafas panjang, bingung dengan apa yang harus ku lakukan. Kalau saja alat untuk menghapus memory tidak rusak. Setidaknya ini tidak akan lebih buruk lagi kan?
* Di toko Urahara *
Seorang gadis bertubuh kecil duduk bersimpuh di hadapan Urahara. Rambut orange panjangnya dikuncil ke atas menggunakan sebuah pita berwarna putih dengan garis merah di ujungnya.
"Kuchiki-san, kau sudah tau kan. Kau tidak boleh berhubungan dengan mereka yang hidup, jadi rahasiakan jati dirimu sebagai shinigami," ucap Urahara sembari menutupi seringai miliknya. Gadis itu hanya mengangguk lemah.
"Aku tahu, aku akan berusaha tidak ketahuan."
"Nah, ini alamat tempatmu tinggal. Nanti aku bicarakan dengan mereka, namamu Rin saat memasuki gigai."
"U—Urahara-sama, alamat ini…"
"Kenapa dengan alamat itu?"
"Tidak… hanya saja alamat ini… terasa tidak asing…"
Gadis itu terdiam. Memandang lekat tulisan yang ada dalam secarik kertas di tangannya. Sebuah alamat yang tidak asing baginya. Alamat yang entah mengapa sangat ia rindukan.
Ruise : (Sembah sujud kea rah para readers) MAAF LAMA UPDATE!!!!!
Rey : Malah bagus kamu nggak update!
Ruina : Kakak… tidak baik begitu kan…
Rey : Bodo!
Seiru : (mengalihkan pandangan kea rah fic lain yang nggak kelar-kelar, bengong)
Flo : Seiru-san?
Seiru : Kh! Elfania!? Ini kan…
Ruise : (Innocent smile) Iya, itu cerita asli kalian yang kuutak atik nggak karuan buat versi Bleach
Rey : (Ngebaca yang dimaksud) WHAT THE H----!!! Ichimaru Gin!? Ngegantiin posisi gw!?
Ruise : (Nebar bunga)… hohoho, kalau ada yang punya waktu tolong review juga ya.
Rey : Sesi jawab review ditiadakan dulu. Tolong review. Maaf kalo masih tak beraturan, ini sebenernya udah bias di postdari 2 bulan yang lalu
Ruise : (Ngacir baca Ar Tonelico : Arppegio) Hum, kayaknya bias dipake buat Elfania kalimatnya
