"Kaa-san, tolong jelaskan," ucap Rey pelan. Aku hanya terdiam. Berusaha mencari cara untuk menyembunyikan hal yang baru saja terjadi.
Terkadang aku melirik ke arah Seiru, kadang Rey. Keduanya menatapku dengan pandangan penuh tanya. Terlintas dalam benakku niat untuk membekukan Renji atau Kusajishi-fukutaichou menggunakan Sode no Shirayuki. Tapi percuma, aku tak bisa melakukan hal seperti itu. Ayolah, aku harus memikirkan cara untuk keluar dari keadaan ini.
"Kaa-san," panggil Rey lagi. Tapi aku tak menjawab, aku harus mengucapkan apa? Aduh! Aku kan sudah sepakat tidak akan membocorkan apapun mengenai Shinigami dan yang berhubungan dengan hal itu.
"Ting-tong," dalam kekacauan pikiranku aku berterimakasih pada siapapun yang baru saja menekan bel pintu.
"Akh, disambung nanti ya," dalihku. Dengan cepat aku menuruni tangga, berlari menuju pintu masuk dan membukannya dengan cepat.
Tapi entah mengapa aku berubah pikiran. Otakku seperti memilih ada pada posisi tadi daripada sekarang.
"Urahara..." bisikku pelan. Urahara tersenyum ke arahku dengan seringainya yang selalu membuatku kesal. Entah karena apa.
"Rukia-san, aku mau mengantarkan alat i--" belum sempat Urahara menyelesaikan ucapannya aku sudah menyambar benda di tangan kanan pria itu. Alat pengubah ingatan. Bagus!
- Wait a sec -
"Heh, jadi begitu," ucap Urahara sembari meminum teh yang baru saja kusajikan. Aku mengangguk pelan sembari menghela nafas pelan.
"Jadi anda datang hanya untuk mengantarkan alat ini?" tanyaku sembari memainkan rambut hitam panjangku menggunakan jari telunjukku. Urahara melirik ke arahku dan kembali menyeringai. Aku benci seringaian itu.
"Tentu saja tidak, aku mau membicarakan soal Shinigami yang akan menginap di rumahmu," ucap Urahara. Aku terdiam.
"Eh?"
"Hum, kau ingat rekaman dari kupu-kupu neraka tadi kan? Itu yang kumaksud."
"Tapi kenapa di rumah ini?"
"Entahlah. Yang jelas, Rin-chan yang memiliki potensi untuk menjadi Taichou divisi tiga. Jadi dia diminta melakukan tes terlebih dahulu," jelas Urahara. Aku hanya ber-oh-ria, apa ini cara pemilihan Taichou yang baru ya.
"Jadi namanya Rin?"
"Ia, Rin Kuchiki," aku kembali terdiam mendengar nama lengkap Shinigami itu. Kuchiki? Tapi aku tidak ingat ada yang bernama Rin, memang saat aku masih berada dalam keluarga Kuchiki aku tidak mengenal semua anggota keluarga yang cukup banyak itu. Tapi aku tahu nama-namanya, mengingat itu adalah kewajibanku untuk menghafal nama dan wajah semua anggota keluarga Kuchiki.
"Kau pasti berfikir apa ada nama itu di dalam daftar nama keluarga Kuchiki," tebak Urahara. Aku mengangguk pelan, kenapa dia bisa membaca isi pikiranku sih?
"Jadi?"
"Rin-chan itu anak angkat keluarga Kuchiki. Sama sepertimu."
"Dari Rukongai?"
"Iya. Tapi tolong jangan memberitahu Rin-chan bahwa kau dan Ichigo-san adalah Shinigami," aku memandang Urahara bingung. Tak mengerti dengan pantangan dari Urahara itu.
"Kenapa?"
"Hum... kan tadi aku sudah bilang tes, jadi sekalian tes. Apakah ia bisa mengetahui kalian Shinigami juga atau bukan, pengecualian untuk pasangan Hitsugaya ya. Mereka dilarang berhubungan dengan Rin-chan," Urahara menutup mulutnya dengan kipas kesayangannya. Aku berani bertaruh bahwa pria satu ini memiliki kesenangan sendiri pada tes kali ini. Aku jadi merasa bersalah pada gadis bernama Rin ini.
Yah... sudahlah, aku hanya bisa mengikuti peraturan. Pernah divonis mendapat hukuman mati sudah lebih dari cukup untuk membuatku patuh pada aturan yang dibuat Soul Society.
Setelah setengah jam Urahara terkekeh di balik kipasnya, ia pergi. Menurut info darinya gadis itu akan tiba besok pagi.
Aku harus bilang apa pada Rey nanti...
- Seiru POV -
Matahari kembali masuk dari sela-sela jendela. Cahaya yang begitu menyilaukan. Kelihatannya aku harus benar-benar merubah posisi tempat tidurku agar tidak terbangun oleh cahaya matahari yang menyilaukan.
Aku berjalan ke luar kamar dan menuju ruang makan.
Otou-sama dan Okaa-sama sudah bersiap di meja makan. Otou-sama membolak-balik koran miliknya, sementara Okaa-sama menempatkan pirim di meja.
"Ohayou," sapaku sembari menarik mundur tempat dudukku.
"Ohayou Sei," balas mereka bersamaan.
Makan pagi berlangsung dengan tenang, tak ada pembicaraan apapun. Otou-sama bukan orang yang banyak bicara dan hal itu menurun padaku.
"Aku selesai," ucapku pelan. Kuambil tas ransel milikku dan berjalan keluar. Samar kudengar ucapan 'hati-hati' dan sebuah gumaman yang terdengar pelan 'hn'.
Kututup pintu gerbang dan berjalan melintasi jalan menuju SMA Karakura. Aku malas menunggu Rey yang sudah jelas-jelas akan terlambat, apalagi aku harus datang lebih pagi untuk persiapan ujian.
"Ohayou," sapa seseorang. Aku hanya menundukkan kepalaku.
Seorang gadis berambut orange panjang melewatiku. Entah mengapa aku merasa kenal dengan gadis itu, mengingatkanku pada seorang anak perempuan dari masa yang pernah lewat. Anak perempuan yang sudah kuanggap sebagai adik sendiri, tapi dia sudah pergi. Pergi dan tiada kembali.
- Ichigo POV -
Aku berdiri mematung di depan pintu yang terbuka. Sesekali kugosok-gosokkan mataku, mengecek apakah hal di depanku bukan kesalahan.
Orang-- maksudku Shinigami yang semalam diberitahu Rukia sudah datang. Tapi entah hanya khayalanku saja atau memang kenyataan.
Karena Rin Kuchiki, membuatku ingat akan Ruina Kurosaki.
Syalala, here you all. Tite Kubo, menikahlah denganku. Mas kawinnya hak cipta Bleach aja (Setelah itu lo gw bunuh)
REVIEW!!!!!!!!!!
