Saat waktu terus bergulir sedikit demi sedikit kenangan mulai terkikis dan akhirnya hilang tanpa jejak. Tapi ada kenangan yang terkikis untuk sementara saja, kenangan yang akan kembali saat kunci kenangan itu muncul. Kembali perlahan namun pasti...
Walau harus menunggu dalam jangka waktu yang lama...
Itu yang pernah di ajarkan oleh seseorang. Seseorang yang tak dapat kuingat, yang ia katakan padaku pun baru saja kuingat saat aku berpapasan dengan seorang gadis tadi pagi. Gadis yang terasa tak asing di mataku...
"Sei-kun?" sapa seseorang yang membuyarkan lamunanku. Seorang gadis berambut coklat panjang menatap kearahku bingung.
"Ma-maaf Itsuka, aku sedang melamun," jawabku terbata. Itsuka hanya membulatkan mulutnya tanda mengerti.
"Ya sudah, aku ulang. Bisa beritahu rumus untuk masalah ini?" pinta Itsuka sembari menunjukkan sebuah soal dari buku kumpulan soalnya.
Kuambil pena di dekatku dan mulai mengajarkan cara yang paling mudah dimengerti oleh Itsuka.
"Itsuka-nee, aku masuk ya," sapa sebuah suara disusul dengan dibukanya pintu kamar milik Itsuka.
"Furo-chan, ada apa?" tanya Itsuka pada adiknya itu. Kakak adik yang terkadang membuatku bertanya apakah mereka benar-benar memiliki hubungan darah atau tidak.
"Nee-san, aku diminta untuk mengantarkan cemilan dari Kaa-san," jawab Furo dengan nada polos dan meletakkan setoples kue yang benar-benar membuatku penasaran akan bahan pembuatnya.
"Furo-chan, ini buatan Kaa-san?"
"Um... begitulah," Furo memainkan kedua jari telunjuknya sambil tersenyum kikuk. Kupandangin kue buatan Orihime-san. Otou-san pernah memberitahuku akan masakan Orihime-san yang menggunakan campuran bahan yang 'unik' dan 'istimewa'. Apalagi kue ini berwarna hitam legam dengan bintik-bintik bewarna hijau. Tidak mungkin perwarna kan?
"Tapi... Nee-san jangan apa-apakan Sei-san ya," celetuk Furo sambil tersenyum. Membuat wajahku serasa memanas mendengarnya. Apalagi gadis itu mulai menggelayut manja padaku.
"Tidak akan kuapa-apakan kok. Paling juga kujahit menjadi pajangan," balas Itsuka dengan senyuman maniaknya. Aku benar-benar penasaran. Apakah Uryuu-san dulu maniak menjahit sampai menurun pada putri pertamanya ini?
- Ichigo POV -
"Jadi ini dimasukkan perlahan... lalu..." Rukia terus berkicau dengan wajah berseri-seri semenjak tadi pagi.
Gadis shinigami yang ada di sebelahnya mendengarkan penjelasan Rukia dengan seksama dan tanpa menunjukkan rasa terganggu dengan kicauan wanita satu itu. Shinigami yang mirip dengan Ruina.
Setiap melihat wajahnya aku seperti melihat anak itu. Memang ada kemungkinan Ruina kini sudah menjadi Shinigami. Tapi itupun sebagai Shinigami yang berada dalam perguruan tingkat pertama dan yang paling dasar. Sementara Rin Kuchiki sudah dipastikan menjadi seorang Taichou. Ruina Kurosaki yang kukenal tidak mungkin mencapai posisi itu dalam waktu singkat. Amat tidak mungkin...
"Ichi-san, aku boleh masuk?" seru sebuah suara dari balik pintu ruang kerjaku. Kugeser mouse untuk menutup sebuah layar yang menampakkan tampilan majalah dari Soul Society.
"Masuk saja Rey," jawabku dan menutup laptop yang sudah berada pada posisi mati.
Pintu perlahan terbuka, menampakkan Rey yang berada dalam balutan kaos dan celana jeans. Membuatku melihat cermin akan diriku saat muda dulu. Pengecualian untuk rambutnya yang tidak berdiri.
"Mau membicarakan apa?" tanyaku pada Rey. Pemuda itu hanya menundukkan kepalanya tanpa menjawab pertanyaanku sama sekali.
Kunaikkan sebelah alisku. Tidak biasanya Rey terlihat lesu seperti ini. Aku beranjak dari kursiku, menghampiri Rey yang sudah memposisikan dirinya di atas sofa kecil yang memang disediakan untuknya... juga untuk Ruina...
"Rin... dia bukan Ruina kan, Ichi-san?" tanya Rey saat aku sudah berjongkok di hadapannya.
Aku diam menggantikan Rey. Ternyata bukan hanya aku saja yang merasa Rin Kuchiki sama dengan Ruina Kurosaki. Kugeleng pelan kepalaku, menghilangkan beberapa pemikiran yang ingin menghampiri.
"Ichi-san?" panggil Rey bingung. Ditatapnya wajahku baik-baik, berusaha mencari kepastian dariku.
Kuhela nafas pelan sembelum menjawabnya, "Rin Kuchiki... mungkin dia memang Ruina Kurosaki. Adik perempuan kembarmu," bisikku pelan. Rey membulatkan matanya, menatapku percaya dan tidak.
"Ichi-san! Tolong serius! Buat aku menghilangkan perasaan yang membuatku berfikir bahwa gadis itu Ruina! Aku... aku..." Rey terdiam. Kata 'aku' terus diulangnya dengan nada bergetar. Kututup mataku, mengingat kejadian sesaat setelah Byakuya membawa Ruina menuju Soul Society...
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Pintu gerbang tertutup. Meninggalkan ruangan yang sunyi, hanya isakkan dari Rukia yang mulai berhenti dan stabil. Tapi tidak dengan Rey.
"Reynard..." seru Seiru yang ada di sampingnya. Dia memang tidak menangis, tapi raut wajahnya mengatakan bahwa dia merasa amat sangat sedih.
Rey hanya diam, mengindahkan sapaan Seiru dan terus menatap wajah tertidur adik kembarnya itu. Seulas senyum terlihat di wajah yang sudah tak memiliki jiwa itu, wajah yang damai.
"Sshh... Sei jangan berisik. Rui sedang tidur. Jadi jangan diganggu, nanti bangun..." celetuk Rey dengan wajah pucat. Kelihatannya dia tak bisa menerima kenyataan ini.
"Re--Rey?"
"Ichi-san, lihat. Ruina manis sekali ya, aku ingin dia cepat-cepat bangun. Nanti main sama-sama denganku, ya kan, Sei?" Rey menatapku dan Seiru bergantian. Rukia hanya terdiam, memandang sendu pada putranya itu.
Seiru menatap pandangan mata Rey yang kosong, seolah tak ada kehidupan di dalamnya.
"Rey! Jangan bicara yang aneh! Ruina sudah tak ada!" bentak Seiru. Rey menatap wajah teman sepermainannya itu dengan pandangan bingung. Seulas senyum muncul di wajah Rey.
"Seiru bicara apa sih? Lihat, Ruina ada di sini. Dia sedang tidur," bisik Rey sembari menunjuk tubuh Ruina.
Kulepaskan tubuh Rukia yang menatap khawatir keadaan Rey.
"Rey..." sapaku sembari memegangi kedua bahu Reynard. Anak laki-laki itu hanya diam, pandangannya menerawang jauh tapi terarah ke padaku.
"Ichi-san, kenapa melihat seperti itu? Hehe, seperti ingin menangis saja," Rey terkekeh kecil. Tubuhnya mulai bergetar kuat.
"Kh!" kutarik tubuh Rey ke dalam dekapanku.
"Ruina manis sekali saat tidur ya, Ichi-san," seru Rey pelan. Dapat kurasakan sesuatu yang hangat mengenai kemejaku. Air mata Rey.
"Rey... kau tidak boleh menyangkalnya. Ruina sudah pergi," bisikku pelan. Kuelus kepala Rey.
"...iks... Kenapa..." Rey mulai bergumam tak jelas. Aku tak mengerti dengan apa yang diucapkannya saat itu. Amat sangat tak mengerti.
Tapi... Beberapa hari setelah pemakaman Ruina, Rey mengecat rambutnya menjadi orange. Kelihatannya itu caranya untuk terus mengingat Ruina.
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
"Ichi-san! Kau yang bilang kan? Mereka yang sudah pergi tak kan kembali lagi!" bentak Rey memecah lamunanku. Kutatap iris berwarna coklat yang sama dengan milikku dan menunjukkan seulas senyuman di wajahku.
"Memang, tapi lain halnya bila mereka menjadi Shinigami."
"Ichi-san mulai aneh. Shinigami itu hanya mitos," Rey mengerucutkan bibirnya. Membuatku ingin terkekeh melihat wajah putraku yang mewarisi hampir semua DNA ibunya. Apakah tak ada DNA dariku? Selain perawakan tentunya.
"Heh... mungkin ada lho. Suatu saat nanti pasti ada."
"Berhenti menipuku dengan dongeng tak jelas seperti itu!" bentak Rey yang tanpa aba-aba apapun memukul kepalaku menggunakan bantal yang ada di dekatnya. Like mother like son. Akh, kenapa kebiasaan Rukia saat ngambek dan menghajarku ini harus menurun pada Reynard. Padahal aku berharap tak ada yang mewarisinya.
- Rin POV -
Samar kudengar suara sesuatu yang saling berbenturan dari lantai dua.
"Rukia-dono, sebenarnya ada apa?" tanyaku berhati-hati. Rukia-dono menghentikan kegiatannya untuk mencetak kue berbentuk kelinci dan memandangku sambil tersenyum.
"Oh, tidak perlu dikhawatirkan. Itu kebiasaan Rey dan Ayahnya kok," jawab wanita itu lembut. Aku mengangguk tanda mengerti.
Pandanganku berpindah ke arah kue yang dibentuk Rukia-dono. Mengingatkanku pada boneka Chappy yang tertumpuk di sebuah kamar yang ada di Mansion Kuchiki.
Byakuya-dono terkadang mengajakku masuk ke sana untuk berdiskusi, kadang di depan altar Hisana-dono.
Eh... bicara soal Hisana-dono... saat melihat fotonya aku merasa tak asing dengan wajah itu. Seperti pernah melihatnya di suatu tempat, seandainya saja ingatanku tidak hilang. Aku iri pada mereka yang bisa mengingat masa saat mereka hidup dulu.
Wajah
Rukia-dono kalau diperhatikan mirip Hisana-dono. Hanya saja rambut beliau tidak panjang.
Hah...
"Ichi-san! Berhenti membuatku mati tertawa! Geli!" aku jadi berfikir yang tidak-tidak mendengar ribut-ribut di atas.
Raiko Azawa
Ruise : Arigatou ne…
Ruki_ya
Ruise : Hehe, begitulah, ni juga update massal lagi -.-
Rukia : Kerajinan
shiNomori naOmi
Ruise : Nggak papa kok, yang penting mau review…
Renji : Sungguh???
Ruise : Gw g janji ngejadiin Rui paie lo (mlirik ke Ichigo yang ngirim death glare)
Seiru : Otou-sama, Okaa-sama, kalian jadi tua kek
Furo : Perasaan Serenada sama Iriya udah modar deh Sei
Seiru : MAKSUDNYA DI FIC INI! BUKAN ORTU ASLI!!!!
Bleach ; Tite Kubo
Sorry all…
If you fell strange with all OC I make, I'll try to minimize it.
But… they will show up in all chapter, remember,
It all about their Child…
Review?
