- Rukia POV -
Gemerisik dedaunan maupun suara lonceng membuatku selalu terjaga. Bola mata violetku selalu memandang lonceng besar di hadapanku. Terkadang memory mulai bermain-main dalam benakku, seulas senyum perlahan terkembang bersama tarian para memory.
Hingga sebuah tepukan yang terasa bagaikan sebuah tombol stop terasa di punggungku.
"Kau di sini rupanya..." celetuk Ichigo. Aku terdiam, memandang permukaan bening di matanya. Elusan lembut samar terasa menyentuh rambutku.
"Hum... mengenang memory," jawabku pelan.
Ichigo menghentikan kegiatannya. Tubuhnya bergeser beberapa langkah sebelum akhirnya kedua lengan kekar itu melingkar di bawah leher dan pinggang kecilku.
Ditariknya nafas dalam, membuat wangi Lavender di sela-sela rambutku tercium jelas.
"Suatu saat kita pasti bisa bertemu, lalu... bersama-sama di kuil ini membuat kenangan
lain," bisik Ichigo lembut. Buaian nafas hangatnya seolah menggelitik rongga telingaku. Membuatku kegelian dan berkikik pelan.
"Ya... pasti bisa... Nii-sama pasti bisa menemukannya," desahku pelan. Kututup kedua mataku, merasakan hangat tubuh suamiku ini dalam buaian angin musim gugur.
Gelombang reiatsu kecil terasa olehku, namun terasa begitu lemah dan mungkin... terlalu jauh. Reiatsu yang kurasakan berasal dari Rin, gadis yang kupikir adalah Ruina... walau aku masih meragukan hal itu.
"Hei... mau pulang sekarang tidak?" tanya Ichigo lembut. Membuatku kembali kegelian akibat nafasnya yang menelusup ke dalam rongga telinga.
"Hn... nanti saja, toh anak-anak sedang keluar," celetukku asal. Tidak apa-apa kan aku menganggap Rin sebagai putriku sendiri?
"Hn... padahal kalau sendiri kan kita jadi bebas," goda Ichigo yang sukses membuat wajahku memanas mendengarnya. "Bagaimana? Mau membuat adik baru untuk Rey dan Ruina?"
"Mesum!" pekikku cepat. Tawa nakal mulai berdengung di setiap mili indra pendengaranku.
"Hehe, mau tidak?"
- Seiru POV -
"... Ruina," celetukku spontan saat melihat gadis yang datang bersama Rey. Rambut orange panjang dengan bola mata violet.
"Ruina? Maksudnya Ruina-chan yang dulu?" tanya Furo polos. Aku mengangguk pelan, sementara Rey mendengus kesal.
Kupandangi wajah penuh kebingungan yang tengah tercetak jelas di wajah gadis itu. Geraman kecil mulai kubuat, benar-benar seperti anak kembar bila Rey didandani seperti perempuan dan memakai soft lens violet.
"Sei, kalau kamu berfikir yang aneh-aneh aku bersumpah tak mau bicara lagi denganmu," ancam Rey. Dia bisa membaca pikiranku ya?
"Memang aku memikirkan apa?" bohongku. Kubuat sebuah senyuman kecil penuh kepolosan... seandainya aku bisa. Otou-sama tidak pernah mengajarkanku cara tersenyum polos, hanya seringai.
"Sei-kun, jangan menyeringai. Kau menyeramkan," pinta Furo polos. Kunormalkan lagi mimik wajahku, ternyata benar jadi seringai.
Memiliki kekasih yang lugu dan polos memang kuakui menyenangkan, tapi kalau sudah berbau tujuh belas ke atas aku sendiri yang kelimpungan untuk menjelaskannya.
"Jadi... Asano-san menunggu di mana?" tanya Rey merubah alur pembicaraan. Kuhela nafas pelan, setidaknya sebelum Rey menambahkan, "... mengenai ide bodohmu kita selesaikan nanti malam, Sei."
'Dia marah, padahal aku tidak mengucapkan apapun.'
- Normal POV -
Keempat muda-mudi itu berjalan beriringan menyusuri jalanan kota Karakura.
Furo menggelayut manja pada lengan kiri Seiru, sementara Rin dan Rey hanya saling terdiam. Beberapa pasang mata melirik ke arah sepasang 'anak kembar' tersebut, mulai membayangkan bagaimana kalau mereka mengenakan setelan baju yang sama.
"Selamat datang di Kafe Asano!" pekik sebuah suara yang agak childish. Sapaan yang lebih dulu terdengar ketimbang bunyi bel yang dipasang pada pintu masuk Kafe tersebut.
"Ah, selamat siang, Asano-san," sapa Rey ramah. Asano-san atau lebih mudah kita panggil Keigo mengembangkan sebuah kekehan. Iris matanya bergeser beberapa kali menatap Rin maupun Rey.
"Ah... Aku tidak tahu kalau Ichigo senang mendandani Rey sebagai wanita," celetuk Keigo asal. Diraihnya tangan kanan Rin dan menggengamnya, di belakang mereka seolah terlihat gambar hati bertebaran di mana-mana.
"A--ano..."
"Hah, pasti sulit ya menghadapi ayahmu yang kelainan ini," sambung Keigo berusaha terlihat sekeren mungkin. Sementara Rey mengepalkan tangannya kuat, menahan amarah.
"An--"
"Yah... sepeninggal Rui kau memang bagaikan anak dengan dua priba--... hmp!"
"Maaf, Rey dan... siapapun namamu gadis manis. Dia memang kurang peka," potong sebuah suara lembut. Jemari lentik membekap kencang mulut Keigo, membuatnya tak dapat mengucapkan apapun juga.
"Tatsuki-san... tidak apa-apa kok, aku sudah tahu lanjutannya," jawab Rey sembari menunjukkan senyum lemah.
Seiru, Furo dan Tatsuki memandang remaja itu dengan tatapan pilu, untuk Keigo tatapan kesal.
Sepi, sunyi, senyap.
Keadaan yang berlangsung sampai suara bel kembali berbunyi.
"Selamat datang," sambut Tatsuki agak kasar. Jemarinya yang baru saja membungkam mulut Keigo terlepas, membiarkan pria itu bernafas.
"Anda tidak apa-apa, um... Asano-san?" tanya Rin khawatir. Dielusnya lembut pundak Keigo yang sudah kehabisan nafas.
Tatsuki dan yang lainnya tentu saja tidak perduli. Tatsuki sibuk melayani tamu yang baru saja datang sementara sepasang merpati muda itu mencari meja yang dikatakan Tatsuki di mana seseorang menunggu mereka.
"Rin, biarkan saja. Ayo, aku mau mengenalkanmu pada seseorang," ajak Rey cuek dan menarik tangan Rin, dengan cara yang agak kasar, mengikuti merpati yang sudah berjalan lebih dahulu.
"Ta-tapi Asano-san bagaimana?" protes Rin khawatir.
"Tenang saja, hampir tiap hari dia kehabisan nafas karena Tatsuki-san," celetuk Rey santai tanpa menyadari sweatdrop besar yang dibuat oleh gadis berambut orange lembut itu.
Keduanya berjalan meninggalkan Keigo yang kembali muram seperti masa SMA dulu. Perbedaanya Mizuiro sedang bersenang-senang dengan para istrinya di luar kota untuk menjadi penenang.
Lupakan mengenai Keigo, sekarang kembali pada para tokoh utama yang sebenarnya.
"Sei, sebelah sini," sapa sebuah suara yang lemah lembut.
"Ah, di situ rupanya kau, Kuu," balas Seiru pada gadis berambut coklat itu.
"Tch! Masih bersama Seiru," desis gadis bernama Kuu itu kesal. Gigi putih miliknya saling merapat dan menjepit kuku ibu jarinya yang sengaja dibuat panjang agar mudah untuk digigit.
"Eh? Apa salah ya?" tanya Furo polos dan duduk tepat di sebelah Kuu. Sementara Seiru berada di seberang meja dengan wajah merengut.
"Hum... tentu saja tidak, Furo-chan tidak pernah salah kok," celetuk Kuu mesra, sebelum mulai mendelik ke arah Seiru yang tahu maksudnya, "tapi pria yang sudah merebutku dariku itu yang salah," lanjutnya menggeram.
Kedua tangan Kuu perlahan mulai melingkar di sekitar leher Furo. Membuat gadis yang mencat rambutnya menjadi merah perlahan mendekat, wajah keduanya hampir bertemu bila sesuatu tidak menghalangi.
"Tatsuki-san! Tolong jangan menggangu!" bentak Kuu kesal pada orang yang baru saja mengagalkan rencananya. Sementara Seiru, yang sudah beranjak dari tempat duduknya, menarik Furo keluar agar gadis itu berada di dalam jangkauannya.
"Kuu Asano! Sudah berapa kali kuperingatkan untuk tidak berlaku menyimpang seperti itu. Aku tak tahu bagaimana Keigo mendidikmu, tapi kau dilarang melakukannya.
Terlebih lagi pada Furo, aku seperti melihat masa di mana ibu-mu bertingkah sama pada Hime," ceramah Tatsuki yang menarik daftar menu dari depan wajah Kuu yang merengut kesal. "Seiru, jaga Furo baik-baik!" amanat Tatsuki.
"Sudah kucoba," balas Seiru pasrah. Sementara yang dibicarakan hanya dapat memasang wajah tidak mengerti sama sekali.
Tatsuki yang menyadari bagaimana wajah Furo hanya dapat menggeleng pelan dengan senyum tipis di wajahnya.
'Like mom like daughter,' runtuknya dalam hati yang tertuju pada Kuu dan Furo bersamaan.
"Ya sudah, aku banyak kerjaan," pekik Tatsuki sebelum akhirnya pergi meninggalkan meja itu.
"Tch! Lalu, mana Rey?" alih Kuu kesal. Telunjuknya mulai menaikkan kacamata merah batanya yang sedikit turun. Memandang sinis pada lengan Seiru yang melingkar di leher Furo penuh waspada.
"En--"
"Di sini rupanya! Kenapa meninggalkanku dan Rin!" potong sebuah bentakkan.
Seiru melirik dan menunjukkan sebuah seringai.
"Sei-kun, jangan menyeringai."
"Itu orangnya," celetuk Seiru mengindahkan permintaan Furo dan semakin memperjelas seringai yang tercetak di wajahnya.
"... Kawai..." komentar Kuu dengan pandangan berbinar menatap ke arah Rin yang sekali lagi di salah artikan sebagai Rey yang juga disalah artikan sebagai Ichigo.
"Rin perkenalkan ini Kuu Asano, calon pacarmu," ledek Seiru. Agak bersalah juga sih, tapi selama bukan Furo yang menjadi incaran itu sudah cukup.
"Tapi... Tenang saja Furo... Walaupun Rey berdandan seperti wanita yang anggun dan manis, cintaku adalah milikmu," gombal Kuu yang sukses menghancurkan rencana pribadinya agar Kuu mengincar Rin, walau rencana itu baru ada dalam naskah saat bertemu Rin di taman tadi. Rencana asli ya mendadani Rey sebagai wanita.
"Hum... aku tidak tahu harus bahagia atau apa... tapi terimakasih," jawab Furo dengan rona merah yang mulai menghias wajahnya. Membuat Seiru ingin secepatnya membenturkan kepalanya pada dinding ataupun lantai sementara wajah Kuu hampir hangus karena terlalu panas.
"Um... Kurosaki-san," panggil Rin dan sesekali menarik lengan jaket Rey.
"Ada apa?"
"Pacar itu apa?" sebuah pertanyaan yang terbilang jauh lebih polos ketimbang pertanyaan yang biasanya ditanyakan Furo pada Seiru.
- Normal POV - Hitsugaya House -
Sebuah hari Minggu siang yang tenang, mengingat hanya ada Momo dan Toushiro di dalam rumah itu. Sebuah hari yang damai di mana hanya ada suara pisau yang beradu dengan kayu berdampingan dengan sendok sayur yang menggesek bahan yang mulai mendidih.
Sekedar info saja itu dilakukan oleh dua orang berbeda. Momo memotong dan Toushiro memasak.
"Momo, coba deh," pinta Toushiro pada Momo sembari menyodorkan sesendok kuah masakan yang sudah ditiupnya agar dingin barusan.
"Hm, baiklah," jawab Momo riang. Disepapnya sedikit kuah yang disuapkan oleh Toushiro. Wanita Shinigami itu terdiam, mengedarkan rasa pada seluruh bagian lidahnya.
"Bagaimana?" tanya Toushiro ragu.
"Um... Shiro-chan, gula seperti apa?" tanya Momo agak ragu.
Toushiro hanya diam dan menunjuk sebuah toples kecil dengan butiran-butiran halus berwarna putih yang ada di atas rak, "memang kenapa?"
"Kau salah, itu bukan gula, tapi garam," celetuk Momo disertai helaan nafas pelan. Membuat wajah suaminya itu langsung memerah dengan cepat.
"Ma-maaf, jadi keasinan ya?" tanya Toushiro malu. Disesapnya kuah lain yang baru saja disendoknya dan langsung memucat.
"Bukan hanya keasinan, tapi bubuk cabai yang kau masukkan juga terlalu banyak," tambah Momo yamg sudah membawa secangkir air panas di tangannya, entah sejak kapan, mungkin dengan shunpo?
"Te-terimakasih," jawab Toushiro yang menerima gelas itu.
"Sama-sama," balas Momo ceria dan langsung kembali menekuni kegiatannya. Memotong bahan makanan untuk membuat kare.
Dengan tanpa suara sedikitpun Toushiro meletakkan gelas yang setengah kosong itu di samping tempat minyak.
"... Hei, Shiro-kun," celetuk Momo kembali membuyarkan keheningan.
"Hn?"
"Apa sebaiknya kita menyapa Shinigami di rumah Kurosaki-san nanti malam?"
"Hn... kelihatannya tidak apa-apa. Toh dia tidak tahu mengenai kita."
"Bagaimana bisa?" Momo membuka sedikit tutup panci yang ada di samping masakan sup Toushiro. Memasukkan perlahan bahan yang sudah dipotongnya dengan rapi.
Toushiro mulai menyeringai kecil dan mengecup pelan pipi istrinya itu, selagi ada kesempatan.
"Tentu saja, dia baru menjadi Shinigami enam tahun yang lalu. Jadi tidak mungkin tahu kan?" jawabnya dan mulai mencicipi kare buatan Momo.
"Maksudmu jenius?"
"Ya... begitulah, pedas," jawab sekaligus komentar akan masakan kare.
"Hum... kare mana ada yang manis," balas Momo cepat sebelum melirik ke arah sup yang mulai dituang ke dalam wadah, "kau mau memakannya?"
"Hum bukan, untuk hadiah Sei," celetuk Toushiro dengan nada main-main.
"..."
Adakah yang menyadari siapa istrinya Keigo alias ibunya Kuu????
Raiko Azawa
Arigatou nee
Kuchiki Rukia-taichou
Uwaahh… makasih ya, udah bela-belain untuk baca, maaf agak lama.
Terlalu tertarik ke fic lain
Ruki_ya
Haha,
Nanti ada bagian dia mengikuti jejak Ichi walau ngawur ^^
Tugas Rin itu ngawasin Karakura dari serangan Hollow sekaligus belajar cara nyembunyiin identitas selama 3 bulan di dunia manusia.
Itu dikerjain ama Urahara sebenerna.
Violet Murasaki
Sekrang di sini dia jadi mirip Rey,
Aku lupa njelasin,
Rye itu memang mirip Ichi waktu muda, tapi perawakannya lebih feminime mirip cewek gitu.
Mind to Review?
