Pecahan riak ombak pada batas pemisah antara darat maupun laut terdengar begitu jelas. Rambut jingga panjangku menari mengikuti angin laut yang berhembus terus menerus. Shihakushou hitam milik-ku melambai bersama hembusan angin.

"Wim... apa ujianku... gagal?" tanyaku ragu. Tak ada jawab apapun yang dapat kuterima dari jiwa Zanpakutou yang tersemat di pinggangku.

Kristal violetku memandang kaku pada tiga-- maksudku dua sosok yang tengah menatapku lekat.

Pemuda berambut orange lembut dan halus yang tengah menggendong tubuh-- atau dapat kusebut gigai milikku. Dan pemuda lain berambut hitam yang menatapku dengan pandangan menerawang.

"Kau... Rin kan?" tanya pemuda berambut orange, Reynard Kurosaki dengan cara yang agak mengejutkan bagiku juga mungkin bagi shinigami lain. Santai, kalem dan tenang.

"Gah! Seragam itu lagi," celetuk pemuda di sampingnya. Kristal hijau teh miliknya masih menerawang ke arahku. Kenapa mereka dapat sesantai itu melihatku dalam wujud sebagai konpaku-- shinigami untuk lebih tepatnya.

'Little girl... aku merasa ini pertanda buruk,' akhirnya ia bicara. Tapi mengapa harus seperti itu, kurasa Byakuya-dono akan membunuhku bila ia tahu bahwa aku ketahuan oleh mereka yang 'hidup'. Aku... sudah mencoreng nama baik keluarga yang sudah mengangkatku tepat setelah aku mengalami konsou beberapa tahun yang lalu.


Flashback from before


"Jadi... pacar itu apa, Reynard-san?" tanyaku untuk kesekian kalinya. Remaja berambut orange di sampingku hanya bisa diam menerawang jauh. Sementara yang lain hanya bisa menatapku dengan pandangan antara percaya dan tidak. Pengecualian untuk Furo-san yang mulai memasukkan penambah rasa secara acak pada makananya.

Reynard-san menggaruk kecil pipi kanannya yang tidak gatal sambil sesekali membuat gumaman yang terdengar seperti kata, 'ngh...'.

"Kakak, adikmu bertanya. Tolong dijelaskan," celetuk Seiru-san dengan nada main-main. Mungkin hanya perasaanku saja atau nada main-main itu terdengar dipenuhi nafsu membunuh? Juga... seolah bagaikan dèja vu kecil pada masa yang mulai samar dan mulai terhapus dalam memory-ku.

"Sei... kau dendam padaku ya?" desis Reynard-san menanggapi celetukan main-main, yang agak menyeramkan, tadi.

"Aduh, sudahlah. Cepat jelaskan mengenai hal itu, tidak masalahkan kau menganggap Rin sebagai pengganti dia," decak um... kalau aku tidak salah mamanya Kuu-san. Sekilas aku menangkap rona pucat di wajah Reynard-san, walau hilang dengan cepat.

"Maksudmu apa Kuu?" desis Reynard-san lirih. Gadis bernama Kuu-san itu hanya dapat mendecak kecil sembari menaikkan kaca mata merah batanya menggunakan jari tengahnya.

"Maksudku? Halo... sejak dulu kau selalu berakting seperti kakak. Padahal kau tak memilikinya, jadi kau bisa meneri--"

"Hei! Aku bukan hanya berak--"

"Menurutku dia lebih cocok kusebut kakakmu, mengingat dia tipe kakak idamanku," potong Kuu-san cepat menanggapi potongan milik Reynard-san sebelumnya.

Kulirik ke arah Furo-san yang terkesan cuek terhadap adu mulut antara kedua temannya itu. Bibir mungilnya terus bergerak ke sana ke mari mengunyah makanan yang beraneka rasa di dalam sana. Dapat kukatakan beraneka rasa karena aku melihat gadis berambut merah itu berulang kali memasukkan penambah rasa secara acak dan tidak menentu.

Apa aku sudah bertanya hal yang aneh? Karena... perang adu mulut ini terus berlangsung untuk waktu yang agak-- atau lebih cocok terlalu lama.

"...--ei! Aku kan tidak menyebutmu sebagai pria kelainan jiwa. Aku hanya menyebutmu terlalu feminime dalam hal perawakan!"

"Itu sama saja, nona yuri!"

Aku tak tahu sejak kapan. Tapi yang jelas pertengkaran ini berganti topik setiap sepuluh menit sekali. Puluhan pasang mata kurasakan melirik ke arahku-- lebih tepatnya meja yang kami pakai. Agak risih rasanya. Walau tidak seperti pandangan mereka yang ada di Soul Society... juga walau agak menyangkal... agak menyenangkan.

"Rin-chan, Rin-chan," panggil suara lembut. Kurasakan sesuatu menarik lengah baju terusan merah marun milikku.

Aku menoleh, mendapati Furo-san sudah berdiri di sampingku. Entah sejak kapan.

"Ada apa, Furo-san?" tanyaku berusaha sehormat mungkin.

"Tidak perlu terlalu formal, kau mau ke laut tidak hari ini? Kelihatannya tidak terlalu ramai hari ini," ajak Furo-san lembut. Seulas senyum terukir di wajahnya yang manis.

'Kita ke laut yuk.'

"Akh!" aku menjerit kecil saat melihat kilasan sebuah gambaran samar dan hanya ada sepersekian detik.

Seorang wanita berambut coklat lembut tengah tersenyum dalam gambaran itu. Sepasang jepit rambut biru terlihat jelas mengapit rambutnya. Mirip dengan... jepit rambut yang kini Furo-san kenakan.

"Rin-chan?"

"Akh! Maaf! Aku melamun."

"Daijobu... bagaimana? Mau ke laut?" ulangnya lagi.

"I---"

"AYO KE LAUT!!!" ucapanku terpotong dengan bentakkan keras dari dua suara berbeda di belakangku. Suara yang begitu feminime maupun yang maskulin.

"Kalian... Furo tidak mengajak kalian tahu," decak Seiru-san agak kesal.

"Heh? Jadi hanya kalian bertiga? Tidak adil ah!" sungut Reynard-san sinis.

"Bertiga... satu pria dan dua wanita... di laut... aku tau! Pasti thre--- auw!" Kuu-san menghentikan ucapannya dan mengaduh agak keras saat sebuah map hitam membentur bagian belakang kepalanya dengan keras.

"Kuu Asano! Dilarang melanjutkan ucapanmu!" bentak suara yang cukup keras

Kumiringkan kepalaku untuk melihat asal suara itu, menangkap sosok wanita yang kalau tidak salah namanya Tatsuki-san.

"Tatsuki! Sakit tahu!" rengek Kuu-san yang masih mengelus kepalanya. Berusaha menghilangkan rasa sakit di kepalanya.

"Aku ambil mobil dulu di rumah..." ucap Reynard-san sembari memutar bola mata coklat miliknya, "tunggu di sini Rin."

"Hai'."

Reynard-san mulai melangkah meninggalkanku. Kesepuluh jemariku mulai kubuat menari di sela-sela helai rambut yang agak kusut akibat baru saja diacak-acak oleh remaja berambut orange itu dengan cukup kasar namun lembut.

"Ck! Perkataan dan perbuan bertolak belakang," komentar Seiru-san. Aku menoleh, menatap bingung pada sosok berambut hitam yang tengah bertopang dagu menggunakan tangan kanannya. Senyum-- atau seringai jahil nampak di wajah um... tampan miliknya.

"Rey masih berharap dia ada," tambah Furo-san dengan senyum maklum.

"Dasar pria bodoh!" ejek Kuu-san yang masih memincingkan mata kanannya menahan sakit. "Tatsuki juga, kena bagian yang paling keras lagi."

"Heh, salah sendiri kamu ngelantur," celetuk Seiru.

"Akh! Kamu itu!"

"A-ano..." aku berucap pelan. Kontan tiga pasang mata berlainan warna satu sama lain menatapku dan membuatku agak grogi.

"Ada apa Rin..."

"Umh... tadi beberapa kali aku mendengar penyebutan kata dia. Dia yang dimaksud itu siapa?"

"..."

"Maaf?"

"Itu bukan tempat kami untuk bicara. Sebaiknya kau bertanya pada Reynard langsung," saran Seiru-san padaku. Aku menghela nafas kecil mendengar jawaban itu.

Sama dengan jawaban yang kuterima saat aku menanyakan pada Byakuya-dono mengenai tumpukan boneka Chappy. Hanya saja... bagaimana caranya aku bertanya pada benda tanpa jiwa seperti itu?

Beliau kadang bercandanya aneh juga.


Longkap time line


"LAAUUUTTTT!" teriak Furo-san sumringah begitu kedua kaki telanjangnya menginjak tumpukan pasir putih yang hangat. Seiru-san menghela nafas maklum dan memunguti sepasang sepatu fentofel berhak tinggi milik Furo-san yang baru saja dilempar ke sembarang arah.

"Furo senang sekali," komentar Kuu-san melihat tingkah Furo-san barusan tadi.

"Hum... tentu saja. Dia kan sangat suka laut," celetuk Seiru-san dan membuat tawa renyah yang lembut, walau tetap saja yang tampang seringai.

"Dia juga suka laut seperti Furo," tambah Reynard-san. Dimasukkannya kedua tangan miliknya ke dalam saku jeans hitam yang dikenakan olehnya.

Aku menoleh, menatap wajah remaja itu dengan seksama dan mengindahkan tiga orang lainnya. Helai rambut orange miliknya seolah menari, sementara ulasan senyum menghias wajahnya.

"Hn? Ada yang aneh di wajahku?" tanyanya lembut saat menyadari bahwa aku tengah menatap wajahnya dengan seksama. Aku spontan menggeleng cepat dan mulai melepaskan alas kaki yang kukenakan. Membawanya menggunakan tangan kananku sementara tangan kiriku menaikkan rok hingga selutut.

Deru ombak menerpa kaki telanjangku ketika aku sampai pada batas pertemuan dua hal yang selalu menyatu. Tak pernah terpisah.

'Little girl...'

"Hng?"

'Menos.'

"Ekh!? Sekarang?"

'Iya, bersiaplah.'

"Ta--tapi Wim..."

'CEPAT!'

"Kh!" buru-buru kutelan ginkogan yang diberikan padaku oleh Kurotsuchi-Taichou. Permen tanpa jiwa buatan di dalamnya.

Sontak saja aku langsung keluar dari gigai yang kukenakan dan membuat percikan air karena gigai itu jatuh di atas permukaan air laut yang berombak.

"RIN!" sebuah bentakkan kompak. Aku salah tempat ya?

'Little girl, seharusnya tadi kau mencari tempat yang cocok dulu.'

"Maaf..." desahku kecil. Kedua kakiku mulai bertolak meninggalkan tempat di mana gigaiku sedang berenang dan bershunpo ke arah di mana tekanan reiatsu yang cukup besar. Menos... kenapa mahluk itu muncul mendadak tanpa ada kumpulan Hollow sebelumnya?


Ichigo and Rukia


"Menos..." desah Rukia kecil. Disibakannya lengah Ichigo yang baru saja melingkar di tubuh mungilnya.

"Rukia?"

"Ada... Reiatsu yang cukup besar... milik para Menos dari arah pantai."

"Ekh!? Bagaimana caranya?"

"Entahlah... tapi... reiatsu Rin mendekati tempat itu..."

"Apa dia baik-baik saja?"

"Entahlah."


Back now


Perlahan langit biru di atas permukaan laut mulai retak dan membelah. Menampakkan sosok besar milik Menos.

"Wim..."

'Silahkan saja. Tapi gunakan shikai level pertama saja.'

Aku mengangguk kecil dan mulai mempererat genggamanku pada Wim. Memusatkan sebagian reiatsu yang kumiliki padanya.

"Go and snatch away! Wim!" bentakku. Perlahan Zanpakutou di dalam genggamamku mulai dilingkupi cahaya kebiruan yang cantik. Cahaya yang mulai memadat membentuk wujud baru.

Warna biru langit menyelubungi Zanpakutou di tanganku. Warna biru yang begitu indah. Sepasang rantai menghias pada bagian akhirnya. Satu rantai dengan sebuah sayap malaikat dan satu lagi telur putih bersih. Pasangan milik Wim...

Kakiku mulai bertolak pada udara kosong menuju retakan yang semakin membesar di langit biru.

"GAAOOO!!!" jeritan melengking yang memekakkan telinga. Berapa kalipun mendengarnya aku tetap saja tidak terbiasa.

Topeng putih yang bagaikan tengkorak keluar dari dalam retakan. Topeng yang terlalu besar.

Reflek kutebaskan Zanpakutou di tanganku pada udara kosong-- sengaja.

"Release!" bentakku agak kencang saat bertolak menjauh.

Cahaya kebiruan mulai tercipta dari bekas sabetan pedangku tadi. Cahaya kebiruan yang melesatkan ratusan anak panah cahaya. Menusuk topeng putih itu, membuatnya hancur secara perlahan.

'Little girl... kau menggunakan level dua.'

"Ma-maaf, aku belum menguasai level satu dengan benar."

'... dasar...'

Lidahku sedikit terjulur dan kedua alisku menekuk ke bawah.

Pandanganku berputar dengan cepat seiring dengan tolakan yang kubuat. Terkadang aku tidak begitu menyukai melakukan shunpo. Pandanganku akan buyar, yah... semoga saja aku tidak ter-- DUAK! --tabrak...

"Ekh!? Rin!?" kurasa hidupku-- setelah kematian --sudah di ujung tanduk dengan kalimat itu.


Just read the beginning.


Ruise :WARNET NYEBELIIIINNNNN!!!!!!!!1

Ruki_ya

Ruise : Hn… iya… Chizuru… (tampang awut-awutan)

Tatsuki : Walau sekarang aku yang jadi ibu tirinya.

Kuu : Sampai kapanpun aku nggak terima kamu jadi ibu tiriku! Kejem!

Seiru :Itu juga kan karena kelainan kamu

Sora Chand

Ichi : Dengan se---

Ruise : (ngebekep) itu aku buat dificlain saja ya?

Rukia : Geh…

Kuchiki Rukia-taichou

Ruise : Maaf pendek dan nggak muncul di bagian ini

Ichi : Moodauthorancur kayaknya nih


Pengecualian untuk mahluk-mahluk ungsian yang merupakan OC semua bukan punyaku.