Ohayou! Konichiwa! Konbawa!
.
Waw! Light update dua chapter sekaliguuusss! Ehehehe~ gak kalah gaje dengan chapter sebelumnya, karena di chapter-chapter awal, akan terpusatkan pada humor… Light will survive!
Dozo, Minna-Sama!
Rate:
T, untuk keamanan! Mungkin juga bisa menurun rate-nya…
Disclaimer:
Mbah Kazuki Takahashi~ *kicked* mohon kerjasamanya!
Warning
Semi Canon, puzzleshipping, puppyshipping, out of character, a little typo, to Readers who hate boys love-shounen ai, please leave this page by pressing the "back" button. And, full of a gajeness emoticon and lebayness!
.
Have a nice read! ^__~
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
.
Sebuah suara merdu *?* menginterupsi acara tatap mata rindu. Mengganggu saja dosen ini.
"Yak! Perkenalkan dirimu, boy!" katanya dengan senang, sorot matanya penuh damba menatap seseorang yang dengan cool berdiri di depan.
"Selamat pagi," ucapnya pelan di keheningan yang menyelimuti.
Yugi merasakan tubuhnya gemetar, telinganya seakan diusap lembut oleh suara dia… Telinga dan mata ini masih berfungsi normal, kan?!
"PAGIIIII~" balas para gadis manis.
"Hajimashite. Watashi no namae wa Yami no Atemu. Yoroshiku ne…" Yami membungkukkan badannya sekilas.
"Hajimashite, Yamii-kuuuunn~!" kembali para gadis membalas dengan suara digepeng-gepengkan, dicempreng-cemprengkan. Niatnya sih, CAPER nan CARMUK di depan Yami.
Sayang sekali, lady. Yami justru teramat sangat ILFEEL!
'Mendokusei…' Gerutu Yami dalam hati. (~_~a)
"Yami Boy, salam kenal kalau begitu, saya dosen tertinggi di fakultas akselarasi ini. Perkenalkan, saya Pegasus-"
"KYAAAAAAAAAAAA~~" seorang gadis memekik kencang, hingga semua menoleh padanya.
"What's wrong, Anzu Girl?" tanya Pegasus heran–terungkap juga jati diri sang Dosen.
"Ya-yami-kun… MIRIP SEKALI DENGAN YUGIIIIIII~ KYAAA KEREEEEN~" teriakan a la Fans Girls itu didukung sorakan dari para gadis yang lain. (^O^)b
DEG!
Mata ruby itu bersinar datar, lembut tergantikan dengan dingin… Anzu… Melupakannya?! Apakah Jounochi juga?! Honda?!
'Apa Partner juga melupakanku?'
Pegasus bertepuk tangan, "benar juga! Kemari Kau, Yugi Boy!"
Yugi tersentak kaget ketika Jounochi mendorongnya pelan ke depan. Sepasang mata ungu keperakkan itu menatap lantai, seolah lantai adalah benda paling menakjubkan yang pernah ada. Langkahnya pelan dan lambat-lambat. Tak ada yang bisa menangkap, tubuh mungilnya bergetar, semakin kencang, ketika ia mendekati sosok kembarannya. Mau sepelan dan selambat apapun, tetap saja langkahnya mengantarkannya mendekati…
Yami.
"I-iya, Mr. Pegasus?" tanya Yugi gugup, terang saja, ia kini berdiri membelakangi orang yang dinanti-nantikannya.
"Balik kanan, Graaak!" instruksi Pegasus.
Yugi ingin menangis kencang, ia tidak kuat kalau hanya menatap… Kalau hanya memandang dan sekedar berbincang.
Tak ingin membantah perintah dari sang Dosen abstrak *?*, perlahan tetapi pasti, Yugi membalikkan badannya. Ia sudah mempersiapkan diri, hati… Tapi tidak bisa, ketika matanya bertemu tatap dengan Yami. Ia mematung.
Bukan apa-apa… Masalahnya, ia jadi ragu… Benar bukan Yami kembarannya. Pasalnya, Yami… Lebih tinggi darinya…
TIDAAAAAK!
Seingat Yugi, waktu itu tinggi mereka berdua sama.
Mata yang tadi terlukis dingin, kini melembut dalam tawa kebahagiaan. Apa lagi yang bisa membuatnya senang selain melihat partnernya? Tapi… Benarkah Yugi tak melupakannya?
Keheningan seakan mengancam Yugi, tubuhnya bergetar hebat, mukanya mulai merona. Walaupun hatinya diliputi keraguan, tapi wajahnya tidak kuat untuk tidak membuat seulas senyum di wajah manisnya.
Dipandang selembut itu, membuat tenggorokan Yami tercekat, matanya bahkan tidak bisa berkedip. Oh, Kami-Sama…
'Pa-… Partner… MUAAAANIIIIISSSSS BANGGGEEEEETT!!!' (O/////////O) 'Bahaya kalau nosebleed nih…' (~/////~)a
"Hajimashite… Uhhmm… Yugi," tangannya masih tergantung bebas di udara.
Senyuman Yugi agak memudar, hatinya seakan tergores belati. Tangannya yang bergetar terangkat, menyambut tangan Yami. Tangan mereka saling menggenggam, mengalirkan kehangatan, rasa sakit, rindu yang tak terperikan, dan perasaan yang mendesak, memenuhi hati. Entah apa, belum tertebak.
"Hajimashite… Yami," balas Yugi pelan.
Ah… Andai saja ada sebuah pengeras suara untuk membuat suara hati terdengar, maka, tak akan ada rasa sakit seperti ini… Senyum yang saling terlempar, boleh saja terlihat begitu biasa dan tulus…
Tak bisa dipungkiri, kalau hati ini memang sakit. Jujur saja…
Karena yang paling menyakitkan adalah… Dilupakan orang yang paling dicintai.
Lagi-lagi suara menyebalkan ini menghancurkan suasana yang begitu syahdu *?* dan penuh percikan-percikan cinta.
"Yami Boy… Kau kembaran Yugi? Kok aku tidak pernah tahu yah? Asalmu darimana?" berondong Pegasus.
Di hati sebagian para gadis di kelas ini, mereka ingin mencincang-cincang sang Dosen yang menggangu pemandangan "indah" di depan mereka.
Yami seakan tersadar, tanpa melepas tatapan dan genggaman hangat, ia menjawab, "A-aku… Dari Mesir…"
"Yugi Boy, asalmu darimana?" tanya Pegasus.
"A-aah… Jepang," jawab Yugi gugup.
"Kalian kembar identik… Kira-kira, perbedaan kalian selain tinggi badan apa yah?! Kalian persis-mirip-sangat-sekali!" kata Pegasus takjub.
Yami dan Yugi menggeleng patah-patah dan kompak. Mereka mematung. Seakan mendadak menjadi arca di depan kelas.
"Mr. Pegasuuuuuusss~!"
"Kenapa, Anzu Girl?" Pegasus menoleh, dengan sebelah matanya, menemukan Anzu yang berdiri antusias di bangkunya.
"Saya rasa, saya dapat membedakan mereka," jawab Anzu bangga, "Coba perhatikan wajah Yugi dan Yami-kun baik-baik!"
Semua mengalihkan pandangan, dari Anzu ke sepasang manusia yang masih berdiri di depan. Masih terpaku.
"Yugi itu… IMUUUUUTTTT banget! Terus… Sangat manis! Tapi, kalau Yami-kun… KEREEEEN! Tegas, tampaaaaan… Benar-benar, benar-benar-" Anzu tampak semangat menjelaskannya. "…cocok," ucapnya pelan dengan kedua tangan bertautan serta mata yang seakan berubah menjadi love.
"WUUUHHHHOOO!!! SETUJUUUUUUUUU!" dan lihatlah, beberapa gadis berdiri di bangkunya dan bertepuk tangan meriah mendengar koaran Anzu.
"Hah?" sepertinya akan ada pro dan kontra di sini. Mari kita lihat siapa musuh Anzu.
"Aaaaa…" Pegasus mulai membuka suaranya lagi, "Jujur saja, Anzu Girl. Aku… TIDAK SETUJU DENGANMU!" Pegasus mencak-mencak di singgasananya.
"SETUJUUUUUUUUUUUUUUU!" teriak para gadis yang tersisa, mereka mendukung Pegasus.
"Kenapa?" tanya Anzu innocent.
"Baka no ANZU!" maki Jounochi dan Honda.
"Yugiiii Boooyyy~ suki da yooooo~" kata Pegasus dengan mata berkaca-kaca. (TTOTT)
Yami mengerutkan keningnya, tentu saja ia mengerti arti dari "Suki Da Yo." Itukan harusnya kalimatnyaaaa!
"Aaa… Terima kasih, Mr. Pegasus," kata Yugi sweatdropped.
"Tapi… Yamiiii Boooyy~" Yami mulai menyipit mendengar suara Pegasus, "Suki da yoooo~"
"PLINPLAN!" gerutu seisi kelas.
"Uuuhh… Yugi Boy, cepat kembali ke tempat duduk! Tak kuaselah aku melihatmu bersama Yami-kun!" keluar deh logat melayu Pegasus.
"I-iya, Mr. Pegasus," Yugi mundur satu langkah, ada rasa ketidakrelaan yang dalam, ia tidak ingin berpisah dengan Yami.
Tangan mereka mulai merenggang, Yugi menariknya perlahan-lahan. Tapi, Yami menggenggamnya erat, keegoisan menyelimuti Yami, Sudah lama mereka tidak bertemu, sekarang… Harus berpisah? Walaupun hanya beberapa langkah… Ia tidak rela.
Tetap saja Yugi memaksa, ketika ia memutuskan untuk membelakangi Yami, dan mulai melangkah… Semua itu adalah kesalahan.
Bukan karena menyakiti hati, tidak karena genggaman tangan hangat, bukan karena masih ingin bertatapan dengan Yami. Tapi semua terjadi begitu cepat!!!
Yugi. Menginjak. Tali. Sepatunya. Sendiri.
Hal ceroboh tersebut, menimbulkan kakinya yang saling membelit. Yugi yang terkejut melepas teriakan kaget. Matanya terpejam rapat, bersiap mendarat mulus di datar dan dinginnya lantai putih tempatnya berpijak.
Lho?
Terjadi perubahan arah tarikan gravitasi! Yang tadi jatuh ke depan, seseorang menarik tangan Yugi dengan cepat ke belakang. Menarik Yugi ke dalam dekapan hangatnya, membuat harum mint yang kuat tapi menenangkan merasukinya.
Belum selesai, dewa masih ingin menjahili sejoli kesenangan mereka.
Yugi yang belum membuka matanya, ternyata… Menginjak kaki sang penolong. Atau bisa dibilang yang kini sedang memeluknya. Sang pemeluk mengaduh sakit, kakinya diinjak. Sempurna. Karena kaget dalam kesakitan, sang Pemeluk kehilangan keseimbangan.
Yugi kembali kaget, ketika gaya gravitasi begitu kuat menariknya, matilah sudah. Yugi siap menerima semua rasa menyakitkan tersebut.
GUBRAAAAAAAKKK!!!
"KYAAAA~~ ROMANTIIISSS~~!" sayup-sayup, Yugi yang tegang dapat mendengar koor suara Anzu dan teman-teman perempuannya.
"AAAARRRGGGHHH!!! TIDAAAAAK~~!" terdengar teriakan histeris Pegasus dan konco-koncone.
Yugi: landing dengan selamat tanpa merasakan seinchipun sakit di tubuhnya.
"Uuukkkhh… Ittai!" seseorang mendengus di bawahnya.
Eh? Di bawah?
Yugi memberanikan diri membuka matanya. Seketika matanya terbelalak untuk kesekian kalinya pagi ini. Saat itu juga matanya bersiborok dengan pemilik mata merah yang tubuhnya ia tindih.
Sunyi.
Sepi.
Hening.
Mencekam.
Menakutkan.
Mengerikan.
Menyenangkan… Eh?
"Oh my Godness~" Pegasus memecah keheningan, "Yu-yugi Boy~ Ya-yami Boy~ kenapa… Kalian bisa… MENGKHIANATIKUUUUU?!" tangisnya pecah.
"Diamlah, Pegasus! Kau nangis saja FAAAALS!" seru Kaiba yang merasa ketenangannya pecah terganggu oleh suara tangisan fals *?* Pegasus.
Sepi sesaat.
"Hahaha…" Jounochi yang mendengarnya mulai tak dapat menahan tawa, senyuman mulai terbentuk di wajahnya yang semula tegang. Berkembang menjadi tawa.
Bahkan, seorang Kaiba pun dapat tertawa kencang ketika teman-temannya tertawa sakit perut di bangku masing-masing.
"HAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!"
Suara tawa menggema hingga ke penjuru kelas, bahkan yang di depan kelas masih saling-ehem-dalam posisi mesra, ikut tertawa.
"Ka-kalian semua kejam padakuuuu~!" ujar Pegasus berderai air mata.
Saat tawa mulai mereda, Yami yang masih terkekeh-kekeh dalam posisi itu mulai berkata…
"Kaiba, aku tidak tahu kalau Kau punya Sense of humor."
Kaiba tertawa sinis, "sebenarnya aku hanya jujur sih. Aah… Suara tangis itu bikin sakit kepala, MENGGANGGU!" tandasnya tajam, "Anyway, bro. Sampai kapan Kau mau pada posisi seperti itu?!"
Seseorang gadis teman Anzu mulai bersuara, "PRIKIITTIIIIWWWWW!!!"
Juga satu lagi, "CIEEE~ CIEEEE~"
Serta satu lagi, "EHEM~ EHEM!"
Dan satu lagi, "SUIIIT~ SUUIIIT~"
Kenapa setengah gadis dari seisi kelas malah menyoraki mereka? Oh iya, nama sorakan itu Meng-go-da.
Anzu keluar dari bangkunya, rencana licik yang telah dibuat oleh grupnya akan ia laksanakan. Sebuah misi yang sangat menyenangkan apabila mata mereka dimanjakan oleh satu satu kejadian…
DRAP! DRAP! DRAP!
Mai yang tidak menyukainya, beserta para setengah gadis lainnya mulai panik, Mai keluar dari bangkunya, menyongsong Anzu yang sudah mengulurkan tangannya.
"YUGI! TIARAAAAAAPPP!!!" teriak Mai.
Diinstruksikan seperti itu, Yugi menundukkan kepalanya, hanya untuk menemukan kepalanya jatuh di bahu yang tegap. Sebagian badannya bertumpu pada dada bidang yang ditimpanya.
Mengejutkan. Betapa tubuh mereka sangat pas seperti puzzle yang disambungkan.
Mai dan Anzu berdiri di sebelah Yugi yang sedang memeluk Yami erat-erat. Mereka bertatapan tajam, sama-sama berkacak pinggang. Saling tunjuk-menunjuk.
"MAI! Kenapa Kau gagalkan sih?! SUDAH BAGUS POSISI MEREKA SEPERTI INI!!!" dari menunjuk musuh di hadapannya, Anzu menunjuk Yugi dan Yami.
"BAKA! ANZU! KAU BUTA TIDAK SIH?! LIHAT! YAMI KEREN! YUGI IMUT! MASA KAU DAN MEREKA-MEREKA INI, MEMBIARKAN MEREKA 'MENYIMPANG'?!" balas Mai memekik.
"TIDAK BISA!" ucap Anzu galak, lalu menoleh memandang Yugi dan Yami, matanya berubah jadi love. "Coba lihaaat~ betapa, mereka… Aaaaaah~! Sangat manis! Yami keren-tampan kan? Yugi imut sangat kan? Apalagi yang kurang?! MEREKA COCOK! KAU MENYEBALKAN!" kata Anzu marah, ditatapnya Mai lekat-lekat.
(~/////~)a 'Si-sial… Dipeluk Partner seperti ini… Aku, aku… AARRRGGGHHH!' Yami berteriak frustasi dalam hati. Masalah besar ini, rasanya hidungnya berkedut-kedut menyakitkan, bahaya kalau darah keluar dari sana. Semua itu gara-gara harum citrus Yugi… Yang membuatnya mabuk kepayang.
Mai hendak menarik Yugi yang masih memeluk Yami erat-erat, tapi Anzu menarik Mai.
Dimulailah baku hantam, oh salah. Ralat, baku cakar antarpara gadis itu. Dan datanglah para gadis lainnya yang ikut membela pimpinan mereka. Saling jambak, menjerit, cakar, pukul… Menendang.
Yami yang melihat ada tragedy peperangan dunia ke satu, segera melingkarkan kedua lengannya yang awalnya tergeletak begitu saja. Melingkar mendekap hangat, melindungi Yugi dalam pelukannya.
Yugi tersentak kaget, didengarnya teriakan-teriakan sadis dari para gadis. Mengerikan sangat. Tapi ketika sepasang lengan memeluknya, melindunginya dan menawarkan rasa aman. Yugi mulai tenang.
Bukan apa-apa. Masalahnya, kalau para gadis berantem, perang seperti ini, jauh lebih mengerikan dari baku hantam para lelaki.
Jounochi dan Honda segera terjun ke TKP. Beberapa mahasiswa ikut turun tangan. Bahkan Pegasus. Tapi… Pegasus, bernasib malang.
"SEHARUSNYA KAU NGGAK MENAHANKU UNTUK MEMBIARKAN MEREKA MENGELEMINASI JARAK DI ANTARA MEREKA!!!" teriak Anzu sambil menjambak Mai.
"TENTU SAJA HARUS KUTAHAN! SEKIAN LAMA DI KAMPUS INI NGGAK ADA COWOK KEREN, MASA' SEKARANG HARUS MENYIMPANG?! TIDAK AKAN KUBIARKAN!!!" Mai mencakar lengan Anzu.
"HENTIKAN! Anzu Girl, Mai Girl!" Pegasus mencoba melerai mereka, sayangnya dengan kompak, Anzu dan Mai menendang Pegasus dan…
SWIIIIINNNGG~
Berikan applause meriah…
GOOOOOOOL!
Pegasus melayang dan landing di tong sampah.
"Aa… A-apa setiap ada murid pindahan lelaki, mereka selalu bertengkar seperti ini?" tanya Yami agak canggung, bibirnya tepat di telinga sang partner.
Bisa dikatakan, Yugi tengah mengalami konslet. Semua itu karena hangat napas Yami menerpa sisi wajahnya, telinganya, seolah ada sesuatu yang menggelitik perutnya saat napas Yami terhembus. Tapi, bagaimanapun juga, ia tetap menjawab pertanyaan kembarannya tersebut walaupun terbata-bata. "T-tidak… I-ini b-baru yang per-ta… -tama kali. Sebelumnya sering bertengkar juga, t-tapi… Tidak pernah, sampai se-seperti ini!"
Yami berdecak kesal. "Pegangan kuat-kuat yah…"
"Eh?" Yugi mulai membuka mata. Tapi kesalahan besar, ia justru merasa pusing. Yang bisa dilakukannya hanyalah melingkarkan lengan di leher Yami.
Yami dan Yugi menggelinding seperti bola, ke tempat yang aman, keluar dari kerusuhan dan kericuhan yang mendadak melanda di tempat… Di mana para mahasiswanya terkenal alim dan tenang.
Tak lama, punggung Yami kembali menghantam dinding. Dirinya dan partner sudah selamat. Tak ada yang menyadarinya, "Ukkkhhh-" Rintihan Yami tergantikan dengan dirinya yang tersedak.
Ada masalah baru, saudara-saudara…
Posisi kini berbalik, Yami di atas Yugi. Kedua tangannya bertumpu di masing-masing sisi kepala Yugi, hidung mereka bertemu… Berbagi napas dengan lembut, kembali mata mereka bertemu tatap dalam kaget yang menyelimuti.
Ditilik dari sudut terjauh, yaitu Kaiba yang mojok di bagian belakang kelas sebelah kanan. Melihat menggunakan teropong entah darimana asalnya, jarak mereka tinggal 1,5 cm lagi.
Akankah berlanjut… Sesuai harapan para gadis yang pro? Atau… Berakhir selaras dengan impian para gadis yang kontra?
Bibir Yami berucap tanpa suara, sementara mata sang partner yang tidak kuat saling pandang dengannya berhenti tepat di bibir Yami. Membacanya, mengerti, memahami, saat bibir itu bergerak mengucapkan satu kata…
"…Partner…"
Bolehkan Yugi berharap, seseorang yang sangat dekat dengannya saat ini… Benar-benar… Yami-nya?
Yami… Nama seseorang yang selalu disebut setiap doa' yang teraliri harapan, meluncur dari bibirnya.
"…diriku yang satu lagi…"
#~**~#
To be continued
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Gomenasaiiii~ maaf kalau fict ini garing banget, gaje banget, dan gak bisa diterima. Atau mungkin Light sudah menistakan puzzleshipping–tapi Light gak pernah ada niatan menistakan lho!
Entah kenapa, Light jadi ikutan seneng kalau Pegasus itu nista… Di fandom tempat Light lahir, ada juga yang nista. Bedanya, rambutnya warna hitam… Serasi kali yah sama Pegasus… *mengkhayal tingkat tinggi plus ngakak gelundungan*
Terima kasih atas waktunya untuk menyempatkan membaca! Kritik dan sarannya selalu ditunggu!
Sweet smile,
Light-Sapphire-Chan
