Chapter 2

Naruto duduk dihalaman sebuah perkantoran, ia kembali mengingat apa yang sudah dilaluinya, kembali mengingat masa-masa indahnya dan kembali mengingat hal buruk yang sudah menimpanya, kali ini ia tak mampu menyembunyikan kesedihannya, air matanya mulai jatuh mengalir membasahi kedua pipinya, ia merasa amat hampa,dan ia merasa seolah hanya sendirian, walaupun saat itu, lalu lintas tengah dipenuhi oleh para pekerja yang lalu-lalang hendak pulang kerumah masing-masing, tapi pikirannya menerawang jauh tanpa tujuan, sampai ada seseorang yang menyentuh pundaknya dari belakang dan menyadarkannya . . . .

"na- naruto-kun . . ."kata orang itu dengan terbata-bata.

Naruto memalingkan wajahnya dan saat itu dia melihat wajah yang sudah akrab baginya . . .

"kau . . . hinata . . ."sahut naruto dengan sedikit terkejut.

"su- sudah lama ya tak bertemu, naruto-kun, ada apa !? se- sepertinya kau terlihat murung" Tanya hinata.

"ah, tidak ada apa-apa kok" sahut naruto sambil menyeka air mata dikedua pipinya.

" . . . !?" hinata hanya menyerengitkan kedua alisnya.

"a- anu, naruto-kun, kau se- sedang apa disini, apa kau sedang menunggu sakura, kudengar saat ini kalian sedang berpacaran" tanya hinata sambil duduk disebelah naruto.

Mendengar hal itu, naruto tak bisa berkata apa-apa, dia hanya bisa terdiam dan menundukan kepalanya.

"a- ada apa naruto-kun ? apa aku mengatakan sesuatu yang salah" Tanya hinata lagi.

"tidak kok hinata, tidak ada yang salah dengan apa yang kau ucapkan barusan" balas naruto.

"fuuh" seru hinata lega.

"yang salah adalah aku . . ." sambung naruto.

"eh, . . !?" perkataan naruto itu membuat hinata bertanya-tanya.

"benar . . . , akulah yang salah, sudah jelas bahwa dia sudah tidak lagi mencintaiku, tapi kenapa . . . kenapa hati ini masih saja mengharapkannya, kenapa hati ini masih saja mencintainya . . . kenapa . . . kenapaaaaa . . . " ucap naruto dengan agak kesal.

"naruto-kun, a- apa yang terjadi, katakanlah . . . , mu- mungkin aku bisa sedikit membantumu" ujar hinata lembut.

Naruto terdiam sejenak, lalu . . .

"se- sebenarnya . . , sebenarnya sakura dan aku su- sudah . . . "

Akhirnya naruto menceritakan semua yang terjadi antara dirinya dengan sakura, dan bagaimana sakura dengan tega-nya menduakan cintanya yang suci itu, setelah apa yang telah mereka lalui bersama.

Dan setelah itu naruto kembali menitikan air matanya.

Hinata menjadi khawatir melihat hal itu, "naruto-kun . . , !?"

"apa salahku, apa yang telah kuperbuat, sehingga tuhan menghukumku dengan hal ini, padahal aku begitu mencintainya, aku begitu menyayanginya, tapi kenapa, kenapa hal seperti ini harus menimpaku . . ." jerit naruto perih.

Melihat sosok naruto yang amat rapuh itu, hinata tak tahu apa yang harus ia perbuat , namun ada satu gejolak di-dada-nya yang seolah ingin melindungi dan menjaga naruto dari semua hal yang menyakitinya, hinata beralih dari tempat ia duduk disamping naruto dan melangkah tepat kehadapan naruto, ia berlutut, lalu mendekap naruto dan berkata . . .

"sudahlah naruto-kun, tidak apa-apa, ada kalanya sesuatu itu berjalan tidak seperti yang kita harapkan, tidak ada yang salah pada naruto-kun yang mencintai sakura, kalaupun naruto-kun harus mengalami hal ini, mungkin karena naruto-kun sedikit kurang beruntung saja, begitulah yang namanya cinta, tak ada seorangpun yang mampu memprediksi apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, mungkin sakura bukanlah orang yang tepat untuk naruto-kun, tapi pasti diluar sana ada seseorang yangsedang menunggu dan ditakdirkan untuk naruto-kun, yang akan selalu menjaga dan melindungi naruto-kun dengan sepenuh hatinya, dan takkan pernah menghianati rasa cinta yang telah diberikan oleh naruto-kun (hinata sedang membicarakan tentang dirinya), lagi pula putus cinta tidak seburuk itu kok, jadi tak perlu sedih seperti itu, tetaplah menjadi naruto-kun yang biasanya, yang penuh dengan semangat dan selalu ceria" ujar hinata lembut.

"hi- hinata . . ." naruto terkesima mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh hinata dan hal itu membuat wajah naruto memerah.

Hinata tersadar dari apa yang ia perbuat dan segera melepas kedua tangannya yang tengah mendekap erat naruto "ahh, ma- maaf naruto-kun, a- anu, a- aku tak bermaksud untuk . . ." dan kini wajah hinata mem-blushing seperti biasanya.

"hmm" Naruto hanya tersenyum kecil.

Hening sesaat . . .

"a- anu, naruto-kun . . , apa tidak apa-apa kalau kau menceritakan hal ini denganku" ujar hinata gugup.

"tidak apa-apa kok, hinata, aku malah senang karena ada yang mau mendengarkan curhatku ini, berkat hinata yang mau mendengarkan masalahku, sekarang aku sudah merasa lebih baik" ujar naruto sambil tersenyum.

"eh, a- anu, a- aku 'kan tidak melakukan apa-apa" jawab hinata.

"benar kok, ini semua berkat hinata yang mau mendengarkan curhatku, rasanya memang sedikit aneh, tapi entah kenapa setiap kata, setiap kalimat yang kukatakan pada hinata seolah mengangkat beban yang ada dalam diriku dan kini aku sudah merasa jauh lebih baik dari yang sebelumnya" ujar naruto.

Apa yang diucapkan naruto itu membuat wajah hinata memerah malu-malu.

"ka- kalau begitu, a- aku senang bisa membantu naruto-kun" ujar hinata blushing.

"apa ada yang bisa kulakukan untuk hinata, sebagai balasan atas bantuanmu kali ini" Tanya naruto.

"e- eh, itu . . . " hinata bingung apa yang harus ia katakan.

"tidak apa-apa, katakan saja, aku akan dengan senang hati melakukannya untuk hinata" ujar naruto.

"ah, ti- tidak usah, lagipula aku harus cepat-cepat pulang, ada beberapa hal yang harus segera kukerjakan" ujar hinata gugup.

"ahh, kalau begitu biar kuantar kau pulang" sambung naruto.

"tidak apa-apa kok, rumahku hanya berjarak beberapa blok dari sini, jadi tak perlu mengantar" ujar hinata yang kini tak mampu lagi menahan wajahnya yang memerah karena naruto.

"tidak, aku bersikeras untuk mengantarmu pulang, dan kau tak boleh menolaknya" ujar naruto egois.

"ba- baiklah kalau begitu, maaf sudah merepotkan" lanjut hinata.

"he he he he, tenang saja " naruto hanya tertawa.

Lalu naruto mengantar hinata sampai pintu depan rumahnya . . .

"a- anu, naruto-kun, apa kau mau mampir dan beristirahat sejenak . . . " tanya hinata

"ahh, tidak usah, aku tak mau merepotkanmu lagi, oh ya Hinata, apa kau besok ada waktu luang" Tanya naruto.

"emm, sepertinya besok aku akan terus berada dirumah, memangnya kenapa !?" tanya hinata.

"ah tidak, aku hanya ingin mengajakmu keluar, yah . . , sebagai ucapan terima kasih atas pertolonganmu kali ini" sahut naruto.

"eh . . a- anu . . .itu"

"apa kau tidak mau" Tanya naruto.

"bu- bukan begitu . . ." lanjut hinata gugup dan dengan wajahnya yang memerah.

"yosh . . , kalau begitu sudah diputuskan, aku akan menjemputmu jam lima sore disini" lanjut naruto.

"i- iya . . ," tambah hinata.

"baiklah, kalau begitu aku pulang dulu, sampai besok ya hinata . . ." ujar naruto.

"i- iya, sampai besok" balas hinata lembut.

Hinata terus memandang naruto sampai sosoknya menghilang dikejauhan, ia masuk kerumah dan tanpa berkata apa-apa ia langsung mengunci diri didalam kamarnya.

"a- apa ini, aku bertemu dengan naruto-kun yang sudah lama tak kutemui, ditambah lagi saat ini dia sudah tak lagi berhubungan dengan sakura, sebagai sahabat, harusnya aku merasa sedih, tapi entah mengapa aku malah merasa senang akan hal itu, apa mungkin a- aku masih . . ."

Sementara itu . . .

"aku pulaaaannggg" sahut naruto sambil membuka pintu.

Ternyata disana ada kiba yang sudah menunggu kedatangannya dari tadi . . .

"oi, naruto, kau ini pergi kemana saja sih, aku menunggumu hampir satu jam lebih ditaman itu tau, kupikir kau sudah pulang lebih dulu, tapi saat aku kekamarmu ternyata kamu belum pulang, sebenarnya kamu pergi kemana sih" Tanya kiba.

"ah, tidak, aku hanya pergi ke kota sebentar, he he he he " jawab naruto.

Melihat wajah tertawa naruto, kiba menjadi semakin penasaran.

"hee, ada apa ini, apa yang terjadi, tiba-tiba saja kau sudah kembali ceria seperti biasanya, apa terjadi sesuatu dikota" Tanya kiba penasaran.

"tidak, tidak ada yang terjadi, aku hanya berjalan-jalan saja kok" ujar naruto.

"hei, kita ini sudah bersahabat sejak lama, jadi kau tidak bisa membohongiku, raut wajahmu mengatakan ada sesuatu yang terjadi di kota, cepat beritahu aku, atau kau akan tahu akibatnya" ujar kiba sambil mengunci leher naruto dengan lengannya.

"ha ha ha gelii, hentikan . . . sudah kubilang tidak ada yang terjadi 'kan, hey hey hentikan ha ha ha geli nih" ucap naruto yang berusaha keras merahasiakan pertemuannya dengan hinata.

"hee, kau masih mampu bertahan ya, kalau begitu berikutnya akan kubuat kau mengaku . . nih . . " lanjut kiba.

"nya ha ha haha, hentikaaaan, jangan disituuu, aku lemah di bagian situ, oi, hentikaaaan" ujar naruto yang terus di-gelitiki oleh kiba.

* * * * *

Akhirnya malam-pun berlalu, naruto yang mampu bertahan dari serangan kiba, masih tertidur lelap dikasurnya, padahal waktu sudah menunjukan pukul 08.37, sementara kiba sedang pergi mengajak akamaru jalan-jalan menikmati udara pagi.

Kini, waktu sudah menunjukan pukul10.48, dan naruto sudah bangun dari tidurnya, saat ini ia sedang menikmati sarapan siangnya dengan lahap.

"aneh, pergi kemana si kiba pagi-pagi(??) begini, apa dia melewatkan sarapannya !?"Tanya naruto.

Naurto terus mengunyah, mengunyah dan mengunyah sampai-sampai jatah makan siang kiba ikut termakan olehnya, tapi dering telepon menghentikan kegiatan mengunyah-nya itu untuk sesaat.

"kkrriiiiinngggg, kkrrriiiiiiiiiiinnnngggg, krriiiiiiiiiiinnnnnngggggg"

"ini pasti kiba," ucap naruto.

"moshi-moshi, oi kiba, maaf, tanpa sengaja, tanganku bergerak sendiri dan mengambil semua jatah makan siangmu, dan kini semuanya habis tak tersisa dan . . ."

"naruto" ujar si penelpon menghentikan pembicaraan naruto.

Naruto mengenali suara itu, tapi itu bukanlah suara kiba, melainkan itu adalah suara wanita yang telah menyakitinya beberapa hari yang lalu . . , saat itu juga tangannya yang menggenggam telepon secara refleks bergerak turun hendak menutup percakapan tersebut . . .

"tunggu naruto, jangan tutup teleponnya, ada yang ingin kukatakan padamu, aku tahu, setiap kali aku meneleponmu kau selalu ada dan tak pernah mengangkatnya, aku tahu aku telah membuatmu kecewa, tapi dengarkan dulu penjelasanku, itu semua hanyalah salah paham" ujar sakura.

"sakura, tak ada lagi yang perlu kau jelaskan, aku telah melihat semuanya, aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, apa lagi yang harus kau jelaskan, setelah semua itu, kau bilang kalau itu semua hanyalah sebuah kesalah pahaman" ujar naruto kesal sambil menutup telepon itu dengan keras.

"tuuut tuuut tuuut" sakura hanya bisa menghela nafas panjang atas sikap naruto itu.

Untuk yang kesekian kalinya pikiran naruto kembali kacau, memikirkan apa yang baru saja dikatakan oleh sakura, kata-kata itu terus berputar dikepalanya dan membuatnya kehilangan akal sehatnya, emosinya mulai meningkat dan tak terkendali, lalu ia melampiaskan semua itu dengan membanting, melempar dan menghancurkan barang-barang yang ada disekitarnya dan membuat kamarnya yang sudah berantakan itu menjadi tambah berantakan.

"oi oi, naruto, apa yang kau lakukan, tenanglah, apa kau ingin menghancurkan kamarmu sendiri" ujar kiba yang baru saja tiba.

"aarrgghhhh, siaall, siiiiaaaalllll . . . . ." ucap naruto penuh kesal.

"oi, naruto, tenangkan dirimu, tenangkan dirimu, naruto, naruto, naruto lihat aku . . ." ujar kiba sambil menahan kedua lengan naruto dan menatap wajah naruto.

"lihat aku, tenang . . tenanglah, katakan padaku apa yang terjadi . . ." ujar kiba dengan perlahan.

Naruto pun mulai berhenti mengamuk, ia menatap kiba dengan nafas terengah-engah, lalu naruto menjatuhkan tubuhnya diatas sebuah kursi dan berkata: "dia . . , dia bilang itu semua hanyalah sebuah kesalahan, setelah semua yang terjadi padaku dia bilang itu hanyalah sebuah kesalah pahaman". Ujar naruto sambil menahan amarahnya.

"tenanglah, aku mengerti perasaanmu naruto, apa sakura dating kemari" Tanya kiba.

"dia hanya menelponku" ujar naruto

"Lalu apa lagi yang dia katakan" Tanya kiba lagi.

"aku tak tahu, saat itu aku emosi, jadi langsung kututup telponnya"sahut naruto.

"kenapa kau tak mendengarkannya dulu, mungkin saja sakura ingin menjelaskan sesuatu" ujar kiba.

"memangnya apa lagi yang harus kuketahui, hah." Ujar naruto kesal.

"sudahlah, tak perlu emosi begitu, aku 'kan hanya bilang mungkin, tak ada salahnya 'kan" lanjut kiba.

"huh, aku sudah tak mau lagi mendengarkan apa-apa darinya" gerutu naruto.

"sudah, sudah, bagaimana kalau kita makan siang, aku lapar nih . . . " ucap kiba.

"aahhh . . . aku lupa" ujar naruto kaget.

"heee . . , soal apa" Tanya kiba.

"a- anu, aku sudah menghabiskan semua makanannya, dan tak ada lagi yang tersisa untuk dimakan" ujar naruto sedikit menyesal.

"uuaapppaaaaa . . . " sahut kiba kaget.

"maafkan aku kiba, aku tak sengaja, tanganku bergerak sendiri . . . " ujar naruto innocent.

"narutooo . . . kauuu" ujar kiba dengan wajah menakutkan.

"hiiiii . . . ." naruto gemetar melihat wajah kiba.

"Cuma bercanda he he he he, aku tahu hal ini pasti akan terjadi, karena itu tadi sewaktu aku pergi mengajak jalan-jalan akamaru, sekalian aku mampir ke supermarket dan membeli beberapa cup ramen instant, he he he he" seru kiba penuh percaya diri.

"heee . . , ramen ya, kalau begitu aku minta satu" ujar naruto penuh semangat.

"guh . , enak saja, bukankah kau telah menghabiskan semua jatah makan kita, dan sekarang perutmu masih lapar !?, benar-benar ajaib" kata kiba takjub.

"hei, hei, pujianmu itu tak membuatku senang tau, cepat berikan saja (ramen itu)" ujar naruto.

"enak saja, tidak akan, lagi pula siapa yang memujimu, hah" ujar kiba.

"hey, ayolah kita 'kan sudah berteman sejak lama, kita sudah berbagi banyak hal dalam suka dan duka, masa' cuma sekedar ramen saja kau tak mau berbagi denganku " Tanya naruto.

"baiklah, aku akan berbagi ramen ini denganmu, tapi ada syaratnya, sore nanti kau harus mengajak akamaru pergi jalan-jalan, karena sore nanti aku ada sedikit urusan" seru kiba.

"baiklah . . . (eh!?) maaf kiba, sepertinya tidak bisa, sore nanti aku ada janji dengan seseorang" ucap naruto.

"hee, janji ya, dengan siapa" Tanya kiba.

"ahh, bukan siapa-siapa, aku tidak janjian dengan seorang gadis kok, tak perlu khawatir" sahut naruto.

"hohoho, jadi kau akan pergi dengan seorang gadis ya, siapa gerangan" Tanya kiba.

"bukan, bukan, aku tidak akan pergi dengan seorang gadis yang sudah kita kenal" ujar naruto gugup.

"hmm, jadi gadis itu sudah kita kenal ya . . . "lanjut kiba.

"ahh,bukan kok, lidahku keseleo, makanya bicaraku jadi ngawur, kalau begitu, aku mau mandi dulu" ujar naruto sambil bergegas pergi.

"fu fu fu fu, dasar naruto"

Bersambung . . .

* * * * *

Halloooo, sempai (penuh semangat) ^o^

Apa kabarnya, semoga sehat selalu !!

Terima kasih sudah mau mampir dan membaca fiction yang membosankan ini (_ _;

(Maaf updatenya kelamaan, karena belakangan ini sibuk jadi ngga ada waktu buat onlen, padahal chap ini sudah lama selesai, sekali lagi mohon maaf)

Yei, Akhirnya tokoh utama lainnya muncul, Hyuuga Hinata (walaupun hanya sesaat).

Tapi dichapter berikutnya, sepertinya Hinata akan banyak berperan aktif.

Berikutnya, janji Naruto untuk mengajak pergi Hinata,

Apakah akan berjalan lancar !? (nantikan saja ya ^_^)

Saya berterima kasih kepada sempai-sempai yang sudah me-refyu dichapter sebelumnya juga masukan yang diberikan, semoga saya sudah lebih baik dari sebelumnya.

Dan kali ini juga . . .

Mohon revyu-nya guna perbaikan dimasa mendatang.

Arigatougozaimasu ^_^

All characters created by Masashi Kishimoto.

Story line by Aojiru.

Aojiru