Chapter 3

Naruto, seorang pria yang tengah patah hati karena melihat kekasihnya (Sakura) sedang bermesraan dengan pria lain dan membuat hatinya hancur, saat itu muncullah seorang gadis yang merupakan sahabatnya sekaligus orang yang juga memujanya bernama Hinata, Hinata yang melihat kesedihan Naruto lalu menghiburnya dan berhasil membuat perasaan Naruto menjadi lebih baik, dan karena merasa berhutang budi, Naruto pun lalu mengajak Hinata untuk pergi keluar sebagai ucapan terima kasih, dan hari yang telah dijanjikan itupun tiba . . . . .

* * * * *

"Fuhh, segarnya sehabis mandi," ujar Naruto sambil menggosok-gosokan handuk ke rambutnya.

Naruto menatap ke arah meja, di sana tersuguhkan sebuah cup ramen yang sudah diseduh dan dihadapannya ada Kiba yang tengah menyeruput ramennya sendiri.

"Makanlah, aku tahu kau sedang kelaparan," ujar Kiba.

"Ah, terima kasih Kiba, ternyata kau memang baik."

"Memang benar kata pepatah, buku itu jangan dilihat hanya dari sampulnya saja ya, hehehe..."

"Sudahlah, jangan berisik, makan saja," ujar Kiba dengan muscle di wajahnya.

"Iya iya, aku hanya bercanda saja kok, kalau begitu aku makan yaaaa."

SLURRPP

"Sebagai gantinya, kau harus memberitahukan padaku siapa gadis yang akan kau ajak kencan itu."

"BRRUSSSHHH" Naruto menyemburkan suapan pertama ramennya itu.

"Pantas saja kau memberikan ramen ini secara gratis, rupanya ada maksud tersembunyi dibalik kebaikanmu ini."

"Hei hei hei, tak perlu bicara sekasar itu 'kan, aku hanya ingin tahu dengan siapa kau akan pergi berkencan, apa itu salah?," tanya Kiba.

"Me- memangnya siapa yang akan pergi berkencan!?," ujar Naruto dengan sedikit membentak, tapi dengan wajah memerah karena malu.

"Heh, kau tak bisa membohongiku semudah itu tau, kau pikir sudah berapa lama kita berteman, tanpa ditanyapun, raut wajahmu itu sudah mengatakan kalau itu adalah sebuah kencan," ujar Kiba sedikit meledek.

"Memangnya kenapa!?, raut wajahku sudah seperti ini kok sejak lahir,"

"Huh, masih saja mengelak dasar keras kepala . . , yah tak apa-apa kalau kau tak mau mengatakannya, lagi pula itu bukan urusanku,"

. . . . .

"Lalu, kau janji 'kencan' jam berapa?," sambung Kiba.

"Hng!?, aku janji akan menjemputnya jam empat sore ini," jawab Naruto.

"Tuh, betul 'kan, ternyata kau memang akan pergi kencan, hahaha" balas Kiba sambil tertawa.

"Kau ini ya, sudah kukatakan kalau ini bukanlah kencan, ini hanya jalan-jalan biasa," kesal Naruto.

"Sudah sudah, jangan marah begitu, lagipula memangnya kau masih punya waktu untuk marah, coba lihat sekarang sudah jam berapa."

Naruto menghentikan gerakannya, lalu menoleh kearah jam dinding.

"Apa (kaget), sudah jam segini (15.45), kenapa kau tak bilang dari tadi, kalau begini aku bisa terlambat, aku harus cepat-cepat."

Naruto lalu menenggak ramen yang tersisa, berpakaian ala kadarnya dan melesat keluar dengan tergesa-gesa.

"Aku pergi duluuuu."

"Huh, benar-benar polos si Naruto itu, dia tak pernah berubah sedikitpun . . . hmm tapi aku jadi sedikit penasaran, kira-kira siapa ya gadis yang dimaksud Naruto itu, walaupun itu bukan urusanku, tapi tetap saja jadi kepikiran."

"Ah . . , lebih baik sekarang aku pergi mengajak Akamaru jalan-jalan," Ujar Kiba.

* * * *

Hinata yang sudah menunggu Naruto di halaman depan rumahnya, melihat Naruto tengah berlari menghampirinya, pikirannya menjadi kacau memikirkan dia akan pergi berdua saja dengan Naruto.

"Bagaimana ini, aku akan pergi berdua saja dengan Naruto-kun, kalau begini 'kan sama saja dengan kencan, mentalku belum . . . "

"Oi Hinata, kenapa kau diam saja, oh ya, maaf aku sedikit terlambat, apa kau sudah lama menungguku," ujar Naruto yang sudah berada persis dihadapan Hinata.

"Ah, Na- Naruto-kun," ujar Hinata yang kaget dengan perkataan Naruto. Melihat wajah Naruto yang amat dekat dengannya Hinata menundukan kepalannya mencoba menutupi blushing diwajahnya sambil memainkan jari jemarinya "a- aku juga baru saja menunggu Naruto-kun," ujar Hinata sambil sesekali melirik kearaah Naruto.

"Baiklah, kalau begitu kita langsung berangkat saja . . , ngomong-ngomong kau mau pergi kemana?, aku akan megajakmu kemanapun kau suka."

"Eh, i- itu, aku, anu, kalau aku kemana saja boleh, terserah Naruto-kun saja."

"Mmm!?, memangnya tidak apa-apa kalau aku yang menentukan."

"I- iya, tidak apa-apa."

"Kalau begitu bagaimana kalau kita pergi ke taman hiburan, sudah lama aku tidak pergi kesana, bagaimana!?."

"Baiklah."

"Oke kita berangkaaat," ujar Naruto dengan penuh semangat.

Mereka berdua pun memutuskan untuk pergi ke taman hiburan. Dan setibanya disana . . .

"Oke, kita sudah sampai, sebagai pemanasan, bagaimana kalau kita naik itu," ujar Naruto sambil menunjuk ke arah permainan Bom Bom Car.

"Eh, anu, kalau itu a- aku . . ."

"Ayo kita naiiikk," ujar Naruto tanpa mengindahkan apa yang coba Hinata katakan.

Naruto menggenggam dan menarik tangan Hinata menuju ke area permainan tersebut, dan membuat Hinata tak kuasa untuk menolaknya. Hinata pun akhirnya menaiki wahana yang membuatnya doki-doki itu.

"Berikutnya yang itu ..."

"Sekarang yang itu ..."

"Kalau habis naik ini, paling enak naik yang itu ..."

Naruto terus dan terus mengajak Hinata menaiki wahana yang membuat jantungnya bekerja lebih cepat. Namun karena Naruto selalu menggunakan Puppy Eyes No Jutsu, Hinata jadi tak kuasa untuk menolaknya.

"Berikutnya yang ituuu" ujar Naruto sambil menunjuk salah satu wahana.

"Eh itu 'kan!!," batin Hinata, terkejut melihat Naruto menunjuk wahana Roller Coaster. Wahana yang paling tak ingin ia naiki seumur hidup.

"Ayo, ayo," ucap Naruto sambil menarik tangan Hinata.

Hinata tak kuasa untuk menolaknya, dan akhirnya Hinata tetap menaikinya . . .

"kyaaaaa" jerit Hinata.

"Hahahaha, asyik 'kan Hinata, sudah lama aku tidak naik ini," ujar Naruto.

"Ng, ngga bisa, a- aku ngga kuat naik yang beginian," ujar Hinata dengan wajah pucat.

"Eh, kenapa tadi ngga ngomong?," tanya Naruto.

"A- aku terlalu shock sampai ngga bisa ngomong," ujar Hinata.

Naruto lalu menggenggam tangan Hinata dan tersenyum kecil kepadanya.

"Tenang saja Hinata, aku 'kan bersamamu."

"Eh!," wajah Hinata merah memblushing berkat perkataan Naruto barusan.

Akhirnya Hinata berhasil menyelesaikan permainan itu dengan selamat.

"Haaah (menarik nafas panjang), ku- kupikir aku akan mati."

"Maaf, maaf, bagaimana kalau kita istirahat sebentar?," tanya Naruto.

"I- iya," ujar Hinata sambil mencoba kembali menenangkan dirinnya.

"Haah, rasanya menyenangkan sekali setelah sekian lama, bagaimana menurutmu Hinata?" Seru Naruto.

"Ya, menyenangkan sekali, (asalkan bersama Naruto-kun, kemanapun pasti akan menyenangkan)," ujar Hinata dalam hati.

"Bisa pergi berdua saja dengan Naruto-kun seperti ini, kyaaa, seperti mimpi saja, mati hari inipun aku rela . ."

Hinata menatap wajah gembira Naruto. "sepertinya Naruto-kun sudah kembali semangat ya, syukurlah," batin Hinata.

"Naruto-kun, sepertinya semangatmu sudah kembali ya!?," tanya Hinata.

"Eh!?, aku 'kan memang selalu semangat seperti ini" sambung Naruto.

"A- anu, bukan begitu maksudku, kemarin 'kan (di chptr 2) Naruto-kun terlihat sangat sedih dan sekarang sepertinya Naruto-kun sudah kembali semangat seperti biasanya, makanya aku senang . . ."

"Oh, soal yang kemarin ya . . , bagaimana ya, sebenarnya aku juga sulit untuk melupakan masalah itu, tapi semalaman aku memikirkan apa yang kemarin Hinata katakan dan sepertinya hal itu ada benarnya juga."

"Eh!?"

"Mungkin Sakura memang bukan wanita yang tepat untukku . . ,"

Lalu Naruto memalingkan wajahnya kepada Hinata dan menatap kedua matanya lalu secara spontan kedua tangan Naruto menggenggam tangan Hinata dan berkata "Mungkin ada orang lain yang sedang menunggu dan ditakdirkan untukku, yang tak akan pernah menghianatiku dan akan selalu menjaga dan mencintaiku apapun yang terjadi, dan bila saat itu tiba, aku juga akan menerimanya, menjaganya dan akan terus mencintainya dan tak akan ada lagi yang bisa memisahkan kami berdua."

Mendengar perkataan Naruto barusan membuat wajah Hinata merah memblushing.

"Na- Naruto-kun, i- itu . . , a- aku."

"Ahh (Naruto melepaskan genggaman tangannya dari tangan Hinata), maaf Hinata, aku terlalu terbawa suasana, lupakan saja apa yang kukatakan barusan ya, aku hanya . . hanya . ."

Naruto gugup dan tak mampu menyelesaikan perkataannya dengan benar, kali ini giliran wajahnya yang merah memblushing karena malu.

"Oh ya, kau haus kan Hinata? (mengalihkan pembicaraan), kalau begitu aku pergi membeli minuman dulu, kau tunggu saja disini ya," ujar Naruto sambil berdiri dan berlalu pergi meninggalkan Hinata.

Naruto berlalu pergi sambil memikirkan apa yang baru saja terjadi "Bodoh, apa yang sudah kukatakan barusan, benar-benar hanya bikin malu, bisa-bisanya aku mengatakan hal itu pada Hinata, padahal aku baru saja putus dengan Sakura, tapi kata-kataku barusan seperti seseorang yang . . . , apa berarti aku menganggap Hinata bukan hanya sebagai teman saja . . ."

Sementara itu Hinata hanya diam tak menjawab ucapan Naruto sebelumnya, pikirannya masih dibuat bingung dengan apa yang baru saja terjadi.

"Kenapa dadaku jadi berdebar seperti ini ya, dan juga a- apa maksud dari perkataan Naruto-kun barusan , kenapa dia mengatakan hal itu padaku, dan kenapa dia menggenggam tanganku seperti itu, dan saat itu sepertinya wajah Naruto-kun terlihat seperti mengharapkan sesuatu dariku, apa mungkin Naruto-kun . . ."

"Ah, ti- tidak mungkin, tidak mungkin Naruto-kun punya perasaan seperti itu padaku, aku ini ha- hanya gadis yang biasa saja, apalagi kalau dibandingkan dengan Sakura dan yang lainnya aku ini bukanlah siapa-siapa, tapi, kalau begitu apa maksud perkataannya barusan, dan bagaimana kalau ternyata Naruto-kun memang seperti yang kupikirkan, apa yang harus kukatakan padanya saat dia kembali nanti . . "

"Ta- tapi, bagaimana kalau i- itu semua hanya perasaanku saja, mungkin a- aku terlalu melebih-lebihkan dan terlalu dengan seenaknya menafsirkan apa maksud perkataan Naruto-kun barusan, kalau begitu apa yang harus kulakukan . . , a- aku harus bagaimana . . ."

Semua pertanyaan itu memenuhi kepala Hinata, setiap kata, setiap kalimat, dan setiap gerakan yang dilakukan oleh Naruto saat itu membuat darah dalam tubuh Hinata bergejolak , ditambah cuaca yang panas, serta kelelahan setelah menaiki wahana-wahana yang mendebarkan, dan akibatnya . . .

"Lho, ke- kenapa ini?, pandanganku mulai buyar, apa terjadi sesuatu padaku, ahh, a- aku ha rus me nung guu . . Na ru to . ."

"BRUKK"

Hinata kehilangan kesadaran dan terjatuh, saat itu beberapa orang disekitarnya segera datang untuk menolongnya.

"Oi oi, kau kenapa, bertahanlah, cepat panggil petugas , lalu panggil ambulan."

"Baik!"

Beberapa menit kemudian, mobil ambulan datang . . .

"kami akan membawa anak ini kerumah sakit, dan kami minta seorang keluarga atau temannya untuk menemani," ucap petugas ambulan tersebut.

"Oi, apa kau mengenalinya?."

"Tidak, aku tidak mengenalinya, apa dia datang kesini sendirian?."

"Mana ku tau, lebih baik segera hubungi dan beritahukan keluarganya."

was wes wos, was wes wos, was wes wos.

Karena tak ada yang mengenali Hinata, semua menjadi bingung apa yang harus diperbuat, akhirnya muncullah seseorang ditengah keramaian tersebut . . .

"Biar aku yang pergi menemaninya!."

"Apa kau keluarganya . . ." tanya petugas tersebut.

"Bukan, aku adalah temannya!"

"Baiklah, begitu juga tidak apa-apa, kita segera berangkat!."

Akhirnya Hinata yang pingsan dilarikan ke rumah sakit bersama seorang teman yang menemaninya, sementara itu Naruto yang baru saja kembali dari membeli minuman . . .

"Lho . . , Hinata?, Hinataaaa, dimana kauuu?, Hinata, aku datang membawakanmu minuman, kau dimana . . ?, aneh!?, Bukankah tadi aku menyuruhnya menunggu disini!?, apa dia sedang ke toilet ya, kalau begitu lebih baik aku menunggunya disini . . ." gumam Naruto.

Sementara itu, sejak Hinata dilarikan ke rumah sakit sudah lebih dari satu jam waktu berlalu, keadaan Hinata sudah membaik sejak saat itu dan kesadaraannya mulai pulih . . .

"A- aku a- ada dimana, apa yang terjadi padaku . . ." gumam Hinata yang masih setengah sadar.

"Ohh, rupanya kau sudah sadar ya, Hinata!"

"Ka- kau", Hinata menajamkan pandangannya, "Sakura-chan, ke- kenapa ada disini?" tanya Hinata.

"Haah, kau ini merepotkan saja, kau tidak ingat apa-apa ya?" tanya Sakura.

"Hee, ti- tidak, memangnya apa yang terjadi . . ."

"Saat aku sedang berkeliling di taman hiburan, aku melihat ada orang yang pingsan, kupikir siapa, ternyata itu kau, jadi aku menemanimu ke rumah sakit karena tak ada siapapun yang mau pergi menemani."

"Ahh, aku ingat sekarang, saat itu tiba-tiba saja pemandangan di depanku seolah memudar, tubuhku jadi lemas dan aku langsung terjatuh, dan tak ada yang bisa ku ingat lagi setelah itu, tiba-tiba saja aku sudah berada disini . . , kalau begitu, aku sangat berterima kasih karena Sakura-chan telah menolongku, maaf sudah merepotkanmu."

"Haa, tak perlu sungkan seperti itu kita kan teman." Ucap Sakura dengan senyum.

"I- iya, te- terima kasih." Balas Hinata.

"Mm, oh ya, aku sudah menghubungi keluargamu, mereka akan segera datang kesini, tapi karena jaraknya yang cukup jauh, mungkin akan butuh waktu yang agak lama untuk sampai kesini."

"Tapi, ada satu hal yang membuatku penasaran, tidak biasanya seorang Hinata berada di taman hiburan seorang diri, setahuku kau adalah orang yang paling pertama mengatakan tidakkalau di ajak pergi ke tempat seperti itu (taman hiburan), memangnya apa yang kau lakukan disana sendirian?"

"Jangan-jangan, kau sedang menunggu seseorang untuk berkencan ya!!" goda Sakura.

"Ah, ti- tidak begitu kok, aku ha- hanya sedang jalan-jalan saja dengan Na . . ." Hinata menghentikan kalimatnya.

"Na???", lanjut Sakura yang penasaran dengan lanjutan kata-kata Hinata.

Namun Hinata tak bisa meneruskan kalimatnya, sebab dia teringat dengan hubungan antara Naruto dan Sakura.

"Ba- bagaimana ini, kalau aku mengatakan yang sebenarnya, Sakura pasti akan marah padaku, padahal aku dan Sakura adalah sahabat, dan dia juga baru saja menolongku, atau apa aku berbohong saja ya . . , walapun Naruto-kun bilang diantara mereka sudah tak ada hubungan apa-apa lagi, tapi tetap saja kalau aku mengatakan yang sesungguhnya, Sakura pasti akan . . ,"

"Hoi, kenapa malah melamun?," ujar Sakura mengagetkan Hinata dari lamunannya.

"Ah, ti- tidak, mm anu, itu . . , aku pergi ke taman hiburan hanya . . , hanya untuk berjalan-jalan saja" jawab Hinata gugup.

"Heee !?" balas Sakura dengan nada dan tatapan mata yang tak mempercayai.

"Sa- Sakura sendiri sedang apa di taman hiburan, ja- jangan-jangan kau sedang kencan ya," ujar Hinata yang coba mengalihkan pembicaraan.

Seketika itu, wajah Sakura langsung berubah menjadi lesu, "kencan ya . . "

"Eh . . , ke- kenapa . . " tanya Hinata.

"Tidak, hanya saja kata itu sepertinya sudah sangat asing bagiku . . ,"

"Kini, tak ada seorangpun yang bisa ku ajak pergi berkencan, aku baru saja putus . . , dan itu semua karena kesalahanku," ujar Sakura.

"Ma- maaf kalau aku mengatakan hal yang salah . . " balas Hinata.

"Tidak apa-apa . . , mungkin kau pernah mendengarnya dari seseorang, aku dan Naruto akhirnya berpacaran . . ."

"Hee . . " Hinata (berpura-pura) kaget mendengarnya.

"Tapi kini sudah tidak lagi . . , sejak hari itu, ia tak pernah lagi mau bertemu denganku, bahkan untuk berbicara di teleponpun sulit,"

"Kini, ia seperti berusaha menghindar dariku, setiap kali kutelpon, atau setiap kali aku datang ke rumahnya, ia tak pernah ada, mungkin ia sudah muak padaku,"

"Padahal dulu hubungan kami sangat baik, kami banyak menghabiskan waktu bersama, entah itu untuk jalan-jalan, pergi makan atau sekedar mengobrol,"

"Aku pun pergi ke taman hiburan hanya untuk kembali mengingat masa-masa kami dulu, karena dulu aku dan Naruto sering pergi ke tempat itu bersama, dia paling senang jika pergi ke taman hiburan, setelah itu dia akan mengajakku menaiki wahana-wahana yang menyeramkan, sebenarnya aku juga takut untuk menaikinya, tapi entah mengapa, kalau bersama Naruto rasa takut itu hilang begitu saja, karena dia selalu bilang --"tak usah takut, aku akan selalu menjagamu"-- mungkin kata-kata itulah yang membuatku jadi tak takut lagi, malahan aku merasa sangat aman dan nyaman saat bersamanya," kenang Sakura.

"Sakura . . "

"Saat itu aku benar-benar bahagia, seolah-olah dunia hanya milik kami berdua, apapun yang terjadi aku ingin selalu bersama dengannya, ingin rasanya aku kembali pada masa-masa itu, tapi sepertinya itu hal yang mustahil, kini Naruto sudah sangat membenciku, bahkan ia tak pernah mau lagi mengangkat telepon dariku, aku ini benar-benar menyedihkan ya," ujar Sakura dengan senyum pedih dan mata yang berkaca-kaca.

"Padahal, dia telah memberikan seluruh cintanya padaku, tapi . . , tapi aku malah mengkhianatinya, sekarang aku malah menyesali apa yang telah kuperbuat dan berharap ia mau kembali dan memaafkanku, aku ini memang benar-benar egois, aku hanya mementingkan keinginanku sendiri."

"Tapi, walaupun begitu, walaupun begitu, aku . . , aku masih sangat mencintainya, aku benar-benar berharap dia mau kembali dan memaafkanku, dan kami bisa kembali bersama seperti dulu lagi . . . "

Kini Sakura tak mampu lagi menyembunyikan kesedihannya di depan Hinata, ia menangis sejadi-jadinya, meluapkan segala penyesalan atas apa yang telah ia perbuat kepada Naruto dulu.

Hinata hanya terdiam mendengar hal itu, ia tak bisa berbuat apa-apa untuk menenangkan Sakura, ia tak tahu apakah ia harus senang atau bersedih, tapi ada satu hal yang kini ia sadari . . .

"Begitu ya . . , jadi begitu . . , rupanya Sakura masih sangat mencintai Naruto-kun dan dia benar-benar mencintainya dengan setulus hati,"

"Dan aku, aku malah memanfaatkan keadaan dan mencoba merebut Naruto darinya, sahabat macam apa aku ini, bahkan aku sudah tak pantas lagi disebut sebagai seorang sahabat."

"Walaupun aku juga menyukai Naruto-kun, tapi kalau sampai merebutnya dari seorang sahabat, tindakanku ini benar-benar keterlaluan, aku tak akan bahagia karena itu"

"Kalau aku hanya menjadi penghalang diantara hubungan mereka, lebih baik mulai saat ini akan kulenyapkan perasaanku ini, akan ku buang jauh-jauh perasaanku terhadap Naruto-kun, biarlah . . , biarlah aku seorang yang merasakan penderitaan ini, memang inilah yang pantas kudapatkan karena telah berusaha merampas cinta seorang sahabat."

"Ma- maaf ya Hinata, aku malah bercerita yang bukan-bukan," ujar Sakura.

"Ti-tidak apa-apa kok Sakura, kalau itu memang bisa membuatmu merasa lebih baik, aku akan dengan senang hati mendengarkannya," balas Hinata.

Sakura tersenyum mendengar perkataan sahabatnya itu.

"Ah, sudah jam segini, kalau begitu, aku pulang dulu ya, masih ada hal yang harus kukerjakan, sebentar lagi pasti keluargamu juga akan datang menjemputmu, dan kata dokter kau sudah boleh pulang hari ini juga karena kondisimu sudah membaik, tapi jangan lupa untuk istirahat ya," ujar Sakura sambil berlalu menuju pintu.

"Ah, Sakura, terima kasih ya . . ,"

"Tidak tidak, akulah yang harusnya berterima kasih, karena Hinata sudah mau mendengarkan curhatku ini, terima kasih ya, Hinata." Ucap Sakura penuh senyum.

Hinata pun balas tersenyum, "iya, sama-sama Sakura."

"Kapan-kapan kalau ada waktu, kita ngobrol lagi ya, sepertinya akan menyenangkan,"

"Iya Sakura, kapanpun kau ada waktu, kita berbincang-bincang lagi."

"Jangan lupa istirahat ya." Kemudian suara pintu tertutup pun terdengar bersamaan dengan berlalunya Sakura.

. . . . .

Hinata menundukan wajahnya, kedua tangannya menutupi wajahnya yang pucat pasi, dan bulir-bulir air mata mulai mengalir melewati kedua tangannya dan jatuh membasahai selimut yang menutupinya itu.

"Kenapa . . , kenapa aku malah menangis . . , aku tak punya waktu untuk menangis seperti ini, aku harus segera berusaha untuk menghilangkan semua hal tentang Naruto-kun dalam diriku, walaupun aku harus merasakan sakit, walaupun aku akan menderita karenanya . . ."

"Sudah kuputuskan, mulai saat ini 'Naruto-kun', ah tidak, 'Naruto' hanyalah seorang sahabat bagiku, tidak kurang dan tidak lebih, dan tidak akan ada lagi perasaan cinta pada Naruto, akan kubuang jauh-jauh perasaan yang sudah lama terpendam ini . . ."

"Mulai hari ini, mulai detik ini, tak akan ada lagi Naruto dalam hatiku, tak akan ada lagi saat-saat dimana kita menghabiskan waktu bersama."

"Aku pasti bisa, walaupun berat, walaupun perih, tapi aku pasti bisa bertahan melalui hari-hari tanpa Naruto."

"Jadi, mulai saat ini, selamat tinggal Naruto . . ,"