CHAPTER 4
Naruto tengah patah hati karena melihat kekasihnya (Sakura) sedang bermesraan dengan pria lain, saat itu muncullah Hinata, Hinata melihat kesedihan Naruto lalu menghiburnya dan berhasil membuat perasaan Naruto menjadi lebih baik, dan karena merasa berhutang budi, Naruto pun lalu mengajak Hinata untuk pergi keluar sebagai ucapan terima kasih, dan saat mereka pergi berdua, hal yang tidak terduga terjadi, Hinata yang jatuh pingsan ditolong oleh Sakura yang merupakan kekasih Naruto, saat Hinata tau bahwa Sakura masih mencintai Naruto, Hinata memutuskan untuk melupakan Naruto demi sahabatnya, Sakura.
* * * * *
Beberapa hari setelah itu ...
"Haaahh . . . "
"Hei, kenapa mengeluh seperti itu?, apa kau sedang ada masalah?," tanya Kiba.
"Hng!?, ahh tidak apa-apa kok, hahahaha . . ,"
Naruto yang tengah kebingungan berujar dalam hatinya, "Aku jadi kepikiran, kira-kira saat itu Hinata pergi kemana ya!?, saat aku kembali dari pergi membelikan minuman ia sudah tidak ada disana, dan sudah berjam-jam aku menunggunya, tapi ia tak kunjung kembali, apa dia kesal karena selalu ku ajak menaiki wahana-wahana yang menyeramkan lalu ia pulang tanpa mengatakannya padaku, atau karena ucapanku saat di bangku taman hiburan itu ya."
"Ya, pasti memang karena itu, ucapanku saat itu memang benar-benar memalukan, wajar saja kalau dia pergi . . , ahh andai saja aku bisa memutar waktu, aku pasti akan kembali kesana dan memperbaiki kata-kataku itu . . ."
"Tapi, kenapa aku malah memikirkannya ya, toh aku mengajaknya pergi cuma untuk sekedar berterima kasih saja tidak ada alasan lain, lagipula bagaimana mungkin aku memiliki perasaan khusus terhadap Hinata, maksudku . . , dia itu memang gadis yang baik hati, lembut, cantik, pengertian dan dia juga cukup sexy untuk ukuran gadis seusianya, tapi . . ,"
" . . . !?, kenapa aku malah berpikir kearah situ sih . . ,"
"To . . , Naruto . . , Narutoo~ . . ,"
"Ahh, kenapa sih Kiba, berteriak-teriak seperti itu!?," tanya Naruto kesal.
"Kenapa!?, harusnya aku yang bertanya sepeti itu, dari tadi aku memanggilmu tapi kau tak menyahut sedikitpun."
"Oh, begitu ya, maaf aku sedang melamun," balas Naruto.
"Ya sudah, aku mau mengajak Akamaru jalan-jalan dan mungkin agak lama karena aku juga ada sedikit urusan, selama aku pergi tolong kau jaga rumah ya," ujar Kiba sambil berlalu pergi.
"Hah, seenaknya saja si Kiba itu, memangnya siapa yang mau jaga rumah, membosankan sekali, aku juga mau pergi keluar sebentar ahh!."
. . . . .
"Hm, sebenarnya aku ingin sekali pergi ke tempat paman Teuchi, tapi saat ini kondisi keuanganku sangat kritis, sepertinya aku harus segera mencari pekerjaan baru, aku tak boleh terus merepotkan Kiba ..."
Karena masalah keuangan, akhirnya Naruto memutuskan untuk pergi ke taman untuk sekedar menghirup udara segar.
"Yah, duduk-duduk di bangku taman sepertinya tidak buruk juga, untuk orang dengan dana terbatas sepertiku, hal seperti itu sudah cukup menghibur."
"Ng!?," Naruto menajamkan matanya, "arghh sial, sudah ada orang yang terlebih dulu datang dan duduk disana, apa dia juga kehabisan uang untuk pergi ke tempat paman Teuchi ya, hahaha . . , kalau yang seperti itu sih pasti cuma aku saja . . ."
"Eh, lho bukankah itu Hinata, apa yang dia lakukan ya disana seorang diri."
"Ng!?, kenapa aku jadi deg-degan begini, padahal aku hanya akan mengajaknya bicara, tapi ..., ah sudahlah kutanyakan saja."
"A- anu, Hinata, apa yang sedang kau lakukan?," tanya Naruto.
"Ahh, Na- Naruto,"
"Naruto, apa yang sedang dia lakukan di tempat seperti ini, kenapa di saat seperti ini aku malah bertemu dengannya, padahal aku sudah memutuskan untuk melupakannya, aku tak boleh lagi untuk mengharapkan apa-apa dari Naruto, maaf Naruto aku harus ..."
"A- anu, boleh aku duduk disebelahmu, Hinata ..."
"Maaf Naruto, aku harus pergi, ada sedikit urusan yang harus segera kuselesaikan, sampai jumpa."
"Ah, tu- tunggu dulu Hinata, ada yang ingin kubicarakan denganmu ..."
Hinata menghentikan langkahnya sejenak, lalu berkata, "maaf Naruto, lain kali saja kita bicara lagi, aku harus segera pergi ..."
Namun belum sempat Hinata meneruskan langkahnya, tangan kanan Naruto keburu menahan pundak Hinata dan menghentikan gerakannya.
"Hinata, a- apa kau marah padaku?, aku minta maaf kalau kata-kataku waktu itu menyakitimu, aku sama sekali tak bermaksud untuk menyakitimu, aku- aku hanya mengungkapkan apa yang ada dalam pikiranku saat itu, aku terlalu terbawa suasana, dan aku minta maaf kalau ternyata hal itu malah menyakitimu, aku minta maaf ..."
" . . . . . . , maaf Naruto, aku harus pergi." Ujar Hinata dengan dingin.
"Tu- tunggu . . , Hinataa~ ..."
Hinata kembali menghentikan langkahnya . ..
"Anu ..., begini, sebenarnya saat itu aku . . ."
"Naruto ..., mengapa aku pergi meninggalkanmu waktu itu tak ada hubungannya denganmu ..., selamat tinggal."
DEGG!!
Naruto tak mengerti, namun kata-kata itu, kata-kata yang di ucapkan oleh Hinata itu membuat hatinya seolah tertusuk oleh sebuah pisau.
"Kenapa ..., kenapa sebegitu menyakitkannya mendengar kalimat itu, hatiku .. seperti ..."
. . . . . .
"Aku pulaaaang~ ..."
"Lho, Naruto, tumben kau tidak pergi keluar, biasanya setiap kali kusuruh jaga rumah kau pasti tak ada saat aku kembali," seru Kiba.
"Sudahlah, jangan cerewet ..."
"Hei hei, kenapa lesu begitu, nih kubawakan oleh-oleh, kebetulan tadi aku lewat didepan kedai pak Teuchi, jadi sekalian saja aku membelikan beberapa bungkus ramen untukmu, aku tau kau sedang kekurangan uang ..."
"Aku sedang tidak nafsu makan ..."
"Tidak biasanya kau menolak ramen pemberianku, pasti terjadi apa-apa, jangan-jangan kau baru saja ditolak seorang gadis ya?."
Mendengar hal itu, Naruto langsung menatap Kiba dengan pandangan dan hawa membunuh.
"Hehehe, beranda kok, bercanda, tak perlu serius seperti itu ..."
"Hinata ..., kenapa dia berkata seperti itu padaku, apa dia sebegitunya membenciku ..."
"Dan kata-kata itu, entah mengapa terdengar lebih menyakitkan dari biasanya ..."
"Oh iya, coba tebak tadi dijalan aku bertemu dengan siapa ..." seru Kiba.
"Shinigami 'kan," jawab Naruto malas.
"Bukaaan, aku bertemu dengan Sakura, Sakura lho, setelah lama tak bertemu sepertinya dia jadi semakin cantik saja, kau pasti akan kaget kalau melihatnya, dia juga titip salam untukmu..."
"Haaahhh ..." Naruto hanya menghela nafas panjang.
"Huh, sepertinya kau memang berniat untuk melupakan Sakura ya Naruto, apa kau serius ..., bukankah kau selalu memimpikan dia sejak dulu."
"Sudahlah, aku sedang tidak ingin membahas tentang hal itu ..."
"Heh, kalau akau jadi kau, aku pasti akan memaafkannya ..." seru Kiba.
"Sayangnya aku bukan kau, jadi aku tak bisa memaafkannya semudah itu," jawab Naruto.
"Kau ini memang keras kepala ya, apa susahnya sih memaafkannya, padahal dia sudah bersungguh-sungguh meminta maaf dan dia serius ingin kembali padamu, tapi kau selalu saja menolaknya ..."
"Sudahlah, aku 'kan sudah bilang kalau aku sedang tidak ingin membahas hal itu ..." ucap Naruto sedikit kesal.
"Kalau membicarakan Sakura, mood mu jadi jelek ya ..."
"Kalau begitu kita bicarakan hal lain saja, oh ya, apa kau ingat Hinata, teman sekelas kita yang dulu itu lho" tanya Kiba, "Katanya beberapa hari yang lalu dia masuk rumah sakit ..." sambung Kiba.
"Hah, bicara apa kau,"
Betul kok, aku mendengarnya dari Sakura, katanya dia melihat Hinata pingsan di taman hiburan dan Sakura membantu menolong dan membawanya kerumah sakit, karena dia adalah teman satu kelompokku dulu, makanya tadi aku berniat untuk menjenguknya, tapi ternyata dia sudah pulang ..."
Tiba-tiba saja Naruto beranjak dari tempat duduknya, dan bergegas keluar rumah tanpa berkata apa-apa pada Kiba.
"Oi, tunggu Naruto, kau mau kemana ..."
BLAAMM (suara pintu tertutup dengan keras)
"Haah, dasar Naruto, aku benar-benar tak bisa mengerti jalan pikirannya."
Sementara itu Naruto tengah berlari dan terus berlari.
"Hinata . . , apa terjadi sesuatu padanya sewaktu di taman hiburan, atau memang karena kata-kataku yang waktu itu, dan hari ini pun sikapnya sangat aneh, pasti memang terjadi sesuatu padanya, kalau begini aku harus menanyakannya langsung."
Dan kini dengan nafas trengah-engah, Naruto berdiri di depan kediaman rumah Hyuuga.
"Harus, bagamanapun juga aku harus mengetahui apa yang terjadi dengan Hinata, sejak saat itu, entah mengapa aku tak bisa berhenti untuk mengkhawatirkannya walau sebentar, mengapa dia tiba-tiba saja menghilang dan meninggalkanku sendiri,"
"Walaupun dia bilang hal itu tak ada hubungannya denganku, tapi aku ... aku ..."
"CEKREK" tiba-tiba saja terdengar suara dari arah pintu kediaman Hyuuga, tak lama kemudian perlahan-lahan daun pintu mulai terbuka lebar dan terlihatlah sosok Hyuuga Hinata dari balik pintu itu.
Dengan menenteng beberapa buah buku di tangannya, Hinata mengenakan sepatu tanpa menyadari keberadaan Naruto dihadapannya, namun saat ia mengangkat wajahnya barulah ia menyadari keberadaan Naruto disitu.
Betapa terkejutnya Hinata melihat Naruto berada di depan rumahnya, "Na- Naruto, apa yang ..."
"Hinata," ujar Naruto dengan kedua tangannya memegang bahu kecil Hinata, "Hinata, apa kau tidak apa-apa, kudengar kau dibawa ke rumah sakit saat kita pergi ke taman hiburan waktu itu, apa yang terjadi!?, apa karena kata-kata yang ku ucapkan waktu itu ..."
"Se- sebenarnya sejak saat itu aku terus memikirkanmu, aku benar-benar mengkhawatirkanmu, aku takut terjadi apa-apa padamu karena tiba-tiba saja kau menghilang, saat itu aku terus menunggu dan terus menunggumu unntuk kembali, namun kau tak kunjung kembali."
"Aku berpikir, mungkin karena kata-kata yang kuucapkan waktu itu telah menyakitimu dan karena itu aku mengkhawatirkanmu,"
"Tapi setelah saat itu aku sadar, mengapa aku menghawatirkanmu, mengapa aku terus menunggumu disana walaupun aku tak tau apakah kau akan kembali atau tidak, dan mengapa aku datang kemari walaupun kau sudah bilang bahwa hal itu tak ada hubungannya sama sekali denganku ..."
"Karena sejak saat itu aku selalu memikirkanmu, aku tak mau sendirian tanpa dirimu, aku tak mau meninggalkanmu dan ditinggalkan olehmu, aku benar-benar mengkhawatirkan dan memikirkan dirimu dari lubuk hatiku yang paling dalam."
"Karena sepertinya . . , karena sepertinya aku . . . telah benar-benar jatuh hati padamu Hinata ..."
. . . . .
Dan tangan-tangan kecil itu pun tak kuasa untuk menahan buku-buku yang ia bawa, buku-buku itupun berjatuhan ke tanah, semua karena apa yang di ucapkan oleh Naruto, kata-kata itu telah membawa perasaan Hinata ketempat yang amat jauh, kata-kata yang amat ia nanti-nantikan sejak lama, kata-kata yang tentu saja membuatnya amat bahagia, kalau saja ... kalau saja . . . . ,
Hinata menundukan wajahnya, mencoba menutupi bola matanya yang saat itu tengah berlinang air mata, ia tak mau Naruto melihat ekspresi wajahnya saat itu, ia menepis kedua tangan Naruto, tanpa berkata apa-apa ia berlari masuk kembali kedalam rumahnya, meninggalkan buku-bukunya, dan juga meninggalkan Naruto seorang diri.
Hinata menjatuhkan tubuhnya ke dalam tempat tidurnya, ia menangis, ia merasakan kebahagiaan yang tidak ia inginkan lagi, impian yang telah ia buang jauh-jauh, impian yang tak lagi ia kejar kini malah datang menghampirinya, ia tak tau harus berbuat apa, ia hanya bisa menangis dan terus menangis.
"Ternyata ... ternyata aku memang tidak bisa, aku tak bisa walau sedikit saja untuk menghilangkan Naruto dari dalam diriku ini ..."
"Tapi kenapa, kenapa hal ini harus terjadi padaku, disaat aku hendak melupakannya ia malah datang dengan membawa cintanya padaku ..."
"Kami-sama kenapa kau lakukan ini padaku, apa salahku, apa dosaku sehingga kau melakukan ini padaku, apa yang harus kulakukan, katakan apa yang harus kulakukan . . ."
Hinata menangis, terus menangis sampai berjam-jam lamanya, dan haripun tanpa terasa telah berganti menjadi malam, walau perasaannya sudah lebih tenang, tapi ia tetap tak menemukan jawabannya, ia tetap tak tau apa yang harus ia lakukan, kalau ia melakukan ini, ia merasa telah mengkhianati Sahabatnya, dan kalau ia melakukan itu, berarti ia telah membohongi dirinya sendiri dan juga melukai perasaan Naruto, namun pilihan apapun yang ia pilih, tetap akan menyisakan penderitaan untuknya, namun keadaan tetap memaksanya untuk memilih ...
Ia beranjak dari tempat tidurnya, menatap bintang-bintang dilangit melalui jendela kamarnya.
"Seandainya aku adalah bintang-bintang dilangit, pasti aku tidak akan didesak dengan pilihan sulit seperti ini, aku hanya perlu bersinar terang dan membuat orang-orang bahagia, bebas bersinar pada siapapun, bebas bersinar kapanpun dan tanpa terikat oleh apapun, hanya bersinar dan terus bersinar."
"Haahh," Hinata hanya bisa menghela nafas panjang, ia terus menatap bintang dilangit malam itu, namun pandangannya teralihkan pada sebuah sosok yang tengah duduk di pekarangan rumahnya, saat ia menegaskan pandangannya, ternyata ia mengenali sosok itu, ia segera berlari kebawah menuju pintu dengan tergesa-gesa, berharap apa yang ia lihat adalah sebuah kesalahan.
Namun saat ia membuka pintu, ternyata apa yang ia lihat itu memang benar adanya, seseorang tengah duduk di pagar pekarangan rumahnya dan orang itu adalah Naruto.
"Na- Naruto, apa yang kau lakukan disini, kau pikir ini sudah jam berapa, kalau terus seperti ini, kau bisa masuk angin," ujar Hinata khawatir.
"Ah, akhirnya kau datang juga Hinata, aku tau kalau kau akan datang makanya sejak tadi aku terus menunggumu disini, tapi karena lelah akhirnya aku ..."
"Bodoh . . , Naruto bodoh, kenapa sampai segitunya kau menungguku, bagaimana kalau tadi aku tidak menyadari keberadaanmu, kau bisa saja terus berada disini sampai pagi," ujar Hinata.
"Tidak apa kok, walau sampai pagi, atau sampai kapanpun juga, aku akan terus menunggu Hinata, karena aku tak mau Hinata pergi meninggalkanku seperti waktu itu, aku tak mau penantianku sia-sia seperti waktu itu."
"Tapi kali ini aku tau kalau penantianku tidak akan sia-sia, aku tau kalau kali ini kau akan datang kembali padaku, Hinata."
"Na- Naruto . . ." ujar Hinata menangis sambil memeluk Naruto dengan perasaan lega.
"Jadi, bagaimana Hinata . . , apa jawabanmu, apa kau bersedia untuk menjadi pacarku ..."
"Ka- kalau dengan Naruto, sepertinya akan sangat menyenangkan, aku bersedia . . ."
"A- aku senang sekali mendengarnya, terima kasih Hinata."
Hinata tersenyum kecil dengan wajah yang memerah karena malu.
"Kalau begitu, bagaimana kalau besok kita pergi kencan di taman hiburan itu lagi ..." seru Naruto.
"Eh!?, kemanapun . . , kemanapun asal jangan tempat itu, apa kau ingin membuatku masuk rumah sakit lagi ..."
"Hahaha ..., cuma bercanda, cuma bercanda kok ..."
"Bohong, kau pasti serius 'kan, aku tidak mau pergi kesana . . "
"Kalau hanya sebentar tidak apa-apa 'kan."
"Pokoknya ngga mau, ngga mau, ngga mau ..."
"Hee, Hinata kalau marah ternyata imut ya, kawaii ..."
"Ahh, Naruto-kun, hazukashii yo ..."
"Tidak apa-apa 'kan kalau kau menunjukan wajah itu hanya untukku, karena sekarang aku adalah kekasihmu, kau tidak perlu malu ..."
"Ah, i- iya Naruto-kun.," Hinata hanya mengangguk dengan wajah memerah karena malu.
Malam itu bintang-bintang dilangit bersinar dengan terang, menjadi saksi akan dua anak manusia yang kini telah menjalin satu ikatan, satu ikatan yang membuat mereka berjanji untuk berbagi dalam segala rasa baik suka maupun duka, dan ikatan itu adalah sesuatu yang kita kenal dengan sebutan Cinta.
^**OWARI**^
Moshimoshi, Sempai ... ^o^
Ini adalah chapter terakhir.
Dan sampai saat inipun, tokoh Sakura sepertinya memang terlalu sedikit dalam berperan ^_^;
Padahal saya sudah punya banyak adegan bersama Sakura, tapi nanti takut jalan ceritanya jadi kepanjangan,
Berhubung saya juga masih amatir dalam urusan percintaan, jadi takut nanti malah ngga bisa nerusin kalau ceritanya diperpanjang.
Jadi cerita kali ini saya akhiri sampai disini.
Saya berterima kasih kepada sempai-sempai yang sudah me-refyu dichapter sebelumnya dan juga masukan yang sudah diberikan.
Dan kali ini juga . . .
Mohon revyu-nya guna perbaikan dimasa mendatang.
Mine Kitei Kurete, Doumo Arigatou (_ _
All characters created and belongs to Masashi Kishimoto.
Story line by Aojiru.
Aojiru
Sayounara!! ^o^ Sampai Jumpa!
See You Soon
