Saya tahu ini crack ... tapi coba anda liat mereka. Bayangkan. So sweet kan? He he he
Saya seneng banget kalau masih ada yang mau baca n saya harap anda tidak menilai suatu karya dari pairingnya y,
UPDATE!! Happy read XDD~
xxXXxx
Bab 2 : What I feel (Ino)
Ino mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut perpustakaan. Subjek yang ia cari belum ketemu juga. Ino mengambil satu helaan nafas, "Kemana anak itu?"
"Ino?" tiba-tiba saja seseorang yang sebaya dengannya menegur Ino dari belakang.
Ino kontan memutar badannya dan mendapati Karin –gadis berkacamata dan memiliki potongan rambut yang aneh– "Liat Shino?" tanya Ino pada Karin yang kebetulan adalah ketua club perpustakaan. Mungkin saja Karin tau keberadaan anggotanya itu.
"Shino?" ulang Karin lagi. Karin pun mengangkat bahu, "Kurang tahu juga."
'Anak itu kemana sih?' batin Ino kesal. Setelah tersenyum sekilas ke arah Karin, Ino kembali menjajahi setiap kelas, ruangan dan koridor sekolah.
Sampai akhirnya kaki Ino berhenti di depan sebuah tangga yang mengantarkannya ke atap sekolah. 'Mungkin dia di sana ...?' umpatnya lagi. Ino sempat ragu, tetapi pada akhirnya ia jajaki tangga tersebut.
NGIEEEK
Pintu kayu yang hampir berumur 20 tahun itu terbuka. Ino melangkahkan kakinya di atas atap sekolah sambil meneriaki nama yang ia cari, "Shino! Hello! Di mana kamu?!"
Seseorang yang sedang sibuk dengan pikirannya tiba-tiba tersentak dan mendongakkan kepalanya ke atas. Seseorang telah berdiri di sebelahnya sambil tersenyum, "Ino?"
"Kemana saja sih? Gue cari-cariin juga." Ucap Ino sambil berkacak pinggang.
Shino langsung berdiri dari duduknya, "Ada perlu apa?" tanyanya datar.
Ino berdecak, "Kan lo udah janji. Hari ini kita bakal nonton pertandingan futsal kelas kita!"
"Maaf saya tidak bisa." Gumamnya lagi sambil membetulkan letak kacamatanya.
Raut wajah Ino berubah menjadi kecewa, "Tapi lo udah janji kemarin!" bantah Ino. Shino jadi teringat saat mereka berempat –Sasuke, Ino, Rock Lee dan Shino sendiri– jalan-jalan menelusuri Konoha Resident –perumahan Ino– Rock Lee sempat berceletuk mengenai pertandingan futsal besoknya.
xxXXxx
FLASHBACK
"Shino, besok ikut nonton futsal kan?" tanya Ino sambil menjilat es krim rasa coklatnya.
" ..... "
"Ayolah! Gue main nih!" tambah Rock Lee lagi.
" ..... "
"Gak susah kok! Tugas lo cuma duduk, nonton. Gak usah bawa spanduk ato pom pom deh." Canda Ino yang berhasil membuat Sasuke tersedak dari ritual makan es krimnya.
"Sial." Gerutu Sasuke kesal. Hampir saja es krim rasa tomat*?*nya meluncur dengan mulus di atas seragam putihnya.
"Saya liat besok." Jawab Shino pada akhirnya.
xxXXxx
Seingat Shino itulah yang dikatakannya. Ia sama sekali tidak berkata iya atau tidak. Shino ingin menyela, hanya saja tangannya sudah keburu ditarik Ino.
"Ayo kita ke lapangan!" ujar Ino mantap sambil berjalan ke arah pintu.
DEG!
Lagi-lagi perasaan itu. Perasaan yang sama seperti yang kemarin ia rasakan ketika berada di dekat gadis itu. Perasaan yang aneh, tapi ... hangat?
Entah lah. Shino hanya bisa diam. Membiarkan tangannya ditarik oleh gadis itu.
xxXXxx
"Ayo! Sasuke!" teriak Sakura bersama beberapa perempuan lainnya. Sakura berdiri beberapa meter dari Sasuke yang kini sedang berdiri di atas lapangan bola. Sasuke kini sedang mengoper bola ke arah Kiba.
"Kiba!" teriak Sasuke.
Kiba mengangguk lalu menerima bola dari Sasuke. Meskipun bola tersebut hampir jatuh ke tangan musuh, dengap cepat Kiba mengambil alih. Kini Kiba berlari ke arah gawang. Beberapa rival kelas I-B –kelasnya Ino dan kawan-kawannya– mulai mendekati Kiba. Hampir mengerubunginya. Kiba hampir putus asa, ia bingung akan mengoper bola ke mana. Tetapi sang Dewi Fortuna tiba-tiba datang dan melambai-lambaikan tangannya ke arah Kiba.
Kiba menghela nafas lega. Dengan sigap dan sebelum musuh mengerubunginya lebih parah lagi, Kiba langsung menendang bola tersebut ke arah Uzumaki Naruto –pemuda yang memiliki rambut blonde dan jabrik itu, juga mata biru langit yang cerah–. Dengan cepat Naruto menerima bola yang diterima, menendangnya ke arah gawang dan ...
"GOOOL!" sorak Ino, Sakura dan beberapa pendukung kelas I-B lainnya.
Para pemain langsung mengerubungi Naruto dan menyorakinya. Naruto pun memasang gaya ala pemain bola profesional yang baru saja memasukan bola.
"Uzumaki! Trakir jangan lupa!" teriak Chouji –pemuda yang gendut dan doyan makan itu– sambil mengunyah keripik kentang. Ia duduk di antara Ino dan Shino.
Babak baru akan segera dimulai. Ino dan Sakura yang berdiri sedari tadi akhirnya memilih untuk duduk kembali. Mereka mulai menikmati babak baru tersebut. Setelah semua pemain berdiri di posisi masing-masing dan wasit meniupkan peluit, suasana riuh yang tadinya hening sejenak pun datang kembali.
Shino yang duduk tidak jauh dari mereka –Ino, Sakura dan Chouji- mulai melirik ke arah jam tangannya.
Sudah jam 4 sore. Itu berarti Shino harus pulang saat itu juga. Tanpa basa-basi Shino berdiri dari duduknya lalu menyelempangkan tasnya. Ino tergelak dan langsung menoleh ke arahnya, "Kau mau pulang?" tanya Ino sambil mengkerutkan bibirnya.
Shino mengangguk, "Saya ada kursus."
"Padahal masih ada babak ke-2 lho." Tambah Sakura.
Shino menggeleng, "Maaf. Cukup sampai di sini saja." Akhirnya ia lebih keluar dari deretan kursi penonton itu tanpa menghiraukan teriakan Ino.
"Besok kita kerja kelompok lagi! Presentasi belum beres!" teriak Ino.
"Kenapa lo jadi peduli gitu sama, Shino?" tanya Sakura penasaran.
"Hah?"
"Iya, gue setuju. Akhir-akhir ini lo jadi sering nyariin dia." Tambah Chouji yang masih fokus dengan keripik kentangnya. Hanya saja pandangannya dari lapangan beralih ke arah Ino dan menatapnya curiga.
"Masa sih?" tanya Ino tidak percaya.
"Beneran deh. Kemarin lo antusias banget nyariin dia buat kerja kelompok ..."
"Kalo itu sih pastinya. Dia kan kelompok gue." Potong Ino langsung.
"Tapi barusan lo rela banget nyariin dia sampe ke atap sekolah segala." Tambah Chouji yang berhasil membuat Ino terdiam.
"Kalo itu sih ..."
"Padahal kemaren kan setahu gue dia gak mau nonton futsal." Kata Sakura lagi sambil menyeruput Cocacola can-nya.
Ino tiba-tiba merasa aneh setelah Chouji dan Sakura berkata tadi. Rasanya aneh juga jika ia terus-terusan memaksa Shino.
Contohnya saat kerja kelompok kemarin, andai saja tidak ada Ino yang memaksa, mana mau Shino ikut kerja kelompok. Otaknya jenius. Mengerjakan tugas sesepele itu tidak perlu bersama-sama, beberapa menit pun selesai.
Kedua, saat Shino hendak pulang kemarin, andai saja Ino tidak menarik lengannya, mana mau pemuda yang terkenal pendiam dan kutu buku itu mau ikut untuk beli es krim –yang menurut Shino hanya membuang-buang waktunya saja.
Ketiga, saat Shino tengah duduk di atas atap. Menyendiri. Andai saja Ino tidak datang menghampirinya, mana mungkin ia duduk di antara deretan bangku penonton sekarang.
Beribu tanda tanya berkumpul di kepalanya.
Perasaan apa yang terus mendorong Ino untuk melakukan hal-hal itu?
Perasaan yang mengusiknya saat bertemu langsung dengan Shino.
Saat mendengar namanya.
Saat ...
"Ino?" panggilan Sakura berhasil membuat Ino terhenyak dari lamunannya.
"Hm?"
"Kamu mikirin Shino ya?" goda Sakura sambil tersenyum jahil.
"A-Apa? Enggak kok!" Ino membantah sambil memalingkan wajahnya dari Sakura. Entah kenapa wajah Ino merah padam.
"Yang bener?" Chouji ikut-ikutan menggoda.
Ino mendengus kesal, "Bener deh. Aku tidak memiliki perasaan apa-apa ke dia. Aku Cuma pingin ..." Ino menggantung kata-katanya sejenak, "dia bisa berbaur dengan kita." Lanjutnya dengan nada ragu.
Sakura dan Chouji hanya membulatkan mulutnya.
"Lagipula, kau sudah punya Sai." Tambah Sakura.
Mendengar nama Sai, mata Ino pun langsung mendelik. Ia baru ingat bahwa kekasihnya itu izin sekolah untuk beberapa hari. Ia juga baru ingat bahwa Sai masih terikat status dengan Ino. Kenapa ia bisa lupa?
Ino tertawa hambar, "Oh ha ha ya, Sai." Ucapnya sambil tersenyum sekilas.
"Lagipula idemu bagus juga, Ino. Kita buat Shino berbaur dengan Rookie 9 dan lebih terbuka ke ki ..." kata-kata Chouji terpotong saat para penonton serompak meneriaki kata "GOOOOLL!!"
"GOOOOLLL!!" Chouji dan Sakura pun serempak langsung ikut berdiri dan menyoraki.
Ino masih diam. Ia menempelkan sebelah tangannya di atas dadanya.
'Perasaan apa ini?'
Tanpa Ino sadari, ia merasakan apa yang dia rasakan kemarin.
xxXXxx
Pertandingan futsal telah usai dengan hasil yang cukup membanggakan –kelas I-B menang melawan kelas I-D dengan skor 1-0–. Ino lebih memilih untuk pulang terlebih dahulu sedangkan teman-temannya yang lain lebih memilih untuk menetap di sekolah –sekedar bersenda gurau dan merayakan perayaan kecil-kecilan atas keberhasilan kelas I-B–. Entah apa yang menggerakan kaki Ino sehingga kini ia sedang berjalan menuju rumahnya. Jika Sai masih ada di sisinya saat ini, pasti Ino sudah diantarnya.
Tiba-tiba gerakan Ino berhenti ketika melihat sosok bertubuh tinggi dan ideal dengan kacamata hitamnya itu.
Shino ...
Ia sedang berada di sebrang jalan.
Kini Ino tepat berdiri di bawah lampu merah –menunggu lampu hijau berubah menjadi merah.
Lagi-lagi jantung Ino berdebar. Sungguh ia baru sadar bahwa sejak beberapa waktu lalu perasaannya jadi tidak karuan begini.
Apa sih yang membuat mahluk kutu buku itu spesial? Sampai-sampai ia mampu menggetarkan perasaan Ino.
Ino langsung menggelengkan kepalanya. Mungkin saja Shino akhir-akhir ini terlihat sedikit lebih tampan*?*.
Lampu pun berubah menjadi merah. Ino dan segerombolan orang lainnya langsung menyebrangi jalan. Ino mempercepat langkahnya –mengejar Shino yang sudah menyebrang lebih dahulu dan sepertinya hampir hilang di balik persimpangan selanjutnya.
"Shi-Shino!" panggil Ino.
Yang dipanggil tidak menoleh. Mungkin ia tidak mendengar karena ributnya suara kendaraan bercampur manusia dan pabrik. Ino mempercepat langkahnya lagi sampai ia hampir menyamai langkahnya dengan Shino, "Shino ..." panggil Ino lagi sambil tersenyum lebar.
Shino kontan menghentikan langkahnya saking kagetnya karena tiba-tiba saja gadis bermata biru muda itu berdiri di sebelahnya, "Ino?!"
"Heeeh .... Lo ini cepat sekali jalannya?" Ino mengusap keringatnya lalu kembali berjalan.
Shino menyusulnya, "Kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Shino lagi.
"Gue mau pulang." Jawab Ino seadanya.
"Tidak nonton futsal?"
"Sudah beres ..."
"Yang menang?"
"Kelas kita! Aaah .... sayang sekali lo gak nonton." Ino berdecak kesal, "Tapi terimakasih ya."
"Untuk ...?"
"Karena sudah mau nonton." Ino lagi-lagi tersenyum ke arahnya.
Shino senang melihat senyuman gadis itu yang berhasil mengundangnya untuk mengulum senyum. Meskipun hanya sekilas dan hampir tidak terlihat. Hanya orang-orang yang memiliki mata jeli yang dapat melihat senyuman Shino itu.
"Lo sendiri gak jadi les? Ini masih jam 5 sore. Gue kira lo beres jam 6-an." Ujar Ino lagi.
Kini mereka menghentikan langkah tepat di bawah lampu lalu lintas, "Saya tidak jadi les."
"Kenapa? Pasti gara-gara gue maksain lo nonton futsal ..."
"Nonton futsal adalah kemauan saya sendiri, bukan salah kamu." potong Shino langsung sambil tetap fokus menatap kendaraan yang berlalu lalang di depannya.
"Maaf ..."
Shino tidak menjawab. Lampu hijau berubah menjadi merah. Kontan mereka langsung mempercepat langkah mereka sebelum lampu berubah lagi menjadi hijau.
Selama perjalan ini Ino merasa sedikit canggung. Ia tidak tahu apa yang akan ia bahas lagi dengan Shino. Ia juga tidak tahu apa yang menggerakan kakinya untuk mendekati pemuda itu.
"Sebagai gantinya, kita ke kedai kopi yuk!" ajak Ino sambil tersenyum riang.
"Maaf saya ..."
"Maaf juga ya, tapi gue terpaksa harus maksa lo!" ujar Ino setengah bercanda sambil menarik Shino masuk ke dalam sebuah kedai kopi.
'Dasar gadis penuh kejutan.' Batinnya sebelum menghela nafas pasrah.
xxXXxx
TBC
