.Disclaimer : Masashi Kishimoto

.Warning: AU, OOC, taken Athena as the main place story

.Note: Di chapter ini SasuSaku sudah bertemu


Memang terlalu naif jika seseorang menganggap bahwa ia telah mengetahui takdirnya, mencecap rasa aneh ketika sesuatu justru membalikkan dugaannya. Apapun itu, tak khayal kian terus dipermainkan oleh sesuatu yang bernama takdir. Ideologi bermunajat penuh keintrikan yang memburu.

Namun, kini ia justru merasa mantap dengan pijakan futuristiknya. Yang harus ia lakukan hanyalah mengikuti seutas tali merah, yang membawanya langsung pada takdir yang sudah menantinya.


Athena-Abdions : The Greece


Benar memang, kalau masyarakat Eropa menganut berbagai macam ideologi '-isme' yang merepotkan, atau salahkanlah kultur budayanya yang memang terbiasa dengan pengabaian tingkat tinggi. Memendam selama beratus bahkan beribu-ribu tahun hanya untuk sebuah kesetiaan pada leluhur—yang kadang susah diaplikasinya dalam kehidupan ini. Faktanya, legenda dan kepercayaan seharusnya sudah tidak lagi dipakai—justru tetap melekat di hati penduduk itu.

Hingga membuat kedua turis asing ini menjadi kebingungan setengah mati, bahkan hanya sekedar untuk pergi wisata belanja yang jaraknya bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari hotel Miramare. Peluh yang bercampur kefrustasian mulai melenggang di sekitar urat-urat kepala Sakura. Mata jade itu menatap tanpa harap orang yang lebih tinggi di hadapannya. Berharap akan embuahkan hasil tertentu setelah berdiri konyol selama satu jam.

"Kau tidak salah baca kan Naruto?" tanya Sakura pada pemuda pirang yang tengah mengerut-ngerutkan keningnya dan menatap penuh konsentrasi pada selembar kertas lebar yang berdasar warna biru. Dari nada bicaranya saja Sakura sudah nampak begitu kesal pada Naruto.

"Tidak mungkin salah, Sakura! Aku jagonya membaca peta," kata Naruto, sekarang terlihat membolak-balikan peta.

Sakura memutar bola matanya dengan kesal.

Ia menyesal tidak mendengarkan Tenten yang menyarankan agar mereka menggunakan cara yang lebih modern untuk berbelanja di Athena, setidaknya pakai GPS atau Google Map.

Kalau saja Sakura mau menerima kebaikan Tenten yang bersedia meminjamkan ponselnya yang berfitur lengkap pada Sakura dan Naruto, dan mengabaikan rasa 'sok sungkannya'.

Atau setidaknya membawa buku panduan untuk wisata di Athena, pasti akan jauh lebih mudah.

"Yang biasa kau baca'kan peta di Jepang," kata Sakura. "Aku akan coba tanya pada orang-orang, mungkin ada sedikit yang bisa bahasa inggris,"

Sakura kemudian berlari dan mengamati orang-orang di sekitarnya, kebanyakan dari mereka sepertinya orang yang sibuk. Mereka memakai jas dan mantel dengan sangat rapih dan berjalan cepat-cepat sambil mengoceh di telepon, tampak tak peduli pada keadaan sekitar.

Sakura memutuskan untuk bertanya pada sosok lain, yakni seorang anak laki-laki bertopi yang tampak santai dengan hidupnya dan tengah duduk di bangku taman bersama anjingnya.

"Excuse me," kata Sakura ramah, "do you know this place?"

Sakura menunjukkan gambar sebuah jalan yang dipenuhi dengan berbagai macam penjual pada sebuah brosur yang diperolehnya di Jepang.

"Monastiraki," anak itu menjawab dengan ramah.

"Yes," Sakura tersenyum lebar. "How can I get there?"

Anak itu masih tersenyum sembari bangkit dari duduknya, ia menoleh pada Sakura, "Follow me,"

Sakura melongo sebentar, kemudian menoleh pada Naruto yang masih membolak-balik petanya.

"Naruto! Ayo!" Sakura memanggil Naruto dengan antusias. Naruto melipat petanya dan berlari mengikuti Sakura dan si anak.

"Dia mau mengantar kita?"

"Sudah jelas kan?" kata Sakura, ia menatap anak laki-laki yang terus berjalan menyusuri petak jalan yang ramai, sebentar saja anak itu sudah berhenti di ujung gang kemudian berbelok ke kiri. Ia kemudian menoleh pada Sakura dan Naruto, masih tersenyum.

"Monastiraki," katanya, ia menunjuk jalan di depannya.

Sakura memandang ke arah yang ditunjuk si anak dan tampak bingung. Untuk apa ya untuk hal ini. Tiba-tiba diajak oleh seorang anak kecil pada tempat tujuannya. Entah apa yang ada di pikiran Sakura saat ini, beruntung?

"Kita sudah sampai?" tanya Naruto.

"Monastiraki," kata si anak mengulangi.

Sakura tersenyum lebar padanya. Yah—setidaknya mereka berdua teah sampai di tempat yang mereka inginkan.

"Thank you kid," kata Naruto gembira, ia menjabat tangan si anak bertopi dan nyengir lebar.

Anak laki-laki itu mengibaskan tangan Naruto dan menatapnya dengan tajam, ia kemudian menengadahkan tangannya dan berkata santai.

"12 Euro!"

"APA??"


Monastiraki adalah surganya barang murah di Athena, bahkan untuk para turis. Tepatnya adalah di gang senggol di sekitar Monastiraki Square, yakni Plaka. Di Plaka terdapat sebuah jalan panjang dan dipenuhi deretan penjual dari berbagai macam etnis. Suasananya sendiri tak berbeda jauh seperti negara-negara berkembang di Asia Tenggara, jalan ini sesak dipenuhi pedagang dan turis asing, lalu berbagai keributan di jalan ketika beberapa pengendara motor ngebut dan menerobos lampu merah.

Satu-satunya hal yang membuatnya berbeda hanyalah hawa dingin yang menusuk kulit, meskipun Sakura dan Naruto tidak begitu merasakannya karena mereka baru saja keliling Athena.

"Wow, ramai sekali," kata Naruto. "Tadi kau mau beli apa?"

"Bagaimana kalau kita lihat-lihat semuanya!" kata Sakura memamerkan ulasan senyumnya ceria..

Tujuan Sakura sebenarnya hanyalah mencari pernak-pernik murah khas Athena. Namun, melihat begitu banyak benda-benda bagus dan unik, ia segera saja mengubah rencananya. Kesempatan emas untuk yang seperti ini bukan tidak mungkin akan hilang jika di sia-siakan, menurut Sakura.

"Heh! Kau mau beli itu semua?" Naruto berkata sebal. "Kalau saja uangku tidak dipalak oleh anak kurang ajar itu!"

"Uang kita pasti cukup Naruto!" kata Sakura. "Dan lain kali sebaiknya kita bawa buku panduan untuk belanja wisata,"

"Yeah, dan tidak sembarangan bertanya pada orang asing!" kata Naruto semakin sebal.

Sakura dan Naruto akhirnya memasuki surge belanja itu. Ingin melepaskan kesebalan yang baru saja mereka alami.

Di sini Sakura menikmati segalanya tentang Athena, ia bisa menemukan berbagai macam barang dengan harga miring dan sekaligus menikmati wisata budaya sepuasnya. Sepanjang jalan, Sakura menghampiri setiap toko-toko baju. Ia membeli kain sari di toko yang dimiliki oleh orang India, menjajal sorban dan burqa di toko yang dimiliki orang Arab dan memborong baju khas China di toko etnis Tionghoa.

Naruto mengamati tingkah Sakura yang baru pertama kali ia lihat. Seolah menyadari bahwa itulah sifat alamiah seorang wanita yang memang sedang gila kalau dsuguhi berbagai macam hal-hal menarik. Sesaat terlintas di pikiran Naruto tentang berapa yen uang yang Sakura keluarkan setiap minggunya, atau bagaimana kelangsungan hidup mereka kalau Sakura seperti ini terus. Naruto hanya menggelengkan kepalanya.

"Jangan memandangiku begitu Naruto! Aku tidak serakah!" kata Sakura merasa diperhatikan. Ia yang tengah menjajal pakaian khas Bolivia sedikit-sedikit masih ingat dengan keadaan temannya yang satu itu.

"Yeah Shophahollic!" kata Naruto. "Aku ingin mencari pernak-pernik khas Yunani, mau ikut tidak?"

Sakura tampak berpikir sebentar, kemudian mengangguk.

"Kurasa sekarang giliranmu belanja," kata Sakura.

Sakura dan Naruto harus gesit bergerak di antara para pedagang dan pengunjung yang penuh sesak, tempat ini tak ubahnya sebuah pasar yang dipenuhi berbagai macam manusia dengan berbagai macam kepentingan.

Bertambah ramai karena para pedagang meneriakkan dagangannya dengan keras dan lalu-lalang kendaraan di sekitar Plaka.

Sakura dan Naruto berniat mampir ke toko pernak-pernik yang menjadi tujuan utama Naruto, situs internet mengenai Athena membahas tentang berbagai macam gelang, kalung dan gantungan kunci khas yang diukirkan nama pemesan dengan aksara Yunani. Naruto sepertinya penasaran ingin melihat namanya yang terukir dalam huruf Yunani. Ia menyeruak di antara orang-orang dan berhasil lolos hingga sampai di toko tersebut lebih dulu.

"Welcome Sir," sapa pemilik toko dengan logat Yunani yang kental.

Naruto nyengir lebar, kemudian menoleh ke belakang untuk memeriksa keadaan sahabatnya. Sakura masih terjepit di antara orang-orang dan masih berusaha sekuat tenaga untuk meloloskan diri. Sakura gadis yang pintar, Naruto rasa itu hal yang mudah bagi Sakura. Sepintas ia mengacuhkan Sakura dengan perjuangannya dan larut pada benda-benda unik di depannya.

Sakura merasakan tubuhnya benar-benar sesak karena berjubel dengan orang-orang yang tubuhnya lebih besar darinya, postur Eropa. Hal seperti ini sangat rawan criminal, pikir Sakura. Kalau di Jepang ia bisa menemukan sampai lima kali pencopetan dalam sehari saat berjalan-jalan bersama Tenten di pusat perbelanjaan. Tapi ini Athena. Lalu?

Sakura merasa seseorang merogoh tasnya dan benar saja, seorang lelaki berambut merah dan bertopi abu-abu yang berdiri di belakangnya tengah memasukkan dompet berwarna biru muda ke dalam kantung celananya.

Lelaki itu tampak kaget ketika Sakura memergokinya, ia bergegas mengambil langkah praktis, berlari di antara kerumunan manusia.

Tanpa pikir panjang, Sakura ikut menerobos kerumunan dan berlari mengejar lelaki berambut merah. Lelaki itu berlari cepat sekali, Sakura tampak tak peduli dengan apapun kecuali berlari kencang untuk menangkap si pencopet, meskipun dirinya memakai rok rimple di atas lutut.

"HEY!!"

Sakura berteriak memanggilnya, meskipun ia tahu si pencopet tidak mungkin akan menyahut.

"Brengsek!"


Sakura dan pencopet itu saling berkejaran, melewati kerumunan orang-orang yang tengah sibuk dengan urusan masing-masing dan lebih mementingkan ego pribadi.

Si pencopet rupanya tengah mengajak Sakura untuk bermain-main. Ia berlari dengan cepat keluar dari pusat belanja itu dan menuju sebuah tempat yang begitu asing bagi Sakura. Sakura yang sebenarnya mulai tidak menyukai permainan itu hanya bisa berlari untuk menyelamatkan hidupnya—uang.

"Hey!!!!!! STOP!!!!!!!" teriak Sakura. Seharusnya ia kesulitan berlari karena rok yang ia gunakan, tapi kenyataannya tidak begitu. Sakura berlari sangat cepat.

Sakura terus berlari hingga tidak menyadari dirinya sudah melewati gang-gang sempit dan sepi. Gang terakhir yang ia lewati tampak lengang, Sakura mempercepat larinya dan menemukan laki-laki berambut merah itu tengah memanjat sebuah tembok tua. Itu adalah satu-satunya jalan untuk keluar dari gang yang ternyata buntu.

"Hey kau!"

Si pencopet tidak mengubrisnya, ia hanya menoleh sebentar pada rok Sakura dan menyeringai meremehkan.

Wajah Sakura memerah karena kesal.

"Kau kira aku tidak bisa memanjat HAH?!"

Si pencopet lalu memanjat tembok pembatas itu yang tingginya hampir dua meter dengan bantuan tumpukan kardus serta tong sampah yang tertutup. Sakura tidak mau kehilangan jejak lalu segera menyusul si copet yang sudah turun.

Ddengan susah payah menyeimbangkan tubuhnya di atas pijakan sempit dan agak keropos. Tubuh kecilnya terkatung-katung di atas tembok dengan setengah tengkurap. Rok yang ia gunakan sedikit tersingkap. Sakura bersiap melompat ketika suara aneh menarik perhatiannya.

BLITZ!!

Sakura mengedipkan matanya. Beberapa kilatan menyorot ke arahnya.

BLITZ! BLITZ!

Segera saja Sakura sadar ketika menatap ke bawah, seorang lelaki tengah memotret objek yang menurut Sakura ada pada sosok tubuhnya, tepatnya ke arah.. Umm.. roknya mungkin.

Sakura mendelik kaget ketika menyadari dirinya sedang dalam posisi sangat memalukan. Sakura panik dan terpeleset, hingga ia…

BUG!

Jatuh.

"Ughh!"

Itu bukan suara Sakura, melainkan milik seorang lelaki. Sakura mendelik kaget ketika menyadari dirinya jatuh di atas lelaki itu. Lelaki itu membuka matanya yang ternyata berwarna hitam pekat, wajahnya yang terkesan eksotis terparas pada garis tulang yang khas. Ia tampak mengernyit menatap Sakura yang masih menindihnya.

Sakura bergegas mengangkat tubuhnya dan terlihat salah tingkah, tetapi ia segera mengubah ekspresinya menjadi ekspresi marah ketika menatap kamera yang dipegang si lelaki itu.

"Apa kau baru saja memotret celana dalamku?!" Sakura tidak bertanya, tepatnya menjustifikasi. Ia mengambil kamera si lelaki lalu membantingnya sekuat tenaga hingga remuk.

Lelaki itu ingin memprotes tetapi Sakura sudah lebih dulu menyemburnya.

"Kau baru saja melakukan tindakan pelecehan! Seharusnya kau berterima kasih aku tidak menuntutmu di pengadilan!" kata Sakura berang. "Karena sekarang aku harus pergi untuk mengejar pencopet yang mengambil SEMUA UANGKU!! Brengsek!!"

Sakura mengacuhkan lelaki yang tampak ingin memprotes itu dan bergegas melanjutkan pencariannya. Ia terus berlari dan mengacuhkan suara yang sepertinya memanggilnya.

Entah karena semua orang berkumpul di sekitar Monastiraki Square dan Plaka atau memang karena gang ini termasuk gang yang sepi, hingga tak ada seorangpun yang terlihat di tempat ini. Hal ini mau tak mau mengusik Sakura juga, ia bisa saja tersesat dan tak menemukan jalan pulang, dan yang terparah adalah gagal menangkap si copet.

"Bahkan di kota semodern Athena!" Sakura mengutuk dirinya sendiri.

Ia berhenti sebentar untuk mengatur napasnya, memegangi perutnya dan menatap seorang lelaki yang muncul di depannya. Sosok yang sangat Sakura kenali. Ia mendongak dan menatap lelaki itu.

"Kau!" Sakura mendekat dan mencengkram kerah bajunya. "Mana dompetku?"

Lelaki berambut merah itu diam saja, ia kemudian menyeringai dan mencengkram kedua lengan Sakura.

"Elkystikés korítsi,"* katanya. Matanya yang cokelat menelusuri setiap bagian tubuh Sakura, kemudian berhenti di bibir Sakura. Lelaki itu mencondongkan tubuhnya dan berniat mencium Sakura. Gadis ini berusaha melawan, namun sia-sia. Ia tak cukup kuat untuk melepaskan diri, Sakura sudah merasakan napas lelaki ini menyapu wajahnya, tinggal beberapa centi lagi dan..

"Hey!"

Seorang pahlawan datang, yeah.. Pahlawan penyelamat Sakura.

"Tha kánete mazí tou?"* katanya dalam bahasa yang sama dengan si rambut merah. Sakura menatap 3 lelaki asing yang datang mendekati mereka. Seorang berambut perak panjang dan berkacamata menyeringai menatapnya, yang kedua berambut pirang panjang dan yang ketiga berambut jingga cerah dan memiliki banyak tindikan di wajahnya.

" Panémorfo,"* kata yang berambut perak, dari caranya bicara kelihatannya ia tidak berniat menolong.

Sakura merasa merinding ketika ketiga lelaki itu menatapnya dengan liar, seolah-olah ia adalah mangsa yang sudah lama mereka buru. Dan sekarang adalah waktu yang tepat untuk memangsanya.

Lelaki berambut merah masih memeganginya dengan erat, ia hanya menatap setiap gerakan yang dibuat oleh ketiga lelaki itu, jelas ia tampak tidak senang mereka merecoki 'gadisnya'.

" Fýge apó do̱! "* perintah si rambut oranye pada lelaki berambut merah, ia tampak berang dan melepaskan Sakura dan..

BUG!

Ia meninju si rambut oranye hingga darah segar mengucur lewat hidungnya. Lelaki berambut oranye mengelap darah di hidungnya dan gantian meninju wajah si rambut merah, mereka saling hantam dan tendang tanpa mempedulikan yang lain. Sementara kedua temannya tertawa menonton perkelahian mereka, Sakura mengambil kesempatan ini untuk kabur, ia menyelinap diam-diam dan berlari cepat sekali hingga seseorang menariknya dan kembali menjepitnya ke tembok gang yang dingin.

" Thélete na prospathí̱soun na xefýgoun?"* katanya, ia adalah lelaki berambut perak yang memakai kacamata berbingkai bundar, napasnya yang berbau alkohol menyeruak melewati hidung Sakura.

"Hey! Let go!" Sakura mendesis mengancam, namun hanya ditanggapi seringai mengejek dari si rambut perak.

"Hahaha! Thélei na afí̱sei na páei!"* si rambut perak tertawa pecah sambil memegangi perutnya. "Haha... Ha.."

DUG!!

Hening.

Semua mata menatap ke sumber suara, tepatnya ke arah tong sampah yang penyok dan isinya tumpah ruah.

" Poios tha sas!"*

DUG!

"HEY!..."

DUAK!!

Sebuah batu menghantam bahu kanan lelaki berambut perak. Ia mengumpat dan meringis kesakitan memegangi bahunya yang terasa remuk.

Sakura mengamati perlahan sosok yang memperlihatkan dirinya. Mata Sakura membulat tak percaya lalu menatapnya tajam.

"HEY YOU!!" ujar si rambut perak.

"Hn," jawab sosok itu.

Sakura semakin ingin meyakini siapa orang itu, "Kau siapa?"

Seorang lelaki muncul lambat-lambat dari kegelapan, menampakkan wajahnya yang pucat dan tampan. Matanya yang tajam menatap lelaki berambut perak, rambutnya yang hitam pekat tertiup angin dingin dan melambai perlahan.

"Hallo," katanya.

Sakura melongo.

Dan tanpa pikir panjang, ketiga lelaki asing itu mengeroyok lelaki berwajah pucat. Mereka mengabaikan lelaki berambut merah yang sudah terbaring tak berdaya, mereka saling pukul, saling tendang dan berakhir dengan kemenangan lelaki berwajah pucat.

Lelaki itu memukul mereka hingga pingsan kemudian menghampiri Sakura yang terlihat masih shock.

"Kau tak apa?" tanyanya.

Sakura masih diam.

Segala pikiran bodoh terbest di otaknya sesaat setelah menyadari siapa sosok itu. Yah—sosok itu adalah orang yang beberapa waktu lalu memotret pakaian dalam Sakura, kehilangan kameranya karena dibanting Sakura, dan yang paling penting telah menolong Sakura. "S.. Siapa kau?" tanya Sakura tergagap.

"Namaku Sasuke Uchiha," jawabnya.


*To Be Continued*


Elkystikés korítsi: Gadis yang menarik

Tha kánete mazí tou?: Mau kau apakan dia?

Panémorfo,Cantik sekali,

Fýge apó do̱!: Pergi dari sini!

Thélete na prospathí̱soun na xefýgoun?: Mau coba kabur?

Thélei na afí̱sei na páei!: Dia ingin kita melepaskannya!

Poios tha sas!: SIAPA DISITU?!


Seville Amane's Note

Maaf untuk apdet yang lama, masing-masing di antara kami sedang sibuk-sibuknya. Shirayuki sedang hamil dan Sheva tengah sibuk dinas di luar kota untuk persiapan kelahiran anak mereka berdua (bercanda).

Kalau yang kemarin itu sebagian besar dikerjakan oleh Shirayuki, nah sekarang Shevalah yang mendominasi. Terlihatkan perbedaannya? Apa ya? Entahlah *plakk*

Terima kasih untuk yang sudah review dan segala komentarnya.

Review lagi ya?! ^_^