Disclaimer : Masashi Kishimoto-san, a man who very genius has created Naruto

Love is Pain is belongs to Hikari ^^

Rated : T +

Pair : Naruto U. & Sakura H.

Genre : Romance, Hurt/Comfort

Warning : OOC, Gaje, Typo, dll

Sebelumnya Hikari mau minta map dulu nie buat para readers dan reviewers yang udah setia banget baca dan review fic abal ini, karena mungkin setelah ini Hikari akan lamaan dikit apdetnya (dikit doang koq). Soalnya Hikari mau ada Ujian Praktek dan Ujian Sekolah… Harap maklum yah..

Maaf juga kalau Hikari nggak bisa bales review kali ini, mungkin akan Hikari bales chap depan, tetep review yah! Supaya Hikari makin semangat apdet ficnya! Makasih banyak buat karinuzumaki senpai yang udah memberi semangat buat Hikari! Juga untuk Reviewer lain makasih udah review! Hikari akan balas reviewnya chap depan!

Mau promosiin juga fic terbaru Hikari, judulnya Taiki. Baca ya, review kalau berkenan,,

Oke deh, selamat membaca!

Summary :

Naruto dan Sakura akhirnya menyadari perasaan mereka masing-masing. Mereka saling mencintai. Masalah terjadi saat Naruto mengumumkan hubungannya dengan Sakura di depan Sasuke. Apakah reaksi Sasuke?

Love is Pain

Chapter 3

Sakura's POV

Kicau burung yang merdu di pagi hari dan semburat sinar mentari menyadarkanku dari tidur panjangku. Aku menggeliat dan merasakan sepasang tangan kekar memeluk pinggangku. Aku menoleh ke samping. Naruto, masih terlelap dengan damai. Aku tersenyum bahagia. Sangat. Aku menarik selimut putih tipis yang menutupi seluruh tubuhku yang polos tanpa sehelai benang pun.

Gerakanku yang terbilang pelan itu ternyata membangunkan pria yang tidur di sampingku. Ia mengerang dan menarikku yang akan beranjak dari ranjang ke dalam pelukannya. Meskipun matanya masih terpejam.

"Naruto! Lepaskan ah…! Aku mau mandi!"Aku meronta-ronta dalam pelukannya. Naruto tertawa kecil, lalu membuka matanya. Ia membenamkan wajahnya di bahuku.

"Hmm, kau wangi sekali saat pagi hari…"Ia menghirup aroma tubuhku. Napasnya yang panas menggelitik leherku. Aku membenamkan wajahku di dadanya yang bidang.

"Kau juga…"ujarku semakin membenamkan wajahku dalam dadanya. Rasanya sungguh nyaman. Damai. Aku suka sekali seperti ini.

"Hehehe, sudah siang. Kau tidak ke rumah sakit?"Ucapannya menyadarkanku. Aku segera bangkit dari dadanya dan meraih-raih bajuku yang tergeletak asal-asalan di sembarang tempat.

"Astaga! Aku akan terlambat! Uuh, ini gara-gara kau…!"Aku berusaha memakai kembali baju-bajuku. Aduh, kenapa sulit sekali mengancingkan kemeja ini!

Naruto terkekeh geli dan bangkit dari ranjang. Ia menepis tanganku yang berusaha mengancingkan kemejaku. "Naruto! Aku sudah terlambat!"teriakku lantang.

"Aku membantumu, Sakura-chan…"Ia tersenyum lalu mengancingkan kancing kemejaku secepat kilat, aku merengut malu.

"Kau manis sekali, hmm…"Ia merangkulku lagi, menciumi tengkuk leherku. Sesekali meninggalkan bekas merah di leherku.

"Naruto! Kalau ada yang lihat bekasnya bagaimana?" Aku menggerutu padanya, mendorongnya menjauh dariku dan memakai rokku secepat kilat.

Ia mengangkat bahu, "Katakan saja itu dariku…". Aku melotot padanya, dan ia langsung menunduk sambil menyembunyikan tawa tertahannya.

Aku mandi secepat kilat setelah itu. Kamar mandi Naruto ternyata sangat bersih dan harum. Bau tubuhnya menyeruak di sana-sini. Aku menganggapnya sebagai aroma terapi.

Sesudah mandi, aku langsung keluar dari kamar mandi dan mendapati Naruto sudah mengenakan pakaiannya dengan rapi. "Kau mau kemana?"tanyaku, sambil mengusap-usap rambutku yang basah.

"Mengantarmu?"Ia menjawab sambil tersenyum dan membantuku mengeringkan rambutku. "Kalau aku memakai Rasengan mungkin akan lebih cepat kering…"Ia masih mengusap-usap rambutku dengan handuk.

"Tentu saja, dan rambutku akan jadi botak nantinya…"Aku mengibaskan rambutku yang sudah setengah kering dan menyisirnya. Naruto menggenggam tanganku dan mengusap-usap punggung tanganku.

"Aku masih tak percaya kalau sekarang kau milikku, Sakura-chan…"Ia terlihat sangat sedih dan senang di saat bersamaan. Aku mengelus-elus pipinya, tepat saat ia menarik tanganku ke arahnya. Aku langsung tertarik maju, dan ia mengecup bibirku.

Kami berciuman beberapa saat. Saat ia melepaskan ciumannya, ia menyeringai. " Kau ini…" Aku mendorongnya menjauhi tubuhku. "Aku terlambat. Tsunade baa-chan pasti marah padaku"Aku mendengus kesal.

"Oh, kelihatannya dia tidak akan marah padamu…"Naruto menggumam. Aku mengernyit bingung, "Bagaimana kau tahu?"tanyaku.

Naruto menunjuk ke arah pintu. Tsunade baa-chan dan Shizune melongo melihatku. Aku pun tersadar kalau aku baru mengenakan handuk untuk menutupi tubuhku dan Naruto sedang merangkul pinggangku, meskipun sedikit menjauh karena kudorong tadi. Penampilan kami ini tentu saja tidak pantas dilihat.

"Eh, sepertinya kita masuk di saat yang salah, Tsunade baa-chan…"Shizune terlihat malu. Aku ingin sekali berteriak karena benar-benar malu dilihat dalam keadaan begini. Tapi tangan Naruto di pinggangku sedikit menenangkan.

"Maaf kami masuk tanpa mengetuk pintu. Hanya saja aku mengkhawatirkan Medic-nin yang paling kuandalkan saat ini, karena tak biasanya ia terlambat. Dan kudengar dari Hinata, ia menjengukmu, Naruto?"Tsunade baa-chan berbicara seolah-olah ia tak melihat apapun.

"Itu benar. Ada masalah, Nenek?"Naruto sama sekali tidak mengindahkan tatapan sinis Tsunade baa-chan padanya. Pastilah Tsunade baa-chan menyalahkan Naruto karena keterlambatanku.

"Tidak. Hanya saja tak seharusnya kau membuat Medic-nin yang memiliki tanggung jawab besar di Konoha terlambat menjalankan tugasnya…" Tsunade baa-chan masih menekankan nada menghakimi pada setiap kata yang diucapkannya.

"Tsunade baa-chan, ini bukan salah Naruto. Aku terlambat bangun. Gomenasai.."Aku berusaha meredamkan api kemarahan di antara Naruto dan Tsunade baa-chan yang membuat udara terasa panas.

"Hmm, baiklah. Sebaiknya kau segera mengenakan pakaian yang pantas dan…"Tsunade baa-chan menghentikan ucapannya sesaat untuk menatap Naruto. "Dan semoga hubungan kalian bertahan…"Tsunade baa-chan langsung melangkah keluar apartemen, diikuti Shizune.

"Hhh.."Aku langsung terduduk lemas. Naruto terkejut melihatku terduduk lemas. "Sakura-chan? Kau tidak apa-apa?"Ia duduk di sampingku.

"Aku tidak apa-apa, hanya mengalami serangan jantung yang aneh…"tukasku.

"Gomen ne, sepertinya aku benar-benar membuatmu terlambat ya?"Naruto menunduk menyesal. Aku menghela napas dalam-dalam lalu meraih dagunya untuk mendongakkan kepalanya.

"Ini bukan salahmu. Jadi aku akan segera berpakaian dan kau mengantarku?"

End of Sakura's POV

Normal POV

"Naruto mengantarmu?! Apa maksudnya ini?! Ayo, jelaskan padaku Jidat!"Suara Ino menggema di seluruh penjuru rumah sakit.

Sakura buru-buru menutup mulut Ino dengan tangannya. "Suaramu jangan keras-keras! Apa kau mau membunuhku, hah?!"Sakura berteriak kesal pada Ino.

"Hmmph…"Ino tidak mampu melepaskan pegangan tangan Sakura di mulutnya. Sakura melepaskan tangannya perlahan-lahan saat Ino mulai kehabisan napas.

"Hah..Justru kau yang membunuhku! Kau membuatku tak bisa bernafas, Jidat!" Ino berteriak. Ia mengusap-usap mulutnya.

"Jadi, ayo cepat jelaskan! Jelaskan!"Ino tampak antusias. Sakura menghela napas. Kentara sekali ia bingung apa yang harus dijelaskannya pada Ino.

"Emm… Itu…"Sakura menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ino tampak mulai tak sabar menunggu penjelasan Sakura.

"Biar aku yang menjelaskan, Sakura" Naruto mendadak muncul di belakang Sakura dan Ino. "Na..Naruto?"Sakura terlihat terkejut saat Naruto mendadak memeluknya dari belakang.

Ino hanya melongo melihat sahabatnya dipeluk seorang pria di hadapannya. "Apakah sudah jelas?"Naruto menyeringai pada Ino.

Sasuke's POV

Ribut-ribut apa di rumah sakit sepagi ini? Cih, seandainya Sakura tidak menyuruhku mengantar Hinata kemarin… Aku takkan babak belur begini karena Neji mengira aku berbuat macam-macam pada Hinata. Sekarang aku harus ke rumah sakit. Beberapa orang berlarian di sekitarku. Mereka menuju kantor Medic-nin yang terletak paling ujung dari seluruh koridor rumah sakit. Lama-lama membuatku penasaran juga.

"Kau mendengarnya?"

"Tentu saja! Aku tidak menyangka sama sekali!"

"Mereka memang sangat serasi ya?"

"Akhirnya medic-nin andalan kita menjatuhkan pilihannya…"

Suara-suara orang itu kian membangkitkan rasa penasaranku. Sebenarnya, ada semacam dugaan konyol yang bergaung di kepalaku. Tapi, aku menepisnya. Tidak, tidak mungkin kan?

Aku akhirnya mencapai ruangan itu yang penuh sesak karena dikerumuni banyak orang. Aku tidak mau bergabung dengan mereka. ' Lebih baik aku menunggu kerumunan ini bubar' pikirku. Tapi suara lantang yang sangat kukenal itu mendadak berteriak. Suara Naruto. "Aku tidak mau menyembunyikan ini dari siapapun, karena pada akhirnya aku berhasil memiliki gadis yang kucintai…"

Aku menyeruak masuk ke ruangan itu, berusaha melihat apa yang terjadi. Aku terhenyak mendapati dugaan konyolku menjadi kenyataan. Naruto menggenggam tangan Sakura di tangannya. Mata emerald Sakura berbinar-binar. Ia terlihat sangat senang.

Apa ini?! Ini tidak mungkin kan?! Pasti aku hanya bermimpi. Tidak mungkin kan Sakura dan Naruto…

"Teme?"Suara Naruto mengejutkanku. Aku menoleh ke arahnya. Ia terlihat kaget mendapati diriku ada di ruangan itu. Secepat kilat ia melepaskan genggamannya di tangan Sakura.

Sakura memandangku sedetik, lalu menundukkan kepalanya.

"Oh, jadi begini, Dobe?" Aku menyeringai padanya dan menghambur meninggalkan ruangan itu. Aku bisa merasakan tatapan orang-orang yang bingung melihatku.

"Teme, tunggu!"Naruto mengejarku, aku tak tahu apa yang Sakura lakukan sekarang.

"Untuk apa kau mengejarku, hah?!"Aku berbalik, menggeram marah padanya.

"Gomen ne…"Ia menatap mataku. 'Cih, kau pikir akan semudah itu mendapat maaf dariku?'

"Kau tahu'kan dia alasanku pulang ke Konoha? Lalu kenapa kau merebutnya dariku?!"Aku menarik kerah bajunya. Menatap matanya tajam.

"Aku tak pernah merebutnya darimu! Karena kau tak pernah memilikinya! Tak pernah! Kau meninggalkannya!"Naruto berteriak padaku, menepis tanganku kasar.

"Dia milikku…"Aku menegaskan.

"Tidak, dia milikku. Mungkin dulu dia mencintaimu,Teme. Tapi sekarang dia mencintaiku…"Naruto membantah.

Aku menggeram, berlari secepat kilat dan menghunuskan kusanagiku padanya. Sedikit lagi akan mengenainya, mengenai lehernya.

"HENTIKAAAAAN!!!!"Suara teriakan Sakura membuyarkan segalanya. Kusanagiku berhenti tepat beberapa senti di depan leher Naruto. Aku menoleh ke arah Sakura.

Mata emeraldnya dibanjiri air mata. Untuk siapa air mata itu? Pertanyaanku terjawab saat Sakura berlari menghambur ke arah Naruto. Sakura memeluknya. Memeluk Naruto.

"Jangan,Sasuke… Jangan bunuh Naruto, bunuh saja aku…"Ucapan Sakura menusukku. Sakit. Seratus kali lebih sakit dari puluhan kusanagi menusukku bersamaan.

Naruto menepis kusanagiku yang ada di lehernya dan memeluk Sakura. Ia melompat menjauhiku sambil menggendong Sakura.

"Kau tidak boleh terlibat"Naruto bergumam pada Sakura. Tangannya membelai rambut Sakura, yang seharusnya milikku. Sakura menggeleng. Air mata makin membanjiri pipinya.

"Tidak! Bagaimana mungkin kau bisa berkata seperti itu? Kau tahu aku mengambil andil besar dalam hal ini!"Sakura meronta-ronta dalam pelukan Naruto. 'Kenapa,Sakura? Kenapa sekarang kau mencintai Naruto? Kenapa takdir mempermainkanku?'

Naruto mengelus-elus kepala Sakura, berusaha menenangkannya. Sakura mulai berhenti meronta-ronta. Detik berikutnya, ia terkulai pingsan di pelukan Naruto.

"Sakura?!"Naruto mulai panik. Ia menepuk-nepuk pipi Sakura yang tetap bergeming.

Naruto menoleh ke arahku, "Ini tidak benar, Sasuke… Pertarungan kita hanya akan melukai Sakura… Aku mohon, maafkan aku… Aku yang salah. Aku lah yang memendam cinta pada Sakura dan berjanji pada diriku sendiri untuk menjaganya sampai kau kembali… Ketika kau kembali, aku merasa tugasku sudah selesai… Aku bahagia saat ia bahagia melihatmu kembali. Tapi kemarin, saat ia datang padaku… Maaf, aku tak bisa menahan perasaanku dan ternyata dia juga mencintaiku… Meski aku yakin. Sangat, kalau ia masih memiliki perasaan padamu…"

Aku terdiam. 'Ini bukan salah Naruto ataupun Sakura. Ini salahku yang telah meninggalkan Sakura dan menyia-nyiakan kesempatanku untuk bersama dengannya'

"Aku akan mengantar Sakura pulang. Aku yakin dia sangat letih… Aku akan menemuimu malam ini"Naruto bangkit dan melesat pergi sambil menggendong Sakura.

Aku menaruh kembali kusanagiku. Aku menghela napas. Perlahan-lahan rintik hujan turun. Aku menengadahkan kepalaku. 'Apa langit menangis untukku?'

TBC

Hweee, Sasukenya OOC banget yah? Hikari sedikit pusing nih memikirkan Hurtnya. Maaf ya, bukan maksud Hikari membashing Sasuke kok… Bener dhe. Sasuke kan chara favorit Hikari.. Bila berkenan, Review plissss….