Disclaimer : Masashi Kishomoto-san… I Love your imagination, sensei…
Love is Pain is belongs to Hikari ^^
Rated: T
Pair : Naruto U. & Sakura H.
Genre : Romance, Hurt/Comfort
Warning : OOC, Typo, Alur kecepetan, dll
Akhirnya Hikari datang untuk mengapdet fic abal ini… *digeplak* Hehehe, gomen ne yah karena apdetnya telat sekalii.. Hikari baru saja menyelesaikan segala tetek bengek urusan sekolah,, dan tengah berharap-harap cemas mengenai kelulusan saia,,,
Sekali lagi Hikari minta maaf dengan sangat… Hikari nggak bisa ngebales ripiu secara PM, dan juga langsung melalui fic ini…. Gomen, Gomen.. Meskipun saia gak bisa bales ripiu nya sekarang, tolong tetap review yah…
~ Happy Reading~
Summary :
Naruto dipaksa memilih pilihan yang sama beratnya. Menyerahkan Sakura pada Sasuke atau mempertahankan Sakura? Sasuke berusaha membuat Naruto memilih pilihan pertama. Apakah pilihan yang akan diambil Naruto?
Love is Pain
Chapter 4
Naruto's POV
Angin malam Konoha hari ini terasa sangat berbeda. Segalanya terasa lain saat ini. Langit malam Konoha yang biasanya dihiasi banyak bintang, kini gelap gulita. Hanya sinar rembulan yang tertutup awan meremangi kamar Sakura. Hhh… Sakura… Tertidur lelap. Wajahnya tampak tidak tenang. Ini membuatku sedikit gelisah karena harus meninggalkannya dan tidak bisa menemaninya. Aku mengecup keningnya sebelum melangkah keluar dari kamarnya.
Aku teringat janjiku pada Sasuke untuk menemuinya malam ini. Aku sempat membayangkan apa yang akan terjadi. Pertarungan? Entahlah, aku tidak bisa menerka-nerka apa yang akan dilakukan Sasuke. Aku menghela napas panjang, berusaha tidak terlalu memikirkannya.
Aku melamun dan tidak menyadari kakiku telah membawaku ke halaman belakang rumah sakit. Jantungku berdegup kencang. Aku takut mengetahui reaksi Sasuke. Tadi saja saat ada Sakura, ia sudah mau membunuhku, apalagi sekarang. Langit yang gelap tidak membantuku untuk menemukan sosoknya di kegelapan seperti ini. Ini menyebalkan.
"Hn…"Gumaman khasnya terdengar dan membantuku menemukannya. Sasuke duduk di rerumputan di pojok halaman. Wajahnya tidak terlihat, tertutup oleh kegelapan. Padahal aku ingin melihat wajahnya, mengetahui apa yang dirasakannya sekarang.
"Sasuke, aku datang…"tukasku, berjalan menghampirinya.
"Berhenti. Jangan mendekat"Ia menginterupsi langkahku. Aku langsung membatu di tempatku.
"Jangan mendekat, Dobe. Jangan pernah mendekatiku lagi…"Sasuke melanjutkan ucapannya, menohokku langsung ke jantung.
"Jangan bersikap seperti ini padaku, Teme. Aku bisa menjelaskannya"Aku nekat melangkah mendekatinya, bisa kurasakan ia menatapku tajam, meskipun aku tidak bisa melihat wajahnya.
"Cih,, pengkhianat!"Sasuke meludah ke arahku. Nyaris mengenai kakiku. Aku memandangnya letih, situasi ini sungguh tidak mengenakkan.
"Teme, aku mohon… Dengarkan dulu penjelasanku"Aku sedikit memohon padanya, sungguh sulit memohon pada seorang Uchiha.
Sasuke tidak menjawab. Ia bangkit dari rerumputan dan berjalan menghampiriku. Sinar rembulan perlahan menyinari wajahnya dan aku terkesiap. Matanya merah. Bukan onyx. Sharingan. Genjutsu.
Mendadak halaman belakang rumah sakit berubah menjadi padang rumput yang gersang, langit yang hitam kelam berubah menjadi semerah darah. Aku memijat keningku, merasa lelah. Sasuke berdiri di hadapanku sekarang, dengan kusanagi di tangan kirinya.
"Kau mau membunuhku?"tanyaku, entah kenapa aku bisa begitu tenang. Ini tidak seperti diriku. Sasuke hanya diam, tak menjawab.
"Bukankah kita adalah sahabat?"Mendadak ia mengucapkan kalimat yang meruntuhkan ketenanganku.
Kali ini aku yang tidak menjawab, aku memalingkan wajahku darinya. Aku menatap tumbuhan kering dekat kakiku.
"Kita sahabat, tapi kenapa kau merebut Sakura dariku?"Sasuke melanjutkan ucapannya.
"TIDAK! AKU TIDAK MEREBUTNYA!"Aku menyangkal, aku tahu semua ucapannya benar, tapi aku menyangkal. Tidak. Ini tidak benar. Lututku melemas dan mendadak aku jatuh berlutut di hadapannya.
"Jangan menyangkal. Kau tahu semua yang kuucapkan benar…"Sasuke mengintimidasi semua ucapanku.
"Sasuke, aku tahu kau kecewa padaku. Aku juga merasakannya. Maaf, aku sungguh minta maaf padamu…"Suaraku bergetar, aku bisa merasakan kegalauan yang amat sangat di hatiku. Aku benar-benar berharap Sasuke akan memaafkanku, meskipun kemungkinannya nol persen.
Sasuke mendekatiku, kusanaginya ia lempar menjauh. Membuatku mengernyit bingung. Bukankah ia akan membunuhku? Tanpa Kusanagi?
"Aku akan memaafkanmu, Dobe, jika kau menyerahkan Sakura padaku…"
End of Naruto's POV
Sakura's POV
"Sakura! Sakura!"Suara teriakan Ino dari luar rumah menyadarkanku. Aku bangkit dari tempat tidurku, saat mendadak kepalaku terasa sangat sakit. "Aaaargh…"Aku meringis, cukup lantang hingga Ino mendengarnya.
"Sakura? Kau tidak apa-apa? Sakura, buka pintunya!"Ino menggedor-gedor pintu rumahku. Aku berusaha bangkit dan menahan sakit di kepalaku, sambil menghampiri pintu rumahku. Aku berhasil membukanya, dan langsung jatuh ke pelukan Ino.
"Sakura? Astaga, kelihatannya kau benar-benar sakit yah? Tsunade baa-chan mengkhawatirkanmu karena insiden kemarin…"Ino memapahku ke ranjang.
"Insiden?"Aku memijat keningku, dan teringat.
"Naruto! Dimana dia? Sasuke?" Aku panic dan mengguncang-guncang bahu Ino. Kemarin sepertinya aku pingsan dan… Ah, aku tidak ingat apa-apa lagi. Tapi, bagaimana dengan Naruto dan Sasuke setelah itu? Apakah mereka bertarung lagi?
"Tenangkan dulu dirimu, Sakura. Sepertinya kondisimu tidak begitu baik sekarang"Ino menyapukan tangannya di dahiku, mencoba mengukur suhu tubuhku.
"Kau demam, Sakura, dan tubuhmu berkeringat dingin. Aku takkan menginjinkanmu keluar dari rumah sekarang"Ino menatapku cemas, tak menggubris gelengan kepalaku.
"Tidak,Ino! Aku harus menemui Naruto! Bagaimana keadaannya? Apakah dia…"Ucapanku terpotong saat aku mendengar pintu rumahku diketuk pelan.
"Aku akan membukanya"Ino meninggalkanku yang terduduk di kaki ranjang, dan berjalan menghampiri pintu rumahku. Ia membukanya.
Lalu tampaklah pria yang sangat kurindukan. Menatapku cemas dari balik pintu. Ia membawa seikat bunga berwarna-warni di tangan kanannya.
"Naruto…"Aku bangkit dari kaki ranjang dan berlari menghampirinya. Tapi langkahku goyah dan aku nyaris jatuh terjerembab jika saja tangannya yang besar dan kekar tidak menangkapku.
"Hei, bodoh! Kau sedang sakit kan? Kenapa lari-larian seperti itu?"Naruto merangkulku dengan hangat. Aku bisa mencium aroma tubuhnya yang kurindukan.
"Hikss… Na…Naruto"Aku tak mampu menahan air mata yang menggenang di pelupuk mataku, aku menangis begitu saja. Air mataku membasahi bajunya. Ia sedikit kalut mendengarku menangis, tapi ia tak berkata apa-apa dan hanya memelukku semakin erat.
"Ino, bisa tinggalkan kami berdua? Biar aku yang merawat Sakura"Suara Naruto bergema di telingaku. Dari balik bahu Naruto, aku bisa melihat Ino memandang kami sesaat dan berjalan keluar dari rumahku.
Saat Ino pergi, Naruto langsung meraupku dalam gendongannya. Ia menggendongku ke kamar dan membaringkanku ke ranjang. Ia tersenyum tipis padaku dan mengusap-usap keningku.
"Aku membawakanmu bunga, eh… tapi sepertinya jatuh di ruang tamu tadi" Ia mengernyit bingung mencari-cari bunganya.
"Tidak apa-apa"tukasku lemah, entah kenapa aku merasa sangat lemah dan ingin menangis lagi. Air mataku menetes perlahan.
"Hei, kenapa kau menangis lagi?"Naruto langsung menyambutku ke dalam pelukannya, ia mengelus-elus punggungku, berusaha menenangkanku.
"Naruto… Aku takut terjadi sesuatu padamu, aku benar-benar takut…"Aku menumpahkan semua kegelisahanku. Naruto mendesah, dan menjauhkan dirinya dariku agar bisa menata wajahku.
"Sakura, jangan mengkhawatirkanku. Aku tidak apa-apa, kau sedang sakit dan itu benar-benar membuatku sedih, melihatmu seperti ini…"Naruto mengusap air mata di pipiku dan mencium pipiku. Lama dan hangat. Menenangkan.
"Sekarang, aku akan membeli bubur dulu untukmu ya? Tunggulah sebentar disini…"Naruto beranjak meninggalkanku. Aku menahannya, menarik tangannya.
"Tidak usah, aku akan membuatnya sendiri, tetaplah disini…"Perlahan aku bangkit dari ranjangku, tapi kakiku yang lemas tidak mau bekerja sama denganku. Baru beberapa langkah, aku sudah limbung dan berhasil jatuh ke pangkuan Naruto.
"Bagaimana bisa kau membuat bubur kalau berdiri saja tidak bisa? Sudahlah, aku akan membuatkan bubur untukmu… Aku takkan meninggalkanmu sendirian sekarang" Naruto mengetahui kekhawatiranku, ia membaringkanku di ranjang dan menyelimutiku.
Naruto memberiku isyarat untuk tidur, dan aku memejamkan mata saat ia melangkah keluar dari kamarku. Samar-samar aku bisa mendengar suara berisik dari dapurku sebelum aku jatuh terlelap.
OoOoOoOoOoOoOoOoOoO
Usapan tangan Naruto yang hangat dan harum bubur membangunkanku. Mataku mengerjap-ngerjap sebelum aku bisa benar-benar melihat sosok Naruto yang tengah duduk di sampingku.
"Kau sudah bangun? Ayo makan…"Naruto menyodorkan mangkuk besar dengan bubur hangat di dalamnya. Aku menatapnya sesaat.
"Kenapa? Tenang saja, buburku rasanya tidak seaneh yang kau kira. Selama ini kan aku tinggal sendiri, selain ramen ya makananku ini…"tukasnya meyakinkanku.
"Terima kasih…"Aku tersenyum tipis padanya, dan semburat merah muncul di sekitar pipinya. Aku meraih mangkuk itu dari tangannya dan mulai menyendok bubur itu.
"Hati-hati, masih panas" Naruto memperingatkanku dan menatapku saat memakan bubur buatannya. Ada sesuatu di mata biru sapphirenya, sesuatu yang tak bisa kujelaskan.
Aku melahap habis bubur buatannya dalam beberapa menit, di luar dugaan bubur buatannya cukup lezat. Naruto mengambilkanku obat setelah mencuci mangkuk bubur itu. Ia juga mengambilkanku segelas air putih.
"Aku merepotkanmu ya?"tanyaku, merasa sedikit tidak enak saat ia muncul di pintu kamarku dengan segelas air putih dan obat di tangannya.
Ia terkekeh, "Kau kan sudah sering merawatku ketika aku sakit, sekarang gentian aku yang merawat kekasihku ini…"
Aku meminum obat dari Naruto itu dan efeknya langsung terasa. Aku mengantuk. "Hoaam…"Aku menguap, dan menarik selimutku untuk menutupi tubuhku. Entah kenapa masih terasa dingin.
"Dingin ya?"Naruto terkekeh geli dan naik ke atas ranjangku, ia menyusupkan tubuhnya ke dalam selimutku. Aku bisa merasakan tangannya merangkul pinggangku.
"Ternyata ini lebih efektif…"tukasku sambil memeluknya erat-erat. Tubuhnya mengalirkan rasa hangat ke tubuhku yang menempel padanya. "Hmmm…"Naruto bergumam dan mengecup puncak kepalaku. Ketika aku mendongak, ia melumat bibirku dengan cara yang begitu memabukkan. Aku merasa sangat hangat.
Ciumannya hanya sebentar, ia melepaskannya dan mengusap-usap punggungku, "Tidurlah…"gumamnya.
Aku tersenyum dan memejamkan mataku, tanpa melepaskan rangkulanku dari tubuhku. Naruto juga tetap memeluk pinggangku. Aku merasa sangat nyaman, dan jatuh tertidur lebih cepat.
End of Sakura's POV
Naruto's POV
Sakura sudah tertidur lelap. Wajahnya berbeda dari kemarin, sekarang jauh lebih tenang. Aku menelusuri wajahnya dengan jari telunjukku. Takjub melihat kesempurnaan yang dimilikinya. Pantas saja banyak yang menyukainya.
Aku melepaskan rangkulanku dari pinggangnya dan melepaskan tangannya dari pinggangku. Perlahan agar dia tak terbangun.
"Maafkan aku, Sakura…"gumamku pelan, hingga yakin dia takkan mendengarnya. Aku berlutut di samping ranjangnya dan mencium keningnya, untuk terakhir kalinya. "Aishiteru.."
OoOoOoOoOoOoOoOoOo
"Pergi ke Suna selama beberapa tahun? Apa kau gila?"Tsunade baa-chan menatapku tak percaya, kilat kemarahan membayang di kedua bola matanya.
"Ada beberapa hal yang ingin kuurus. Tolong, ijinkan aku pergi"Aku memohon. Kuharap Tsunade baa-chan akan mengijinkannya.
"Aku tahu ada alas an kenapa kau melakukan ini, Naruto. Bisa kau jelaskan padaku?"Tsunade baa-chan mulai melunak padaku, seolah-olah ia tahu benar kenapa aku melakukan hal ini.
"Tidak ada yang bisa kujelaskan saat ini…"Aku memandang ke luar jendela, menatap pemandangan Konoha saat malam hari.
Tsunade memperhatikan tindak tandukku, dan menghela napas panjang, "Aku tahu sifatmu yang keras kepala itu Naruto, aku tahu betul aku takkan bisa melarangmu melakukan apa yang kau inginkan. Jadi, pergilah…"
"Terima kasih"Aku tidak tersenyum dan melompat kegirangan, seperti yang biasa kulakukan jika Tsunade mengabulkan permintaanku. Aku hanya menunduk hormat padanya dan bergegas meninggalkan kantor Hokage.
Aku merasa benar-benar kosong, merasa bukan seperti diriku. Aku merasa jiwaku kutinggalkan bersama Sakura. Tapi aku tak bisa mundur lagi, ini adalah keputusan yang telah kubuat.
Aku akan meninggalkan Konoha. Aku akan meninggalkan… Sakura…
To Be Continued
Huwee, tambah aneh ya ceritanya? Gomen ne… Kalau berkenan, tekan tombol biru di bawah ya… Oh ya, sekedar pemberitahuan, aku udah mengaktifkan anonymous review ku, jadi yang gak login bisa review. Sebenarnya aku takut ntar ada yang ngeflame tapi sejauh ini sih belum…
Review yaaaa….
