Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto-san ^^

Love is Pain is belongs to Hikari Uchiha Hatake

Rated : T

Pair : Naruto U. & Sakura H.

Genre : Romance, Hurt/Comfort

Warning : OOC, Typo, dll

Holaa, minna-san! Hikari kembali datang… Jeng jeng jeng… *digebuk karena lebay* Hikari bakal cepet apdet karena minggu-minggu ini Hikari libur.. Banyak yang gak suka yah sama Sasuke? Gomen ne… Saia memang menjadikannya tokoh antagonis disini… Bakal ada flashback pembicaraannya dengan Sasuke di chap lalu yang Hikari skip.. Mmm,, kalau berkenan review yah,,, ga login juga bisa kok… Makasih banyak buat Masahiro senpai yang udah ngasih saran,, udah Hikari perbaiki nih.

Sebelumnya Hikari mau bales review buat yang ga login,,

~Haru glory

Tenang saja,, saia akan bikin kejutan di akhir chap ini..

~Someone males login

Saia juga kesel sama Saskay.. Nih udah saia apdet loh…

~Yakusi Fukuu

Alasan kenapa Naruto ke Suna akan dijelaskan di chap ini.. ^^

~minoriuzumakichanLuphNaruSaku

Makasih ya,, nih sudah saia apdet.. ^^ RnR yaa..

~Happy Reading~

Summary :

Naruto meninggalkan Konoha, dia meninggalkan Sakura. Sakura sangat sedih karena Naruto meninggalkannya tanpa sebab. Dan ini membuat Sakura nekat! Tsunade pun akhirnya memberi Sasuke tugas, untuk menjaga Sakura!

Love is Pain

Chapter 5

Ino mendengar kabar itu dari Shizune pagi ini. Kabar bahwa Naruto telah meninggalkan Konoha untuk pergi Ke Suna selama beberapa tahun. " Shizune-senpai, kapan kau mengetahuinya?" Ino langsung menginterogasi Shizune setelah ia memeriksa seorang jounin yang terluka.

Shizune mendesah bingung. Tsunade baa-chan memintanya untuk tak menceritakan hal ini pada siapapun. Apakah ia harus menceritakannya? Tapi… Ino adalah sahabat Sakura, jadi tidak apa-apa kan?

"Aku mendengarnya kemarin malam. Naruto datang ke kantor Hokage dan meminta ijin pada Tsunade baa-chan untuk mengijinkannya pergi. Dia tak mau mengatakan alasannya, dia hanya bilang dia tak bisa menjelaskannya sekarang…" Shizune menjelaskan dengan suara amat pelan. Baginya Ino adalah seorang penggosip, tapi untuk urusan ini, dia yakin Ino takkan menyebarkannya.

Ino menatap Shizune tak percaya, matanya membelalak lebar. "Kau yakin? Apa dia sudah pergi?!" Ino mulai berteriak frustasi. Shizune sedikit kaget melihat sikap Ino, "Hmm, kelihatannya setelah Tsunade baa-chan memberinya ijin, dia langsung pergi".

"Dasar bodoh! Apa yang dia pikirkan?" Ino berlari secepat kilat, meninggalkan Shizune yang masih kebingungan melihat tingkahnya.

OoOoOoOoOoOoOoO

Sakura terbangun tanpa kehangatan dari tubuh pria yang seharusnya tertidur di sampingnya. Ia menggapai-gapai sisi ranjang yang tadi ditiduri Naruto. Terasa dingin. Berarti Naruto telah lama pergi.

"Naruto?" Sakura bergumam, ia menggeletarkan kedua kelopak matanya agar membuka.

Tidak ada siapapun di sampingnya. Kosong. Sepi. Dingin. Sakura mengernyit bingung, kemana Naruto pergi? Kenapa dia tak mengatakan apapun kalau dia akan pergi?

Sakura bangkit dari tidurnya, sakit kepalanya sudah hilang dan tubuhnya tidak selemas kemarin. Ia melangkah mendekati jendela kamarnya dan membukanya. Sinar matahari pagi langsung masuk ke dalam kamarnya, menyinarinya.

Mata emeraldnya menangkap selembar kertas pink, tergeletak di balik bantalnya. Sakura meraihnya, perlahan dan membuka kertas itu. Ia terkesiap mengetahui ini adalah surat dari Naruto.

Sakura chan,,

Maaf, mungkin seharusnya aku tak pernah datang dalam kehidupanmu. Seharusnya aku membiarkanmu bersama Sasuke, seharusnya seperti itu. Aku minta maaf karena harus meninggalkanmu seperti ini. Aku merasa perasaanku padamu telah berubah. Peristiwa kemarin menyadarkanku kalau semua ini adalah sebuah kesalahan, aku minta maaf.

Aku akan pergi ke Suna selama beberapa tahun. Hiduplah berbahagia dengan Sasuke. Maaf. Jangan menungguku.

Naruto

"Tidak, ini tidak mungkin. Tidaaaaak!!! Narutooooo….!!!" Sakura berteriak histeris, pipinya dibanjiri oleh air mata. Ia meremas kertas pink itu dan melemparnya keluar jendela.

Terjadi lagi. Ia ditinggalkan lagi. Hanya saja, kali ini bukan Sasuke yang meninggalkannya. Naruto, pria yang selalu menemaninya selama ini. Meninggalkannya.

"Sakura, ini aku Ino. Bisa aku masuk?" Ino mengetuk-ngetuk pintu rumah Sakura. Sakura berlarian menghambur untuk membuka pintu dan langsung memeluk Ino sambil menangis kencang.

"Sakura? Apa…" Kalimat yang keluar dari mulut Ino terpotong oleh kalimat lain yang keluar dari mulut Sakura.

"Dia meninggalkanku…" Sakura menangis sesenggukan di bahu Ino.

"Kau sudah tahu?" Ino meringis, reaksi Sakura benar-benar sesuai dugaannya.

Sakura tersentak mendengar ucapan Ino, " Kau juga mengetahuinya?"

Ino mengangguk, "Yah, aku baru saja berniat memberitahukannya padamu"

Sakura terduduk lemas, "Tega sekali dia, meninggalkanku seperti ini…"

Ino meraih bahu Sakura, membantunya berdiri. "Tenangkan dirimu, cepatlah mandi. Seandainya kau bisa melihat penampilanmu sekarang…" Ino mendecak melihat penampilan Sakura yang kacau.

"Memangnya siapa yang peduli dengan penampilanku? Sudahlah, tinggalkan aku sendiri…" Sakura mendorong Ino keluar dari rumahnya.

"Tapi…" BLAM! Pintu rumah Sakura telah menutup tepat di depan wajah Ino. Ino menghela napas panjang, mungkin sekarang sahabatnya itu memang benar-benar butuh waktu sendirian.

oOoOoOooOoOoOoOo

Tsunade menghela napas lelah, ini sudah yang kesekian kalinya Sakura absen dari kegiatan rumah sakit. Mendadak ia merasa harus menemui Sakura, sekedar mengetahui apa yang terjadi pada medic-nin didikannya itu. Apalagi ia mendengar kalau Ino yang selama ini paling dekat dan perhatian dengan Sakura sedang pergi membantu Hinata dan Kiba menjalani misi di Iwagakure. Otomatis, tidak ada yang mengetahui kabar mengenai Sakura.

"Shizune, hari ini apakah ada yang harus kukerjakan?" Tsunade menatap Shizune yang sedang mengecek buku jadwalnya.

"Hmm, tidak ada senpai… Pertemuan dengan para tetua Konoha akan diadakan besok dan untuk saat ini, anda bebas" Shizune memberi penjelasan.

"Bagus, sekarang kau ikut aku. Aku akan menemui Sakura sekarang, aku ingin mengetahui keadaannya, ini sudah kelima kalinya dalam minggu ini dia tidak datang ke rumah sakit…" Tsunade mendesah sedih, membuat Shizune sedikit merasakan perasaan simpati pada Sakura. Ia tahu betul, penyebab semua ini adalah kepergian Naruto.

"Ayo, cepat kita berangkat!" Tsunade melangkahkan kakinya keluar dari kantor Hokage, diikuti Shizune yang tergopoh-gopoh mengikuti langkah Hokage kelima itu.

Dengan langkah kaki secepat Hokage kelima, tidak dibutuhkan waktu yang lama untuk sampai ke rumah Sakura. Hanya dalam beberapa menit, Tsunade dan Shizune telah sampai di rumah Sakura.

"Sakura! Buka pintunya!" Tsunade berteriak dengan amat lantang, membuat Shizune harus menutup kupingnya jika tidak ingin kedua gendang telinganya pecah.

Tidak terdengar apapun dari dalam rumah. Ini membuat Tsunade semakin cemas. "Aku akan mendobrak pintunya…" Tsunade bergumam.

"Hee?! Apa tidak apa-apa, senpai?" Shizune terbelalak mendengar ucapan Tsunade.

"Aku tidak bisa membiarkannya, Shizune. Pasti ada yang tidak beres terjadi, tidak mungkin Sakura tidak membukakan pintu untukku…" Tsunade mulai mengambil ancang-ancang dan menendang pintu rumah Sakura hingga hancur berkeping-keping. Ia langsung masuk ke rumah Sakura setelah pintu itu tak lagi menghalanginya.

"Sakura? Dimana kau?" Tsunade memanggil-manggil nama Sakura ke seisi penjuru rumah, sementara Shizune memeriksa semua ruangan. Shizune memekik saat mendapati Sakura terendam dalam bath tub di kamar mandinya.

"Senpai! Sa.. Sakura ada disini!" Shizune menarik tubuh mungil Sakura keluar dari bath tub, tubuh Sakura terasa sangat dingin. Entah sudah berapa lama ia terendam dalam bath tub.

Tsunade langsung menghampiri kamar mandi saat mendengar pekikan panik Shizune. Ia terhenyak mendapati Sakura dalam keadaaan seperti itu.

"Cepat! Bawa dia ke ranjang!" Tsunade berteriak, ia dan Shizune langsung menggotong Sakura ke ranjang.

OoOoOoOoOoOoOoO

Sakura berhasil diselamatkan berkat Tsunade. Tsunade tak bisa membayangkan apa jadinya jika ia tidak memutuskan untuk menemui Sakura hari itu. Kondisi Sakura saat itu benar-benar di ambang hidup dan mati. Tubuhnya membiru karena terlalu lama berada di dalam air dan paru-parunya telah terisi oleh air.

Tsunade tidak mau menghakimi Sakura karena tindakannya itu, tindakan yang bisa dikatakan bunuh diri. Ia tak mau membebani lagi pikiran Sakura yang sedang depresi berat. Sebenarnya, ia berniat memberitahukan hal ini pada Naruto, tapi niat itu diuurungkannya.

Hanya saja ia bingung harus berbuat apa. Ia sibuk dan tidak bisa menjaga Sakura agar tidak melakukan hal nekat lagi setiap saat, dan Ino belum pulang dari misi sampai sekarang.

Namun entah kenapa, hari itu ia mendapat pencerahan.

"Shizune, panggil Sasuke Uchiha ke kantorku. Sekarang juga!" Tsunade memerintahkan. Shizune mengangguk dan langsung keluar untuk melaksanakan perintah dari Hokage itu.

Tak lama, Shizune kembali dengan Sasuke Uchiha di belakangnya. Tsunade mendesah lega saat melihat wajah Sasuke yang begitu percaya diri.

"Sasuke, aku ingin memberimu tugas. Apa kau bersedia? Karena tugas ini takkan memberimu imbalan apapun…" Tsunade memperhatikan setiap gerakan yang dibuat oleh keturunan terakhir klan Uchiha ini.

Sasuke menatap Tsunade dingin, " Tugas apa? Kalau boleh aku tahu."

Tsunade menggigit bibirnya, terlihat terpaksa mengeluarkan jawaban atas pertanyaan Sasuke, " Tugasmu adalah menjaga Sakura Haruno…"

Sedetik, Tsunade yakin ia melihat Sasuke mengejang kaget dan secepat kilat kembali ke sosok dinginnya yang acuh.

"Bagaimana? Apa kau menerima tugas ini?" Tsunade bertanya dengan suara pelan sambil menatap Sasuke lekat-lekat.

"Aku menerimanya"

OoOoOoOoOoOoOoO

Sasuke's POV

Hokage kelima memberikan tugas yang sedikit menguntungkanku. Menjaga Sakura. Hanya saja, aku sedikit tak mengerti maksudnya. Menjaga Sakura? Apakah ada yang mengincarnya? Aku meragukan hal itu.

Hn, sampai juga aku di rumahnya.

Lebih baik aku mengetuk pintu dulu, sopan adalah hal mutlak.

Aku mengetuk pintu rumah Sakura yang sepertinya baru saja diganti, dua kali. Tak ada jawaban. Ini lebih sulit dari yang kuduga. Hn…

Saat aku tengah memikirkan apa yang yang harus kulakukan, mendadak pintu ini terbuka dari dalam dan aku melihatnya. Sakura. Apa yang terjadi padanya? Mata emeraldnya begitu gelap tanpa binar. Rambutnya berantakan. Mukanya kusut, sayu.

"Sasuke…?" Sakura mengernyit bingung mendapati aku ada di depan rumahnya, memandanginya lekat-lekat.

"Hn, kau terlihat kacau" Aku berusaha terlihat tidak peduli padanya. Meskipun boleh dibilang, aku sedikit syok melihatnya seperti ini. Apakah ini karena Naruto meninggalkannya? Sebesar itukah pengaruh Naruto baginya? Mungkinkah dulu saat aku meninggalkannya, dia juga seperti ini?

"Ada apa?" Sakura bertanya padaku,tidak menggubris omonganku . Matanya kosong.

"Aku ditugaskan untuk menjagamu" Aku menjawab pertanyaannya sesingkat mungkin.

Sakura tertawa sinis, tawanya tidak mencapai matanya yang tetap kosong, " Ini konyol, memangnya aku anak kecil?"

Aku mengangkat bahu, "Mungkin menurut Hokage seperti itu…"

Tawanya mendadak lenyap, dan ia langsung masuk ke dalam rumahnya. Aku mengikutinya masuk ke dalam rumah.

"Tak kusangka rumah Sakura Haruno seperti kapal pecah…" Aku menyeringai padanya, sambil sesekali mengamati keadaan rumahnya yang sangat berantakan.

"Aku sudah lama tidak membereskannya…" Sakura menatapku sekilas, lalu berjalan menuju dapur untuk menyiapkan sesuatu.

Aku memperhatikan seisi rumahnya. Jendelanya tertutup gorden tebal, hingga rumah ini terasa gelap. Aneh. Kenapa ia tidak membukanya? Bukankah gadis seceria Sakura pasti menyukai cahaya menyinari rumahnya?

Pengamatanku terinterupsi oleh segelas cairan bening di pipiku. Aku mendongak dan melihat Sakura memegang gelas itu. "Air putih…" tukasnya.

"Menyedihkan, memang tak ada yang bisa kau sajikan selain ini?" Aku mengambil gelas yang ia sediakan.

Ia menggeleng dan duduk di sampingku. Aku bisa mendengar helaan napasnya.

"Jadi, bisa kau jelaskan kenapa Tsunade baa-chan menugaskanmu untuk menjagaku?" Sakura menoleh untuk menatapku, yang menunduk memandangi gelas di tanganku yang masih terisi penuh air putih.

"Hn, aku tidak tahu" Aku menggumam.

Sakura tidak puas dengan jawabanku, tapi ia tak berkomentar. Kami diam dalam hening yang panjang. Ini aneh sekali. Kalau aku diam, itu sudah biasa. Tapi Sakura? Seumur hidupku, belum pernah ia tak berbicara panjang lebar saat bersamaku, meskipun hanya dia yang aktif berbicara sementara aku hanya diam mendengarkan.

Ada yang berbeda dari Sakura.

Karena Naruto?

Apa karena Naruto menyetujui permintaanku hari itu?

End of Sasuke's POV

Normal POV

Flashback

"Aku akan memaafkanmu, Dobe, jika kau menyerahkan Sakura padaku…"

Naruto tersentak mendengar ucapan Sasuke, matanya membelalak sempurna.

"A…Apa?" Suara Naruto terdengar bergetar, terlihat jelas ia sangat syok mendengar permintaan Sasuke.

"Serahkan Sakura padaku, dan aku akan memaafkanmu…" Sasuke mengulangi ucapannya, seakan sengaja memberikan pukulan pada Naruto.

Naruto menatap Sasuke nanar, " Kenapa?! Kenapa aku harus menyerahkannya padamu?"

Sasuke menatap Naruto yang berlutut di hadapannya dingin, " Untukku, sahabatmu" Sasuke memberikan penekanan pada kata sahabat yang diucapkannya.

"Apa hanya dengan cara itu?" Naruto bergumam, nadanya seperti memohon.

Sasuke tidak menjawab. Tapi Naruto tahu apa jawabannya.

Naruto bangkit perlahan, dan memandang Sasuke nanar. "Kumohon, jaga dia baik-baik…"

Sasuke mengangguk pelan dan sejurus kemudian menghilang. Dunia genjutsu turut menghilang, menyisakan Naruto yang langsung jatuh lemas setelah Sasuke pergi. Tangisan yang menyayat hati keluar dari dalam dadanya. Bergemuruh begitu dalam.

Ia terluka. Tapi tak bisa berbuat apa-apa. Ia mencintai Sakura, tapi juga menyayangi Sasuke seperti saudaranya sendiri.

Tangisan berhenti tak lama kemudian. Teringat akan kekasihnya yang tadi ia tinggalkan untuk menemui Sasuke. Kekasih yang akan segera ia tinggalkan, untuk ia serahkan pada Sasuke.

Naruto berpikir, takkan mungkin ia bisa melihat Sakura dan Sasuke bersama. Ia takkan kuat. Ia berpikir untuk pergi jauh, dalam jangka waktu lama. Cukup lama sampai Sakura dan Sasuke mungkin akan menikah dan ia mampu melupakan Sakura.

Suna? Pilihan yang cukup bagus untuk melarikan diri.

To be Continued

Aneh? Gaje? Pokoknya tolong review yah… Arigato…