Love is Pain

Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Love is Pain © Hikari Uchiha Hatake

Rated : T

Genre : Romance, Hurt/Comfort

Pair : Naruto U & Sakura H.

Chapter 6

Sakura's POV

Setiap hari rasanya seperti mimpi. Bumi terus berputar, tapi aku merasa bumi tetap pada tempatnya. Sejak Naruto meninggalkanku. Mungkin jauh lebih tepat, jiwaku sudah mati meski ragaku tetap hidup.

Aku tak ingin membuka kedua mataku untuk melihat kenyataan. Aku ingin tidur selamanya. Berharap semua ini hanya mimpi, karena setiap mataku terbuka, aku melihat kenyataan. Dan itu menyakitkan.

Suara ketukan pada pintu rumahku terdengar lagi. Aku mendengus kesal. Kenapa Sasuke tetap ngotot menjalankan tugasnya untuk menjagaku? Bukankah dia orang yang tidak peduli pada orang lain? Seharusnya dia membiarkanku berkubang dalam kesedihan sepanjang hari.

Dengan enggan, aku berjalan terseok-seok menuju pintu rumahku. Aku membuka pintu rumahku, bersiap mengomel pada Sasuke.

Selama beberapa hari, aku harus mengakui kehadiran Sasuke cukup menghiburku. Tapi itu tidak berarti apapun. Aku tidak mencintainya, dan kehadirannya hanya seperti penyemangat hidupku. Sasuke tetap pendiam seperti biasa, tak ada yang berubah. Hanya saja dia jadi lebih perhatian padaku. Tatapan matanya hangat, tapi takkan bisa menggantikan tatapan hangat Naruto.

"Hai…" gumamnya saat aku membuka pintu dan menatapnya.

"Hai…" balasku singkat.

Sasuke langsung masuk ke rumah tanpa kupersilakan, dia memang sudah terbiasa dengan sifatku yang sedikit tidak sopan ini. Aku malas bersikap ramah seperti dulu, itu mengingatkanku pada Naruto.

Sasuke terlihat berbeda hari ini, sepertinya dia sedikit gelisah? Ini tidak seperti seorang Uchiha yang dingin dan tanpa ekspresi.

Aku berharap Sasuke mau menemaniku pergi ke taman hari ini. Aku sudah bosan dengan keadaan rumah, rumahku sudah rapi sekarang dibandingkan pertama kali Sasuke datang ke rumah. Ia membantuku membereskan rumah setiap hari.

"Sasuke…" Aku bergumam, dan Sasuke langsung menoleh untuk menatapku. Ia sedang mengaduk jus tomatnya di meja dapur.

"Ada apa?" Sasuke masih menatapku, suaranya lembut seakan ia sedang berbicara dengan bayi.

"Maukah kau menemaniku berjalan-jalan di taman? Aku sedikit bosan dengan…rumahku…" Aku memilin-milin tanganku, sedikit gugup saat mengucapkannya.

"Baguslah, kupikir kau mau selamanya disini…" Sasuke menghampiriku dan meraih kedua tanganku. " Ayo kita pergi" ujarnya.

Ini pertama kalinya kulihat Sasuke begitu bersemangat.

OoOoOoOoOoOoOoO

Di luar dugaan, keadaan taman hari ini sangat sepi. Ini sedikit mengecewakan. Padahal aku berharap keramaian dapat mengalihkan perhatianku.

"Mungkin kita datang pada jam yang salah, sekarang jam kerja…" tukas Sasuke sambil berjalan di sisiku.

Jam kerja. Aku baru sadar kalau sudah nyaris sebulan aku tidak bekerja di rumah sakit. Tsunade baa-chan rupanya sangat baik padaku, memberikan cuti yang cukup panjang untukku. Ia bahkan tidak mengoceh padaku.

"Kau melamun terus…" Sasuke memandangiku, rupanya dari tadi ia memperhatikanku.

"Hah? Oh, aku…" Aku tidak tahu alasan apa yang harus kukatakan pada Sasuke. Entah kenapa dia jadi lebih perhatian padaku, ini membuatku sedikit tidak nyaman. Ia cukup peka untuk ukuran seorang pria.

"Ada yang ingin kukatakan padamu…" Sasuke mengucapkan kalimat itu begitu pelan, sambil menundukkan kepalanya.

"Hmm?" Aku berusaha terlihat tidak terlalu antusias, meski sebenarnya aku sedikit penasaran.

"Hn, aku ingin kau menikah denganku…" Sasuke mengucapkan kalimat itu dengan begitu tegas, sehingga kuyakin dia tidak sedang bercanda.

Ini mengejutkan.

"A…Apa?" Aku terhenyak tak percaya, Sasuke melamarku?! Ini tidak mungkin. Tidak mungkin. Bukankah ia mengetahui perihal hubunganku dengan Naruto? Bukankah ia tahu aku tidak mencintainya lagi?

Sasuke terdiam sambil menatapku, dan detik berikutnya ia menarikku dalam pelukannya. Ia memelukku begitu erat, sehingga aku nyaris tidak bisa bernafas.

"Lupakan Naruto. Dia takkan kembali padamu. Dia sudah meninggalkanmu." Kalimat yang diucapkan Sasuke sukses menghancurkan seluruh pertahananku. Air mataku mulai mengalir di pelupuk mataku dan membanjiri pipiku. Aku mendorong Sasuke menjauh dariku.

"Kenapa kau mengatakan hal seperti itu?! Pa…Padahal aku hampir berhasil… Aku…" Aku tak sanggup lagi melanjutkan ucapanku dan mulai menangis sejadi-jadinya.

"Kau masih mencintaiku kan? Kau tak perlu menyiksa dirimu sendiri dengan semua hal ini… Naruto sudah pergi, kenapa kau masih saja menangisinya?!" Sasuke berteriak padaku, suaranya memancarkan perasaannya.

"Hentikaaaaaaaan!!! Jangan katakan apapun lagi!!" Aku berlari meninggalkannya di taman, secepat mungkin, tapi ia jauh lebih cepat dariku. Dan tangannya sudah menahan tanganku.

"Biar aku mengantarmu…" Sasuke menahan kedua tanganku, sementara aku berusaha sekuat tenaga melepaskan tangannya dari tanganku.

"Aku ingin pulang sendiri! Tinggalkan aku sendiri!!" teriakku frustasi.

"Bagaimana dengan lamaranku?" Ketika Sasuke mengucapkan hal itu, aku langsung terhenyak dan berhenti meronta-ronta.

"…"

OoOoOoOoOoOoOoO

Hujan turun perlahan, rintiknya membasahi bumi. Bumiku yang tak lagi berputar. Hari itu… Ketika Sasuke mendadak melamarku, pikiranku sedikit kacau. Saat aku tidak menjawab pertanyaaannya yang terakhir, ia langsung melepaskan tanganku dan berjalan meninggalkanku.

Apakah aku melukainya?

Tentu saja. Aku sudah membuat banyak orang terluka. Seharusnya, aku tidak pernah dilahirkan di muka bumi ini. Dengan begitu, takkan ada yang terluka.

Aku bangkit dari ranjang, mendekati jendela dan menatap bulir-bulir air yang menuruni kaca jendelaku. Seperti langit yang menangis. Apakah Matahari meninggalkannya? Ataukah ia menolak lamaran Bulan?

Sasuke tidak datang ke rumahku hari ini. Sebagai gantinya, Ino datang menjengukku. Ia baru saja pulang dari misi di Iwagakure kemarin. Ino sangat mengerti perasaanku, ia tidak mengungkit apapun mengenai Naruto di depanku. Ia membawakan beberapa makanan untukku, ia berkata bahwa aku semakin terlihat kurus.

Kebersamaanku dan Ino berakhir saat ia memutuskan untuk pulang. Toko bunga Yamanaka kebanjiran pelanggan menjelang musim semi. Ia berjanji akan mengunjungiku besok.

Aku menyadari kalau aku sudah menghabiskan banyak waktu untuk melamun dan memandangi hujan.

"Aku harus memasak makan malam…" gumamku pada diri sendiri.

Baru saja aku menggoreng telur, mendadak aku merasa mual mencium aroma telur. Aku langsung menghambur ke wastafel dan muntah. Ada apa ini? Biasanya aku baik-baik saja. Apa aku masuk angin?

Aku membilas mulutku dengan air dan berkumur-kumur. Setelah itu, aku memandang diriku di cermin. Aku memang tampak lebih kurus, depresiku cukup mengganggu pola makanku.

Aku menatap telur goring yang tadi membuatku mual. Mencoba mengeceknya apakah sudah busuk sehingga membuatku mual? Saat aku menciumnya, rasa mual itu muncul kembali dan aku langsung muntah-muntah.

Gejala ini… Mungkinkah aku hamil?

Tanganku mengalirkan cakra hijau ke perutku dan aku langsung menutup mulutku, menahan teriakan yang mungkin akan mengagetkan janin di perutku.

Kepalaku terasa pusing. Aku hamil, dan aku yakin ini anak Naruto. Aku hanya pernah melakukan hubungan 'itu' dengannya. Anakku dan Naruto? Kenapa? Kenapa aku baru mengetahuinya saat Naruto sudah meninggalkanku? Apa yang harus kulakukan pada janinku ini?

Aku harus memberitahu Ino. Hanya dia yang kupercaya saat ini.

OoOoOoOoOoOoOoO

Mata Ino terbelalak mendengar setiap ucapanku. " Kau hamil?" Ia masih tak percaya pada apa yang kuucapkan.

"Ya, Ino. Aku hamil…" Suaraku terdengar bergetar.

"Ayahnya adalah Naruto?" Ino bertanya lagi.

Kali ini aku hanya mengangguk pelan, aku tak mampu mengucapkan nama Naruto.

"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?" Ino merengkuh bahuku, mengusap-usap bahuku pelan.

"Aku sudah memikirkannya… Aku akan pergi dari Konoha, tak ada seorangpun yang boleh mengetahui kehamilanku ini…" gumamku.

Ino menatapku kalut, " Biarkan aku ikut, Sakura…"

"Tidak, Ino. Kau masih memiliki toko yang harus kau urus…" Aku menolaknya dengan halus.

Ino menggeleng, " Tidak, Sakura! Aku tak mungkin membiarkanmu pergi sendiri dan menanggung semua ini sendirian! Ijinkan aku ikut denganmu!"

Aku tersenyum menatap mata Ino yang begitu berapi-api.

"Ino, terima kasih!" Aku memeluknya erat-erat.

Sayangnya tak satupun dari kami menyadari, ada satu orang lagi yang mendengar pembicaraan rahasia kami.

Seseorang dengan mata onyx.

OoOoOoOoOoOoOoO

Naruto's POV

Sudah hampir sebulan sejak aku meninggalkan Konoha. Tak sedikitpun kabar mengenai Sakura sampai di telingaku. Aku memang sudah mengatakan pada Gaara untuk merahasiakan berita apapun mengenai Sakura. Aku takut itu akan menghancurkan tekadku.

Aku sudah merelakan Sakura untuk Sasuke. Ia pasti akan menjaga Sakura. Pasti.

Meskipun begitu, sekeras apapun aku berusaha untuk menjauh dari Sakura. Sesungguhnya, hatiku lah yang paling dekat dengannya. Hatiku ini mencintainya. Dan meninggalkannya bahkan lebih berat dari pertarunganku dengan Pein.

Lebih menyakitiku. Aaaaargh!!! Kenapa kau ini, Uzumaki Naruto? Bukankah kau sudah berjanji pada Sasuke untuk merelakan Sakura? Kenapa kau bertingkah seperti ini?!

Aku menyiksa diriku sendiri, aku menyadari hal itu. Tapi, aku tidak peduli. Yang penting Sakura bahagia dengan Sasuke. Aku yakin dia akan bahagia dengan Sasuke. Cinta pertamanya. Orang yang ia tangisi kepergiannya.

"Naruto…" Suara seseorang terdengar di telingaku. Aku langsung menoleh dan mendapati Nenek Chiyo tersenyum padaku.

"Kau disini rupanya…" gumam Nenek Chiyo. Matanya menyiratkan keteduhan, keriput di sekitar matanya membuktikan betapa banyaknya pengalaman hidup yang telah ia miliki saat ini.

"Nenek…" Aku tersenyum padanya.

"Hhh, kudengar kau akan menetap di Suna selama beberapa tahun? Benarkah hal itu?" Nenek Chiyo masih tersenyum, tapi matanya menyiratkan permohonan agar aku menceritakan yang sejujurnya.

"Iya, aku akan menetap disini…" Aku menjawab sambil memalingkan mukaku dari tatapan Nenek Chiyo.

"Kenapa? Apa kau ingin merasakan betapa panasnya Suna?" Nenek Chiyo kembali mengatakan pertanyaan yang membuatku kelabakan menjawabnya.

"Nenek, aku.." Perkataanku terpotong oleh senyuman Nenek Chiyo.

"Ceritakan semuanya padaku, Naruto…" Ia masih tersenyum.

To be Continued…

Haaaa,, akhirnya selesai juga? Cukup menguras otak chap ini! Dan sekedar pemberitahuan… SAYA LULUS!!! Hahahahaha, senangnya… Meskipun banyak dari teman saya yang tidak lulus.. Hmmm,,, sebagai hadiah… Boleh Hikari minta reviewnyaaaa???