Hikari banyak mendapat keluhan atas chap lalu.. Gomen ne jika chap lalu kurang memuaskan. Hikari udah berusaha banget membuat chap ini tidak mengecewakan. Ini merupakan chap penentuan,, jika sambutannya bagus, chap depan adalah chap terakhir. Kalau tidak, mungkin Hikari akan hiatus sementara untuk mencari inspirasi.

~Happy Reading~

Rated : T

Pair : Naruto U. & Sakura H.

Genre : Romance, Hurt/Comfort

Warning : OOC, OC,Typo, Abal, dll

LOVE IS PAIN

Chapter 7

Naruto's POV

Aku tak sanggup menceritakan yang sesungguhnya pada Nenek Chiyo. Aku tahu apa yang akan dikatakannya. Nenek Chiyo adalah orang yang sangat bijaksana, dan aku sangat menghormatinya. Aku tak mungkin berbohong padanya. Mungkinkah aku menceritakan yang sebenarnya? Tidak. Tidak bisa.

"Naruto? Kenapa kau diam saja? Apa kau tidak bisa menceritakannya padaku?" Nenek Chiyo tampak cemas melihatku, ah… Jangan menatapku dengan tatapan seperti itu.

"Kurasa, itu tidak terlalu penting, Nek" Aku berusaha menghindari hal-hal yang membuatku harus menceritakan kenyataan yang sebenarnya.

Nenek Chiyo tidak berkata apa-apa lagi setelah itu, ia memalingkan wajahnya dariku dan memandang ke arah Suna. Dari tebing yang kami duduki, Suna terlihat jelas sekali. Aku sedikit bingung bagaimana Nenek Chiyo bisa naik ke tebing yang curam dan tinggi ini. Dia memang hebat.

"Kau tahu? Dulu Suna tidak gersang dan panas seperti ini…" Nenek Chiyo mulai bercerita, matanya menerawang jauh ke masa-masa kejayaan Suna. Mungkin saat itu dia masih seorang gadis remaja yang cantik.

"Suna pada masa kejayaannya adalah salah satu desa yang dibanggakan di Negara Hi. Sumber daya alam yang melimpah, shinobi-shinobi yang kuat dan keadaan desa yang damai menjadi salah satu hal yang dibanggakan Suna. Tapi, rupanya banyak yang mengincar Suna. Mereka tidak menyukai Suna yang damai…" Mata Nenek Chiyo mulai berkaca-kaca, dan aku menduga bahwa ia akan menceritakan hal yang cukup berat untuknya.

Nenek Chiyo menoleh padaku, matanya menghangat, " Saat itu, umurku masih 14 tahun… Masih sangat muda untuk turun ke medan pertempuran, saat itu aku masih genin yang akan mengikuti ujian chunin…"

Aku mendengarkan dengan seksama setiap kata yang diucapkan Nenek Chiyo. Ekspresinya berubah menjadi tersipu-sipu malu saat ia melanjutkan ceritanya.

"Aku mengagumi seorang pria, namanya Shin. Dia adalah chunin yang sangat berbakat, padahal ia baru berumur 17 tahun. Semua gadis di Suna menyukainya, termasuk aku. Hanya saja, hubunganku dengan Shin sedikit berbeda…" Nenek Chiyo tersenyum tipis.

"Shin tinggal di dekat rumahku, kedua orang tuanya sangat ramah padaku dan sering mengajakku makan malam di rumah mereka. Shin adalah anak kedua mereka. Semua anak mereka laki-laki, karena itu mereka menganggapku anak perempuan mereka. Bisa dibilang, hubunganku dengan Shin seperti kakak-adik, dan ia sangat melindungiku…" Nenek Chiyo menelan ludahnya sebelum melanjutkan ceritanya.

"Penyerangan terhadap Suna dimulai secara mendadak, aku di rumah Shin saat itu, saat aku pulang ke rumah, kedua orang tuaku telah terbunuh, dan aku melihat pembunuh mereka di ambang jendela, bersiap membunuhku…" Aku memeluk Nenek Chiyo, karena sudah bisa menduga cerita selanjutnya. Ia mengusap-usap lenganku yang melingkari bahunya.

"Shin melindungiku tentu saja, tapi pembunuh yang menyerang kami jauh lebih kuat darinya. Shin sekarat di pangkuanku, dan ia mengucapkan kalimat terakhirnya, kata-kata yang takkan kulupakan seumur hidupku… Dia bilang, aku mencintaimu, Chiyo…" Nenek Chiyo tersenyum.

"Naruto, bahagiakanlah orang yang kau cintai selama dia masih hidup. Sebelum kau tak memiliki kesempatan untuk membahagiakannya, sebelum dia pergi ke tempat yang tak bisa kau susul…" Nenek Chiyo menasihatiku.

Kata-katanya menyadarkanku akan apa yang telah kulakukan. Kenyataan, bahwa aku meninggalkan Sakura. Mataku terbuka.

Dasar bodoh kau, Uzumaki Naruto! Kenapa kau baru menyadarinya sekarang? Kau meninggalkan gadis yang sangat kau cintai, disaat ia mencintaimu sepenuh hatinya! Bodoh kau! Pikiranku berteriak mengutukiku.

"Nenek Chiyo, terima kasih…" Aku memeluk Nenek Chiyo erat-erat. Ia hanya tertawa pelan padaku.

"Berterima kasihlah pada pria berambut raven biru yang menitipkan surat ini padamu, dia datang pagi-pagi sekali… Ia menceritakan mengenai hubunganmu dengan Sakura…" Nenek Chiyo menjelaskan, sambil menyerahkan sepucuk surat padaku.

Aku langsung membacanya dengan seksama.

Pulanglah ke Konoha sekarang. Aku harus berbicara padamu. Mengenai Sakura. Kutunggu di rumahku.

Sasuke

Apa? Apa yang ingin dibicarakannya? Mengenai apa? Dan kenapa dia menceritakan segalanya pada Nenek Chiyo? Apakah dia ingin Nenek Chiyo menasehatiku? Aku tidak mengerti jalan pikiran Sasuke.

"Nenek, aku harus pergi sekarang… Terima kasih ya, sampaikan juga salamku pada Gaara, Kankurou dan Temari…" Aku menggenggam tangan Nenek Chiyo, lalu melangkah pergi meninggalkan Suna.

OoOoOoOoOoOo

Konoha tetap tidak berubah. Hanya saja bagiku ini seperti nostalgia. Aku baru meninggalkan Konoha selama sebulan tapi rasanya seperti setahun. Saat aku mengunjungi rumah sakit, aku tidak melihat Sakura. Sementara Tsunade baa-chan dan Shizune seperti sangat terkejut melihatku. Mereka bahkan tidak menyapaku. Ada apa ya? Tidak biasanya mereka sesinis itu.

Sasuke mengajakku ke rumahnya. Rumah Klan Uchiha yang sangat besar itu. Mataku terbelalak lebar saat aku sampai di depan rumah Klan Uchiha. Sangat besar. Dan cukup mewah, meskipun terlihat tua pada saat bersamaan.

Sasuke berdiri di ambang pintu, menungguku. Mata onyxnya dingin seperti biasa, hanya saja kali ini terlihat sangat sedih. Aku mengernyit, pastilah ada sesuatu yang tidak kuketahui telah terjadi.

"Maaf…" Sasuke mengucapkan satu kata itu saat aku telah berdiri di hadapannya.

Apa? Seorang Uchiha meminta maaf? Pastilah aku sedang mengalami sindrom halusinasi.

"Apa, Teme? Kau minta maaf padaku…?"

Sasuke mendongakkan kepalanya untuk menatapku dan aku terhenyak. Wajahnya yang tanpa ekspresi kini seperti orang yang telah kehilangan harapan hidup.

"Maaf, aku terlalu egois. Aku menginginkan Sakura dan itu menghancurkannya…" Suara Sasuke begitu pelan dan sedikit bergetar.

"Apa maksudmu? " Aku semakin bingung.

"Aku menjaga Sakura. Sejak kau pergi. Dia seperti mati, kau tahu? Dia berbeda. Tanpa ekspresi. Aku pikir aku bisa mengubahnya seperti dulu, kembali ceria tapi tidak bisa. Dia tetap mencintaimu. Dia tidak mencintaiku lagi." Sasuke mengepalkan kedua tangannya yang gemetar.

Apa yang Sasuke katakan langsung menohokku. Sakura terluka karena aku. Karena tindakan bodohku yang meninggalkannya. Kesalahan terbesar yang pernah aku buat seumur hidupku.

"Aku harus menemuinya…" Aku membalikkan badanku untuk pergi dari sana saat Sasuke mengatakan hal yang tidak bisa kucerna.

"Dia pergi meninggalkan Konoha, setelah ia mengetahui kalau ia mengandung anakmu."

Aku terpaku di tempat. Berusaha mencerna apa yang dikatakan Sasuke padaku. Sakura meninggalkan Konoha. Sakura mengandung anakku. Dan, detik berikutnya aku sudah memukul wajah Sasuke.

"Kenapa kau baru mengatakannya sekarang? Ini semua salahmu, brengsek!" Aku langsung melayangkan pukulan bertubi-tubi pada Sasuke yang hanya diam dan tak membalas pukulanku.

Aku kelelahan tapi amarahku belum reda. Aku sudah bersiap melayangkan pukulanku yang kelima puluh saat ia menahan tanganku.

"Memukulku hanya membuang-buang waktu. Seharusnya kau menyusul Sakura secepat mungkin, setelah itu kau boleh memukulku sepuasnya…" Sasuke mengucapkannya dengan nafas terengah-engah, menahan sakit.

"Itu sudah pasti, bodoh!" Aku menghempaskan tubuh Sasuke ke tanah. Aku sudah tidak peduli padanya. Dia telah menghancurkan segalanya, dan aku juga menghancurkannya. Kami berdua telah melukai Sakura.

Kami berdua menginginkannya tanpa peduli pada apa yang dirasakannya. Perasaan Sakura yang terluka. Apakah dia akan memaafkanku dan menerimaku kembali?

Dan anakku, dalam kandungannya…

OoOoOoOoOoOo

Sakura's POV

"Sakura, kita istirahat dulu ya…" Ino menggumamkan hal itu untuk ketiga kalinya padaku. Kami masih berjalan tanpa tujuan pasti. Matahari bersinar cukup terik, untunglah baju putih yang kami kenakan untuk menyamar menutupi seluruh tubuh kami.

"Baiklah, ayo kita cari tempat yang cukup teduh…" Aku dan Ino celingukan mencari tempat yang teduh. Untunglah, kami menemukan tempat yang rindang di bawah pohon yang cukup besar.

Aku dan Ino memakan bekal yang telah kami siapkan untuk beberapa hari, sementara kami masih mencari tempat yang tepat untuk kami tinggal.

"Sakura, sepertinya naluri keibuanmu sudah terlihat ya? Sedari tadi, kau mengusap-usap perutmu…" Ino menggodaku, ia menatapku.

"Hmm, entahlah aku merasa sangat tenang saat menyentuhnya seperti ini, seolah semua masalahku hilang. Sayang, ia akan lahir tanpa seorang ayah…" Aku mengelus-elus perutku dengan lembut.

Ino menggigit bibirnya sebelum berbicara. " Kau yakin tidak mau memberitahu Naruto?"

Aku mengangguk sedih, " Ya, dia sudah meninggalkanku. Dia sudah tidak mencintaiku lagi, aku tidak mau mengganggu hidupnya dengan kehadiranku dan anak ini…"

Ino tidak berkomentar, ia hanya menatapku dan melanjutkan acara makannya. Aku pun berusaha untuk tidak terlalu memikirkan ayah dari bayi yang kukandung. Aku mengelus-elus perutku, sambil membayangkan anakku nantinya.

Bayi mungil yang cantik… Terengkuh dalam gendonganku… Tangisan pertamanya nanti…

Aku tersenyum tipis. Akankah ia akan seperti Naruto nantinya?

Ino membereskan makanan kami dan kami bersiap-siap untuk pergi lagi, aku menggandeng tangan Ino. Sahabatku yang sangat baik. Ia tertawa pelan sambil menceritakan beberapa lelucon konyol. Kami tertawa sepanjang jalan.

Saat kami melewati sebuah jembatan yang cukup berbahaya, aku berpegangan pada Ino. Ino memegangiku dengan erat. Kami berhasil sampai dengan selamat ke seberang. Namun, mendadak aku merasakan kesakitan yang amat sangat di perutku.

"Aaargh! Aaah, I..Ino… Perutku…. Aaaargh!" Aku memejamkan mataku, menahan sakit yang amat sangat di perutku. Ada apa ini? Apakah kandunganku bermasalah?

"Ino…. Bayiku…." Aku mengatakannya dengan nafas terengah-engah.

"Sakura! Bertahanlah!" Ino merengkuh kedua bahuku. Ia berusaha menggendongku, tapi aku terlalu berat untuk ukuran gadis seperti Ino.

Tidak… Bayiku! Selamatkan bayiku!

"Aaaargh!" Rasa sakit itu menyerang lagi. Aku tidak sanggup lagi. Kami-sama, tolong aku, selamatkan bayiku….Kumohon, hanya itu permohonanku. Aku tidak peduli pada diriku, biarkan bayiku hidup. Kumohon, Kami-sama…

Kami-sama menjawab doaku. Seseorang menggendongku dengan bridal style. Sedetik yang panjang, aku baru menyadari siapa yang menggendongku.

"Naruto?" Ino berteriak kaget. Sementara aku hanya bisa terbelalak kaget.

"Sakura, kau tidak apa-apa?" Naruto menatapku cemas. Kenapa dia disini? Kenapa dia peduli padaku? Bukankah dia sudah tidak mencintaiku lagi? Kami-sama, bolehkah aku berharap kalau dia masih mencintaiku.

"Aaaargh! Ba… Bayiku…" Aku berteriak lagi, ketika kurasakan kesakitan kembali melandaku.

"Sakura, bertahanlah! Aku akan membawamu ke rumah sakit! Bertahanlah!" Suara Naruto samar-samar kudengar ketika kesadaranku kian menghilang.

OoOoOOoOoOoOo

Detik-detik yang berlalu terasa begitu lama. Aku bisa merasakan tangan Naruto yang hangat. Aku bisa merasakan setiap langkah yang ia buat. Aku bisa merasakannya. Tapi, kenapa aku tidak bisa merasakan diriku sendiri?

Kami-sama, apakah aku sudah mati? Bagaimana dengan bayiku? Dia bahkan baru berumur lima minggu. Hanya sejauh itu kah umur bayiku? Dia bahkan belum melihat dunia… Dia bahkan belum melihatku… Dia bahkan belum melihat Naruto, ayahnya… Kami-sama,,

"Naruto, kandungan Sakura mengalami masalah…" Kudengar suara Tsunade baa-chan berbicara. Suaranya terdengar sedih.

"A…Apa? Kumohon, selamatkan bayinya! Kumohon!" Naruto terdengar sangat sedih dan aku mendengar isakan? Naruto menangis?

"Kemungkinannya kecil, Naruto. Sakura harus menggugurkan kandungannya… Kalau tidak, Sakura juga akan meninggal…" Tsunade baa-chan menangis saat mengucapkannya.

Tidak! Jangan! Jangan gugurkan kandunganku! Jangan bunuh bayiku!

Aku tidak mendengar Naruto berbicara…. Tapi tiba-tiba kurasakan sesuatu yang hangat dan lembut menyentuh bibirku, dan aku bisa merasakan air jatuh ke wajahku… Air mata?

"Sakura, maafkan aku… Aku tidak pernah bermaksud meninggalkanmu… Aku sangat mencintaimu, kumohon sadarlah…" Suara Naruto terdengar bergetar. Ia menangis…

Naruto, jangan menangis…

Kami-sama, apakah ini takdir yang kau berikan padaku?

To be Continued…

Terima kasih untuk semua yang sudah review,, Hikari sangat berterima kasih pada kalian… Review kalian lah yang bikin Hikari cepet apdet… *benerkan Hikari apdet na cepet?* Hehehe,, Hikari minta reviewnya lagi yaaa…. Ini juga penentuan Hikari hiatus atau tetap lanjut… Terima kasih,,,