Gomen ne kalo terlalu lama apdet… Hikari terlalu asyik dengan blog dan fic-fic lain… Gomen ne… Hikari juga baru aja abis pergi jalan-jalan ke Jawa Tengah dalam rangka perpisahan SMP getu…

Inilah chapter terakhir Love is Pain…

..

Love is Pain

Rated : T

Genre : Romance, Hurt/Comfort

Pair : Naruto U. & Sakura H.

Warning : OOC, OC, Typo

Don't like Don't read

~Happy Reading~

Summary :

"Aku tidak peduli pada nyawaku, selamatkan bayiku!"

"Kau harus memilih Naruto…"

"Nyawa Sakura atau nyawa bayimu?"

"Kau benar. Bodohnya aku melupakan fakta itu."

..

Chapter 8

Naruto masih berada di ruang tunggu kamar pasien Sakura. Ia menundukkan ke palanya dalam-dalam, sehingga tak satupun orang bisa melihat matanya yang sayu setelah hampir 3 hari tidak tidur menunggui Sakura yang masih tak sadarkan diri.

Naruto mendongakkan kepalanya, hanya untuk menatap Sakura. Mata emerldnya terpejam, tidak menampakkan sinar seperti yang Naruto lihat dulu. Pikirannya melanglang buana ke pembicaraannya dengan Tsunade tiga hari yang lalu…

Flashback

Naruto berlari-lari sambil menggendong tubuh mungil Sakura yang sudah tak sadarkan diri, sementara Ino mengikuti langkah Naruto dengan pipi yang dibanjiri air mata.

"Neneeek!" Naruto berteriak memanggil Tsunade yang tengah berjalan di koridor yang sama bersama Shizune untuk memeriksa pasien. Begitu mendengar namanya dipanggil, ia langsung menoleh. Kedua bola matanya terbelalak lebar melihat Naruto menggendong Sakura yang tak sadarkan diri.

"Apa ini? Apa yang terjadi?" Tsunade langsung menghampiri Naruto, sambil mengarahkan Naruto ke kamar pasien yang kosong.

"Sakura pingsan setelah mengalami sakit pada perutnya…" Ino menjawab pertanyaan Tsunade, setelah melihat Naruto yang sangat panic dan cemas sehingga tidak mengindahkan pertanyaan Tsunade.

Mata biru sapphire Naruto mulai dihiasi tetesan air yang dikeluarkan kelenjar air matanya. Ia menatap Sakura yang sudah dibaringkan di ranjang. Tangannya meraih tangan kiri Sakura dan menggenggamnya. Ia menciumi kening Sakura berkali-kali.

Tsunade hanya menatap Naruto sekilas dan memulai pemeriksaan pada Sakura. Dimulai dari perut. Nafasnya serasa tercekat menyadari apa yang ada dalam perut Sakura.

"Sakura hamil? Dia tidak menceritakan apapun padaku…" Tsunade sedikit merasa kecewa karena murid kesayangannya itu tidak menceritakan apapun padanya dan malah menghilang dari desa bersama Ino. Rasa kecewanya berubah menjadi rasa cemas luar biasa dalam sekejap, saat cakranya telah menemukan hal lain dalam perut Sakura.

Tsunade meraih tangan Naruto dan menariknya keluar, "Ikut aku. Sekarang!"

OoOoOoOoOO

"Kau sudah tahu Sakura hamil?" Tsunade menatap Naruto tajam. Kilat-kilat kemarahan terlihat di wajahnya. Ia mendengus saat Naruto mengangguk.

"Kalau begitu selamat, kau telah meninggalkan gadis yang sedang mengandung anakmu hingga ia nyaris bunuh diri…" Tsunade berkata sinis, menunggu reaksi Naruto. Dan persis seperti dugaannya, Naruto kini sudah berdiri di hadapannya dengan wajah seperti berkata apa-kau-bilang.

"Bunuh diri?" Naruto mengucapkannya dengan tenggorokan tercekat, seolah ada biji salak di tenggorokannya.

"Iya, seminggu setelah kau pergi, kami menemukannya terendam di bak mandinya selama beberapa jam… Untung ia masih bisa kami selamatkan…" Tsunade menceritakan peristiwa itu, berharap Naruto akan sangat merasa bersalah.

"A…Aku…" Naruto tak mampu mengucapkan satu patah katapun. Ia hanya merosot lemas di tanah sambil menjambak rambutnya sendiri.

"Dan, bukan hanya itu yang ingin kukatakan… Melalui pemeriksaanku pada Sakura, aku mendapatkan fakta kalau kandungan Sakura bermasalah…" Tsunade melanjutkan ucapannya dengan sedikit berat.

"Apa? Tidak!" Naruto mulai mengguncang-guncang bahu Tsunade dengan frustasi. Air mata mengalir deras dari mata biru sapphirenya.

"Hentikan sikapmu ini Naruto! Ini takkan membantu Sakura sama sekali!" Tsunade menepis tangan Naruto kasar, jelas sekali ia sangat simpati pada Sakura dan sedikit membenci Naruto yang telah meninggalkannya tanpa alasan jelas.

"Kenapa kandungannya…?" Naruto masih mengukuhkan niatnya untuk mengetahui kebenaran yang hanya akan semakin melukainya.

"Rahim Sakura lemah, kemungkinan untuk keguguran sangat besar, dan mempertahankan kandungannya akan membahayakan nyawanya…" Tsunade menghela napas, ia memijat keningnya pelan.

"Tak bisakah kau melakukan sesuatu?" Naruto menatap Tsunade dengan tatapan memohon yang menusuk hati nurani Tsunade.

"Aku akan berusaha semampuku,tapi kita harus siap untuk kemungkinan terburuk.. Usia kandungan Sakura baru lima minggu… Masih ada lebih tiga puluh minggu untuk kelahiran normal… Jika ia melahirkan prematur, akan sangat berbahaya untuk janinnya yang belum berkembang.." Tsunade menjelaskan, matanya menyipit melihat Naruto yang kini terlihat sama frustasinya dengan Sakura dulu.

"Aku berharap kau takkan meninggalkannya lagi, Naruto…" Tsunade menepuk bahu Naruto pelan.

"Tidak akan pernah. Kau boleh membunuhku jika itu terjadi…" Naruto tersenyum tipis pada Tsunade.

"Aku ingin kembali ke kamar Sakura…" tukas Naruto pada Tsunade.

End of Flashback

"Naruto? Heeeey! Astaga, bagaimana mungkin kau tertidur disini?" Ino berteriak di telinga Naruto yang tertidur pulas di samping Sakura.

"Heh?" Naruto masih di ambang kesadarannya.

"Kau terlihat sangat lelah! Lebih baik kau pulang dulu ke rumahmu, Naruto!" Ino menyarankan.

"Tidak usah, aku mau menunggui Sakura…" Naruto menolak, ia mengelus-elus rambut merah muda Sakura. Sakura masih tak sadarkan diri. Nona Tsunade memberikannya obat penenang untuk membantunya beristirahat total.

"Sudahlah, kau ini sudah berhari-hari tidak mandi! Kau ingin Sakura mencium bau tubuhmu yang tidak enak itu? Biar aku yang menjaga Sakura…" Ino menggumam.

"Baiklah…" Naruto beranjak pergi setelah mengecup kening Sakura.

OoOoOoOoO

Ino menyambut Hinata dan Neji yang datang menjenguk Sakura. Mata Ino menangkap sedikit sorot kekecewaan dari mata indigo Hinata saat mengetahui siapa ayah dari bayi yang dikandung Sakura. Ia langsung pamit pulang begitu Ino bilang Naruto akan segera kembali kesini setelah mengambil beberapa keperluannya.

Naruto kembali beberapa menit setelah Hinata dan Neji pergi.

"Ino! Terima kasih ya kau sudah menjaga Sakura…" Naruto tersenyum lega mendapati Ino masih berada di kamar pasien itu dengan Sakura.

"Kau ini terlalu protektif pada Sakura!" Ino mendengus kesal pada Naruto. Ia memandang tas besar yang dibawa Naruto.

"Tadi Nona Tsunade datang untuk memeriksa Sakura, ia bilang kondisi Sakura sudah semakin baik, kemungkinan Nona Tsunade akan membuatnya sadar besok…" gumam Ino.

"Benarkah?" Naruto tersenyum lebar pada Ino.

"Aku harus pergi sekarang. Nona Tsunade memberiku misi ke Suna sampai minggu depan, kau harus menjaga Sakura dengan baik ya!" Ino menjitak kepala Naruto sebelum benar-benar meninggalkan kamar pasien yang ditempati Sakura itu.

Naruto melambai pada Ino, ia beralih pada Sakura yang masih terbaring di kamar pasien. Tangannya menjelajahi wajah Sakura yang tampak begitu tenang.

"Aku benar-benar berharap tidak ada yang harus kupilih nantinya, Sakura.." gumam Naruto. Mata biru sapphirenya meneduh.

"Apa dia baik-baik saja?" Suara dari orang yang sangat Naruto kenal mendadak terdengar, ia mendongak dan menatap sosok Sasuke Uchiha yang tengah berdiri di ambang pintu. Ia memasukkan kedua tangannya di saku celananya. Mata onyx nya menatap Naruto.

"Sakura masih membutuhkan pemulihan… Selain itu, apa yang kau lakukan disini?" Naruto bertanya dengan nada sengit.

"Bagaimanapun, akulah yang menjaganya saat kau pergi meninggalkan Konoha.." Sasuke bergumam, mata onyxnya beralih pada Sakura yang terbaring di ranjang pasien. Mata onyxnya berubah muram.

"Aku tahu itulah kebodohanku, menuruti permintaanmu itu… Aku hanya menginginkan kebahagiaanmu dan Sakura… Tapi ternyata apa yang kulakukan malah nyaris membunuh Sakura…" Naruto menundukkan kepalanya. Mengingat setiap perkataan Tsunade padanya kemarin.

Sasuke hanya menatapnya sekilas. "Hn, aku akan pergi ke Amegakure besok…"

Naruto terkesiap mendengar perkataan Sasuke padanya. "Apa kau bilang?"

"Hokage kelima memutuskan untuk memindahkanku ke barisan ANBU Amegakure untuk sementara waktu…" Sasuke menjelaskan. Wajah dinginnya yang tanpa ekspresi tetap datar, sehingga Naruto tida bia menerka apa yang dirasakan oleh Sasuke.

"Jadi kau…" Perkataan Naruto dipotong oleh Sasuke.

"Aku hanya ingin berpamitan pada Sakura…" gumam Sasuke pelan, ia berjalan lambat-lambat ke arah Sakura. Naruto hanya memandang Sasuke tanpa berniat menghalanginya sama sekali, mungkin ia ingin memberikan kesempatan terakhir pada Sasuke sebelum ia benar-benar pergi.

"Sayonara, Sakura…" bisik Sasuke di telinga Sakura. Ia menghirup aroma yang menguar dari tubuh Sakura beberapa saat.

Naruto membuang muka saat Sasuke menatap Sakura dengan tatapan sendu, ia tak mampu menyaksikan Sasuke berada sangat dekat dengan gadis yang dicintainya.

Naruto merasakan angin berkelebat, dan saat ia menoleh Sasuke sudah menghilang. Naruto menghela napas pelan dan menghampiri Sakura, ia menggenggam tangan Sakura.

"Dia sudah berpamitan kan?"

OoOoOoOoO

Sakura's POV

Rasanya membingungkan. Sepertinya aku sudah lama sekali berada dalam mimpi yang tak ada ujungnya ini. Mimpiku hanya berupa suara-suara dari orang yang kukenal. Suara Ino, suara Tsunade baa-chan, suara Shizune dan suara… Naruto. Aku ingat mereka membicarakan sesuatu mengenai beberapa hal tentangku tapi aku melupakannya.

Aku berusaha mengingat apa yang terjadi sebelum aku bermimpi panjang. Aku dan Ino dalam pelarian kami… Kami berteduh sampai… Aku merasakan sakit yang luar biasa pada perutku…

Bayiku!

Aku memberontak dalam mimpiku dan berusaha keluar dari mimpiku ini. Aku berlari-lari, mencari cahaya dalam mimpiku yang gelap gulita ini. Samar-samar kudengar suara-suara lain.

"Apa yang terjadi padanya?" Suara Naruto menggelegar, terdengar sangat panik.

"Tsunade-senpai, apakah ini efek dari obat penyadar? Kenapa dia menggelepar seperti ini?" Shizune berteriak.

Ada apa ini? Kenapa semua orang berteriak?

"Gawat, cepat pegangi dia! Jangan sampai lepas! Sepertinya pikirannya panik dan mempengaruhi tubuhnya!" Tsunade baa-chan berteriak.

Tepat saat itu, aku merasakan sesuatu menahan tangan dan kakiku, sangat kencang sehingga aku tidak bisa bergerak sama sekali. Aku mulai panik.

Bagaimana aku bisa keluar dari sini jika aku tidak bisa bergerak sama sekali?

Mataku menangkap sorot cahaya yang menyilaukan menghampiriku. Aku ketakutan, tapi mataku tidak mau terpejam. Dan sinar yang menyilaukan itu semakin mendekatiku. Aku mengerjap-ngerjapkan kedua mataku, ternyata aku sudah keluar dari mimpiku itu.

"Sakura? Kau sudah sadar?" Naruto menatapku dengan mata berair, ia langung meraihku ke dalam dekapannya. Memelukku begitu erat. Apakah ini kenyataan? Naruto telah kembali padaku.

Aku teringat hari saat aku tak sadarkan diri, ia menggendongku. Ia benar-benar telah kembali! Aku langsung melingkarkan kedua tanganku di lehernya, menariknya lebih dekat padaku. Aku membisikkan namanya berkali-kali, ia mengelus-elus rambutku dan mengecup keningku berkali-kali.

Lalu mendadak aku teringat pada bayi yang kukandung, aku melepas pelukan Naruto dan mulai berteriak-teriak, " Bayiku? Bagaimana dengan bayiku?"

Naruto merengkuh bahuku, berusaha menenangkanku.

"Tenang, Sakura! Bayi kita baik-baik saja…" Naruto menggumam.

Aku tertegun mendengar kata "bayi kita" yang diucapkannya. Jadi, Naruto sudah mengetahui bayi yang kukandung ini?

Seolah mengetahui apa yang ada di pikiranku, ia langsung berkata, " Tentu saja aku mengetahuinya…" Naruto mengelus-elus rambutku.

Aku nyaris tidak menyadari keberadaan Tsunade baa-chan dan Shizune jika saja Tsunade baa-chan tidak berdeham-deham di belakang Naruto.

"Gomen ne, sepertinya kami mengganggu reuni yang romantis ini ya? Tapi, sayang sekali ada beberapa hal yang harus kubicarakan dengan Naruto dulu, Sakura…" Tsunade baa-chan tersenyum tipis padaku, tangannya langsung menarik Naruto keluar dari kamar ini.

Aku mengernyit bingung.

OoOoOoOoO

Aku sangat bosan berada di kamar pasienku sendirian setelah Shizune pamit untuk memeriksa pasien lain. Aku langsung bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju belakang halaman rumah sakit. Tempat yang paling kusukai.

Aku sedikit terkejut melihat Naruto dan Tsunade baa-chan tengah berbicara di belakang taman. Wajah mereka sangat serius dan sesekali kudengar Naruto menghela napas.

"Kau harus memilih Naruto, nyawa Sakura atau nyawa bayimu… Aku hanya bisa menyelamatkan salah satu dari mereka…" Tsunade baa-chan berkata.

Apa? Apa maksudnya? Bukankah Naruto bilang bayiku baik-baik saja?

"Aku tidak bisa memilih…Jangan memaksaku…" Naruto menundukkan kepalanya frustasi.

Aku berjalan keluar dari tempat persembunyianku. "Aku tidak peduli dengan nyawaku, selamatkan bayiku!"

Naruto dan Tsunade baa-chan tampak sangat kaget melhat kehadiranku. "Sa…Sakura…" Naruto tergagap melihatku, sementara Tsunade baa-chan tidak mengucapkan apapun.

"Kenapa kalian tidak mengatakan apapun padaku? Apa yang sesungguhnya terjadi pada kandunganku?" Aku tak mampu menahan air mata yang menggenang di pelupuk mataku. Naruto meraupku dalam pelukannya. Ia memelukku dengan erat dan menenangkan.

Tsunade baa-chan menghela napas pelan, "Kau masih terlalu muda, rahimmu masih sangat lemah, keguguran sangat mungkin terjadi. Selain itu, kau kelelahan dan mengalami stress ringan yang berpengaruh pada janinmu…" gumam Tsunade baa-chan.

"Gomen ne, Sakura…" Tsunade baa-chan menangis dan berjalan meninggalkanku berdua dengan Naruto.

Aku tidak mampu mencerna apa yang dikatakan Tsunade baa-chan, lututku goyah. Aku pasti akan terjatuh jika saja Naruto tidak memelukku. Lenganku mencengkeram lengannya, dan aku mendongak untuk menatapnya. Berharap akan menemukan jawaban atas semua ini.

Mata Naruto terpejam, ia berusaha menenangkan diri sejenak sebelum membuka kedua mata biru sapphirenya dan menatap mata emeraldku. "Ini salahku…" ia berujar.

Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat. "Ini bukan salahmu, Naruto. Akulah yang tidak mampu menjaga bayi ini, aku…. Aku…" Air mataku mengalir tanpa bisa kutahan. Oh, Kami-sama, apa yang harus kulakukan?

"Jangan menyalahkan dirimu sendiri, akulah yang telah meninggalkanmu sendirian disini…" Perkataan Naruto itu membuatku reflex menjauh darinya. Ia sedikit terkejut, tapi ia tak mencegahku. Ia hanya menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Aku tersenyum pahit, "Kau benar, bodohnya aku melupakan fakta itu. Kau hanya merasa bertanggung jawab atas bayi yang kukandung bukan? Aku takkan memaksamu Naruto, kau berhak mendapatkan kebahagiaan. Aku tidak mau membebanimu, ini bukan tanggung jawabmu…" Suaraku sedikit bergetar saat mengatakannya, aku melangkah meninggalkannya. Namun, ia menahan lenganku.

"Apa yang kau bicarakan? Tidak, Sakura. Ini tidak seperti yang kau pikirkan! Aku tidak meninggalkanmu karena keinginanku sendiri! Aku…terpaksa melakukannya…" Naruto mendekatiku, tapi aku mundur menjauhinya.

Ia menatapku sedih, "Sakura, maafkan aku. Meninggalkanmu adalah kesalaham terbesar yang pernah kubuat dalam hidupku, aku akan melakukan apa saja asal kau memaafkanku…"

Aku menggeleng, "Tidak, jangan berbohong padaku hanya karena kau merasa bersalah padaku. Bukankah dalam suratmu itu, kau mengatakan hubungan kita adalah sebuah kesalahan? Perasaanmu telah berubah, aku mengerti semua itu dan.." Ucapanku terpotong karena bibir Naruto telah mengunci bibirku sehingga tak ada yang bisa kuucapkan lagi.

Bibirnya yang melumat bibirku dengan kehangatan yang menyakitkan karena ini hanyalah tuntutan rasa bersalahnya, bukan karena dia mencintaiku. Aku memberontak, berusaha mendorongnya. Tapi bibirnya tidak mau melepas bibirku dan ia memelukku begitu erat.

"Mmmhmm…Le…pas…!" Aku berhasil mendorongnya tapi ia tak menyerah, ia kembali berusaha meraihku ke dalam pelukannya. Aku memberontak.

"AKU MENCINTAIMU! APAKAH KAU TIDAK BISA MELIHATNYA?" Naruto berteriak, kedua lengannya bertengger di bahuku.

"Bohong…" gumamku, aku memaksakan diriku untuk menatapnya. Aku terkesiap melihat bulir-bulir air mata turun dari mata birunya.

Rasa bersalah mulai merayapiku, "Na…Naruto?" Tanganku berusaha meraih pipinya, hanya untuk sekedar memastikan apakah ia benar-benar menangis. Belum aku meraih pipinya, ia sudah mendekapku. Tubuhnya bergetar, menandakan ia benar-benar menangis. Aku tidak memberontak lagi, dan hanya menunggunya tenang. Dengan ragu-ragu, aku menaruh tanganku ke punggungnya.

"Aku sangat mencintaimu, Sakura. Kumohon percayalah padaku…" Naruto membenamkan wajahnya di bahuku. Aku merasakan nafasnya menggelitik leherku dan tetesan air matanya membasahi bajuku.

"Aku percaya, Naruto…" Aku menggumam.

End of Sakura's POV

OoOoOoOoO

Normal POV

Naruto dan Sakura berjalan bersisian menuju kamar pasien Sakura. Kedua tangan yang sedari tadi bertaut tidak terlepas sama sekali. Tidak ada yang berbicara sehingga hanya ada keheningan yang tercipta. Ketika keduanya sampai di depan kamar pasien, Sakura menoleh untuk menatap Naruto.

"Kau tidak pulang? Sudah malam…" Sakura mengernyitkan keningnya yang lebar itu.

Naruto tersenyum, "Selama kau dirawat disini, aku selalu menginap disini…" gumam Naruto. Ia membuka pintu kamar dan menarik Sakura ke dalam.

"Tapi itu kan sebelum aku siuman, Naruto…" Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya tidak setuju. "Disini hanya ada satu tempat tidur, aku tidak mau kau tidur di sofa ataupun di samping ranjang, itu membuat tidurmu tidak berkualitas…" Perkataan Sakura mulai berubah menjadi perkataan seorang medic-nin.

Naruto hanya nyengir, "Aku memang tidak harus tidur di sofa ataupun di samping ranjang"

Sakura tampak bingung, "Kalau begitu dimana?"

Naruto menunjuk ranjang tempat tidur Sakura, membuat Sakura melotot dan memukul bahu Naruto.

"Kau ini! Mesum!" Sakura menggembungkan kedua pipinya, membuat Naruto gemas dan mencubit kedua pipinya.

"Bukankah kau yang mesum? Aku kan hanya bilang aku akan tidur di ranjang itu, memangnya apa yang kau pikirkan?" goda Naruto sukses membuat Sakura blushing.

Naruto tertawa pelan, lalu wajahnya berubah serius. "Sakura, aku ingin kau menjadi istriku…"

Kata-kata yang diucapkan Naruto sontak membuat Sakura membelalakkan matanya. "Istri?" ia bergumam.

Naruto mengangguk, "Aku ingin kita menikah, aku tak akan membiarkan kau hamil tanpa status yang jelas dan aku ingin membuktikan keseriusanku padamu. Aku akan menjagamu selamanya…"

Sakura tak mampu menahan tangis haru mendengar perkataan pria yang paling dicintainya itu. "Apakah kau mau menikah denganku?" Naruto bertanya pada Sakura, kali ini dengan posisi berlutut dan menyodorkan sebuah kotak yan berisi cincin yang begitu indah. Cincin yang dulu dikenakan Kushina.

"Tentu saja, aku mau, Naruto…" Sakura meraih Naruto ke dalam pelukannya. Naruto tersenyum lebar, ia bangkit dan menyelipkan cincin itu pada jari manis tangan kiri Sakura.

"Sekarang, kaulah Uzumaki Sakura…"

OoOoOoOoO

"Mustahil…" Satu kata meluncur dari bibir Tsunade baa-chan saat ia memeriksa kandungan Sakura keesokan paginya. Hal ini membuat Sakura dan Naruto bingung.

"Kandunganmu membaik secara drastis, Sakura…" Tsunade baa-chan masih melotot tak percaya. Sakura merasakan kebahagiaan luar biasa melingkupinya. Naruto yang berada di samping ranjangnya menggenggam kedua tangannya erat.

"Ini sebuah mukjizat… Kami-sama pastilah menjawab doamu, Sakura…" ujar Tsunade baa-chan. Shizune yang berada di sampingnya tersenyum menyemangati Sakura dan Naruto.

"Terima kasih, Tsunade baa-chan, Shizune-senpai… Ini semua berkat pertolongan kalian semua" Sakura bangkit dari ranjangnya dan merangkul Tsunade dan Shizune sekaligus.

"Sama-sama, Sakura. Jagalah baik-baik kandunganmu. Kau boleh pulang ke rumahmu sekarang, dan Naruto… Kau harus menjaga dengan baik muridku ini…" Tsunade memperingatkan.

Naruto tersenyum lebar pada Tsunade baa-chan, "Jangan khawatir…"

Tsunade dan Shizune langsung pamit, namun beberapa saat kemudian Ino dan Tenten datang menjenguk. Ino menangis haru mengetahui kandungan Sakura telah membaik dan memeluk sahabatnya itu erat-erat.

"Jadi, kapan kalian akan menikah?" Tanya Tenten sedikit menggoda Naruto dan Sakura. Pertanyaan Tenten sukses membuat Sakura blushing. Sementara Naruto hanya terkekeh geli dan berkata, "Tunggu saja tanggal mainnya…"

Hinata dan Neji juga datang menjenguk. Hinata menyalami Sakura dan Naruto dengan tulus, ia tersenyum tipis pada Sakura.

"A..Aku harap kalian akan ber..bahagia.." Hinata berujar, disambut pelukan hangat dari Sakura.

OoOoOoOoO

7 tahun kemudian. . .

"Kiseki! Kiseki, ayo bangun! Hikari sudah menunggumu di depan!" Suara lantang Sakura berusaha membangunkan anak laki-laki semata wayangnya itu. Kiseki langsung bangkit dari tempat tidur begitu mendengar ibunya menyebut nama Hikari. Hikari Uchiha adalah anak perempuan Sasuke dan Hinata yang seumuran dengan Kiseki.

"Gawat! Aku tidak boleh membiarkan Hikari-chan menungguku lama!" Kiseki langsung panic, dan berlari ke arah kamar mandi. Sementara Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Kiseki.

Naruto mendadak muncul sambil memeluk pinggang istrinya, "Ada apa? Kiseki terlambat lagi?"

Sakura memutar bola matanya, "Mirip sekali denganmu ya…"

Naruto terkekeh, "Kiseki memang mirip denganku, tapi ia memiliki mata emeraldmu bukan?"

Baru saja Sakura mau menjawab saat Kiseki sudah keluar dengan seragam yang cukup rapi, ia langsung meminum susu yang disediakan ibunya.

"Watashi wa hidari!" teriaknya sambil ngeloyor pergi. Sakura dan Naruto memperhatikan saat Kiseki mendekati Hikari yang tampak jengkel padanya dan meninggalkannya di belakang sementara Kiseki berlari mengejar Hikari.

"Apa Kiseki menyukai Hikari?" Naruto bertanya pada Sakura sambil menciumi tengkuk Sakura.

"Tak ada salahnya menyukai keturunan Uchiha…" jawab Sakura, sukses membuat Naruto mendengus kesal dan melotot pada istrinya itu.

"Kau ini, mau main-main denganku ya?" Naruto menggendong Sakura dengan satu gerakan kecil.

"Eh? Apa yang kau lakukan, Naruto?" Sakura terlihat panik dan memberontak.

"Membuat keturunan Uzumaki!" jawab Naruto melengking, sambil tetap menggendong Sakura dan membawanya ke dalam kamar.

FIN

Selesai jugaaaa! Mengecewakankah? Ini chapter paling panjang loh.. Aku berterima kasih pada para author dan reviewer yang telah mereview fic ku ini..

Maaf, kalau mengecewakan. Oh ya disini akan kujelaskan ada dua OC, Kiseki Uzumaki dan Hikari Uchiha *kyaaa! Itu saia!* Kiseki adalah anak Sakura dan Naruto, Kiseki itu berarti mukjizat.

Dengan ini berakhir sudah… Huhuhuhu,, aku sangat mengharapkan review kalian… Setelah ini saia akan focus pada fic saia yang lain, "My Sweet Sensei" dan "Taiki".

Thanks to

NaruxXxSaku

Uchiha Sakura 97

Someone males-login

Elven lady18

Karinuuzumaki

Hotaru Ayuzawa

AlmightyHero

Resaya Kosui Ryou

Akikocchi

Chiwe-SasuSaku

Masahiro 'Night' Seiran

Nakamura Kumiko-chan

Haru glory

Ridho Uchiha

Yakusi Fukuu

Minoriuzumakichan

NruSaku 4ever

Narutami 'michi'que

Red Roses

Namizuka min-min

Rey619

Sava kaladze

Your fans

Secret

Angel c'kunoichi

Kurosaki Kuchiki

Edogawa luffy

Dei hatake

Tama uzumaki

Reader

Kira kitsueki

Makasih yaaaaaa ^_^