Di chapter tiga ini tidak ada pairing. Entah kenapa saya tidak ada ide untuk menulis pairing romance. Walaupun judulnya Last Love, tapi tidak ada romance-nya.

Disclaimer : Jun Mochizuki & Ali Project (for the song)

Third song : Saigo no Koi / Last Love

Pairing : None. Chapter kali ini mefokuskan pada Jack saja.

Warning : A little OOC, lirik yang tidak pas terjemahannya.


Last Love


Aku pertama kali mengenal kotak musik saat usiaku enam tahun. Waktu itu, aku iseng membongkar lemari tua milik Ibu yang menyimpan barang antik. Di situ aku menemukan sebuah kotak kecil berlapis emas. Tertarik, kuambil kotak itu dan kubersihkan debunya. Kuamati sejenak dan kubolak-balik. Karena tidak tahu apa kegunaan kotak itu, aku memutuskan untuk bertanya pada Ibu.

"Ibu, ini apa?" tanya Jack kecil sambil menunjukkan kotak kecil itu.

Mrs. Vessailus menoleh dan tersenyum melihat benda yang dibawa anaknya. "Ah, tak kusangka kamu menemukan benda itu. Ini kotak musik buatan almarhum kakekmu."

"Kotak musik?"

"Ya. Coba kau buka tutupnya."

Jack menurut dan membuka tutupnya. Kotak musik itu melantukan sebuah melodi yang enak didengar di telinga Jack.

"Wah, luar biasa! Aku suka kotak musik ini. Boleh untukku 'kan, Ibu?" tanya Jack dengan sorot mata memohon.

Mrs. Vessailus berpikir sejenak. "Boleh saja. Tapi kotak musik itu sudah tua. Cepat atau lambat pasti rusak."

"Tidak apa-apa! Akan kurawat baik-baik sampai saat itu."

oooooo

Saat itu aku menganggap kotak musik adalah sesuatu yang luar biasa karena mampu mengeluarkan melodi yang indah dan menenangkan hati seperti itu. Hari demi hari kuhabiskan untuk mendengarkan lagu dari dari kotak musik tua itu sampai tibalah hari itu. Kotak musik tua itu rusak sepenuhnya dan tidak mampu melantukan lagu apa pun. Aku memutuskan untuk menyimpan kotak musik itu karena sayang membuangnya.

Beberapa hari kemudian, datanglah Ibu dengan pertanyaan itu.

"Jack."

"Ya, Ibu?"

"Kalau sudah besar nanti, kamu mau jadi apa?"

"Kotak musik!" jawab Jack tanpa ragu-ragu.

Pletak! Sebuah jitakan mendarat di kepalanya.

"Aw! Ibu, tindak kekerasan itu tidak baik, lho!"

Mrs. Vessailus berusaha menyabarkan dirinya. "Jack, kuberitahu ya, hal itu tidak akan terwujud."

"Eh, kenapa?"

"Pertama, Ibu tidak setuju dan kedua…. tidak mungkin manusia bisa menjadi kotak musik, bodoh!"

oooooo

Sejak tahu bahwa manusia tidak bisa menjadi kotak musik, cita-citaku musnah seketika. Akhirnya aku memilih menjadi pembuat kotak musik. Sepuluh tahun berlalu dan saat ini usiaku enam belas.

"Jack, apa yang kau lakukan?" seru Mrs. Vessailuss melihat kamar anaknya yang berantakan. Kertas berserakan dimana-mana.

"Ah, selamat datang, Ibu. Aku sedang membuat lirik untuk kotak musik baruku ini!" Jack menunjuk sebuah kotak musik yang tergeletak di sampingnya. "Tapi dari tadi aku belum dapat ide."

"Ho, jadi kamu benar-benar serius ingin menjadi pembuat kotak musik, ya?"

"Tentu saja!"

Mrs. Vessailus menghela napas. "Baiklah. Tapi jangan lupa untuk membereskan kamarmu, ya!"

"Baik, Ibu!" Jack tersenyum. "Oh ya, Ibu masih ingat dengan kotak musik yang kutemukan sepuluh tahun lalu?"

"Tentu saja ingat. Jangan remehkan ingatan ibumu, ya. Memangnya kenapa?"

"Ibu tahu judul lagu kotak musik itu? Dari dulu ingin kutanyakan, tapi lupa terus."

"Oh, judul lagu itu 'Last Love'."

"Last Love?"

"Ya. Kalau tidak salah, Ibu masih menyimpan lirik lagu yang dibuat kakekmu itu. Mau lihat?"

Jack mengangguk antusias. Mrs. Vessailus keluar sebentar dan beberapa saat kemudian kembali. Ia menyodorkan selembar kertas yang telah menguning pada Jack. Jelas sekali kertas itu sudah lama disimpan. Jack menerima dan membacanya.

I have reflected
the beautiful eyes
are spreading on the inside of my heart
wearing the uncertain night sky

the throne of the moon, the offering of the stars
every possible day
going down the top of the veil, like glittering

while weaving the threads of our memories
I am unable to forget the warm touch
with the gentleness of our last love
without my heart withering up
our dream will continue reeling

calling my name
a lovely whisper
whirling in the inside of your ear
falling into the eternal sea

Jack terpesona. Lirik lagu ini memang indah. Tapi… rasanya ada yang janggal.

"Ibu, lirik ini belum selesai ditulis, ya?"

"Ah, kamu menyadarinya, ya. Kakekmu meninggal sebelum sempat menyelesaikan lagu itu. Kalau kamu mau, simpan saja lirik itu. Ibu keluar dulu, ya." Mrs. Vessailus keluar dari kamar diiringi ucapan terima kasih Jack.

Setelahnya, Jack mengamati lirik itu beberapa saat. Mendadak ia mendapat ide untuk melanjutkan lirik itu. Diambilnya kertas dan pena. Dalam sekejap ia sibuk menulis.

Setelah selesai, Jack tersenyum melihat hasilnya.

the echoing wave, the timbre of a bubble
assuming that all of this world's songs
have been played
like floating to the surface

locking up the case of the mother-of-pearl
my tears will scatter on the sleeping rainbow
with the sadness of our last love
my heart will dampen
having a fresh start in life in the morning dew

If I know of our last love
my tears will scatter into the freezing darkness
knowing of our last love
I will hold onto you
and forever more, i will stay by your side

what one colour
will not fade?

oooooo

THE END


A/N : Dapat ide untuk fanfic ini setelah baca Pandora Hearts volume 7. Baru tahu kalau Jack pembuat kotak musik. Jarang lho ada karakter cowok (animanga) yang menjadi pembuat kotak musik, makanya saya menulis fanfic ini.