Disclaimer : Jun Mochizuki & Ali Project (for the song)

Third song : Rakuen Soushitsu / Paradise Lost.

Character : Will of Abyss/Alyss

Note : Fanfic ini mengambil setting di Abyss setelah Break diambil matanya diambil oleh Alyss. Untuk membedakan dengan Alice, maka Will of Abyss disebut "Alyss."


Paradise Lost


Temuilah sang penguasa Abyss…

Dia berwujud seorang gadis berambut putih panjang…

Dengan mata lavender indah…

Mengenakan gaun berwarna putih….

Tapi berhati-hatilah…

Jangan tertipu dengan wajah cantik dan senyum manisnya…

Karena ia bisa bertindak kejam terhadapmu.


"…Alyss."

"Sadarlah, Alyss."

Perlahan-lahan Alyss, sang penguasa Abyss, membuka matanya. Gadis berambut putih itu melihat Chesire duduk di sampingnya.

"Ng, Chesire?"

"Ah, Alyss. Syukurlah kau sudah sadar!" Chesire tersenyum penuh kelegaan mendengar suara Alyss.

"Ng, apa yang terjadi?" tanya Alyss bingung. Ia melihat ke kanan-kiri.

"Alyss lupa lagi, ya. Tadi kau terlalu banyak melepaskan kekutanmu sehingga pingsan," sahut para boneka.

"Begitu, ya? Ng, apa ini?" Alyss melihat tangannya yang mengenggam sebelah bola mata Break. Ingatannya saat mencungkil sebelah mata Break kembali seketika.

"Oh ya! Aku hendak memberikan bola mata ini untuk Chesire! Nah, Chesire, buka perban matamu. Ini akan menjadi mata barumu."

Chesire membuka perban di matanya tanpa ragu-ragu. Alyss "mentransplantasi" bola mata itu ke Chesire. Chesire membuka matanya perlahan. Yang pertama kali dilihatnya adalah Alyss.

"Bagaimana, Chesire? Bisa melihat, tidak?" tanya Alyss.

Chesire menganggukkan kepalanya..

"Wah, syukurlah!" kata Alyss senang. Tapi, sedetik kemudian ia mendesah kecewa.

"Kenapa, Alyss?" tanya Chesire.

"Sayang sekali, aku tidak sempat mengambil matanya yang satu lagi. Kalau begini, Chesire tidak bisa melihat dengan sempurna." Kekecewaan yang mendalam tampak di wajah Alyss.

"Jangan kecewa, Alyss. Kalau lain kali ada manusia yang jatuh ke Abyss, kamu bisa mengambil matanya," sahut boneka kucing.

"Tapi, manusia yang memiliki mata merah kan jarang," sahut Alyss, masih kecewa.

"Tidak apa-apa, Alyss. Aku cukup dengan satu mata saja, kok," kata Chesire.

"Benarkah itu?" Alyss menatap mata merah Chesire.

"Benar. Justru aku yang harus berterima kasih pada Alyss karena telah memberiku mata untuk melihat lagi," ujar Chesire sambil tersenyum.

Alyss tersenyum dan memeluk Chesire. Mendadak ia menyadari sesuatu dan melepaskan pelukannya.

"Oh, tidak! Gaunku ternoda darah. Padahal ini gaun kesayanganku," ujar Alyss sedih. Ia menatap gaun putihnya yang ternoda bercak-bercak darah. Sedikit memang, tapi cukup menyolok karena gaun Alyss berwarna putih.

"Jangan khawatir, Alyss. Kamu kan masih punya gaun lagi," kata sang boneka.

"Benar juga! Baiklah, aku ganti baju dulu."

Alyss menghampiri lemari pakaian dan membukanya. Terdapat bermacam-macam gaun berwarna putih di sana. Modelnya mirip dengan gaun yang dipakai Alyss. Ia mengambil sehelai gaun.

"Jangan mengintip, ya!" kata Alyss sambil tersenyum manis kepada semua bonekanya.

"Baik, Alyss!" Semua boneka patuh dan memejamkan mata, termasuk Chesire.

Selesai berganti pakaian, Alyss memerintahkan semuanya untuk membuka mata. Mendadak jarum jam di lemari berputar sangat cepat dan dalam sekejap berhenti di angka sembilan. Jam itu berdentang keras. Alyss terkejut dan melihat jam.

"Ah, sudah jam sembilan! Ini waktunya tidur!"

"Waktunya tidur, waktunya tidur!" seru para boneka.

Alyss menjentikkan jarinya. Sebuah ranjang muncul dan mendarat di hadapannya. Alyss berbaring di atas ranjang itu.

"Oh ya, sebelum tidur, bagaimana kalau aku mendongengkan sebuah cerita?"

"Dongeng! Alyss akan mendongeng untuk kita! Semua harus diam dan mendengarkan!" seru para boneka gembira.

"Kisah ini dimulai… ah!" Seakan menyadari sesuatu, Alyss bangkit dan menatap ke suatu arah.

"Ada apa, Alyss?" tanya salah satu boneka

"Ada manusia yang jatuh ke Abyss lagi, ya?"

"Begitulah. Dan saat ini manusia itu sedang membuat kontrak dengan salah satu chain," jawab Alyss.

"Wah, lagi-lagi. Kira-kira bagaimana nasib manusia itu, ya?"

"Sudah jelas 'kan? Dia akan menjadi gila tak lama kemudian."

"Atau bisa jadi dia membunuh manusia lain."

"Bisa juga dia bunuh diri karena tidak tahan."

"Hahahahaha!"

"Hahahaha!"

Para boneka itu tertawa terbahak-bahak memikirkan nasib pemegang kontrak ilegal itu. Alyss hanya tersenyum. Sudah banyak sekali manusia yang jatuh ke Abyss, sampai-sampai Alyss tidak bisa mengingat jumlahnya. Mereka mempunyai bermacam-macam harapan, tapi inti keinginan mereka hanya satu : memutarbalikkan waktu. Ingin memperbaiki kesalahan yang mereka perbuat dulu. Padahal itu percuma saja karena waktu yang sudah hilang tak akan kembali.

"Hmmm… dasar manusia bodoh. Daripada mencoba mengubah masa lalu, kenapa mereka tidak belajar dari kesalahan dan menghadapi masa depan, ya? Yah, sudahlah. Itu bukan urusanku. Lagipula, dengan adanya manusia seperti itu, hari-hariku tidak pernah membosankan di Abyss."

Alyss menatap boneka-bonekanya.

"Aku jadi kehilangan minat bercerita. Ayo kita tidur."


Inilah Abyss….

Tempat di mana waktu berhenti mengalir…

Tempat di mana kamu tidak perlu mencemaskan apa-apa lagi karena kamu akan menjadi chain…

Tempat di mana permintaanmu bisa dikabulkan asalkan menjadi kontraktor ilegal ..

Sebagian orang menganggap Abyss adalah "neraka", tapi…

Bagi sebagian orang, Abyss adalah…

Surga yang hilang.


The End