Ok..ok..
Maaf ya udah nunggu lama. Sebenarnya sih chapter ini mau aku update kemarin tapi laptopku malah dibawa sama mama ke luar kota..ckckck
Tapi, untuk aja pulangnya cepet.
Ya udah kita balas review dulu ya..
namikaze sanaru_Nih udah di update.. oh ya? Aku pnggen bgd pnya ade cwo, tapi syngnya mlh dikasih ade cwe yang sister complex..hikz. Wah.. mau di praktekin buat apa?
Chebbysasusaku_ Salam kenal jga..^^
KiryuuKara_Lam kenal jg. Arigatou.. Nih dah aku update. Enjoy!
Miss Uchiwa SasuSaku's Lover_ Soal Hinata belum bisa aku kasih tahu sekarang. Mungkin chap. depan. Tapi tenang aja ini SasuSaku kok bukan SasuHina, yah walaupun ada slight SasuHina-nya. Lagian aku jga ga rela Sasuke sama Hinata! . (Maap buat SasuHina FC..)
Rievectha Herbst no login_ duh jgn pnggil Senpai, aku jga masih baru kok.. Panggil Song aja..
Makasih ya..^^
Reader_Nih di update..
Uchiha Kazuma_histeris kenapa? nih update-nya..
Nakamura Kumiko-chan_ iya.. jarang-jarang sasu jd ade kan? Wkwk. Fav? Thanxx buanget..XD
4ntk4-ch4n_ Makasih..makasih.. Jadi malu nih.. Kalau Saku yg jadi adik, entar ceritanya gak jalan... Lagipula di aslinya emang Saku lebih tua dari Saku.. Ok, Salam kenal jg..^^
Vir9initY-chan_usahamu mnggu gak sia-sia.. nih hidangannya (emang mknan?)..hehehe
eks.X_ sbnrnya aku terinspirasi dari crta di film itu tpi buat idenya asli dari otakku yg pas-pasan ini.. (Yah d bntu ade qu jg sih. Nih dah di update..
Michiru No Akasuna_duh, aku gak usah dpnggl senpai ya..hbsnya aku malu kalau dipnggl kyk gitu. Pggl aja Song..hehe
Rei-chan_Yap..yap. aku emang udah nyadar soal umurnya. Saku bulan Maret sedangkan Sasu bulan July, iya kan? Soal anting.. kyknya gak bsa deh, biar lebih mendalami gitu.. anggap aja itu kyak Hiro DBSK yang pnya anting tp ttp keren..hehehe. Gomen..
Fay_Kenapa ya? Mungkin emang ide ceritanya kayak gitu.. Maap ya...
Enda-Versailles_ Wah..wah jgn2 lgi suka sodara sendiri ya? Gak kok.. becanda.. thanx ya..
aya-na rifa'i_ Hai ay.. thanx ya udah review.. *Hugs*
LuthMelody_ Ampun mas.. NIh udah di update.. enjoy ya!
Disclaimer : Naruto © by Masashi Kishimoto
Chapter 2 : WELCOME TO HELL SISTER!
"KAKAK?" Ino dan Naruto memekik tidak percaya, mata mereka membulat, sedangkan mulut mereka tidak berhenti menganga. Neji yang bahkan terkenal tenang pun tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya, begitu pula dengan sepupunya, Hyuuga Hinata. Sedangkan Shikamaru hanya menguap lebar.
"Teme! Kenapa kau tidak bilang kau punya kakak? Bukannya kau anak tunggal?" Tanya Naruto.
"Hn. Apa kau lupa, dobe? Ibuku menikah lagi." Jawab pemuda bermata onyx itu santai.
"Lalu?" Tanya pemuda Uzumaki itu, masih saja tidak mengerti.
"Itu berarti gadis ini adalah kakak tirinya. " Ujar Shikamaru yang masih saja sibuk menguap.
"Ooh begitu.." Kata Naruto seraya mengangukkan kepadanya, mengerti.
"Karena kakakku dari Konoha gakuen tadinya aku berfikir bahwa dia adalah orang yang elit dan anggun, tapi ternyata hanya seorang gadis aneh yang cerewet" Ejek Sasuke sambil menyeringai.
Sakura yang sedari tadi masih terbujur kaku langsung terbakar amarah, "Apa kau bilang?"
"Gadis aneh yang cerewet." Ulang Sasuke.
"Dasar berandalan."
"Old woman"
"Chicken Ass"
"Pinky"
"Berani-beraninya kau-"
"Sasuke-kun.." Sebuah suara lembut menghentikan 'perkelahian' mereka.
Perhatian Sasuke beralih kepada gadis manis yang sedang memegang lengan bajunya, "Ada apa Hinata?" Tanya Sasuke.
"Disini dingin." Ujarnya "Aku kedinginan." lanjutnya lagi seraya menatap Sakura dengan pandangan tidak suka dan semakin mendekatkan tubuhnya ke lengan Sasuke.
". Ayo kita pergi." Katanya sambil menatap gadis Hyuuga itu. Sasuke mengangkat kepalanya, kini ia menatap kakak tirinya. "Sampai ketemu lagi ya, Sakura-neechan" kemudian pemuda itu berlalu bersama teman-temannya.
Flashback
"Bagaimana sekolahmu, Sakura-chan?" Tanya suara yang sangat familiar di telinga Sakura.
"Lumayan.." Kata Sakura asal-asalan sambil tetap mengaduk-aduk makanan yang disajikan beberapa menit lalu oleh pelayan-pelayannya. Sebenarnya nafsu makan Sakura turun drastis karena mengingat kepindahannya ke Otogakuen nanti.
Haruno Deisuke, ayah Sakura hanya menatap Sakura dengan tatapan sedih. Sebenarnya ia tidak ingin membuat anak kandung satu-satunya ini kecewa. Sudah dua hari ini Sakura bersikap dingin padanya. Padahal ia sudah berusaha pulang ke rumah lebih sering untuk menyemangati anak perempuannya ini. Semenjak kematian Haruno Sae, istinya, ia memang lebih sering memanjakan Sakura, apapun yang diinginkan Sakura selalu ia penuhi tanpa terkecuali.
Sakura masih saja mengaduk-aduk sup sayur kesukaannya sesekali ia melirik ayahnya diam. Dalam hati Sakura ia sebenarnya tidak ingin bersikap dingin kepada ayahnya, ia memang anak yang manja tapi bukan berarti ia tidak memikirkan perasaaan orang lain.
Memutuskan untuk mengusir ketidaknyamanan, Sakura mulai angkat bicara "Ayah.."
Ayah Sakura melirik Sakura sebentar, "Coba ceritakan padaku sedikit tentang… eng.. adikku"
Mendengar putrinya bertanya tentang keluarga barunya, mata ayah Sakura langsung berbinar-binar senang. "Kau pasti menyukainnya, sayang. Namanya Uchiha Sasuke."
"Laki-laki?" Tanya Sakura.
"Ya." Ayahnya mengiyakan. "Ia anak yang tampan, manis, dan sangat perhatian." Lanjut ayahnya semangat.
Sakura hanya menganggukkan kepalanya.
...
"manis..? Perhatian..? Apalagi.. ganteng?" Gerutu Sakura yang baru saja menginggat perkataan ayahnya beberapa hari yang lalu saat ia masih bersekolah di Konoha gakuen .
Sakura sedang berada di restoran cepat saji yang terletak tidak jauh dari Oto gakuen. Ia dan Ino memutuskan untuk beristirahat sejenak setelah frustasi seharian karena hal-hal melelahkan yang terjadi di sekolah itu.
Misalnya saja, ternyata Ino harus berpindah tempat duduk karena tempat duduk yang dia tempati adalah milik si Pangeran Uchiha itu, dan pada akhirnya Sakura harus menelan kenyataan pahit bahwa si Pangeran Uchiha yang notabene adik tirinya itu duduk dibelakangnya ditambah lagi si adik tiri terus-terusan menganggunya.
'Malangnya nasib ku..' pikir Sakura lemas.
"…ra"
"Sakura.." Ino yang kesal karena tidak ditanggapi sahabatnya itu memutuskan cara terbaik untuk 'menyadarkan'-nya.
"Forehead girl!" Teriak Ino. Dan benar saja, Sakura langsung tersadar dari lamunanya dan sekarang sedang memandang garang temannya itu.
"Apa sih, Ino-pig?" Ujar Sakura kesal.
"Justru aku yang harus bertanya. Ada apa? Begitu pulang dari sekolah tadi kau terus-terusan melamun." Kata Ino setelah menyeruput greentea ditangannya. "Sedang memikirkan adikmu ya? Adikmu ganteng sekali ya.." Goda Ino.
"Ganteng?" Sakura mengernyitkan keningnya," Ino jangan bilang kalau kau tertarik dengan adikku?"Sakura memandang Ino curiga.
"Memang sih." Sakura membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu tapi Ino buru-buru menambahkan "Tapi bukan tipeku. Aku lebih tertarik dengan Shika-kun" Ino cekikikan.
"'Shika-kun?' Ino kau gila! Memangnya sudah berapa pacarmu? Tiga? Lima?"
Ino melambai-lambaikan tangannya di depan muka Sakura "Hei..hei.. Jangan bilang seakan-akan aku seorang Playgirl. Lagipula mereka cuma teman kok."
"Yah, kalau ajakan jalan-jalan dan makan malam di restoran romantis masih di kategorikan sebagai teman" cibir Sakura
Ino tertawa renyah "Haha.. Itu inti dari semuanya Sakura, sedangkan cinta hanyalah sebuah bonus. "
Sakura mengeleng-gelengkan kepalanya. Sahabatnya yang satu ini memang tidak beres. Perceraian orang tuanya membuatnya menjadi seorang gadis yang tidak percaya sesuatu bernama cinta. Berkali-kali Sakura mengingatkan Ino tapi gadis pirang itu tetap saja tidak berubah.
"Jangan bicara begitu, kau pasti akan disakiti suatu hari nanti" kata Sakura.
"Itu bukan salahku. Memang salah kalau mereka tertarik padaku?" Ucap Ino dengan bangga.
"Susah bicara denganmu, Ino" kata Sakura sebelum mengigit kecil hamburgernya. Ino membalasnya dengan tertawa ringan.
"Ngomong-ngomong, kira-kira gadis yang bersama adikmu siapa ya? Pacarnya ya?" Tanya Ino.
"Mana ku tahu.." Jawab Sakura. "Tapi sepertinya aku tidak begitu suka dengannya." Lanjut Sakura.
"Kenapa? Cemburu ya?" Goda Ino sambil tersenyum jahil.
"Mana mungkin! Kau ada ada saja." Kata Sakura sambil menyeruput Jus Strawberrynya.
"Oke..oke.." Ucap Ino masih dengan senyum jahilnya.
Drret..
Drret..
"Sakura, handphonemu tuh" Ino menunjuk pada sebuah benda kecil berbentuk persegi panjang berwarna baby pink dengan gantungan bintang keperakan yang kini sedang bergetar.
"Siapa?" lanjut Ino. Sakura segera membaca ID penelepon yang dimaksud tertulis jelas nama 'ayah' di layarnya kemudian memberi isyarat kepada Ino. "ayah.." gumamnya.
"Halo, Ayah.." jawabnya kemudian.
"Iya.. di Restoran dekat sekolah"
"…. dengan Ino.. "
"iya..iya... "
"Tapi.."
"Baik yah.. Jaa.." Kata Sakura akhirnya sebelum memutus hubungan telepon. Kemudian Sakura segera membereskan barang-barangnya kemudian menggandeng tas kesayangannya. "Aduh.. Maaf ya Ino, aku harus segera pulang"
"Lho? Memangnya kenapa?" Tanya Ino.
"Ayah tiba-tiba saja menyuruhku cepat-cepat tahu sendiri kan sifat ayahku yang suka kuatir kalau aku tidak cepat-cepat pulang setelah di telepon?"
Ya, memang sih ayah Sakura adalah tipe orang tua yang akan melakukan apa saja untuk melindungi anaknya. Bahkan terakhir kali Sakura terlambat pulang karena ada kegiatan ekstrakulikuler sang ayah hamper saja menghancurkan seisi sekolah saking kuatirnya.
"Ya sudahlah.. aku juga tidak apa-apa" kata Ino yang merinding mengingat saat-saat ayah Sakura 'kambuh'. Sungguh menakutkan.
"Oke. Ja ne Ino.."
"Hati-hati ya Sakura.."
'Jadi, kenapa aku ada disini?' Teriak batin Sakura.
Gadis berambut pink itu mengedarkan pandangannya di ruangan itu. Ukuran ruang tamu itu tidak sebesar di rumahnya, desain interiornya pun sedarhana tapi terlihat jelas bahwa ruangan itu dirawat dengan baik. Satu set sofa berwarna putih, karpet biru dengan motif aneh berbentuk kipas merah-putih, meja kaca dengan kaki meja berwarna putih, jendela kayu, dan lampu berbentuk bulat yang tergantung di langit-langit serta sebuah lukisan yang berukuran lumayan besar terpampang di dindingnya.
"Ayah, aku mau pulang." Katanya Sakura untuk kesekian kalinya kepada ayahnya.
"Ayolah Sakura-chan, kau pasti senang. " Sakura hanya memutar matanya, ayahnya ini memang tidak bisa ditebak. Sesampainya Sakura di rumah, ia tiba-tiba ditarik untuk makan malam di rumah calon ibu tirinya, Uchiha Mikoto. Sakura sampai-sampai tidak sempat menganti bajunya.
Sakura menatap tajam ayahnya, kalau pandangan bisa membunuh ayahnya pasti sudah mati sedari tadi 'Dasar seenaknya sendiri!'
Tiba-tiba seorang wanita berambut hitam panjang muncul dari ruangan sebelah. Ia kemudian tersenyum lembut kepada Sakura.
"Baiklah, ayo kita makan. Makanannya sudah siap." Ucap wanita itu lembut.
"Terima kasih, Mikoto. Ayo Sakura-chan." Kata Ayahnya ceria kemudian menarik tangan Sakura mengikuti nyonya Uchiha ke ruang makan.
Di ruang makan itu terdapat sebuah meja berbentuk persegi panjang dengan empat buah kursi yang mengelilinginya. Di atas meja sudah tersedia berbagai macam makanan mulai dari Yakitori, sashimi, sampai dengan shabu-shabu tidak lupa juga potongna-potongan tomat segar. 'Tomat?' Tanya Sakura heran.
Mereka bertiga pun segera duduk ditempat masing-masing. Ayah Sakura mengambil tempat duduk sebelah kanan kemudian Sakura duduk disebelah ayahnya. Sedangkan Mikoto duduk berhadapan dengan ayah Sakura.
"Lho, Sasuke kemana?" Ayah Sakura bertanya pada wanita di depannya.
"Oh, mungkin sedang mandi. Mungkin sebentar lagi dia selesai.. Ah, itu dia." Seorang pemuda bermata Onyx berjalan mendekati meja makan dan mengambil tempat tepat di depan Sakura.
"Maaf aku terlambat paman." Ujar Sasuke meminta maaf.
Deisuke Haruno hanya tersenyum "Ah, Tidak apa-apa. Oh ya, ini ayahku, Haruno Sakura"
"Senang bertemu denganmu, Sakura-nee. Maaf untuk yang tadi siang ya." Ucap Sasuke sopan.
Sakura terpana. 'Anak ini.. Apakah dia benar-benar berandalan yang tadi siang?' Sakura melirik pemuda di depannya. Ternyata Sasuke pun sedang menatap Sakura sambil tersenyum misterius,'Glek.' "
"Jadi kalian sudah saling kenal, ya" Tanya Mikoto yang terlihat sangat senang dengan kenyataan kalau mereka sudah saling kenal.
"Hn. Tadi siang kebetulan kami bertemu di sekolah dan mengobrol sedikit. " Jawab Sasuke dengan tenangnya.
"Wah bagus itu." Kata Ayah Sakura kemudian.
Mereka lalu melanjutkan makan malamnya sambil bercerita tentang keluarga masing-masing. Sakura hanya diam sesekali dia menjawab pertanyaan yang dilontarkan Mikoto tentang dirinya sedangkan Sasuke masih terlihat tenang dan anehnya saangaat sopan. Tiba-tiba hp ayah Sakura berbunyi.
"Maaf ya, aku angkat telepon dulu." Kata Ayah Sakura lalu beranjak dari meja makan dan mengangkat telepon. Beberapa menit kemudian ia kembali dengan muka lemas.
"Ada apa ayah?" Tanya Sakura pada ayahnya.
"Maaf ya Sakura-chan, sepertinya untuk beberapa hari ke depan kamu harus sendirian di rumah." Ucap Ayahnya yang selalu terlihat sangat tidak rela jika pergi meninggalkan Sakura. Ayahnya selalu meminimalisir kepergiannya keluar kota atau sekedar menginap di luar. Berterima kasihlah pada sifatnya yang over protective itu.
"Memangnya kenapa?"
"Ayah harus ke luar kota." Jawab Ayahnya tidak bersemangat.
Setelah beberapa saat, Mikoto pun angkat suara. "Bagaimana kalau.. Sakura-chan tinggal disini dulu?"
Sakura hampir berteriak karena saking kagetnya "Hah?" ucap Sakura yang masih bisa mengontrol kekuatan suaranya. "Tid-"
"Apa benar?" Tapi berbeda dengan Sakura ,sang ayah sepertinya sangat senang dengan ide tersebut.
"Tapi-" Sakura berusaha untuk menolak tapi ternyata usahanya sia-sia.
"Iya benar paman. Kami tidak keberatan kok. Lagipula dari sini ke Otogakuen lebih dekat daripada disana." lanjut Sasuke ikut-ikutan.
"Oh ya? Kalau begitu sebentar ayah kirim baju-baju dan perlengkapan kamu, ya Sakura-chan" ujar pria itu "Tolong jaga Sakura-chan ya, Sasuke"
"Tenang saja, paman. Aku pasti akan menjaga Sakura-nee dengan baik" kata Sasuke sambil menunjukkan seringai khasnya.
'Welcome to hell..' batin Sakura.
TBC
Akhirnya selesai juga..
Ok.. silakan kritik dan sarannya..
Ya..ya...
