Halo minna-sama!
Kembali lagi dengan Haine-91 di sini! Dengan update cerita di fanfiction Shugo Chara! Nah, saya mau minta maaf nih updatenya lamaaa… Banyak pe-er, capek soalnya pulang sore!
Mungkin saya gak update cerita ini lagi, mau di stop sementara. Soalnya saya mau focus ke UN, doain saya lulus dengan nilai memuaskan dan masuk ke SMA pilihan yah! (amin)
Nah, sudah cukup basa-basinya… Ayo lanjut ke cerita!
Disclaimer: Shugo Chara! bukan punyaku. Tapi, punya Peach-Pit!
Chapter 4
"Rima! Jadi, pulang bareng tidak?" teriak Amu, sambil melambaikan tangannya pada Rima yang sedang berjalan bersama Kairi. "Ya, ya… Sampai besok, Kairi!" Rima berlari meninggalkan Kairi, menghampiri Amu dan Nagihiko.
Diperhatikannya Nagihiko sedang merengut kesal. "Nagihiko! Ada apa? Kamu kelihatan kesal sekali!" ujar Rima.
"Dia memang sudah seperti itu sejak istirahat siang, Rima! Tiap kutanya, dia hanya tersenyum dan berkata 'tidak ada apa-apa'. Mengesalkan!" ungkap Amu.
Nagihiko, malah tertawa mendengar perkataan Amu.
"Memang benar, tidak ada apa-apa, Amu!" jawab Nagihiko di sela-sela tawanya.
Mereka bertiga terus mengobrol sepanjang perjalanan pulang. Membicarakan tentang pelajaran, cuaca hari ini, dan bermacam topik tidak penting lainnya.
Saat mengobrol itulah, Nagihiko berpikir kenapa tadi Rima dan Kairi bareng terus. Memang di hari biasanya, mereka memang sering bersama, tapi tidak terlalu sering seperti tadi.
Di sebuah perempatan, Amu berpisah dengan Rima dan Nagihiko. Sesaat setelah kepergian Amu, keheningan yang canggung menyelimuti Nagihiko dan Rima.
Akhirnya, setelah mengumpulkan keberanian. Nagihiko membuka percakapan.
"Rima…"
"Emm, ada apa Nagi?" jawab Rima, salah tingkah.
"Aku ingin bicara sebentar boleh kan? Di taman." tunjuk Nagihiko ke arah taman, yang tidak jauh dari mereka.
"Ya, boleh!"
Lalu mereka berdua berjalan menuju taman dan duduk di ayunan.
"Rima? Ada hubungan apa kamu dengan Kairi?" tanya Nagihiko. "Tidak, kami hanya berteman. Tidak lebih dari itu kok!" jawab Rima, sambil menatap lurus-lurus ke depan, tidak memandang Nagihiko yang di sampingnya.
Mereka berdua terdiam beberapa saat, sampai akhirnya Nagihiko berbicara kembali.
"Aku sedikit berpikir-pikir mengenai jawabanmu semalam, Rima." Kata Nagihiko perlahan.
Hmm, sudah ku duga dia akan membahas ini lagi. Apakah aku harus jujur akan perasaanku? pikir Rima.
"Apakah kamu benar-benar yakin tidak menyukaiku? Apakah kamu menolakku karena perjanjian kita yang konyol itu?"
"Yah, bisa dikatakan seperti itu. Aku menolakmu karena perjanjian kita yang konyol itu." Rima berdiri, merapikan seragamnya dan berbalik.
"Nah, cuma itu kan yang mau kamu bicarakan? Sekarang aku ingin pulang. Oke? Sampai jumpa besok." Rima melangkah pergi dari hadapan Nagihiko, tapi Nagihiko memanggilnya.
"Tunggu…"
Rima memutar bola matanya, berbalik dan dengan kesal berkata, "apa lagi?"
Dengan sinis, Nagihiko berbicara, "kamu tidak menyesal kan menolakku hanya karena perjanjian konyol itu?" Tersenyum, Nagihiko mendekat. "Aku tahu kamu menyayangiku, Rima."
"Ya! Tapi, hanya sebagai sahabat! Tidak lebih dari itu!"
"Kamu yakin?" DEG! Rima terkejut melihat ekspresi Nagihiko yang tidak tertebak. "Kamu yakin kamu menolakku hanya karena perjanjian itu? Apakah kamu tidak akan menyesal jika aku pacaran dengan Amu?"
Rima membisu, merasa terpojok karena perkataan Nagihiko yang menusuk. Melihat kebisuan Rima, Nagihiko berjalan pergi keluar taman.
Tanpa disadarinya, Rima menarik tangannya. Membuat Nagihiko nyaris jatuh, sedikit kesal. Nagihiko berbalik dan menatap Rima yang sedikit bergetar.
"Ya, mungkin aku akan menyesal." Bisik Rima pelan. Nagihiko yang tidak mempercayai pendengarannya, kembali bertanya. "Maaf, aku tidak mendengar dengan jelas."
Rima mengangkat wajahnya, mengeluarkan semua keberaniannya dan berkata, "ya. Aku akan sangat menyesal jika kamu berpacaran dengan Amu. Ka-karena aku menyukaimu…"
Nagihiko kembali tersenyum, dan memeluk Rima. Erat. (AN: Author ngiri banget nih (-_-)
Rima membalas pelukannya dan tersenyum juga. Akhirnya, dia dapat mengatakan perasaannya. Tapi, bukan berarti masalah selesai. "Bagaimana dengan Amu? Apakah kita harus memberitahukannya tentang hubungan kita?" tanya Rima.
"Jangan, lebih baik jangan diberitahu dulu. Kita sembunyikan dulu hubungan kita."
Rima menganggukkan kepalanya. Lalu Nagihiko mengajak Rima pulang karena mereka berdua sudah terlalu lama di taman.
XXXXX
Ikutsu namida o nagashitara
EVERY HEART
Sunao ni nareru darou
Dare ni omoi tsutaetara
EVERY HEART
Kokoro mita sareru no darou
Nagai nagai yoru ni obieteita
Tooi hoshi ni inotteta
Amu bernyanyi-nyanyi di dalam kamarnya, sambil mengerjakan tugasnya di laptop. Dia sudah seperti ini hampir selama 3 jam.
Berhenti mengetik, Amu merenggangkan tubuhnya.
Oke, dia lumayan senang tadi saat hampir seharian bersama Nagihiko. Tapi, andai saja Nagihiko lebih bersemangat, lebih ceria, tentunya hariku akan lebih menyenangkan…
Saat pertama kali mengenal Nagihiko, Amu sudah menyukainya. Dari awal perkenalan. Tapi, perjanjian konyol itu sedikit menghalanginya. Nah, kalian lihat kan kalau janji itu membuat susah mereka bertiga? Tahu gitu mendingan nggak usah bikin perjanjian itu!
Secara tiba-tiba, Amu beranjak dari laptopnya. Dan mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja, menekan nomor yang sudah dihafalnya. Nomor Rima.
"Halo? Amu? Ada apa?" ucap suara di seberang, setelah terdengar nada sambung beberapa kali.
"Bisakah aku berbicara denganmu, Rima? Langsung? Bagaimana kalau kita bertemu di taman?"
XXXXX
Dingin.
Buat apa sih Amu mengajak ke taman? Padahal sekarang sudah malam. Pikir Rima, lalu dia tersenyum saat melihat taman yang ditujunya. Karena di sinilah tempat dia mengaku perasaannya pada Nagihiko dan akhirnya mereka berpacaran.
Dilihatnya Amu sudah lebih dulu berada di taman.
"Hai, Amu. Ada apa memanggil malam-malam begini?" sapa Rima hangat, dan duduk di sebelah Amu. Amu tersenyum kepadanya, tapi dia menjadi bimbang. Haruskah ku ceritakan masalah ini pada Rima?
Rima tersenyum dan berkata lagi, "apa yang ingin kamu ceritakan? Sesuatu yang penting kan? Kalau tidak penting, tidak mungkin kamu memanggilku malam-malam begini."
Oke, Amu ceritakan saja. Rima pasti tidak akan marah, malah mungkin akan mendukungmu. Pikir Amu tenang, menarik napas dalam-dalam. Dan mulai berbicara.
"Ri, Rima. Sebenarnya aku…"
Hening sejenak.
"Aku menyukai Nagi," lanjut Amu.
DEG!
A, apa? Aku tidak salah dengar kan? Amu menyukai Nagi? Tidak mungkin! Pikir Rima, kacau.
"Ya, yang benar Amu? Sejak kapan kamu menyukainya?" tanya Rima, panik. "Aku sudah menyukainya sejak pertama kali aku bertemu dengannya. Jadi Rima, emm…" kata-kata Amu terputus.
"Apa lagi Amu?" Rima mulai panik, dia takut mendengar perkataan Amu selanjutnya. Jangan-jangan Amu…
"Kamu mau mendukungku kan? Aku tahu ini salah, karena menyalahi perjanjian kita. Tapi, aku tidak bisa menghilangkan perasaanku ini."
Rima menatap wajah Amu yang memohon.
Rasanya tidak ada pilihan lain selain mendukung Amu, tunggu! bagaimana kalau akhirnya Amu tahu bahwa aku berpacaran dengan Nagi? Tentunya dia akan memusuhi kami berdua karena menutupi hubungan kami? Argh, lalu aku harus bagaimana?
"Lalu, bagaimana Rima?" tanya Amu lagi.
Dengan berat hati, Rima menganggukkan kepalanya. Yahh, biar hubunganku dan Nagi disimpan saja dulu…
Amu tersenyum senang, "yay! Terima kasih Rima!" ucapnya senang, lalu dia memeluk erat sahabatnya itu.
Rima memeluk Amu kembali dengan perasaan bersalah di hatinya.
XXXXX
Paginya, Rima bangun dengan perasaan yang sedih, mungkin? Susah dikatakan sih perasaannya.
Setelah memakai seragam dan sarapan, Rima berangkat ke sekolah.
"Rima!"
Rima terlonjak dari tempatnya berdiri. Dilihatnya yang memanggilnya adalah Nagihiko. "Hei, tidak perlu mengagetkanku seperti itu kan?" ucap Rima kesal.
"Maaf, maaf. Hari ini aku sedang senang." Jawab Nagihiko.
Rima hanya tersenyum dan berjalan menuju rumah Amu. Selama perjalanan mereka (AN: halah, bahasa author (-_-), Nagihiko memperhatikan kalau Rima hari ini tidak terlalu ceria seperti biasanya.
"Ada apa, Rima? Kamu sakit?" tanya Nagihiko, kekhawatiran terdengar jelas dari suaranya. Lagi-lagi Rima tersenyum, "tidak Nagi. Aku hanya memikirkan perkataan Amu semalam."
Mengerutkan keningnya, Nagihiko kembali bertanya, "memangnya apa yang dia ceritakan padamu?"
"Dia, dia bilang kalau…" ucapan Rima terputus. Haruskah ku ceritakan padanya? Kelihatannya tidak. Tapi, Nagi berhak tahu.
"Kalau Amu suka padamu, Nagi." Lanjut Rima. Nagihiko hanya tersenyum mendengarnya. "Kamu tidak kaget, Nagi?" tanya Rima, heran. "Yang kamu katakan hanya candaan saja kan?" kata Nagihiko.
GUBRAK!
Rima terpaku akan apa yang didengarnya tadi. Apa? Candaan katanya? Dasar bodoh!
"Aku tidak bercanda, Nagi. Aku serius!" ujar Rima, jengkel.
Nagihiko terdiam, dan…
"EHH? YANG BENAR?" ucapnya.
Reaksinya telat 3 menit 20 detik, pikir Rima sambil mengecek jamnya. (AN: Rajin amat diitungin! Hahaha)
Tidak memperdulikan Nagihiko, Rima berjalan semakin cepat ke rumah Amu.
"Jadi beneran? Ku pikir kamu bohong." Nagihiko buru-buru mempercepat langkahnya mengikuti Rima. "Jadi bagaimana?" tanya Rima, yang lagi-lagi mengecek jam tangannya.
"Bagaimana apanya? Hubungan kita, hmm?"
"Yeah, tentu saja. Apakah kita harus putus, Nagi?" tanya Rima tanpa memperhatikan perubahan ekspresi Nagihiko. "Tidak." Jawabnya tegas.
"Cara paling bagus adalah memberitahukan hubungan kita, Rima. Yah, walaupun kita baru berpacaran tapi cara ini adalah yang paling mudah." Saran Nagihiko.
"Ta, tapi… Bagaimana kalau nantinya Amu membenci kita? Aku tidak mau itu."
"Itu sudah resiko kita. Kamu juga tahu kan? Dan kalau kita tidak terburu-buru, kita bisa telat, Rima!"
Rima lagi-lagi mengecek jam tangannya. Astaga, sudah mau masuk! Dan lagi kami belum ke rumah Amu!
"Yahh, kalau begitu ayo cepat!"
TO BE CONTINUED…
Yeyy! 8 halaman! Paling panjang dari semuanya! Oh iya, omong-omong ceritanya lagi diambil dari sudut pandang orang ketiga deh kayaknya…
Author gak terlalu yakin~ :3
Review please! XDDD
