Chapter 2: DesukeNarunaDasuke

Fic ini untuk yang minta dibikin chap 2 nya!

Still Naruto's POV!

Sudah berlalu 26 tahun sejak kejadian itu...

"Naruna, kamu itu jahat banget ya? Beraninya kamu bikin Niina menangis!" seru seorang lelaki sebaya Naruna, puteriku di depan rumah. "Bukan salahku, Desuke! Diakan memang menggangguku! Wajarlah kalau dia kutampar!" seru Naruna. "Bagaimanapun juga, kamu itu keterlaluan! Dan ingat, jawabanku atas pertanyaanmu kemarin, TIDAK!" seru Desuke lagi dan pergi menuju rumahnya. Kasihan puteriku itu! Kulihat dia menangis dan berlari ke kamarnya. Akupun mengikutinya dan masuk ke dalam kamarnya. "Naruna? Ditolak lagi ya?" tanyaku sambil membelai kepala puteri sulungku itu. Ia hanya mengangguk. "Sudahlah. Kamu tahu? Dulu tou-san juga sering ditolak. Hanya kaa-san yang mau sama tou-san. Itupun, setelah dijodohkan!" hiburku. "Jadi, semua ini turunan dari tou-san?" tanya Naruna. "Maafkan tou-san ya? Lalu, sebenarnya dari lahir kamu sudah dijodohkan dengan Dasuke. Kamu kan sudah 23 tahun. Sudah waktunya!" kataku. "Da-Dasuke? Kakaknya Desuke? Ta-tapi diakan udah pacaran sama Nola, anaknya om Sai!" kilahnya. "Percaya deh! Tanya aja om Shikamaru!" kataku santai dan meninggalkan Naruna. Yep, Naruna putriku itu memang aneh. Mirip aku yang dulu ditolak terus sampai jadi yaoi. Untungnya, Sasuke sudah death 26 tahun yang lalu.

NARUNA'S POV

"Om Shika? Ini Naruna! Bisa tidak saya ke sana sebentar?" tanyaku di telepon. "Ya! Tentu boleh!" jawab om Shikamaru. Aku segera pergi menaiki mobil camry ku. Sesampainya di sana, aku disambut tante Temari. "Baa-san, boleh nanya tidak?" kataku pada tante Temari. "Ada apa?" kata tante Temari dengan lembut. "Benar tidak kalau saya dijodohkan dengan Dasuke sejak lahir?" tanyaku dengan berbisik. "Iya! Sudah diberitahu tou-san kamu?" jawab tante Temari. "Su-sudah." kataku dan langsung kabur ketika melihat Dasuke keluar dari kamarnya. Tujuanku sekarang cuma satu, menuju rumah adikku Hinaru! Aku perlu bicara dengannya.

Sesampainya di rumah Hinaru, aku melihat ia sedang menyiram mawar pink kesukaannya. "Hinaru! Ini kakak!" panggilku. "Kak Naruna? Ayo masuk!" sambut adikku satu-satunya itu. "Hinaru,kakak mau tanya. Sebenarnya kamu itu dijodohkan tidak sama Hito?" tanyaku tanpa basa-basi. "Sebenarnya sih iya. Awalnya aku tidak mau, tapi kalau dicoba lama-lama cinta lho!" jawabnya. "Memangnya kenapa,kak?" tanyanya. "Sebenarnya kakak juga dijodohkan sama kak Dasuke,kakaknya kak Desuke yang kakak sukai. Tapi kayaknya Desuke membenciku." jawabku. "Ini namanya My Love or My Enemy,kak!" kata adikku itu dengan antusias. "Kakak pulang deh." ujarku dan pulang.

Di kamarku, aku berpikir. Sebenarnya ada apa denganku? Aku ini aneh! Bukannya wajah Desuke dan Dasuke sangat mirip? Kenapa masih kubedakan? "Tapi kalau dicoba lama-lama cinta lho!" kata-kata itu terngiang kembali di kepalaku. Dasuke...kuakui dia lebih baik daripada Desuke. Pintar, baik, funky, imut, dan juga orangnya care banget! Desuke kan memang pintar, tapi kasar, ngebosenin, ga ada imutnya dan super tidak care!

Lho? Kok aku jadi ngebayangin Dasuke? Bukannya aku ini menyukai Desuke. Atau walaupun menyukai Desuke, juga mencintai Dasuke? Kami-sama, aku ini kenapa?

"Naruna sayang, boleh kaa-san bicara?" tanya kaa-sanku, Hinata. "Iya kaa-san." jawabku lesu. "Kamu memikirkan Dasuke dan Desuke ya?" tanya kaa-san lagi. "Kok kaa-san tahu?" tanyaku balik. "Dulu kaa-san juga bingung lho, menentukan antara tou-san kamu dengan om Nawaki! Dulu kaa-san menyukai Nawaki, tapi kaa-san sadar kalaupun menyukai Nawaki, kaa-san juga mencintai tou-san kamu. Ingat sayang, suka bukan berarti cinta. Dan cinta lebih kuat daripada suka." jawab kaa-san sambil keluar dari kamarku. Aku ingat, dulu saat masih 12 tahun, Desuke hampir membunuhku dengan mendorongku ke jurang. Aslinya hanya main-main. Aku trauma tiap melihat jurang. Untungnya saat itu Dasuke menyelamatkanku. Mungkin sejak itulah aku mulai mencintai Dasuke. Caranya menolongku benar-benar membuatku nyaman. Desuke malahan kabur bersama Niina. Lalu bagaimana dengan Nola? Kasihan Nola kalau berpisah dari Dasuke. Maafkan aku Nola! Aku merebut Dasuke darimu.

"Nola, maafkan aku." begitu SMS ku pada Nola. Lalu,"Dasuke, bisa kita bertemu?" itu SMS ku pada Dasuke. Kami bertemu di taman. "Ada apa Naruna?" tanya Dasuke dengan senyuman yang manis sekali. OMG! Manis? "Aku mau bertanya langsung padamu. Sudah tahu rencana orangtua kita?" kataku. Dasuke tertawa kecil. "Sudah. Soal menjodohkan itu kan?" kata Dasuke. Aku mengangguk dan berkata,"Menurutmu gimana? Rela?" Dasuke memandang langit sebentar dan berkata,"Aku rela meninggalkan Nola asalkan kamu juga rela melupakan Desuke." Wajahku memerah semerah tomat! "I-itu artinya..."kataku yang terputus karena ciuman Dasuke. Aku hanya menikmatinya saja. Setelah paling tidak 2 menit ia melepas ciuman kami. "Kuakui sejak kejadian 11 tahun lalu aku mulai mencintaimu, dan yang terpenting kita memang akan bersatu." kata Dasuke. Aku memeluknya erat sekali. Dia juga membalas pelukanku. Setelah itu, dia mengantarkuu pulang.

Setelah sekitar 2 minggu, kami bertunangan. Wajah Desuke terlihat seprti...marah? Sudahlah, aku tak akan mengungatnya lagi. Aku sudah memiliki orang yang kucintai dengan tulus. "Naruna, bisa kita bicara sebentar? Di kamarmu saja." kata Desuke dengan dinginnya. Di kamarku, aku bertanya, "Ada apa kamu menggangguku?" Desuke diam saja. Tiba-tiba, ada yang mengikatku. Tangan dan kaki. Rupanya Desuke! Gerakannya kilat! Walaupun masih lebih cepat kakekku, Minato Namikaze. "Sialan kau, meninggalkanku demi kakakku itu?" kata Desuke. "DASUKEEEEEEEE!" teriakku. Dasuke datang, mendobrak pintuku dan mengahajar Desuke. Seperti 11 tahun lalu, Desuke melarikan diri. "Kamu tidak apa-apa?" tanya Dasuke dengan cemas. "Tidak apa-apa. Hanya saja aku terikat!" jawabku. Diapun melepaskan ikatanku. "Terimakasih sudah menolongku, Dasuke." kataku. "Iya! Nah ayo, kita harus bergegas! Acara akan dimulai!" kata Dasuke sambil menggendongku dengan ala bridal style. "Kyaaa! Turunin aku!" seruku. "Shuuuh! Entar aku dikirain orang jahat tahu!" kata Dasuke sambil bergegas ke ruangan acara.

Tou-san, Kaa-san, Om Shikamaru, Tante Temari dan teman-teman seangkatanku di KHS sudah bersiap. "SELAMAT YA NARUNA DAN DASUKE!" seru teman-temanku kecuali Desuke dan Nola. Sungguh hari yang menyenangkan, ditambah bulan depan adalah pernikahanku dengan Dasuke.

Sebulan kemudian...

"Apakah anda, Dasuke Nara bersedia menerima Naruna Uzumaki sebagai pasangan sehidup-sematimu sampai akhir hayatmu?" tanya pendeta. "Saya bersedia." kata Dasuke. "Apakah anda, Naruna Uzumaki bersedia menerima Dasuke Nara sebagai pasangan sehidup-sematimu sampai akhir hayatmu?" tanya pendeta lagi. "Saya bersedia!" kataku mantap. "Dengan begini kalian saya nyatakan sebagai suami-istri!" seru pendeta disusul tepukan tangan hadirin. "Kalian boleh mencium pasangan kalian!" kata pendeta padaku dan Desuke. Kamipun berciuman mesra.

Sebulan kemudian...

"Hoek! hoek!" aku muntah lagi. Entah sudah yang keberapa. "Kamu tidak apa-apa?" tanya Dasuke dengan cemas. "Pu-pusiiing..." kataku lalu pingsan. Aku digotong Dasuke ke KH dan diperiksa dokter. "Selamat pak,bu! Ibu Naruna dinyatakan positif hamil."kata dokter setelah aku sadar. Kami menyalami dokter dan pulang. Di mobil, tak henti-hentinya kami mengucap syukur pada Tuhan atas kehamilanku ini.

TBC