Pilih Aku atau Dia?
Summary : Semuanya telah kembali seperti semula. Ketenangan, kesenangan dan semuanya telah kembali. Organisasi Jubah Hitam yang selalu menghantu-hantui setiap orang sekarang sudah di hancurkan. Shiho telah menemukan penangkal obatnya. Dia dan Shinici sekarang kembali dengan tubuh asli mereka. Bagaimana hari-hari mereka selanjutnya? Warning : OOC *jelas*, AU, Geje, dll
Disclamer : Meitantei Conan tetap menjadi milik Aoyama Gosho-sensei. Meski aku memohon-mohon, bertekuk lutut dan meminta-minta ke Gosho-sensei, selamanya Meitantei Conan tidak akna dia berikan ke aku.
Rating : T *only Teens*
Genre : Romance/Drama
Pairing : Shiho Miyano & Shinici Kudo
Pilih Aku atau Dia? Chapter 2
Kilas Balik Chapter 1
"Kau lucu, Kudo-kun," kata Shiho tersenyum bebas.
"Kau aneh Shiho," kata Shinici dengan senyumnya juga.
Mereka memandang satu sama lain. Kedua mata aqua milik Shinici bertemu dengan mata biru ke hijauan milik Shiho. Mereka berdua berpandangan cukup lama. Tapi tak lama kemudian mereka kembali tertawa.
Tanpa Shinici dan Shiho sadari sedari tadi ada satu pasang mata yang melihat kejadian tadi. Mata yang mempunyai iris ungu muda itu memancarkan kekagetan yang luar biasa. Dia menggigit bibir bawahnya mencoba menahan rasa sakit yang bersarang di dadanya.
Perlahan orang yang mempunyai mata ungu muda itu menegakkan tubuhnya dan berjalan menjauh dari kaca jendela yang baru saja meperlihatkan kedekatan antara Shiho dan Shinici. Setelah sampai di trotoar, dia langsung berlari pulang menuju rumahnya dengan air mata yang bercucuran melewati pipinya.
= Morning =
Pagi itu tidak secerah pagi kemarin. Sejak pukul tiga pagi hujan rintik-rintik turun di sekitar kota Tokyo yang masih sepi. Tapi hujan seperti itu tidak menjadi penghalang orang-orang untuk beraktifitas. Mereka masih semangat untuk menjalankan aktifitas tetapnya.
Salah satunya adalah seorang pemuda bernama Kudo Shinici. Hari ini dia bangun pagi dan kelihatan sangat bersemangat sekali. Dia sekarang sudah memakai baju seragam sekolahnya. Dia sengaja bangun pagi agar dia tidak berlari-lari seperti kemarin di hari pertama dia masuk kembali ke sekolah.
Setelah selesai menata semua barang-barangnya yang akan dia bawa ke sekolah, dia langsung bergegas keluar dengan membawa payung dan mendeteng tasnya. Dengan semangat, dia membuka pintu rumahnya dan membuka payungnya juga.
"Wah… ternyata mendungnya masih tebal ya?" gumamnya sambil melihat ke arah atas. Dia kembali menghadap ke depan dan mulai berjalan meninggalkan kediamannya.
Shinici berjalan menuju ke arah rumah Profesor Agasa. Dengan muka datar dia meperhatikan pintu rumah Profesor Agasa yang masih tertutup. Shinici menghela nafas dan bersiap untuk berteriak.
"Shiii…"
"Kau lambat sekali Kudo-kun," sela seseorang yang berhasil membuat Shinici membatalkan niatnya untuk berteriak.
"Kau itu yang lambat, Shiho, aku sudah menunggu lama di sini," kata Shinici berbohong.
Shiho yang mendengar pernyataan Shinici langsung menghela nafas. Dengan wajah datarnya dia melihat Shinici yang sekarang masih berdiri di depan gerbang rumah Profesor Agasa.
"Kau jangan menipu ku Kudo-kun, aku sudah menunggu dari tadi, sayangnya aku menunggumu di dalam rumah," kata Shiho beranjak membuka payungnya. Dia berjalan perlahan menuju Shinici.
Shinici tertegun di tempatnya. 'Sudah menunggu dari tadi katanya? Mana mungkin?' pikir Shinici.
"Sebaiknya kita berangkat, nanti bisa-bisa kita terlambat," kata Shiho ketika sudah sampai di dekat Shinici.
Shinici bangun dari alam angan-angannya. Dia agak tersentak dan pada akhirnya mengangguk pelan ketika dia melihat ada Shiho sedang berada di dekatnya. "Baiklah… ayo," seru Shinici berjalan duluan.
Mereka berdua pun akhirnya berjalan perlahan menuju sekolahnya dengan tenang, tanpa lari dan tanpa berkeringat.
Hujan semakin deras ketika Shiho dan Shinici berada tak jauh dari sekolahnya. Kali ini angin mulai bertiupan membuat orang pejalan kaki yang membawa payung sulit untuk berjalan. Salah satunya mereka berdua ini. Mereka sudah berjuang mati-matian melawan angin yang makin lama bertiup semakin kencang.
"Kita harus cepat sampai," kata Shinici agak berteriak agar Shiho bisa mendengar perkataannya.
"Aku tau Kudo-kun, tapi, itu mungkin sangat sulit," kata Shiho masih berkonsentrasi dengan jalannya.
Tiba-tiba angin berhembus sangat kencang. Shiho yang memang sudah tidak kuat lagi membawa payungnya langsung melepaskannya. Alhasil, payung Shiho terbang mengikuti arah angin yang meniup payung itu.
"Sial," pekik Shiho pelan sambil menutupi kepalanya dengan tas kecil yang dia bawa.
Shinici yang melihat kejadian itu langsung berlari kecil ke arah Shiho yang berada tak jauh di belakangnya. "Kau tidak apa-apa kan?" tanya Shinici dengan nada panik. Sekarang dia sudah sampai di depan Shiho.
"Tidak, hanya saja aku kehilangan payungku," kata Shiho datar.
"Baiklah, ayo ikut aku," kata Shinici langsung menggandeng tangan Shiho dan menariknya menuju arah sekolah mereka yang jaraknya sekitar 10 meter.
Ketika mereka berdua sudah memasuki gerbang sekolah, baju mereka berdua basah kuyup. Shinici menaruh payungnya di parkiran sepeda dan menghampiri Shiho yang sekarang berada di salah satu koridor sekolah.
"Hey… kenapa kau tidak memakai jasmu? Jadi menerawang tuh," kata Shinici dengan wajah bersemu.
Shiho menatap Shinici datar. "Percuma aku memakainya, nanti tambah basah lagi," kata Shiho sambil menghapus air yang berada di dahinya.
Shinici menghela nafas, dia merogoh tasnya dan mengambil sesuatu. Beberapa detik kemudian di tangannya sudah ada jaket berwarna abu-abu. Shinici menyodorkan jaketnya itu ke arah Shiho.
"Pakailah, dari pada nanti kau jadi bahan tontonan," katanya masih dengan muka bersemunya.
Shiho tersenyum kecil dan meraih jaket itu. Di pakainya jaket itu perlahan sampai jaketnya menutupi seluruh badannya. 'Hangat' pikir Shiho seraya menutup setengah resleting jaket milik Shinici itu.
"Baiklah, sekarang ayo kita ke kelas," kata Shiho sambil berjalan duluan.
Shinici mengangguk pelan dan mengikuti Shiho yang sekarang sedang berjalan menuju kelas mereka.
"Cie-cie… yang berangkat barengan, satu payung lagi," kata salah seorang anak yang dari tadi mengawasi Shiho dan Shinici. Dia tak lain adalah Sonoko yang sedang berdiri di depan pintu.
Shiho melihat Sonoko sejenak dengan datar. Tanpa menghiraukan Sonoko yang melihatnya dengan tatapan tajam, Shiho langsung berjalan masuk menuju ke bangkunya yang berada di belakang sendiri.
"Tadi kita tidak sepayung, sayangnya angin menerbangkan payung Shiho, jadi terpaksa kita harus sepayung," kata Shinici menjelaskan.
Sonoko melihat Shinici dengan tatapan mengejek. Setelah itu dia memutar matanya tanda dia meremehkan pernyataan Shinici.
Shiho yang baru saja sampai di depan papan langsung berhenti karena mendengar perkataan Shinici. 'Terpaksa katanya?' pikir Shiho. Perasaannya beda saat dia mendengar pernyataan Shinici yang 'terpaksa' sepayung dengannya. Dengan muka yang sangat dingin, Shiho berbalik dan menghampiri Shinici yang sekarang sedang bercingcong ria bersama Sonoko di depan pintu kelas.
"Kalau kau tidak percaya, tanyakan semuanya pada Shiho," kata Shinici ketika dia melihat Shiho berbalik menghampiri dirinya.
Shiho menajamkan pandangannya. Perlahan tangannya membuka resleting jaket yang dia pakai. Dia lepaskan jaket itu dengan cepat dan melemparkan jaketnya ke arah muka Shinici.
"Kalau kau tadi memang terpaksa, kenapa kau mengajakku satu payung? Huh, lebih baik aku tadi basah kuyup dari pada satu payung bersamamu," kata Shiho langsung berlalu dari Shinici.
Shinici dan Sonoko yang agak shock karena kelakuan Shiho diam sejenak. Teman-teman sekelas lainnya pun kaget dengan kelakuan Shiho.
"He… hey, tunggu, kau jangan salah paham," kata Shinici beranjak berlari mengejar Shiho dan dia mengambil jaketnya yang jatuh ke tanah.
Shiho yang di kejar makin memperepat jalannya tapi masih kelihatan santai. Mukanya makin mendingin (?) dan matanya menerawang ke depan.
= At 02.55 PM =
"Ayolah Shiho, kau jangan diam saja, tadi itu hanya salah paham," kata Shinici dengan wajah melasnya.
Shiho yang dari tadi sedang asyik menulis mengalihkan pandangannya ke Shinici yang sedari tadi bercingcong ria di samping Shiho. Dengan muka datarnya Shiho menatap Shinici yang sekarang sedang mengeluarkan jurus 'wajah melas'nya.
Tanpa menghiraukan wajah Shinici yang melas, Shiho langsung meneruskan acara menulisnya. Shinci menghela nafas dan kembali memasang wajah datar.
"Masa Cuma gara-gara itu kau ngambek, seperti anak ke…" kata Shinici terpotong karena dia sudah merasakan ada hawa yang tidak enak.
Perlahan Shinici melihat ke arah wajah Shiho. Dengan rasa takut dia tersenyum selebar-lebarnya.
"Kau tadi mau bilang apa Kudo Shinici?" tanya Shiho dengan nada dingin.
"Ti… tidak bilang apa-apa kok, beneran, suer," kata Shinici takut.
Wajah Shiho kembali menjadi datar lagi. Matanya yang semula melihat Shinici tajam sekarang sudah melunak. Dia mengalihkan wajahnya ke arah buku tebal yang ada di depannya.
"Sebentar lagi pulang, kau harus menata semua barang-barangmu, kalau kau tidak cepat, kau akan ku tinggal," kata Shiho sambil memasukkan bukunya ke dalam tas.
Shinici diam sejenak dan beberapa detik kemudian dia berkata 'iya' di ikuti dengan anggukan kepalanya.
Di perjalanan menuju ke rumah, mereka berdua diam satu sama lain. Shinici sekarang sedang berpikir keras tentang apa yang terjadi padanya hari ini. 'Shiho kelihatan aneh ya hari ini' pikirnya sambil menerawang ke atas.
Sedangkan Shiho, dia sekarang sedang asyik berjalan dan melihat ke arah langit yang sudah kelihatan jingga. Dia tersenyum kecil.
Perlahan mata Shiho bergerak ke arah samping untuk melihat Shinici yang sekarang sedang berada di sebelahnya. Dia memejamkan mata sejenak dan membukanya kembali. Muka datar tanpa senyum kembali terpasang di wajahnya.
"Kau seperti orang bodoh hari ini Kudo-kun" kata Shiho serayang melihat ke arah depan.
Shinici yang merasa di ejek langsung keluar dari dunia angan-angannya. Dia langsung melotot ke arah Shiho yang masih santai berjalan.
"Kau tadi bilang apa?" tanya Shinici dengan suara tertahan.
"Kau seperti orang bodoh hari Kudo-kun, selain itu, hari ini kau juga menjadi orang yang tuli," kata Shiho santai sambil terus melihat ke arah depan. Sama sekali tak menghiraukan tatapan Shinici yang sudah ingin menerkamnya.
Shinici menghela nafas mencoba menenangkan dirinya. 'Dia hanya mepermainkan aku' pikirnya seraya kembali menghadap ke depan.
"Ya… terima kasih atas pujianmu," kata Shinici datar.
"Selain itu kau harus berterima kasih ganda kepadaku," kata Shiho melirik ke ara Shinici.
Shinici menatap Shiho dengan bingung. 'Memangnya dia melakukan apa sampai-sampai aku harus berterima kasih ganda kepadanya?' pikir Shinici dengan muka bingungannya.
"Karena aku telah membantumu mengerjakan hukumanmu, hari ini kau menjadi orang bodoh sekelas kan? Kau masih mengingat hukumanmu kemarin malam kan?" tanya Shiho seraya mengalihkan pandangannya ke arah Shinici.
Shinci berpikir sejanak. 'Tadi malam memangnya aku kenapa ya? oh iya. Aku kena hukuman karena soal yang aku kerjakan salah, hm… ok, aku ingat sekarang' pikir Shinici seraya tersenyum.
"Oh… iya, kalau begitu Doumo arigatou, ternyata kau baik hati juga ya," kata Shinici sambil tersenyum manis.
Shiho mengangguk pelan dan langsung melihat ke depan. Mencoba menenangkan deguban jantungnya yang tiba-tiba saja temponya menjadi cepat karena melihat senyuman Shinici. Dia sangat bersyukur karena dia merasa pipinya tidak bersemu kali ini.
= Night =
Malam telah tiba. Hawa dingin yang tinggi menusuk ke dalam kulit siapa saja yang tidak memakai pakaian panjang (?). salah satunya adalah Shiho. Dia sekarang sedang memakai kaos biasa dan celana ¾ yang hanya menutupi bawah lututnya saja.
"Shiho-chan, kenapa kau malah memakai baju seperti itu di malam yang dingin seperti ini?" tanya Profesor Agasa heran sambil memperhatikan Shiho yang sekarang sedang berjalan ke arahnya. Lebih tepatnya ke arah meja makan yang sekarang dia tempati.
Shiho duduk dengan santai tanpa menjawab pertanyaan Profesor Agasa dulu. Tapi sete;ah duduknya benar, Shiho langsung menatap Profesor Agasa yang sekarang sedang minum air putih.
"Aku sudah terbiasa dengan udara dingin seperti ini, Profesor tau sendiri kan apa alasannya?" tanya Shiho balik sambil mengambil sendok yang berada di depannya.
Profesor Agasa mengangguk tanda dia mengerti. Setelah itu dia memberesi piring dan gelas yang baru saja dia pakai. Setelah itu Profesor berdiri dan mulai berjalan menuju bak pencuci. Sedangkan Shiho melanjutkan acara makannya.
Tak berselang waktu lama, Profesor sudah kembali dengan tangan yang agak basah karena selesai mencuci piring makannya. Dia berjalan mendekar ke arah Shiho dan duduk kembali di kursi yang baru saja dia tinggalkan.
"Sepertinya Shinici lupa makan malamnya," kata Profesor Agasa memulai pembicaraannya dengan Shiho.
Shiho berhenti mengunyah sebentar, selang beberapa detik dia sudah mengunyah makanannya kembali. Setelah menelan makanannya, Shiho melihat Profesor Agasa.
"Baiklah, nanti aku akan mengantarkannya ke rumah Detective bodoh itu," kata Shiho dan kembali mengambil makanannya.
Profesor mengangguk dan tersenyum. Dia beranjak berdiri dan berjalan menuju ruang kerjanya. Meninggalkan Shiho dan makanan yang tersisa di atas meja makan.
+ 10 Minute Later +
Shiho sudah selesai makan. Sekarang dia menyalin makan malam Shinici ke kotak bekal makanan untuk di antar ke Shinici langsung.
Dengan wajah datarnya, Shiho berjalan menuju ke pintu sambil membawa payung. Karena cuaca malam ini sama seperti tadi pagi.
Shiho membuka payungnya ketika dia sudah berada di depan pintu. perlahan dia mulai berjalan dari depan pintu itu menuju ke arah rumah Shinici.
Sampai di depan rumah Shinici, tanpa mengetuk pintu dulu, Shiho langsung menerobos masuk. Dia ingin sekali mengomeli Shinici karena Shinici sudah membuatnya membuang waktunya hanya untuk mengantarkan makan malam Shinici. 'Seperti orang penjual makanan saja' pikir Shiho dengan wajah yang makin terlihat dingin.
Dia mendengar ada suara yang berasal dari ruang makan rumah besar itu. 'Seperti suara Shinici dan… suara anak perempuan? Siapa?' pikir Shiho seraya berhenti sejenak. Setela itu dia berjalan sambil mengendap-endap.
Tidak tau kenapa, perasaan Shiho sekarang menjadi agak aneh saat dia mendengar ada suara anak perempuan yang sedang berbincang dengan Shinici.
Saat dia sudah berhasil mendekat ke arah ruang makan, betapa kagetnya Shiho ketika dia melihat Shinici sedang di suap Ran. Dari wajah mereka berdua menyiratkan kebahagiaan yang tinggi. Senyum mereka pun terlihat sangat sejuk (?).
Tanpa Shiho sadari, kotak bekal makanan yang berada di tangannya jatuh ke lantai dan menimbulkan suara 'prak' yang lumayan keras dan itu mebuat suasana kebahagiaan Shinici dan Ran pudar.
Mata Shinici mebulat ketika dia melihat Shiho berada di pintu ruang makan yang sekarang terbuka. Dari wajah Shiho terlihat sangat menakutkan. Kekagetaanya sudah tertutup oleh wajah dinginnya. Bahkan kali ini ekspresi Shiho lebih menakutkan dari biasanya.
"Shiho? Sejak kapan kau…"
Belum Shinici meneruskan perkataanya, Shiho sudah berlari ke arah pintu depan rumah Shinici. Tanpa menghiraukan teriakan demi teriakan yang di lontarkan Shinici untuk menghentikan Shiho.
"Hey… aku bisa jelaskan ini, Shiho… hey jangan lari terus, di luar hujan," teriak Shinici bertubi-tubi tapi tak di hiraukan Shiho.
Shiho terus berlari menerobos butiran hujan yang sedari tadi turun. Tanpa menghiraukan bajunya yang basah, dia terus berlari. Bukanya kembali ke rumah Profesor, tapi dia berlari berlawanan arah meninggalkan kompleks rumah itu.
"SHIHOOOO~~~" teriak Shinici berhenti di depan gerbang rumanya. Membiarkan Shiho terus berlari menjauh darinya di antara hujan yang makin lama makin deras. Di malam yang menurut orang malam yang paling dingin di musim hujan tahun ini.
^_TSUZUKU_^
Ya ini dia kelanjutannya. Kalau ceritanya jelek mohon di maklumin *ngarep*. Mungkin saya akan 'Hiatus' dulu sampai saya selesai UNAS. Sekarang saya mau konsen dulu untuk meghadapi UNAS. Sebelumnya terima kasih untuk semuanya yang sudah mereview. Review anda semua sangat berarti bagi author tak sempurna seperti saya. Baik… akhir kata…
! REVIEW !
I I
I I
I I
I I
V
