Jurnal Ruki
Moshi-moshi minna-san. Meet with Ai again, sure in my lovely Fanfic. Selamat Hari raya Idul Fitri 1431 H. Minal adizin walfa idzin. Mohon maaf lahir dan batin ya. Semoga menjadi awal yang baik untuk kita semua. Senengnya hari raya tahun ini dapet angpao banyak. Hihihi… lumayan buat tambahan tabungan *curcol*. Ok… dari pada nanti aku nyeritain tentang pertemuan keluargaku, mending sekarang kita mulai saja ceritanya. Enjoy.
Summary : Rukia seorang gadis biasa yang hobinya suka menulis dan mengarang. Sehari tanpa hobinya itu serasa koma seribu tahun. Karena hobi menulisnya yang tinggi, dia mempunyai keinginan untuk membuat jurnal. Apa saja isi dari jurnal yang di buat Rukia itu?
Disclamer : I don't own Bleach. So, Bleach haven't me.
Rating : T *only Teens*
Genre : Romance/Drama/Humor *now… I like humor*
Pairing : Rukia Kuchiki & Ichigo Kurosaki *my favorite pairing… not be to change this pairing in my heart*
Jurnal Ruki : Aktifitas yang menyenangkan
Hah… senangnya aku hari ini. Dari tadi pagi sampai sekarang aku bisa tersenyum bersama keluarga Kurosaki. Hihihi… memang mereka semua menyenangkan sih. Terutama Paman Isshin yang selalu betingkah kocak meskipun dia sudah tua.
Malam ini aku sedang berada di kamarku bersama si Oren-oren jabrik. Katanya dia ingin tidur di kamarku malam ini. Hm… sebenarnya aku tidak setuju jika dia tidur di kamarku malam ini. Tapi mau bagaimana lagi. Aku di sini hanya menumpang tidur saja.
Untung-untung aku masih di terima di rumah ini. Itu semua karena Ichigo yang meminta Otou-sannya. Memang sedikit bangga sih jika mempunyai seorang 'kekasih' sepertinya. Kenapa aku bangga? Aku bangga bukan karena dia jago dalam bertarung. Aku bangga karena dia selalu melakukan apa saja yang ku inginkan.
Hihihi… jadi teringat waktu dia berjuang demi mendapatkan boneka chappy limited edition yang ku inginkan. Dia sampai harus beradu mulut dengan ibu-ibu yang mau membeli bonekanya karena anaknya menginginkan boenkanya. Tapi pada akhirnya ibu-ibu itu mengalah karena sudah capek beradu mulut dengan Ichigo. Dia memang pahlawan sejatiku.
"Rukia… apa kau tidak menulis jurnalmu itu?" tanya Ichigo tiba-tiba dan membuyarkan lamunanku.
Aku mengalihkan pandanganku menuju arahnya. Di wajahnya menyiratkan kebosanan tingkat tinggi. Aku tersenyum tipis dan berjalan menuju ke arahnya yang sekarang sedang duduk di depan jendela kamarku.
"Sepertinya aku akan menulisnya jika kau sudah tidur saja, karena akutidak mau terganggu karena ulahmu," kataku sambil duduk di sebelahnya.
Kerutan permanen di dahinya makin terlihat. Aku makin mengembangkan senyumanku. Ichigo menarik tangannya yang dari tadi tersilang di jendela. Dia mengarahkan tangannya ke arah pipiku.
"Kau tidak mau memberitahukan isi jurnalmu ke aku kan?" tanyanya sambil mencubiti pipiku.
Aku menggenggam tangannya yang sekarang masih mencubit pipiku. Lalu ku tarik paksa agar tangannya menjauh dari pipiku.
"Bukannya begitu, tapi aku memang tidak suka di ganggu orang kalau sedang menuliskan sesuatu," kataku menjelaskan agar Ichigo tidak marah denganku.
Dia mayun dan dengan cepat membalikkan badannya dan memunggungiku. Aku menghela nafas. Dengan terpaksa aku harus merayunya agar dia tidak marah denganku.
"Ayolah jabrikku, kau tidak marah kan gara-gara aku tidak mengajakmu ikut serta dalam menuliskan jurnalku?" kataku sambil memeluk lehernya dari belakang. Dia sama sekali tak bergerak.
Aku menarik tanganku dari lehernya. Aku membalikkan badanku dan memunggungi Ichigo. 'Kenapa dia jadi seperti anak kecil begini kalau sedang bersamaku?'
Tiba-tiba saja dia berdiri dan berjalan menuju pintu kamarku. Dia membuka pintu kamarku dan menutupnya dengan keras. Refleks aku menutupi telingaku dengan kedua tanganku. Setelah ku rasa Ichigo pergi dari depan kamarku, aku melihat pintu kamarku dengan tatapan datar.
"Dasar anak itu."
Aku berdiri dan berjalan menuju meja belajarku. Aku menarik laciku dan mengambil buku berwarna ungu dengan pita warna pink untuk mengunci bukunya.
Perlahan ku tarik pitanya dan aku mengambil bolpoinku yang ku khususkan untuk menulis jurnalku ini. Aku menutup mata dan menarik nafas. Setelah membuka mata, aku mulai menuliskan kegiatanku di pagi hari sampai malam ini.
=- 12 Agustus 20XX -=
~ Morning ~
Jalan-jalan pagi dengan Ichigo
Pagi hari aku di bangunkan oleh si Oren-oren jabrik karena dia ingin aku temani untuk berjalan-jalan pagi di sekitar kota Karakura. Dengan terpaksa aku harus menuruti permintaannya karena aku tidak mau dia marah ke aku gara-gara aku tidak mau menemaninya.
Aku yang memang masih setengah tidur *karena matanya masih terpejam setengah* mencoba untuk berjalan seperti orang normal. Ichigo yang sedari tadi ngoce di sampingku tak ku hiraukan karena sekarang aku sedang konsentrasi agar aku tidak tertidur lagi.
Tiba-tiba saja aku merasa ingin buang air kecil. Dengan malas aku melihat Ichigo yang sampai sekarang masih ngoce di sampingku. Tanpa sungka aku langsung mengatakan 'Ichigo, aku ingin buang air kecil', padahal tempat yang kami lewati ini hanya ada semak-semak dan pepohonan yang menjulang tinggi.
Tiba-tiba saja Ichigo berhenti dan menarik tanganku. Dia berjalan menuju semak-semak dan menunjuknya, tanpa sungkan juga dia berkata 'Kau buang air kecil di sana saja, aku tidak akan mengintip kok'.
Hm… karena ini terpaksa, mau tak mau aku harus mau. Pelan-pelan aku menunduk menyembunyikan diriku agar tidak terlihat oleh siapa saja. Setelah itu aku mulai melakukan ritual pembuangan air kecil di semak-semak.
Setelah selesai, aku langsung keluar dan berwajah ceria. Tapi tetap saja, mataku ini masih sangat mengantuk.
Di perjalanan aku mendengar ada suara anjing yang menggonggong. Karena trauma dengan kejadian kemarin, aku jadi mengajak Ichigo untuk segera pulang. Untung saja Ichigo bisa mengerti aku. Jadi, dia langsung mau ketika aku mengajaknya pulang.
Sampai di rumah aku langsung naik ke atas dan memasuki kamarku tanpa mencuci tangan maupun menyapa balik Yuzu dan Paman Isshin yang tadi menyapaku di bawah. Tanpa basa-basi lagi aku langsung merebahkan tubuhku dan terlelap seketika.
~ Afternoon ~
Bercanda ria dengan teman-teman
Siangnya aku di ajak oleh Ichigo lagi untuk berkunjung ke rumah Inoue. Di sana katanya Inoue mau memperlihatkan laptop terbarunya. Yah… dia memperlihatkan laptop barunya karena dia membelinya dengan uangnya sendiri. Tanpa bantuan dari kedua orang tuanya maupun kakaknya yang sekarang sedang berada di Tokyo untuk bekerja.
Sampai di rumah Inoue aku langsung di sambut oleh Momo yang pastinya dari tadi sudah menungguku di depan pintu. Tanpa basa-basi lagi aku di tarik Momo menuju kamar milik Inoue.
Di dalam kamar, aku di sambut oleh senyuman Tatsuki yang sekarang sedang berada di samping Inoue. Inoue sekarang sedang memfokuskan dirinya untuk bermain laptopnya. Sepertinya dia mendapatkan permainan baru di laptopnya.
Setelah lama kami semua bermain dengan laptopnya Inoue, pada akhirnya kami semua tiduran di lantai kamar Inoue yang tentunya bersih. Tanpa sungkan lagi, kami semua tertawa terbahak-bahak karena mendengar lelucon yang di lontarkan Momo. Momo memang sangat hebat dalam bergurau. Di temani Tatsuki, pasti semuanya yang semula murung bisa menjadi tersenyum karena gurauan mereka berdua.
~ Evening ~
Yuzu sakit
Aku kaget ketika aku melihat Yuzu berwajah pucat sedang duduk di kursi ruang tamu. Nafasnya memburu dan matanya agak terpejam. Refleks aku langsung berlari ke arahnya.
Perlahan ku sentuh dahinya dan yang pertama aku rasakan adalah hawa panas yang kelihatan sangat tinggi. Karena saking paniknya aku langsung berteriak-teriak gak jelas memanggil nama Ichigo yang mungkin sekarang masih berada di gerbang rumah.
Tak lama kemudian Ichigo masuk dengan muka yang kelihatan sangat panik. Mungkin dia mengira ada pencuri yang mau melukaiku. Hm… sudahlah, setelah itu aku langsung menyuruhnya untuk memindahkan Yuzu ke kamarnya.
Di rumah sepi, Sepertinya Paman Isshin dan Karin sedang mencarikan obat untuk Yuzu.
Selang beberapa menit, akhirnya Paman Isshin dan Karin pulang membawa obat untuk Yuzu. Tunggu dulu. Bukannya Paman Isshin mempunyai klinik? Masa' dia tidak mempunyai obat panas?
Pertanyaanku itu terjawab karena Ichigo menjelaskannya kepadaku. Ternyata obat yang di beli Paman Isshin itu adalah obat yang sulit di cari dan harganya lumayan mahal. Karena tak mau rugi, Paman Isshin hanya membelinya jika ada yang membutuhkan.
.
Gara-gara Yuzu sakit, terpaksa aku dan Ichigo harus membelikan makan malam untuk semua orang di rumah keluarga Kurosaki. Menyenangkan juga karena aku di beri Paman Isshin uang untuk membeli boenka Chappy. Jadi setelah aku dan Ichigo membeli makanan, kami berdua langsung ke mall dan membeli boneka Chappy. Yeiy… dapet satu boneka lagi deh.
~ Night ~
Bermain badminton dengan teman Karin
Malam ini aku dan Ichigo kembali bermain badminton di halaman rumah. Tapi kali ini Paman Isshin dan Yuzu berada di dalam rumah. Yang di luar hanya ada aku, Ichigo dan Karin.
Sekarang aku dan Ichigo sedang berkonsentrasi agar bolanya tidak keluar lapangan dan tersangkut di net. Saat bolanya melambung di atas, aku melompat dan segera men-smash bolanya ke arah Ichigo. Alhasil, bolanya terpental di bawah Ichigo.
Tiba-tiba saja ada suara anak laki-laki yang mengajakku bermain. Aku mengalihkan pandanganku ke arah anak itu. Anak itu adalah anak laki-laki kecil semumuran dengan Karin. Aku tersenyum dan menyetujui ajakannya. Nggak salah kan, sekali-kali aku mau main dengan anak kecil.
Ternyata permainan badminton teman Karin bisa di bilang lumayan. Sepertinya dia mempunyai bakat dalam olah raga satu ini. Berkali-kali dia men-smashku. Tapi tentunya aku bisa menangkis smashannya.
Setelah capek, kami semua istirahat di teras rumah. Tak lama kemudian teman Karin pamit pualng karena jam sudah menunjukkan pukul 9 malam.
Setelah keringat kami hilang, kami semua masuk rumah dan kembali ke kamar masing-masing. Saat aku selesai mandi dan mengganti bajuku dengan piama, tiba-tiba saja Ichigo masuk dan dia minta tidur sekamar denganku malam ini. Dengan terpaksa aku harus membolehkannya karena ini bukan kamar asliku.
Aku menutup buku jurnalku dan menali pitanya agar terlihat rapi. Setelah itu aku memasukan bukuku ke dalam laci kembali.
Aku menghela nafas dan merenggakan otot-ototku. Sepertinya mereka sudah capek dan menginginkan istirahat.
Saat aku berdiri, aku di kagetkan oleh seseorang yang sekarang sudah berada di depanku. Betapa terkejutnya aku ketika melihat muka Ichigo yang kelihatan agak malu. Aku mengangkat sebelah alisku dan sedikit memiringkan wajahku.
"Kenapa?" tanyaku pada akhirnya
Muka Ichigo bersemu merah. Dia menggaruk belakang kepalanya dan sedikit menunduk. Aku jadi semakin bingung dengan kelakuannya ini.
"Maaf, aku egois tadi," katanya masih agak menunduk. Ku lihat mukanya makin memerah.
Aku tersenyum tipis dan mengangguk pelan. 'Aku sama sekali tidak marah kok karena kelakuanmu tadi, Ichigo.'
"Sudahlah… tak apa, sekarang aku mau tidur dulu ya," kataku sambil berjalan menuju ranjangku.
Aku merebahkan tubuhku yang rasanya sudah sakit semua. Aktifitas yang melelahkan tapi cukup menyenangkan bagiku. Hm… semoga saja semuanya bisa berjalan dengan lancar seperti hari ini. Meskipun masih ada sedikit masalah sih.
"Aku mau ikut tidur di kamarmu, aku akan tidur bawah."
Mataku yang semula perlahan terpejam langsung terbuka lagi karena perkataan Ichigo tadi. Aku melihat Ichigo yang sekarang sedang membawa kasur lipat. Aku tersenyum dan kembali memejamkan mataku.
"Terserah kau, yang penting kau jangan tidur satu ranjang denganku," kataku sambil memunggunginya.
Aku mendengar ada suara 'buug' yang luamayan keras. Sepertinya Ichigo menjatuhkan kasur lipatnya. Hm… sepertinya dia mau tidur sekarang.
"Kalau aku tidur satu ranjang denganmu memangnya kenapa?" tanyanya dengan nada menggoda.
Aku merasa ada orang yang merebahkan tubuhnya di sebelahku. Mataku terbuka dan membulat sempurnya. 'Ichigo tidur satu ranjang denganku? Jangan-jangan-jangan, dia terlalu mesum *author di bankai Ichigo*.' Aku membalikan badanku. Sekarang yang bisa ku lihat adalah piama berwarna abu-abu dengan garis-garis vertikal warna hitam.
Tiba-tiba saja ada tangan kekar yang memaksaku untuk mendekat ke arah piama tersebut. Hangat…. Tidak-tidak, ini tidak boleh terjadi. Sekarang aku masih SMA.
Aku mencoba menjauhkan diriku dari dada bidang yang sekarang menempel dengan wajahku. "Ichi… lepaskan," kataku masih memberontak.
Ichigo sama sekali tak bergemi. Bahkan tangan kekarnya makin mempererat dekapannya padaku. Aku yang memang tidak mempunyai kekuatan untuk melawannya lagi hanya bisa pasrah. Dengan kesal aku mendongkakkan kepalaku untuk melihat wajah Ichigo. 'Tidur?'
Aku tersenyum kecil dan menggeleng pelan. 'Dasar anak ini, dengan santai dia tidur di ranjangku, dengan santai juga dia terlelap di sini. Hm… dasar.' Terpaksa aku harus tidur di dalam keadaan seperti ini. Memang kesal sih, tapi ada sedikit rasa senang di lubuk hatiku. Hehehe…
"Oyasumi Ichi," kataku dan mulai terlelap di dekapan hangat Ichigo.
^_TSUZUKU_^
Sekali minal aidzin walfa idzin. Mohon maaf lahir batin ya. Aku seneng banget cus ada yang mau mereview ficku ini. Hm… cerita ini *pas di jurnalnya* itu cerita asliku beneran. Tapi sekali lagi ada sedikit perubahan agar nggak terlalu sama dengan cerita aslinya. Ok… balasan reviewnya di sini ya :
minami kyookai : di sini sudah di jelaskan gimana hubungannya Ichigo ma Rukia kan? Sekarang
gimana ceritanya? Masih bagus kan? Arigatou reviewnya, review lagi ya XD
Ruki Yagami : iya… ini fic baru. Hihihi… ini emang jurnalku jeng, tapi ada sedikit yan aku rubah. Hehehe… dari dulu Ichi juga udah mesum *di bankai*. Ini udah update. Arigatou untuk reviewnya, review lagi ya XD
Arlheaa : iya… biar mampus ntuh Ichigo. Terlalu mesum sih *di bankai Ichi juga*. Arigatou reviewnya, review lagi ya XD
Ichiruya Ruru Kuchiki : dari dulu Ichi juga udah mesum XDD. Ini udah update. Arigatou reviewnya, review lagi ya XD
chappythesmartrabbit : hehehe… arigatou atas pujiannya. Kalau tentang typo memang masih ada. Maklum, nggak tak cek lagi *alasan mode on*. Arigatou reviewnya, review lagi ya XD
Kurochi Agitohana :anjingnya takut cus muka Ichi udah kayak setan berdarah-darah (?). hehehe… gomen kalau terlalu cepat. Di chap ini aku coba biar nggak terlalu cepat kok. Emang dari sononya Ichi udah mesum kok *di depak juga*. Gimana IchiRuki di chap ini? Banyak kan? Ini udah update. Arigatou reviewnya, review lagi ya XD
bl3achtou4ro : halo juga XP. Ichi emang dari sononya udah mesum kok *di gampar Ichi juga*. Iya… mereka tinggal serumah. Ini udah update. Arigatou reviewnya, review lagi ya XD
yuuna hihara : bagus ya? IchiRuki di ficku memang harus kelihatan, itu wajib bagiku XD. Sekarang IchiRukianya udah banyak kan? Salam kenal juga Yuu-chan. Arigatou reviewnya, review lagi ya XD
Astrella Kurosaki : hahaha… iya. Itu cara Rukia ngusir Ichigo dari kamarnya. Arigatou reviewnya, review lagi ya XD
Aizawa Ayumu : kocak? Mantap? Keren pas di kejar anjing? Hahaha… kalau inget-inget itu, aku jadi pengen ketawa sendiri XDD. Ini fic AU. Gomen nggak bisa update kilat. Tapi ini aku udah update. Arigatou reviewnya, review lagi ya XD
Jee-ya Zettyra : seru ya… yeiy~~ *jingkrak-jingkrak GJ*. Iya… ini kayak diary gitu deh. Ini udah aku update kelanjutannya. Arigatou reviewnya, review lagi ya XD
aRaRaNcHa : Gapapa… yang penting Cha-chan review *plak*. Hihihi… kocak ya? emang dari dulu Ichi mesum *ikut tutup muka juga*. Arigatou reviewnya, review lagi ya XD
rukiahinata : Gapapa… yang penting Ruki-chan Review *senyum GJ*. Lucu ya? dari dulu juga Ichi genit XDD. Ini udah aku lanjutkan. Arigatou reviewnya, review lagi ya XD
Untuk Ichirukiluna gitulho *yang ngereview lewat fb* di sini sudah di jelasin gimana hubungannya Ichigo ma Rukia. Meski nggak terlalu jelas sih *di timpuk*. Hehehe… itu aja cuap-cuap dariku. Akhir kata…
! REVIEW !
I I
I I
I I
I I
V
