Jurnal Ruki
Moshi-moshi minna-san. Meet with Ai again, sure in my lovely Fanfic. Hohoho… kali ini aku usahain biar update cepet. Mumpung lagi liburan, mending waktu luangnya di pakek untuk ngetik fic. Insya allah ficku kali ini akan jadi 14 chapter *kalau nggak salah che*. Cus selama satu bulan *waktu puasa* tiap harinya kalau ada kejadian yang mengesankan akan aku tulis. Hihihi… dari pada nanti aku cerita tentang asal usul fic ini, mending kita mulai aja ceritanya. Enjoy.
Summary : Rukia seorang gadis biasa yang hobinya suka menulis dan mengarang. Sehari tanpa hobinya itu serasa koma seribu tahun. Karena hobi menulisnya yang tinggi, dia mempunyai keinginan untuk membuat jurnal. Apa saja isi dari jurnal yang di buat Rukia itu? warning : AU, OOC, Gaje, Rukia POV, OC.
Disclamer : I don't own Bleach. So, Bleach haven't me.
Rating : T *only Teens*
Genre : Romance/Drama/Humor *now… I like humor*
Pairing : Rukia Kuchiki & Ichigo Kurosaki *my favorite pairing… not be to change this pairing in my heart*
Jurnal Ruki : Keponakan Ichi Datang!
Haduh… capeknya hari ini. Hanya gara-gara seorang yang bernama Nagisa-keponakan Ichigo, tubuhku sekarang rasanya sakit bukan main. Hm… memang wajahnya sangat lucu sih. Tapi kelakuannya itu nggak selucu yang ku bayangkan. Dia itu sudah nakal, maunya nempel ma Ichigo terus, nggak mau di gendong ma cewek dan yang paling aku nggak suka lagi itu waktu dia ngejambak-jambak rambutku.
Aaarrrggghhh… sudahlah, aku bingung kalau sedang mikirin anak satu itu. Padahal Otou-san dan Okaa-sannya itu sangat baik dan santun. Tapi kenapa anaknya seperti itu?
Sudahlah… sekarang aku mau menulis jurnalku dulu sebelum tidur. Mungkin aku bisa menuangkan uneg-unegku di jurnalku. Dari pada nanti jadi dendam, mending di tuangin aja uneg-uengnya.
Perlahan ku buka laci meja belajarku. Ku ambil buku jurnalku yang berwarna ungu dan berpita pink itu. Setelah itu ku buka dan segera menuliskan kejadian tadi pagi sampai malam ini. Aku berfikir sejenak untuk mengingat-ingat dan kembali menghadap kertas kosong yang akan ku isi dengan uneg-unegku itu.
=- 15 Agustus 20XX -=
~ Morning ~
Bangun telat
Pagi hari yang cerah untuk hati yang ceria. Setelah beberapa hari yang lalu aku tidur sekamar dengan Ichigo, sekarang aku jadi ketagihan tidur bersamanya.
Ku renggangkan otot-otot tubuhku yang masih kaku sambil menguap. Setelah itu aku tersenyum dan menghadap ke samping untuk menyapa si Oren-oren jabrik pujaanku. Tapi, betapa kagetnya aku ketika aku melihat di sampingku hanya ada gulingku. Aku sempat berfikir 'Apa tadi malam aku hanya mimpi di peluk Ichigo?'. Semua itu terjawab ketika ada Yuzu masuk ke dalam kamarku.
Dia menjelaskan bahwa semua orang di rumah ini bangun pagi *kecuali aku* karena akan ada keponakan dari keluarga jauh datang. Setelah mendengarkan semua ceritanya, aku langsung berlari menuju kamar mandi dan mandi secepat mungkin.
~ Afternoon ~
Jaga keponakannya Ichigo
Setelah di nanti-nanti akhirnya keponakan Ichigo datang. Wajahnya yang lucu nan putih itu membuatku senyum nggak pudar-pudar. Pipinya yang menggembung itu membuatku ingin mencubitnya setiap saat. Bandana pita warna putih yang melingkar dengan cantiknya di kepalanya yang masih di tumbuhi sedikit rambut.
Otou-san dan Okaa-sannya yang ku tau namanya adalah Ukitake-san dan Unohana-san orangnya sangat baik dan santun. Perkataan mereka pun tak kasar, tak seperti Paman Isshin yang memperlakukan anaknya dengan semena-mena (?).
Setelah lama berbincang, akhirnya Ukitake-san dan Unohana-san ingin jalan-jalan mengelilingi kota Karakura. Dengan panduan Paman Isshin pastinya. Dengan senyum yang selalu bertengger di bibirnya, Unohana-san memberika anak perempuannya-yang bernama Nagisa kepadaku. Dengan tangan terbuka aku menerima Nagisa yang sekarang sedang sibuk bermain boneka kucing.
Selang beberapa menit, sekarang hanya ada aku, Ichigo, Yuzu, Karin dan Nagisa yang sedang duduk di ruang tamu. Nagisa sekarang sedang berada di pangkuanku. Dia masih sibuk bermain dengan boneka kucingnya. Saking gemesnya, aku langsung mencubit pipinya yang menggembung itu.
Dia berhenti dari aktifitasnya dan melihatku. Aku tersenyum. Tiba-tiba saja dia menangis. Aku yang memang tak punya pengalaman tentang bayi yang menangis hanya bisa menampakkan wajah panikku. Yuzu yang tau dengan keadaanku yang sedang bingung langsung meraih tubuh Nagisa dan menggendongnya.
Tetap saja. Nagisa masih menangis di gendongan Yuzu. Kalau begini aku jadi merasa bersalah nih. Gara-gara aku Nagisa jadi nangis deh.
Semuanya berakhir ketika Ichigo turun tangan untuk menenangkan Nagisa. Tiba-tiba saja waktu di gendongan Ichigo, Nagisa langsung tersenyum dan menggeliat-geliat di dada Ichigo. Sial! Dasar anak kecil.
~ Evening ~
Melihat Tv bareng Nagisa
Hmmm… wajahku yang semula berseri-seri sekarang berubah murung karena kelakuan Nagisa. Memang dia anak kecil sih, tapi please deh ah… jangan menggeliat-geliat terus di dada Ichigo. Dia itu kekasihku tau. Ingin rasanya aku berteriak 'Kau jangan seenaknya bermanja-manja dengan kekasihku, Baka' tapi… dia kan anak kecil. Percuma saja kalau aku marah-marah dengan anak kecil.
Hiburanku sekarang hanya tv ukuran 21 inch yang bertengger di ruang tamu milik keluarga Kurosaki. Karin dan Yuzu yang memang sudah malas mengurusi Nagisa yang dari tadi nempel dengan Ichigo sekarang mereka berada di kamar masing-masing. Tinggalah aku, Ichigo dan Nagisa di ruang tamu.
Tiba-tiba saja ada tangan kecil yang memegang lenganku. Aku mengalihkan pandanganku ke arah tangan itu, lalu aku melihat orang yang telah menyentuhku. Nagisa dengan tawanya berjalan perlahan menuju ke arahku. Aku tersenyum.
Senyumku pudar seketika ketika di lenganku yang satunya ada cicak yang jatuh dari atas. Karena shock, aku langsung berteriak. Nagisa yang sedang di perjalanan menuju diriku jadi kaget dan menangis seketika. Dia menarik lengan bajuku dan membuat aku condong ke arahnya. Karena tidak kuat menahan beban kepalaku, dia jadi terjatuh di sofa.
Dengan seenak hatinya dia menjambak-jambak rambutku yang tadi pagi sudah aku keramasi dan aku tata dengan rapi. Aaarrrggghhh… kenapa harus rambutku? Aku mencoba melepaskan tangannya, tapi tak bisa. Dasar cebol sialan.
Setelah berhasil terlepas aku berdiri dan menghadap ke arah Ichigo. Mungkin sekarang keadaanku sudah tak seperti manusia biasa. Tapi mungkin seperti monster yang sudah siap menerkam mangsanya. Muka merah padam, rambut acak-acakan dan pandangan mata yang sangat tajam.
'Aku membencinya dan aku membencimu juga' setelah mengatakan itu aku langsung berlari menuju kamarku. Aku sama sekali tak menghiraukan teriakan Ichigo yang sudah memanggil namaku berkali-kali.
~ Night ~
Makan rujak buah
Malam ini kami semua yang berada di rumah di bawakan oleh-oleh dari Ukitake-san. Nama makanannya adalah rujak buah. Hm… aneh. Baru pertama kali aku mendengarnya. Katanya sih ini makanan dari Indonesia. Yah sudah lah, tak masalah. Yang penting aku makan malam ini.
Tanpa sungkan sama sekali aku langsung makan semua macam buah yang berada di dalam mangkuk kecil ini. Aku mengunyahnya dan menelannya. Aku berhenti sejenak. Dan tiba-tiba saja mulutku terasa panas, lidahku juga terasa panas. Kata pertama yang ku lontarkan adalah 'Pedaaas'. Setelah itu aku langsung meminum air yang berada di depanku.
Hihihi… sungguh sangat memalukan. Seorang keturunan Kuchiki bersikap seperti itu waktu makan. Waktu itu ada tamu lagi. Hm… kalau Nii-sama tau pasti aku sudah mendapat deathglareannya.
Aku menutup buku jurnalku dan ku kembalikan ke dalam laci. Mataku sekarang serasa sudah ingin menutup. Dengan gerak cepat aku berdiri dan segera berlari ke arah ranjangku. Tanpa basa-basi lagi aku langsung merebahkan tubuhku dan tidur dengan kaki yang mengayang setengah di udara.
"Rukia… hey pendek, cepat bangun."
Aku mendengar ada suara orang di dekatku. Karena aku masih sangat mengantuk, reflek aku melempar gulingku ke arah asal suara. Terdengar suara 'buug' yang lumayan keras. Mungkin itu suara gulingku tadi.
"Rukiaaaa…" teriak Ichigo dan membuatku bangun seketika.
Dengan mata yang masih tertutup setengah, aku duduk dan melihat Ichigo yang sedang membawa sesuatu.
"Kyaaa… Luki-Luki-Luki, Lukiaaa…" kata seorang anak a.k.a Nagisa yang sekarang sedang berada di gendongan Ichigo. Tangannya bergerak naik turun seperti ingin menggapaiku.
"Ada apa?" tanyaku tanpa bergerak sedikitpun.
Ichigo berjalan beberapa langkah ke depan untuk mendekat ke arahku. Tapi saat dia tinggal satu langkah untuk mencapai tempatku, aku segera menghentikannya.
"Stoppp… jangan mendekat, aku tak mau rambutku di jambak lagi," kataku sambil geleng-geleng kepala.
Ichigo tersenyum dan melanjutkan jalannya. Dia berhenti tepat di samping ranjangku. Setelah itu, dia menurunkan Nagisa dari gendongannya.
Nagisa yang sudah turun sekarang berjalan perlahan menuju ke arahku. Aku yang memang agak trauma karena takut di jambak oleh Nagisa lagi sekarang perlahan memundurkan badan agar Nagisa tak sampai-sampai.
Saat aku sudah mencapai ujung ranjangku, aku langsung turun dan berlari ke arah jendela. Nagisa yang tau aku terus menjauh sekarang duduk di tengah-tengah ranjangku dengan wajah yang kusut. Sepertinya dia ingin menangis.
Dugaanku benar. Sekarang Nagisa mulai menangis sambilmenarik-narik selimutku. Reflek Ichigo segera menggendong Nagisa.
Setelah Nagisa sudah agak tenang Ichigo melihat ke arahku. Dia tersenyum penuh arti ke arahku. setelah itu dia mulai berjalan mendekat ke arahku lagi dengan Nagisa yang berada di gendongannya.
"Dia hanya ingin pamit kepadamu, malam ini dia pulang ke rumahnya," jelas Ichigo sambil menurunkan Nagisa.
Aku terdiam. 'Masa' Nagisa mau pamit ke aku? Itu tidak mungkin.'
Nagisa yang sekarang berada di lantai mulai berjalan perlahan menuju ke arahku. Meski jalannya masih sempoyongan, tapi dirinya tetap bersemangat untuk berjalan ke arahku. Setelah sampai, dia langsung memeluk kakiku.
"Lukiaaa…" katanya sambil tersenyum ke arahku.
Aku yang semula takut sekarang jadi tersenyum karena melihat senyuman Nagisa yang sangat lucu. Aku langsung menggendongnya dan mencubit pipinya lagi. Kali ini dia tidak menangis, melainkan malah tertawa ringan.
"Nagisa mau pulang ya?" tanyaku sambil tersenyum manis ke arahnya.
"Puyanggg… Gisa puyanggg," katanya sambil memelukku.
Sepertinya yang di katakan Ichigo benar. Nagisa ingin pamit ke aku untuk pulang. Hihihi… kalau dari tadi begini sih gak apa. Nggak akan ada acara jambak menjambak lagi kayak tadi sore.
"Ya udah, Nagisa pulang ya. lain kali jangan lupa berkunjung ke rumah Kak Ruki lagi," kataku sambil menatap wajahnya.
"Nagisa kalau memanggilmu itu bukan Kakak, melainkan Tante," jelas Ichigo tiba-tiba dan itu membuat aku cemberut. Ichigo hanya bisa cengingisan di temapt.
"Gisa ke rumah Luki lagi," kata Nagisa sambil menggeliat-geliat manja di gendonganku. Hihihi… lucu juga ya anak ini.
"Iya, kalau begitu Nagisa pulang ya, Kak Ruki mau tidur lagi," kataku sambil berjalan menuju Ichigo. Setelah sampai di depan Ichigo, aku menyodorkan Nagisa ke arah Ichigo. Ichigo tersenyum dan menggendong Nagisa.
"Beri salam perpisahan untuk Kak Ruki," kata Ichigo sambil melihat wajah Nagisa. Nagisa tersenyum.
"Sayonala Luki, jaa," kata Nagisa sambil melambaikan tangan ke arahku.
Aku tersenyum dan ikut melambaikan tangan juga. Setelah itu Ichigo langsung berbalik dan keluar dari kamarku. Sebelum keluar Ichigo meminta maaf kepadaku karena telah mengganggu acara tidurku. Yah… tak apalah, aku juga senang karena bisa melihat senyum Nagisa dan mencubit pipinya yang menggembung itu.
Dengan senyum yang mengembang aku kembali berjalan ke arah ranjangku dan merebahkan tubuhku di sana. Tak beberapa kemudian aku sudah kembali ke dunia mimpiku.
^_TSUZUKU_^
Gomeeeeennnn… Ai mau HIATUS sekarang. Karena Ai mau konsen dulu ke UNAS. Gomen buat temen-temen Ai yang ficnya nggak Ai review. Sumpah, Ai nggak sempet. Maaf juga karena aku nggak ikut buat fic untuk pembukaan IchiRuki Day's. Sekali lagi Gomen *nunduk-nunduk* -di tendang-. Baiklah. Akhir kata…
! REVIEW !
I I
I I
I I
I I
V
