Warning: OCC-hanya untuk kepentingan geje semata.
Disclaimer: the same as before hehe (author abal pemalesan)
Realize
originally made by margaretaruth-kangyeongsuk-tamikowashio
Third Part
"Maybe I was naive got lost in your eyes and never really had a chance.."
Romance, Hurt
Pairing: Shinichi X Ran (Detective Conan)
Beep..beep
Lelaki jangkung itu membuka matanya perlahan. Dirasakannya udara dingin memenuhi kamar yang ditempatinya. Ditariknya selimutnya kembali, tanpa mencoba untuk kembali tidur. Ia hanya memandang lurus ke depan, seolah sesuatu yang menarik sedang terjadi di langit-langit kamarnya. Lelaki itu menghela nafas panjang, kemudian dipalingkannya wajahnya ke samping ranjangnya.
Ran...Dimana kau..?
Lelaki itu memejamkan matanya, sekali lagi tanpa berniat untuk kembali tidur. Diremasnya selimut yang menutupi tiga perempat tubuhnya. Lelaki itu menggigit bibirnya.
"AAARRRGGGHHHH...! RAN!" teriak lelaki itu. Nafasnya kemudian terengah-engah. Ia merasa sangat kesal, walaupun ia sendiri tak tahu pada siapa ia menujukan kekesalannya itu. Kenapa kau harus menghilang begini, Ran? Kenapa kau sama sekali tidak menghubungiku? Ia merasakan bahunya bergetar. Lelaki itu menggigit bibirnya lebih keras lagi.
"Shinichi...?" seseorang mengetuk pintu kamarnya. Perempuan. Sejenak lelaki yang dipanggil Shinichi itu tertegun. Selama satu detik, ia berpikir itu suara Ran. Hanya sedetik. Tapi, ia mengenali suara itu, bukan Ran.
"Shinichi, aku masuk ya.." kata perempuan itu lagi.
Shinichi hanya diam, tidak menyahut. Ia membiarkan perempuan itu memasuki kamarnya. Diliriknya perempuan itu sekilas, kemudian ia menghela nafas panjang dan kembali diam.
"Sudah bangun? Kenapa tidak turun? Nih, aku bawakan coklat hangat.."
"Trims, Sonoko.." ujar Shinichi sambil mengubah posisinya ke posisi duduk dan menerima cangkir yang disodorkan perempuan itu.
"Hm..Kangen Ran ya?" kata Sonoko seraya mengambil posisi di samping Shinichi. Diteguknya isi cangkirnya, kemudian melanjutkan perkataannya, "sudah coba menghubungi Ran?"
Shinichi hanya tersenyum masam, lalu meneguk isi cangkirnya. "Hm..harus disebut seperti apa ya..Bisa dibilang, ia yang tidak mau kuhubungi.." ujar Shinichi. Diteguknya isi cangkirnya lagi, dirasakannya badannya menghangat. Sangat nyaman.
"Hm..Sudah tanya paman detektif? Mungkin Ran menghubungi ayahnya.."
Kali ini Shinichi tidak bereaksi. Tersenyum pun tidak. Ia hanya memandang lurus ke depan, menerawang jauh seolah menembus jendela kaca yang membatasi dunia luar dan kamarnya itu. Sonoko melihat ada kesedihan di mata Shinichi, kehilangan yang begitu mendalam.
"Paman detektif tidak mau memberi tahu ya? Uhh, dasar paman pelit.."
"Paman detektif pun tidak dihubungi Ran..Bagaimana aku menemukannya sekarang..Ran...Kau dimana..?" kata Shinichi. Shinichi terlihat begitu bingung. Wajahnya menunjukkan keputusasaan. Tiba-tiba, ia bangkit berdiri dan segera menyambar ponselnya.
"Mau kemana?" tanya Sonoko, mencoba menghentikan Shinichi.
"Mencari Ran..Kemanapun akan kucari.." jawab Shinichi.
Blam..
Sonoko hanya bisa terduduk di ranjang Shinichi lagi. Dipandanginya sekeliling kamar Shinichi sambil tersenyum, kemudian ia menghela nafas.
"Kalau aku menghilang, apa kau akan sekhawatir ini juga, Shinichi..?"
Empat bulan..Sudah empat bulan aku tinggal di desa ini, desa terpencil yang berada di ujung lintasan kereta api. Aku menjalani hidupku dari awal lagi, mencari pekerjaan yang akan menopang hidupku dan mencari teman baru. Mencari kesibukan yang akan membuatku melupakan Shinichi. Sejenak, memang aku melupakannya, asyik dengan kesibukanku sendiri. Namun, ketika kesibukan itu berakhir, rasa hampa itu kembali menjalariku, aku merindukannya.
Berkali-kali muncul pikiran untuk kembali dan menghubungi Shinichi. Tuhan, aku sangat merindukan suaranya, aku merindukan tawannya, I miss the way he comforts me. I miss everything he did. Berulang kali pula kusingkirkan pikiran itu. Aku tidak boleh kembali, aku tidak boleh menyusahkannya.
Sementara itu, penyakit sialan ini terus menggerogoti tubuhku. Haha, kini bahkan aku harus memangkas rambutku lebih pendek dari potongan rambut para pria. Cih, sia-sialah perjuanganmu memanjangkan rambut demi Shinichi, hey Ran Mouri tolol. Selain itu, aku merasa agak segan dengan bibi pemilik penginapan. Aku begitu merepotkannya. Aaah, terkadang aku menyalahkan Tuhan atas apa yang aku alami sekarang. Kenapa aku harus merepotkan bibi? Kenapa aku harus menderita penyakit ini? Kenapa aku harus jatuh cinta pada Shinichi?
God, I damn miss him. I need him right here, right now to comfort me. No one else can do it.
Behind the Scene
Haaaaalllloooo~ jumpa lagi dengan saya, author abal dengan cerita yang makin ngaco. Maaf kalo chapter yang ini kurang rame dan gajelas intinya apa hehe abisnya ide mampet semua dan baru kepikir endingnya (tapi tengahnya teu nyaho haha). Yeah, review, kritik dan saran, semua diterima. Just click that orange letters and there you go~! Gomawooo :3
