Disclaimer : All characters are owned by Aoyama Gosho. I owned the plot only.
Warning :OCC-hasil dari daya imaginer yang berlebihan. Efek samping diare setelah membaca fic ini diluar tanggung jawab author.
Realize
-last part-
originally by kangyeongsuk-tamikowashio
"I'm so sorry, but I love you"
pairing Shinichi x Ran (mentatei conan)
Lelaki itu menempati tempat favoritnya di sudut cafe itu sendirian kali ini. Seorang pelayan sudah hafal dengan wajahnya menghampirinya, menanyakan apakah ia ingin memesan yang lainnya selain secangkir capucinno yang terletak di depannya. Lelaki itu hanya menoleh sekilas, lalu menolak dengan halus, dengan senyuman yang dipaksakan. Pelayan itu kemudian meninggalkan meja lelaki tersebut setelah sebelumnya mengingatkan lelaki tersebut tentang isi cangkirnya. Capucinnonya telah mulai dingin.
Lelaki itu kembali sendirian di tempat favoritnya di sudut cafe itu. Ia masih menunduk, memandangi sepatunya. Ia belum menyentuh pesanannya, secangkir capucinno pekat yang tidak begitu manis, kesukaannya-atau pernah menjadi kesukaanya. Lelaki itu kemudian mengela nafas panjang, kemudian menoleh ke cangkir yang ada di depannya. Ia memandangi cangkir tersebut cukup lama, seolah menimbang-nimbang untuk meminumnya atau tetap membiarkannya seperti itu. Ia hendak meraih cangkirnya, tetapi menarik lengannya lagi, kemudian memutuskan untuk menaruh jemarinya di bibir cangkirnya saja. Digerakkannya jemarinya mengikuti bentuk bibir cangkirnya, masih dengan menunduk seolah seseorang sedang memarahinya.
Ponsel di saku mantelnya bergetar. Ia kemudian tersadar dari lamunannya. Dengan malas, dirogohnya ponselnya dari sakunya.
"Moshi-moshi.."
"Shinichi..." ternyata seorang wanita.
"Ada apa, Sonoko?"
"Masih di sana?"
"Mm..Apa ada sesuatu yang penting?"
"Tidak sih, aku hanya..."
"Kalau begitu, aku tutup teleponnya.."
"Eh..?"
Klik
Shinichi memasukan kembali ponselnya ke dalam saku mantelnya, kali ini dalam keadaan non-aktif. Diraihnya cangkirnya, lalu ia mulai menyesap isinya. Sedikit, hanya sedikit yang ia sesap.
Hambar
Shinichi kemudian meletakkan cangkirnya kembali. Dipalingkannya pandangannya ke luar jendela. Pemandangan jalanan di malam hari yang diguyur hujan segera menyambutnya. Orang-orang berlari menghindari hujan, kendaraan lalu lalang yang seolah tak punya kesabaran, serta pasangan kekasih yang merapat ke cafe itu untuk berlindung dari hujan. Semua orang seolah menjalani harinya tanpa hambatan. Menikmati musim gugur yang romantis. Bersiap-siap menghadapi musim dingin. Shinichi menghela nafas panjang kembali. I wish for it too. If I just have a normal life. If I just have a common life . If I just have you, not as bestfriend, in my life..
Shinichi kembali menundukkan kepalanya, memandangi susu yang mengambang di permukaan capucinnonya. Ia kemudian menyesap isi cangkirnya kembali. Kali ini ia menyesap sedikit lebih banyak lagi.
Hambar
Shinichi merasa dirinya ingin berteriak. Ia mengepalkan tangannya, menahan dirinya untuk berteriak. Pelayan yang sedari tadi memperhatikannya mengerutkan kening. Shinichi merasa dirinya menjadi sangat konyol. Duduk sendirian disini dalam waktu yang cukup lama, hanya memesan secangkir capucinno yang seperempatnya pun belum ia habiskan, dengan memakai pakaian serba hitam. Konyol. Ia merasa sangat konyol atas semua yang ia lakukan. Atas sikapnya selama ini. Atas ketololannya. Atas ketakutannya. Shinichi merasa dirinya adalah seorang pengecut yang konyol.
Pelayan yang sedari tadi memperhatikannya pun menghampirinya, menanyakan apakah dirinya baik-baik saja. Sekali lagi Shinichi hanya menoleh sebentar, dan dengan senyuman yang dipaksakan ia menggeleng, mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Sambil mengerutkan kening, pelayan itu pun kembali meninggalkan mejanya. Shinichi masih tetap terdiam, memandangi cangkirnya seolah isinya akan menyusut dengan cepat dengan dipandangi seperti itu.
"Shinichi..." tiba-tiba suara seorang perempuan memanggilnya. Shinichi mendongak, mencari si pemilik suara yang telah mengganggunya itu dengan wajah gusar. Di depannya telah duduk Sonoko, yang masih menggunakan pakaian serba hitam sama sepertinya. Sonoko terlihat khawatir. "Sedang apa kau disini?" tanya Sonoko lagi.
Shinichi hanya terdiam, membiarkan Sonoko menunggu jawabannya. Ia kembali menunduk. Tangan kanannya meremas tangan kirinya sampai terasa sakit. Sonoko memperhatikan lelaki yang duduk dihadapannya dengan pandangan yang sangat cemas. Diraihnya tangan Shinichi, tetapi Shinichi segera melepaskan genggaman Sonoko.
"Gomen.." ujar Sonoko, tidak menyangka Shinichi akan bereaksi seperti itu. Shinichi kembali menunduk, terlihat sangat frustasi dan kacau. Rahangnya mengeras, menandakan bahwa dirinya sedang menahan sesuatu. "Menangislah, menahannya hanya akan membuatmu merasakan lebih banyak kesakitan..." ujar Sonoko, yang tahu betul kalau Shinichi hanya mengeraskan rahangnya saat ia ingin menangis.
Shinichi kembali mendongakkan kepalanya, tertegun menatap Sonoko. Tapi ia hanya diam, tidak ada air mata yang mengalir dari matanya. Mereka hanya diam untuk beberapa saat, sebelum akhirnya Shinichi kembali menunduk.
"Ran..aku tidak pernah menyangka ia akan menjadi seperti itu karena aku.." ujar Shinichi dengan suara bergetar. Sonoko tahu, dan ia tahu pasti bahwa Shinichi mencoba bersuara wajar di sela-sela tangisnya. Sonoko hanya diam, tidak mengucapkan sepatah kata pun supaya Shinichi tidak merasa terganggu.
"Seharusnya ia bisa hidup lebih lama! Seharusnya ia masih bersamaku saat ini! Seharusnya ia tidak menginggalkanku dengan cara seperti ini!" kata Shinichi lagi. Kini terdengar jelas bahwa Shinichi tengah menangis. Ia tidak lagi menjaga suaranya. Ia membiarkan semuanya keluar, kekasalannya, kemarahannya, dan rasa bersalahnya. Seharusnya bukan kau, that shouldn't be you, that should be me! The one that should've died was me! Shinichi merasakan seseorang menggenggam tangannya.
"Bukan salahmu..bukan, ini semua bukan salahmu. Kita semua tidak tahu kalau mereka mengincar Ran.."
"Seandainya aku bukan detektif, seandainnya aku tidak pernah membantu kepolisian, aku tidak akan punya musuh! Tidak akan ada orang yang begitu dendam kepadaku! Dan Ran tidak akan terbunuh seperti itu!" Shinichi menangis sejadi-jadinya. Genggaman Sonoko terasa semakin erat, tetapi Sonoko tidak menangis. Lebih tepatnya ia tidak ingin menangis. Shinichi...Apakah sebegitu berartinya Ran bagi dirimu? Apakah sedetikpun kau tidak pernah memikirkanku? Tidak pernahkah kau melihatku lebih dari sekedar teman?
"Shinichi...Hentikan...Jangan menyalahkan dirimu lagi...Semuanya sudah terlanjur terjadi..Ran tidak akan kembali lagi.." ujar Sonoko, pelan. Ia menggenggam tangan Shinichi semakin erat, sampai tangannya terasa sakit. Shinichi yang berada di hadapannya kini bukanlah pemuda yang terbiasa melihat kematian seseorang. Shinichi yang kini dihadapannya hanyalah pemuda biasa yang begitu rapuh dan mungkin dapat hancur hanya dengan satu sentuhan saja. Shinichi yang tegar dan pemberani telah hilang entah kemana.
Sonoko tiba-tiba menarik tangannya, melepaskan genggamannya dari tangan Shinichi. Ia menghela nafas panjang.
"Kelak, kau harus memecahkan sebuah kasus sebelum jatuh korban berikutnya." Shinichi mendongak, memandang Sonoko dengan tatapan bingung. Tatapan yang belum pernah diberikan Shinichi pada siapapun, Sonoko tau pasti hal itu. "Kelak kau tidak boleh memperlakukan seorang wanita dengan sangat baik jika kau tidak menyukainya." Shinichi mengangkat alisnya, tidak mengerti dengan apa yang diucapkan Sonoko.
"Kelak, kau harus benar-benar bisa melampaui kehebatan analisa ayahku. Kau juga harus kembali bermain sepakbola, kau tidak boleh menghentikan hobimu itu. Kau harus mencoba berhenti minum capucinno yang rasanya tidak jelas itu, pilih yang benar-benar manis atau yang memang pahit. Kau tahu, membuat capucinno yang rasanya aneh itu merepotkan tahu! Kau jadi tidak bisa pergi ke kedai lain.." Sonoko merasa sudut matanya memanas. Ia merasakan suaranya tercekat, tidak sanggup meneruskan perkataanya. Ia meyakinkan dirnya sendiri, menyemangati dirinya sendiri bahwa ia harus mengatakan semuanya. Ia kemudian mendongak, memandang Shinichi, untuk pertama kalinya menyadari bahwa ia sendiri tidak dapat menerima kematian Ran.
"Kelak, kau harus menikah dengan orang yang benar-benar kau cintai, jangan membuatnya menunggu atau menghilangkan harapannya. Kau harus menyayanginya dengan benar, jangan mengecewakannya ataupun menyakitinya. Jangan menolak saat ia mengajakmu berkencan. Jangan pernah membohonginya atau selingkuh darinya." Sonoko merasa sudut matanya memanas. Cairan hangat itu telah membasahi pipinya.
Dengan suara bergetar, ia melanjutkan perkataanya, "Walupun sebenarnya tidak rela, benar-benar tidak ingin, tapi aku ingin melihatmu bahagia. Maka aku akan mendoakanmu supaya bisa bahagia dengan orang yang kau cintai. Tapi aku hanya ingin kau tahu, hanya sekedar tahu, bahwa aku menyukaimu. Benar-benar menyukaimu sehingga bisa jadi begini," Sonoko terdiam sebentar, kemudian kembali berbicara, "itu isi dari pembicaraanku yang terakhir dengan Ran. Ia ingin aku menyampaikannya padamu, karena ia merasa tidak akan pernah mengatakannya secara langsung padamu.." Sonoko berhenti bicara, menundukkan kepalanya dan kemudian menangis.
Begitu pula dengan Shinichi, ia kembali menundukan kepalanya. Tanpa suara, tanpa ada yang harus tahu, mereka menangis.
Behind The Scene
Halooooo hehe fic part terakhir hehe. Kemungkinan besar gada lanjutan dari sudut pandang Sonoko (buat semua yang minta sudut pandang Sonoko, gomeeeeeen :3). Makasih buat yang udah baca dari part awal serta yang udah ngasi review sangat berharga sekali loooh hehehe. Saran, kritik, celaan, hinaan serta pujian (huee ngarep :D) sangat ditunggu ehehehe
