*Take 2 - Kesalahan ada pada sang author yang dengan bodohnya klik refresh yang mengakibatkan hilang sudah ketikan yang sudah capek2 Rukia buat*
Icchy : Maafkan... *pundung
Rukia : Mikirin apaan sih sampe salah mencet tombol gitu! padahal tadi aku udah capek2 tulis panjang2 buat para readers! *ngamuk
Icchy : T_T *masih pundung
Ichigo : Udah2, kasian tuh si Icchy guling2 geje gitu. *nenangin Rukia yang lg ngamuk
Rukia : BERISIK, JERUK! Makanya Bantuin! *deathglare ke Ichigo
Ichigo : *Swt* Oke, biar aku aja yang gantiin situ " *Sok2 batuk benerin suara -diajak kencan ma zangetsu,
Oke, Biar gw yang gantiin Rukia dan Icchy ngomong disini, Enjoy Chapter 9 ini, oh iya pesen dari Rukia neh, Abis baca ini kalian jangan lupa buat gebukin sang Author yah. Enjoy!
Rukia: Oi, Ichigo! Disclaimernya!
Ichigo : Oh iya! *pikun Nggg...Nggg... Bleach itu yg bikin Kubo Tite, Final Distance itu yang nyayiin Utada Hikari.
Rukia : *geplak pala Ichigo* Hikaru, tahu!
Ichigo: *Cuma bisa meringis tapi ga berani komplain ke Rukia* Jangan lupa review yah~
Rukia : *Kasih senyuman semanis2nya ke Readers* Jangan lupa yang baca tapi ga kasih review diajak kencan Sode no Shirayuki lho ~
Shirayuki : *Senyum ala setan*
Icchy : UDAH OE! KEPANJANGAN INI! *Tutupin IchiRukiShira pake tirai hitam*
Chapter 9 = Final Distance
Keesokan harinya, siang hari...
Suasana laut yang seperti biasa mengundang para wisatawan yang sedang berlibur untuk bermain dengan ombak laut. Bersama dengan teriknya sinar matahari yang memancarkan sinar dengan ganansnya. Seperti biasa, Ichigo tidak tahan dengan panas yang akhirnya hanya berteduh di bawah payung pantai yang besar, melihat teman-temannya sedang asyik berjemur di bawah sinar matahari bersama dinginnya laut. Sejak pertengkarannya dengan Rukia, Ichigo sama sekali tidak melihat sosok Rukia sejak tadi malam. Sedikit kepikiran, namun egonya enggan untuk mencari Rukia. Entah masih kecewa ataukah karena tidak berani berhadapan dengan Rukia, Ichigo akhirnya memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya. Paling-paling Rukia masih tidur-tiduran di dalam kamar hotelnya.
"Kurosaki-kun!" Dari arah belakang Ichigo, terlihat Inoue sedang berlari menghampiri tempat duduknya.
"Ada apa, Inoue? Rambutmu berantakan sekali?" Tanya Ichigo heran melihat Inoue sedang mengatur nafasnya karena capek berlari.
"Hosh... Hosh..." Inoue masih mengatur nafasnya, lalu mulai berbicara. "Kuchiki-san sudah pulang duluan!"
Ichigo terdiam sejenak, berpikir, dan... "Ha?"
"Ini aku dapat sms darinya, katanya dia pulang duluan." Jelas Inoue lagi sambil memperlihatkan isi sms yang di dapatnya dari Rukia.
Ichigo melihat isi pesan tersebut, di amatinya perlahan, Rukia memang menulis pesan itu.
Inoue, Maafkan aku tiba-tiba harus pulang duluan. Aku ada urusan penting. Tolong sampaikan sama yang lain yah. ^_^
Ichigo melihat pengirim pesan itu, Kuchiki Rukia.
Tidak percaya dengan isi pesan saja, tanpa basa-basi Ichigo langsung bergegas menghampiri kamar hotel Rukia, meninggalkan Inoue yang masih tersengal.
xXxXx
Tanpa mengetuk pintu atau apapun, Ichigo langsung membuka pintu hotel secara paksa. Dan benar saja, tidak terlihat barang-barang Rukia di sana, gadis itu sudah pulang tanpa memberi kabar. Ichigo mengacak rambut orangenya pelan, sedikit menyesal kenapa kemarin dia tidak berbicara dengan Rukia.
"Sial!" Decak Ichigo sebal, menyesali perbuatannya sendiri. Tanpa perlu waktu lama, dia bergegas mengambil handphonenya yang dia tinggalkan di kamar hotelnya. Ichigo bermaksud untuk menghubungi Rukia, berharap gadis itu menjawab panggilannya, berusaha meminta maaf karena sudah berkata kasar kepadanya.
'Rukia... Apa dia masih marah padaku?' Batin Ichigo di sela-sela mencoba menghubungi Rukia. Terdengar bunyi di sebarang telepon, namun tidak ada tanda-tanda panggilan itu akan diangkat. Ichigo tidak sabar dengan itu, langsung mencoba menghubungi kembali, begitu terus sampai akhirnya dia menyerah.
"Sialan! Setidaknya beritahu aku kalau memang mau pulang, Bodoh!" Gerutunya kesal karena tidak bisa menghubungi Rukia.
Rukia tidak mengangkat satu pun panggilan dari Ichigo. Menghubungi balik Ichigo pun juga tidak. Rukia benar-benar menghilang dan meninggalkan begitu banyak pertanyaan untuk pria berkepala jeruk ini. Ichigo panik, namun tidak ada satu hal pun yang bisa dia lakukan untuk itu. Mau tidak mau, Ichigo harus pulang hari ini juga! Itu adalah rencana terakhirnya!'
xXxXx
Rukia - P.O.V -
"Okaerinasai, Rukia-sama, Hisagi-sama." Nemu, anak sang kepala pelayan, Kurotsuchi Mayuri, sekaligus pelayan pribadiku saat berada di dalam Kuchiki mansion, menyambut kedatanganku dan Shuuhei. Kami berdua tiba setelah perjalanan jauh kemarin. Dari kemarin pikiranku tidak pernah fokus, apalagi pikiranku sudah tidak bersama tubuhku. Kosong yang kurasakan, entah apa yang sedang terpikirkan di kepala, rasanya aku tidak ingin berpikir apa-apa. Langkahku tetap berjalan mengikuti Shuuhei untuk menghampiri ruang kerja Byakuya-niisama, namun mulutku diam seribu bahasa, seperti terkunci...
"Okaeri." Sambut Byakuya-niisama seperti biasa. Tidak ada satu pun ekspresi yang terpancar dari wajah dinginnya. Ya, memang inilah nii-sama seperti biasanya.
"Tadaima, Byakuya-niisama." Ucapku sopan sambil membungkuk hormat. Begitu juga dengan Shuuhei yang berdiri di sampingku.
"Apa kabar, Kuchiki-san?"
"Baik. Bagaimana dengan dirimu, Hisagi?" Byakuya-niisama membalas sapaan itu. Basa-basi seperti ini rasanya sudah lama sekali tidak ku dengar dari Byakuya-niisama.
xXxXx
"Jadi, sekarang jelaskan kepadaku, Rukia. Kenapa tiba-tiba kau memutuskan seperti kemarin?" Tanya Byakuya-niisama setelah Shuuhei sudah kembali ke rumahnya. Aku masih terdiam memperhatikan rak buku Nii-sama yang tersusun dengan rapi. Ugh! Selalu saja setiap berbicara dengan Nii-sama suasana pasti sedingin ini.
"Tidak ada alasan khusus." Aku menjawab singkat, "Hanya saja, sepertinya selama ini aku sudah banyak bermain-main."
Byakuya-niisama menatapku lekat, seperti sedang berusaha membaca pikiranku. Namun, akhirnya dia kembali mengamati dokumen-dokumen yang masih berjejer rapi di atas meja kerjanya, sepertinya sibuk sekali. Mungkinkah suatu saat aku juga akan melakukan hal yang sama?
"Perlu kau ketahui, calon tunanganmu bukan hanya Hisagi saja." Jelas Byakuya-niisama, "Masih ada 4 kandidat lainnya."
"4 kandidat? Siapa saja?" Ugh! Rasanya malas sekali kalo harus mengetahui semuanya. Dasar! Merepotkan sekali!
"Pertama, dia adalah Hitsugaya Toushirou. Lalu ada Ichimaru Gin, Aizen Sousuke, dan terakhir Shiba Kaien. Mereka semua datang kepadaku untuk melamarmu."
Aku mengerutkan keningku. Apa-apaan para pria yang tidak ku kenal itu? Mereka datang ke hadapan Byakuya-niisama hanya untuk melamar diriku? Sedikit merinding juga, mana aku tidak begitu kenal dengan mereka lagi. Kalau cuma sekedar kenal sih ya kenal, toh mereka semua dari kalangan keluarga terpandang, kekayaan dan kekuasaan pun tidak usah ditanya lagi, sebanding dengan keluarga Kuchiki ini. Soal ketampanan, untuk yang satu itu, kalau kalian masih bertanya, berarti kalian buta! Tidak ada satu wanita pun yang tidak kenal dengan mereka. Tidak perlu ditanyakan lagi!
"Ditambah Shuuhei, jadi 5…" Gumamku lemah. Rasanya sedikit menyesal dengan keputusan yang kuambil.
"Kalau tidak mau, aku tidak akan memaksamu." Aku sedikit terkejut mendengar kata-kata Byakuya-niisama. Tumben sekali?
Aku menggeleng pelan, "Tidak, Nii-sama. Aku sudah memutuskan seperti ini, aku akan menemui mereka semua." Jelasku sambil tersenyum. Aku tahu bahwa orang yang sedang duduk di depanku sedang mengkhawatirkan diriku. Tapi, aku sudah memutuskan. Aku tidak akan mundur karena itu. Itu berarti aku harus segera mengurusi kepindahanku dari Karakura ini, dan… Aku harus mengucapkan kata perpisahan untuk Ichigo…
Rukia – P.O.V – End
I want to see you, but an invisible wave pushes us
Again, just a little more distance
xXxXx
Normal – P.O.V –
Waktu tidak terasa begitu cepat berlalu, liburan musim panas pun sebentar lagi usai. Semua murid yang sudah puas bermain terlihat sibuk mengerjakan tugas-tugas yang menunggu mereka. Salah satunya Ichigo, dengan serius di kerjakannya soal-soal yang terjejer rapi di depan matanya. Pulang dari liburan tidak membuatnya lupa akan tugas. Kali ini dia bertekad untuk menyelesaikannya sampai tuntas, sekaligus berusaha untuk mencoba melupakan masalahnya dengan Rukia tempo lalu.
Sejak hari itu, Rukia hampir tidak pernah menghampiri kamar Ichigo lagi. Tidak ada satu langkah pun dari Rukia, apalagi kabar darinya. Telepon dari Ichigo tidak pernah di angkat olehnya, mengabari teman-teman yang lain pun tidak. Dan Ichigo? Dia hanya bisa menunggu hari sekolah untuk bisa bertemu dengan Rukia. Handphone filp berwarna orange miliknya sengaja Ichigo taruh di samping meja belajarnya, mungkin saja Rukia yang menghubunginya.
Dan harapannya terkabul, terasa getaran dari HPnya, sebuah panggilan datang. Dengan segera Ichigo langsung mengangkatnya.
"Ichigo?" Sebuah suara yang saat ini ingin Ichigo dengar. Suara itu adalah Rukia.
"Hey, Midget! Kemana saja kau? Kenapa tidak memberitahu aku kalau kau sudah pulang duluan?"
"Pulang kerumah. Ada urusan penting menungguku." Rukia menjelaskan. Ichigo menghela nafas lega. Setidaknya dia sudah mengetahui alasan Rukia pulang bukan karena perkataannya.
"Naa, Rukia. Maaf soal waktu itu…"
"Sudahlah! Tidak usah diungkit lagi." Rukia menyela kata-kata Ichigo. "Ajak aku jalan-jalan hari ini. Dengan begitu aku akan memaafkanmu." Sambung Rukia sekali lagi.
"Baiklah." Tanpa perlu waktu semenit, Ichigo langsung menyetujui usul Rukia, "Dimana kau sekarang?"
"Lebih baik kau buka jendela kamarmu." Ichigo bergerak menghampiri jendela kamarnya, menuruti perintah Rukia. Dan benar saja, terlihat Rukia sedang menyenderkan tubuh mungilnya menunggu Ichigo. Pandangan mereka berdua bertemu, sama-sama tersenyum lembut satu sama lain.
"Tunggu aku. Aku akan segera turun sekarang." Ichigo mengakhiri panggilan tersebut dan secepat kilat turun dari kamarnya. Dia sangat merindukan Rukia, itulah yang membuatnya segera turun secepat mungkin.
xXxXx
"Yo…" Sapa Ichigo penuh arti. Hatinya tenang saat melihat Rukia tersenyum seperti biasa.
"Ichigo, hari ini ajak aku jalan-jalan, yah?" Ucap Rukia sekali lagi.
"Baiklah." Kali ini Ichigo tidak melawan. "Mau kemana kita?"
Sambil melangkahkan kakinya beriringan, Rukia berkata, "Kemana saja. Dan kau tidak boleh menolak, Jeruk." Sambungnya sambil menjulurkan lidahnya meledek Ichigo.
"Oke." Ichigo tertawa pelan. Perlahan tangannya mencoba meraih tangan Rukia. Digenggamnya dengan erat tangan mungil di sampingnya, tumben sekali Rukia tidak berkomentar, membalas genggaman itu. Mereka berjalan beriringan ditemani awan yang mengambang dengan tenang.
Try not to stop keep it going baby
If you don't feel the same then tell me
Even if your principle is to not try
It's alright to try a little
xXxXx
Ichigo – P.O.V –
Mungkin ini hanya perasaanku, sikap Rukia sekarang tidak seperti biasanya! Sikapnya hari ini, layaknya kencan pada umumnya yang entah kenapa membuatku bosan. Dia sama sekali tidak berkomentar ataupun mengejekku. Sikapnya malah lembut sekali padaku. Ada apa, yah?
"Hey, Jeruk!" Sapaan Rukia membuyarkan lamunanku, "Jangan menatapku seperti itu."
"Hehehe…" Senyumanku mengambang dengan sempurna, ternyata ini hanya perasaanku saja.
"So, mau kemana kita? Kita tidak mungkin berjalan tanpa tujuan seperti ini,kan?" Tanya Rukia lagi. Ah iya! Dari tadi kami hanya berjalan-jalan tidak jelas seperti ini. Aku sih tidak begitu peduli kita mau kemana, asalnya Rukia berada disampingku, itu sudah cukup.
"Memangnya kau mau kemana?"
"Kau ini, yah." Rukia hanya geleng-geleng kepala, "Memangnya kau tidak punya inisiatif untuk mengajakku ke suatu tempat apa? Apa jangan-jangan kau tidak pernah kencan selain denganku?" Sindirnya mengejekku.
Enak saja! Memangnya dia pikir aku ini orang kuno apa? Tentu saja aku tahu tempat yang enak untuk dijadikan acara kencan, tapi kan aku tidak mau kalau tempat itu hanya disukai olehku saja. Aku ingin orang yang kuajak kencan juga ikut senang dengan tempat pilihanku!
"Bukan begitu, aku hanya berpikir kau tidak akan suka dengan tempat pilihanku." Akhirnya aku menjelaskan saja. Daripada Rukia menyindirku terus.
"Aku tidak akan menolak! Hari ini aku akan ikut pilihanmu saja, Jeruk." Rukia hanya nyengir. Senyuman tidak biasa dipancarkan olehnya. Perasaan apa ini? Rasanya memang ada yang aneh…
xXxXx
Oke! Aku tidak akan banyak bicara, hari ini aku sukses mengajak Rukia jalan-jalan ke tempat yang biasa aku kunjungi. Ku lihat wajah Rukia yang begitu ceria, begitu manis sekali. Ternyata Rukia bisa jadi semanis ini. Tapi anehnya, aku jadi tidak terbiasa, mungkinkah dia yang seperti biasa memang seperti ini? Ataukah…?
"Hari ini menyenangkan sekali, Ichigo." Ujar Rukia senang. Langkah kami berdua terhenti disebuah taman Karakura yang begitu luas dan banyak di kunjungi oleh banyak orang yang hanya sekedar menyejukkan harinya di sore hari. Ya, hari itu senja mulai datang menemani kami, menemani kesenangan Rukia. Melihat dia yang begitu senang hari ini membuatku nyaman. Aku harap dia melupakan semua sikap kekanakanku saat di laut kemarin, tapi memang sepertinya Rukia sudah lupa akan hal itu. Saat kami bersama, aku tidak pernah mendengar Rukia mengungkit akan hal itu. Ya sudahlah, toh aku juga tidak akan pernah melakukan hal itu lagi kepadanya, bahkan bertanya tentang seseorang yang memeluknya hari itu. Siapa pun dia, atau apa hubungannya dengan Rukia, aku tidak akan bertanya apa-apa lagi. Selama Rukia bersamaku, itu tidak masalah.
"Ichigo!" Sayup-sayup terdengar suara Rukia memanggilku. Aku menoleh kearah suara yang memanggilku, terlihat Rukia sudah berlari menjauh ke arah sebuah pohon sakura besar di taman itu. Pohon sakura yang saat itu masih mekar dengan begitu indah. Aku pun menghampiri Rukia, dia bersemangat sekali, entah apa yang merasukinya, Rukia begitu energik sekarang ini.
"Lama sekali kau, Tawake! Aku sampai bosan menunggumu." Ujar Rukia yang sudah duduk sambil menyandarkan tubuh mungilnya di pohon.
Aku hanya mendengus pelan, "Kau sendiri yang terlalu cepat."
"Bukankah cuaca saat ini sangat sejuk? Ah, dasar kau tidak menikmati hidup!"
"Hari ini kau bersemangat sekali, Midget. Salah makan, yah?" Aku menggoda Rukia. Hari ini dia begitu ceria, rasanya gemas sekali. Rukia tersenyum pelan, lalu menghampiriku.
"Memangnya kau tidak senang aku yang seperti ini?" Suaranya terdengar begitu manja. Sialan! Mana bisa aku menang melihat mukanya seperti ini? Kenapa hari ini dia terlihat begitu manis! -_-!
"Ah, Tidak. Sama sekali tidak." Terdengar sekali suaraku bergetar, aku salah tingkah! Rukia malah terkikik geli mendengarkan alasanku.
"Hahaha, lihat mukamu itu, Jeruk. Lucu sekali." Katanya sambil tertawa.
"Sial…" Ya sudahlah. Mukaku memang seperti ini.
Matahari yang turun untuk digantikan oleh sang rembulan, menemani hari-hari kami dengan damai. Tak terasa kemilau di musim panas akan berganti dengan datangnya musim gugur, semarak kemilau kembang api yang menyala dengan meriah adalah pertanda bahwa itu adalah kembang api terakhir. Satu per satu kembang api yang menari di atas langit memanjakan mata kami berdua. Rukia begitu tenang menatapnya, warna-warni yang mengambang dengan indah, begitu hidup.
"Ichigo, ayo kita pergi ke festival." Ajak Rukia setelah mata kami disuguhi indahnya kembang api. Aku menoleh sebentar ke arahnya. Oh iya, saat ke laut kemarin kami sama sekali tidak ada waktu untuk pergi ke festival berdua. Mungkin Rukia juga menginginkannya.
"Ayo." Aku tidak akan membuang waktu lama-lama disini. Tangan kanan Rukia aku genggam dengan lembut, mengajaknya untuk pergi.
Ichigo – P.O.V – End
xXxXx
Normal – P.O.V –
Suasana festival yang tidak akan pernah sepi akan pengunjung. Hari terakhir malah sangat ramai dikunjungi. Semua keluarga beserta pasangan-pasangan yang hadir begitu menikmatinya, begitu juga dengan Rukia dan Ichigo.
"Ramai sekali, yah." Gumam Rukia diantara kerumunan orang-orang yang berlalu-lalang di antara mereka berdua. Ichigo mendekatkan dirinya ke Rukia supaya dirinya tidak terpisah dari Rukia. Keramaian ditambah postur tubuh Rukia yang terbilang mungil memungkinkan dirinya untuk terpisah dari Ichigo.
"Jangan jauh-jauh dariku, Rukia." Ichigo semakin mempererat genggamannya.
"Mana bisa aku jauh darimu, tanganku saja sudah kau genggam erat begini." Ujar Rukia sedikit blushing. Ichigo hanya tersenyum pelan, dan mereka pun mulai menikmati setiap permainan yang terpampang di hadapan mereka berdua. Sampai akhirnya langkah Rukia terhenti disebuah toko yang menjual berbagai macam aksesoris dan pernak-pernik lucu.
"Ichigo, kita kesana sebentar, yah." Ucapnya sambil menunjuk kearah toko tersebut. Ichigo mengikuti arah jari Rukia, lalu mengangguk pelan sambil menghampiri toko yang mencuri perhatian Rukia. Dan benar saja, bagi Rukia, toko ini adalah sebuah surga kecil baginya. Toko yang menjual segala macam aksesoris chappy yang merupakan tokoh yang Rukia gemari.
"Chappy! Lucunya~" Teriak Rukia girang. Dipeluknya boneka chappy besar yang bahkan mampu menandingi tinggi badan Rukia. Ichigo hanya bisa mengerutkan keningnya, bisa-bisanya Rukia tertarik dengan sesuatu yang menyerupai kelinci aneh seperti ini.
"Ichigo, aku mau ini!" Rukia menoleh ke arah Ichigo. Tatapan matanya mulai terlihat bersinar cerah. Ugh! Sepertinya Ichigo harus menuruti permintaan Rukia kalau dia tidak ingin sorot mata Rukia berubah menjadi sebuah deathglare yang menakutkan.
"Berapa ini?" Ichigo menghampiri arah kasir.
"Maaf, yang ini tidak dijual, tapi anda bisa mendapatkannya di permainan itu." Jelas sang penjaga kasir sambil menunjuk kearah permainan tembak-tembakan tepat diseberang Rukia. Ichigo mengerutkan keningnya, itu berarti dia harus memenangkan pertandingan tersebut baru mendapatkan boneka chappy yang diinginkan Rukia.
"Oke, aku coba itu. Berapa harganya?" Tanya Ichigo lagi.
"10 yen 3 kali percobaan." Jawab sang kasir. Ichigo pun memberikan 1 koin berjumlah 10 yen. Dan dia pun mulai mencoba membidik sang boneka chappy. Namun arahnya selalu nyaris kena dan serangannya sama sekali tidak menjatuhkan boneka tersebut. Rukia yang sedaritadi mengamati hanya bisa mendengus kecewa, "Ternyata bidikanmu lemah sekali yah, Jeruk." Desis Rukia mengejek Ichigo.
Diremehkan seperti itu malah membuat Ichigo semakin bernafsu untuk mencoba ulang.
"Sekali lagi!"
Akhirnya bidikan Ichigo berhasil menjatuhkan boneka chappy incaran Rukia. Dan itu adalah tembakan yang kesepuluh kalinya Ichigo mencoba.
"Omedetou gozaimasu~!" Tepukan tangan dari sang pemilik toko beserta para penonton yang daritadi melihat permainan Ichigo begitu meriah. Rukia pun ikut menepuk tangannya.
"Hooo, lumayan juga kau, Jeruk!" Ujarnya sambil menjulurkan sedikit lidahnya.
Ichigo menerima sang boneka chappy dan memberikannya kepada Rukia, "Nih, yang kau mau." Ucapnya sambil sedikit memamerkan tampang kerennya. Rukia sedikit tertawa malu sambil menerima boneka chappy kesukaannya dan langsung memeluknya erat, "Arigatou."
"Ini hadiah dari kami, silakan datang lagi." Ucap sang pemilik toko sambil memberikan satu kantong kecil kepada Rukia dan Ichigo.
"Arigatou gozaimasu." Ichigo menundukkan kepalanya, pertanda bahwa dia menerimanya dengan senang hati, begitu juga dengan Rukia.
xXxXx
You, who gets hurt with a single word
taught me what loneliness is
Langkah Ichigo dan Rukia terhenti di sebuah kuil kecil yang terletak tidak jauh dari tempat festival. Ichigo mulai bercerita kepada Rukia tentang legenda yang menceritakan sepasang kekasih yang selalu bertemu dikuil ini di bawah bulan purnama saat malam terakhir di musim panas. Legenda itu mengatakan bahwa jika ada sepasangan kekasih yang berciuman di bawah bulan purnama dan berada di tempat kuil maka pasangan tersebut akan bahagia selamanya.
"Lalu, kau percaya akan cerita itu, Ichigo?" Tanya Rukia saat Ichigo selesai bercerita. Sedikit mengejek Ichigo yang bisa-bisanya tahu tentang sejarah yang seharusnya tidak menarik bagi kaum pria. Ichigo salah tingkah, sedikit menyesal kenapa dia bercerita tentang sejarah itu kepada Rukia.
"Aku tahu cerita ini juga dari Mizuhiro." Ichigo memberikan alasan. Memang kalau menyangkut urusan sejarah tentang percintaan dan sejenisnya, Mizuhiro adalah orang yang tepat! Dia adalah sang penakluk wanita dan memahami betul apa yang disukai oleh para wanita.
"Aku kan tanya apa kau percaya cerita itu bukannya tanya tahu dari mana cerita itu." Rukia terkikik geli, "Kalau malu, bicaramu selalu ngawur ya, Jeruk." Rukia kembali menggoda Ichigo.
Ichigo hanya bisa menggaruk kepala orangenya pasrah, "Tidak tahu."
"Kalau begitu, kenapa kita tidak mencobanya saja?" Rukia menawarkan. Sontak Ichigo langsung menoleh kearahnya heran, "Ha?"
"Dengan mencobanya kita bisa tahu apakah legenda itu benar atau tidak." Jelas Rukia sekali lagi. Perlahan dia mendekati tempat Ichigo berpijak, membuat jarak diantara mereka begitu dekat. Rukia melingkarkan tangannya ke leher Ichigo, hal itu membuat dirinya harus berjinjit karena tinggi badan Ichigo. Dirinya tertawa pelan melihat Ichigo yang blushing.
"Mencoba apa, Midget?" Ichigo semakin salah tingkah.
"Kiss me…" Rukia berbisik pelan di leher Ichigo, hawanya terasa begitu dingin dirasakan Ichigo. Gadis mungil yang sedang memeluknya meminta dirinya untuk menciumnya.
"Aku tidak salah dengar, kan?"
"Kiss me, Ichigo." Ulang Rukia sekali lagi.
Dag-dig-dug, degup jantung Ichigo kian berdetak semakin kencang, apalagi melihat Rukia mulai memejamkan matanya, menanti kecupan dari sang kepala jeruk. Ichigo bingung, pikirannya mulai bertarung hebat dalam dirinya, antara menciumnya atau tidak. Kalau dia mencium Rukia, yang paling dikhawatirkan adalah Ichigo pasti akan meminta lebih dari itu. Kalau tidak, dia takut melukai hati Rukia. Tapi, dia penasaran juga sih dengan legenda tersebut, toh hanya sekedar ciuman saja, kan?
'Kenapa disaat seperti ini kau lemah sekali, Kurosaki Ichigo?' Batin Ichigo mulai mempengaruhi Ichigo. 'Cium saja! Dia yang memintamu menciumnya, bodoh!'
Akhirnya Ichigo menyerah, perlahan tapi pasti, Ichigo mulai mengecup lembut bibir Rukia. Perlahan tapi pasti, hasrat ingin meminta lebih begitu menggebu, Ichigo mulai melumat bibir Rukia, menghisapnya dengan penuh cinta. Rukia membalas hisapan Ichigo, lidahnya mulai balas bermain dalam rongga Ichigo. Ciuman panas pun terjadi, lidah mereka saling bertautan tanpa peduli dengan keadaan mereka. Apalagi tidak ada siapa pun di samping mereka, semakin memungkinkan mereka melakukan lebih.
Ciuman yang membuat Rukia mendesah diantara ciuman mereka begitu panas. Namun Ichigo tersadar dalam mimpinya, dia melepaskan ciumannya. Melihat Rukia yang merasakan kehangatannya. Lalu tangannya membelai muka Rukia begitu lembut sambil tidak lupa tersenyum ke arahnya.
"Sepertinya berhasil…" Gumam Rukia tersenyum penuh arti. Mata violetnya menatap terus sang mata musim gugur Ichigo. Bulan purnama yang bersinar dengan tenang seakan menjadi saksi mereka berdua. Rukia kembali memeluk Ichigo, mendekapnya begitu erat, seakan tidak mau melepaskannya.
"Ichigo, musim panas tahun depan nanti, kita akan kembali kesini, kan?" Ucap Rukia pelan.
"Tentu saja. Tahun depan, tahun depannya lagi, tahun depan depannya lagi, kita akan tetap kembali kemari." Ichigo mengecup hangat kening Rukia, "Aku janji."
Rukia hanya tersenyum lembut, pria yang sedang mendekap hangat tubuhnya ini terlihat begitu tampan. Ah, Ichigo memang tampan, rambut orangenya yang bersinar dalam kegelapan, layaknya pengganti matahari di malam hari. Rukia mengamatinya, begitu indah.
"Rambutmu itu indah sekali." Gumam Rukia tersenyum, "Orange… Sun…"
Ichigo berpikir, "Orange sun?"
"Karena rambutmu yang orange." Jelas Rukia. "Dan Ichigo seperti matahari, yang menyinari hari-hariku." Rukia menjulurkan lidahnya, sedikit malu dengan jawabannya. Begitu juga dengan Ichigo.
"Hmmm… Kalau begitu kau 'Chappy White'?" Ujar Ichigo.
"Kenapa aku Chappy White?" Tanya Rukia heran.
"Karena kau suka sekali dengan boneka aneh itu." Jelas Ichigo sambil menunjuk ke arah Chappy yang tersimpan rapi dikantong plastik putih transparan yang mereka taruh di atas meja kuil.
"Hey! Bukan aneh tahu, tapi lucu." Tepis Rukia tidak terima. Ichigo hanya mendengus pelan lalu kembali menlanjutkan penjelasannya.
"Dan karena kau memakai baju berwarna putih, Midget." Sambungnya sambil menunjuk ke arah baju terus yang Rukia pakai. "Karena itu… White Chappy."
"Orange Sun and Chappy White…" Rukia hanya tertawa.
"Konyol." Ichigo sedikit tersenyum, "Saatnya pulang, Rukia." Sambungnya saat melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya mulai menunjukkan pukul 10 malam, festival pun perlahan berangsur sepi, para pengunjung yang datang pun sudah mulai memutuskan untuk pulang kerumahnya masing-masing.
xXxXx
Rukia – P.O.V –
Kami melewati jalanan kecil untuk kembali ke rumah Ichigo. Aku merasa seperti punya rumah kedua saja, Ichigo sudah terbiasa untuk mengajakku pulang ke rumahnya, efek tinggal 1 kamarkah? Aku rasa tidak. Tidak terasa langkah kami sampai di depan rumah Ichigo. Hey, apa dia lupa kalau keluarganya tidak tahu tentangku? Lagipula ini adalah hari terakhirku bertemu dengan Ichigo…
"Ichigo, kau mau keluargamu tahu tentang aku?" Tanyaku saat Ichigo yang cuek saja hampir masuk ke dalam. Sesaat Ichigo menoleh kearahku, berpikir.
"Oh iya, keluargaku tidak tahu tentangmu." Ucapnya lupa.
"Otakmu lemah sekali, Jeruk."
"Berisik! Namanya juga lupa!" Ichigo mengerutkan keningnya. Ya sudahlah, aku kembali mendekatkan jarakku dengannya. Kembali mencium lembut bibir Ichigo, begitu manis.
"Sudah yah, My Orange Sun…" Bisikku tepat di telinga Ichigo.
"Hm? Kau tidak tidur dilemariku?" Tanya Ichigo.
Aku menggeleng pelan, "Tidak, sepertinya aku tidak akan tinggal dilemarimu dalam waktu yang lama." Jelasku. Perlahan kesedihan mulai muncul di sorot mataku. Sedih jika mengingat hal itu.
"Kenapa?" Ichigo bingung.
"Karena aku punya rumah, Tawake!" Oke! Itu adalah jawaban asalku. Tentu Ichigo semakin mengerutkan keningnya, tanda tidak terima. Haha, aku langsung memberikan asalan yang sebenarnya.
"Aku sudah tidak boleh bermain-main lagi, aku harus mengurusi semua tugas-tugasku…" Aku terdiam sesaat kemudian berpaling ke arah yang berlawanan dari Ichigo sambil mengamati sinar bulan yang begitu pilu, bulan yang begitu pucat seakan mewakili kesedihanku sendiri.
Sebenarnya aku tahu kalau Ichigo sedikit tidak mengerti dengan apa yang ku katakan, namun akhirnya dia hanya manggut-manggut saja tanda setuju dengan alasanku.
"Ya sudahlah, toh kita akan bertemu di sekolah besok." Deg! Aku tidak membalas kata-kata Ichigo. Terdiam, mengingat bahwa besok aku tidak akan bersekolah di SMA Karakura lagi, mengingat bahwa tadi Byakuya-niisama sudah mengurusi semua kepindahanku, mengingat bahwa aku harus mengucapkan selamat tinggal dengan Ichigo. Aku kembali diam dalam hening, tidak merespon kata-kata Ichigo. Tapi kemudian kupalingkan wajahku, tersenyum lembut ke arah Ichigo yang menatapku.
"Tentu saja, sampai bertemu disekolah, Jeruk." Senyuman yang tidak bisa ku artikan mengambang pelan di wajahku. Meskipun sesaat, namun tersirat sedikit air mata yang memaksa keluar dari kedua mataku. Aku pun langsung melangkah pergi meninggalkan Ichigo, sesaat setelah melambaikan tanganku ke arahnya. Aku terpaksa berbohong kepada Ichigo…
Ichigo yang mengamati langkahku sampai bayanganku menghilang, akhirnya membuka pintu rumahnya. Bayangan Ichigo pun menghilang dari balik pintu, langkahku pun terhenti saat itu kembali berpaling, mengamati arah atas yang terlihat pemandangan jendela kamar Ichigo. Aku kembali terdiam, kembali menatap keadaan jendela kamar Ichigo yang tadi gelap sekarang mulai terang, sepertinya Ichigo sudah masuk ke dalam kamar. Entah apa yang kupikirkan, aku terus menatap jendela kamar yang tertutup tirai berwarna biru itu. Apakah jika suatu saat nanti, saat aku sudah kembali ke Karakura lagi, Ichigo akan tetap membuka jendelanya untukku? Akankah jendelanya tetap tidak terkunci seperti hari ini? Apakah saat aku bertemu dengan Ichigo, dia akan menerimaku kembali? Apakah dia akan tetap memanggilku Midget? Dan apakah pandangan matanya akan tetap lembut saat bertemu denganku nanti?
Tanpa kusadari, satu persatu tetesan air mataku terjatuh. Semakin lama mengalir semakin deras. Sakit! Hatiku begitu sakit, aku menyadarinya, ternyata selama ini aku terus mencintai Ichigo dan perasaan ini semakin lama semakin dalam. Aku bahkan tidak sempat memikirkan tentang ajakan Shuuhei yang memintaku kembali, aku bahkan tidak peduli ada berapa kandidat calon tunanganku nanti.
"Arigatou…"
Aku berlari sekencang-kencangnya, berusaha untuk menjauh dari tempat yang seakan menyedotku untuk tetap berada disitu. Terima kasih untuk semua waktu yang kau berikan untukku, Ichigo… Hatiku selamanya hanya untukmu, semuanya… Arigatou…
I wanna be with you now
One day, even the distance
I'll be able to embrace
We should stay together
After all, I need to be with you
Rukia – P.O.V – End
xXxXx
Icchy's Corner *Soalnya bosen akhir2nya pasti ketawa geje ^^a
Icchy : Hai! Hai! Selamat datang di Icchy's Corner! *Jeng jeng jeng backsound music horror
Ichigo : Kok horror gitu musiknya? *merinding
Icchy : *cueks* anyway all, sekarang marilah saat kita balas review 1-1 dari kalian. *Mulai ambil review para readers di kolong meja* BANTUIN OE JERUK! JANGAN BENGONG AJA LO!
Ichigo : *Ngacungin Zangetsu ke arah Icchy*
Icchy : Ampun, Bang... *ciut*
Rukia : Sudah, Sudah *dateng2 langsung ga jelas* mendingan kita bales2 review neh. si Author mulai pusing ngurusin review 1-1, makanya kita dipanggil, Ichigo.
Ichigo : Nasib dia sebagai author lah. Kok malah bawa2 kita, sih! *ga terima
Rukia : Selama kita jadi terkenal, aku sih ga masalah *bangga
Ichigo : *garuk kepala pasrah, mulai bacain review*Ya udahlah, neh aku mulai dari greengroophy, update kali ini panjang tuh, kepanjangan malah. Si Icchy mah jangan didoain sembuh, dia malah punya penyakit, penyakit mental! *Kena hajar bangku ma Icchy.
Icchy : Setan! Balas aja reviewnya jangan mulai nyebarin fitnah ga bener lho! *ngamuk ala naga!* Nah terus dari Aizawa Ayumu, Ichigo emang bodoh dia, BODOH, BAKA, AHO, IDIOT dan segala bentuk macam Bodoh lainnya *Disundut Tensa Zangetsu*
Ichigo : Setan! Elo yang bikin gw begitu, kan? *Pinjem Zabimarunya Renji buat ngehajar Icchy* Anyway tuh Rukia akan bakal ada hubungan apa2 ma Shuuhei! Ga mungkin ada! Kalau sampe ada, gw tebas tuh si Midget!
Icchy : *Lari ala kecoa style*
Rukia : *Deathglare* Elu mau tebas gw, Jeruk? Emangnya berani apa? *Menari ala tsukishirou bekuin Ichigo* Anyway untuk MeoNg, iya si Ichigo berani banget yah ngomong begitu. Kena tamparan setimpal! *Lirik2 Ichigo yg beku*
Rukia (lagi) : Lah ini jadi gw semua yang bacain reviewnya? OEEE ICCHY! JGN KABUR LHO! BANTUIN GW SINI! *Teriak pake Toa*
Icchy : Mangap, mangap, gw cmn ga mau diajak kencan Zangetsu aja. Lanjut! yuuna hihara : betul sekali yuuna-chan! Ichigo memang BODOH, BODOH, BODOH, BODOH! *ngarahin Toa ke arah Ichigo yang masih beku ma Tsukishirou* Rukia sakit hati? Kyknya enggak tuh, malahan Rukia yang nyakitin Ichigo, kan?
Rukia : *Melotot* Heh! Yg Buat gw begini kan elo, Odong! *ambil posisi Hakuren*
Icchy : *Ngibrit lagi* Ampungggg Nenggg!
Rukia : Sialan, kabur lagi kan! Terus dari Rio-Lucario : Author emang sembrono, bego, gila, stress, *Semena2 gara2 Icchy ga jelas kemana* Shuuhei itu salah satu kandidat. Mending baca aja di chapter ini *nyengir*
Ichigo : *udah lepas dari tsukishirou* OHOK! OHOK! Gila! Hampir mati gw!
Rukia : Elu beku aja sana! Ga bantu, malah ganggu!
Ichigo : Gw bantu sekarng! gw bales review dari Wi3nter neh : Nggg gw ga ngejer karena... *Ga bisa jawab - merasa bersalah.
Rukia : *Kemplang kepala Ichigo pake laptop author*
Ichigo : *meringis* terus dari Ruki Yagami : Makanya, gw ga cegah karena itu...ngg.. anu... *salah tingkah*
Rukia : *Nimpuk pake sendal Icchy*
Ichigo : *Pundung* GW DIBULLY TERUS!
Rukia : *Melotot ala setan* Udah Bacain Lagi reviewnya! Jgn banyak protes! dari So-chand cii Mio imutZ : Bused! Panjang bener neh Nick *Kena tabok mio ^^a* Ini sudah diupdate, jgn lupa review lgi kalo ga mau diajak main Ken-chan *Ketawa setan ala Yachiru* Lho?
Ichigo : Terus dari ojou-chan : Lah? Ini review apa bikin drama sendiri? *Bengong - kena bankai ojou-chan* Lagian mana gw tahu kewajiban Kuchiki apaan. Oe Rukia, emangnya apaan sih kewajiban Kuchiki?
Rukia : *Nyikut perut Ichigo* Ga usah tahu!
Ichigo : OHOK! OHOK! *mulai batuk darah*
Rukia : Nah terakhir dari erikyonkichi dan Meyrin Mikazuki : Ini sudah diupdate, dan mungkin udah ada romance. Iya ga Icchy! *Pake Toa manggil Icchy*
Icchy : *dateng2 ala teleport* Iya mungkin? *digebukin Rukia. Anyway Sekian dari Icchy's Corner, maafkan kalo Corner ini rasanya kok jadi ga penting. Dan pemeran utama kita ini malah terkesan jadi pengacau disini. *DiHakimi massa oleh IchiRuki*
ARGGGGGG! POKOKNYA REVIEW CHAPTER YG INI YAH! DOUUUMOOO! *Guling2 no jutsu*
Rukia dan Ichigo : Review lagi, yah. Sankyu ~ *ngejer Icchy*
