Selamat Sore Semuanya, Icchy hadir kembali ~ xD *Dilemparin kulit pisang

Icchy mau kasih hujan terima kasih untuk :

Aizawa Ayumu Oz Vessalius

Wi3nter

So-chand cii Mio imutZ

Meyrin Mikazuki

Merai Alixya Kudo

MinNoitra Aporro Grantz

yuuna hihara

Makasih sudah berkenan me-review cerita geje Icchy ini *bungkuk2*

Tapi kyknya mesti Gomen dlu deh, Chapter ini sama sekali ga ada adegan romance IchiRuki, melainkan adegan miris IchiRuki *Digebukin*

Judul chapter ini Icchy ambil dari judul chapter 425 Bleach, Soalnya lumayan pas sama situasi disini... ^^a

anyway, ga banyak cingcong lagi deh, Icchy udah mulai UTS, tapi pengen lanjutin Fic, cuman kekuatan otak terbatas, plus lagi kena penyakit Writer Block untuk merangkai kata2nya. Jadi kalo kata2nya ancur disini harap dimaklumi *kluk*

Enjoy chapter kali ini deh, kalo ada saran atau apapun jgn segan2 bilang ke Icchy lewat review yah.

Icchy kgk terima flame, terimanya kado bahagia *Disundut Zangetsu* =))

RnR lagi, Doumo ~ ^_^


Bleach punya Kubo Tite, begitu juga dengan chapter 425 ^^a

Orange Sun & Chappy White punya Searaki Icchy, meskipun charnya ngambil dan diubah seenak jidat punya abang Kubo, Icchy buat cerita ini murni dari otak nista Icchy sendiri ^^a

Warning : Setting disini adalah 5 tahun setelah insiden IchiRuki di chapter 9. Disini ada flashback jg kok... Yg ga ngerti PM Icchy. Okay Doumo :D


Chapter 10 = A Day Without Melodies

Karakura Town di pagi hari, daun-daun yang bergoyang pelan karena tetasan embun pagi, burung-burung yang berkicau menyambut pagi dengan begitu damai. Dan seperti biasa, matahari telah bangun dari tidurnya menandakan dimulainya hari yang baru. Semua orang-orang terbangun untuk menjalankan aktivitasnya. Diantara berjuta-juta rumah di Karakura, kita akan menyorot salah satu rumah yang mempunyai sebuah klinik bernama 'Kurosaki's Clinic'. Di depan rumah tersebut terlihat sebuah truk besar dan orang-orang yang sibuk mengangkat sebuah kardus-kardus berukuran besar, terlihat 2 orang pria sedang bahu-membahu mengangkat kardus tersebut.

"Fiuh, tidak terasa juga yah, Ichigo." Ucap Isshin, disela-sela pekerjaan mereka. "Kau sudah mau pindah dari sini." Sambungnya sambil menaruh kardus ke dalam truk. Ichigo, yang saat itu dengan rambut orangenya yang sudah sedikit memanjang, hanya mengangkut kardus bawaannya ke dalam. Tidak terlalu menanggapi perkataan ayahnya. Ya! 5 tahun sudah berlalu sejak hari itu. Ichigo sudah bukan anak SMA lagi, dia sudah mengambil jurusan kedokteran di salah satu universitas terbaik di Karakura. Ichigo tetap menjalankan kuliah walau sebenarnya dia sedikit enggan karena Ayahnya yang memaksa untuk masuk ke jurusan tersebut.

"Saat kau datang kembali kau harus sudah jadi dokter, Ichigo~" Ujar Isshin tidak lupa sambil menepuk pundak Ichigo dari belakang. Ichigo sedikit menggaruk kepala jeruknya.

"Yayaya…" Jawabnya malas. "Aku berangkat dulu, Oyaji." Ucapnya sebelum menaiki truk untuk pergi ke apartemen barunya. Isshin yang mengantar kepergiannya bersama dengan Yuzu dan Karin yang sudah berumur 16 tahun.

"My Son…" Isshin tidak kuasa menahan tangis dramatisirnya. "Saat pulang nanti, kau harus membawa calon menantu untukku!" Teriaknya.

Ichigo langsung mengerutkan keningnya, namun tidak membalas ucapan aneh dari ayahnya. Dan akhirnya lambaian tangan Ichigo melambung di saat truk sudah berjalan, asap hitam perlahan semakin lama semakin menghilang, seakan meninggalkan jejak kepada keluarga Kurosaki. Yuzu terlihat menangis karena berpisah dengan sang Kakak, sedangkan Karin terlihat sedang menenangkan Yuzu. Ditambah dengan Isshin yang ikutan menangis seakan-akan kehilangan sesuatu yang besar.

xXxXx


Sebuah getaran tanda sebuah mail masuk terasa dari dalam kantung baju Ichigo. Tangannya meraih handphone orange yang tersimpan rapi, lalu membaca isi pesan tersebut.

Ichi, kau sudah berangkat? Aku menunggumu disini… Senna

Ichigo tidak membalas pesan yang diberikan seseorang bernama Senna kepadanya. Pandangannya tetap memandang pemandangan dengan tidak bergairah. Hembusan angin yang memainkan rambut orangenya, sedikit membuat Ichigo teringat akan kejadian 5 tahun yang lalu, dimana hari itu adalah hari terakhir dirinya bertemu dengan Rukia…

FlashBack… 5 Years Ago…

Ichigo ingat persis akan kata-kata terakhir Rukia saat mereka menghadiri malam terakhir festival kembang api 5 tahun yang lalu.

"Sampai ketemu di sekolah, Jeruk."

Namun kenyataannya, saat esok hari dimana sekolah kembali berjalan seperti pertama. Hari pertama sekolah sejak liburan musim panas berakhir. Kelas Ichigo sangat ramai oleh murid-murid yang masih sibuk mengerjakan semua tugas-tugas yang masih belum di selesaikan. Begitu juga Keigo yang sangat panik karena dia sama sekali lupa tentang pekerjaan rumah!

"Ichigo! Pinjamkan aku PR-mu!" Keigo berteriak histeris. Walaupun pada awalnya Ichigo menolak, akhirnya karena tidak tega melihat penderitaan Keigo, Ichigo pun memberikan pekerjaannya. Dan tentu saja disambut dengan ribuan terima kasih oleh Keigo dan dengan secepat kilat dia menyalin seluruh pekerjaan Ichigo. Seperti biasa Ichigo setiap memandang ke arah luar jendela, berharap sosok Rukia muncul memasuki gerbang SMA Karakura. Namun yang dinanti pun tidak kunjung muncul sampai wakil kelas pun datang untuk memulai pelajaran.

"Ah, iya. Sepertinya Ibu harus memberitahu tentang ini dulu." Ucap sang Guru teringat. "Mulai hari ini Kuchiki-san pindah."

APA? Sontak Ichigo langsung menoleh kearah sang guru yang sedang menjelaskan. Rukia pindah? Pindah? Jelas-jelas kemarin Rukia bilang sampai bertemu disekolah besok. Dan sekarang tiba-tiba telinganya dipaksa mendengar berita yang tidak masuk akal itu? Seluruh murid langsung heboh, tidak menyangka kepindahan Rukia terlalu mendadak seperti ini. Dan Ichigo? Badannya refleks untuk bangkit dan langsung keluar dari kelas. Meninggalkan semua murid yang menatap bayangannya.

"Kurosaki! Mau kemana kau!"

Tanpa peduli dengan teriakan sensei dan juga tatapan murid kelas lainnya yang menatap heran, Ichigo terus berlari. Berlari tanpa tujuan, tanpa arah yang pasti. Kakinya mulai berlari sekencang mungkin mencari Rukia. Mencari sang gadis mungil yang dia sendiri bingung mau dicari dimana. Ichigo tidak tahu rumah Rukia, dan mereka hanya bertemu saat sekolah dan saat Rukia datang ke kamar Ichigo. Saat kaki sudah mulai tidak bisa diajak bekerja sama, Ichigo akhirnya menyerah dan berhenti disebuah taman, taman yang kemarin baru saja dia kunjungi dengan Rukia. Dia tidak percaya berita yang baru saja dikatakan oleh gurunya. Ichigo tidak percaya jika bukan Rukia sendiri yang bilang kepadanya. Tapi dengan ketidak hadiran Rukia hari ini disekolah sudah menandakan bahwa berita yang di dengarnya itu benar. Namun, Ichigo tidak mau mengakuinya. Rukia sudah berjanji kepadanya, mereka sudah berjanji di malam itu. Mereka akan bertemu hari ini.

"Wah, larimu cepat sekali, yah." Sebuah suara mengangetkan Ichigo dari belakang. Lantas mata hazelnya mencari sosok tersebut. Terlihat seorang wanita dengan perawakan yang sangat manis, dengan postur tubuh yang sangat sangat melebihi batas dada wanita normal. Rambutnya yang panjang bergelombang berwarna coklat itu mengayun pelan diterpa angin. Ichigo kenal dengan wanita tersebut, dia adalah senior di sekolahnya dan merupakan wanita tersexy di sekolahnya itu, Matsumoto Rangiku.

"Matsumoto-san?" Ichigo mengamati sang primadona disekolah, Rangiku yang berjalan mendekatinya. Terlihat sekali baju belahan dada pertanda baju seragamnya tidak menutupi karena ukuran tidak normal miliknya. Rangiku tersenyum ke arahnya.

"Kurosaki Ichigo, kan?" Tanya Rangiku setelah jarak mereka sudah lumayan dekat. Ichigo hanya menganggukkan kepalanya. "Kuberikan ini padamu." Sambungnya seraya memberikan secarik amplop putih yang terkunci rapi. Ichigo mengamati amplop polos tersebut.

"Apa ini?" Tanyanya tidak mengerti.

"Sebuah undangan." Jawab Rangiku, "Datanglah jika kau ingin bertemu dengan Rukia." Ucapnya seraya membelakangi Ichigo. Ichigo kaget mendengar jawaban Rangiku dan langsung mencegahnya.

"Rukia?"

"Kau sedang mencari Rukia, kan? Aku sedang membantumu menemukannya."

"Benarkah aku dapat bertemu dengan Rukia dengan surat undangan ini?" Ichigo terlihat ragu sambil menatap lurus amplop putih tersebut.

"Kalau tidak percaya, kembalikan kepadaku." Dengus Rangiku seraya meminta amplopnya kembali tapi Ichigo langsung mencegahnya.

"Tidak. Aku percaya."

"Kau bisa pergi denganku, Ichigo."

Ichigo menatap Rangiku heran, "Ha?"

"Tidak mungkin kan kau pergi sendirian kesana? Lagipula kau harus memakai pakaian formal jika ingin masuk ke dalam sana. Jangan berpikir kau kesana dengan baju biasa, yah." Ujar Rangiku mengingatkan. Ichigo sedikit menelan ludah dan sedikit heran kenapa pikirannya bisa diketahui oleh seniornya.

"Aku akan membantumu, tenang saja." Sebuah kedipan nakal dari Rangiku, sedikit membuat Ichigo salah tingkah. Tapi, mau tidak mau Ichigo harus mengikuti perintah Rangiku jika dirinya ingin bertemu dengan Rukia.

xXxXx


Sebuah hotel berbintang 5 di sebuah kawasan elit di Karakura. Ichigo terlihat begitu rapi dengan tuxedo berwarna hitam hasil pinjamannya dari Rangiku, sedangkan senior yang berada disampingnya terlihat begitu cantik dengan terusan gaun berwarna merah muda, serasi dengan syal yang di mengait dengan rapi di kedua tangannya.

"Shall we?" Bisik Rangiku tepat di telinga Ichigo. Sedikit menggoda sang rambut orange dengan gaya nakalnya. Ichigo mengangguk canggung, lalu menggandeng Rangiku layaknya seorang pasangan yang diundang untuk menghadiri sebuah pesta ternama.

Dan memang benar apa yang dikatakan oleh Rangiku, ini bukan pesta biasa. Untung Ichigo tidak menolak usulan Rangiku untuk berpakaian rapi. Sekarang mereka seperti bersatu dengan semua undangan yang menghadiri pesta tersebut. Sebuah ballroom yang sangat luas dan juga indah, lampu hias yang menggantung dengan indahnya terpajang dengan rapi. Ichigo sedikit kagum dengan suasana disini.

Sampai akhirnya pesta pun dimulai, terlihat narator sedang menjelaskan asal pesta didirikan. Pesta ini ternyata dibuat oleh perusahaan Kuchiki untuk memperkenalkan anak-anak mereka.

"Hadirin sekalian, terima kasih karena sudah menunggu. Sekarang, marilah kita sambut, Kuchiki Byakuya-sama dan Kuchiki Rukia-sama."

Lalu muncullah Byakuya dan Rukia bersamaan. Semua pandangan mata memandang diiringi dengan suara tepuk tangan menyambut mereka. Ichigo sedikit terpana melihat sosok Rukia kali ini. Beda sekali dengan Rukia yang biasa. Rukia yang sekarang terlihat begitu cantik dengan mini dress berwarna putih dengan renda yang semakin mempercantik dirinya. Rambut hitamnya tersusun rapi, semakin kontras dengan gaun yang dikenakannya. Ichigo terus menatapnya, seakan terkena mantra yang mengharuskan dia menatap sang mungil yang selalu membullynya.

Rukia dan Byakuya mulai turun dari panggung untuk menyambut para tamu. Ichigo masih matanya masih tidak lepas dari Rukia mulai bingung memikirkan cara supaya bisa berbicara dengannya.

"Hey, Ichigo. Aku permisi dulu. Ganbatte nee~" Bisik Rangiku lalu meninggalkan Ichigo sendiri. Entah mau kemana dia, tapi Ichigo tidak terlalu ambil pusing. Dia kembali mencari sosok Rukia yang sekarang sudah tidak terlihat di antara kerumunan orang-orang yang tadi mengelilinginya.

Ichigo berjalan menelusuri ruangan nan luas tersebut. Sosok Rukia sebenarnya dia sulit dicari, namun karena banyaknya orang-orang yang berlalu-lalang dihadapannya membuat Ichigo kesulitan mencari Rukia. Sampai akhirnya terlihat gadis tersebut sedang duduk di halaman belakang. Ichigo langsung menghampiri tempat tersebut.

Rukia sedang terdiam, entah sedang melamunkan apa. Pandangan matanya kosong menatap bunga-bunga lily putih yang terhampar indah di depan matanya.

"Rukia…" Ichigo mencoba memanggil Rukia. Gadis itu menoleh, pandangan matanya terlihat tidak percaya Ichigo sedang berada di hadapannya.

"Ichigo! Kenapa kau bisa ada disini?"

"Kaget karena aku bisa ada disini?" Tanya Ichigo setelah melihat reaksi Rukia.

"Tentu saja!" Rukia hampir saja memarahi Ichigo. Namun, niat itu akhirnya hanya tersimpan di lubuk hatinya. Dia kembali terdiam. Suasana tenang di antara mereka menimbulkan aura tidak enak untuk mereka berdua. Kedatangan Ichigo di luar dugaan Rukia. Tetapi, jauh dari lubuk hatinya dia senang melihat Ichigo hadir di depannya.

"Aku baru tahu ternyata kau ini dari keluarga kaya, Rukia." Ucap Ichigo tertawa. Basa-basi yang tidak biasa terucap dari bibir tipisnya. Entah canggung atau apa, dia tidak pernah menyangka Rukia ternyata adalah salah satu pewaris harta Kuchiki. Dia pikir Kuchiki Rukia dengan Kuchiki Byakuya adalah orang dengan marga yang berbeda, ternyata mereka sama. Ichigo tidak habis pikir kenapa dirinya begitu bodoh sampai tidak menyadari hal sepenting itu.

Rukia tidak merespon, dia masih sibuk untuk diam memandangi sosok Ichigo yang memaksa untuk tertawa.

"Ichigo…" Dengan segenap keberaniannya, Rukia berkata sambil membelakangi Ichigo, "Permainannya kita hentikan saja sampai disini saja, yah." Ucapnya dengan nada bergetar.

"Maksudmu?" Ichigo mencoba bertanya.

"Kita tidak akan bertemu lagi. Mulai besok aku akan bersekolah di Amerika, aku akan mengambil alih perusahaan Kuchiki dengan kakakku. Aku tidak akan bermain-main lagi." Jelas Rukia dingin. Entah serius atau bercanda, yang jelas ini tidak menyenangkan bagi Ichigo.

"Jadi maksudnya kita tidak akan bertemu lebih dari ini?"

Rukia tidak menjawab, dia sama sekali tidak mau menatap Ichigo, membuat si jeruk penasaran dengan apa yang Rukia rasakan.

"Hey! Lihat kearahku, Rukia!" Ichigo mulai gusar. Rukia sama sekali tidak merespon kata-katanya. Berpaling pun tidak, hanya terus menatap ke arah langit hitam.

Emosi Ichigo pun memuncak, dan tanpa menunggu jawaban dari Rukia, kakinya mulai melangkah mendekati Rukia. Berusaha menatap wajah sang gadis yang masih membelakanginya. Dengan paksa dia menarik pundak Rukia, memaksa gadis itu menatap ke arahnya. Wajah Ichigo terkena pantulan sinar bulan terlihat begitu tampan. Hal itu justru membuat Rukia tidak berani menatap Ichigo. Dia langsung menundukkan kepalanya, berusaha menyembuhan semua perasaan yang terpancar dari wajah manisnya.

"Lihat wajahku, Rukia!" Ichigo menarik kasar dagu Rukia, mencoba mendongakkan wajah Rukia, kedua mata mereka pun bertemu. Pantulan sinar rembulan semakin terlihat semu di mata violet Rukia. Ichigo menatapnya, terus menatap mata violet itu, mencoba mengirimkan perasaan dari kedua mata hazelnya.

"Ichigo, kita akhiri saja hubungan kita..." Kata-kata Rukia terdengar bergetar, mata violet yang terus menatap orange sun-nya tersirat kesedihan begitu dalam.

"Kalau memang kau mencintaiku, lupakanlah aku, Ichigo."

"Kau serius, Rukia?" Tangan Ichigo yang meraih dagu Rukia langsung terjatuh setelah mendengar kata-kata Rukia. Benarkah gadis yang sedang berada di depannya ini adalah Rukia? Benarkah itu dari dalam lubuk hati Rukia? Wajah Ichigo terpancar rasa begitu kecewa, sedih, apalagi Rukia kembali membelakanginya. Tanpa menoleh ke arahnya, tetap berada di dalam posisi itu. Perlahan, rintik hujan pun mulai turun membasahi muka bumi. Entah siapa yang memanggilnya, hujan semakin lama turun semakin deras, suaranya terdengar seperti sebuah jeritan hati seseorang.

Hari itu adalah hari terakhir Ichigo dan Rukia bertemu...

FlashBack - End -

Truk yang membawa Ichigo beserta barang-barangnya telah sampai disebuah apartemen kecil di salah satu kota Karakura, membuyarkan ingatan Ichigo tentang masa lalu. Ichigo pun turun dan kembali membawa barang-barangnya yang tersusun rapi di dalam kardus untuk disusun ke dalam apartemen barunya.

"Okaeri~!" Sebuah suara menyambut kedatangan Ichigo saat dia memasuki apartemen barunya.

"Sudah kubilang, jangan masuk tanpa ada izin dariku, Senna!" Ujar Ichigo sambil menaruh kardus-kardus dengan asal di dalam apartemen kecilnya. Gadis yang dipanggil Senna mengembungkan pipinya.

"Habisnya aku sudah lama menunggumu diluar, jadi kupikir aku langsung menunggu di dalam saja."

"Seharusnya kau memberitahuku dulu kalau mau datang."

"Aku kan sudah mengirimkan email padamu, salah sendiri kenapa tidak balas smsku?"

Ichigo sedang malas berdebat, akhirnya memilih untuk diam. Kemudian melanjutkan pekerjaannya merapikan barang-barangnya yang memang sengaja di bawanya dari rumah. Semua yang dia perlukan sudah tersusun rapi, hanya tinggal kenangan lama yang berusaha sedang dia lupakan. Senna ikut membantu Ichigo, mencoba mengangkat barang yang bisa dibawa olehnya.

"Kau sudah makan, Ichigo? Aku buatkan bento untukmu." Ucap Senna disela-sela kegiatannya.

"Nanti saja."

Tidak terasa setengah jam pun berlalu, Ichigo dan Senna sudah menyusun barang-barang dengan rapi di tempatnya. Senna meraih handuk kecil untuk membersihkan keringat yang mengalir dari dahinya, lalu dia pun tidak lupa mengusap keringat Ichigo. Tidak lupa sambil sedikit tersenyum nakal ke arah pria berambut jeruk itu.

"Jadi, kapan aku akan dikenalkan ke keluargamu?" Senna mulai membuka pembicaraan. Ichigo yang merebahkan tubuhnya di atas sofa hitamnya hanya mendengus pelan, "Kau ini bersemangat sekali ingin ketemu keluargaku yah?"

"Tentu saja! Masa kau tidak mau memperkenalkan pacarmu kepada mereka?" Dahi Senna mengerut tanda tidak terima.

"Sejak kapan kau jadi pacarku, Senna?" Ujar Ichigo bingung.

"Sejak 2 tahun yang lalu." Senna nyengir.

"Bukankah waktu itu aku tidak bilang kita pacaran, yah?" Ichigo berusaha mengingat-ingat tentang kejadian 2 tahun lalu. Senna geleng-geleng kepala, lalu mendekat untuk mencubit pipi Ichigo.

"Saat aku menyatakan cintaku waktu itu, kau menjawab 'Kita jalani saja'. Jangan bilang kau lupa, Ichigo!"

2 tahun yang lalu, pertama kalinya Senna bertemu dengan Ichigo. Mereka berdua berada di kampus yang sama, namun Senna mengambil jurusan Seni sedangkan Ichigo jurusan Kedokteran. Mereka tidak sengaja bertemu saat Senna tidak sengaja diganggu oleh orang-orang yang menyukainya. Ichigo yang tidak sengaja melintas akhirnya menolong Senna, dan sejak saat itu gadis itu mulai jatuh cinta kepada Ichigo dan berusaha mencari tahu tentang Ichigo.

"Itu bukan berarti aku menerimamu, Senna..." Gumam Ichigo sambil menggaruk kepala orangenya. Lalu kembali bangkit berdiri menghampiri arah dapur untuk ambil minuman.

"Aku tidak peduli. Aku anggap kata-katamu itu menerimaku!" Seru Senna yakin.

"Terserah!" Ichigo sudah tidak mau ambil pusing, "Tapi kuingatkan satu hal padamu, Senna. Aku tidak menyukai status 'pacaran' yang kau maksud itu. Kalau memang kau mau menjalankan hubungan denganku, kau harus mengikuti semua aturanku, mau atau tidak." Jelas Ichigo menatap serius Senna. Membuat gadis dengan rambut yang dikuncir tinggi dengan pita berwarna merah itu terdiam sesaat, lalu akhirnya mata emasnya kembali menatap lekat Ichigo.

"Tentu saja!" Senna langsung memeluk Ichigo. Entah hubungan apa yang di maksud Ichigo, tapi kata-kata Ichigo saat ini mengingatkannya tentang sebuah hubungan yang dulu dia jalani dengan Rukia.

xXxXx


Sebuah cafe yang terletak di pinggir kota Karakura, nuansa yang disuguhkan terasa begitu menenangkan mata. Warna biru muda yang kontras dengan corak putih tersaji di setiap dindingnya. Cafe yang dibangun dengan tema laut ini sangat ramai dikunjungi oleh para mahasiswa-mahasiswa saat jam pelajaran istirahat karena jaraknya yang lumayan dekat dengan kampus Ichigo. Kita akan menyorot 2 meja dari belakang dimana terlihat seorang wanita dengan postur tubuh yang terbilang sangat sexy, tubuhnya terbalut kemeja berwarna merah muda ditambah celana hotpants biru yang membuatnya terlihat begitu menggairahkan, dadanya yang tidak bisa disembunyikan terlihat begitu jelas, seakan memaksa para pria untuk terus menatapnya. Rambutnya yang bergelombang berwarna coklat terang malah membuatnya serasi dengan keadaan tubuhnya. Gadis itu terlihat sedang menunggu seseorang, dengan sebuah es capucinno yang dari tadi dia minum cukup untuk membuat orang yang ditunggunya datang.

"Rangiku-san!" Sebuah suara mengagetkan sang gadis bernama Rangiku, ia pun menoleh kebelakang. Seorang gadis mungil dengan rambut hitam panjang yang dibiarkan tergerai indah menutupi terusan kaos putihnya. Rangiku tersenyum ke arahnya, "Selamat datang, Rukia-chan~" Sambut Rangiku kepada Rukia. Ya, Rukia, gadis yang 5 tahun lalu mengakhiri hubungannya dengan Ichigo, gadis yang saat itu memutuskan untuk pergi ke Amerika dan meninggalkan Karakura. Rukia sudah pulang ke Karakura, rambutnya yang dulu dibiarkan pendek sekarang terlihat begitu cantik. Sosoknya yang dulu terkesan seperti anak lelaki sekarang berkembang menjadi sangat cantik.

"Okaeri." Rukia tersenyum lalu duduk di seberang Rangiku. Setelah memesan lemon juice untuknya, Rukia kembali berbincang-bincang dengan Rangiku. Sebenarnya mereka adalah sahabat masa kecil, salah satu alasan Rukia pindah ke SMA Karakura dulu juga karena saran dari Rangiku.

"Wah, kau berubah drastis sekali, Rukia~" Seru Rangiku senang melihat perubahan Rukia.

Rukia tersenyum malu, "Aku hanya memanjangkan rambutku saja, Rangiku-san."

"Kau melanjutkan kuliahmu disini?"

"Yah, Nii-sama menyuruhku untuk hal itu." Jelas Rukia. Tangannya memainkan pelan sedotan lemon juicenya.

"Bagaimana hubunganmu dengan calon tunanganmu, Rukia?" Tanya Rangiku. Rukia sebenarnya malas untuk membicarakan masalah tersebut, tapi dia tahu Rangiku menanyakan hal itu karena ada maksud tertentu.

"Seperti biasa. Toh aku bertemu mereka semua 5 tahun yang lalu, saat acara pesta waktu itu." Ya, saat dia memutuskan hubungannya dengan Ichigo.

"Jadi, kau sudah memutuskan siapa calon tunanganmu?"

"Masih belum. Saat itu aku hanya disuruh untuk menemui mereka saja. Mungkin saat aku kembali ke sini Nii-sama akan memaksaku untuk menentukan pilihannya." Ujar Rukia sedikit pusing memikirkan hal itu. Membicarakannya saja sudah membuatnya kehilangan tenaga, apalagi disuruh memikirkannya?

"Gin termasuk salah satu kandidat, yah..." Rangiku bergumam, sorot matanya langsung berubah sedih. Rukia menyadari sedikit perubahan Rangiku.

"Yang pasti aku tidak akan memilih pria bernama Ichimaru Gin itu. Dia tidak sepenuhnya ingin menjadi suamiku." Rukia berkomentar, tahu bahwa Rangiku dan pria bernama Ichimaru Gin mempunyai suatu hubungan khusus. Lagipula Rukia mengenal Gin sejak masih kecil, walau tidak dekat, setidaknya dia tahu sifat Gin yang sebenarnya.

Rangiku hanya tersenyum simpul, "Haha... Aku hanya tidak tahu apa yang sedang di pikirkannya. Kau tahu?"

"Aku tahu, kok." Rukia mengangguk.

Siang itu, mereka hanya membicarakan tentang hari-hari Rukia di Amerika dan juga sedikit bernostalgia tentang masa kecil mereka. Baik Rukia dan Rangiku sama-sama tidak mengungkit tentang masalah pribadi dan juga tentang Ichigo...

~ To Be Continue ~


Icchy's Corner

Ichigo : *ngambek ma Author*

Icchy : *garuk2 kepala* Kok ngambek sama gw sih...

Ichigo : Elo buat Rukia jadi dingin gitu sama gw... T_T

Icchy : Salahkan Rukia dong... Kok nyalahin gw sih *Ga merasa*

Ichigo & Rukia : *Siaga posisi getsuga tenshou & Hakuren*

Icchy : *Tepar* Ohok!

Rukia : Jgn khawatir Ichigo, suatu saat nanti kau akan tahu maksud dari kata2ku. Tunggu tanggal mainnya~

Ichigo : LAMA! *pundung*

Rukia : *Ancem Icchy suruh Update kilat*

Icchy : *Meringis* JANGAN LUPA REVIEW YAH, MINNA ~ ARIGATOU...

Rukia & Ichigo : Saran dan Masukan dari kalian sangat berguna untuk Sang Author, Doumo ~ *bungkuk*